Bukti bahwa Fatwa itu bersumber dari kepentingan sekelompok manusia belaka

BuktidanSaksi.com – Sekurangnya 45 orang sipil terbunuh di pusat kota Suriah yaitu Hama pada hari Minggu yang lalu, setelah para tentara dan tank-tank menembaki orang-orang sipil tak bersenjata yang meneriakkan “Allahu Akbar!” Tiga minggu lalu di Istambul, Asosiasi Para Sarjana Muslim Pendukung Masyarakat Suriah, mengeluarkan sebuah pendapat religius (fatwa) yang berisi dukungan terhadap revolusi Suriah agar menjadi sebuah kewajiban keagamaan.

Pada suatu hari sebelum dimulainya Ramadan, rejim sekuler Bashar Assad di Suriah, menemukan bahwa agama ada di tengah-tengah semakin meningkatnya ketegangan sipil yang tengah mengancam Suriah, dan dikhawatirkan dalam waktu dekat ini akan mencapai ibukota Damaskus.

Sebuah stasiun TV keagamaan yang baru mengudara milik pemerintah, Nour A-Sham (Terang Dari Suriah), telah memulai siarannya pada hari Jumat lalu, demikian dilaporkan oleh pegawai agen berita SANA. Saluran ini akan menyiarkan kotbah Jumat dan program keagamaan “untuk memberikan sebuah pemahaman Islam yang benar dan aturan-aturan Islamik,” demikian dilaporkan oleh SANA.

Sementara itu, di kota Tartus yang terletak di tepi pantai, sebuah konferensi bertema “Reformasi Menurut Pandangan Seorang Religius,” mengecam menteri negara urusan keagamaan dan para ulama pro pemerintah – sebab mereka (melalui argumentasi religius mereka) berusaha menekan pandangan masyarakat yang menuntut diadakannya perubahan.

“Para ulama menambah-nambahi peran dari aparat keamanan,” demikian kata Faraj Bayrakdar, seorang seniman sastra Suriah dan penentang kebijakan politik Suriah yang sekarang menetap di Swedia, kepada The Media Line. “Setiap rejim Tirani termasuk Assad, telah memanfaatkan pada ulama untuk meraih legitimasi.

Dalam pernyataan penutup mereka, ulama-ulama Istanbul menyerukan agar para ulama pro Assad bersatu untuk menentangnya atau “menghadapi konsekuensi dalam dunia ini dan dalam dunia setelah kematian.”

Sumber: jpost.com