1. ALKITAB 1 – APAKAH AL-QURAN TIDAK MEMILIKI KESALAHAN?
2. ALKITAB 2 – APAKAH ALKITAB SUDAH DIPALSUKAN?
3. ALKITAB 3 – APAKAH MUSA MENUBUATKAN KEDATANGAN MUHAMMAD?
4. ALKITAB 4 – MENGAPA ANDA BISA PERCAYA KEPADA ALKITAB?
5. ALKITAB 5 – MENGAPA KAUM MUSLIM TIDAK PERCAYA KEPADA ALKITAB?
6. SALIB 1 – SIAPAKAH YANG AKAN MASUK NERAKA?
7. SALIB 2 – APAKAH KRISTUS DISALIBKAN?
8. SALIB 3 – BAGAIMANA ANAK ABRAHAM DITEBUS?
9. SALIB 4 – MENGAPA YESUS MATI BAGI DOSA-DOSA ANDA?
10. SALIB 5 – MENGAPA AL-QURAN MENYANGKAL SALIB?
11. TRITUNGGAL 1 – MENGAPA MUHAMMAD DAN BUKAN KRISTUS?
12. TRITUNGGAL 2 – APAKAH KE-TRITUNGGALAN ALLAH ADALAH DUSTA?
13. TRITUNGGAL 3 – APAKAH KRISTUS SAMA DENGAN ADAM?
14. TRITUNGGAL 4 – BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH ITU TRITUNGGAL?
15. TRITUNGGAL 5 – MENGAPA AL-QURAN MENOLAK TRITUNGGAL?
16. YESUS 1 – Data-data Sejarah tentang Penyaliban Yesus
17. YESUS 2 – 10 ALASAN Untuk MEMPERCAYAI KEBANGKITAN KRISTUS
18. YESUS 3 – Sebuah Perbandingan dari Pendiri Dua Agama Terbesar
19. YESUS 4 – Mengapa Menyelidiki KEBANGKITAN YESUS?
20. YESUS 5 – Apakah Yesus itu Allah?
21. YESUS 6 – Siapakah Yesus, Menurut Yesus Sendiri?
22. YESUS 7 – Adakah Yesus pernah berkata: “Akulah Allah, Sembah Aku”
Appendix: Hukum emas dalam percakapan dengan kaum Muslim
August 12, 2010 at 3:26 am
puji Tuhan, tulisan dalam web ini sungguh mencerahkan. Tapi, apakah admin sudah menyiapkan antisipasi ? Soalnya salah satu website kegemaran saya: faith freedom sudah diblokir. mOGA2 SITUS INI BEBAS BLOKIR SELAMANYA. Maju terus dalam Tuhan, senantiasa mewarta, dan Yesus memberkati!!
November 18, 2011 at 4:27 pm
MAJU TERUS MAS SAMPAI NERAKA JAHANAM.PANTANG PULANG SEBELUM PADAM……….MAK NYOSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS
February 19, 2012 at 3:20 pm
Udah deh, kita berdamai aja. Masing-masing berdakwah, tanpa menyinggung dan menjelekkan kepercayaan lain.
Yang santun aja gitu, sebagai umat Tuhan. GBU
August 20, 2010 at 12:40 pm
Untuk anda penggemar situs FFI, msh bisa dibuka kok dan ini alamatnya: indonesia.faithfreedom.org/doc
Selamat menambah perbendaharaan anda atas kebenaran firman Tuhan. Gbu
August 25, 2010 at 2:43 am
tunggu di neraka ya>>> wahai kaum yang dibutakan mata hati dan firan..ALLAHU AKBAR..
November 1, 2010 at 4:49 pm
Eh gw ketemu mamad neh di neraka titip salam gak coi hahaha??
katanya si Mamad lagi nungguin Si Alahu Akbar lagi register di neraka hahaha
March 8, 2011 at 1:40 pm
hehehe ada hantu gentayangan
September 19, 2010 at 4:50 pm
ALKITAB ADALAH KITAB YG PENUH FITNAH
FITNAH 1 Nabi Ibrahim memiliki gundik.
Kej 25:5. Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak,
Kej 25:6. tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka–masih pada waktu ia hidup–meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur.
FITNAH 2: Nabi Nuh mabuk dan bugil.
Kej 9:20. Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur.
Kej 9:21. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya.
FITNAH 3: Nabi Sulaiman memiliki gundik dan menyembah berhala.
1 Raj 11:3. Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.
1 Raj 11:9. Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya,
Kej 11:10. dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN.
FITNAH 4: Nabi Harun membuat berhala dan menyuruh orang2 Israel menyembahnya.
Kel 32:3. Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun.
Kel 32:4. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!”
FITNAH 5: Nabi Luth berzina dengan kedua putrinya.
Kej 19:30. Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya.
Kej 19:31. Kata kakaknya kepada adiknya: “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.
Kej 19:32. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”
Kej 19:33. Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.
Kej 19:34. Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: “Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”
Kej 19:35. Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.
Kej 19:36. Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka.
Kej 19:37. Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang.
Kej 19:38. Yang lebih mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon yang sekarang.
FITNAH 6: Nabi Yakub (Israel) mengawini 2 perempuan adik-kakak sekaligus.
Kej 29:26. Jawab Laban: “Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu dari pada kakaknya.
Kej 29:27. Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian anakku yang lainpun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi.”
Kej 29:28. Maka Yakub berbuat demikian; ia menggenapi ketujuh hari perkawinannya dengan Lea, kemudian Laban memberikan kepadanya Rahel, anaknya itu, menjadi isterinya.
FITNAH 7: Nabi Yakub penipu, ia bergumul dengan Allah dan menang (hebat ya???).
Kej 27:35 Jawab ayahnya (Ishak): “Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu.”
Kej 27:36 Kata Esau: “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” Lalu katanya: “Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?”
Kej 32:24. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.
Kej 32:25 Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
Kej 32:26 Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.”
Kej 32:27 Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”
Kej 32:28 Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”
Kej 32:29 Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.
FITNAH 8: Nabi Daud (kakek Yesus) berzina dengan istri orang lain.
2 Sam 11:2. Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.
2 Sam 11:3. Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: “Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu.”
2 Sam 11:4. Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.
2 Sam 11:5. Lalu mengandunglah perempuan itu dan disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud, demikian: “Aku mengandung.”
FITNAH 9: Tuhan akan membalas dendam kepada Nabi Daud dengan menyuruh orang lain meniduri istri-istrinya secara terang-terangan di depan seluruh orang Israel.
2 Sam 12:11 Beginilah Firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu (Daud) yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil istri-istrimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan istri-istrimu di siang hari.
2 Sam 12:12 Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi (dengan Batsyeba), tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.”
FITNAH 10: Nabi Daud bertelanjang bulat di depan budak-budak perempuan para hambanya.
2 Sam 6:20 Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: “Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!”
FITNAH 11: Anak Nabi Daud, Amnon, memperkosa adiknya sendiri.
2 Sam 13:11. Ketika gadis itu menghidangkannya kepadanya supaya ia makan, dipegangnyalah gadis itu dan berkata kepadanya: “Marilah tidur dengan aku, adikku.”
2 Sam 13:12. Tetapi gadis itu berkata kepadanya: “Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu.
2 Sam 13:13. Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu.”
2 Sam 13:14. Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia.
FITNAH 12: Anak Nabi Daud, Absalom, berzina dengan istri2 ayahnya.
2 Sam 16:21. Lalu jawab Ahitofel kepada Absalom: “Hampirilah gundik-gundik ayahmu yang ditinggalkannya untuk menunggui istana. Apabila seluruh Israel mendengar, bahwa engkau telah membuat dirimu dibenci oleh ayahmu, maka segala orang yang menyertai engkau, akan dikuatkan hatinya.”
2 Sam 16:22. Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel.
FITNAH 13: Yehuda (Yahudi), anak Nabi Yakub, berzina dengan Tamar, menantunya sendiri.
Kej 38:15 Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya.
Kej 38:16 Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: “Marilah, aku mau menghampiri engkau,” sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: “Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?”
Kej 38:17 Jawabnya: “Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku.” Kata perempuan itu: “Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku.”
Kej 38:18 Tanyanya: “Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?” Jawab perempuan itu: “Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.” Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.
FITNAH 14: Ruben, anak tertua Nabi Yakub, berzina dengan gundik ayahnya.
Kej 35:22 Ketika Israel (Yakub) diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, gundik ayahnya, dan kedengaranlah hal itu kepada Israel.
FITNAH 15: Nabi Yesaya berjalan telanjang bulat tidak berkasut tiga tahun lamanya; juga para tawanan raja Asyur.
Yes 20:2 Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN melalui Yesaya bin Amos. Firman-Nya: “Pergilah dan bukalah kain kabung dari pinggangmu dan tanggalkanlah kasut dari kakimu,” lalu iapun berbuat demikian, maka berjalanlah ia telanjang dan tidak berkasut.
Yes 20:3 Berfirmanlah TUHAN: “Seperti hamba-Ku Yesaya berjalan telanjang dan tidak berkasut tiga tahun lamanya sebagai tanda dan alamat terhadap Mesir dan terhadap Etiopia.
Yes 20:4 demikianlah raja Asyur akan menggiring orang Mesir sebagai tawanan dan orang Etiopia sebagai buangan, tua dan muda, telanjang dan tidak berkasut dengan pantatnya kelihatan, suatu penghinaan bagi Mesir.
FITNAH 16: Nabi dan Imam, keduanya fasik.
Yer 23:11 “Sungguh, baik nabi maupun imam berlaku fasik; di rumah-Kupun juga Aku mendapati kejahatan mereka, demikianlah firman TUHAN.
Yer 23:12 Sebab itu jalan mereka akan seperti jalan-jalan yang licin bagi mereka; di dalam gelap mereka akan terserandung dan akan jatuh di sana; sebab Aku akan mendatangkan malapetaka atas mereka dalam tahun waktu mereka dihukum, demikianlah firman TUHAN.
FITNAH 17: Segala nabi Samaria penyesat umat.
Yer 23:13 Di kalangan para nabi Samaria Aku melihat ada yang kurang pantas: mereka bernubuat demi Baal dan menyesatkan umat-Ku Israel.
FITNAH 18: Segala nabi Yerusalem berbuat zinah.
Yer 23:14 Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorangpun yang bertobat dari kejahatannya; semuanya mereka telah menjadi seperti Sodom bagi-Ku dan penduduknya seperti Gomora.”
Yer 23:15 Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam mengenai para nabi itu: “Sesungguhnya, Aku akan memberi mereka makan ipuh dan minum racun, sebab dari para nabi Yerusalem telah meluas kefasikan ke seluruh negeri.”
FITNAH 19: Nabi-nabi berbuat dusta.
Yer 23:30 Sebab itu, sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah firman TUHAN, yang mencuri firman-Ku masing-masing dari temannya. Yer 23:31 Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah firman TUHAN, yang memakai lidahnya sewenang-wenang untuk mengutarakan firman ilahi.
Yer 23:32 Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman TUHAN, dan yang menceritakannya serta menyesatkan umat-Ku dengan dustanya dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman TUHAN.
FITNAH 20: Segala nabi Israel bebal.
Yeh 13:3 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah nabi-nabi yang bebal yang mengikuti bisikan hatinya sendiri dan yang tidak melihat sesuatu penglihatan.
Yeh 13:4 Seperti anjing hutan di tengah-tengah reruntuhan, begitulah nabi-nabimu, hai Israel!
Agaknya ayat di atas dituliskan pendeta Yahudi utk menghalalkan perbuatan mereka menyembelih nabi –nabi.Dan nabi-nabi bebal yang dimaksudkan itu termasuklah barangkali Nabi Yahya ,Zakaria dan nabi Isa sendiri.
Tidak syak lagi sesiapa yang percaya kepada kitab seperti ini bakal menjadi penghuni-penghuni neraka.Nabi –nabi di dalam alkitab digambarkan nggak punya kerja lain selain zina zina zina.Bugil bugil bugil.Mabuk mabuk mabuk.Begitu juga dengan keturunan nabi2 tersebut.Sama ada keturunan nenek moyang hingga anak cucu.Suatu kesalahan yang tidak tergamak dilakukan oleh orang awam tergamakkah dilakukan oleh nabi nabi yang katanya pilihan Allah???Tidak heran kalau Allah mengkritik Al Kitab dengan keras di dalam al quran dan mengecam penulis-penulisnya karena sanggup memesongkan wahyu Allah.Orang yang percaya kitab begini sebagai wahyu Allah yang tulen adalah orang-orang yang sudah tidak punya hati nurani.Jiwa raga mereka telah dikuasai sepenuhnya oleh roh iblis laknatullah.Mereka bukan manusia lagi.Tetapi mereka telah menjadi separuh manusia separuh iblis.Atau iblis yang bertopengkan manusia.Tidak heran kalau anda mengimani kitab yang seperti ini anda menyeru Tuhan tapi Tuhan tidak datang malah iblis yang datang pura-pura menyembuhkan penyakit,menyelesaikan masalah,menyelesaikan hutang dan lain-lain.Iblislah lah yang menjadi tuhannya.Kesimpulannnya bible adalah kitab iblis.Tuhannya orang kristian dan Yahudi tidak lain adalah roh iblis.Orang-orang kristian dan Yahudi selama ini telah ditipu iblis.Bermulut manis supaya orang percaya tetapi berhati setan dan sentiasa bercita-cita mengahapuuskan orang-orang yg beriman(Islam).Berkonspirasi antara pendeta dan pemimpin seperti tangan kanan dan tangan kiri.Pendeta mengajukan ajaran yg indah2 dan muluk2 dan dalam masa yang sama para pemimpin mereka terus-terusan melakukan pembunuhan.Orang yang seperti ini semoga Allah menjatuhkan azab yang paling peeedddiihhh di akherat nanti.
Wahai orang-orang kafir yang menjadi pengikut iblis!!Bersedialah!Azab yang paling dahsyat menunggu kalian di akherat nanti.Bahkan di dunia lagi kalian akan merasainya.Paling tidak sewaktu nyawa kalian dicabut oleh malaikat maut.Siap murtad,Adeng Hudaya,nabi cabul dan lain-lain.Ingat Tuhan tidak akan melupakan kalian.Dia mencam kalian dan apa yg telah kalian buat.Kalian rasakanlah nanti.Selama ini kamu lari dari kalimah Laa ilaaha illallaah.Nanti bila kalian memerlukannya kalimah suci ini akan lari pula dari kalian.Bersiaplah!!!
November 3, 2010 at 6:26 am
Ilham…gue kasihan banget ame elu…
Sepertinya elu itu kesulitan banget membela agama Islam fasis elu…
Apalagi sekarang semakin banyak aja yang meninggalkan agama elu itu…
He…he…he…
March 10, 2011 at 3:47 pm
ape nggak kebalik tu
April 1, 2011 at 1:45 am
@ilham othamny: itu semua memang fakta dan semua memang terjadi dan diperebuat oleh nabi2 terdahulu,Karena itulah Alkitab adalah kitab yang sempurna dan bukan karangan semata,seperti alquran.Coba ilham jelaskan ayat dlm alquran ini
(Surat Maryam 19:33) – “Wa salaamu ‘alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma ub’atsu hayaa.” – Artinya: “Dan sejahtera atasNya pada hari Dia dilahirkan, pada hari Dia wafat, dan pada hari Dia dibangkitkan hidup kembali.”
