BUKTI HISTORIS QURAN
Sebelum 750 AD (sekitar 100 tahun setelah wafatnya Muhamad) tidak ada satupun dokumen yang dapat memberikan gambaran tentang perioda pembentukan Islam. Tidak ada sedikitpun keterangan/kesaksian dari masyarakat Islam selama 150 tahun pertama mereka, antara masa penjajahan Arab pertama pada permulaan abad ke 7, sampai timbulnya literatur pertama Islam abad ke 8 (Riwayah SIRA-MAGHAZI). Satu2nya hal yang kita miliki sebelum tahun 750 itu terdiri dari ‘hampir seluruhnya pernyataan yang tidak jelas asalnya’ (’almost entirely of rather dubious citations in later compilations” (Humphreys)). Memang luar biasa bahwa Islam tidak dapat menunjukkan satupun bukti sejarah buku suci mereka bahkan dalam waktu 100 tahun setelah kelahiran nabi mereka.

Sejumlah cerita dalam Quran berasal dari abad ke 2 literatur Yahudi:
Cerita2 Cain & ABel (Kain dan Habil) dalam dalam Surah 5.31-32 dipinjam dari Targum Jonathan ben Uzziah dan Mishnah Sanhedrin 4.5;
Cerita Abraham, berhala dan penghancuran mereka dalam Sura 21.51-71 adalah dari Misdrash Rabbah;
Cerita Solomon dalam Sura 27.17-44, tentang burung yang dapat berbicara dan ratu Sheba yang mengangkat gaunnya karena menyangka lantai mengkilap sebagai air, diambil dari Targum kedua cerita Esther.
Bahkan cerita Gunung Sinai diangkat dan mengambang diatas kepala rakyat Yahudi sebagai ancaman kalau menolak hukum YAHWEH (Surah 7.171) berasal dari The Abodah Sarah. Dan seterusnya dst.

Dalam Surah 17.1 terdapat laporang tentang perjalanan Muhamad dari mesjid suci ke mesjid terjauh. Dalam tradisi berikutnya, ayat ini menunjuk kepada Muhammad menaiki langit ke 7, setelah sebuah perjalanan malam ajaib (MI’RAJ) dari Mekah ke Yerusalem, diatas kuda bersayap bernama Buraq. Ini berasal dari berbagai sumber : Testamen Ibraham (~200), Rahasia Enoch (chap.1.4-10 and 2.1), dan buku Persia tua berjudul Arta-I Viraj Namak.

Quran menunjukkan bahwa Muhammad memutuskan hubungan dengan orang2 Yahudi pada tahun 624 dan memindahkan arah Kiblat (Surah 2.144 and 149-150) dari Yerusalem ke Mekah. Namun, dokumen yang ada dalam kepemilikan kami, yaitu Doctrina Iacobi Chronicler (dari tahun 661) dan dokumen Usup Sebeos (dari tahun 660) menunjukkan hubungan baik antara kaum Yahudi dengan kaum Ismaeli yang dahulu dikenal sebagai kaum Saracen. Sumber berikut dari Armenia bahkan menyebut gubernur Yerusalem adalah orang Yahudi pada tahap akhir masa penjajahan/conquest. Jadi, testimoni2 ini bertentangan dengan kesaksian dalam Quran.

M E K A H
Dalam Surah 3.96 dan 6.92 terdapat sebutan Mekah (Bakkah) yang merupakan tempat perlindungan pertama umat manusia, atau the “Mother of all settlement” karena Adam menempatkan batu hitam dalam Ka’bah pertama, namun dalam Sura 2.125-127 disebutkan bahwa Abraham dan Ishmael yang membangunnya kembali beberapa tahun kemudian.

