Ketika manusia belum menemukan teropong bintang, dan belum pula memiliki pengetahuan tentang alam semesta, mereka mengagumi benda-benda angkasa seperti, BULAN, MATAHARI dan BINTANG-BINTANG. Bahkan mereka tidak hanya berhenti sampai dengan mengagumi benda-benda angkasa itu saja, tetapi lebih lanjut lagi, mereka menganggap benda-benda itu mempunyai kuasa, lalu mereka sembah menjadi sesembahan mereka. Penyembahan kepada benda-benda angksa ini berkembang terus ke berbagai negara, yang dimulai dari Babilonia, menyebar ke Selatan, ke Mesir, ke Barat, ke Eropa, ke Timur, ke India dan Jepang.

Bangsa-bangsa telah menyembah BULAN, MATAHARI dan BINTANG-BINTANG, dan bahwa penyembah-penyembah BULAN, MATAHARI dan BINTANG-BINTANG telah meluas keempat penjuru dunia, dan juga penyembah-penyembah BAAL, BERHALA, penyembah-penyembah BULAN, penyembah-penyembah MATAHARI, ALLATA, penyembah-penyembah BINTANG-BINTANG, ALUZZA-ALMANA.

Hal ini sungguh menarik perhatian karena:

BULAN SABIT telah menjadi simbol bagi Islam
BULAN SABIT telah ditinggikan di atas kubah masjid-masjid.
BULAN SABIT telah dimuliakan dengan dilukis di benda negara-negara Islam.
BULAN SABIT telah jadi tanda permulaan dan akhir puasa umat Islam. (more…)