Di awal bulan ini kita melihat – atau lebih tepatnya, sekali lagi diingatkan – bahwa Islam mengijinkan pedofilia dengan kedok “pernikahan”: Ulama terkenal Saudi Arabia, Dr. Salih bin Fawzan, mengusulkan sebuah fatwa yang menegaskan bahwa, tak ada usia minimum bagi para gadis untuk menikah,”bahkan meskipun mereka itu masih bayi,” dan bahwa satu-satunya kriteria, apakah mereka boleh menikah atau tidak adalah, “Apakah mereka sudah siap untuk dibaringkan dibawah pria yang menjadi suaminya, dan sanggup menanggung beban tubuh suaminya itu.”

Sementara praktek ini berbicara untuk dirinya sendiri, adalah hal yang menarik saat menyaksikan betapa banyak orang-orang Muslim yang membenarkan atau merasionalkan fatwa itu – atau bahkan menganggapnya sebagai sebuah sumber kebanggaan.

Sebagai contoh, perhatikan bagaimana ulama Muslim ini mendiskusikan pernikahan Muhammad dengan seorang anak kecil yaitu Aisyah, ketika Aisyah masih berusia 9 tahun. Bukannya merasa malu, ulama ini justru menggunakan kisah ini untuk membanggakan ‘kesabaran’ dan ‘kemurahan’ nabi. Terjemahan yang relevan adalah sbb:

Kisah bagaimana nabi menikahi Aisyah memperlihatkan pada kita aspek-aspek seperti, bagaimana nabi memperlakukan Aisyah, dan lebih penting lagi adalah aspek mengenai relasi antara suami dan isteri, untuk memperlihatkan bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan isterinya, sama seperti yang dilakukan nabi kepada Aisyah.

Kita tahu bahwa ibunya Aisyah, menurunkan Aisyah yang tengah main ayunan, membawanya masuk ke dalam rumah, kemudian mendandani rambutnya dan mempersiapkannya untuk nabi, sehingga nabi bisa memasukinya (berhubungan seks dengannya) – dan semuanya itu ia lakukan pada hari yang sama.

Kisah yang disampaikan sendiri oleh Aisyah dalam Sahih Bukhari memberikan informasi pada kita, bagaimana ia membicarakan mengenai ibunya yang dengan tergesa-gesa mempersiapkannya dan kemudian ‘menyerahkannya’ kepada Muhammad, dan bagaimana Aisyah berkata,”tak ada yang lebih mengejutkanku daripada kedatangan Rasul Allah yang menemuiku sore itu.”

Ulama itu meneruskan:

Jadi bisa anda lihat, Aisyah sedang bermain-main dengan teman-temannya meskipun hari itu adalah hari yang sama dimana ia akan dibawa kepada nabi – dan setelah itu mereka bisa mempersiapkannya untuk nabi, sehingga nabi bisa berhubungan seks dengannya.

Sekarang, apa yang dapat kita lihat saat nabi menikahi Aisyah? Apakah ia pergi menemui Aisyah dan berkata “Nah ini dia, engkau telah menikah, sekarang engkau adalah seorang yang sudah besar, seharusnya engkau bersikap sebagai seorang wanita dewasa, engkau perlu melakukan ini dan itu; engkau harus melupakan boneka-bonekamu dan teman-teman seusiamu; engkau sekarang adalah seorang isteri dari seorang pria, engkau harus memperhatikan kebutuhanku, dan itulah kewajibanmu?

Tidak! (kata ulama itu).  Nabi mengijinkannya untuk terus bermain dengan bonekanya – bahkan, nabi kadang-kadang memberinya sesuatu untuk bisa ia mainkan [hadis ini mempunyai detail-detail yang lebih banyak, termasuk bagaimana teman-teman Aisyah yang masih kecil akan “bersembunyi” ketika nabi mengunjunginya, hingga akhirnya nabi memanggil mereka untuk keluar dari tempat persembunyian.]

Perlu dicatat bahwa ulama ini mengutip hadis di atas dengan perasaan takjub – seolah-oleh hendak mengatakan,”Lihat, betapa toleran dan terbukanya pemikiran nabi kita!”

Pada kenyataannya, seluruh poin yang hendak disampaikan oleh ulama ini adalah, untuk memperlihatkan bahwa Islam, berdasarkan contoh yang diberikan oleh Muhammad, mengharapkan supaya suami-suami yang lebih tua bersikap sabar terhadap isteri-isteri mereka yang masih muda: “Suami yang lebih tua seharusnya tidak menuntut isterinya yang masih muda untuk berada pada tingkat kedewasaan yang sama dengan dirinya; sebaliknya, si suami seharusnya menurunkan levelnya, sebab ia sanggup melakukannya sementara isterinya itu tidak sanggup menaikkan levelnya.”

Sebagai “pria sejati” seolah-olah kedengarannya benar demikian, ini adalah contoh lain bagaimana para sarjana Muslim melihat gaya hidup Muhammad: sebab mereka tidak bisa mengecam atau mengabaikan praktek yang ia lakukan, sebaliknya yang dapat mereka lakukan adalah berusaha merasionalkan atau membenarkan apa yang diperbuat oleh nabi mereka – untuk menemukan hal yang baik dari setiap situasi yang melibatkan nabi mereka, tanpa menyadari setiap implikasi jelek dari perilaku nabinya itu.

Jadi, di sini kita menemukan seorang ulama Muslim yang berusaha keras untuk menemukan sebuah aspek positif dari perilaku pedofilia Muhammad – bahwa ia itu seorang yang sabar dan bersikap toleran pada isterinya yang masih dibawah umur itu – sementara pada saat yang sama, ulama Muslim ini mengabaikan inti dari apa yang diperbuat oleh Muhammad: bahwa kisah ini pada awalnya sesungguhnya dibangun di sekitar hasrat untuk menikmati hubungan seks dengan seorang anak yang masih kecil.

Oleh: Raymond Ibrahim Jihad Watch 29 July 2011