Qur’an and Answer

Jika Perempuan Menjadi Pemimpin

Alif Magz – detikRamadan, Jakarta – Tanya (01/09/2011 18:04 WIB):

Assalamualaikum wr wb. Izinkan saya bertanya, apakah hukumnya jika perempuan menjadi pemimpin organisasi ataupun menjadi pemimpin negara?  (Amelia)

Jawaban: (dipetik dari awal sesuai dengan aslinya, hingga kutipan
HR Bukhari, Ahmad, Nasai dan Tirmidzi).http://ramadan.detik.com/read/2011/09/01/180426/1714473/1253/jika-perempuan-menjadi-pemimpin
“Masalah kepemimpinan perempuan dalam Islam merupakan masalah yang senantiasa hangat dibicarakan di kalangan para ulama dan para cendekiawan Muslim. Para ulama salaf tidak bisa menerima kepemimpinan perempuan. Mereka menolak dan melarang perempuan menjadi pemimpin. Mengangkat perempuan menjadi pemimpin hukumnya haram. Mereka berkeyakinan bahwa perempuan secara mutlak tidak berhak menjadi pemimpin, baik secara domestik di kalangan rumah tangga maupun secara publik di tengah-tengah masyarakat. Kaum perempuan hanya berhak dipimpin oleh kaum laki-laki, baik dalam lembaga keuangan, perdagangan, dan bisnis maupun dalam lembaga pendidikan dan profesi; lebih-lebih dalam lembaga peradilan, hukum dan politik.

Ada dua alasan ulama yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin. Pertama, berhujah dengan Surah An-Nisa yang berikut: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz (meninggalkan kewajiban selaku istri, seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya), hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka; tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar. (QS An-Nisa (4): 34).

Kedua, mereka berhujah dengan Hadits yang berasal dari Abi Bakrah dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bahagia suatu kaum yang mengangkat pemimpin mereka seorang perempuan”. (HR Bukhari, Ahmad, Nasai dan Tirmidzi)….”

KRITIK PEMBACA:

Kritik kita tidak dimaksudkan untuk merusuhi iman seseorang, melainkan pertama-tama mempertanyakan kenapa iman yang menista perempuan itu perlu dianut, dan apakah penistaan sepihak itu telah didasarkan atas kemuliaan asli dari Allah sendiri ataukah dari para pria misogynist.

Segera kita melihat bahwa “mengangkat perempuan menjadi pemimpin hukumnya haram” adalah konsep yang sangat tercela dan sewenang-wenang pihak lelaki. Lebih tercela lagi ketika kita memasuki alasan alasan kenapa hukum itu harus begitu menistakan kaum wanita, sedemikian menistanya sehingga Ustadz diatas terpaksa harus menyembunyikan/ menghilangkan sebagian ayat Quran yang dipetiknya untuk menghaluskan dalil penistaan! Tentu ini sangat tercela baik bagi pendalil dan pendalilannya! Lihat apa yang beliau kutib dari Quran An-Nisa 4:34, yang seharusnya ada memuat kalimat tentang “hukuman-pukul-badan” terhadap perempuan yang DIDUGA/DIKHAWATIRKAN BISA membangkang suaminya (nusyuz)! Lengkapnya berbunyi:

“Kaum laki-laki itu adalah PEMIMPIN bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, MAKA NASIHATILAH MEREKA DAN PISAHKANLAH MEREKA DITEMPAT TIDUR MEREKA, DAN PUKULLAH MEREKAKemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Ini tampaknya bukan kelalaian ketikan melainkan kesengajaan menghilangkan Kalimat Allah yang sulit untuk dibenarkan. Muslim dihadapkan sekaligus kepada Kalimat Allah yang buruk, DAN sipemutar KalimatNya yang lebih buruk!

Disebutkan dalam ruang konsultasi “Quran and Answer” ini bahwa ada dua alasan pokok dan satu alasan tambahan, yang mendasari Allah mengharamkan wanita untuk menjadi pemimpin. Pertama, adalah bahwa karena Allah telah melebihkan sebagian laki-laki atas sebagian perempuan, dan karena laki-laki itu telah memberikan nafkah dari hartanya! Tetapi siapa bilang bahwa Allah telah melebihkan SEMUA laki-laki, dan bahwa perempuan tidak tidak mampu memberi nafkah kepada laki-laki? Siapa bilang Khadijah tidak menjadi PEMIMPIN sukses dalam perniagaannya (termasuk memimpin Muhammad), dan bahkan MENAFKAHKAN Muhammad yang menghantarkannya menjadi Nabi hingga akhir hayatnya (Khadijah)? Emangnya Muhammad makan dari mana/ siapa pada awal kenabiannya di Mekkah?

Ustadz mengalaskan dalil ketiga untuk mengharamkan perempuan menjadi pemimpin kaun: “Tidak akan bahagia suatu kaum yang mengangkat pemimpin mereka seorang perempuan”.

Ini bukan sebuah dalil dengan alasan, melainkan hanya FEELING PRIBADI kaum lelaki yang berkarakter misogynistic. Ini juga jelas bukan dasar hukum Allah yang kebenarannya bersifat universal, melainkan paling-paling bisa benar untuk sebuah komunitas dimana tidak ada seorang wanitapun yang lebih mampu memimpin ketimbang pria! Kenapa dalil dan alasan ILAHIAH kok hanya djatuhkan dalam kasus dan aplikasi yang sempit dan bukan universal?

