Apakah Allah sungguh2 satu atau “satu dari”? Monoteisme versus kesempurnaan tata bahasa Quran

http://answering-islam.org/Shamoun/ahad.htm  oleh Sam Shamoun

Kita baca dalam Quran mengenai keesaan Allah:
Surat 112:1 Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,

Bab ini disebut baik itu sebagai Al-Ikhlas atau juga sebagai at-Tauhid. Seorang penulis muslim mengatakan tentang Surat singkat ini:

Definisi mengenai Tuhan yg paling Ringkas:
Definisi paling ringkas mengenai tuhan dalam Islam diberikan dalam empat Ayat di Surat al-Ikhlas yg adalah bab nomor 112 dari Quran:

Surat Ikhlas – Batu ujian teologi:
Surat Ikhlas dari Koran adalah batu ujian teologi. Thed dalam yunani artinya tuhan dan ‘logy artinya mempelajari. Dg begitu Theology artinya mempelajari tentang Tuhan dan bagi muslim keempat kalimat definisi dari tuhan yg maha kuasa berfungsi sebagai batu ujian utk mempelajari Tuhan. Setiap calon tuhan harus diberi ujian ini. Karena atribut Allah diberikan dalam bab ini adalah unik, tuhan2 palsu dan para pengaku tuhan dapat dg mudah dikenali memakai ayat2 ini (Dr. Zakir M. Naik, Concept of God in Islam; http://www.irf.net/irf/comparativerelig … tofgod.htm)

Herannya, tulisan arab yg sebenarnya dari ayat pertama tidak berkata Allah itu satu, tapi berkata Allah adalah salah satu (is one of). Ini karena penggunaan kata satu dalam kalimat, yaitu ahad. Disini penterjemahan dari teks Arab quran: Qul huwa Allahu ahad(un), yg artinya adalah:

“Say: He, Allah, is one of.”

Abdullah Al Araby menulis: Penerjemahan yg sengaja disalahkan dari Quran menjadi subjek besar yg perlu dibongkar dan dipelajari dalam tesis yg terpisah. Utk tujuan artikel ini kita akan memberi beberapa contoh sebelum menuju pada topik dari artikel ini.

Dalam Surat 112:1

“Say: He is Allah, the One and Only…” dalam bahasa Arab aslinya, kata yg diterjemahkan sebagai “Only” dalam ayat ini sebenarnya adalah “One of.” Penerjemah tidak dapat menerjemahkannya begitu saja, karena akan terjadi “Shirik” (menghubungkannya dg tuhan2 lain selain Allah). (“Nikah”- The Islamic “N” Word; What Does It Exactly Mean?; source)

Pengucapan yg benar untuk ini adalah Allahu Al-Ahad, yakni, “he is Allah, the One” atau “he, Allah, is the Unique One.” Lihat bagaimana muslim2 berikut berupaya utk membetulkan masalah ini dg menyelipkan kata2 penjelasan didalam kurung:

Say (O Muhammad): “He is Allah, (the) One.” Oleh Hilali-Khan

Yg lain mengikuti seperti itu tapi tidak memakai tanda kurung:

Say: He is Allah, the One! Oleh Pickthall

Say: He is ALLAH, the One! Oleh Sher Ali

Tapi yg lain lagi menyediakan sebuah predikat atau mengatur tiap kata agar membuat kalimatnya menjadi lengkap dan jelas:

Proclaim, “He is the One and only God.” Oleh Khalifa

Say, [God] is one God; oleh Sale

Penulis Quran bisa saja menghindari kebingungan dan kesulitan2 ini dg menulis ayat tsb dg cara ini: Qul huwa Allahu Al-Wahid(un). Lihat perbedaan dg aslinya pada kata Ahad dan Wahid.

Yg akan membuat terjemahannya menjadi,

“Say, he is Allah, the One,”

Atau

“Say he, Allah, is the One.”

Sang penulis mestilah menghilangkan huruf arab al, dan kalimatnya menjadi: Qul huwa Allahu Wahid(un).

Seperti yg Michael B. Schub tulis dalam karyanya “True Belief – a New Translation and Commentary on Sura 112”, Zal, 22 (1990), hal 81:

“ahadun: aturan dari bahasa Arabiyya (yakni Arab klasik) memerlukan wahidun disini.”

