Sumber: TheReligionofPeace.com

BacaBacaQuran.com – Dengan memperlihatkan sejarah Islam yang penuh dengan kekerasan, dan bagaimana praktek-praktek penindasan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadaban abad ke-21 masih terus dilakukan oleh orang-orang Muslim hingga masa kini, maka orang-orang Muslim mau tak mau harus mempaket ulang iman mereka bagi kepentingan zaman modern. Sejumlah apologet utama Islam menggunakan taktik tipu daya yang melibatkan semantika dan setengah kebenaran yang, kemudian digulirkan berulang-ulang dan akhirnya diteruskan pula oleh para penganut yang masih baru dalam Islam, bahkan juga oleh mereka yang berasal dari iman diluar Islam.

Ini adalah sebuah dokumen (yang kami harap bisa dikembangkan dan diperluas seiring dengan bertambahnya waktu), yang mengekspos beberapa dari permainan-permainan mereka, dan menolong para pencari kebenaran untuk menemukan jalan mereka sendiri ditengah-tengah banyaknya ketidakjujuran (bahkan seringkali penyesatan) dari klaim-klaim tentang Islam dan sejarahnya.

[Klaim-klaim “pembenaran” Islam yang diluncurkan dengan silat lidah itu, meliputi sejumlah pernyataan-pernyataan berikut:]

“Islam adalah agama dunia yang pertumbuhannya paling cepat

Game Yang Dipermainkan Muslim:

Bagaimana Islam dapat disebut sebagai agama yang buruk jika ia berkembang dengan sangat cepat? Bukankah ini berarti bahwa sebenarnya Islam adalah agama yang benar, oleh karena banyak orang yang menganutnya?

Kebenarannya:

Pertama-tama, kebenaran sebuah ide atau doktrin tidak pernah semata-mata hanya ditentukan oleh keyakinan. Kira-kira hingga ratusan tahun terakhir ini, mayoritas besar orang di bumi ini bahkan tidak percaya kalau mereka ada di sebuah planet. Mereka juga tidak percaya bahwa bumi ini berputar kira-kira seribu mil per jam atau mengelilingi matahari pada kecepatan 67.000 mil per jam. Apakah ini berarti bahwa bumi tidak melakukan semua hal itu; dan hanya ketika orang percaya bumi berputar barulah bumi ini berputar?

Kedua, Islam tidak “bertumbuh lebih cepat” daripada agama-agama lain karena “orang menerimanya”, melainkan karena angka kelahiran di kalangan orang Muslim sangat tinggi, melebihi orang Kristen dan para penganut agama lainnya, terutama di Barat. Anak-anak dapat dibesarkan untuk percaya apa saja, jadi ini sama sekali bukanlah pencapaian yang sejati terhadap kebenaran sejati.

Orang-orang yang disebut “mualaf” (yang berpaling kepada Islam dari agama-agama lain) hanya sedikit saja yang menjadi pemercaya yang aktif. Hampir semua dari mereka hanyalah orang-orang yang sebelumnya tidak beragama (atau tidak terlalu kuat imannya) – apapun latar belakangnya. Di Barat dan beberapa bagian dunia non Muslim lainnya, dimana semua agama diijinkan melakukan kompetisi yang seimbang, orang-orang seperti itu yang telah mengalami semacam kebangkitan spiritual, cenderung lebih memilih Kristen daripada Islam.

Ada pula wanita-wanita yang “memeluk Islam karena pernikahan” (ini sebuah perubahan nominal dalam “memilih agama”), tetapi “perpalingan” semacam ini sangatlah dangkal, hampir-hampir tidak ada tindakan memperbandingkan antara Islam dan Kekristenan (yang mereka lakukan). Diperkirakan (lihat: estimatedada ribuan orang Muslim yang bertobat kepada Kekristenan setiap hari, sementara hanya sejumlah kecil orang non Muslim yang benar-benar memeluk Islamwalaupun Islam mengalami “pertumbuhan yang cepat”.

Ini membawa kita kepada poin kita yang paling penting dan final, yaitu perasaan malu yang dialami orang Muslim, alih-alih kebanggaan atas peraturan-peraturan yang harus mereka terapkan untuk memelihara status Islam sebagai “agama dengan pertumbuan tercepat”. Sebenarnya, klaim ini lebih menggemakan ketidakamanan yang dimiliki orang Muslim dalam agama mereka sendiri, dan ketidakdewasaan Islam dibandingkan agama-agama lain.

Katakanlah anda sedang bermain catur dengan seorang anak laki-laki berusia 6 tahun. Alih-alih mengikuti aturan permainan yang sama, anak tersebut diijinkan membuat peraturan yang sesuai dengan usianya. Salah satu peraturan yang dibuatnya adalah, anda tidak diijinkan untuk melakukan pergerakan apapun di wilayahnya, tetapi ia boleh melakukan sebaliknya; bergerak di wilayah anda. Dengan demikian tidak ada satupun bidaknya yang dapat diambil.

Nah, jika anak itu mengalami kemenangan dalam permainan itu – yang   dijamin oleh kondisi-kondisi yang telah ditetapkannya – apakah itu adalah sesuatu yang benar-benar dapat dibanggakannya?

Aturan-aturan yang diberlakukan orang Muslim dalam “permainan memeluk agama” sangat mirip dengan analogi catur di atas. Agama-agama lain tidak diijinkan untuk beroperasi di dalam wilayah Islam (mis. Menyebarkan agama mereka dan menginjili) sebagaimana dakwah yang bebas dilakukan orang Muslim di wilayah-wilayah non-Muslim. Demikian pula meninggalkan Islam juga tidak diperbolehkan, dan akan mendapatkan hukuman mati (lihat:penalty of death).

Memperhatikan kesombongan orang Muslim atas “perpalingan” kepada Islam atau menjadi “agama dengan pertumbuhan tercepat” tidaklah berbeda dengan menyaksikan seorang anak yang menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa mereka lebih pintar dan lebih baik dalam “mengalahkan” seorang dewasa yang sebenarnya jauh lebih bijak, dibawah kondisi-kondisi yang disusun sedemikian rupa untuk mendapatkan “kemenangan” palsu, yang sama sekali tidak bermakna.

Islam telah memainkan aturan-aturannya sendiri sejak ia dikandung. Orang Muslim tidak pernah mengembangkan keyakinan akan agamanya sendiri (atau kedewasaan sosial yang seharusnya ada) untuk membuang pembatasan-pembatasan memalukan yang mendatangkan keberhasilannya dan kompetisi dengan agama-agama lain dalam level pertandingan.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, kebenaran suatu keyakinan tidak pernah ditentukan oleh banyaknya penganut yang dimilikinya. Tetapi ketika sebuah agama harus didukung dengan standar ganda dan ancaman-ancaman mati, maka sama sekali tidak ada keraguan untuk mempertanyakan kebenarannya.

(Catatan: artikel kami tidak membahas isu klaim bahwa Islam adalah agama dengan pertumbuhan tercepat, bukan karena kami mempercayainya, tetapi karena pihak-pihak lain telah melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam membantah klaim itu. Sebagai contoh lihat:Islam is not the Fastest Growing Religion in the World ).