“Empat tahun lalu, negara ini penuh toleransi, keterbukaan, dan pluralisme.”

Irshad Manji

Ditolak di UGM, Ini Tanggapan Irshad Manji

Bagus Kurniawan – detikNews, Rabu, 09/05/2012 12:45 WIB
Yogyakarta – Bedah buku ‘Allah, Liberty and Love‘ karya Irshad Manji urung digelar di UGM Yogyakarta, Rabu (9/5/2012). Ormas dan aktivis mahasiwa menolak acara itu. Apa tanggapan Irshad Manji?

Warga Kanada itu mengaku kecewa dan mempertanyakan mengapa UGM sebagai tempat para intelektual membatalkan acara tersebut. Itu diungkapkan Irshad Manji dalam bahasa Inggris di hadapan para peserta yang sedianya akan mengikuti diskusi di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM di Jl. Teknika Utara, Yogyakarta.

“Mengapa pimpinan di sini mengeluarkan surat itu. Ini seharusnya bisa berlanjut. Sultan sendiri saja bisa berdialog,” kata Irshad sebelum meninggalkan ruang diskusi. (Read More)

Judul buku : Allah, Liberty and Love 

Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan

Penulis : Irshad Manji
Penerbit : ReneBook
Jenis Cover : Soft Cover
Jenis Kertas : Bookpaper 55 gram
Ukuran : 14 cm x 21 cm
Halaman : 384 hal
ISBN : 978-602-19153-4-9
Harga : Rp 69.900,-

IRSHAD MANJI adalah Direktur untuk Gerakan Keberanian Moral (Moral Courage Project) di Universitas New York, dan penulis buku laris versi The New York Times, “The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call Reform in Her Faith”, yang telah dipublikasikan di lebih dari 30 negara. Edisi bahasa Arab, Urdu, dan Persia yang tersedia di situs-webnya telah diunduh dua juta kali.

Sosok Irshad di media telah mendunia: pembuat film dokumenter dengan nominasi Emmy, Faith Without Fear, yang mengisahkan perjalanannya untuk mendamaikan antara Islam, HAM, dan kebebasan. Beberapa tulisannya muncul di The Wall Street Journal, Newsweek, Der Tagesspiegel, The Times (London), dan Al-Arabiya.net. Ia juga menjadi moderator di salah satu forum paling “aktif” di facebook.

Mengakui misi Irshad untuk memajukan reformasi Muslim dan keberanian moral, European Foundation for Democracy telah mengangkatnya sebagai rekan senior, sementara surat kabar The New York Times menyebutnya “Mimpi Terburuk bagi Osama bin Laden.” Dan dia menerima ini sebagai pujian.

Melihat kepemimpinan dan prestasi Irshad, Oprah Winfrey menghargainya dengan Chutzpah Award atas “keberanian, tekad, ketegasan, dan keyakinannya”. Majalah Ms. menabalkan Irshad sebagai “Feminis Abad 21”. Maclean’s memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai “Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh”.

Sementara itu, pada Hari Perempuan Internasional tahun 2005, The Jakarta Post di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, menunjuk Irshad Manji sebagai “Satu dari tiga Muslimah yang menciptakan perubahan positif dalam Islam kontemporer”.

Buku Allah, Liberty & Love ini merupakan sebuah refleksi yang menggugah sekaligus jalan menuju aksi. Sebagai salah satu reformis Muslim yang paling terkemuka saat ini, Manji merefleksikan perjalanan yang telah dialaminya sejak buku sebelumnya, The Trouble With Islam Today (Beriman Tanpa Rasa Takut), menjadi buku laris internasional, dan menjadikannya pusat perhatian publik, serta perdebatan tentang agama dan kebebasan.