Riset oleh Patricia Crone dan Michael Cook menunjukkan bahwa Mekah tidak disebut2 dalam dokumen arkeologi sebelum permulaan abad ke 8. Ingatlah bahwa ini merupakan 1 abad setelah wafatnya Muhamad.
Bahkan lebih aneh lagi adalah pernyataan kaum Muslim bahwa selain merupakan kota tua dan besar, Mekah juga pusat dagang Arab di abad ke7 dan sebelumnya.
Pernyataan ini lebih mudah diperiksa kebenarannya karena bukti2 dokumen dari jaman itu cukup banyak. Dari riset ekstensif Bulliet bisa dikatakan dengan pasti bahwa pernyataan kaum Muslim ini SALAH. Ini dibuktikan lebih lanjut oleh Groom dan Muller yang mengatakan bahwa Mekah tidak mungkin berada pada rute perdagangan karena secara geografis ini berarti orang harus mengadakan detour ketimbang melewati rute normal, yaitu melalui jalur barat. (It would have
entailed a detour from the natural route along the western ridge.)

Bahkan Patricia Crone menambahkan “ Mekah adalah tempat gersang/kering dan tempat2 macam itu bukan pilihan pedagang. Mengapa karavan harus turun kedalam lembah gersang Mekah kalau mereka dengan mudah dapat berhenti di Ta’if ?”
Ia juga menanyakan, komoditi macam apa di wilayah Arab saat itu bisa ditransportasi melewati jarak jauh dan alam kering, dan tetap bisa dijual dengan mendapatkan keuntungan yang cukup besar untuk mendukung pertumbuhan sebuah kota yang kedudukannya tidak strategis itu.”

Faktanya adalah, pada abad2 tidak lama menjelang kelahiran Muhamad di tanah Arab ini tidak ada satupun jalur pedagangan internasional, apalagi di Mekah. Ternyata kebanyakan data mengenai asal pernyataan “Mekah sarang dagang” ini adalah gara2 riset tidak teliti seorang Yesuit, Henry Lammens, seorang “akademik yang tidak reliable”. Lammens menggunakan sumber2 abad pertama (seperti orang2 Romawi, Periplus dan Pliny) dan bukannya sumber2 sejarawan Yunani yang hidup lebih dekat pada masa tersebut seperti Cosmas, Procopius dan Theodoratos (P. Crone).
Kenyataannya, di abad pertama, jalur perdagangan Yunani antara India dan negara2 Mediterania sepenuhnya bersifat maritim. Silahkan anda membuka atlas untuk mengerti mengapa. Tidak ada gunanya mengangkut barang dagangan melewati jalan darat yang cukup jauh jika jarak itu bisa ditempuh dalam separuh waktu lewat sungai/laut.

Menurut Nn. Croone, pada masa kaisar Dioclesias, lebih murah bagi kerajaan Romawi untuk mengangkut gandum lewat laut sepanjang 780 km (1,250 miles) ketimbang mengangkutnya lewat jalan darat sepanjang 30 km (50 miles). Mengapa para pedagang dari India mengirim lewat laut barang dagangan mereka, menurunkannya di pelabuhan Aden dan meneruskan perjalanan di pundak onta sepanjang 780km lewat gurun gersang ?

Jika Lammens melakukan riset secara benar, ia juga akan melihat bahwa jalur perdagangan Yunani-Romawi dengan India runtuh pada abad 3 AD (sesudah Masehi), sehingga pada jaman Muhammad tidak ada jalur darat maupun pasar Romawi yang menjadi tujuan barang dagang tersebut. Croone juga menunjukkan bahwa, seandainya Lammens meluangkan waktu untuk membaca sumber2 Yunani kuno, ia akan menemukan bahwa orang2 Yunani—tujuan barang dagangan tsb—belum pernah mendengar nama kota Mekah. Kalau memang tempat itu begitu penting, tentunya mereka
yang akan menerima barang dagangan tersebut pasti mengetahui eksistensinya. Namun, kita TIDAK MENEMUKAN SEDIKIT KETERANGAN PUN, kecuali bahwa orang Yunani menyebut kota2 Ta’if dan Yathrib (kemudian dinamakan Medina), juga Khaybar di bagian utara. Tidak adanya sebutan Mekah dalam dokumen historis memang merupakan fakta problematik dalam membuktikan keberadaan sebuah kota yang dianggap pusat kelahiran Islam.

