Kimmo Ketola, peneliti dari Church Research Institute, Finlandia

Perisai.net – SEBUAH studi di Finlandia menemukan bahwa masyarakat Finlandia semakin negatif dalam memandang Islam, sementara Kekristenan tetap menjadi yang terbaik. Meski demikian, mayoritas masyarakat Finlandia menyatakan siap menyambut agama-agama lain dalam keluarga mereka.

Hindu dan Buddhisme menjadi agama yang dipandang positif oleh sebagian besar responden. Sementara, Islam menjadi agama yang paling dikritisi.

Hanya enam persen responden yang memberikan penilaian positif atas Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Kimmo Ketola, peneliti dari Church Research Institute. Menurut Ketola, pandangan negatif atas Islam kemungkinan dipengaruhi oleh bagaimana media setempat menggambarkan Islam. 

Ketola mengatakan bahwa Finlandia merupakan negara Eropa dengan jumlah imigran Muslim paling sedikit. Media-media massa Finlandia cenderung menggambarkan Islam secara kasar dan negatif.

Sikap terbuka masyarakat Finlandia terhadap agama-agama lain cenderung mengalami peningkatan selama beberapa dekade terakhir. Tapi, sikap itu tidak berlaku untuk Islam. Penolakan terhadap Islam justru meningkat di era 2000-an.
Ketika masyarakat Finlandia ditanya apakah mereka siap menerima agama-agama lain ke dalam keluarga mereka atau sebagai perwakilan di partai mereka, sebagian besar menyatakan siap. Bahkan, hanya empat persen yang menentang ide pernikahan beda agama.

Selama ini, masyarakat Finlandia cukup kuat memegang teguh keyakinannya. Empat dari lima warga Finlandia cenderung bersikap intoleran terhadap agama lain, sedangkan tiga dari lima warga Finlandia menganggap agama cenderung membawa konflik daripada perdamaian.

Mayoritas warga Finlandia merupakan anggota Gereja Lutheran Injili. Delapan persen warga Finlandia menganggap diri mereka cukup religius. Seperlima warganya percaya pada TUHAN tanpa adanya keraguan. Sementara, sepuluh persen menyatakan tidak percaya pada TUHAN.

Studi ini dipublikasikan oleh Finnish Social Science Data Archieve dan dilaksanakan oleh Church Research Institute. Jumlah responden mencapai 50.000 responden berasal dari 34 negara bagian.