(Surat Al Imran 3:55) – “Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafiika, wa raafi’uka ilayya, wa muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa’ilul ladzina tabauka fauqal ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati.” – Artinya: “Ingatlah tatkala Allah berfirman; Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanMu, dan mengangkatMu kepadaKu, dan akan menyucikan Engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMu di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat.”
Dalam ayat tersebut JELAS JELAS Yesus dibilang WAFAT,yang jadi pertanyaan saya Kapan dan Bagaimana Yesus wafat? apakah ada dlm quran? tidak kan? jadi sudah jelas bahwa Yesus WAFAT DI KAYU SALIB dan DIBANGKITKAN pada hari KETIGA,itu membuktikan bahwa Alkitab adalah kitab yang sempurna dan terakhir.
November 18, 2011 at 4:38 pm
ADENG LO KAN PERCAYA KALO YESUS SANG PENEBUS DOSA,KENAPA LO PUSING DENGAN ORANG ISLAM……..MANG TUHAN LO BELUM KASIH TAU KLO DOI SANG PENEBUS DOSA.TUHAN LO AJA KAGA SEWOT.NAH ELO BARU JADI DOMBANYA AJA DAH BERANI NYEBARIN GOSIP KLO YESUS BUKAN SEBAGAI PENEBUS DOSA. GUE TAKUT ELO MALAH YANG DI LEMPAR KE NERAKA…………MIKIR DONG DENG-DENG BALADO…………
February 17, 2012 at 2:41 pm
(Surat an Nawir 17:1) “Wa alaikum ‘na tole akh haq”, artinya aku nggak tahu, pake bahasa indonesia aja mas. Emangnya aku perduli dengan bhs arab???
February 17, 2012 at 2:35 pm
Biasalah, Maling teriak maling! Quran yang palsu dan bikinan si mamad nyontek dari Alkitab dan Pdt Warakah, bilang Alkitab yang palsu. Beginilah kalau orang sudah tidak memiliki hati nurani dan nalar.
Belajar sejarah bung! Mosok, nabi-nabi Yahudi di-claim sebagai nabi Islam, gila nggak. Dari zaman dahulu sampai sekarang Arab kan penyembah berhala, kok diikuti, apalagi nabinya kayak gitu.
Oalah……
February 17, 2012 at 4:53 pm
Mengapa ya Yahudi sampai sekarang tidak beriman kepada Yesus?Katanya ada dalam PL?Mengapa ya BIBLE Yahudi,katholik dan protestan beda-beda? Katanya sama-sama datang dari Tuhan?
February 22, 2012 at 3:03 pm
Jadi, kalo anda memuat Perjanjian Lama kenapa?? itu hukum untuk umat Yahudi, yang nabi-nabinya dicomot Mamad dimasukin Islam, supaya quran jadi tebal, kalo nggak, isinya nggak ada, edan nggak. So what gitu loch??
Aku lebih percaya keauthentickan Alkitab ketimbang dongeng Quran yang konon katanya, diberikan oleh Auloh kepada Mamad. Ini ilmiah atau bohongan?? Mana buktinya? Siapa saksinya?? Oh, si Aisyah anak umur 6 tahun.
Coba bung, blog ini habis-habis-an menghujat Islam dengan mendasarkan pada quran dan hadist. Tidak saja Islam tapi nabinya juga dihujat. Kalo memang anda benar, jawab saja tuduhan itu, eh kok malah kampanye quran disini?? Kampungan nggak?? Subhanalloh !!!!
November 1, 2010 at 2:54 pm
ilhem othmany…semua ayat-ayat yang saudara tulis di atas adalah untuk pengajaran kepada umat terkemudian seperti kita,supaya kita tidak akan mengulagi kesilapan yang membawa amarah TUHAN..Ini sangat menunjuk bahawa Alkitab adalah jujur dan tidak menyembunyikan kesilapan-kesilapan orang-orang terdahulu..dimana setiap yang berbuat dosa harus bertobat..coba untuk berdebat untuk mencari kebenaran bukan untuk kemenangan..sebap jika kita terlalu tertuju untuk kemenangan..kebenaran di depan mata tidak kita pandang..salam…
November 1, 2010 at 3:00 pm
Artinya, rudai membenarkan kesimpulan yang mas Ilham berikan, karena alKitab jujur, semuanya dikatakan sebenarnya. Rudai setuju dengan alKitab yang mengatakan nabi dan imam keduanya fasik, nabi berbuat dosa dan berzina, dls … Maha Suci Allah yang memilih Nabi dari kalangan terpuji, semoga orang yang meyakini segala fitnah yang ditujukan kepada para Nabi disadarkan, amien.
November 3, 2010 at 6:08 am
someone..saya percaya dengan ayat-ayat dalam Alkitab..andai sudara membaca Alkitab dan Al-quran secara terbuka..saudara akan menemukan sinar kebenaran…secara ringkasnya dalam pembacaan Alkitab…diawal pembacaan kita akan menemukan awal penciptaan,manusia-manusia(nabi) yang benar diantara umat yang salah,janji dan perlaksanaan janji oleh ALLAH..turunnya hukum perintah..dan JANJI KESELAMATAN dari ALLAH..penggenapan JANJI KESELAMATAN DARI ALLAH..dan ditutup dengan pengelihatan akan HARI PENGHAKIMAN untuk pedoman kita..Kitab yang sempurna kan???? PERCAYALAH..andai saudara ingin mencari KEBENARAN bacalah dengan hati KEBENARAN…Tapi jika dengan Hati yang tertutup..maka terkutiplah cubitan-cubitan ayat yang sepatutnya sebagai batas sempadan perlakuan umat…MENJADI protes insan bermatlamat “DUNIA”…
cuba saudara bandingkan ayat Al-quran ini…surah 45:23 dengan surah 33:51&73….tanyalah KENAPA TERJADI SEPERTI ITU???? Selongkarlah kebenaran yang SEBENARNYA KEBENARAN….SEKIAN…
November 4, 2010 at 6:45 am
Sebenarnya apa yang ditampilkan alKitab itu terang-benderang. Anda tidak dapat menganggap saya menutup mata hati saat saya menolak nabi dan rasul pilihan Allah Yang Maha Sempurna dinistakan. Apakah menerima semua ayat yang menghinakan nabi dianggap terbuka mata hati? Apakah memulyakan perilaku sebagian besar komentator kristen hasil binaan alKitab yang cacat moral karena berketetapan untuk mencaci simbol dalam agama Islam dengan landasan yang cacat dianggap terbuka mata hatinya? Apakah setuju dengan komentator pengikut ajaran kasih yang kesana kemari menyeru untuk menjalankan kasih tetapi kenyataannya adalah pendusta dan gemar akan perselisihan disebut terbuka mata hatinya. Saya memiliki mata untuk melihat dan memiliki pengetahuan yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, memahami mana yang benar dan mana yang salah. Komentar yg disampaikan oleh kalangan anda dalam situs ini memberi saya citra tentang bagaimana alKitab membina mereka. Saya tidak siap untuk jadi seperti mereka, karenanya saya tidak merasa perlu menerjunkan diri untuk berpura-pura tidak tahu kekurangan yang kalian poles dalam bahasa cinta kasih dan perubahan. Mereka atau anda boleh bilang, tidak merasa rugi jika saya tidak menjadi Kristen. Tetapi setiap orang yang mengharapkan kedamaian dan informasi yang benar tidak akan merasa nyaman dengan sikap dan informasi yang dibawakan oleh komentator kalangan anda di situs ini.
Nurani itu ada di dalam hati, setiap orang yang mencari kebenaran, bersandar pada pengetahuan berargumen kuat, dapat melihat nuraninya, dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tanyalah kepada diri anda sendiri, dengan melihat kondisi komentator di kalangan anda yang mencaci dengan sandaran pengetahuan yang keliru, apakah mereka menggunakan nurani? Apakah untuk menjadi seperti itu alKitab dihadirkan untuk mereka? Renungkanlah …
November 4, 2010 at 6:48 am
Surah 45:23 lebih tepat menggambarkan komentator dari kalangan anda yang menjadikan hawa nafsu sebagai ikutan dan bukannya pengetahuan yang benar. Mereka berpaling dari penjelasan musli yang benar dan berhasil meluruskan pemahaman mereka, tetapi mereka tetap berpaling walau dengan pengetahuan yang terbantahkan. Sangat tidak relevan menggambarkan kondisi saya sebagai orang yang diliputi hawa nafsu, karena saya berbicara dengan pengetahuan yang kokoh, yang dapat diuji dengan pengetahuan yang benar.
February 22, 2012 at 3:08 pm
Kalo Islam benerrrr, jawab aja tuduhan blog ini dari mantan muslim, yang tidak saja menghujat islam, auloh dan nabinya. Jangan malah kampanye negatif diblog ini, udah jelas-jelas gak bisa jawab, eh malah kampanye. Kampungan lu! Subhanalloh !!!
February 23, 2012 at 2:01 am
Bung eedy palsu !
Bagaimana mau dijawab ,
82 % ayat 2 di kitab Injil adalah palsu
(Tahu sumbernya dari 76 Doktor Teologi waktu seminar Internasional )
Ini asli kitab Injil ,
asli perkataan Yesus ,
Sembahlah Allah, tuhanku dan tuhanmu,
wahai bani Israil
(disampaikan dihadapan 12 murid2 dari bani Israil)
Tuhan yang Esa,
Tidak boleh ditambah-tambah.
Landasan Utama soal ketuhanan,
sebagai UUD ,
tidak ada landasan apapun,
tidak ada dari perkataan siapapun,
kecuali perkataan dari Aku.
Aku yang mengatakan Tuhanku Allah.
Yang Esa. Paham kalian ?
Daud (Zabur), Allah Tuhanku, Yang Esa, tiada boleh diduakan
Musa (Taurat), Allah Tuhanku, Yang Esa, tiada boleh diduakan
Isa (Injil), Allah Tuhanku, Yang Esa, tiada boleh diduakan
Muhammad (Al Quran), Allah Tuhanku, Yang Esa, tiada boleh diduakan
Kenapa kau tak mau mempelajari 4 kitab suci yang semuanya “Aku yang menurunkan 4 kitab suci,”
[QS 4.163] Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
[QS 2.41] Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa
[QS 2.145] Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim.
Mudah2an kau paham. Oke
February 23, 2012 at 2:06 am
Kenapa kau tak mau mempelajari 4 kitab suci yang semuanya “Aku yang menurunkan 4 kitab suci,”
Ini aku ringkas kalau kau malas membacanya !
[QS 4.163] Sesungguhnya …… Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
[QS 2.41] Dan berimanlah ….. telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu yaitu Taurat,
[QS 2.145] Dan sesungguhnya … Yahudi dan Nasrani yang diberi Al Kitab Taurat dan Injil,…….. sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim.
Mudah2an kau paham. Oke
November 4, 2010 at 6:33 am
Xixixixi
ustadzah ilham kebingungan akhirnye statmentnye ngidul ngalor..xixixixi
March 10, 2011 at 3:48 pm
xixixi ada orang yang bisa bedain jenis kelamin
November 6, 2010 at 5:52 pm
ilham…ilham….apakah kau sudah benar2 pernah mendapatkan “ilham” yang sebenar2nya dari Tuhan??kau macam orang yang ahli kitab2 suci aja…agama itu cukup dengan iman bukan dengan pengetahuan manusia…semoga Tuhan Yesus memberikan mukjizat pada kau biar terbuka mata hatimu…Puji Tuhan
March 10, 2011 at 3:49 pm
jika agama cukup dengan iman, apa jika agama nyuruh makan tai lantas anda turutin?
November 14, 2010 at 8:47 am
Alkisah Atab bersama bapaknya pergi ke salah satu toko buku terkenal.
Didalam toko buku itu Atab langsung menuju “CERITA FIKSI”.
Seorang pelayan toko lalu menyapa Atab dengan ramah,
Pelayan: Ada yang bisa saya bantu, dik
Atab : Mas, ada komik naruto gak?
Pelayan: Ada, sebentar yah saya ambilkan
Tiba-tiba Atab mengambil sebuah buku yang berada paling bawah.
Atab : Ini buku apa mas?
Pelayan: Itu bibel….
Atab : Kata bu guru, bibel itu kitab suci loh.
Pelayan: Memangnya tidak boleh kalau kitab suci itu isinya dongeng..?
Atab : Buktinya mana?
Pelayan: Coba baca ini…
Wahyu:12
12:1 Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.
12:2 Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.
12:3 Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.
12:4 Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.
12:5 Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.
12:6 Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.
12:7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya,
12:8 tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.
12:9 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.
12:10 Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.
12:11 Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.
12:12 Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.”
12:13 Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.
12:14 Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.
12:15 Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu.
12:16 Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya.
12:17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.
Pelayan: Menurut adik, Naga itu nyata atau dongeng?
Atab : Dongeng…
Pelayan: Coba lihat ayat yang ini 12:4 Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.
Menurut adik lebih besar mana sepertiga bintang dilangit dengan bumi
Atab: Kalau kata bu guru bumi itu kecil dibandingkan bintang karena matahari kita adalah termasuk dari salah satu bintang. Jadi bumi itu sangatlah kecil sekali.
Pelayan: Pinter, menurut adik malaikat disurga itu seharusnya damai atau berperang?
Atab : Damai
Pelayan : Coba lihat yang ini. 12:7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya,
Menurut adik kira-kira apa yang dilakukan Tuhan pada saat itu?
Atab : hmmmm…. ngambil pop corn dan minuman soda…
Pelayan : Begitu yah…
Atab : bagus mana sama naruto..?
Pelayan : Naruto… sebab naruto lebih ceria, heroik, dan mendidik.
Pada akhirnya Atab memilih Naruto….
Tambahan mengenai binatang fiksi dalam bible:
In Isaiah 13:21 we read, “But wild beasts of the desert shall lie there; and their houses shall be full of doleful creatures; and owls shall dwell there, and satyrs shall dance there.”
Artinya
Dalam Yesaya 13:21 kita membaca, “Tapi binatang buas dari gurun akan berbaring di sana, dan rumah-rumah mereka akan penuh dengan makhluk muram; dan burung hantu akan tinggal di sana, dan satyr akan menari di sana.”
Berikut gambar Satyr
Dan,
Jeremiah 8:17 – “For, behold, I will send serpents, cockatrices, among you, which will not be charmed, and they shall bite you, saith the Lord.
Artinya
Yeremia 8:17 – “Sebab sesungguhnya, Aku akan mengirimkan ular, cockatrices , di antara kamu, yang tidak akan terpesona, dan mereka akan menggigit kamu, demikianlah firman Tuhan.”
Berikut gambar cockatrices
Lalu,
In Isaiah 34:7 it is written, “And the unicorns shall come down with them, and the bullocks with the bulls, and their land shall be soaked with blood, and their dust made fat with fatness.”