Bahkan terdapat kebingungan dalam tradisi Islam tentng dimana sebenarnya letak Mekah. Menutut riset J. van Ess, baik pada masa perang sipil pertama dan kedua, ada kesaksian tentang orang2 yang bergerak dari Medina ke Iraq, lewat Mekah. Namun kota MEKAH itu terletak di bagian south-west Medina sementara Iraq berada di belahan north-east. Maka kota perlindungan Islam, menurut tradisi tersebut terletak di bagian timur Medinah, yaitu arah berlawanan dari letak Mekah sekarang! Ini mengakibatkan kebingungan. Bukan hanya bukti2 dokumenter Arab dan Yahudi tentang penanggalan saling kontradiksi, namun kota pusat Islam itu dikenal hanya jauh kemudian.

BUKTI ARKEOLOGIS ARAH KIBLAT
Dikatakan bahwa arah kiblat ditetapkan pada Mekah pada sekitar tahun 624. Namun bukti2 arkeologis yang masih berlangsung pada mesjid2 pertama yang dibangun pada abad ke7 oleh arkeolog2 Creswell dan Fehervari mengenai 2 mesjid Umayyad di Iraq dan didekat Baghdad, menujukkan bahwa Kiblat tidak diarahkan pada Mekah tetapi jauh ke utara. Mesjid Wasit malah melewati Mekah sebanyak 33 derajat dan mesjid Baghdad sebanyak 30 derajat. Ini sesuai dengan kesaksian Balahhuri (yang disebut Futuh) bahwa Kiblat mesjid pertama di Kufa, Iraq, yang dibangun tahun 670 mengarah ke barat, padahal kalau mau mengarah ke Mekah, seharusnya mengarah ke selatan.

Mesjid Amr b. al As diluar Kairo di Mesir menunjukkan bahwa arah Kiblat menunjuk jauh ke utara sampai harus diperbaiki oleh gubernur Qurra b. Sharik. Bukti2 diatas menunjukkan bahwa Kiblat tidak diunjukkan pada Mekah tetapi pada sebuah kota jauh di utara, kemungkinan didekat Yerusalem. Ini diperkuat oleh penulis Kristen dan pelancong Yakub dari Edessa, yang tulisannya berasal dari tahun 705 dan merupakan saksi mata di Mesir. Ia menulis bahwa kaum Mahgraye (nama Yunani bagi kaum Saracen) di Mesir bersolat menghadap ke timur dan TIDAK ke selatan atau tenggara (menghadap Mekah). Suratnya (yang disimpan di British Museum) memang merupakan pembuka mata. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa sampai tahun 705 pun, arah kiblat ke Mekah BELUM JUGA DITETAPKAN.

Menurut Dr. Hawting, dari SOAS (School of Oriental and African Studies di London), penemuan arkeologis baru juga menunjukkan bahwa sampai saat itu, kaum Muslim (atau disebut juga kaum Hagar, dari nama ibu Ishmael, yang dihamili nabi Ibrahim) memang solat tidak mengarah ke Mekah tetapi ke utara, kemungkinan besar Yerusalem. NAMUN QURAN MENGATAKAN KEPADA KITA (dalam Surah 2) BAHWA ARAH KIBLAT ADALAH MENUJU MEKAH, kira2 2 tahun setelah Hijrah, atau sekitar 624 dan tidak pernah berubah sampai sekarang.

Apa yang terjadi disini ? Mengapa Kiblat tidak mengarah kepada Mekah sebelum tahun 705 ? Mari sekarang kita melihat Yerusalem.