Lihat bagaimana kata yg artinya satu ini , wahid, digunakan dalam teks berikut dalam hubungannya dg keesaan tuhan:

Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa (ilahan wahidan) dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” Surat 2:133

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa (Wa-ilahukum ilahun wahidun); tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Surat 2:163

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa (Allahu ilahun wahidun), Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. Surat 4:171

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa (wama min ilahin illa ilahun wahidun). Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Surat 5:73

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa (qul la ashhadu qul innama huwa ilahun wahidun) dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”. Surat 6:19

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja (ilahan wahidan)? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Surat 38:5

Sangat menarik utk dicatat bahwa diluar dari Surat 112:1, ahad tidak pernah digunakan dalam hubungannya dg keesaan Allah. Kata yg selalu digunakan utk mengatakan keesaan Alalh adalah wahid.

Lebih jauh lagi, analisa statistik dari Quran menunjukkan betulnya maksud dari Al Araby. Setiap pemunculan dari kata ahad menunjukan bahwa kata itu berarti “one of,” atau berhubungan dg anggota dari satu kelompok. Hal itu tidak digunakan untuk yg berarti satu atau sendiri:

Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka (ahaduhum) ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Surat 2:96

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun (ahadin) kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Surat 2:102

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun (ahadin) di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. Surat 2.136

Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (ahadin) (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Surat 2:285

Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang (ahadun) seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”; Surat 3.73

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun (ahadin) di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” Surat 3:84

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun (ahadin), sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Surat 3:153

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun (ahadin) di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Surat 4:152

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau salah seorang (ahadun) darimu kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Surat 4:43

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang (ahadun) darimu kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. Surat 5:6

Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (ahadin) (di dunia ini) sebelummu?” Surat 7:80

Dan jika seorang di antara orang-orang (ahadun) musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. Surat 9:6

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang (ahadin) yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. Surat 9:84

Dan apabila diturunkan satu surat sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang (ahadin) dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. Surat 9:127

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang (ahadun) di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. Surat 11:81

Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun (ahadun) di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu”. Surat 15:65

Dan apabila seseorang (ahaduhum) dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Surat 16:58

Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorang pun (ahadin) dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar? Surat 19:98

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun (ahadin) dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Surat 24:21

Dan (ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (ahadin) dari umat-umat sebelum kamu”. Surat 29:28

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang (ahadin) laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Surat 33:40

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun (ahadin) yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Surat 35:41

Padahal apabila salah seorang (ahaduhum) di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih. Surat 43:17

Maka sekali-kali tidak ada seorang pun (ahadin) dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. Surat 69:47

Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun (ahadun), yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”. Surat 72:22

Maka pada hari itu tiada seorang pun (ahadun) yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada seorang pun (ahadun) yang mengikat seperti ikatan-Nya. Surat 89:25-26

Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun (ahadun) yang berkuasa atasnya? Surat 90:5

Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun (ahadun) yang melihatnya? Surat 90:7

dan tidak ada seorang pun (ahadun) yang setara dengan Dia”. Surat 112:4

Pada masing masing kasus, ahad digunakan utk mengacu pada seseorang dari sekelompok, utk satu anggota dari sekelompok grup tertentu. Tidak ada dari ayat2 diatas menggunakan kata ini utk diartikan sebagai SATU, SENDIRI, TUNGGAL, dll. Berdasarkan analisa statistik kita sulit menghindar dari kesimpulan bahwa tuduhan AL Araby (yg dikutip diatas) adalah benar.

Berdasarkan ini, artinya bahwa Quran berisi kesalahan grammatik/tata bahasa besar yg mempengaruhi apa yg mereka sebut dg MONOTEISME ISLAM!

Bagaimana kesalahan tersebut bisa muncul?

Satu kemungkinan dan bahkan yg paling mungkin, adalah penjelasan atas kenapa Muhammad atau penulis dari Quran, menggunakan kata ahad adalah karena interaksi/hubungannya dg orang yahudi. Muhammad mungkin mendengar kata Shema dari Yahudi, sebuah keyakinan monoteis yg ditemukan dalam kitab Bilangan 6:4, diucapkan dg menggunakan kata echad utk mengacu pada keesaan Yahweh. Ini tulisan dan terjemahan dari kalimat itu:

Shema Yisrael Yahweh Elohenu Yahweh Echad

Hear O Israel, Yahweh Our God Yahweh is One.