Dalam Yesaya 34:7 ada tertulis, “Dan Unicorn akan turun bersama mereka, dan sapi dengan sapi jantan, dan tanah mereka harus direndam dengan darah, dan debu mereka membuat lemak dengan kegemukan.”
Berikut gambar unicorn
November 14, 2010 at 7:08 pm
ilham untuk apa kamu menghujat kitab wahyu dengan cerita fiksimu?????inikah ajaran agamamu?????(islam)…….kamu selalu menghujat alkitab tetapi alkitab jugalah yang kamu gunakan sebagai dalil untuk membenarkan ayat2 dalam alquran….kamu benar2 munafik!!!!
rahasia Tuhan tidak akan sanggup kamu pecahkan dengan otak kerdilmu……ingat ilham, HUJATANMU ADALAH DOAMU!!!dan Tuhan pasti akan mengabulkan doa manusia….TUNGGULAH KUASA Tuhan berlaku atas kamu…Amien
March 10, 2011 at 3:50 pm
berarti hujatan ilham akan terkabul?
April 27, 2011 at 3:09 pm
Kita tunggu saja nasib ilham yang selalu menghujat ayat-ayat Alkitab yang merupakan Nubuatan Tuhan Yang Kudus, akan serupa dengan nasib Ahmad Deedat yang menderita Stroke tanpa sedetikpun sembuh selama 9 tahun, hanya 4 minggu setelah dia menghujat Roh Kudus. Amen…
October 23, 2011 at 1:36 am
Mari kita berdoa bagi saudara-saudara yang telah berkatasar.
November 15, 2010 at 10:21 am
Alkisah dipinggir jalan yang lumayan sepi bertemulah si “tukang bakso” dan Anda…
Anda: Kang, saya ada penawaran bagus buat anda? saya akan memberikan gerobak anda kepada anda jika anda mampu merawat gerobak anda seumur hidup anda.
Tukang bakso: HAAAAH…. jadi anda akan memberikan gerobak saya kepada saya jika gerobak saya tetap terawat….? LU GILA YA??!!
Anda pastilah seorang idiot jika melakukan penawaran ini. Namun siapakah yang pernah membuat penawaran seidiot ini ?
Ada… coba liat dibawah ini kutipan bible dibawah ini.
4:1-11 = Pencobaan di padang gurun
(Mr 1:12-13; Luk 4:1-13)
(1) Kemudian Yesus dibimbing oleh Roh Allah ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis.
(2) Empat puluh hari empat puluh malam Yesus tidak makan. Lalu Ia merasa lapar.
(3) Iblis datang dan berkata, “Engkau Anak Allah, bukan? Nah, suruhlah batu-batu ini menjadi roti.”
(4) Yesus menjawab, “Di dalam Alkitab tertulis: Manusia tidak dapat hidup dari roti saja, tetapi juga dari setiap perkataan yang diucapkan oleh Allah.”
(5) Sesudah itu Iblis membawa Yesus ke Yerusalem, kota suci, dan menaruh Dia di atas puncak Rumah Tuhan.
(6) Lalu Iblis berkata kepada-Nya, “Engkau Anak Allah, bukan? Kalau begitu, terjunlah ke bawah; sebab di dalam Alkitab ada tertulis begini, ‘Allah akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya melindungi Engkau, mereka akan menyambut Engkau dengan tangan mereka, supaya kaki-Mu pun tidak tersentuh pada batu.’”
(7) Yesus menjawab, “Tetapi di dalam Alkitab tertulis juga, ‘Jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu.’”
(8) Kemudian Iblis membawa Yesus lagi ke gunung yang tinggi sekali dan menunjukkan kepada-Nya semua kerajaan di dunia dengan segala kekayaannya.
(9) Lalu Iblis berkata kepada Yesus, “Semua ini akan saya berikan kepada-Mu, kalau Engkau sujud menyembah saya.”
(10) Yesus menjawab, “Pergi kau, hai Penggoda! Dalam Alkitab tertulis: Sembahlah Tuhan, Allahmu, dan layanilah Dia saja!”
11) Akhirnya Iblis meninggalkan Yesus, dan malaikat-malaikat pun datang melayani Dia.
Sekarang kita lihat ayat ke 8 dan ke 9 yang berbunyi:
Kemudian Iblis membawa Yesus lagi ke gunung yang tinggi sekali dan menunjukkan kepada-Nya semua kerajaan di dunia dengan segala kekayaannya.
Lalu Iblis berkata kepada Yesus, “Semua ini akan saya berikan kepada-Mu, kalau Engkau sujud menyembah saya.”
Iblis yang disebut paling licik dimuka bumi, sang pembangkang sejati, Master dari Ilmu Pengetahuan menawarkan sebuah planet yang sangat sangat kecil kepada Tuhan sang pencipta segalanya….?
Sekarang anda simak cerita tukang bakso dan anaknya yang bernama Atab (anak tukang bakso)
Tukang bakso: Atab besok bapak tidak bisa jualan, jadi bapak ingin kamu melakukan 2 hal.
Pertama: Besok kamu jualan Bakso dari pagi sampai sore
Kedua:Besok kamu jangan jualan bakso dari pagi sampai sore
Atab:????????
Adakah perintah segoblok ini…. ADA..!!!
coba lihat dibawah ini..
Yang pertama:
1) Kemudian Yesus dibimbing oleh Roh Allah ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis.
coba lihat ayat yg ke 7:
(7) Yesus menjawab, “Tetapi di dalam Alkitab tertulis juga, ‘Jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu.’”
Aiiihhhh……. Maksud lo..??
Masih ada lagi…. sekarang kita coba memikirkan ayat ke 5 dibawah ini.
(5) Sesudah itu Iblis membawa Yesus ke Yerusalem, kota suci, dan menaruh Dia di atas puncak Rumah Tuhan.
Seperti gambar inikah….
Tak gendong kemana…mana. Tak gendong kemana…mana
Aih….. Tuhan sang pencipta alam semesta gitu bo…
Kira-kira mereka ngomongin apa yah selama perjalanan?
“FULL SPEED AHEAD…!!!!” atau “Pelan..pelan aja blis, gw mo liat-liat pemandangan dulu…” atau “Eh…tau ga sih lo, kemaren gw bikin burung cute banget getho… hufh… kheknya lo musti liat deh..”
Masih ada lagi…. sekarang kita coba memikirkan ayat ke 8 dibawah ini.
Kemudian Iblis membawa Yesus lagi ke gunung yang tinggi sekali dan menunjukkan kepada-Nya semua kerajaan di dunia dengan segala kekayaannya.
Gunung dimana coba yang bisa nunjukin semua kerajaan didunia… padahal kita tau dijaman itu ada kerajaan di Persia, Romawi, China, Afrika.. dll. Kecuali bumi ini datar….. Heheheh jadi pada kejadian tersebut bumi itu datar alias “ceper”… trus dirubah bulet ama galileo.
Kesimpulannya…..
Wahai orang-orang yg kafir!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.Pasti kalian akan berjaya.
November 16, 2010 at 1:28 am
Hingga hari ini, sudah lebih dari 100 orang jemaah haji asal Indonesia yang tewas di Arab Saudi…
Sebagian dari mereka meninggal karena sakit, tetapi paling banyak tewas karena berdesak-desakan dan terinjak-injak.
Umumnya, setiap tahun, dari 200an ribu jemaah asal Indonesia, lebih dari 200an yang meninggal saat menjalankan ibadah haji.
Dari sekitar 3,5 juta jemaah haji dari seluruh dunia – diperkirakan setiap tahun 40-60 ribu orang yang tewas saat menjalankan ibadah haji…
November 16, 2010 at 1:48 am
Xixixixi
ilham bego lg maen kata2…xixixixi
w mudah ngejwab elo il, nyang jelas apapun nyang dilakukan Yesus kagak ngebahayain umat manusia krn ajarannya kasih..
Elo mghina2 Yesus sperti nih, pgikut2nya kagak bakalan mau membunuh elo..xixixixi
malah kasihan ma elo n doa in elo kepadaNYA agar elo diampuni..
elo ngehina2 Yesus sperti nih, Yesus malah makin timbul belas kasihNYA sama elo, krn elo kagak ngerti apa nyang elo perbuat. n IA malah saat nih menunggu penyesalan n pertobatan elo..xixixixi
intinye…apapun ajaran n prilaku Yesus, kagak ngebahayain umat manusia…malah mgasihi
n mgampuni
kebalikannya dgn tuhan oloh n nabi mamad elo…
Kejahatan,kebejatan n kebiadabannya…nyaitu..
Pedopil
perkosa
rampok
jarah
dendam
benci
bunuh..de el el..
Elo malah klo diberitahu malah marah2 n ngancam bunuh…xixixixi
jgnkan elo hina Yesus sperti tulisan elo diatas…
Diludahi,ditampar,ditelanjangi dipermalukan de el el aja DIA kagak marah malah kasihan kpd org2 nyang melakukan DIA sperti ntu..n IA pun kasihan dgn org seperti elo nyang ngehina DIA…
Xixixixi
ilham..ilham…
Liatlah perbedaan ajaran Yesus n nabi elo nyang bejat ntu…
Kaya kutub utara n selatan nyang bertolak belakang.
Tobat elo ilham..
Sadar elo ilham..
November 16, 2010 at 6:51 am
Jika anda masuk bertobat dan masuk Islam Allah akan suka dengan anda lebih daripada sukanya seorang yg menemukan ontanya yg hilang.Segala dosa anda akan diampunkan bahkan digantikan dengan kebajikan seolah-olah anda Islam sejak balita.Bukan itu saja,bahkan Allah akan membangga-banggakan anda di hadapan para malaikat.Barangkali Dia akan berkata begini “lihatlah hambaku.Dia telah menghabiskan usianya selama ini dengan kekufuran tapi kini dia kembali kepadaKu.Ini semua dilakukan semata-mata karena Aku”Ketika itu akan bergembiralah para malaikat dan bersukacitalah para nabi di alam barzakh sana termasuklah Yesus.Akan menangislah para syaitan.Ada surga yg mewah utk anda di alam sana.Hanya menunggu anda mati saja.Bidadari-bidadari pun siap utk melayani anda.
1)Kecantikan surga–malaikat Jibril tercengang 40 tahun hanya melihat kepada pintunya sahaja.
2)Istana-istananya ada yg diperbuat daripada nur(cahaya),ada yg daripada emas dan ada yg daripada perak.
3)Di sana ada pondok kecil tempat bersenang-senang.Atapnya adalah berbagai jenis buah-buahan yg lezat.Apabila anda menginginkan terus datang sendiri ke dalam mulut.
4)Terdapat pelayan-pelayan yg berkeliling menuang minuman ke dalam gelas2 yg diedarkan terbuat daripada perak yg sangat tipis.
5)Makanan surga–sangat lezat sehingga kelezatannya tidak hanya dirasakan ditenggorokan malah menyebar ke seluruh badan sehingga bulu-bulu roma akan merasakan kelezatannya.
6)Jikalau di dunia orang Islam akan pergi solat Jumaat setiap hari Jumaat tetapi disurga solat Jumaat akan digantikan dengan pergi ke pasar-pasar.Pasar2 surga sangat mewah karena menyediakan semua yg diingini oleh setiap orang.Kemudian Allah akan meniupkan sejenis angin yg sangat nyaman.Begitu angin itu menyapu wajah seseorang maka wajahnya akan menjadi bertambah cantik dari dulu.
7)Bidadari surga–Seandainya jari kelingkingnya saja yg ditunjukkan kepada ahli dunia nescaya kesemuanya akan pengsan karena menanggung kerinduan sangking cantiknya.Maa syaa Allah!Baru jari kelingking.Belum wajahnya!
Demikianlah sedikit gambaran tentang kenikmatan surga.Inilah balasan kepada orang yg mengesakannya dan menjalani hari-hari dunia dengan melakukan amal ibadah.
Ya Allah Engkau berilah hidayah kepada Sukaku dan lain-lain serta kami semua semoga kami semua dapat menikmati surga Mu ya Allah!Amin Ya Rabbal alamin.
November 16, 2010 at 4:11 pm
Ilham…masih ingat dengan ini:
memang terjadi semua tafsir mimpi nabi Yusuf tapi darimana kamu tahu kalo itu hukuman salib?????jelas2 dituliskan dalam nas itu MENGGANTUNG dan DIGANTUNG…..dalil mana yang menyebutkan itu hukuman salib???disalib itu beda dengan digantung…di alquran tidak bisa menjelaskan tapi kamu berusaha mencari PEMBENARAN melalui alkitab…aneh bin ajaib kamu ilham…dalam hal ini berarti alquran bukan kitab yang sempurna!!!
dalam kasus ini yang membuat saya sangat heran, kamu dan semua umat islam TIDAK PERCAYA akan kebenaran alkitab tapi mengapa kamu jadikan alkitab sebagai bahan research???dan kamu meyakini bahwa yang tertulis di alkitab itu adalah BUKTI KEBENARAN???berarti kamu MUNAFIK selama ini karena di satu sisi kamu menghujat alkitab tapi di sisi lain kamu percaya kebenaran alkitab…..MUNAFIK atau TIDAK??????
kamu juga menggunakan dalil Galatia pasal 3 ayat 13 dan MEYAKINI KEBENARAN pada ayat ini karena mendukung dalilmu tentang penyaliban…ini jelas..jelas juga membuktikan bahwa kamu sebenar2nya mengakui kalo JESUS ITU DISALIBKAN untuk penggenapan hukum taurat karena selama ini kamu dan semua umat islam tidak mempercayai itu….MUNAFIK ATAU TIDAK???
jangan menghindar….akui saja kalo Jesus itu mati disalibkan….klo kamu akui itu, saya akan akui tentang hukum salib di jaman firaun….setuju?????
March 13, 2011 at 7:06 pm
iya benar sekali,al quran kitab yang tidak sempurna ,udah jelas2 tertulis Yesus itu disalibkan,masih menyangkal lagi,sementara di ayat yang lain dipakai buat pembenaran,JADI islam maunya GIMANA.ALKITAB ITU BENAR ATAU SALAH,JAWAB AJA DULU.
April 27, 2011 at 3:20 pm
Untuk Ilham, inilah ayat yang terjadi nyata terhadap Pahlawan mu Ahmad Deedat yang stroke selama 9 tahun dan mati tanpa bisa mengucapkan syahadat, yakni Matius 12:31
‘Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.
Markus 3:29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.”
Lukas 12:10:”Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.
Tunjukkan ayat-ayat ini kepada keluarga dan teman-2 mu supaya mereka sadar jika kau mengalami penyakit yang tidak dapat disembuhkan, karena telah menghujat Roh Kudus.
November 16, 2010 at 7:24 am
Xixixixixi
ilham..ilham..
Jujur yah ham, elo ntu sakit ham…n bahkan elo ntu sakit kanker stadium 4 …xixixixi
w laki2 normal ham n sex dgn wanita adlh wajar, tapi klo w disuruh aloh untuk memerawani 72bidadari….