THE DOME OF THE ROCK
Dome megah ini didirikan oleh Abd al-Malik pada tahun 691 dan sampai sekarang masih berdiri. Pertama, kita harus mengingat bahwa the Dome of the Rock bukan sebuah mesjid karena tidak memiliki arah kiblat. Hanya sebuah gedung oktagonal dengan 8 pilar. Muslimin puas dengan keterangan bahwa Dome ini didirikan guna memperingati malam Muhamad terbang ke surga guna berbicara dengan Musa dan Allah tentang jumlah sholat yang harus dipatuhi pengikut. Namun, menurut riset oleh Van Berchem dan Yehuda Nevo, kaligrafi disana tidak menyebutkan apa2 tentang Mi’raj NAMUN MENOLAK STATUS KETUHANAN YESUS, PENERIMAAN PARA NABI, PENERIMAAN WAHYU OLEH MUHAMAD DAN PENGGUNAAN ISTILAH “Islam” DAN “Muslim”.

Mengapa, kalau memang khusus didirikan untuk memperingati Mi’raj Nabi gedung itu tidak menyebut sepatah katapun tentangnya ??? Gedung megah ini yang didirikan pada masa2 kelahiran Islam menunjukkan bahwa GEDUNG INILAH DAN BUKAN MEKAH yang merupakan tempat perlindungan Islam pertama dan pusat kelahiran Islam sampai paling tidak abad ke7.

Menurut tradisi Islam, kalif Sulaiman, yang berkuasa antara tahun 715-717, pergi ke Mekah dan bertanya tentang naik haji. Ia tidak puas dengan jawaban yang diterimanya disana dam memilih untuk mengikuti Abd al-Malik (i.e. melancong ke the Dome of the Rock). Fakta ini saja, kata Dr. Hawting, menunjukkan bahwa bahkan pada abad ke 8 sudah adanya ketidakpastian tentang letak tempat lahirnya Islam. Menurut tradisi, WALID I, kalif yang berkuasa antara 705-715 menulis kepada semua daerah, memerintahkan penghancuran dan peluasan mesjid2. Mungkinkah ini saat Kiblat ditetapkan kearah Mekah ? Kalau iya, ini menunjukkan kontradiksi besar2an dengan Quran.

Dr. John Wansbrough, otoritas terbesar dalam tradisi dini Islam, menunjukkan pengamatan menarik terhadap Muhamad. Sumber2 non-muslim terbaik masa ini diberikan oleh kaligrafi Arab pada batu2an yagn tersebar di gurun dan daratan Syria-Yordan, khususnya di gurun Negev. Alm. Yehuda Nevo, dari Universitas Yerusalem, melakukan riset ekstensif dan menerbitkan hasilnya pada tahun 1994 dalam bukunya “Toward a Prehistory of Islam/Menuju Masa pra-sejarah Islam”, yang saya jadikan bahan acuan disini.

Nevo menemukan dalam teks2 religius Arab, dari satu setengah abad kekuasaan Arab (abad ke 7 dan ke adanya sebuah kepercayaan monotheis yang “jelas2 bukan Islam, namun sebuah kepercayaan dari mana Islam bisa berkembang” (“demonstrably not Islam, but a creed from which Islam could have developed”.) Ia juga menemukan bahwa dalam semua institusi religius selama masa SUFYANI (th 661-684) tidak ada sedikitpun sebutan tentang Muhammad atau petunjuk bahwa Muhamad adalah nabi Allah. Ini benar, sampai sekitar tahun 691, dimana tujuan utama inskripsi adalah religious atau hanya commemorative, seperti inskripsi pada bendungan didekat Ta’if, yang didirikan oleh Kalif Muâwiya pada tahun 660-an. Absennya nama Muhamad pada inskripsi2 kuno adalah penting.

Kemunculan pertama nama Muhamad rasul Allah ditemukan pada coin Arab-Sassanian dari Xalib ben Abdallah dari tahun 690, yang dibuat di Damaskus. Pernyataan Kepercayaan, termasuk Tauhid (KeTunggalan Allah), pernyataan bahwa Muhammad rasulAllah dan penolakan keTuhanan Jesus (rasul Allah wa-abduhu) ditemukan dalam inskripsi Abd al-Malik dalam the Dome of the Rock, tertanggal 691. SEBELUMNYA, PERNYATAAN KEPERCAYAAN MUSLIM TIDAK DAPAT DIPASTIKAN.

