Diposkan Oleh Ali Sina, pada tanggal 16 Mei 2011 (komentar)

Hello, Ali

Keunggulan saya adalah dalam bidang psikologi, dan baru-baru ini saya terusik dengan sikap Muslim terhadap anak-anak dan persepsi saya adalah, orang-orang Muslim melihat anak-anak hanya sebagai obyek atau “hanya sekedar barang”, dan bukan sebagai manusia yang memiliki hak yang harus dihargai. Hal ini secara khusus saya kaitkan dengan indoktrinasi Islam terhadap anak-anak kecil di Gaza dan Tepi Barat, juga di tempat-tempat lainnya, dimana anak-anak itu dilatih untuk membenci orang-orang Yahudi.

Hal apa yang bisa anda sampaikan pada saya berkaitan dengan budaya Arab/Muslim terhadap anak-anak, sehingga orang tua mereka bisa dengan kerelaan memberikan anak-anak mereka pada bidat kematian seperti Hamas dan Fatah? Ini sungguh bertentangan dengan natur manusia, yang biasanya memiliki instink untuk melindungi orang-orang muda dan bukannya memanfaatkan mereka demi tujuan-tujuan politik.

Apakah orang-orang Arab telah menjadikan anak-anak mereka menjadi obyek? Apakah mereka telah menilai mereka secara rendah? Saya pikir tidaklah demikian?

 

Sebuah mural besar yang mengajak anak-anak untuk mati syahid dengan cara berjalan di atas ladang ranjau.

Tetapi saya setuju jika anda mengatakan, tindakan dengan sengaja menghancurkan hidup seorang anak adalah bertentangan dengan sifat manusia. Masalahnya bukan hanya ada pada orang-orang Arab. Semua Muslim terpengaruh dengan perilaku tidak rasional ini. Sebenarnya, sikap seperti ini biasa ditemukan di antara seluruh kelompok-kelompok aliran sesat (bidat). Bagaimana kita bisa melupakan bahwa 900 orang Amerika yang mengikuti James Jones di Guyana, telah meminum racun Cool Aid setelah terlebih dahulu meminumkannya kepada anak-anak mereka? Tentu saja apa yang mereka lakukan adalah bertentangan dengan natur manusia.

Selama perang Iran-Irak, anak-anak didorong untuk berjalan di atas ladang ranjau di depan tank-tank, untuk membersihkan jalan. Para orangtua mengirimkan anak-anak mereka untuk melakukan hal itu, kendati mereka sadar bahwa anak-anak mereka itu tidak akan kembali. Ini sungguh tidak masuk akal.

Untuk memahami hal ini, kita harus mengerti cara berpikir orang-orang Muslim. Orang Muslim diajar bahwa hidup ini tidaklah berharga. Hidup hanyalah sebuah ujian. Hidup yang sesungguhnya adalah hidup setelah kematian. Semua aliran sesat mengajarkan omong kosong semacam itu. Di sini ada penderitaan. Di sana, orang akan menemukan rahmat dan kebahagiaan yang berkelimpahan. Hidup boleh jadi merupakan cobaan. Dan jika kita terlalu terikat dengan hidup yang sekarang, maka kita akan kehilangan hidup di dunia yang akan datang. Orang-orang Muslim bertumbuh dengan mempelajari bahwa beberapa tahun menjalani hidup yang jelek dalam dunia ini, tidaklah sebanding dengan jika mereka kehilangan hidup kekal di firdaus.

Kematian, bukan kehidupan, menjadi fokus hidup seorang Muslim. Muhammad mengatakan, seorang yang bijak adalah seorang yang selalu memikirkan mengenai kematiannya.

Seorang Muslim juga tidak akan pernah merasa yakin apakah ia akan pergi ke Firdaus atau tidak. Bisa saja ia akan berakhir di neraka, kendati ia sudah berusaha dengan sangat keras. Tak ada jaminan. Allah itu adalah sosok yang aneh. Ia bisa saja memilih untuk mengirim ke neraka orang yang melakukan perbuatan baik, dan tak ada orang yang bisa mempertanyakan keputusannya. Allah tidak terikat oleh hukum, termasuk hukumnya sendiri. Ia melakukan seperti yang ia kehendaki.

Perjalanan manusia di sepanjang kehidupan, bisa dibandingkan dengan migrasi burung-burung. Kemungkinan burung-burung itu kemudian mendarat untuk makan dan minum. Tetapi, apabila ia terlalu terikat dengan dunia ini, maka mereka dapat tersesat dari tujuannya. Cobaan duniawi dengan semua keinginannya,bisa menjerat jiwa. Seekor burung yang sayap-sayapnya basah, tidak bisa terbang dan karena itu tidak akan pernah sampai ke sarangnya.

Semakin terikat seseorang dengan dunia ini, semakin kecil kesempatan untuk dapat masuk ke dalam firdaus. Segala sesuatu bisa dilihat sebagai ikatan dan ujian: uang, keluarga, anak-anak; semuanya merupakan ujian. Hidup itu sendiri adalah sesuatu yang mengikat.

Hanya ada satu jaminan untuk mencapai firdaus, yaitu apabila seseorang melepaskan segala sesuatu dan menjadi seorang martir. Seorang martir tidak akan merasakan kematiannya. Ia tidak akan menderita. Sakit yang akan dia alami dijamin tidak akan lebih besar dari sakit yang disebabkan oleh gigitan semut. Tetapi upahnya luar biasa besar.

