Buktidansaksi.com – Kasus sodomi terhadap santri Pondok Pesantren Al-Fatah, Lahat yang dilakukan Kepala Kemenag Pagaralam, Sumatera Selatan, RF, terungkap setelah salah satu orangtua korban melapor ke polisi. Saat ini ada lima korban yang mengalami perlakuan serupa dan tidak menutup kemungkinan bakal terus bertambah.

Berdasarkan informasi yang diterima merdeka.com, kelima korban yang berjenis kelamin laki-laki itu awalnya tidak berani membuka aib pimpinannya lantaran takut tidak naik kelas. Setelah didesak orangtua, korban akhirnya mengaku disodomi oleh tersangka.

Seluruh korban merupakan siswa kelas satu dan dua SMP di pesantren tersebut. Kadang mereka diajak tersangka keluar kota bila ada kegiatan.

Kasat Reskrim Lahat AKP Hidayat Amin mengungkapkan, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Sebab tidak menutup kemungkinan masih ada korban lain yang belum terungkap.

“Kita berjanji akan mengusut tuntas kasus ini, termasuk jika ada korban lain yang belum melapor,” kata Amin, Rabu (7/5).

Setelah memuji Allah, fatwa sheikh itu dimulai dengan mengatakan bahwa sodomi dilarang dalam Islam. Namun demikian, jihad harus diutamakan, karena jihad adalah kewajiban yang dianggap paling tinggi/utama dalam Islam. Dan jika hal yang tertinggi dalam Islam hanya dapat dicapai melalui sodomi, maka praktik itu sama sekali tidak salah.

Oleh Raymond Ibrahim


12 Juli 2012 pada pukul 4:30

http://www.gatestoneinstitute.org/3158/islam-sodomy

Cara terbaik untuk merasionalisasi apa yang diinginkan seseorang dan tetap merasa “suci” adalah segala sesuatu yang awalnya dilarang kemudian diperbolehkan. Yang terpenting adalah niat orang itu atau niyya.   

Abdullah Hassan al-Asiri sang “pengebom pakaian dalam” tidak hanya menyembunyikan bahan peledaknya di dalam rectum (saluran yang menghubungkan usus besar dengan dubur) untuk membunuh Pangeran Saudi Muhammad bin Nayef – mereka bertemu pada tahun 2009 setelah sang pejuang suci yang berusia 22 tahun tersebut “memalsukan pertobatan berkenaan dengan pandangan-pandangan jihadnya” (lihat:”feigned repentance for his jihadi views“) — tetapi nampaknya al-Asiri telah meminta sesama rekan jihadnya untuk berulangkali menyodominya untuk “memperlebar”duburnya agar dapat memuat bahan peledak – semua ini dilakukan sesuai dengan fatwa-fatwa [keputusan-keputusan religius] yang dikeluarkan para ulama Islam.   (more…)