Setelah dinasti MAARWANID (sampai 750), nama Muhammad biasanya timbul dalam pernyataan religius, seperti pada coin, milestones and papyrus “protocols”. Namun, papirus bahasa Arab pertama di Mesir, dalam bentuk bukti penerimaan pajak tahun 642, ditulis dalam bahasa Yunani dan Arab dan menganut judul “BASMALA”, namun karakternya bukan Kristen maupun Muslim.

Inskripsi2 dalam the Dome of the Rock, walaupun mengandung teks religius, tidak pernah menyebut nama nabi atau kepercayaan Muslim, 30 tahun setelah kematian Muhammad, walaupun menganut suatu bentuk monotheisme yang berkembang dari gaya literatur Yahudi-Kristen. Lebih2 lagi, ketika kepercayaan itu diperkenalkan pada masa MARWANID (setelah 684) it is carried almost “overnight”. Tiba2, kepercayaan itu menjadi satu2nya deklarasi religius negara. Namun lagi2 tidak begitu saja diterima rakyat.

Menurut Y. Nevo, rumusan Mohammedan ini hanya dimulai digunakan dalam inskripsi umum pada jaman Kalif Hisham (724-743). NAMUN WALAUPUN MEREKA PEGIKUT MUHAMAD, MEREKA BUKAN MUSLIM. Untuk itu, kata Nevo, kita harus menunggu sampai permulaan abad ke 9 (sekitar 822), bersamaan dengan ditemukannya Quran tertulis pertama. Jelaslah bahwa bukan semasa hidupnya Muhamad diangkat kepada posisi nabi, BAHKAN KETIKA ITU, KEPERCAYAAN KEPADA MUHAMAD TIDAK SAMA DENGAN APA YANG DITEMUKAN SEKARANG.

Q U R A N
Sumber2 menunjukkan bahwa buku ini disusun secara tergesa2. Wansbrough mengatakan bahwa “nampak jelas bahwa buku ini tidak memiliki struktur keseluruhan, sering tidak jelas, baik dari segi bahasa maupun isi, menghubung2i materi yang terpisah2 dan cenderung mengulang-ulang anak- kalimat dalam berbagai versi. Atas dasar ini dapat disimpulkan bahwa buku ini adalah produksi editing tidak sempurna di masa kemudian dari bermacam2 tradisi” seperti dikutip dalam buku Crone-Cook “Hagarism”.

Mengenai kapan Quran itu disusun kami hanya bisa menerka dari penanggalan manuskrip2 yang ada. Dari sini, kami bisa menyimpulkan bahwa Quran tidak eksis sebelum akhir abad ke 7. Referensi tertua dari luar tradisi literatur Islam mengenai sebuah buku yang dinamakan dengan “Quran” timbul pada pertengahan abad 8 dari tulisan pembicaraan antara seorang Arab dan seorang pendeta dari Bet Hale. Namun ini belum tentu menunjuk pada buku yang kita kenal sekarang. Baik Crone maupun Cook menyimpulkan bahwa selain referensi kecil ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Quran eksis sebelum akhir abad ke 7.

Dalam riset mereka, baik Crone dan Cook bersikeras bahwa kemungkinan besar, Quran (atau dalam bentuk permulaan) disusun sebagai bukunya Muhamad pada masa gubernur HAJJAJ BEN YUSUF (663-714), sekitar tahun 705. Dari kesaksian Leo by Levond, gubernur Hajjaj nampak telah mengumpulkan semua tulisan2 lama kaum Hagarene dan menggantikannya dengan versi yang disusun “menurut keinginannya, dan membagikannya kepada siapaun di negerinya”. Ini juga sesuai dengan fakta bahwa baik manuskrip Quran di Samarqand dan Topkapi (di Turki), Quran tertua yang kita miliki, ditulis dalam bahasa Kufic, dialek Persia dari Kufa, dan bukan bahasa Arab.

