alkitab-baca“Alasan utama kenapa Muslim mengakui terjadinya korupsi pada ayat-ayat Alkitab, adalah karena karena mereka tidak punya pilihan lainnya lagi. [Tidak bisa suruh bakar dll]. Quran yang telah memuji dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, nyatanya berkontradiksi dengan banyak detil-detil dari Alkitab sehingga tak mungkin lagi dikatakan keduanya bersumber dari Tuhan Sejati yang sama…. Muslim diletakkan pada dilema yang amat merikuhkan, dan salah satu jalan yang paling gampang untuk keluar dari belitan dilema ini adalah melemparkan tuduhan bahwa Alkitab telah “terkorupsi secara literal”.

By Ram Kampas (PART-1)

Pernahkah Anda memperhatikan betapa reaksi teman-teman Muslim terhadap Alkitab, apabila Kitab itu disodorkan pertama kalinya kehadapan mereka? Begitu tahu bahwa itu adalah Injil atau Alkitab Kristiani, Muslim entah kenapa tiba-tiba berubah bahasa tubuhnya. Menjadi siaga, sepertinya ia melihat sesuatu yang haram dipegang atau malahan merasakan semacam was-was, curiga atau rasa ketakutan.

Ini bukan apa yang saya saksikan sendiri beberapa kali, melainkan juga mendengar dan membacanya dari puluhan berita, kesaksian, buku dan artikel-artikel Islamik dimana para ulama telah berseru kepada umat Muslim untuk menjauhi Alkitab dan Injil orang Kristen. Lihat saja bagaimana Profesor Doktor Hasbullah Bakry dalam bukunya yang pernah best seller, melarang kaum Muslim (yang umumnya dianggap awam) membacanya: “…bagi orang awam yang tidak mengetahui ilmu perbandingan agama, dilarang membacanya (Kitab Injil) sebab dikhawatirkan turut sesat” (p.27, Isa dalam Quran, Muhammad dalam Bible). Baca pula pelbagai kesaksian dari pemurtad Islam yang dulunya dilarang oleh Ustadz mereka untuk membaca Taurat dan Injil. Kisah terkini juga dapat dilihat pada “Himbauan Untuk Melarang Alkitab Di Bawah Hukum Penghujatan Pakistan”, yang umumnya menganggap Alkitab itu sesat dan juga dituduh porno!

Mereka mendalilkan Adam dan Hawa antara lain mengenakan cawat dari daun ara, Nuh yang dikisahkan telanjang, Yesus menghentikan pelaksanaan rajam batu terhadap perempuan yang kedapatan berzina …  Semua ini sangat sulit diterima oleh para wakil Muslim di Parlemen Pakistan yang diwakili oleh Partai Jamiat Ulema-e-Islam. Mereka memandang kisah-kisah seperti itu sebagai penghinaan terhadap tokoh-tokoh Kitab Suci yang mereka klaim sebagai para nabi suci mereka. Dan itu juga dianggap sebagai penghinaan terhadap Islam di bawah hukum-hukum penghujatan Pakistan yang terkenal itu.

APA MASALAHNYA?

Tentu lucu dan membodohi umat bila ada pemimpin agama melarang 100 juta umatnya di Indonesia untuk membaca Alkitab/Injil “The Ever World Best Seller Book” tahun demi tahun sejak awal abad Masehi hingga kini pun! Dewasa ini Buku Ajaib dan bagian-bagiannya ini telah diterjemahkan kedalam 3223 bahasa/dialek dunia, diantaranya terdapat 1442 bahasa untuk Perjanjian Baru termasuk Injil. Ratusan milyar manusia dunia (!) telah membaca buku ini – atau membacakannya bagi orang lain– disepanjang hidupnya. Dan ada jutaan sekolah telah mengajarkan buku tersebut kepada anak didiknya! Dan semuanya selalu menemukan keluhuran ajarannya yang superlatif yang mampu memperbaharui hidup umat manusia dari masa kemasa. Tak ada yang menuduh kitab moral tertinggi itu sebagai porno ataupun sesat, kecuali sejumlah Ulama Islam itulah yang datang belakangan untuk menakut-nakuti umatnya agar jangan sampai memegang atau membaca “kitab orang kafir”. Yaitu Alkitab/Injil, yang dikatakannya sebagai korup dan palsu, tak asli lagi, kitab bidat yang menyesatkan dan tak layak jadi kitab suci.

