Diposkan oleh Ali Sina pada tanggal 10 Mei 2011

Usaha Rumi untuk menemukan arti-arti esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) dari ayat-ayat Quran yang sangat bodoh itu; yang telah menghalangi dunia Muslim untuk mengalami kemajuan dan pencerahan. Dalam gurun Islam yang gersang, ia memperlihatkan pada Muslim sebuah khayalan untuk mengejar hal-hal yang ia anggap tersembunyi.

Seorang Muslim menulis bahwa ia lebih menyukai sebuah pemahaman figuratif terhadap Quran. Kita bisa membuat diri kita mempercayai apapun, yaitu apabila kita berusaha cukup keras dan mengintepretasikannya secara figuratif. Dengan cara seperti itu, anda bahkan bisa mempercayai Santa Clause atau rusa yang bisa terbang.

Tak ada buku yang bisa ditafsirkan dengan cara lain selain melalui arti yang eksplisit dari buku tersebut, khususnya jika hakekat dari buku itu adalah sebagai sebuah buku pembimbing. Sebuah buku pembimbing harus memiliki makna yang terang, sehingga tidak meninggalkan ruang untuk menafsirkannya secara tidak tegas. Jika penafsirannya tidak tegas, maka ia bukan lagi sebuah buku pembimbing yang terang.

Sebuah buku pembimbing ilahi, harus dipahami oleh setiap orang. Kita umpamakan anda sedang tersesat dan anda berhenti untuk menanyakan arah pada seseorang. Bukankah anda berharap untuk memperoleh arah yang jelas? Akankah anda percaya pada orang ini jika ia menunjukkan pada anda arah yang berbeda? Saya yakin anda akan berpikir bahwa ia itu seorang yang aneh. Jika demikian, mengapa kita bersandar pada seseorang yang mengklaim bahwa ia memiliki sebuah bimbingan ilahi yang terang, tetapi ternyata bimbingannya itu membingungkan, kontradiktif dan membutuhkan intepretasi?

Tidaklah tepat bagi Tuhan untuk menipu manusia dan menyesatkan mereka. Namun inilah yang menurut Muhammad dilakukan oleh Allah. Ia menyesatkan dan menipu orang, dan bahkan Ia sendiri diberi gelar Penipu Daya Terbesar (Q.3:54; 8:30).

Usaha apapun sudah dilakukan oleh orang-orang Muslim untuk menafsirkan kitab suci mereka. Buku itu secara sederhana bisa kita sebut sebagai buku yang tidak jelas dan tidak logis. Karena itu, mereka berusaha keras untuk memberi makna-makna esoterik atas pernyataan-pernyataan Quran yang sangat bodoh. Banyak dari pengikut Muhammad yang meninggalkannya ketika ia membuat klaim seperti itu. Ia katakan bahwa ini adalah sebuah ujian bagi mereka. Menurut Muhammad, hanya orang-orang bodohlah yang gagal dalam ujian itu, sementara orang beriman akan berhasil dan karena itu mereka layak disebut sebagai Muslim. Tentu saja tak ada seorangpun yang rasional yang bisa mempercayai apa yang ia katakan, terlebih lagi bahwa sekarang kita mempunyai pemahaman yang lebih baik mengenai jagat raya.

Hari ini, orang-orang Muslim jauh lebih cerdas dibandingkan dengan nabi mereka. Karena itu sulit bagi mereka untuk menelan pernyataan-pernyataan Muhammad yang tidak masuk akal. Pada saat yang sama, tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk mempertanyakan perkataan Muhammad. Karena itu timbul ide dalam pemikiran mereka dengan mengatakan bahwa Quran memiliki makna-makna yang tersembunyi. Orang-orang Syiah yang terkenal suka mengarang (memalsukan) hadis, telah membuat sebuah hadis yang mengklaim bahwa Muhammad telah mengatakan, Quran memiliki sebuah makna yang tersembunyi, dan bahwa makna yang tersembunyi ini menyembunyikan makna yang lebih tersembunyi lagi, dan demikian seterusnya (hingga pada tujuh tingkatan makna).

Pandangan ini dibagikan oleh orang-orang Sufi. Orang Ismailia juga meyakini bahwa Quran memiliki sebuah batin, makna yang bersifat tersembunyi atau esoterik, dan sebuah zafir, makna yang tampak atau eksoterik.

Intepretasi ini adalah sesuatu yang tidak memungkinkan dan merupakan keputusan yang sewenang-wenang. Sebagai contoh, ketika dikatakan “Katakanlah hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah” (Q.109:1-2). Orang-orang kafir (tidak beriman) di sini dimaknai sebagai seorang individu, atau para pelacur surgawi ditafsirkan sebagai “penglihatan-penglihatan ilahi.”

Dalam bukunya Tamheedat, Ayn-al-Qudat Hamadani menafsirkan “Api yang dinyalakan oleh Allah, yang terbit di atas hati” (104/6-7), sebagai “hasrat dari kasih ilahi.”