Sadar elo ham, nih kagak ajaran Tuhan nyang benar, tapi nih hayalan n karangan imajinasi momad nyang gila!
Elo kok kagak mau berpikir dikit apa nih bener sorganya Tuhan??
Mosok sorga tempat ngeseks..??xixixixi
dah ntu bidadari hanya untuk laki2 aja.. n malah bidadara2 pun jg untuk laki2 untuk disodomi…
Xixixixi
jd kenikmatan untuk muslimah ape ham…??
Kagak ada samaskali hanya dapet ngeliat kakek,bapak,abg,adik n anak2 laki2 nye ngenjotin bidadari2 n sodomi bidadara2…
Xixixixi…sorga nyang kayak ginian w jelas kagak mau..xixixixi
mosok w tega ngeliat nenek w, ortu perempuan w, istri w, kakak n adik perempuan w n jg anak perempuan w ngeliat w stubuhin bidadari2 n sodomi bidadara2..,. Is jijiknya w ngebayanginnya…
November 20, 2010 at 3:38 am
Banyak orang DIDUNIA INI ngga paham sejarah agama samawi agama samawi Itu satu tuhan hanya menyembah Allah. Disampaikan sejak jaman nabi adam sampai dengan nabi Muhammad.zaman nabi musa mereka nyembah tuhan satu yaitu Allah jaman nabi isa tuhan satu yaitu Allah
TUHAN DIANGKAT MANUSIA DALAM KONFRENSI
INI CERITANYA :
1. sampai dengan tahun 325 M diadakan konfrensi guna menyelesaikan masalah agama nasrani disebabkan masuknya kelompok penyembah berhala dari yunani romawi dan mesir kuno dalam konfrensi mereka mempersoalkan ketuhanan isa.dari konfrensi itu mereka merumuskan pernyatan bahwa isa adalah tuhan, padahal sebelumnya selama 325 tahun nasrani adalah agama tauhid.UDA DUA TUHAN DA.
2.Pada Tahun 381 M diselenggarakan konfrensi di Konstanta menetapkan bahwa roh kudus adalah tuhan, mereka juga menjadikannya tuhan yang ketiga.UDA TIGA TUHAN.
YAHUDI JUGA PUNYA ANAK TUHAN .
ANAK TUHAN atau tuhan punya anak BUKAN MONOPOLI KRISTEN.yahudi juga mengangkat nabi uzair anak tuhan.
QS 9:30 Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
makanya Yahudi dan nasrani juga saling nyalahkan padahal masing2 saling melengkapi Taurat induk injil injil melengkapi.
QS 2:113 Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.
salah satunya Allah tanya pada nabi Isa di akhirat baca ni quran QS 5:116
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”.
117.Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
118.Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
119.Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”.
120.Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
makanya Allah turunkan quran untuk meluruskan persoalannya.agar seluruh manusia yang berakal paham.MO BERIMAN PADA KATA SIAPA LAGI KLO NDA PADA KETERANGAN DARI ALLAH NI.
dengar tu kisah mantan2 pendeta yang dah tobat jangan marah2 marah kalau anda keras kepala banyak marah ngga tentu rudu nanti anda banyak menangis dineraka.
NYEMBAH ISA DIA MANUSIA, NYEMBAH YESUS DIA MURID ISA YANG BERKHIANAT, NYEMBAH ROH KUDUS DIA MALAIKAT JIBRIL ‘, NYEMBAH ALLAH BARU BETOOOOL.HANYA MENYEMBAH ALLAH TITIK.
February 19, 2012 at 11:34 am
Ngapain bawa2 ayat Quran. Siapa yang mau percaya cerita dongeng, Quran turun dari langit, Auloh yang tulis. Dasar perdebatan islam kan demikian, katanya quran itu tulisan auloh, turun dari langit ketangannya mamad, padahal isinya picisan, kejam dan porno.
Lu tau gak, siapa yang mau nyembah auloh, gak jelas, dari kitabnya, kayaknya bukan deh.
November 20, 2010 at 3:47 am
Banyak orang DIDUNIA INI ngga paham sejarah agama samawi agama samawi Itu satu tuhan hanya menyembah Allah. Disampaikan sejak jaman nabi adam sampai dengan nabi Muhammad.zaman nabi musa mereka nyembah tuhan satu yaitu Allah jaman nabi isa tuhan satu yaitu Allah
TUHAN DIANGKAT MANUSIA DALAM KONFRENSI
INI CERITANYA :
1. sampai dengan tahun 325 M diadakan konfrensi guna menyelesaikan masalah agama nasrani disebabkan masuknya kelompok penyembah berhala dari yunani romawi dan mesir kuno dalam konfrensi mereka mempersoalkan ketuhanan isa.dari konfrensi itu mereka merumuskan pernyatan bahwa isa adalah tuhan, padahal sebelumnya selama 325 tahun nasrani adalah agama tauhid.UDA DUA TUHAN DA.
2.Pada Tahun 381 M diselenggarakan konfrensi di Konstanta menetapkan bahwa roh kudus adalah tuhan, mereka juga menjadikannya tuhan yang ketiga.UDA TIGA TUHAN.
YAHUDI JUGA PUNYA ANAK TUHAN .
ANAK TUHAN atau tuhan punya anak BUKAN MONOPOLI KRISTEN.yahudi juga mengangkat nabi uzair anak tuhan.
QS 9:30 Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
makanya Yahudi dan nasrani juga saling nyalahkan padahal masing2 saling melengkapi Taurat induk injil injil melengkapi.
QS 2:113 Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.
salah satunya Allah tanya pada nabi Isa di akhirat baca ni quran QS 5:116
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”.
117.Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
118.Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
119.Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”.
120.Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
makanya Allah turunkan quran untuk meluruskan persoalannya.agar seluruh manusia yang berakal paham.MO BERIMAN PADA KATA SIAPA LAGI KLO NDA PADA KETERANGAN DARI ALLAH NI.
dengar tu kisah mantan2 pendeta yang dah tobat jangan marah2 marah kalau anda keras kepala banyak marah ngga tentu rudu nanti anda banyak menangis dineraka.
NYEMBAH ISA DIA MANUSIA, NYEMBAH YESUS DIA MURID ISA YANG BERKHIANAT, NYEMBAH ROH KUDUS DIA MALAIKAT JIBRIL ‘, NYEMBAH ALLAH BARU BETOOOOL.HANYA MENYEMBAH ALLAH TITIK.
November 20, 2010 at 6:39 am
Yahudi dan Kristen Menyembah YAHWEH, sedangkan YESUS dari kata YEHOSHUA=YAHWEH-SHUA yang artinya YAHWEH yang Menyelamatkan, karena sesuai dengan Mat 1:21 Dan dia akan melahirkan seorang Putra dan engkau akan menyebut Nama-Nya: YESUS, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. dan juga Mat 1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia IM-MANU-EL” –yang berarti: TUHAN yaitu ELOHIM dengan kita (Allah Dengan Kita).
Seruan kepada Yesus pun sama, yaitu DIBERKATILAH YESUS yang DATANG dalam NAMA YAHWEH, karena memang Yesus itulah YAHWEH…. jadi bukan menyembah Allah (Sang Berhala di zaman Arab)
November 20, 2010 at 1:37 pm
Yesus dan bahkan kristen awal berbicara dalam bahasa aram. Banyak dalam Perjanjian Lama (PL), misalnya kitab Daniel merupakan bahasa aram meskipun bagian terbesar dari salinan tangan telah tiada selamanya. Baik Textus Receptus yunani sebagi rujukan Perjanjian Baru (PB), maupun Tanakh yang telah distandarisasi sebagai rujukan PL bukan bahasa asli mereka.
..portions of the Old Testament books of Daniel and Ezra are written in Aramaic…Jesus and the Apostles also spoke this language.
In the early Christian era, Aramaic divided into East and West varieties. West Aramaic dialects includ Nabataean (formerly spoken in parts of Arabia), Palmyrene (spoken in Palmyra, which was northeast of Damascus), Palestinian-Christian, and Judeo-Aramaic. West Aramaic is still spoken in a small number of villages in Lebanon.
-Encyclopedia Britannica, Reference Index I, “Aramaic Language”, page 476-
Kita juga dapat membaca bahwa …
Parts of the books of Ezra and Daniel in the Bible were written in an Aramaic dialect, as were some notable Jewish prayers, such as the kaddish. Other important documents in Aramaic include portions of the Palestinian and Babylonian Talmuds and the Targum Onkelos, a commentary on the Pentateuch. Nabataean (the form of Aramaic current among the Nabataean Arabs), Samaritan, and Palmyrene were other significant ancient dialects of Aramaic.
http://www.infoplease.com/ce5/CE002726.html at Infoplease.com
Yesus berbicara dalam bahasa aram. Jadi, PB seharusnya mengacu padanya. Banyak dalam PL berbahasa aram juga, dan masyarakat kristen awal meliputi arabia dari palestina, Syria, Nabatea berbicara dalam bahasa aram.
Jadi apa nama Yesus dalam bahasa aram?
“EESHO M’SHEEKHA” -baca: iisyo masiikha- artinya Yesus sang Mesias.
- “Eesho M’sheekha” dalam bahasa Syriac. Syriac adalah varian baru dari aramaic yang tersebar luas pada umat kristen, yang selanjutnya disebut “Christian Aramaic”.
- “Eesho M’sheekha” dalam bahasa Aram, diambil langsung dari “Peshitta”. “Peshitta” adalah PB Aramaic dan lebih mendekati bahasa Yesus.
Jadi, Yesus pernah memanggil dirinya “Eesho” -baca: isyo- atau Lebih spesifik “Eesaa” -baca:iisa-karena Yahudi Palestina Utara melafalkan huruf “Shin” -syin- dengan “Sin”.
Kata ‘Isa’ dalam alkitab
Di bawah ini adalah gambar dari sebuah halaman yang diambil dari “International Bible Society translation in Farsi” dari pasal pertama Matius Kata-kata yang digarisbawahi berarti ‘Isa Masih’ atau ‘Isa’ berturut-turut. Hampir semua terjemahan alkitab selain bahasa Inggris (termasuk Arabic Bible) menggunakan nama Ibrani “Yeshua”, oleh karenanya sangat mengejutkan ketika mendapati ‘Isa Masih’ masih digunakan dalam Farsi Bible. penggunaan ‘Isa Masih’ Dalam terjemahan Farsi Bible membuktikan dengan sendirinya bahwa penerjemah kristen benar2 dapat menerima Nama Qur’anic untuk Yesus.
Kesimpulan
Secara singkat, mari kita uraikan keseluruhan argumen untuk memudahkan pembaca memahaminya:
1. Kata ‘Isa’ (عيسى) dalam Quran berasal dari ‘Isyo’ () dalam bahasa Aram, sebuah bahasa yang mendahului bahasa Ibrani selama ratusan tahun dan tidak pernah memiliki ikatan etimologi dengan kata turunan Ibrani “Yeshua”(ישוע) atau bahkan “Esau” (עשו)
Karena yesus berbicara dan mengajar dalam bahasa Aram, Alquran sangat akurat mengambil namanya dalam bahasa Aramaic dan bukan Kata Turunan Ibrani “Yeshua”(ישוע)
2. Nama ‘Yasua’ (يسوع) untuk nama Yesus dalam Arabic Bible adalah hanya sebuah transliterasi dari nama Ibrani “Yeshua”(ישוע) dan sebuah pemahaman yang keliru untuk mengklaim bahwa itu adalah nama Arab yang benar untuk Yesus, karena sebagaimana dikatakan Bahasa Ibrani bukan bahasa asli Yesus. Sehingga ayat-ayat suci yang dengan jelas menyatakan bahwa Quran adalah Bahasa Arab murni dan sempurna tidak terbantahkan.
Jadi, keakuratan sejarah dari quran dalam penggunaan “isa” daripada “yasua” untuk nama Yesus patut untuk benar2 diperhatikan. “Yasua” sebenarnya didasarkan pada nomenclatur Ibrani yang bermasalah untuk Yesus yang beralaskan ketidak setujuan dan kontroversi. Tidak ada persetujuan sejarah atau kemiripan bahwa Nama yesus adalah dalam bahasa Ibrani bahkan bila rujukan2 tersebut mengacu pada yesus!
Banyak penjelasan2 yang berlebihan yang berusaha meralat variasi nama Ibrani yesus ini, tapi semua didasarkan pada dugaan dan bukan atas bukti tekstual dan historis. Semua
permainan etimologi yang cacat tersebut tumbang oleh fakta yang jelas bahwa bahkan Ibrani adalah bukan bahasa yesus. Memang, beban pembuktian ada di tangan dunia kristen untuk menghasilkan bukti dokumentasi atas keberadaan Yesus pada masanya. Sebagaimana Allah telah berjanji dalam firmanNya:
Al Qashash:75. Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu Kami berkata “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu”, maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah (kebohongan) dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.
February 19, 2012 at 11:36 am
Udah dibilang, jangan bawa2 cerita dongeng yang tidak bisa dipertanggung jawabkan untuk dasar diskusi. Kalo mau bawa quran, pergi noh ke orang arab sono.
January 29, 2011 at 3:57 am
Mana pengakuan Yesus di dalam Alkitab bahwa dia beragama Kristen?
Semua pengikut Yesus pasti mengakui bahwa mereka beragama Kristen. Tetapi apakah ada di antara mereka bisa membe¬rikan bukti atau menunjukkan ayat-ayat yang tertulis di dalam Alkitab bahwa Yesus beragama Kristen? Pertanyaan seperti itu tampak sepele atau main-main, padahal tidak ada bukti berupa ayat-ayatnya yang tertulis dalam Alkitab tentang pengakuan Yesus bahwa dia beragama Kristen. Jika Yesus ternyata bukan beragama Kristen, lalu apa nama agama Yesus yang sebenarnya? Siapa saja yang bisa menun¬jukkan bukti atau menunjukkan ayat-ayat yang benar-benar tertulis di dalam Alkitab (Bible), pengakuan Yesus bahwa dia beragama Kristen.