Sayangnya itu hanya suara para ulama yang berseberangan dengan suara Nabinya. Sebab Quran sendiri justru membenarkan dan menyerukan umat Muslim untuk mengimani pula kitab-kitab Taurat dan Injil, bukan sekali melainkan berpuluh kali dalam ayat-ayat Allah yang kekal, (Surat 2:41, 89, 91, 101, 136; 3:3; 4:136; 5: 43, 44,46,47,48,68; 6:92;10:73, 94; 29:46; 32:23; 35:31; 46:30; 43:4; dll).

Bahkan diakui Quran bahwa pengikut-pengikut Yesus mampu ditransformasikan hatinya kedalam hidup yang lebih unggul dan konsisten diatas orang kafir hingga hari kiamat (3:55) karena ahlak yang ditanamkan itu tidak sombong (melainkan rasa santun dan kasih sayang) (5:82). Dan oleh karenanya justru diberi rejeki upah yang tidak diberikan kepada Muslim umumnya: Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan apa-apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka” (QS.5:66).

Jangan terkecoh penampilan pidato agama! Sebenarnyalah, Ulama yang melarang-larang umatnya membaca Alkitab adalah ulama rendahanyang belum cukup serapan ilmu agamanya, baik terhadap KItab-kitab Islam, apalagi terhadap keseluruhan Alkitab. Imam Syafii berkata:“Pendapat kita benar, tetapi ada kemungkinan salah. Pendapat mereka salah, tetapi masih ada kemungkinan benar”

Kita bertanya kepada Ulama2 ini: “ATAS OTORITAS SIAPA KALIAN MELARANG UMAT ISLAM MEMBACA ALKITAB/ INJIL?” Kenapa larangan kalian tidak disertai dengan ayat2 dimana Nabi dan Allah juga telah melarangnya dalam wahyu yang muhkhamat? Dimanapun, Nabi hanya mewanti-wanti tentang perilaku para Ahli Kitab yang menyelewengkan ayat-ayat Alkitab, bukan mempermasalahkan KITABNYA sendiri. Tepatnya, Muhammad diabad ke-7 hanya menegur para “Ahli-Kitab”yang ada di Medina Arab yang dituduh menyelewengkan bacaan atau goresan tertentu dari Alkitab asli! Alkitab tidak dituduh. Dan para penyeleweng yang dituduh ini pasti bukan merupakan pihak yangmampu menghancurkan Alkitab dan Injil asli diseluruh dunia dan menggantikannya dengan yang palsu.

Pemahaman para Ulama Islam kacau balau disini, karena tidak tahu sejarah (atau tidak mau tahu) bahwa sebelum Muhammad lahir diabad ke-7, Alkitab dan Injil yang baku sudah dikenal dan tersebar luasdiseluruh Israel-Palestina, Levant (Syria, Lebanon) Asia Tengah, Italia, Yunani, Spanyol-Eropah dan Alexander Afrika utara, Armenia, Georgia, Albania (Azerbaiyan), Mesopotamia, bahkan sampai ke Kerajaan Persia dan India yang diperkenalkan oleh rasul Thomas … Bukankah Konsili Nicea (di Turki) yang terkenal itu sudah tercatat dalam sejarah dan dihadiri oleh sekitar 300-an para bishop dari seluruh Kerajaan Romawi pada tahun 325 M ?  Jadi bagaimana Kitab2 dan Injil2 yang mereka masing2 pegang itu bisa dipalsukan semuanya oleh sejumlah immigrant (diaspora “Ahli Kitab”) ketanah Arabia?

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Benarlah! Alkitab & Injil tidak pernah bermasalah dimata Muhammad. Dan tidak mungkin segelintir Ahli Kitab di Arabia dizaman Muhammad dapat menggantikan SATU AYAT-PUN dari Alkitab Sorgawi untuk umat manusia sedunia!

NOTE: AlKitab Ibrani (Tanakh, Kitab Perjanjian Lama) danPentateukh (Kitab Musa) semuanya telah dibakukan sejak sebelum Masehi. Bahkan Kitab Septuaginta (Kitab Perjanjian Lama Yunani, yang diterjemahkan dari Alkitab Ibrani) sudah diterjemahkan sejak tahun 132 SM. Dan keseluruhan salinan Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang paling tua) telah tersimpan sejak abad ke-4, dan bisa disaksikan dalam Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus, berturut-turut di Perpustakaan Vatican dan di British Musium. Itu adalah referensi-referensi yang shahih dan tidak diubah hingga sekarang.…