INFO PENTING: Irshad Manji akan berkunjung ke Indonesia tanggal 3-10 Mei 2012. Beliau akan mengadakan “book tour” di Jakarta, Salatiga, Solo dan Yogyakarta. Tempat-tempat yang akan dikunjungi antara lain: UIN Jakarta, PP Muhammadiyah, Komunitas Salihara, Aliansi Juranlis Independen, Jurnal Perempuan, UIN Yogyakarta, STAIN Salatiga, Komunitas Budaya Solo, dan CRCS UGM Yogyakarta. Dan yang tidak ketinggalan: wawancara dengan media massa (Kompas TV, Kompas, Jakarta Post, Tempo, TVOne, dll).

Download buku-buku Irshad Manji lainnya di Resources

Sekitar dua ratusan orang dari Majelis Mujahidin tak hanya  menyerbu dan membubarkan diskusi buku Irshad  Manji di Pendopo LKiS di kawasan Sorowajan Bantul. Rombongan orang berjaket hitam dan berhelm itu juga melempari batu, mengobrak-abrik tempat diskusi dan memukuli semua peserta baik perempuan maupun laki-laki.

Irshad Manji dalam diskusi buku Terbarunya, Rabu, 09 Mei 2012 | 22:16 WIB

TEMPO.CO, BANTUL – Sekitar dua ratusan orang dari Majelis Mujahidin tak hanya  menyerbu dan membubarkan diskusi buku Irshad  Manji di Pendopo LKiS di kawasan Sorowajan Bantul. Rombongan orang berjaket hitam dan berhelm itu juga melempari batu, mengobrak-abrik tempat diskusi dan memukuli semua peserta baik perempuan maupun laki-laki. (more…)

Diposkan oleh Ali Sina, pada tanggal 24 Oktober 2011

Saya sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana dan darimana harus memulainya; tetapi kenyataannya adalah bahwa saya benar-benar merasa bingung berkaitan dengan identitas saya…

Saya dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Muslim Sunni. Saya selalu menganggap diri saya sebagai seorang Muslim yang sangat moderat atau bahkan orang Muslim yang agak liberal. Saya punya seorang kekasih dan hubungan kami sudah berlangsung selama beberapa tahun. Saya juga punya banyak sekali teman-teman non-Muslim yang saya hormati dan yang bahkan saya percayai lebih daripada teman-teman saya yang Muslim. Saya tidak pernah mendiskriminasikan seseorang berdasarkan latar belakang agama mereka. Saya memperlakukan orang sesuai dengan natur dan karakter moral mereka, daripada berdasarkan keyakinan keagamaan mereka. Saya tidak berburuk sangka terhadap agama apapun, TIDAK…sebenarnya tidak selalu demikian, sebab saya sangat benci dengan mereka yang disebut sebagai orang-orang Muslim fundamentalis, yang membunuhi orang-orang tidak bersalah dengan nama Allah.

Tetapi sejak peristiwa 11 September, saya mengalami beberapa keraguan, namun saya tidak punya nyali untuk menghadapinya, atau bahkan untuk mengakuinya, hingga baru-baru ini saya membaca mengenai Daniel Pipes dan melalui dialah saya mengetahui tentang dirimu.

Saya benar-benar merasa bingung dan tengah menghadapi krisis identitas. Kumohon engkau bisa menolongku.

Shakila

Shakila yang terhormat,

Tak ada yang membingungkan mengenai identitasmu. Engkau adalah seorang manusia. Inilah identitas dimana kita semua saling berbagi. Terimakasih untuk surga bahwa engkau adalah seorang manusia yang mulia. Keyakinan kita bukanlah identitas kita. Semua keyakinan, sama seperti pakaian kita, bisa diganti. Apa yang engkau yakini tidak mendefinisikan siapa dirimu lebih daripada yang bisa dilakukan oleh jubahmu.

Apakah engkau benar-benar meyakini dengan cara yang sama apa yang engkau percayai sepuluh atau dua puluh tahun lalu, atau ketika engkau masih seorang anak kecil? Tentu saja tidak! Engkau melihat dunia secara berbeda dan persepsimu mengenai realitas pun menjadi berubah.   Read More