Banvak umat Kristiani tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Yesus bukan beragama Kristen dan yang menamakan agama itu `Kristen’ bukan Yesus, tapi Barnabas dan Paulus (Saulus) di Antiokhia. Perhatikan ayat-ayat Alkitab dibawah ini :
“Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Sauius; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia-lah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.’ (Kis 11:23-26)
Ayat diatas membuktikan bahwa yang menamakan agama itu “Kristen’ bukan Yesus. tetapi Barnabas dan Paulus. Seumur hidupnya Yesus tidak pernah tahu kalau agama yang dibawanya dinamai Kristen, sebab nama “Kristen’ itu baru muncul jauh setelah Yesus mati. Timbul pertanyaan; kalau begitu kapan Yesus mati dan kapan agama yang dibawanva dinama Kristen? Menurut data yang kami baca dalam beberapa buku yang ditulis oleh kalangan Kristen sendiri, diantara-nya dalam buku “Religions on File” Yesus lahir sekitar tahun 4 SM (Sebelum Masehi) dan wafat sekitar tahun 29 M (Masehi). Semen¬tara Paulus dan Barnabas memberi nama “Kristen” terhadap agama yang mereka bentuk, yaitu sekitar tahun 42 M. Ini berarti sekitar 13 tahun (42-29=13) setelah Yesus mati, baru muncul agama Kristen bentukan Barnabas dan Paulus. Bahkan didalam Alkitab itu sendiri, kata “Kristen’ hanya disebutkan paling banyak 6 (enam) kali, yaitu pada Kis 11:26, Kis 26:28, Rm 16:7, 1 Kor 9:5, 2 Kor 12:2 dan 1 Ptr 4:16)
Pernahkah Yesus Mengatakan : “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja”
Pertanyaan yang ketiga ini sangat menantang bagi semua pihak, terutama bagi umat Kristiani karena hampir semua umat Kristiani, rasanya tidak ada yang tidak menyembah kepada Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat mereka. Mulai dari anak kecil, dewasa dan orang tua, mereka semua diajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan atau Allah itu sendiri yang harus disembah. Padahal setelah kami pelajari, kaji dan dalami, ternyata tidak ada satu dalilpun di dalam Alkitab (Bible) itu sendiri dimana Yesus pernah bersabda bahwa “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah aku saja.” Tidak ada!! Yang ada justru Yesus bersabda, “Sembahlah Allah Tuhanmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti. ° Ucapan atau sabda Yesus tersebut memberikan suatu pengertian kepada kita bahwa Yesus itu bukan Tuhan atau Allah yang harus disembah, karena dia hanyalah seorang Nabi atau Rasul. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak kisah didalam Alkitab yaitu pada Injil Matius 4:8-10, yaitu ketika Yesus dicoba oleh Iblis sebagai berikut :
“Dan Iblis membawanya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memper¬lihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada¬Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku. ” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:8-10)
Ayat-ayat tersebut adalah seputar kisah tentang percobaan di padang gurun ketika Yesus akan dicobai Iblis. Sebelumnya Iblis mencoba Yesus dengan menyuruh membuat batu-batu jadi roti, namun tidak berhasil, kemudian percobaan kedua Iblis menyuruh Yesus jatuhkan dirinya dari atas bubungan Bait Allah, namun tidak berhasil. Terakhir Iblis membawa Yesus kepuncak gunung yang tinggi dan menawarkan untuk diberikan kepada Yesus semua kerajaan dunia ini dan kemegahannya, asalkan Yesus mau sujud menyembah kepadanya.
Pada percobaan yang ketiga inilah Yesus menghardik Iblis tersebut seraya berkata, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Dari ucapan Yesus tersebut dapat kita pahami:
1. Iblis tahu bahwa Yesus mengajarkan menyembah hanya kepada Allah saja.
2.Terhadap Iblis saja Yesus perintahkan bahwa menyembah dan berbakti itu hanyalah kepada Allah saja, bukan lainnya, bukan juga pada dirinya.
3.Iblis tahu bahwa Yesus itu bukan Tuhan, sebab jika Yesus itu Tuhan, tentu kata¬kata Yesus sebagai berikut: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah aku Tuhan, Allahmu, dan hanya kepadaku sajalah engkau berbakti!”
Yesus sendiri yang memberikan kesak¬sian bahwa menyembah dan berbakti itu, hanyalah kepada Allah, bukan kepada dirinya, mengapa justru Yesus itu yang dijadikan sesembahan oleh umat Kristiani? Bahkan dalam kitab Taurat Musa Ulangan 6:4, dikatakan bahwa Tuhan itu Esa: “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!”
Berdasarkan Taurat dan Injil Tuhan yang disembah itu adalah Tuhan yang Esa, bukan Yesus yang disembah. Bahkan Yesus sendiri menyuruh menyem¬bah hanya kepada Allah yang dia sembah. Seandainya tidak menemukannya berarti Yesus tidak pernah mengajarkan kepada umatnya bahwa dia adalah Tuhan atau Allah itu sendiri, yang harus disembah.
Menyamakan Yesus dengan Tuhan atau Allah, adalah suatu perbuatan dosa, sebab baik Yesus maupun Allah, tidak mengajarkan seperti itu. Bahkan didalam Alkitab itu sendiri, Allah melarang siapa saja yang, menyamakan Dia dengan yang lainnya Perhatikan ayat Alkitab sebagai berikut:
“Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama? (Yesaya 46: 5)
January 29, 2011 at 1:47 pm
Sudah dijawab dalam buku Pdt. Budi Asali, M. Div yang berjudul SIAPA BILANG KRISTEN TIDAK BISA MENJAWAB?? beli dan teliti bukunya di http://golgothaministry.org/
February 1, 2011 at 12:42 am
jawaban di buku itu ga nuambung, berbelit2, mutar2….km jawab pertanyaan sy. kemarin sy posting di bagian video. km jawab ya….
March 8, 2011 at 1:38 pm
wehehehe buku memble itu tho
March 7, 2011 at 4:38 pm
1) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
2) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
3) Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
4) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi[6], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
5) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,[7]mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
6) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
7) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16, 9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati(Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
8) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
9) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
10) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
11) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
a) Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
b) Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
c) Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
d) Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
e) Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
f) Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.
g) Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8]h) Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
12) Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiridengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
13) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
14) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
15) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
16) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.
March 7, 2011 at 4:42 pm
Pendahuluan
Dewasa ini, dengan adanya aliran Modernisme dan Liberalisme, ada banyak orang yang mempertanyakan ke-Tuhanan Yesus. Mereka berpendapat, jika Kitab Suci tidak dapat dibuktikan secara historis, maka berarti isinya belum tentu benar. Akibatnya, mereka memisahkan Yesus sebagai Yesus yang sesungguhnya menurut sejarah (the Jesus of History), dan Yesus yang diimani oleh orang Kristen (the Christ of Faith), dan mengatakan bahwa Yesus yang diimani orang Kristen itu tidak sama dengan Yesus yang sesungguhnya ada dalam sejarah. Contohnya adalah the Five Gospels of the Jesus’ Seminar dan buku karangan Dan Brown, Da Vinci Code, yang intinya menyatakan bahwa seolah Yesus ‘dijadikan’ Tuhan oleh para pengikutNya, dan ke-Tuhanan Yesus baru diresmikan oleh Kaisar Konstantin sekitar tahun 325!
The Jesus of History= the Christ of Faith
Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.
Demikianlah, kita tidak dapat memisahkan Yesus menurut sejarah dan menurut iman, karena memang keduanya adalah satu dan sama, dan Yesus yang sama itu menyatakan Diri-Nya sendiri sebagai Tuhan dengan berbagai cara di hampir semua bagian Injil. Pernyataan Yesus ini kemudian dinyatakan kembali oleh para rasul, sehingga para rasul bukannya mengada-ada, atau mengarang sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Gereja Katolik menurut Vatikan II kembali menegaskan hal tersebut.
Orang Kristen yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan sesungguhnya hampir mengingkari iman Kristen-nya sendiri. Rasul Paulus pernah berkata, jika Kristus tidak sungguh-sungguh bangkit, (dan karenanya bukan Tuhan), maka sia-sialah iman kita (lih. 1 Kor 15:14). Jadi iman kita didasari oleh penjelmaan Tuhan sebagai manusia di dalam diri Yesus Kristus yang bangkit dari mati. Inilah kebenaran sejarah yang kita imani, dan yang kita amini setiap kali kita mengucapkan Syahadat Aku Percaya: “Aku Percaya akan Allah, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati…” Secara historis, Pontius Pilatus adalah nama gubernur pada jaman Yesus, sehingga dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan masuk dalam sejarah manusia.
Pemisahan the Jesus of history dan the Christ of Faith
Sesungguhnya, ide memisahkan Yesus menurut sejarah dan Kristus menurut yang diimani berakar dari jaman Pencerahan (Enlightenment) pada pertengahan abad ke- 19, di mana banyak para pakar Kitab Suci berpendapat bahwa Tuhan itu sepertinya hanya ‘penonton’ serupa ‘pembuat jam’ yang mengamati saja, tanpa dapat campur tangan di dalam sejarah manusia, kecuali dengan menetapkan hukum alam. Sehingga, mereka melucuti Injil dari pernyataan ke-Tuhanan Yesus dan keberadaan mukjizat-mukjizat, termasuk kelahiran Yesus dari Perawan Maria, dan kebangkitan badan, secara khusus kebangkitan Kristus sendiri. Salah seorang pelopor yang mengembangkan teori ini adalah David Friedrich Strauss in 1835[1] yang mengatakan bahwa Kristus yang diimani oleh orang Krsiten berbeda dengan Yesus yang sesungguhnya dalam sejarah. Ide ini dinyatakan kembali oleh Albert Schweitzer dan kemudian oleh Rudolf Bultmann, yang menyimpulkan bahwa Yesus menurut sejarah hanyalah seorang Yahudi di Palestina yang mati di salib.[2] Namun demikian, Bultmann menyimpulkan lebih jauh, dengan mengatakan hal ini memberikan ‘kebebasan’ bagi setiap orang Kristen untuk membentuk gambaran Yesus sendiri menurut iman yang sesuai dengan kebutuhannya. Ini adalah pemikiran Teologi Liberal yang melucuti Alkitab dan menyusun sendiri gambaran Yesus sesuai dengan keinginan manusia secara pribadi. Ini adalah ‘Relativism’: sebab Yesus digambarkan sesuai dengan kehendak pribadi dan bukannya sesuai dengan kebenaran yang sungguh terjadi. Pendapat seperti ini dikecam dengan keras oleh Paus Pius X dalam surat ensikliknya Pascendi Dominici gregis, yang menyebutkan ajaran yang sedemikian sebagai puncak dari segala ajaran sesat, “the synthesis of all heresies”, sebab ajaran tersebut menolak seluruh kebenaran objektif di dalam iman Kristiani.
Namun demikian, ajaran yang kita kenal sebagai ‘Modernism’ ini terus berlanjut sampai dengan abad ke 20, seperti yang kita lihat dalam the Five Gospels, hasil dari the Jesus Seminar. Dasar ajaran mereka: mereka tidak percaya bahwa ada Tuhan yang dapat menjadi manusia. Maka dengan ajaran ini, mereka ingin menghancurkan kebenaran Injil sebagai Sabda Tuhan.
Jika kita perhatikan, ajaran Modernism sesungguhnya ingin mengganti Trilemma tentang kemungkinan identitas Yesus menurut C.S. Lewis, yang sungguh terdengar sangat ‘keras’ di telinga orang Kristen (baca: Mengapa Orang Kristen percaya bahwa Yesus itu Tuhan?), yaitu: bahwa Kristus sungguh-sungguh Tuhan, atau Ia hanyalah seorang yang tidak waras ‘a lunatic’, atau Ia seorang yang lebih buruk daripada penipu ‘a liar’. Mereka menawarkan pendapat baru: bahwa Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan. Dengan demikian, para Modernist sesungguhnya lebih ‘parah’ daripada yang menuduh Yesus sebagai ‘a lunatic/ a liar’ sebab kelompok yang terakhir ini setidak-tidaknya mengakui bahwa Yesus pernah menyatakan DiriNya sebagai Tuhan, hanya saja mereka tidak percaya; sedangkan para Modernist ini mengabaikan semuanya, dan menggeserkan tuduhan kepada para murid Yesus abad pertama, dengan mengatakan bahwa mereka (para murid) itu bersekongkol untuk mengarang suatu mitos/ legenda terbesar sepanjang sejarah, yaitu untuk mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan.
Para murid Yesus tidak mungkin ‘mengarang’ mitos ke-Tuhanan Yesus
Namun, sesungguhnya, akal sehat sendiri dapat membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak mungkin benar, dan bahwa tidak mungkin para rasul adalah pembohong. Berikut ini adalah alasannya:
1) Sebuah mitos tidak mungkin dapat dibuat dalam jangka waktu yang terlalu dekat dengan kejadian aslinya, yaitu pada saat banyak saksi mata kejadian yang masih hidup dan dapat ditanyakan konfirmasinya. Injil ditulis pada generasi yang sama dengan para saksi mata tersebut. Injil Matius pada tahun 50 AD, Lukas dan Markus sekitar 62-68 AD, dan Yohanes tahun 90 AD.[3] Juga penting diketahui, bahwa para pengarang Injil adalah saksi Kristus yang terdekat: Matius dan Yohanes adalah Rasul Yesus, Markus adalah pembantu terdekat Rasul Petrus, dan Lukas adalah pembantu terdekat Rasul Paulus. Jadi, kita dapat mempercayai keaslian dan kebenaran tulisan mereka. Seandainya isi keempat Injil tersebut tidak benar, harusnya terdapat bukti sejarah dari abad pertama yang menyangkal kebenaran Injil (terutama soal kebangkitan Yesus). Namun kenyataannya, tidak ada satupun klaim pada abad awal yang menyangkal kebenaran tersebut yang dapat ditemukan dalam sejarah.[4] Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (55-56 AD) secara jelas menyebutkan Kebangkitan Kristus yang pada suatu kesempatan disaksikan lebih dari 500 orang, dan banyak dari antara mereka masih hidup dan dapat ditanya konfirmasinya (lih. 1 Kor 15:3-8).
2) Sangat tidak mungkin jika kita berpikir bahwa para rasul dapat membuat kebohongan yang konsisten, sebab manusia pada dasarnya lemah dan mudah ‘jatuh’ oleh tawaran suap. Satu kesempatan tawaran saja dapat mengubah semuanya, namun demikian, tidak satupun dari mereka mengubah kesaksian mereka tentang Yesus, walaupun mereka dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh sebagai martir karena kesaksian tersebut. Ini membuktikan bahwa yang mereka katakan tentang Yesus adalah kebenaran, sebab sangat tidak mungkin orang rela mati untuk membela sebuah kebohongan.
3) Sangat tidak mungkin bahwa serangkaian mitos dapat dibuat pada jaman sejarah (di mana segala sesuatu dapat dibuktikan benar atau tidaknya) dan mitos tersebut mendapatkan penghormatan dari banyak orang.
4) Joseph Ratzinger/ Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth mengatakan bahwa tidak mungkin bahwa sekelompok orang yang tidak terkenal ini (para rasul yang mayoritas hanya nelayan) dapat begitu kreatif dan begitu meyakinkan dan dapat mempengaruhi seluruh dunia. Menjadi lebih logis jika kesaksian yang mereka sampaikan sungguh-sungguh terjadi.[5]
5) Pertumbuhan jemaat Kristen yang begitu pesat pada abad pertama hanya dapat dijelaskan oleh kesaksian hidup para murid yang mencerminkan kekudusan, jumlah para murid yang dibunuh sebagai martir untuk membela iman mereka, termasuk di dalamnya hampir semua rasul Yesus, dan kekempat tanda Gereja yang terbentuk pada saat itu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Mitos atau legenda tidak akan mungkin pernah mempengaruhi banyak orang untuk percaya, apalagi sampai menyerahkan hidup mereka.