Setelah Muhammad mendengar kata echad digunakan lalu ia memutuskan utk mengambilnya dg menggunakan persamaan bahasa arabnya, yaitu ahad. Dia tidak sadar bahwa penggunaan kata ini sangat membahayakan posisi monoteisnya dan pengakuannya bahwa Quran menggunakan tata bahasa yg sempurna.

Kemungkinan lain adalah bahwa Muhammad, sang penulis, mungkin menggunakan kata Ahad agar ber-rima/bersajak dg kata2 berikutnya karena ditulis dalam bentuk puisi. Tapi, dg menggunakan baik itu Al-Wahid maupun Al-Ahad dia tetap bisa menghindari persajakan ini dan tetap cocok rimanya.

Apapun alasannya, kenyataan ini menunjukkan bahwa Quran jauh dari sempurna, bukan sebuah masterpiece, atau puncak dari kefasihan Arab. Kesalahan penggunaan kata dalam teks yg sangat penting yg menjelaskan sifat dari Allah adalah bukti jelas bahwa tuhan bukanlah penulis dari Quran. Quran bukan lain adalah penemuan perkeliruan, tulisan tidak sempurna seseorang yg ingin meyakinkan pembacanya bahwa ini adalah kata2 tuhan. Tapi karena kesalahan tata bahasa yg dasar ini, sang penulis mengkhianati sumber asli dari penemuannya, dan akhirnya menampilkan pesan yg sangat keliru utk orang2 sejamannya atau paling tidak sang penulis memberi senjata bagi mereka utk melawannya. Bukannya meyakinkan orang bahwa ajaran Quran itu berdasar keesaan tuhan dan berasal dari tuhan, kesalahan2 tata bahasa sang penulis memberi musuh cukup bukti utk membuktikan sebaliknya, yakni bahwa Allah kebingungan karena dalam beberapa ayat dia menyatakan dia SENDIRI adalah tuhan sedang tata bahasa dari beberapa ayat tsb menyerukan bahwa sebenarnya ada LEBIH DARI SATU tuhan.

Menariknya, ada hal2 lain yg memperkuat bahwa ahad sebenarnya berarti “ONE OF,” atau paling tidak Allah adalah satu dari yg banyak, dan itu datang dari judul yg diberikan pada bab 112 dari Quran. Kita catat sebelumnya bahwa salah satu babnya diberi nama Surat At-Tauhid. Kata Tauhid, yg oleh muslim diterjemahkan sebagai Kesatuan atau Satu, datang dari sebuah kata yg artinya jamak, bergabung menjadi satu, kesatuan dari beberapa hal atau orang atau zat!

Tauhiyd datang dari kata wahhad yang artinya utk menyatukan. Dalam terminologi Islamic, artinya utk sadar dan mempertahankan kesatuan Allah dalam satu tindakan (kedalam dan keluar). Kata Tauhiyd sebenarnya tidak muncul dalam Quran atau Sunnah meski present tense dari tauhiyd (darimana kata tauhiyd dihasilkan) digunakan dalam Sunnah. Nabi mengirim Muadh ibn Jabal sebagai gubernur Yemen ditahun 9 AH. Dia bilang, “Kau akan pergi ke para ahli kitab, jadi pertama undanglah yuwahhidu Allah (mereka akan pernyataan dari keesaan Allah)”. (The Concept of Tauhiyd in Islam)

Dan:

TAWHEED:

Definisi dan Kategori:

Islam percaya akan Tawheed yg bukan hanya monoteisme, yakin percaya satu tuhan, tapi lebih luas lagi. Tawheed artinya ‘penyatuan’ yakni ‘Pernyataan keesaan’ dan ini dihasilkan dari kata Arab ‘Wahhada’ yg artinya UNTUK MENYATUKAN, MEMPERSATUKAN atau MENGGABUNGKAN. (Sumber yg sama dg atas)

Dg begitu, kata yg digunakan utk menjelaskan bab ini, dan yg umumnya digunakan muslim utk menyebutkan kesatuan Allah, berasal dari sebuah kata yg sebenarnya mengacu pada bentuk jamak yg disatukan utk membentuk sebuah kesatuan!

Diakui, judul Surat “At-Tauhid” bukanlah bagian dari teks asli, tapi diberikan kemudian oleh para muslim. Tetapi, cocok dg teksnya dg cara yg tentunya tidak dimaksudkan demikian oleh mereka yg memilih judul ini.

