“Palti Panjaitan, gua habisi lu !” itu teriakan anak Ustad Naimun yang terekam kamera pada Minggu tanggal 15 April 2012 saat Ia mengancam akan ‘menghabisi’ Pendeta Palti Panjaitan jika mengadakan Kebaktian Minggu depannya 22 April 2012.

Ancaman untuk Pendeta Palti from Ferry Putra on Vimeo.

Palti Panjaitan adalah pendeta yang melayani Jemaat HKBP Filadelfia di Tambun Utara, Kab Bekasi. Selama bertahun-tahun, Gereja HKBP Filadelfia dihambat pembangunannya oleh pemerintah setempat. Selama bertahun-tahun pula Jemaatnya tidak memiliki Gereja untuk beribadah.

Berbagai pengadilan telah memberikan putusan yang memerintahkan pemda untuk melayani Jemaat Filadelfia dalam membangun tempat ibadahnya. Pemda tidak melaksanakan putusan itu, tetapi justru mencari berbagai peraturan yang ada untuk melarang pembangunan Gereja. Bahkan ustad setempat, yang selama ini mendukung pemda, semakin keras mengganggu ibadah Jemaat Filadelfia. Kelompok ustad Naimun ini bukannya ditindak, tapi justru dimanfaatkan untuk menakuti Jemaat.

Ada keruwetan di sebagian besar pemerintah dan kepolisian dalam melindungi warganya. Tidak hanya di tingkat daerah, di tingkat pusatpun tidak kalah ruwetnya.Mahkamah Konstitusi misalnya. 

Judicial Review UU PNPS 1 th 1965 mengenai penodaan agama ditolak oleh 8 hakim. Hanya 1 hakim (Maria Farida) saja yang berpikiran jernih dan adil sesuai tugasnya. Alasan 8 hakim lainnya (termasuk ketuanya Mahfud MD), UU itu masih diperlukan untuk meredam amarah mayoritas. Padahal tugas MK adalah menilai apakah UU itu konstitusional apa tidak, bukannya ikut-ikutan berdalih bahwa UU itu diperlukan agar mayoritas tidak marah.

Pendeta Palti tidak hanya berjuang untuk HKBP Filadelfia, tapi juga berjuang untuk seluruh rakyat Indonesia yang saat ini sedang ditekan oleh keruwetan politik.