Jadi, umat yang pintar harus membaca dari sumbernya yang tidak dicuplik dan dipotong-potong dan di-tafsir2 oleh Ulama yang juga nota-bene tidak paham akan Alkitab, lalu sembarangan mencap-nya sebagai korup dan palsu. Dimana dan bagaimana detail korupnya dan palsunya Alkitab itu justru tak bisa diberikan buktinya oleh Ulama. Dan ini akan kita perlihatkan bersama sebentar lagi.  Iklan bisa berkata, “Orang Pintar minum Tolak Angin”. Tetapi pemuliaan Kitab yang satu ini –seperti yang telah dimuliakan ratusan milliard manusia—jelas bukanlah iklan. Itu fakta yang perlu pula diminum oleh orang2 Muslim yang tidak asal masa-bodo menumpulkan naluri kritisnya sehingga lebih memilih percaya iklan ketimbang fakta?

Mari, kita orang2 pintar yang tidak buta huruf mulai beranikan diri untuk mengatasi “ketakutan” kita terhadap momok Alkitab dan Injil. Muhammad saja tidak takut untuk membaca Alkitab, Taurat dan Injil, seandainya beliau tidak buta huruf. Namun beliau paling tidak sudah membuktikan bahwa Alkitab itu harus berani dibacakan oleh orang2 yang benar: “Katakanlah… bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar.” (QS.3:93). Jadi, Andakah orang-orang yang benar yang berhikmat?

Apa makna sejatinya dari ayat ini? Ia bukan hanya sekedar memerintahkan Muslim dan siapa saja untuk berani membaca Taurat, tetapi juga sekaligus menunjukkan bahwa Alkitab yang asli itu ada (exist) dizaman Muhammad. Kitab tersebut itu BENAR, TIDAK KORUP, TIDAK PALSU ATAU TERHILANG seperti yang dituduhkan Ulama tanpa bukti! Bahkan lebih dari sekedar membenarkan Alkitab dan menyerukan umatNya untuk mengimaninya, Allah JUGA TELAH memerintahkan Nabi secara khusus untuk pergi berkonsultasi/menanyakan kepada Ahli Kitab tentang setiap wahyu yang Nabi ragu-ragukan atasnya.

Dan bilamana perintah penting itu dilalaikan, maka Allah akan menetapkan sangsiNya: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya” (dalam QS 10:94 dan QS.5:67).

Bila Allah dari mulutNya sendiri sampai memberi nama khusus kepada mereka “Ahli Kitab” (ahlu’l kitab), pastilah mereka bukan merupakan pembaca Kitab-kitab yang palsu. Bukan “Orang-orang dari Kitab yang palsu” sebagaimana yang sering diajarkan para ulama. Melainkan nama yang mencerminkan pemahaman mereka akan kitab-kitab wahyu Allah, walaupun ada sebagiannya munafik yang memplintir-kannya secara verbal. Ini secara implikatif turut pula menegaskan bahwa Kitab yang dimaksud adalah asli dan bukan abal-abal!

Itu sebabnya, Allah secara dahsyat juga mendorong Ahli Kitab untukperlukan diri membaca dan memeriksa Alkitab itu sendiri,

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS.5:68).

Tidakkah Muslim –yang diharapkan menjadi contoh teladan bagi yang kafir– harus didorong dengan cara yang LEBIH daripada itu?

APAKAH CUKUP QURAN SAJA YANG MENUNTUN UMAT ALLAH?

Para Ulama secara heroic akan menjawab bahwa Quran sendiri bukan saja cukup untuk menuntun umat mendapatkan keselamatan kekal, tetapi juga mengandung mukjizat yang sangat cukup untuk menjadi pengukur segala kebenaran. Dikatakan bahwa Quran adalah satu2nya Kitab yang bertahan mengatasi segala peneropongan mikroskopis danteleskopis sekaligus. Bukankah Al-Quran itu Kitabim Maknun danKitabim Mubiin, Kitab Surga yang maha terjaga, sempurna tanpa ada sesuatu yang teralpakan? (QS.56:78, 27:75, 10:61).

Namun bilamana begitu hebatnya daya tahan Kitab Surga, kenapa kalian Ulama was-was dan takut menghadapkannya vis-à-vis dengan kitab palsu dunia yang kalian tuduhkan, yaitu Alkitab dan Injil? Dan bila Quran self-sufficient dalam dirinya, bagaimana Muslim bisa diyakinkan tentang siapa itu sesungguhnya Muhammad? Bagaimana wahyu diturunkan? Dimanakah otoritas Quran dalam relasi TRIO: Allah dan Jibril dan Muhammad? Bagaimana harusnya mereka beribadah dan hidup keagamaan?

