Dipetik dari buku: Is Qur’an Infallible? (Apakah Quran Tidak Memiliki Kesalahan? (Bagian 5)

Oleh: ‘Abdallah ‘Abd al-Fahdi

Pertanyaan 7: Kita baca dalam Surah Ar Ra’du 13:13:

“Dan guruh bertasbih memuji Allah, dan para malaikat (bertasbih) karena takut kepadaNya. Allah mengirim petir lalu menimpakannya kepada siapa yang dikehendakiNya, sedang mereka membantah tentang Allah, dan Dialah yang sangat keras siksaNya.”

Al-Baidawi berkata, “Ibnu Abbas melaporkan bahwa sang Nabi ditanyai mengenai petir. Jawabnya, ‘Itu adalah malaikat yang diberi kuasa terhadap awan. Dia telah melilitkan balutan api yang sekalian mengendarai awan dan para malaikat, dengan rasa gentar terhadap Allah.’ Pendapat lain berkata bahwa kata depan ‘Nya’ di ayat itu mengacu pada petir itu sendiri.”

Al-Tirmidhi mengutip Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa “Orang-orang Yahudi datang pada Muhammad dan berkata, ‘Ceritakan pada kami tentang petir. Apakah itu?” Ia menjawab: ‘Salah satu malaikat yang diwenangkan kepada awan. Dia melilitkan balutan api berkendaraan awan sesuai dengan kehendak Allah.’ Mereka bertanya, ‘Suara yang terdengar itu sesungguhnya apa?’ Dia berkata, ‘Itu adalah tegurannya kepada awan, dimana mereka harus berhenti ketika diperintahkan bagi mereka.’ Kata mereka, ‘Kau telah mengatakan kebenaran!’”

Kita bertanya: Mengherankan. Mengapa Qur’an menyebut petir itu seorang malaikat sementara orang-orang primitif dikala itu menganggapnya sebagai dewa? [Keduanya konyol! Yang satu dongeng, yang lain mitos]. Pada kenyataannya itu adalah kekuatan arus listrik yang ditimbulkan oleh hubungan ion positif dan negatif yang ada pada awan.