Kesimpulan masuk akal adalah bahwa dalam masa inilah Quran memulai perkembangannya, kemungkinan ditulis, sampai akhirnya disahkan pada pertengahan sampai akhir abad 8 sebagai Quran yang kita kenal sekarang. Namun demikian, bukti2 arkeologis tentang keberadaan Quran adalah yang paling problematik. Bekas2 bangunan dan inskripsi dari daerah itu dari abad 7 dan 8 tidak hanya menunjukan kontradiksi bahwa Muhamad mengesahkan Kiblat semasa hidupnya, atau bahwa ia yang menyusun Quran yang kita kenal sekarang, bahkan asal usul ke-nabiannya juga diragukan. Ini merupakan
penemuan penting dan problematik. Sekarang kita menemukan coin2 yang katanya mengandung tulisan Quran, tertanggal 685, yang dibuat pada masa Abdul Malik. Lebih2 lagi, the Dome of the Rock yang dibangunnya pada tahun 691 menunjukkan ketidaksesuaian antara inskripsinya dengan pernyataan dalam Quran. Dua ahli etymologi, Van Berchem and Grohmann, setelah riset ekstensif terhadap inskripsi ini mengatakan bahwa mereka mengandung “variant verbal forms, extensive deviances, as well as omissions from the text which we have today” (“Arabic Papyri from Hirbet el-Mird” as cited by Crone-Cook).

Jika inskripsi2 ini berasal dari Quran, dengan berbagai macam variasi. bagaimana mungkin Quran disahkan (dikanonisasi) sebelum akhir abad ke 8 ? Orang hanya bisa menyimpulkan bahwa terjadi sebuah evolusi dalam penyusunan Quran, KALAU MEMANG MEREKA ASALNYA DIKUTIP DARI QURAN.

KESIMPULAN SINGKAT :
1. Kaum Yahudi dan Arab bersahabat sampai paling tidak tahun 640.
2. Yerusalem adalah Holy Sanctuary for Islam sebenarnya sampai permulaan abad ke 8.
3. Mekah tidak dikenal sebagai kota yang viable sebelum akhir abad ke 7 dan tidak juga dikenal sebagai rute perdagangan.
4. Kiblat baru ditetapkan kearah Mekah setelah abad ke 8.
5. Muhammad tidak dikenal sebagai rasul semua rasul sebelum akhir abad ke 7.
6. Referensi paling pertama tentang adanya Quran tidak ada sebelum pertengahan abad ke 8.
7. Tulisan Quran original tidak serupa dengan teks Quran sekarang. Quran yang kita miliki sekarang BUKAN Quran yang seharusnya dikumpulkan dan dikanonisasi kalif Uthman pada tahun 650, seperti diakui kaum muslimin.
8. Quran yang kita miliki sekarang (sejak tahun 790) tidak ditulis 16 tahun setelah wafatnya Muhamad, melainkan 160 tahun kemudian.
─────────────
Bukti Arkeologis Melawan Quran

http://debate.org.uk/

Sampai kiamatpun Muslimin bersikeras bahwa Qur’an adalah kata2 final Tuhan. Namun, mana bukti sejarahnya? Bukti manuskrip, dan arkeologis semuanya tidak berhasil membuktikan claim2. Dlm tulisan paling akhir (Isa Masih no. 6, p8-9) kami menunjukkan kekurangan2 dlm manuskrip2 Quran. Disini kami menunjukkan bukti melawan Islam dari sumber2 dokumen non Muslim dan arkeologi modern.

SUMBER2 YAHUDI
Qur’an menyiratkan bahwa Muhamad memutuskan hubungannya dgn Yahudi thn 624 AD, segera setelah Hijrah ke Mekah. Pada saat itu, Kiblat dipindahkan dari Yerusalem ke Mekah (Surah 2:144, 149-150). Namun, sumber2 non-Muslim, Doktrin Iacobi dan Kronikel Armenia dr thn 660 AD, menunjukkan bahwa pd tahun 640, saat penaklukan Palestina, Arab dan Yahudi adalah sekutu. Muhamad mendirikan masy Ishmaeli dan Yahudi berdasarkan tanah kelahiran mereka yg sama di tanah suci. Hubungan baik ini berlangsung sampai paling tidak 15 tahun setelah tgl Quran tsb.