Maka kesimpulannya: apa yang dikatakan oleh para rasul itu adalah benar. Sebab ke-empat Injil sendiri dipenuhi oleh pernyataan ke-Tuhanan Yesus yang dikatakan oleh Yesus dengan berbagai cara.
Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dengan berbagai cara
Marilah kita lihat beberapa contohnya, seperti berikut:
1) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
2) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
3) Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
4) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi[6], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
5) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,[7] mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
6) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
7) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16, 9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
8) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
9) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
10) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
11) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
a) Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
b) Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
c) Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
d) Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
e) Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
f) Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8] h) Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
12) Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
13) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
14) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
15) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
16) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.
Para Rasul hanya meneruskan kesaksian ini
Jelaslah, bahwa dengan menyaksikan Yesus yang mereka kenal secara nyata dalam sejarah, maka para Rasul dapat dengan penuh keyakinan, menyatakan ke-Tuhanan Yesus. Rasul Petrus menyatakan Yesus Kristus sebagai Allah, dan bahwa ia dan rasul-rasul yang lain mendengar bagaimana pernyataan tersebut dinyatakan dari langit pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. 2 Pet1:16-19). Rasul Paulus, dengan mengalami sendiri Yesus yang bangkit, menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan sebanyak sekitar 230 kali di dalam surat-suratnya kepada jemaat pertama. Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa ia ‘mengingat’ akan apa yang dikatakan Yesus sebelumnya, pada ketiga kejadian yang cukup penting dalam sejarah hidup Yesus: pada saat Yesus menyucikan Bait Allah (Yoh 2:22), pada waktu Minggu Palma (Yoh 12:16),dan Kebangkitan Yesus (Yoh 20:8-9). Hal ini menyatakan bahwa yang ditulisnya benar-benar terjadi. Dari semua ini, kita melihat bahwa pernyataan para rasul adalah sangat jelas dan sederhana, yaitu: kesaksian tentang Yesus sebagai Tuhan adalah kebenaran, dan mereka adalah saksinya. Dengan demikian, tidak mungkin ada pemisahan antara Yesus menurut sejarah dan Yesus yang diimani.
Jadi Ke-Tuhanan Yesus bukan baru diresmikan di awal abad ke- 4!
Dengan uraian di atas, sesungguhnya jelas bahwa Ke-Tuhanan Yesus bukan rekayasa para murid, atau bahkan seperti yang dituduhkan banyak orang, ‘baru diresmikan’ di tahun 325 oleh Kaisar Konstantin. Yang benar adalah: Yesus sebagai Tuhan sudah menjadi kepercayaan jemaat Kristiani sejak zaman para rasul, namun kemudian sekitar tahun 319, terdapat ajaran sesat dari Arius, yang mengatakan bahwa Yesus adalah bukan Tuhan dan tidak sejajar dengan Allah Bapa. Untuk menolak ajaran sesat ini, maka Gereja Katolik, yang waktu itu disponsori oleh pemerintah Konstantin, mengadakan Konsili Nicea (325), yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup yang hampir semua serentak menolak ajaran sesat Arianisme ini.[9] Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu substansi (con-substantial) dengan Allah Bapa. Dengan demikian, Konsili Nicea bertujuan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja tentang ke-Tuhanan Yesus, dan bukan baru meresmikan ke- Tuhanan Yesus!
Penegasan dari Gereja Katolik dewasa ini
Vatikan II melalui Dei Verbum menolak pendapat kaum Modernist ini. Gereja menegaskan kembali asal Injil ini dari para Rasul sendiri yang menjadi saksi hidup Yesus, dan dengan demikian mengkonfirmasi kebenaran pesan Injil (lih. DV 18).[10] Selanjutnya, Gereja menegaskan nilai historis Injil, dengan menyebutkan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah yang sungguh-sungguh Yesus perbuat dan ajarkan untuk keselamatan kekal (lih. DV 19).[11]
Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Novo Millineo Ineunte, mengulangi DV 18 dan DV 19, bahwa Injil dituliskan berdasarkan kesaksian historis/ sejarah. Walaupun demikian, kita tidak menganggap Injil sebagai buku biografi Yesus dalam urutan kronologis. Perhatian pada urutan kronologis dapat membuat seseorang menjadi seperti para Modernist, yang melihat Injil sebagai buku cerita, dan menganggap Injil Yohanes sebagai hanya puisi tentang Yesus, yang ditulis oleh para murid Rasul Yohanes, dan kemudian ditulis seolah-olah dikatakan oleh Yesus!
Mengenai hal ini, Paus Benediktus XVI melalui Jesus of Nazareth mengatakan bahwa memang Injil Yohanes tidak dituliskan dengan urutan historis yang kaku seperti dalam transkrip rekaman, tetapi dalam hal isi, merupakan pernyataan-pernyataan yang berasal dari Yesus sendiri, sehingga pesan Injil tersebut menunjuk kepada Yesus yang sesungguhnya. Segala gambaran dalam Injil Yohanes (air, roti, anggur, Gembala) seperti halnya perumpamaan- perumpamaan yang tertulis dalam Injil Matius, Lukas, dan Markus, dimaksudkan untuk menggambarkan Yesus dan rencana keselamatan-Nya.
Katekismus Gereja Katolik juga sangat jelas menegaskan kembali sikap Gereja dalam hal ini[12] : bahwa Kristus yang tertulis dalam Injil adalah Kristus yang sama dengan Kristus yang ada di dalam sejarah. Injil membantu kita untuk mengalami Yesus yang sungguh hadir dalam sejarah, dan mengimani-Nya. Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa segala gambaran Yesus yang dihasilkan oleh metoda historis modern janganlah sampai membuat kita menciptakan sendiri gambaran Yesus, dan kemudian menyebutnya sebagai Yesus menurut sejarah, lalu menuduh bahwa Injil hanya rekaan jemaat abad pertama. Sekali lagi, hal ini tidak mungkin terjadi, sebab cara sedemikian pasti menimbulkan kontradiksi yang tidak memungkinkan berkembangnya Iman Kristiani sampai sekarang, yang sudah mengubah dunia.[13]
Penutup
Pada akhirnya, kita harus mengakui soal menerima ke-Tuhanan Yesus adalah soal iman. Bagi mereka yang percaya, memang bukti sejarah sampai sedetail-detail-nya tidak diperlukan. Tapi bagi mereka yang tidak percaya, bahkan bukti yang sudah nyata dan detail sekalipun tidak dirasa cukup. Akhirnya, kita meyakini bahwa iman adalah karunia. Kita percaya akan janji Tuhan Yesus, “… Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:40). Dan karena Tuhan Yesuslah yang menghakimi semua orang di akhir zaman nanti, patutlah kita memegang janjiNya ini, dan dengan iman yang teguh kepada-Nya, kita percaya Dia akan memenuhi janji-Nya. Terpujilah Tuhan Yesus!
March 8, 2011 at 1:36 pm
jika yesus dianggap tuhan anak secara sebenarnya berarti tuhan bapa juga harus dianggap bapa dalam arti sebenarnya maka jika ada anak pasti hasil hubungan antara laki2 dan perempuan trus tuhan ibunya dimana?
March 10, 2011 at 5:42 pm
ibunya ya Bunda Maria,goblok gitu aja nanya
March 7, 2011 at 4:59 pm
dimana juga pengakuan si mamad klo dia beragama islam????
March 8, 2011 at 1:34 pm
dimana juga yesus memberi nama kristen pada ajarannya?
March 10, 2011 at 5:41 pm
ya berarti sama dong,si mamad aja ga pernah ngaku klo dia agama islam.
March 10, 2011 at 5:47 pm
Kristen= pengikut Kristus atau pengikut Yesus,islam=damai,damai apanya,wong rusuh terus,dan mestinya namanya bukan islam dong,katanya pengikut allah???allah yg mana?? klo Kristen jelas,sama dengan pengikt Kristus,tp islam apa sama dgn pengikut allah,saya rasa tidak……mgkn pengikut setan.
March 7, 2011 at 5:03 pm
si mamad aja ga pernah ngaku klo dia agama islam,dia cuma suruh nyembah allah,trus allah yg mana???? apa sama dgn YAHWE=Akulah Dia= I am who I am=Yesus.jd udah jelas yg disembah si mamad tu beda dgn yg disembah orang Kristen dan Gereja Katolik.
March 8, 2011 at 1:31 pm
la apakah yesus pernah mengaku tuhan sehingga minta disembah, malah yesus nggak pernah tu ngasih nama kristen pada ajaran yang dia bawa bahkan nggak pernah ngajarkan mendirikan gereja lebih gawatnya lagi nggak pernah tu dia nyuruh umatnya beribadah pada hari minggu
March 10, 2011 at 5:50 pm
udah dijawab kan,Yesus mengaku Akulah Dia=I am who I am= YAHWE= Tuhan.Kok nanya lagi?????udah jelas Tuhannya Israel ,Yahudi dan Kristen adalah sama yaitu YAHWE=I am who I am=Akulah Dia.jadi berbeda dgn islam.
March 10, 2011 at 5:55 pm
lagian Tuhan dalam Kristen,tidak seperti tuhan dalam islam yg maunya disembah terus,tiap hari aja mesti 5 kali disembah,berbeda dgn Tuhan dlm Kristen yg datang untuk melayani manusia,jd ya udah jelas Yesus datang bukan untuk disembah.
March 10, 2011 at 6:00 pm
makanya baca lagi yg detil…Dengan memberikan nama “Batu Karang” kepada Petrus dan mengatakan bahwa Ia akan mendirikan jemaat/ Gereja-Nya atasnya (Mat 16: 15-19). Ayatnya sebagai berikut:
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”…………Jadi udah jelas Yesus mendirikan Gereja,bukan mesjid/bait allah.
March 10, 2011 at 6:10 pm
klo masalah hari minggu juga sudah jelas dalam 10 perintah Tuhan yg ke 3 yg berbunyi:”Ingatlah dan Kuduskanlah hari Sabat” hari Sabat sama dengan hari Sabtu pukul 1800 sampai hari Minggu pukul 1800,jadi udah jelas Tuhan menyuruh menghormati hari Sabtu dan juga hari Minggu,sekarang aja makanya kenapa setiap hari Minggu tanggal merah dan hari Sabtu pegawai negri libur kan?? bukannya hari jumat,hari jumat mah harinya si mamat sunatan kali ahhh.jd udah ngerti blm jack?? mau nanya apa lagi? saya siap jawab.
March 15, 2011 at 2:37 pm
@valentine
kata “anak Allah” nggak cuman untuk yesus aja, coba anda baca lagi al kitab anda
yang bener tuhan anda ini yesus/yahweh/roh kudus?
March 15, 2011 at 2:42 pm
@valentine
sebaiknya anda jangan terlalu banyak membual hari sabath dimulai dari jumat sore bukan sabtu sore
Sabat (שבת shabbāṯ, “istirahat” dalam bahasa Ibrani, atau Shabbos dalam ucapan Ashkenazi), adalah hari istirahat setiap Sabtu dalam Yudaisme. Hari Sabat dirayakan dari saat sebelum matahari terbenam pada hari Jumat hingga tibanya malam pada hari Sabtu. Perayaan ini dilakukan oleh banyak oarng Yahudi dengan berbagai tingkat keterlibatan dalam Yudaisme. Dari kata Sabat ini diperoleh istilah Sabbath dalam bahasa Inggris, Sabt dalam bahasa Arab (السبت), dan Sabtu dalam bahasa Indonesia. Dari kata ini pula muncul konsep sabatikal, yaitu beristirahat pada Sabat.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sabat
March 15, 2011 at 2:28 pm
Yesus tidak pernah berkata bahwa Dia beragama Kristen. Kristen mulai dipakai di Antiokia (Kis 11:23-26). Jadi yang membuat nama Kristen adalah adalah Barnabas dan Paulus. Kristen hanya disebut 6x (Kis 11:26, Kis 26:28, Rm 16:7, 1 Kor 9:5, 2 Kor 12:2 dan 1 Ptr 4:16).
“Tunjukkan kepada saya, bahwa Bill Gates adalah orang kaya. Kalau dia tidak pernah mengatakan bahwa dia orang kaya, saya tidak akan percaya bahwa dia orang kaya.” Pernyataan seperti ini tidak mendasar, karena kita dapat melihat buktinya bahwa Bill Gates mempunyai uang 58 milyar US$, yang kurang lebih sekitar 60% dari budget negara Indonesia tahun 2008. Organisasi amalnya mempunyai uang sekitar 32% dari total budget negara indonesia selama satu tahun. Kalau kita tetap bersikeras bahwa Bill Gates tidak kaya, karena Bill Gates tidak pernah mengatakan bahwa dia kaya walaupun bukti-bukti di atas sudah menunjukkan bahwa Bill Gates orang yang sangat kaya, rasanya keberatan seperti itu kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Atau contoh yang lain, seorang anak mengatakan “saya tidak percaya bahwa orang tua saya mencintai saya, karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka mencintai saya.” Namun orang tua dari anak itu, sebenarnya begitu memperhatikan, berlaku lemah lembut, selalu ada di samping anak itu kalau anak itu mengalami kesulitan, mencukupi semua kebutuhan anak itu, meluangkan waktu untuk bercanda, bercerita, dll.
Contoh yang mungkin lebih gamblang adalah seseorang yang bertanya kepada seorang suami dan mengatakan “Saya tidak akan percaya bahwa istri kamu adalah seorang wanita, karena dia tidak pernah mengatakan bahwa dia seorang wanita.” Tentu saja sang suami tidak terpengaruh, karena sang suami tahu persis bahwa istrinya adalah seorang wanita, karena istrinya telah melahirkan beberapa anak, dll.
Begitu mudah orang untuk mengatakan bahwa “saya kaya, saya mengasihi engkau”, namun belum tentu terbukti. Nah dalam hal ini, Tuhan kita yang menjelma menjadi manusia, telah menunjukkannya dalam segala perkataan dan juga dalam perbuatan, bahwa dia adalah Allah yang benar-benar mengasihi umat-Nya. Mana yang lebih besar tanda kasihnya “perkataan saya mengasihi engkau” atau “mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia”? Oleh karena itu, jawaban-jawaban berikut ini tidak akan mencoba untuk mencari-cari perkataan seperti yang diinginkan oleh penanya, namun membuktikan apa yang sesungguhnya mau ditanya.
March 15, 2011 at 2:48 pm
dimana ya bill gate mengaku dia kaya?
apa nama bill gate juga orang lain yang memberikannya (bukan keluarga)?
January 30, 2011 at 6:01 pm
Pada tahun lalu sebuah televisi swasta menayangkan sebuah acara realty show yang ditayangkan seminggu sekali dengan materi acara menguji keberanian seseorang untuk mengalami penampakan hantu atau roh halus di sebuah tempat yang dinilai cukup menyeramkan atau mengandung sebuah misteri. Yang mereka maksudkan dengan penampakan hantu atau roh halus adalah penampakan sosok dari seseorang yang telah mati dan arwah yang bersangkutan tidak diterima bumi dan langit sehingga gentayangan dan kadangkala menampakkan diri kepada seseorang bahkan bercakap-cakap (Islam tidak mengajarkan adanya arwah yang menampakkan diri atau gentayangan, kalau ada penampakan itu terjadi karena korin menyerupakan diri dengan rupa seseorang yang telah mati. Korin adalah jin yang selalu menyertai seseorang ketika masih hidup.)