Ketiga alasan yang disebutkan oleh Uztads tsb jelas hanyalah embel-embel yang tidak memadai. Beliau menghilangkan begitu banyak alasan pokok lainnya yang mendasari diharamkannya seseorang wanita untuk menjadi pemimpin, antara lain seperti yang dilecehkan oleh Muhammad sendiri kepada para perempuan:

“Saya belum pernah melihat seseorang yang lebih rendah (defisit/ tekor) ilmu dan agamanya seperti kalian (kaum perempuan). Lelaki yang baik-baik dapat disesatkan oleh sebagian dari kalian”. Maka para perempuan tersebut bertanya balik (baca: protes), “O Rasul Allah! Apanya yang rendah (defisit/ tekor) dari kami perihal  ilmu dan agama?” Jawab Nabi, “Bukankah kesaksian dari dua orang wanita setara dengan kesaksian dari satu orang pria?” Para wanitapun mengiya-kannya. Ia berkata, “Inilah ketekoran kalian dalam ilmu . Bukankah perempuan tidak dapat ber-shalat maupun berpuasa tatkala datang haid?” Para wanitapun mengiyakannya. Ia berkata: “Inilah ketekoran kalian dalam agama.” (Hadis  Shahih Bukhari, Vol.1, Book 6, No.301).

Tidak berharkat dan bodoh sekali itu kaum perempuan yang mengiyakan pendalilan Muhammad sampai dua kali. Muslimah jaman kini  akan segera melihat bahwa kedua alasan dari Nabi bukanlah alasan apapun. Nilai kesaksian wanita yang diprekondisikan jadi ½  kesaksian pria itu TIDAK pernah bisa dijadikan dalil –didunia dan diakhirat– untuk membuktikan tingkat keilmuan seseorang! Itu melainkan sebuah pelecehan yang harus digugat. Science masa kini justru membuktikan bahwa wanita tidak “deficient in intelligence” ketimbang pria. Wanita mempunyai mental dan intelektual power yang sama dengan apa yang dipunyai pria.

Banyak komentator berpendapat bahwa Muhammad  yang angkuh pada dasarnya menyimpan kebencian terhadap pihak-pihak yang bisa membuat sosok dirinya kelihatan lemah. Beliau misalnya penuh kebencian terhadap kaum Yahudi (dan Nasrani)  karena Allah memerintahkan dia untuk berendah hati dan berkonsultasi kepada para Ahli Kitab tatkala dia ragu-ragu/ tidak paham akan wahyu yang diturunkan kepadanya (10:94). Namun harga dirinya merasa direndahkan. Akibatnya bukan saja perintah tersebut ditolaknya diam-diam, alih-alihnya dia malahan menyimpan rasa persaingan, iri hati dan dendam yang tak berkesudahan terhadap mereka.
Begitu pula model yang ditunjukkannya terhadap kaum wanita yang merupakan titik kelemahannya. Nafsunya vulnerable dan dia  sangat haus sex terhadap wanita cantik, tetapi ego kejantanannya tak boleh memperlihatkan kerapuhan ini. Kehadiran wanita 
merupakan sesuatu yang bawa resiko. Ia dibenci tetapi dibutuhkan.

BEBAN YANG PALING MEMBAHAYAKAN
Nabi berkata, “Sesudah saya, tidak ada suatu penderitaan manapun yang lebih membahayakan yang kutinggalkan bagi laki-laki, ketimbang  perempuan”
(Bukhari, buku 7, vol.62, no.33)

DILECEHKAN SEPERTI BINATANG
Diriwayatkan oleh ‘Aisha: “Hal yang membatalkan shalat diucapkan (oleh Muhammad) kepada saya, yaitu: seekor anjing, seekor keledai, dan seorang perempuan. Sayapun berkata (baca: protes), “Engkau telah mengibaratkan kami (kaum perempuan) sebagai  keledai-keledai dan anjing-anjing.…”
(Bukhari, vol. 1, no. 490 dan 493 dan HR Muslim).

DIANCAM HUKUMAN
“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya tidur, sedang perempuan tidak mau, lalu laki-laki tadi semalam itu dalam keadaan marah, malaikat melaknati perempuan itu sampai pagi.” (Hadis Bukhari 1439)

DINISTA SEPERTI SETAN,  TAPI AMAT DIBUTUHKAN
“Jabir melaporkan bahwa Rasulullah melihat seorang wanita, sehingga beliau (merasa perlu) mendatangi istrinya Zainab yang sedang merawat kulitnya, untuk berhubungan sex dengannya. Sesudah itu beliau mendatangi para sahabatnya dan berkata kepada mereka: Perempuan datang menggoda dalam bentuk setan, maka bilamana seseorang diantara kamu melihat seorang perempuan, ia harus mendatangi istrinya (untuk sex), sebab itulah yang akan mengusir apa yang dirasakannya dalam hatinya”. 
(Shahih Muslim, Buku 8 no.3240).

KESIMPULAN:
Muslimahku sayang, muslimahku malang…
Tidakkah kalian merasa diperlakukan lebih mirip obyek sex? Dan kalian menerimanya, persis seperti
 contoh diatas, dimana para perempuan mengiyakan semua pendalilan Muhammad? ….

Anda juga dikatakannya sebagai Mayoritas penghuni neraka dan minoritas penghuni surga.
Tidak seperti didunia dimana kalian tetap dibutuhkan walau disetan-setanii, namun diSurga kalian dipastikan tak diperlukan banyak-banyak, sebab disana sudah tersedia cukup stok bidadari bermata jeli yang selalu perawan setiap sudah disetubuhi…72 untuk setiap martir.