Muhammad tidak ditahbiskan oleh siapapun sebagai Nabi (tapi lalu dianggap jadi ‘nabi’ sejak saat itu). Di gua Hira, tidak ada event pengutusan Allah. Siapa oknum ruh yang sedang berbicaraSiapa yang mengutus ruh tersebut?  Apa hubungan ruh dengan AllahSemua total tanpa keterangandan jati diri!
Malah M
uhammad mengira ruh tersebut “salah satu dari jin” (al-Sirat al-Halabiyah, vol.1 p.377).

Khadijah meyakinkan Muhammad bahwa ia telah menjadi seorang nabi. Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari hal itu wahai Abul Qasim. Allah tidak akan memperlakukan engkau demikian sebab ia tahu tentang kejujuranmu, kau sungguh dapat dipercaya, karaktermu yang baik, dan kebaikanmu. Hal ini tidak mungkin, sayangku. Bersukacitalah, dan berbesar hatilah. Sesungguhnya demi dia yang memegang jiwaku, aku memiliki harapan bahwa engkau akan menjadi nabi bagi orang-orang ini.”[7]

Suatu malam, saat tidur di gua Hira, Muhammad mengalami hal yang aneh. Ia merasakan sakit di bagian rusuknya, seolah-olah seseorang telah menendangnya. Ia terbangun dan tidak melihat siapa pun. Ia mencoba untuk tidur lagi dan kembali merasa seseorang menendang bagian rusuknya, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hal ini terjadi tiga kali, hingga ia melihat sebuah penampakan cahaya putih dan di dalam cahaya itu berdiri sesosok manusia. Kata Rasulullah,  “Ia mendatangiku saat aku tidur, dengan selimut brokat yang di atasnya terdapat tulisan, dan berkata, ‘Baca!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’ Ia membekapku dengan selimut itu untuk ketiga kalinya sampai aku berpikir ini adalah kematian dan ia berkata lagi, ‘Baca!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’ – dan aku mengatakan ini hanya demi menyelamatkan diriku darinya, jangan-jangan ia akan melakukan hal yang sama lagi terhadapku. Ia berkata:

‘Baca dalam nama Allahmu yang menciptakan,

Yang menciptakan manusia dari gumpalan darah,

Baca! Allahmu adalah yang paling dermawan,

Yang mengajar dengan pena,

Mengajarkan apa yang tidak diketahui manusia’”.[1]

 

Sulit untuk dipercaya bahwa Tuhan akan berkomunikasi dengan para nabiNya dengan cara yang lucu seperti ini. Muhammad tertegun. Ia melihat ke kiri dan ke kanan dan kemanapun ia menoleh ia melihat Jibril berdiri di depannya. Itu adalah petunjuk yang jelas bahwa sosok yang ia lihat hanya ada di dalam kepalanya, bukan di luar dirinya. Itu adalah bagian dari imajinasinya. Kita tidak bisa memiliki bukti yang lebih baik lagi bahwa apa yang ia alami adalah halusinasi.

Muhammad berpikir ia telah kerasukan setan, atau kerasukan roh penyair. Untuk alasan tertentu, ia membenci para penyair. Ia berkata, “Lebih baik perut kalian dijejali dengan nanah, daripada menjejali (pikiran seseorang) dengan puisi.”[2] Ia berkata, “Tidak ada makhluk Allah yang lebih membenci aku daripada penyair atau orang kesurupan. Aku bahkan tidak bisa memandang mereka. Aku berpikir, celakalah jika aku ini penyair atau orang yang kesurupan? Orang Quraisy tidak akan pernah mengatakan hal ini kepadaku! Aku akan pergi ke puncak bukit dan menjatuhkan diriku ke bawah supaya aku terbunuh dan dapat beristirahat dengan tenang. Jadi aku berangkat untuk melaksanakannya dan kemudian, saat aku di tengah perjalanan menuju puncak bukit, aku mendengar suara dari langit berkata, ‘O Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril.’ Aku mendongakkan kepalaku ke arah langit untuk melihat (siapa yang berbicara), dan sesungguhnya, Jibril dalam wujud manusia dengan kaki mengangkang di cakrawala berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril.”[3]

Muhammad pulang ke rumah dengan ketakutan dan gemetar. “Aku mendatangi Khadijah dan duduk di pangkuannya dan merapatkan diriku padanya.”[4] Ia kemudian menceritakan pengalamannya. “Lindungi aku, lindungi aku,” ia memohon isterinya. Cobalah untuk membayangkan Muhammad, pria berusia empat puluh tahun, duduk di pangkuan Khadijah, seperti seorang balita, dan Khadijah berusaha menenangkannya.