Yg manapun, muslim ada dalam dilema. Karena data menunjukkan bahwa arti sebenarnya dari Surat 112 adalah “Allah is one of,” pertanyaan yg muncul adalah “one of” apa? Satu dari apa? Apa satu dari banyak tuhan? Tapi ini mesti menjadi pertentangan dg teks lain dari Quran yg mengatakan tidak ada allah lain. Apa dia satu dari banyak zat tuhan yg bergabung utk membentuk kesatuan (yakni arti sebenarnya dari kata asli dari Tauhid)? Tapi ini lagi2 menyatakan bahwa aslinya ada lebih dari satu tuhan dan dg demikian bertentangan dg referensi Quran lainnya.

Sangat menarik jika diingat bahwa kaum pagan menuduh Muhammad melakukan persis yg seperti ini, yaitu tuduhan membuat semua tuhan menjadi satu tuhan:

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Surat 38:5

Atau apa dia itu makhluk2 tuhan yg selalu ada bersamaan sebagai satu Tuhan? (kenapa Quran sering memakai kata KAMI, KITA selain AKU, DIA dll?) Dg kata lain, bukanlah bersatunya tuhan2 yg berbeda, tapi adanya beberapa orang yg penting yg selalu bertindak sebagai TUHAN. Jika ini arti sebenarnya, maka kita harus melengkapkan teks tsb dg membawa point ini lebih jelas. Ini salah satu cara:

“Say: He is Allah, one of many who have always existed as God.”

“Katakanlah: Dia adalah Allah, satu dari banyak yg selalu hadir sebagai tuhan.”

Ini akan cocok dg apa yg dikatakan bab itu seluruhnya. Kita kutip lagi Surat tsb, kali ini dg memasukan bacaan terjemahan diatas:

Sura 112:
Say: He is Allah, one (of many others who are) Allah, the Eternal, Absolute (since he exists as a plurality of divine Persons which makes him completely self-sufficient); He begetteth not, nor is He begotten (since these divine Persons have always existed and therefore did not come into being); And there is none like unto Him (since there are no other beings that exist as a plurality of persons in one).

Surat 112
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Satu (dari banyaknya mereka), Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (karena makhluk2 gaib ini selalu ada dan dg begitu tidak menjadi sesuatu), dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (tidak ada makhluk2 lain lagi ada telah menjadi satu)”.

Parafrase kita tidak Cuma didukung atau berdasarkan pada penggunaan ahad saja. Kita punya dukungan2 dari ayat2 Quran lain yg mengacu banyaknya makhluk allah, lebih dari satu orang atau zad yg semuanya mempunyai atribut allah. Utk bukti2 tsb silahkan baca:

http://answering-islam.org/Shamoun/gabriel.htm
http://answering-islam.org/Responses/Sa … /t5_73.htm
http://answering-islam.org/Responses/Osama/spirit1.htm
http://answering-islam.org/Responses/Osama/spirit2.htm

Karena roh tidak sama dg Allah, yakni dia bilang Rohnya atau Roh dari Allah mengisyaratkan perbedaan, ini berarti bahwa baik itu ada banyak dari satu tuhan atau bahwa satu tuhan itu ada sebagai gabungan dari banyak makhluk gaib atau non-fisik. Arti yg manapun tetap menjadi pertanyaan bagi islamik2 ortodok mengenai Keesaan Allah.

Hal2 diatas mungkin memberi kesan bahwa kita mencoba mengeluarkan sesuatu seperti doktrinnya kristen (trinitas) dari Quran. Tidak sama sekali!! Quran menampilkan sebuah tuhan yg sangat2 berbeda dg tuhannya Bible. Keduanya sama sekali tidak sama. Meski demikian, Quran jauh dari monoteis yg seperti orang2 muslim nyatakan dan tafsir2 yg mereka ingin kita percaya. Dalam tulisan ini, kita Cuma menunjukkan bahwa Quran tidak konsisten dalam pesan2nya. Dengan mengambil teks dan formulasinya sebagaimana adanya, tanpa membuatnya menjadi subjek yang dibebani teori prasangka akan monoteismenya, QURAN MENUJU PADA KEBINGUNGAN AKAN SIFAT ALLAHNYA DAN JELAS-JELAS BUKANLAH WAHYU DARI TUHAN.