By definition, kitab yang terserak acak, tersisip-sisip dengan ayat2 susulan (menurut penetetapan tauqifi Nabi yang ummi??), dan kacau dengan anti-kronologi dan nasikh-mansukh (batal membatal ayat) seperti natur Quran ini, tidaklah mungkin ia mampu mencukupi dalam menjelaskan dirinya secara lurus! Apakah kita mengada-ada Quran yang kacau-balau itu? Justru itulah yang diakui oleh para ulama Islam, termasuk para ulama penterjejemah Al-Quran Depag.

Sebagai contoh, lihat mukadimah Surat Yunus yang berkata sbb:
“Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk surat-surat Makkiyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada masa Nabi Muhammad saw.berada di Madinah”.
Ini memperlihatkan sisip2an ayat terdahulu (Mekah) oleh ayat2 susulan belakangan hari (Madina) dengan mengorbankan kronologi wahyu asli.

Para Ulama— bahkan siapapun dia termasuk Muhammad sendiri—telah tenggelam dalam misteri yang tak berujung. Mereka membutuhkan penjelasan Hadist dan Sunnah Nabi sebagai kesatuan trilogi, bahkan sungguh juga membutuhkan Alkitab dan pengetahuan para Ahli Kitab dalam menghadapi keraguan terhadap wahyu yang diturunkan:

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. (QS.10:94).

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad), kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS.16:43).

Ini semua tak lain tak bukan karena Quran terkait melekat kedalam kesatuan Alkitab yang semuanya dibenarkan sebagai wahyu Allah, seperti yang tercantum dalam beberapa contoh petikan ini saja,

“Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab  di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah” (QS.43:4).

“Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa (QS.5:46)

“(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran” (QS 9:111).

Katakanlah : “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepadaIbrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS.2:136)

Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS.29:46)

Itu adalah pengakuan dan kepercayaan tegas dari Muhammad dan sahabat2nya diawal-awal sejarah Islam sebelum mengenal Alkitab dan Injil dalam bahasa Arab. Akan tetapi belakangan, tatkala para pengikutnya yang punya akses untuk membaca Alkitab, mereka terkejutmendapati perbedaan wahyu yang ultra mendasar diantara Alkitab/Injil yang sudah baku itu terhadap “wahyu” dalam AlQuran! Kalau dulu memang perbedaan Mushaf2 primer Quran (dari Abu Bakar, Ibn Mas’ud, Ubay, Ali, Aisyah dll) bisa dipatahkan dengan dekrit Khalifah Utsman yang mengharuskan mushaf2 lain dimusnahkan semuanya, dan digantikan dg Mushaf Utsmani secara tunggal (Shahih Bukhari VI, p.479). Namun sekarang pihak Islam tak mungkin berdaya menghilangkan satupun ayat dari Alkitab, apalagi memusnahkan semuanya. Untuk “memusnahkan” seluruhnya, maka dipakailah cara “maling teriak maling” sebagaimana yang dipaparkan dalam buku Anne Cooper yang terkenal,
In the Family of Abraham, p.9 sbb:

“Alasan utama kenapa Muslim mengakui terjadinya korupsi pada ayat2 Alkitab, adalah karena karena mereka tidak punya pilihan lainnya lagi.[Tidak bisa suruh bakar dll]. Quran yang telah memuji dan membenarkan Kitab2 sebelumnya, nyatanya berkontradiksidengan banyak detail2 dari Alkitab sehingga tak mungkin lagi dikatakan keduanya bersumber dari Tuhan Sejati yang sama…. Muslim diletakkan pada dilemma yang amat merikuhkan, dan salah satu jalan yang paling gampang untuk keluar dari belitan dilemma ini adalah melemparkan tuduhan bahwa Alkitab telah “terkorupsi secara literal”.

