Selama bulan Ramadhan, sering kali kita menyaksikan kasus pemukulan dan penganiayaan dari si pelaku-puasa terhadap “orang-kafir” yang kebetulan makan minum disekitarnya? Dalam psikologinya yang sakit mereka seolah mengumumkan, ”Lihatlah, saya ini sedang berpuasa dan menderita, maka hargailah saya dan jangan dilecehkan”. Maka kedai-kedai makan dan resto “dihimbau” (baca: diwajibkan) untuk ditutup atau setidaknya setengah tertutup. Dalil yang dipakai adalah orang-orang lain harus sensitif dan “tahu-diri” bahwa dia (Muslim saleh) itu sedang berpuasa dan berkorban-suci, sehingga harus mendapat pengakuan dan penghormatan yang layak.

Oleh: RAM KAMPAS

Yusuf Qardhawi, Ulama Muslim Sunni yang paling berpengaruh, menulis dalam bukunya “Tirulah Puasa Nabi!” sebagai berikut:

“Puasa yang diperintahkan dan dianjurkan dalam Al-Quran dan Sunnah ialah aktifitas meninggalkan, membatasi, dan menjauhi… Secara umum, pengertian puasa adalah menahan dan menjauhi aktifitas makan dan minum serta bersetubuh dengan isterinya dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan trujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt” (p.19).

Tujuan pokok dari segala pokoknya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Dan ini diperkuat oleh hadis sahih yang menyatakan bahwa puasa itu total berfokus pada Allah: (Read More …)