Dengan memperlihatkan sejarah Islam yang penuh dengan kekerasan, dan bagaimana praktek-praktek penindasan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadaban abad ke-21 masih terus dilakukan oleh orang-orang Muslim hingga masa kini, maka orang-orang Muslim mau tak mau harus mempaket ulang iman mereka bagi kepentingan zaman modern. Sejumlah apologet utama Islam menggunakan taktik tipu daya yang melibatkan semantika dan setengah kebenaran yang, kemudian digulirkan berulang-ulang dan akhirnya diteruskan pula oleh para penganut yang masih baru dalam Islam, bahkan juga oleh mereka yang berasal dari iman diluar Islam.

Ini adalah sebuah dokumen (yang kami harap bisa dikembangkan dan diperluas seiring dengan bertambahnya waktu), yang mengekspos beberapa dari permainan-permainan mereka, dan menolong para pencari kebenaran untuk menemukan jalan mereka sendiri ditengah-tengah banyaknya ketidakjujuran (bahkan seringkali penyesatan) dari klaim-klaim tentang Islam dan sejarahnya.

[Klaim-klaim “pembenaran” Islam yang diluncurkan dengan silat lidah itu, meliputi sejumlah pernyataan-pernyataan berikut:].

Muhammad mengkotbahkan “Tak ada paksaan dalam agama” (Quran, Sura 2:256)

Game Yang Dipermainkan Muslim:
Muslim seringkali mengutip Sura 2:256 untuk membuktikan betapa tolerannya agama Islam itu. Ayat itu mereka baca sebagian, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…”

Kebenaran:
Muslim yang memperlihatkan ayat ini kemungkinan tidak tahu bahwa ayat ini berasal dari sura-sura yang paling awal dari periode Madinah. Ini “diwahyukan” ketika orang-orang Muslim baru saja tiba di Madinah setelah mereka diusir keluar dari Mekkah. Saat kondisi mereka masih sangat lemah, mereka membutuhkan dukungan dari suku-suku yang lebih kuat yang ada di sekeliling mereka, dan banyak dari suku itu adalah suku-suku Yahudi (Qurayza, Nadir dan Qainuqa). Disekitar waktu inilah, sebagai contoh, Muhammad memutuskan untuk mengarahkan kiblat sembahyang para pengikutnya ke Yerusalem.

Tetapi Muslim pada masa kini bersembahyang ke arah Mekkah, bukan Yerusalem. Alasan untuk ini adalah bahwa di kemudian hari, Muhammad memberikan perintah baru yang membatalkan (atau mencabut) ayat-ayat yang ‘diwahyukan’ sebelumnya. Kenyataannya, doktrin pencabutan (nasikh mansukh) adalah sebuah prinsip yang sangat penting yang harus dipahami diluar kepala ketika menafsirkan Quran – dan Sura 2:256 adalah contohnya – sebab ayat-ayat ini dikemudian hari (dalam pengertian kronologis) dikatakan telah menggantikan ayat-ayat yang muncul sebelumnya yang ternyata mengandung kontradiksi (Qur’an 2:106, 16:101).

Pesan Muhammad adalah pesan-pesan yang damai dan toleran pada tahun-tahun awal pelayanannya di Mekkah, yaitu ketika ia belum memiliki tentara dan berusaha untuk mengikuti pola agama Kristen (termasuk ayat-ayat yang sangat bersahabat dengan Nasrani misalnya). Ini berubah secara drastis setelah ia meraih kekuasaan untuk menaklukkan, yang kemudian ia gunakan dengan impunitas, yaitu untuk membawa suku-suku lainnya ke dalam Islam. Ayat yang kontras dengan sura 2:256 adalah sura 9 dan 5, yang ‘diwahyukan belakangan’, dan dengan ayat-ayat ini, sangatlah mudah untuk melihat bahwa sesungguhnya Islam bukanlah sebuah agama damai sejak periode itu hingga saat ini.

Ada beberapa bukti bahwa sura 2:256 sebenarnya sama sekali bukan dimaksudkan untuk orang-orang Muslim, sebaliknya dimaksudkan untuk menjadi peringatan pada penganut agama-agama yang lain dalam kaitan dengan perlakuan mereka terhadap orang-orang Muslim. Ayat 193 dari sura yang sama justru menginstruksikan (secara kontradiktif) pada orang-orang Muslim untuk: “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama/ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” Ayat ini memperkuat natur narsistik Islam, yang menempatkan orang-orang Muslim berada di atas non-Muslim, dan mengaplikasikan sebuah nilai dan standar yang sangat berbeda dalam hal perlakuan terhadap kedua kelompok.

Meskipun orang-orang Muslim pada masa kini menolak praktik memaksa orang lain untuk mengganti agamanya, tetapi memaksa orang untuk memeluk Islam telah menjadi salah satu bagian dari sejarah Islam sejak pertama kali Muhammad mengangkat pedang. Muhammad sendiri di banyak tempat tercatat pernah mengatakan,”Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang-orang, hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah…” (Lihat Bukhari 2:24)

Muhammad mempraktikkan apa yang ia katakan. Ketika ia berjalan menuju Mekkah dengan sepasukan tentara, salah satu dari tugasnya yang utama adalah menghancurkan berhala-berhala yang ada di Ka’bah, yang telah dengan sangat kuatnya disembah oleh orang-orang Arab selama berabad-abad. Dengan melenyapkan obyek penyembahan ini, ia menghancurkan agama dari masyarakat itu, dan menggantikannya dengan agamanya. Di kemudian hari, ia memerintahkan supaya orang Yahudi dan Kristen memeluk Islam atau dilenyapkan dari tanah Arabia. Apakah memaksa orang untuk memilih antara tanah/rumah mereka atau iman mereka terdengar seperti “tidak ada paksaan dalam beragama?”

Menurut para sejarawan Muslim, Muhammad juga memerintahkan orang untuk menghadiri sembahyang di masjid, atau jika mereka menolak, maka mereka akan dibakar hidup-hidup. Ia juga memerintahkan supaya anak-anak yang telah mencapai usia tertentu dipukuli, jika mereka menolak untuk sembahyang.

Yang menarik adalah, bahkan orang-orang Muslim pada masa kini yang mengutip Quran 2:256, biasanya percaya pada ajaran-ajaran Islam yang terdengar sangat mirip seperti pemaksaan agama. Orang-orang yang murtad dari Islam akan dijatuhi hukuman mati (atau dimasukkan ke penjara, jika mereka itu perempuan), dan adanya diskriminasi institusional terhadap agama minoritas yang ada dibawah hukum Islam, yang mana mereka seringkali diberi sebutan sebagai “kaum dhimmi” (kaum taklukan)

Hukum Islam secara eksplisit melarang non-Muslim untuk men-sharingkan iman mereka, bahkan memerintahkan non-Muslim untuk membayar pajak jizyah, yaitu sebagai uang perlindungan. Mereka yang menolak membayar uang perlindungan ini akan dihukum mati. Jika ini bukanlah sebuah pemaksaan, lalu harus disebut sebagai apa?

Sumber: TheReligionofPeace.com