M E K A H
Menurut Qur’an, Mekah merupakan kota yang pertama dan paling penting di dunia. Adam menempatkan batu hitan di Ka’bah asli, sementara Abraham dan Ishmael membangun kembali Ka’bah Mekah berabad2 kemudian (Sura 2:125-127). Mekah dikatakan sbg pusat perdagangan sebelum jamannya Muhamad.

Namun tidak ada bukti2 arkeologisnya. Kota kuno besar macam itu tentulah disebut2 dlm sejarah kuno. Namun, sebutan paling dini ttg Mekah sbg sebuah kota ada di Continuato Byzantia Arabica, dokumen abad ke 8 !
Mekah jelas bukan rute perdagangan daratan yg alami – Mekah adalah lembah gersang dan orang harus belok sepanjang 100 mil utk dapat mencapainya.Setelah abad pertama, hanya ada perdagangan maritim Yunani-Romawi dgn India, yg diawasi pelabuhan Laut Merah Ethiopia, Adulis, dan bukan oleh Arab. Kalau Mekah bukan sebuah kota yg mapan, kecuali setleah jamannya Muhamad, maka ini membuat Quran sangat diragukan.

A R K E O L O G I
Qiblat
Menurut Qur’an, Qiblat diarahkan ke Mekah pd thn 624 AD, 2 tahun setelah Hijrah (Sura 2:144, 149-50). Namun bukti2 arkeologis paling dini dari mesjid yg dibangun pada permulaan abad ke 8 menunjukkan bahwa kota suci mereka bukanlah Mekah, tetapi lebih dekat ke arah Yerusalem.

Qiblat mesjid pertama di Kufa, Iraq, dibangun th 670 AD, dan menunjuk ke BARAT ketimbang ke selatan, gambar2 arsitektur dari 2 mesjid Umayyad (650-750 AD) di Iraq, menunjukkan bahwa Qiblat berorientasi jauh ke utara. Mesjid Wasit melenceng sampai 33 derajad, mesjid Baghdad sampai 30 derajad. Mesjid ‘Amr b. al ‘As didekat Cairo, juga menunjuk ke Kiblat terlalu jauh ke utara dan harus diperbaiki oleh sang gubernur.

Jacob dari Odessa, penulis dan pelancong Kristen, merupakan saksi mata menulis ttg Mesir sekitar 705 AD. Suratnya dlm British Museum menyebut ttg kaum ‘Mahgraye’ (istilah Yunani bagi Arab) di Meesir berdoa menghadap ke timur, menuju Ka’bah, dgn kata lain menuju Palestina, dan bukan Mekah.

Jadi bukti menunjuk kpd lokasi bukan di Mekah, tetapi di Arab Utara atau bahkan Yerusalem, sampai permulaan abad ke 8. Tidak mungkin Muslim2 pada abad permulaan Islam salah menghitung arah. Merkea pedagang dari gurun pasir dan tukang caravan yang mahir membaca arah bintang di langit utk menentukan arah pelancongan mereka. Bgm lagi mereka melakukan ibadah haji, yang pada saat itu saja sudah diresmikan ? Ada ketidakcocokan besar antara Qur’an dan arkeologi
modern. Yang paling penting, Walid I, kalif th 705 – 715, menulis kesemua wilayah memerintahkan penghancuran dan pelebaran semua mesjid. Mungkinkah bahwa saat itu Kiblat baru dipindahkan ke Mekah ?

Dome Of The Rock
Kemungkinan alasan mengapa mesjid2 kuno menghadap Palestina bisa ditemukan di Yerusalem. Di pusat kota itu terletak the ‘Dome of the Rock’, bangunan yg didirikan ‘Abd al-Malik th 691 AD. Ini dianggap sbg tempat Islam paling suci nomor 3 setelah Mekah dan Medinah. Gedung ini nampaknya bukan ingin digunakan sbg mesjid, karena tidak adanya Qiblat dan betnuk oktagonalnya menunjukkan gedung itu digunakan agar orang dapat berkeliling memutarinya. Muslim percaya bahwa ini memperingati Isra Mi’raj, malam Muhammad naik ke surga dan berbicara dgn Allah dan Musa mengenai jumlah solat yg diwajibkan kpd pengikut.

