Trauma Akibat Kematian Sahabat Nanung hanya bisa berdiri lemas dengan lutut gemetar dan mata terbelalak ketika melihat sahabatnya yang bernama Farid sudah tergeletak tak bernyawa – berlumuran darah di atas aspal dan isi kepalanya berceceran di tengah jalan. Farid ditabrak sebuah mobil berkecepatan tinggi ketika ia sedang menyeberang jalan bersama Nanung. Waktu itu mereka berdua baru saja pulang dari sekolah. Meskipun kejadian itu Nanung alami ketika ia masih duduk di bangku kelas 4 SD, namun trauma yang ditimbulkannya terus melekat hingga ia beranjak dewasa.

Berkali-kali kejadian tersebut menghantui pikiran Nanung. “Bagaimana jika aku mati nanti?” pikir Nanung. Semakin
dewasa pemikiran Nanung pun semakin berkembang dan ia berusaha untuk hidup dengan baik. Segala perilaku dan
moral yang ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari sangat baik dan ia sendiri tidak pernah terlibat dengan pergaulan bebas yang merugikan, seperti halnya mabuk-mabukan, berjudi atau main pelacur. Itu semua ia lakukan supaya nantinya bisa selamat setelah kematian. Nanung percaya bahwa setelah kematian ada kehidupan yang kekal yang harus ia jalani, yaitu di akhirat. Keluarga Nanung yang semuanya muslim dan tinggal di daerah Sukra Indramayu, juga hidup taat dengan nilai-nilai kebenaran yang mereka mengerti pada waktu itu.

Bekerja Di Jakarta
Sambil Belajar Ilmu Kebal Tahun 1990, Nanung pergi ke Jakarta dan bekerja sebagai petugas keamanan dan penjaga parkir di ITC Mangga Dua. Dari kecil Nanung takut sekali mati. Dipicu oleh banyaknya risiko yang harus ia hadapi selama bekerja di Jakarta , Nanung pun akhirnya menuruti nasihat ayahnya yang menyarankan untuk mempelajari ilmu kebal agar ia bisa memiliki keberanian dan tidak bisa mati. Pada mulanya, Nanung masih diantar oleh sang ayah pergi belajar ilmu kebal pada suatu perguruan bela diri di daerah Bekasi, yaitu Bulak Kapal. (more…)

CBN.com – Fatuma Shubisa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan sembilan orang anak dari suaminya. Dia tinggal di sebuah desa kecil di Alelu, di pedalaman Ethiopia. Dia melakukan kehidupan sederhananya sebagai sebuah hadiah dari Tuhan, karena Tuhan sudah membangkitkan dirinya dari kematian.

Fatuma berkata, “Selama dua bulan, saya menderita sakit yang sangat parah.”
Suatu hari ibu Fatuma datang untuk merawatnya. Tapi kemudian Fatuma meninggal.
“Ibu datang dan menyentuh wajah saya. Tubuh saya dingin. Kedua mata saya terbuka. Dia kemudian menutup mata dan meluruskan kedua tangan saya,” kata Fatuma. “Ibu saya menangis ketika mengetahui saya meninggal. Karena itu pula, orang-orang mulai berdatangan dan mereka semua menangis.”

Rasa sakit yang dirasakan Fatuma selama itu berakhir sudah. Fatuma tumbuh sebagai orang Muslim, tetapi kemudian menjadi pengikut Kristus. Dia berkata setelah meninggal, dia merasa dirinya terangkat ke surga.
“Saya sangat bahagia, dan saya terangkat dengan hati penuh sukacita luar yang luar biasa.”
Dalam perjalanan, Fatuma bertemu dengan seseorang yang dikenalnya. Dia adalah saudara suaminya, yang sudah meninggal dua tahun sebelumnya. (more…)