BuktidanSaksi.com – Bagaimana mungkin Allah yang Maha Tahu tidak mengetahui bahwa nabinya telah ditipu? Mengapa Dia tidak langsung mengkoreksi nabi-Nya? Fakta bahwa kabar perkataan nabi sampai ke Abisinia dan para imigran pulang kembali memberitahu kita bahwa kasus penipuan ini mungkin berlangsung selama berbulan-bulan. Apakah Allah sedang tidur, atau setan menipu-Nya juga? Anggaplah Allah sedang teralih perhatiannya, dan Jibril itu tolol, bagaimana mungkin Muhammad tidak menyadari bahwa ayat-ayat ini mengkontradiksi semua hal yang telah ia ajarkan sejauh ini? Apakah ia sedemikan bodohnya sehingga tidak menyadari bahwa memuji-muji dewa-dewa lainnya menentang ajarannya yang dianggap menganut faham monoteisme?

Patung berhala Al Lah – Sang Dewa Bulan bangsa Arab pra-Islam. Perhatikan tanda bulan sabit di dadanya

Di Mekah Muhammad telah menyebarkan Islam selama hampir tujuh tahun, dan dengan pengecualian beberapa orang, semua pengikutnya adalah anak-anak muda atau budak. Permusuhan semakin marak dan ia dikucilkan oleh warga Mekkah. Masyarakat marah kepadanya, bukan saja karena ia menghina dewa mereka, tetapi juga karena ia membujuk anak-anak mereka dan memisahkan mereka dari keluarga mereka.

          Muhammad berpikir mungkin perubahan strategi akan membuat orang Quraisy menerima dia. Narasi Ibn Ishaq mengatakan bahwa ia pergi ke mesjid dimana orang banyak berkumpul dan membacakan ayat-ayat berikut.

“Demi bintang ketika terbenam,  kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (53:1-4)  “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)” (53:19-20) Mereka adalah Gharaniq yang dimuliakan [1] yang syafaatnya diterima.”[2]

          Ketika orang Quraisy mendengarnya, mereka merasa gembira dan sangat senang dengan cara ia berbicara tentang dewa-dewa mereka dan mereka mendengarkan dia.[3]

          Setelah membacakan ini, Muhammad bersujud dan pengikutnya bersujud. Warga Mekkah yang mendengar nama dewa-dewa mereka disebut juga bersujud. Kaum Quraisy berpikir bahwa penerimaan Muhammad terhadap dewa-dewa mereka akan mengakhiri permusuhan dan barangkali mereka bisa bersatu kembali dengan kerabat terkasih mereka.

          Berita tersebut sampai kepada warga Muslim di Abysinia yang juga merasa sangat gembira dan banyak yang pulang kembali ke Mekkah. Konsesi tersebut mengakhiri permusuhan, tetapi orang Quraisy tidak berbondong-bondong berpindah ke agamanya seperti yang diharapkan dan diperkirakan Muhammad. Sekarang Muhammad mendapati dirinya dalam situasi yang sulit. Langkah yang ia ambil tidak terbayar. Bukan hanya warga Mekkah tidak pindah ke agamanya, dengan mengakui dewa-dewa mereka ia telah membuat agamanya jadi tak terbedakan dengan agama mereka, sehingga menjadikan dirinya tidak ada artinya.

          Ia ingin dikenal sebagai seorang nabi. Jika ia tidak disukai, lebih baik ia ditakuti daripada diabaikan. Setelah gagal memenangkan orang Quraisy sebagai pengikutnya, ia harus menyulut kebencian mereka kembali. Untuk itu ia harus menarik kembali apa yang telah ia katakan tentang anak-anak perempuan Allah. Tetapi bagaimana caranya! Ia telah mengatakan bahwa ayat-ayat itu diwahyukan oleh Allah. Ia tidak bisa mengatakan bahwa Allah telah melakukan kesalahan. Ini adalah kasus yang sulit. Untung baginya, pengikutnya sangat mudah ditipu. Mereka menerima bulat-bulat semua yang ia katakan.

          Ia mengklaim, karena penolakan orang Quraisy sangat menyakiti dia, ia menjadi kuatir akan kesejahteraan dan berharap bisa menarik mereka sekuat yang ia mampu, karena kasihnya kepada mereka [orang-orang yang diancam hendak ia bantai], ia merindukan wahyu yang bisa mendamaikan dirinya dengan mereka. Ia berharap dan berdoa agar rintangan yang membuat tugasnya demikian berat bisa diangkat dan merenungkan caranya dan merindukannya. Katanya ketika setan mengetahui keinginannya, ia menunggu kesempatan dan saat Allah menurunkan Sura an-Najm dan saat tiba pada kalimat ““Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” Setan meletakkan kalimat berikut di atas lidahnya “Mereka adalah Gharaniq yang dimuliakan yang syafaatnya diterima.”