Dalam tradisi kekristenan, Yesus diyakini pernah menampakkan diri, bercakap-cakap dan menyampaikan pesan kepada murid-muridnya pasca Yesus dianggap telah dibangkitkan dari kematian-nya, kisah penampakan Yesus ini telah membuka pintu yang sangat lebar bagi sebuah diskusi yang menarik, alasannya,
Pertama, dari segi kisah penampakannya sendiri, Yesus dalam rupa penampakan tidak ubahnya seperti Yesus ketika masa hidupnya, tubuhnya berdaging, berdarah, merasakan sakit, lapar yang kemudian makan ikan goreng dan dapat diraba, sementara dalam kisah yang lain Paulus mengalami penampakan dalam rupa cahaya atau suara saja seperti kisah-kisah penampakan pada acara-acara televisi saat ini. Mungkin saja orang-orang Kristen berdalih hal itu terjadi karena penampakan dalam rupa yang berdaging, berdarah, lapar dan dapat diraba adalah penampakan Yesus sebelum diangkat ke langit, dan penampakan Yesus kepada Paulus adalah penampakan setelah Yesus terangkat ke langit, dalih semacam itu sesungguhnya tidak sesuai dengan ayat dalam Kisah Para Rasul 1:11 yang menyatakan �Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”.
Adanya rupa yang berbeda-beda dalam penampakan sudah cukup bagi seseorang untuk mempertanyakan/mendiskusikan perihal kebenaran kisah penampakan Yesus.
Kedua, dalam apa yang diduga sebagai penampakan-nya terdapat sesuatu yang sangat mengejutkan, yaitu sabda-sabda Yesus dalam penampakan kontradiktif �bertentangan- dengan sabda-sabda dan perbuatan-nya ketika dalam masa hidup-nya, salah satu contoh sabda yang dinisbahkan kepada Yesus dalam penampakan-nya adalah :
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Injil Matius 28:19
Dalam ayat tersebut, mengandung makna bahwa Yesus memerintahkan kepada murid-muridnya agar semua orang-orang di seluruh dunia dijadikan muridnya dan dibaptis atas nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang berarti Yesus memerintahkan kepada murid-muridnya untuk menyebarkan ajarannya ke seluruh dunia �keluar dari Israel-.
Sedang dalam masa hidupnya Yesus pernah bersabda kepada murid-muridnya tentang batasan wilayah dakwah :
Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Injil Matius 10:5-6
Dalam ayat tersebut sangat jelas maksudnya dan umat Kristen tentu sepakat bahwa Yesus melarang murid-muridnya berdakwah ke bangsa lain selain bangsa Israel, bahkan Yesus melarang untuk berdakwah ke kota Samaria, padahal Samaria adalah ibukota Israel utara, alasan Yesus melarang ke kota Samaria hanya karena penduduk Samaria mayoritas berdarah campuran antara Israel dan penduduk pendatang atau penjajah. Umat Kristen juga sepakat dalam ayat tersebut Yesus menegaskan perin-tahnya kepada murid-muridnya agar berdakwah kepada orang-orang Israel saja.
Dalam masa hidupnya Yesus juga pernah menegaskan bahwa kemukjizatan yang dimilikinya adalah untuk membangun keimanan bangsa Israel bukan untuk selain bangsa Israel, hingga suatu ketika seorang wanita Kanaan (bukan Israel) meminta pertolongan kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang sakit keras dan sangat menderita, namun Yesus melaknya dengan bahasa yang amat keras �bagi ukuran orang-orang Indonesia- :
“Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Matius 15:26
Maksudnya, Yesus menyampaikan tidak patut mukjizat yang dimilikinya yang disediakan bagi pembentukan dan pembangunan keimanan orang-orang Israel (disebut anak-anak) lalu diberikan kepada orang yang bukan orang Israel (disebut anjing). Walaupun akhirnya Yesus bersedia menolongnya, namun misi keagamaannya tetap tidak ia sampaikan kepada wanita Kanaan tersebut.
Dan masih ada beberapa contoh ayat-ayat yang dinisbahkan sebagai ucapan/sabda Yesus dalam penampakannya yang bertentangan dengan ayat-ayat yang dinisbahkan sebagai ucapan dan perbuatan Yesus ketika dalam masa hidupnya. Tentu saja pertentangan-pertentangan tersebut melahirkan sebuah pertanyaan yang menarik untuk dijawab, benarkah penampakan itu ada ? kalau ada lalu bagaimana menjelaskan ketidak-konsisten-an Yesus dalam mewartakan misinya ? kalau tidak ada, bagaimana menjelaskannya ? dan masih banyak pertanyaan seputar kisah penampakan Yesus.
Bagi umat Islam tentu mudah dan simple untuk menjawab pertentangan-pertentangan tersebut dengan hanya dua kata :
KISAHNYA PALSU
Yang artinya menurut tradisi ke-Islam-an kisah penampakan Yesus adalah kisah palsu dan sebagai konsekwensinya adalah ayat-ayat atau sabda-sabda yang dinisbahkan kepada Ye-sus adalah palsu bukan dari Yesus, di samping itu al-Qur�an telah memberikan informasi bahwa nabi Isa u -Kristen : Yesus- diutus hanya kepada bani Israel �QS. 61:6.
Namun, adalah wajar bila umat Kristen tidak dapat menerima begitu saja jawaban secara ke-Islam-an yang teramat simple dan berten-tangan dengan iman mereka, adalah wajar bila umat Kristen menuntut penjelasan yang lebih detil dan dapat dipertanggung-jawabkan sesuai tradisi ke-Kristen-an untuk membuktikan dugaan bahwa ayat-ayat atau sabda-sabda dalam penampakan adalah palsu.
Untuk membuktikannya, mari kita kaji salah satu ayat atau sabda yang dinisbahkan kepada Yesus pasca dugaan kebangkitan-nya dari kematiaanya.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Injil Matius 28:19
Ada dua poin utama dalam ayat tersebut yang akan kita kaji kebenarannya yaitu : pertama, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, kedua, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
POIN PERTAMA
jadikanlah semua bangsa murid-Ku, Injil Matius 28:19
Bila dibandingkan dengan sabda-sabda atau perbuatan Yesus ketika masa hidupnya, yang ternyata kontradiktif maka sudah cukup untuk meyakini bahwa ayat tersebut bukan sebagai ucapan Yesus, alasannya, Yesus sendiri pernah menyampaikan nubuatan yang kontradiktif dengan perintah untuk menjadikan semua bangsa muridnya :
Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Injil Matius 19:28
Dalam ayat tersebut dinyatakan, bahwa pada hari kebangkitan nanti, ketika Yesus bersemayam di takhta kemulian Allah, dua belas murid Yesus juga akan duduk di duabelas takhta yang telah disediakan bagi mereka untuk menghakimi kedua-belas suku Israel.
Kalau memang benar Yesus memerintahkan kepada murid-muridnya untuk menyebarkan misinya ke seluruh dunia, maka sebenarnya misi tersebut adalah misi yang sia-sia, karena Yesus dan dua-belas muridnya di hari penciptaan kembali nanti hanya akan menghakimi orang-orang yang berasal dari dua-belas suku Israel saja dan dalam nubuat itu Yesus sama sekali tidak menyinggung tentang adanya murid-murid yang berasal dari bangsa lain se-lain bangsa Israel, nubuat tersebut �Injil Matius 19:28- sudah cukup untuk meragukan keabsah-an perintah Yesus untuk menjadikan semua bangsa sebagai muridnya -Injil Matius 28:19-.
Sejarah juga telah membuktikan bahwa pasca dugaan kebangkitan dan kematian Yesus para murid-murid Yesus terkesan ragu-ragu bahkan terkesan mengabaikan perintah Yesus untuk menjadikan semua bangsa murid-nya.
Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati.. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. Kisah Para Rasul 11:19
Ayat tersebut mengisahkan para murid Yesus yang melarikan diri ke luar dari bangsa Israel, tetap memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi saja. Kisah tersebut memberikan beberapa kemungkinan yaitu murid-murid Yesus tidak mematuhi perintah-nya untuk menyebarkan Injil ke seluruh bangsa, bisa juga karena memang tidak ada perintah untuk menyebarkan Injil ke seluruh bangsa, namun mengatakan para murid Yesus tidak taat adalah naif, karena gereja-geraja awal juga mempunyai sikap yang sama yang tidak mengabarkan Injil kepada orang orang selain orang Israel. Bahkan para tua-tua gereja awal menghukum Petrus hanya lantaran Petrus makan bersama-sama dengan orang-orang non Israel. Paulus �bukan murid Yesus dan tidak pernah bertemu dengan Yesus selama hidup Yesus- juga mendapat kesulitan dalam meyakinkan gereja Yerusalem awal untuk mendapatkan izin menyampaikan Injil kepada orang-orang non Israel. Kalau memang Yesus memerintahkan untuk menjadikan segala bangsa muridnya, bagaimana mungkin hal itu terjadi ?. Nubuat dalam Injil Matius 19:28 dan kisah-kisah tersebut di atas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa tidak mungkin Yesus memerintahkan �Jadikanlah semua bangsa muridku�, artinya ayat tersebut adalah ayat palsu, bukan sabda Yesus.
POIN KEDUA
�. baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Injil Matius 28:19
Pembaptisan atas nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus adalah sebuah bentuk pembaptisan liturgis -Tata cara kebaktian gereja- yang jikalau ditelusuri sejarahnya tidak akan lebih awal dari 200 tahun setelah masa kerasulan Yesus, sebelum masa-masa itu pembaptisan terindikasi hanya atas nama Yesus Kristus. Hal ini dapat dilihat adanya fakta ayat bahwa Petrus dan saudara-saudara lainnya membaptis hanya dengan nama Yesus Kristus :
Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Kisah Para Rasul 2:38
Jikalau memang Yesus pernah memberi perintah kepada murid-muridnya agar membaptis dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus bagaimana mungkin bisa terjadi murid-murid Yesus membaptis hanya dengan nama Yesus ?. Ada dua kemungkinan jawaban yang dapat diberikan yaitu Yesus memang tidak memerintahkan pembaptisan dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus atau memang murid-murid Yesus yang tidak mentaatinya.
Pada abad ke 4 Masehi terdapat kutipan Injil Matius 28:19 oleh Eusebius Pamphili seorang uskup Caesarea, dia menyatakan sebagai �membaptis atas namaku�. Oleh karena itu paling tidak hingga akhir abad ke 4 M Injil Matius 28:19 masih mengalami proses editing oleh orang-orang yang ada di gereja-geraja Kristen awal.
Fakta ini memberikan titik terang bahwa Yesus sepertinya tidak memerintahkan pembatisan dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, bahkan dengan studi yang lebih kritis Injil Matius pasal 28 sepertinya telah selesai pada ayat ke-15, sehingga ayat-ayat ke-16 hingga ke-20 berkualitas palsu.
Dua uraian dalam poin pertama dan kedua di atas kiranya telah cukup dalam memberikan pandangan dan penjelasan tentang ketidak-validan ayat-ayat yang dinisbahkan sebagai ucapan Yesus dalam penampakannya.
Karena hal di atas menyangkut valid dan tidaknya misi penyebaran Injil ke seluruh dunia berdasarkan Injil mereka sendiri, maka sudah selayaknya bila seseorang harus mengkaji ulang ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat serupa lainnya bila ingin menyebarkan Injil ke seluruh dunia, berikut ini beberapa contoh ayat-ayat yang digunakan sebagai landasan misi penyebaran Injil:
Lalu Ia berkata :�Pergila ke seluruh dunia, beritakanlah Injil �. Injil Markus 16:17
Dengan menguraikan seperti pada poin pertama di atas maka akan diperoleh kesimpulan yang kurang-lebih sama dengan Injil Matius 28:19 yang mustahil sebagai ucapan Yesus dalam penampakannya pasca anggapan kebangkitannya.
Contoh ayat lainnya yang juga dinisbahkan sebagai ucapan Yesus dalam penampakan yang digunakan sebagai landasan hukum untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia adalah :
�.Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi�. Kisah Para Rasul 1:8 / Injil Lukas 24:47-49
Ayat tersebut sangat menarik untuk didiskusikan karena penisbahannya kepada Yesus sebelum terangkat ke langit. Islam dan Kristen sama-sama mengakui Yesus terangkat ke langit tetapi Islam meyakini tanpa melalui kebangkitan dan kematian. Bisa jadi ayat tersebut memang benar adanya tetapi bukan sabda dalam penampakannya. wallahu’alam (al-islahonline.com)
Sungguh kasihan orang-orang kristian kabar sukacita Injil rupa-rupanya palsu!
Di mana ada kristian di sana ada pembohongan.Wahai orang-orang kafir! kalian akan masuk neraka jika tidak bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yg berhak disembah melainkan Allah dan nabi Muhammad itu adalah utusan Allah pasti kalian akan mendapat kejayaan.
February 1, 2011 at 1:01 am
tonton aja video di link ini
February 1, 2011 at 3:35 am
NYEMBAH ISA DIA MANUSIA, NYEMBAH YESUS DIA MURID ISA YANG BERKHIANAT, NYEMBAH ROH KUDUS DIA MALAIKAT JIBRIL ‘, NYEMBAH ALLAH BARU BETOOOOL.HANYA MENYEMBAH ALLAH TITIK.
Reply
1. siapmurtad Says:
November 20, 2010 at 6:39 am
Yahudi dan Kristen Menyembah YAHWEH, sedangkan YESUS dari kata YEHOSHUA=YAHWEH-SHUA yang artinya YAHWEH yang Menyelamatkan, karena sesuai dengan Mat 1:21 Dan dia akan melahirkan seorang Putra dan engkau akan menyebut Nama-Nya: YESUS, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. dan juga Mat 1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia IM-MANU-EL” –yang berarti: TUHAN yaitu ELOHIM dengan kita (Allah Dengan Kita).
Seruan kepada Yesus pun sama, yaitu DIBERKATILAH YESUS yang DATANG dalam NAMA YAHWEH, karena memang Yesus itulah YAHWEH…. jadi bukan menyembah Allah (Sang Berhala di zaman Arab)
TAMPILKAN INJIL ASLI KALO BERANI BILANG SAMA PAUS INDONESIA PERLU INJIL ASLI BAHASA IBRANI DARI INJIL MENURUT NABI ISA.BUKANMENURUT LUKAS, BUKAN MENURUT MATIUS, BUKAN MENURUT YOHANES.TAPI MENURUT NABI ISA? MANA …..MANNNNNNNNNAAA?JANGAN TERJEMAHANNYA.KALO SIAP MURTAD TAHU BUKA KITAB KEJADIAN DISANA DISEBUT ALLAH.
DIMALYSIA UDAH DILARANG KRISTEN NYEBUT ALLAH.KARENA TUHAN MEREKA ELI BUKA MATIUS.ELI .. ELI KATA YESUS.