Ini adalah sebuah penawaran yang tak ingin dilewatkan oleh seorang Muslim. Bukankah meledakkan diri seseorang bertentangan dengan natur manusia? Bukan karena orang-orang Muslim melihat diri mereka sebagai obyek. Tetapi ini terjadi karena sebuah keyakinan. Jika kesyahidan oleh Islam dipandang sebagai sesuatu yang sangat agung, mengapa mereka harus melarang anak-anak mereka melakukannya?

Muslim tidak berpikir bahwa mereka sedang mengorbankan anak-anak mereka. Mereka berpikir bahwa mereka tengah memastikan hidup anak-anak mereka dalam kekekalan. Inilah karunia terbesar yang bisa mereka berikan pada anak-anak mereka. Mereka menyadari ketidakmampuan mereka untuk memastikan sebuah masa depan yang baik dalam dunia, kepada anak-anak mereka. Tetapi mereka tahu berdasarkan “fakta” bahwa hidup kekal anak-anak mereka terjamin jika mereka mati syahid.

Orang-orang Muslim setiap saat berbicara mengenai kesyahidan. Mereka memuliakannya dan menganggapnya sebagai hal yang paling mulia yang bisa dilakukan oleh seseorang, dan merupakan stasiun tertinggi yang bisa dicapai oleh seseorang. Memperoleh pendidikan, terlibat dengan ilmu pengetahuan dan menjadi Einstein yang berikut; bagi anak-anak Muslim tidaklah semenarik dibandingkan dengan menjadi martir. Menjadi seorang Einstein menuntut kerja keras dan kejeniusan, sehingga peluang bagi anda mencapainya sangatlah kecil. Menjadi seorang martir hanya membutuhkan sebuah keberanian dan setelah itu anda akan masuk dalam kekekalan.

 

                                   Mural besar untuk memuliakan kesyahidan

Kesyahidan adalah jalan tertinggi menuju keagungan. Jalan-jalan akan dipenuhi dengan nama-nama para syahid. Mereka akan menerima pengakuan dan penghargaan universal. Orang-orang Muslim memiliki kepercayaan diri yang rendah. Agresi seperti ini, yang anda lihat di dunia Muslim adalah ekspresi dari kepercayaan diri mereka yang sangat rendah. Berikan mereka janji akan menjadi pahlawan dan selebriti hanya dalam semalam, maka mereka akan memberikan hidup mereka untuk itu.

Sekarang, jangan berasumsi jika jawaban ini menyediakan sebuah hidup yang lebih baik bagi Muslim. Orang-orang Muslim yang merasakan kehidupan yang semakin nyaman, akan merasa sangat bersalah. Mereka berpikir kehidupan yang nyaman adalah sebuah penghalang antara mereka dengan Allah. Tuhan Islam ingin supaya orang-orang Muslim merasakan kesulitan untuk membuktikan ibadah mereka kepadanya. Ketika ia mengasihi seseorang maka ia mengirim lebih banyak bencana padanya, dengan tujuan untuk menguji dia. Ia mencintai orang-orang miskin. Terlalu banyak kenyamanan akan membuat Muslim merasa bersalah dan akan mendorong mereka untuk menyangkali segala sesuatu dan menjadi martir. Para pengebom bunuh diri yang terkenal umumnya berasal dari latar belakang keluarga yang kaya raya.

Satu satunya cara untuk menghilangkan jihad adalah dengan menjadikan orang-orang Muslim menjadi orang-orang yang sangat miskin. Dalam kemiskinan, orang-orang Muslim tidak akan tertarik untuk berjihad. Berhentilah membeli produk-produk mereka, dan mereka akan mati kelaparan. Jihad menjadi mandatori ketika orang Muslim kuat dan kesempatan mereka untuk menang besar. Cara lain mengakhiri jihad adalah dengan cara menolong mereka untuk melihat bahwa Islam adalah sebuah kebohongan. Saya lebih suka dengan cara yang terakhir.

 

      Air mancur darah di Iran, untuk memuliakan kesyahidan

Kesyahidan adalah sebuah cara berpikir. Tindakan ini dipuji-puji dalam media, di sekolah-sekolah, oleh para guru dan orangtua. Tak ada yang bisa menyangkali kepatutannya atau berbicara menentang hal itu, kesyahidan itu sendiri merupakan perintah Quran.

Di Iran, selama perang, ada air mancur yang diberi warna merah, dan menjadi simbol darah dan kesyahidan. Barangkali air mancur itu masih ada sampai sekarang.

Keponakanku mengatakan, ia biasa pergi ke pemakaman dan berbaring di sebuah makam untuk merenungkan kesyahidan dan kematiannya sendiri. Saat itu ia baru berusia belasan tahun. Karena biasanya pasti ada jenazah dari medan perang yang dibawa ke situ, maka kuburan-kuburan pun sudah dipersiapkan untuk mereka.

Anda harus hidup di tengah-tengah orang Muslim, atau lebih baik lagi bertumbuh sebagai salah seorang Muslim untuk memahami cara berpikir seperti ini. Tak ada hal yang lebih baik yang bisa dipikirkan oleh seorang Muslim kecuali kesyahidan. Inilah stasiun tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang manusia.

Kuharap ini bisa menjawab pertanyaanmu.

 Ali Sina


Artikel Terkait: “Inilah Pesan Muhammad Syarif Sebelum Meledakkan Dirinya”