          Catat bahwa al Kalbi mengutip ayat-ayat ini dalam Book of Idols karangannya sebagai apa yang biasa dibacakan oleh kaum Quraisy saat mengelilingi Ka’bah. Muhammad mengatakan bahwa ia tidak sadar bahwa ia telah dibohongi oleh setan hingga Jibril muncul dan berkata kepadanya, “Apa yang telah engkau lakukan, Muhammad? Engkau telah membacakan bagi orang-orang ini hal yang tidak aku bawakan dari Allah dan engkau telah mengatakan hal yang tidak dikatakanNya kepadamu.”[4]

          Ia lalu memberitahu pengikutnya bahwa ia menjadi amat sangat sedih dan sangat ketakutan terhadap Allah. Tetapi Allah, karena kasihNya yang begitu besar bagi dirinya, menurunkan wahyu untuk menghibur nabiNya dan tidak membesar-besarkan masalah itu. Dia mengatakan kepada Muhammad untuk tidak bersedih maupun khawatir tentang apa yang terjadi karena, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs 22:52)

Prasasti Al Lah bersama ketiga puteri-puterinya, Al Lat, Al Uzza dan Manat

          Ayat-ayat baru yang menggantikan  ayat-ayat setan adalah ,“Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil”.Dengan kata lain tidaklah adil untuk mengatakan bahwa Allah memiliki anak-anak perempuan sementara kebanyakan orang membangga-banggakan bila memiliki anak laki-laki.

          Penjelasan Ibn Kathir, “Allah bertanya kepada para penyembah berhala, ‘engkau memilih keturunan wanita bagi Allah dan lebih mengutamakan dirimu dengan keturunan laki-laki. Jika engkau membuat pemisahan ini di antara dirimu dan ciptaan lainnya, itu akan terjadi. (Pemisahan yang sungguh tidak adil!) artinya, itu akan menjadi pemisahan yang tidak adil dan tidak bijaksana. ‘Bagaimana mungkin engkau membuat pemisahan seperti ini antara engkau dan Allah,  padahal ini akan menjadi pemisahan yang tidak adil dan konyol jika kamu lakukan itu terhadap dirimu dan sesamamu?”

          Ada keadilan yang wajar atas misogini (kebencian terhadap wanita) Muhammad. Kedua anak laki-lakinya meninggal saat masih bayi dan hanya menyisakan empat anak perempuan baginya. Kita bisa bayangkan bagaimana ia merasa malu dan diperlakukan tidak adil akibat “pemisahan yang tidak adil dan tidak bijaksana” tersebut.

          Kisah ini sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa Muhammad mengarang-ngarang wahyu-wahyunya. Ia mengklaim bahwa ia ditipu oleh setan dan Allah mengkonfirmasi klaim itu. Tetapi ayat 2 dari Sura yang sama, di mana kasus penipuan tersebut sedang terjadi meyakinkan para Muslim, “kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru”. Ayat mana yang benar? Sebenarnya Muhammad tertipu atau tidak? Jika ia tertipu maka ayat 53:2 itu salah dan jika ia tidak tertipu maka ayat 22:52 yang salah. Tidak ada kontradiksi yang lebih jelas lagi dari ini. Kedua ayat ini saling terpisah satu sama lain.

          Masih ada masalah lain dalam cerita ini. Bagaimana mungkin Allah yang Maha Tahu tidak mengetahui bahwa nabinya telah ditipu? Mengapa Dia tidak langsung mengkoreksi nabi-Nya? Fakta bahwa kabar perkataan nabi sampai ke Abisinia dan para imigran pulang kembali memberitahu kita bahwa kasus penipuan ini mungkin berlangsung selama berbulan-bulan. Apakah Allah sedang tidur, atau setan menipu-Nya juga?

          Alasan yang diberikan tidak masuk akal sama sekali. Mustahil setan dapat menyuntikkan sepatah katapun saat Jibril sedang berdiri di dekat situ, sambil mendikte bagi Muhammad. Kita juga tahu bahwa Jibril biasanya meminta Nabi untuk mengulangi wahyunya, untuk meyakinkan bahwa Muhammad sudah menghafal dengan benar.

          Anggaplah Allah sedang teralih perhatiannya, dan Jibril itu tolol, bagaimana mungkin Muhammad tidak menyadari bahwa ayat-ayat ini mengkontradiksi semua hal yang telah ia ajarkan sejauh ini? Apakah ia sedemikan bodohnya sehingga tidak menyadari bahwa memuji-muji dewa-dewa lainnya menentang ajarannya yang dianggap menganut faham monoteisme?

          Ibn Ishaq mengatakan bahwa “para umat percaya bahwa apa yang disampaikan oleh nabi mereka dari Allah mereka adalah benar, tidak pernah mencurigai adanya kesalahan atau keinginan yang sia-sia atau ada yang luput.”[5] Hal ini memberitahu kita tentang tingkat intelektual kaum Muslim mula-mula. Mereka adalah sekelompok orang bebal, yang nyaris tidak mampu berpikir rasional.

          Di Sura 22:52, Allah menghibur Muhammad dan menyuruhnya untuk tidak bersedih sebab semua nabi pernah ditipu oleh setan. Tetapi tidak pernah ada pengakuan seperti ini di dalam Alkitab. Tidak satupun nabi di dalam Alkitab yang dilaporkan pernah ditipu oleh setan, kemudian meneruskan ayat-ayat setan itu kepada orang banyak.

[1] Gharanic katanya berarti “bangau Numidian” yang  bisa terbang sangat tinggi.

[2] Q. 53 Sura an-Najm (bintang)

[3] Ibn Ishaq 165-166

[4] Ibn Ishaq 166

[5] Ibn Ishaq 166