“Puer Aeternus,” kata Sam Vaknin, “remaja abadi, Peter Pan yang abadi, adalah fenomena yang sering dikaitkan dengan narsisme patologis. Orang-orang yang menolak untuk menjadi dewasa memberi kesan kepada orang lain sebagai orang yang egois dan penyendiri, suka merajuk dan bandel, congkak dan penuntut – singkatnya: seperti anak kecil atau kekanak-kanakan. Orang narsisistik adalah orang dewasa parsial. Ia berusaha menghindari kedewasaan. Beberapa narsisis bahkan kadang-kadang menggunakan nada suara kekanak-kanakan dan meniru bahasa tubuh balita. Mereka menolak atau menghindari tugas-tugas dan fungsi orang dewasa. Mereka tidak mau berusaha menguasai ketrampilan orang dewasa atau pendidikan formal orang dewasa. Mereka melemparkan tanggungjawab orang dewasa kepada orang lain, termasuk dan khususnya kepada orang-orang terdekat dan terkasih mereka. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak pernah menikah, tidak pernah membesarkan anak-anak, menyembunyikan asal-usul, tidak memelihara persahabatan yang sejati atau hubungan yang bermakna.”[5]

Semua ini cocok dengan Muhammad, kecuali bahwa ia menikah, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Tetapi apakah itu benar-benar pernikahan? Hubungannya dengan Khadijah adalah hubungan ibu dan anak. Ia tidak pernah berfungsi sebagai seorang pria – seorang pencari nafkah, seorang pelindung. Ia tidak pernah memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami atau ayah. Ia bukan anggota masyarakat yang aktif. Ia tinggal sebagai seorang penyendiri di gua. Dan setelah Khadijah wafat, ia menjadi kumbang seksual, menikahi atau hanya bersetubuh dengan sejumlah wanita, tanpa ikatan pernikahan yang sebenarnya dengan mereka. Bagaimana seorang pria berusia limapuluhan bisa menciptakan hubungan pernikahan yang berarti dengan wanita yang seharusnya menjadi anaknya atau bahkan cucunya? Tak satupun hubungan Muhammad yang sesuai dengan definisi pernikahan, yang merupakan kemitraan dari dua orang yang sepadan. Para isteri dan gundiknya hanyalah sekedar objek untuk dinikmati, mainan untuk dimainkan atau sebagaimana ditekankan oleh orang Muslim, sebagai pion dalam langkah politiknya.

Ketika Muhammad memberitahu Khadijah, “Khadijah, aku pikir aku telah menjadi gila,”[6] instingnya untuk melindungi si narsisis yang sedang membutuhkan langsung tergerak. Seorang yang menderita ‘inverted narcissism’ bergantung kepada pendamping narsisisnya untuk memenuhi kebutuhan narsistiknya. Ia mengupayakan kehebatannya dalam bayangan pendamping narsisisnya. Khadijah dihadapkan kepada dua pilihan: Mengakui bahwa pendamping narsisisnya telah menjadi gila dan menghadapi ejekan orang-orang yang mencemooh dirinya ketika ia menikah dengan Muhammad atau mendukung halusinasinya dan mendorongnya untuk merintis karir kenabian. Pilihan pertama berarti dipermalukan di depan publik dan pilihan kedua berarti kemuliaan. Pilihan yang sangat jelas baginya. Inverted narcissism adalah kebalikan dari narsisis. Pegangannya terhadap realita sama rapuhnya dengan orang yang narsisis.

Jika Khadijah adalah wanita normal, ia tentu akan terkejut dan akan meminta bantuan. Ia tentu akan memanggil pengusir setan atau tabib untuk menyembuhkan suaminya. Sesungguhnya jika ia memang normal ia tidak akan pernah menikahi Muhammad. Tetapi sebagai penderita ‘inverted narcissism’,Khadijah meyakinkan Muhammad bahwa ia telah menjadi seorang nabi. Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari hal itu wahai Abul Qasim. Allah tidak akan memperlakukan engkau demikian sebab ia tahu tentang kejujuranmu, kau sungguh dapat dipercaya, karaktermu yang baik, dan kebaikanmu. Hal ini tidak mungkin, sayangku. Bersukacitalah, dan berbesar hatilah. Sesungguhnya demi dia yang memegang jiwaku, aku memiliki harapan bahwa engkau akan menjadi nabi bagi orang-orang ini.”[7]

Hadis mengatakan bahwa Khadijah berangkat menemui sepupu tuanya Waraqa ibn Naufal yang telah menjadi Kristen. Ia memberitahu sepupunya apa yang telah terjadi kepada suaminya dan sepupunya meyakinkan dirinya bahwa Muhammad telah menerima wahyu yang sama yang diterima oleh Musa dan Yesus. Kebetulan sekali, Waraqa meninggal tidak lama setelah menyatakan Muhammad sebagai nabi Tuhan sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menyanggah apa yang diklaim oleh Muhammad dan Khadijah. Namun, ada sesuatu dalam cerita itu yang membuatnya janggal. Dikatakan bahwa Waraqa mengenali Muhammad sebagai nabi karena pengetahuannya akan kitab-kitab suci. Hal ini tidak benar. Tidak ada dalam kitab suci Yahudi maupun Kristen yang mengisyaratkan tentang akan datangnya seorang nabi dari Arabia.

Ceritanya berlanjut dengan mengatakan bahwa Waraqa meramalkan Muhammad akan ditolak dan diusir oleh kaumnya. Apakah Waraqa seorang cenayang? Bagaimana ia bisa mengetahui hal-hal ini? Hadis ini, jika bukan buatan Muhammad tentunya merupakan karangan bertahun-tahun kemudian.

 

[1]Ibn Ishaq. 105 , Quran sura al Alaq 96:1-5

[2]Bukhari 8:73:175 dan Muslim 28:5609

[3]Ibn Ishaq. 106

[4]Ibn Ishaq. 106

[5]samvak.tripod.com/narcissistinfantile.html

[6]Tabari v. 3, h. 849

[7]Ibn Ishaq. 107