Namun, tulisan2 pada tembok2 gedung itu tidak menyebut apa2 ttg Isra Mi’raj tetapi kutipan2 Quran yg dimaksudkan khususnya bagi Kristen. Mungkin gedung ini dibangun sbg tempat suci Islam, sebelum Mekah diresmikan sbg tempat tersuci Islam. Tradisi Muslim memang menunjukkan bahwa the Dome of the Rock dulu memang pusat religius Islam. Kalif Suleyman, yg berkuasa sampai th 717 AD, pergi ke Mekah utk bertanya ttg ibadah Haji. Ia tidak puas dgn jawaban yg didapatkan dan emmilih utk mengikuti ‘Abd al-Malik, yg melancong ke the Dome of the Rock.

Mungkinkah kiblat2 mesjid2 pertama dulu diarahkan kepada the Dome of the Rock dibawah perintah Walid I pada permulaan abad ke 8? Alm Yehuda Nevo dari Universitas Yerusalem men-survey ukiran2 Arab pada batu2 yg tersebar di gurun Negev dan Syro-Jordania. Risetnya memberikan gambaran berguna atas sejarah Muhammad dari sumber2 non-Muslim kontemporer.

Dlm teks religius dari jaman Sufyani (661-684 AD) ada sebuah kepercayaan monotheistic TETAPI TIDAK ADA RUJUKAN KPD MUHAMAD ! Namanya hanya muncul setelah 690 AD. Tulisan Muhammad Rasulullah tampil pertama kali dlm uang keping Arab-Sassania dari th 690 AD, di Damascus. Lebih penting lagi, ketiga unsur kepercayaan kpd Tauhid, Muhamad Rasulullah dan rasul Allah wa-’abduhu (sifat kemanusiaan Yesus) ditemukan dlm tulisan ‘Abd al-Malik dlm the Dome of the Rock, tertgl 691 AD. Sebelum ini, prinsip2 kepercayaan Muslim tidak dapat dipastikan.
Jadi selama 60 tahun penuh setelah kematian Muhamad, kalimat syahadat Arab TIDAK MENCAKUP MUHAMAD.
Tetapi sebuah prinsip kepercayaan monotheis yg megnembangkan konsep2 Judaeo-Kristen dlm gaya literature khusus. Saat syahadat dgn nama Muhammad diberlakukan selama periode Marwanid (setelah 684 AD) tiba2 bentuk deklarasi itulah tampil sbg satu2nya bentuk dlm dokumen2 formal. Jadi peningkatan status Muhammad sbg nai universal hanya terjadi pada akhir abad ke 7, lama setelah kematiannya.

Q U R A N
Jelas Qur’an mengalami transformasi selama 100 tahun setelah kematiannya. Tulisan2 yg dikenal sbg tulisan Quran pada keping2 dan di the Dome of the Rock selama masa ‘Abd al-Malik dari 685 AD, BERBEDA dgn teks Quran sekarang. Qur’an tidak mungkin dikanonisasi selama masa hidup Muhamad, tetapi pasti mengalami proses evolusi. Rujukan paling dini kpd sebuah buku yg dinamakan Qur’an tidak datang dari Mekah melainkan di Arab Utara, bahkan Yerusalem, pada permulaan abad 8.
Tidak mungkin Muslim2 pertama salah tebak arah Mekah, mereka mahir menggunakan bintang sbg penunjuk jalan. Bagaimana mungkin mereka bisa mengadakan ibadah haji yg sudah dikanonisasikan pada jaman itu ?
Ada kepincangan besar antara Qur’an dan arkeologi modern.
Dimasa lalu Qur’an dilindungi dgn semacam embargo – tetapi kini Muslim tidak lagi dapat menghindar bukti2 yg semakin menumpuk yg justru melemahkan Quran.