Lahan dan Gedung GMII Tiranus di jalan Cik Ditiro 42A, Yogyakarta – yang disebut telah dibeli secara ilegal oleh Universitas Gajah Mada

Para jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Kristen se-Indonesia, telah meminta konfirmasi dari Pimpinan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta atas berita yang beredar luas di kalangan umat Kristiani, bahwa Lembaga Pendidikan Terkenal itu berusaha menguasai lahan dan gedung milik Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) – Tiranus yang ada di jalan Cik Ditiro Yogyakarta, yang berlokasi tepat bersebelahan dengan kompleks Universitas Gajah Mada yang sangat luas itu.

Demikian surat mereka yang dikirimkan via email pada Pimpinan Universitas Gajah Mada, sbb:

Kami para jurnalis Kristen se-Indonesia memohonkan konfirmasi dari pihak Universitas Gajah Mada mengenai pembelian tanah sebuah gereja di jalan Cik Ditiro Yogyakarta yang ditengarai dilakukan secara ilegal oleh pihak UGM.

Kami mendapat informasi yang beredar luas di kalangan gereja, bahwa pihak UGM membeli tanah itu dengan cara-cara “premanisme” seperti ‘menghasut’ penduduk yang ada di belakang gereja untuk menandatangani surat/petisi penolakan terhadap eksistensi gereja, yang sebenarnya sudah berdiri di situ selama lebih dari 20 tahun, dan sudah mendapat bantuan resmi dari Departemen Agama; sebab UGM tidak mau membeli tanah yang ada di wilayah itu, jika Gereja masih tetap berdiri di situ. Pembelian tanah dan gedung GMII sendiri kami dengar dilakukan tanpa pernah sekalipun melibatkan pihak majelis GMII sebagai pemilik tanah dan gedung tsb.

 

UGM memiliki sebuah mesjid yang sangat besar dan megah – tetapi “menolak” keberadaan sebuah gereja kecil di dekatnya

Di samping itu, kami juga mendengar bahwa UGM mendanai proses hukum di Pengadilan Negeri Yogyakarta, dengan dakwaan kepada Pdt. Petrus Srijadi STh, sebagai pihak yang dituduh telah menempati rumah yang bukan haknya dan tidak mau pergi walaupun telah disuruh pergi oleh yang berhak.  Bahkan pengacara Pendeta telah mengundurkan diri dari mendampingi Pendeta tersebut oleh karena permintaan dari UGM, padahal pengacara tersebut di depan umum mengatakan kalau sebenarnya pendeta tersebut tidak akan pernah bisa didakwakan seperti dakwaan jaksa.

Kami juga mendengar  suara-suara yang hingga saat ini masih belum dapat dipastikan kebenarannya, bahwa UGM telah menggelontorkan sejumlah uang untuk menyuap jaksa dan majelis hakim Pengadilan Negeri Yogyakarta, yang mengadili perkara ini, untuk menghukum  Pendeta tersebut sehingga putusan tersebut dapat menjadi tekanan kepada Pendeta tersebut untuk segera meninggalkan gereja itu. Sehingga dengan demikian diharapkan UGM segera dapat merealisasikan pengikatan perjanjian yang sudah dibuat UGM dengan para ahli waris pemilik tanah yang ada di sebelah gereja, yang merupakan keluarga dari penghibah tanah gereja tersebut.

Berita ini telah menimbulkan keresahan dan kesedihan mendalam di kalangan umat Kristiani, dan kini ada suara-suara miring beredar di kalangan umat Kristen, yang menyebut UGM sebagai Lembaga Pendidikan yang bernuansa rasis, sebab menolak keberadaan sebuah gereja kecil di lingkungannya.

Kami mohon konfirmasi dari pihak UGM, untuk membantah bahwa berita ini tidak benar.

Jika berita ini memang benar, maka kami akan menyebarluaskan berita ini secara nasional dan internasional, dan tentu hal ini bisa merusak reputasi UGM sebagai kampus yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, Nasionalisme dan Kebangsaan.

Terimakasih atas perhatian dan tanggapan Bapak/Ibu sebagai Pimpinan Universitas Gajah Mada.

Salam hormat

Jurnalis Kristiani

Sumber: Email Milis debate-religious-spirituality@yahoogroups.com