TUDUHAN BESAR yang dikumandangkan secara serius dan bertubi-tubi selalu bisa menghasilkan TRUST (kepercayaan) tertentu dari prospek-prospek Muslimnya yang tidak kritis, tidak pintar, melainkan yang apatis saja serta-merta menelan “Jamu Tolak Angin Kosong”. Kita tidak sulit menemukan para ulama yang tidak tahu Alkitab, namun antusias menyerukan, “Awas, jangan baca Bible palsu. Akan menyesatkan”. Malah pada tingkat institusi dan negara juga tak jarang melarang rakyatnya untuk membaca Alkitab, atau mengharuskan Alkitab untuk dibakar/dimusnahkan SEBELUM DIHAKIMI APA SALAHNYA! Padahal mereka menjaring angin mencarikan kasusnya dimana Muhammad dan para Sahabatnya pernah menyerukan larangan atau pemusnahan yang sama! Sekali lagi kita ulangi apa yang sebaliknya diserukan bareng oleh Allah maupun Muhammad:
“Katakanlah… bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar.” (QS.3:93)! Andakah orang-orang yang benar?

Tudingan dan  tuduhan bahwa Alkitab itu korup dan palsu baru muncul di abad ke 11, atau 300-400 tahun setelah Muhammad! AKIBAT KETERBUKAAN AKSES MEMBACA ALKITAB yang menyadari bahwa AlQuran kini terancam oleh details Alkitab yang berseberangan dengan Quran.

Kini dengan alasan yang sama – yaitu akibat keterbukaan akses membaca kedua Kitab itu secara berjejeran—maka janganlah salah satunya dimusnahkan, melainkan seyogyanya diserukan balik: “Bawalah Alkitab itu, lalu bacalah dia sebagai orang orang yang benar”.

TANTANGAN: KITAB MANA YANG MULIA, NON-KORUP, DAN BEROTORITAS WAHYU?

 

Kita tidak punya banyak waktu lagi meng-entertain tuduhan dari ulama-ulama picik disini. Sekalipun ada ratusan sanggahan yang bisa mempermalukan para penuduh ini, namun 4 kunci paling pokok yang dipaparkan berikut, akan cukup memberi bukti telak manakah Kitab yang korup dan mana yang non-korup.

  1. APA HUKUM TERBESAR DARI ALQURAN VS. ALKITAB BAGI KEMANUSIAAN?

Taurat dan Injil (yang dibenarkan Quran) jelas-jelas merangkumkan satu ajaran Tuhan yang universal yang sama, yang merupakan sumber moral dan etika yang paling tinggi dan luhur bagi kemanusiaan. Dan pondasi itulah yang dinyatakan baik oleh Musa dalam Taurat, juga dikonfirmasi oleh Yesus dalam Injil sebagai HUKUM YANG PALING UTAMA, yaitu khasanah ayat-emas termulia yang patent, kekal dan tidak berubah, tidak dikorup,

“Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:
kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi“.

( Matius 22:37-40).

Nabi dan malaikat dan oknum manakah yang tidak menyetujui akan ayat emas ini? Siapakah orangnya yang akan berkeberatan terhadap kehadiran ayat luhur ini dalam keasliannya? Tidak mungkin ada pihak-pihak yang tidak setuju akan keaslian dan keutamaan dari ayat ini sehingga mau memalsukan Alkitab dengan jalan menghilangkan Hukum Utama ini. Surat Galatia 5: 23 turut memastikan kepatenan-nya: “Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu “(tentang Kasih).

Akan tetapi, adakah ayat superlatif ini tercantum dalam Quran? Adakah dia juga dijadikan ayat Quran yang terbesar? Untuk keterkejutan kita, ternyata ayat mulia tsb justru terkorup dari Quran! How come? Bagaimana mungkin sebuah hukum dan pondasi dan pillar terbesar dan termulia bagi relasi manusia terhadap Tuhan dan sesama manusia ini bisa TERKOSONG DARI QURAN TANPA KETERANGAN APAPUN? Dari setankah ayat tsb sehingga Quran wajib-kudu mengkoreksikannya dengan cara menghapuskannya sekarang? Siapa yang korup sebenarnya?

  1. SUMBER WAHYU MANA YANG LEBIH OTENTIK DAN BEROTORITAS: ALQURAN VS. ALKITAB?

Karena terbius dengan banyak slogan-slogan kosong, maka banyak Ulama dan Muslim tidak betul-betul sadar bahwa Quran itu bukanwahyu yang bersumber langsung dari Allah SWT kepada Muhammad, melainkan sejatinya hanyalah bersumber dari satu RUH misterius, (yang belakangan setelah hijrah baru bisa dinamakan “Jibril”), yang MENGKLAIM dirinya menurunkan wahyu atas nama Allah SWT. Klaim-besar ini semuanya kosong bukti! Dan Muhammad sendiri tidak pernah mentest atau membuktikan SIAPA oknum ruh yang telah menteror dia digua Hira tahun 610:
Jin, syaitan, atau malaikat sejati dari Tuhan yang sejati? Padahal Muhammad pernah lama bingung & takut sejak ia merasa diteror ruh tsb di gua Hira (bukan salam damai yang seharusnya),dan sempat mengakui pada awalnya bahwaitu adalah ruh jin/ setan (Al-Sirat al-Halabiyah, vol.1, p.377).

