Terorisme Islam
Bersama dengan sejumlah asisten peneliti, ahli linguistik berkebangsaan Denmark, Tina Magaard menghabiskan waktu tiga tahun untuk meneliti teks-teks yang berasal dari 10 agama terbesar di dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi apakah agama-agama tersebut mendorong tindak kekerasan.

Kesimpulannya sangat jelas : “Teks-teks agama Islam sangat berbeda dengan teks agama lain karena dalam tingkatan tertentu, menyerukan kekerasan dan sikap agresif terhadap pengikut agama lain. Terdapat juga dorongan langsung untuk melakukan teror ….. Lebih jauh lagi, di dalam Qur’an terdapat ratusan dorongan untuk melawan orang yang memiliki kepercayaan lain.”

Ayat-ayatnya sangat jelas dan tanpa menghilangkan konteksnya. Salah satu ayat yang berhubungan dengan non-Muslim adalah : “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir, maka pancunglah batang leher mereka” (QS 47:7).

Praktek Kekerasan

Islam bukan saja merupakan agama yang paling banyak dipenuhi kekerasan dalam teksnya. Sebuah studi mendalam yang didasarkan pada wawancara 45.000 subjek wawancara juga menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang paling banyak mempraktekkan kekerasan.

Studi tersebut menunjukkan bahwa Islam merupakan satu-satunya agama di dunia di mana pengikutnya menjadi semakin dipenuhi kekerasan ketika kepercayaan mereka terhadap agamanya semakin mendalam.

Teror

Tampaknya fakta bahwa Islam merupakan agama yang paling dipenuhi kekerasan merupakan alasan mengapa sejak 11 September 2011 kaum Muslim telah melancarkan lebih dari 27.000 serangan teror mematikan atas nama Islam. Hal ini setara dengan 2.000 serangan per tahun, atau 5 serangan per hari.

Fakta lain adalah bahwa jumlah Muslim di dunia Barat semakin meningkat secara dramatis dan mereka semakin religius: 75% Muslim di Eropa berpikir bahwa teks-teks dari agama yang dipenuhi kekerasan tersebut harus diterima mentah-mentah.

Barangkali hal inilah yang menyebabkan 80% orang Turki di Belanda melihat bahwa “tidak ada yang salah” dengan jihad melawan non-Muslim. 27% anak muda Perancis dan 14% anak muda Inggris di bawah 25 tahun bersimpati dengan teror genosida yang dilakukan Islamic State. Kemungkinan besar angka ini mencakup sebagian besar anak muda Muslim yang terdapat di kedua negara.

Eropa akan menghadapi tantangan terbesarnya.

Sumber: jihadwatch.org