Satu-satunya yang perlu dilakukan oleh seseorang untuk melihat absurditas klaim ini adalah dengan membaca sura kecil ini. Dalam sura ini, Muhammad memfitnah salah seorang pencelanya (yang diduga adalah sang ketua Walid ibn Mughira), dan mengatakan, ia menumpuk kekayaan dan menganggapnya sebagai sebuah ketetapan (melawan kecelakaan); Ia berpikir, kekayaannya akan membuatnya menjadi kekal! Sekali-kali tidak! Ia pasti akan dibawa pada bencana yang menghancurkan, dan hal apa yang akan membuatmu menyadari apa yang disebut sebagai bencana yang menghancurkan itu? Itulah api yang dinyalakan oleh Allah, yang muncul di atas hati?”

Bagaimana Hamadani menafsirkan api ini sebagai “hasrat dari kasih ilahi”, benar-benar mengherankan saya.

Tidak sulit untuk melihat bahwa penafsiran seperti ini adalah sesuatu yang menggelikan. Muhammad memberikan sebuah deskripsi detil mengenai attribut fisik para pelacur perawan. Dari Quran kita memperoleh informasi bahwa para pelacur di surga mempunyai dada yang montok, mata yang hitam, kulit yang sangat putih, dan sebagainya.

Tak peduli bagaimanapun cara seseorang menafsirkan Quran, tafsiran-tafsiran itu semakin membuat bingung. Bahkan terkadang tafsirannya menjadi bahan ejekan. Saya pernah melihat di Youtube, seorang imam yang mempunyai posisi sangat tinggi di Pakistan (Saya percaya ia seorang Ahmadi/Qadiani), yang mengatakan bahwa jin-jin yang disebutkan dalam Quran adalah bakteri. Alasannya adalah, karena dalam salah satu hadis Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk tidak membersihkan kotoran dengan tulang, sebab itu adalah makanan para jin. Kemudian ia menyimpulkan, karena bakteri memakan daging yang ada pada tulang, maka jin yang disebutkan dalam Quran pastilah merupakan bakteri. Imam Islam yang suka berkhayal ini lupa, dalam hadis lainnya Muhammad mengklaim bahwa ia telah mengunjungi satu kota para jin, menghabiskan satu malam bersama mereka dan membawa banyak dari jin-jin itu menjadi pengikut Islam. Apakah Muhammad merubah dirinya menjadi bakteri untuk melakukan mujizat ini?

Jawaban terbaik untuk memperlihatkan bahwa Quran tidak boleh ditafsirkan dengan cara lain selain dengan cara melihat arti yang tampak, datang dari dalam Quran sendiri. Berulangkali Quran mengklaim sebagai “buku yang terang dan jelas” (5:15), “mudah untuk dipahami” (44:58, 54:22, 54:32, 54:40), “dijelaskan secara detil” (6:114), “disampaikan secara jelas” (5:16, 10:15) dan “tanpa ada keraguan” di dalamnya (2:1). Apakah anda juga akan menafsirkan ayat-ayat ini?

Saya tahu ini sesuatu yang keras, tetapi jika kita jujur maka kita akan menolak Islam dan berhenti mempercayai fantasi-fantasi tersebut untuk selama-lamanya. Menafsirkan ulang Quran dan membangun kembali Islam adalah usaha yang sia-sia. Kita harus tetap pada kebenaran. Kebenaran itu tidaklah menyakitkan. Menjadi hancur oleh karena kebohongan itulah yang menyakitkan. Tetapi sekali kebohongan-kebohongan itu kita hancurkan, maka kehancurannya akan membawa pada kebaikan. Anda akan dibebaskan dan hanya langitlah yang menjadi batasan anda. Anda akan dilahirkan kembali jika anda bisa berpikir dengan bebas tanpa dibelenggu oleh iman yang buta.

Ide untuk menafsirkan sebuah kitab pembimbing ilahi adalah sebuah penyesatan logis. Misalnya seorang guru menjelaskan subyek yang ia ajarkan secara tidak spesifik, sehingga murid-muridnya menafsirkan subyek itu dengan cara mereka masing-masing. Apakah anda akan mengatakan bahwa ia adalah seorang guru yang baik? Misalnya saja ia mempunyai 73 orang siswa, dan ada satu yang gagal. Bukankah hal itu akan membuat alis mata kita naik, berpikir bahwa kemungkinan guru itulah yang salah?

Sekarang anda mengatakan pada saya bahwa Tuhan yang maha tahu dan maha bijaksana ini, membimbing umatnya dengan cara yang tidak jelas dan menyerahkan pada manusia untuk menafsirkan perkataan-perkataannya berdasarkan pemahaman mereka sendiri. Menurut nabinya sendiri, para pengikutnya akan terbagi menjadi 73 sekte dan semuanya, kecuali satu, akan pergi ke neraka. Bukankah ini cara anda memahami Tuhan?

Jika kita benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan oleh Quran dan tidak mencoba untuk membubuhi komentar atau coba menafsirkan apa yang ia katakan agar pas dengan tingkah laku kita sendiri, maka kita akan menemukan kebenaran bahkan dari dalam Quran. Seperti inilah saya menemukannya – ya benar, dari dalam Quran. Sebaliknya, saya menolak untuk membaca buku raddiah apapun, yang menyangkali Quran. Karena itu saya menghargai orang-orang Muslim yang membaca artikel saya, karena sesungguhnya mereka itu lebih berpikiran terbuka.

Artikel terkait: Ilusi Untuk Mereformasi Islam