Muhammad berkata kepada Khadijah: “Saya takut sesuatu terjadi padaku”.

Dan dalam ketakutannya, Muhammad sampai mencoba bunuh diri berkali-kali (Bukhari 1 no.3, HSB.9.91.no.6982; Sirat p.106). Jadi ruh apa yang berwatak menteror, menakutkan, dan membingungkan sampai mau bunuh diri?

KOSONG BUKTI

Tak ada satupun pengikut Muhammad yang menyaksikan ruh misterius itu bertampang apa, berkata apa dan berbuat apa, kecuali didongengkan oleh Muhammad secara trivial setelah sosok simisterius itu melenggang lewat. Quran menyebutkan namanya –bukan memperkenalkan sosoknya– hanya sebanyak 3 kali (QS. 2:97,98; 66:4), semuanya hanya di Madina, meski ruh ini sudah mendampingi dan membisiki Muhammad selama belasan tahun di Mekah dan yang bahkan sudah menurunkan kepadanya 85 Surat Quran diantara 114 Surat!Namun nama Jibril itu tetap tersembunyi dan baru diketahui Muhammad kelak sesudah hijrah ke Madina. Diduga ini hasil dengar-dengaran Muhammad dari orang2 Ahli Kitab yang banyak tinggal di Madina. Yang jelas, pemunculan ruh tsb tidak pernah menjelaskan siapa persisnya jatidirinya. Muhammad dan umat  tidak pernah melihat kuasa mukjizat atau nubuat ilahi yang menyertai Jibril, walau Jibril (atas nama Allahnya) membual dirinya sebagai sangat kuat perkasa (QS.53:5; 81:19,20).Ruh manakah dia itu? Berkritislah disini!

u  SIAPA YANG KORUP? Bandingkan dengan Gabriel Alkitab yang memperkenalkan nama dan jati dirinya dengan layak, “Akulah Gabriel yang melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau…” (Lukas 1:19).

u  Juga membuktikan dirinya berkuasa bernubuat dan bermukjizat. Lihat Gabriel
(1) menubuatkan Elisabet isteri Zakharia yang mandul dan Maria yang masih perawan akan hamil. Dan kedua-duanya benar terjadi sesuai nubuatnya.
(2) Dia bermukjizat ilahi: Zakharia yang tidak percaya langsung dibisukannya “sampai kepada hari dimana semuanya terjadi…yang akan nyata kebenarannya pada waktunya”, yaitu sampai genap 9 bulan kehamilan Elisabet! (Tapi Quran dg wahyu korupnya menyulapnya jadi 3 hari bisu tanpa bukti, re QS.3:41, menentang fakta 9 bulan yang justru disaksikan oleh para saksi mata dan menjadi buah tutur disegenap pegunungan Yudea, re Lukas 1:64-66).

u  Kini menjadi pertanyaan besar, apakah Jibril Islamik yang misterius itu (yang tidak sekalipun berkata bahwa ia diutus oleh Allah Semesta Alam) SAMA IDENTIK dengan Malaikat Gabriel yang Tuhan utus dengan tanda kuasa yang menyertainya?

Ruh misterius tahu bahwa dirinya rawan terhadap pengujian manusia atasnya! sayangnya Muhammad dan Muslim tak pernah melakukannya SEKALIPUN! Kenapa? Karena ruh ini telah mensiasatinya dengan ayat=Allah yang menafikan penyelidikan atas  jatidiri sang RUH: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit(Qs. 17:85).

Sebaliknya, Alkitab mengharuskan
agar setiap ROH itu wajib diuji, karena (ingat kasus Adam dll)
roh-hitam selalu bisa menyamarkan dirinya menjadi roh-putih,

“…janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Elohim; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia”

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang” (1Yoh4:1; 2Kor 11:14).  Artinya, Iblis manapun dapat berbisik dan beraksi sebagai Malaikat, bilamana tidak usah memperlihatkan TANDA ILAHIAHNYA.

Jadi sumber Wahyu manakah yang jelas-jelas otentik dan otoritas? Yang disertai dengan TANDA ILAHI atau total-misteri? …..(BERSAMBUNG)

 

Advertisements