NYEMBAH ISA DIA MANUSIA, NYEMBAH YESUS DIA MURID ISA YANG BERKHIANAT, NYEMBAH ROH KUDUS DIA MALAIKAT JIBRIL, NYEMBAH ALLAH BARU BETOOOOL.HANYA MENYEMBAH ALLAH TITIK.
Reply
2. siapmurtad Says:
November 20, 2010 at 6:39 am
Yahudi dan Kristen Menyembah YAHWEH, sedangkan YESUS dari kata YEHOSHUA=YAHWEH-SHUA yang artinya YAHWEH yang Menyelamatkan, karena sesuai dengan Mat 1:21 Dan dia akan melahirkan seorang Putra dan engkau akan menyebut Nama-Nya: YESUS, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. dan juga Mat 1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia IM-MANU-EL” –yang berarti: TUHAN yaitu ELOHIM dengan kita (Allah Dengan Kita).
Seruan kepada Yesus pun sama, yaitu DIBERKATILAH YESUS yang DATANG dalam NAMA YAHWEH, karena memang Yesus itulah YAHWEH…. jadi bukan menyembah Allah (Sang Berhala di zaman Arab)
ANDA NIH KETAHUAN KAGAK BACA ALKITAB
DONLOD TUH ALKITAB DIGITAL.
kitab kitab kejadian genesis
HANYA PENYEMBAH ALLAH YANG DISUNAT DAN DILARANG MAKAN BABI.
PENYEMBAH PAULUS BOLEH TIDAK SUNAT BOLEH MAKAN BABI KARENA AGAMA KRISTEN BUATAN PAULUS SI PENGKHIANAT NABI ISA.
BACA NI BAIK2 AL KITAB KITAB KEJADIAN.
17:1. Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.
17:2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.”
17:3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya:
17:4. “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
17:5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
17:6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
17:7. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
17:26 Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat.
17:27 Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia.
BACA NIH SEJARAH BACA NI ALKITAB PARA NABI HANYA MENYEMBAH ALLAH.NABI ISMAIL ITU MOYANG BANGSA ARAB MEREKA DISUNAT.NABI MUHAMMAD ITU KETURUNAN NABI IBRAHIM PENYEMBAH ALLAH.HIDUP MULIA TIDAK TERCELA. JANGAN PERCAYA AGAMA KRISTEN BUATAN PAULUS.INI KETERANGAN ALLAH MAU BERIMAN PADA KITAB MANA LAGI ANDA.KEMBALILAH KE ISLAM ANDA AKAN SELAMAT.
February 1, 2011 at 7:54 am
Tampilkan Injil Asli kalo Berani? gampang, download Program E-Sword gratis di http://www.e-sword.net, lalu Download Bible Asli bhs Yunani di http://www.e-sword.net/bibles.html untuk Perjanjian Baru yaitu GNT-TR (Greek New Testament)-Textus Receptus dan HOT (Hebrew Old Testament) yaitu Perjanjian Lama dalam bhs Ibrani. Maka installah program dan biblenya, segera akan anda nikmati Bahasa Asli ALKITAB Ibrani PL dan Yunani PB. Gitu z kok repot…..
Kejadian Pasal 17 yg anda kutip, bhs aslinya
17:1. Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka YAHWEH menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah El-Shadday (Elohim yang Mahakuasa), hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.
17:2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.”
jadi tidak akan anda temukan bahwa Orang Ibrani/Israel dan Abraham menyembah ALLAH, namun mereka termasuk orang Nasrani menyembah YAHWEH.
17:3 Lalu sujudlah Abram, dan Elohim berfirman kepadanya: ……dst
Jadi Mohon maaf saja, Hanya Muslim dan Muhammad yang nyembah ALLAH (Berhala si Dewa Bulan zaman Arab jadul)…. hehehe
February 14, 2011 at 4:38 pm
Masalah paling besar yang dihadapi dunia Kristen zaman sekarang bukanlah masalah kurangnya pemahaman, sebagaimana kurangnya kehendak dan keinginan untuk menerima kebenaran. Ajaran Kristen, apakah itu yang berupa kisah dongeng atau pun kisah nyata, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peradaban Barat dan telah memainkan suatu peran penting dalam kolonisasi dan penaklukan-penaklukan imperialisme mereka. Ajaran Kristen mendukung sistim-sistim politik dan ekonomi mereka serta memberikan, kepada mereka suatu kekuatan yang menyatu dan saling bertalian, sehingga menjadikan mereka sebagai satu wujud yang kuat dan menyatu. Ajaran Kristen telah memainkan sebuah peran vital dalam membangun dan membentuk sistim sosial politik dan ekonomi Barat yang pelik. Apa yang kita pahami sebagai peradaban Barat atau imperialisme Barat dan dominasi ekonominya, telah dirasuki oleh beberapa unsur ajaran Kristen. Dalam kondisinya sekarang, ajaran Kristen tampak cenderung berbakti dengan lebih baik bagi tujuan-tujuan material Barat dibandingkan bagi tujuan ruhani. Sedangkan pada masa lalu peran ajaran Kristen lebih banyak mengarah pada dukungan terhadap kepercayaan-kepercayaan Kristen dan dalam membangun nilai-nilai moral.
Peran paling bersejarah yang telah dimainkan oleh ajaran Kristen, adalah dalam membangun dan memperbesar Imperialisme Barat. Dunia Timur telah ditaklukkan dengan semangat Kristen dan khususnya dalam peperangan yang dilakukan terhadap kerajaan Islam yang didorong secara kuat oleh kebencian Kristen terhadap Islam.
Kristen dan Kolonialisme
Ketika kekuasaan kolonial menaklukkan hampir seluruh benua Afrika dan mengikat penduduk Afrika mulai dari mahkota hingga ke ujung kaki dalam rantai-rantai ikatan politik, mereka tidak harus menunggu lama sampai tangan dan kaki mereka terikat dalam rantai-rantai perbudakan ekonomi. Penaklukan-penaklukan imperial tidak akan bermakna tanpa suatu penaklukan ekonomi rakyat. Tidak jauh di belakang para penguasa politik dan ekonomi, datanglah para pendeta Kristen, mengenakan jubah kerendahan hati dan pengorbanan diri. Tujuan mereka mengunjungi Afrika tampil [seolah-olah] sama sekali bertolak belakang dengan tujuan barisan depan politik dan ekonomi mereka. Mereka datang tidak untuk memperbudak, seperti yang mereka katakan, tetapi untuk memerdekakan jiwa Afrika. Cukup mengejutkan bahwa rakyat Afrika tidak mempertanyakan niat yang tampaknya mulia itu. Mengapa mereka tidak mempertanyakan secara hormat para pemimpin Gereja yang ramah dan dermawan, misalnya mengapa para pendeta itu harus kasihan hanya terhadap jiwa-jiwa mereka saja? Tidakkah para pendeta itu dapat melihat betapa tubuh mereka telah diperbudak secara keji? Bagaimana sampai kemerdekaan politik mereka tanpa alasan telah dirampas? Bagaimana sampai mereka telah diikat dalam rantai-rantai perbudakan ekonomi? Mengapa para pendeta itu tidak kasihan terhadap kondisi lahiriah mereka yang dibelenggu dan mengapa mereka hanya tertarik pada pembebasan jiwa suatu masyarakat yang telah diperbudak?
Kontradiksi yang melekat ini nyata sekali, tetapi tidak terlalu nyata bagi mereka yang telah menjadi mangsa korban rekayasa-rekayasa Kristen. Afrika memang lugu, dan lebih lugu sekarang dibandingkan dua ratus tahun lalu. Masyarakat Afrika masih tidak menyadari perbuatan memperbudak mereka secara politik maupun ekonomi melalui sistim neo-kolonialisme yang tidak tampak dan dikendalikan jarak jauh. Mereka tetap tidak merasakan bahwa bagi mereka Kristen hanyalah suatu alat penjajahan.
Seperti opium yang telah membuat mereka terleria dalam tidur nyenyak tanpa sadar. Hal itu memberikan rasa keterikatan mereka yang keliru terhadap para penguasa mereka dalam menikmati bersama paling tidak sesuatu pada landasan yang setara dengan mereka Dalam makna keterikatan seperti itulah mereka telah digiring untuk meniru gaya hidup Barat yang sangat mahal. Pohon-pohon tetap tertanam dinegeri-negeri asing, tetapi hanya buah-buah saja yang diangkut kepada orang-orang yang telah ketagihan terhadap rasa buah tersebut. Inilah sebuah gambaran kecil bagaimana Kristen selamanya telah menjadi sangat dibutuhkkan bagi imperial Barat dan penjajahan ekonomi Dunia Ketiga.
Di Barat sendiri, terlepas dari apakah seorang awam memahami kepelikan dogma Kristen atau tidak, dia memandang Kristen sebagai suatu bagian yang menyatu dalam budaya dan peradabannya. Hendaknya diingat, kekuatan nyata nilainilai Kristen, di mana pun nilai-nilai itu bertahan, tidaklah terletak pada kepercayaan-kepercayaan Kristen yang berbau dongeng. Melainkan, terletak pada penekanan terhadap kebaikan, simpati, pengabdian demi penderitaan dari nilainilai lainnya yang telah identik dengan Kristen. Walaupun nilai-nilai ini umum terdapat pada seluruh agama di dunia dan tampaknya merupakan tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk dicapai oleh seluruh umat manusia, tetapi propaganda gencar yang dilakukan oleh Kristen secara terusmenerus menekankan peran-peran tersebut dalam kaitan dengan Kristen saja, dan dengan demikian telah berhasil membuat orang-orang yakin dalam jumlah besar. Ajaran tentang simpati, baik budi, kebaikan dan perilaku lembut memainkan pengaruh magic pada telinga-telinga dengan musiknya yang memukau. Dunia romantis inilah yang secara umum telah menarik orang-orang ke dalam agama Kristen. Demikianlah, secara beriringan, berbeda dari itu; Kristen menjalankan kenyataan-kenyataan keras, politik, ekonomi kehidupan Barat dan penjajahannya di seluruh dunia.
Tampaknya paradoks dogmatis yang harus dijalani oleh umat Kristen dalam hidup mereka, dalam kadar tertentu telah menjelma dalam perilaku keduniawian mereka. Kebaikan, kerendahan hati, toleransi, pengorbanan dan kata-kata mulia lainnya seperti itu tampil bergandengan dengan kekejaman, penindasan, ketidakadilan yang menyolok, dan penjajahan dalam skala besar di dunia terhadap orang-orang yang tidak mampu membela diri. Ketentuan hukum, keadilan dan aturan main yang jujur tampaknya hanya merupakan mata uang yang berlaku di kalangan budaya-budaya Barat sendiri saja. Dalam hubungan-hubungan internasional, ternyata ketentuan-ketentuan itu diperlakukan sebagai istilah-istilah tolol dan kuno yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh hanya oleh pihak-pihak yang lugu.
Politik-politik internasional, hubungan-hubungan diplomasi dan ekonomi tidak mengenal keadilan selain yang menguntungkan bagi kepentingan nasional. Nilai-nilai ajaran Kristen, betapa pun baiknya, tidak diizinkan untuk memasuki kawasan kekuasaan politik-politik dan ekonomi Barat. Ini merupakan kontradiksi yang paling tragis di zaman modern.
Ketika sampai kepada gambaran yang ditampilkannya, ajaran Kristen hanya ditampilkan dalam bentuk budaya dan peradaban Barat yang atraktif yang mengajak dunia Timur kepada suatu kehidupan yang nyaman, riang, serba memperbolehkan, dibandingkan dengan ketentuanketentuan yang umumnya kaku pada masyarakatmasyarakat agama mereka yang merosot. Ajaran emansipasi/kebebasan ini dalam skala besar keliru dipahami oleh masyarakat yang kurang terpelajar di Dunia Ketiga sebagai sesuatu yang sangat atraktif. Ditambah lagi keuntungan psikologis tambahan berupa perolehan suatu rasa kepemilikan terhadap dunia maju melalui kesamaan agama, dan orang mulai mengenali peran hakiki Kristen dalam menarik sejumlah besar orang-orang yang terinjakinjak di bawah, dalam banyak kasus, orang-orang buangan dan orang-orang tertindas pada tingkatan terendah di masyarakat mereka sendiri yang terpecah-pecah dalam berbagai kelas. Adalah di luar jangkauan mereka untuk memahami dogma Kristen. Kristen hanya berfungsi untuk mengangkat status kemanusiaan mereka saja, tetapi secara palsu.
Dari hal di atas hendaknya menjadi jelas bahwa ajaran Kristen yang kita bicarakan ini sangat jauh dari ajaran Kristen Yesus Kristus. Menganggap budaya Barat sebagai ajaran Kristen adalah suatu kekeliruan nyata. Mengaitkan bentuk ajaran Kristen zaman sekarang dalam berbagai bidang kepada Kristus, adalah suatu penghinaan terhadap beliau. Memang terdapat pengecualian-pengecualian dalam setiap ketentuan. Tidak ada pernyataan yang berlaku secara menyeluruh terhadap suatu kelompok besar. Tidak diragukan, masih terdapat sejumlah kecil pulau-pulau harapan individu dan kehidupan di dunia Kristen di mana ketulusan, kecintaan dan pengorbanan menurut ajaran Kristen diterapkan secara murni. Ini adalah `pulau-pulau’ harapan yang dikitari oleh samudera-samudera ganas ketidak-bermoralan yang secara perlahan dan bertahap mengikis dan akhirnya mencaplok batas-batas yang lebih banyak lagi dari pulau-pulau tersebut. Jika dunia Kristen tidak disinari oleh tauladan-tauladan Kristen yang berkilauan seperti itu, yang dilakukan sesuai teladan Yesus Kristus, betapa pun jauh antara keduanya dan sedikit, maka suatu kegelapan menyeluruh akan menyelimuti cakrawala Barat. Tanpa Kristen, tidak ada cahaya dalam peradaban Barat, tetapi, sayangnya, cahaya itu pun cepat memudar.
Penting bagi dunia Kristen untuk kembali kepada realita Kristus dan mengobati diri mereka sendiri dari terpecahnya jatidiri mereka dan dari kemunafikan yang mendarah-daging. Terus-menerus hidup dalam suatu dunia mitos dan legendalegenda, sangat berpotensi mengalami resiko-resiko mematikan. Tujuan utama pengkajian ini adalah untuk menyadarkan dunia Kristen tentang bahaya-bahaya besar yang menanti di balik kontradiksi yang semakin lebar antara keimanan dan amal perbuatan mereka. Mitos-mitos memang bagus, sepanjang tujuannya untuk menjajah jenjang-jenjang masyarakat terendah sebagai cara untuk mengendalikan mereka dan mengeksploitasi ketidaktahuan mereka dengan cara membuat mereka tetap terbius. Namun, apabila tiba saatnya keimanan-keimanan yang memainkan peran vital dalam menghidupkan suatu masyarakat yang telah mati dan merekonstruksi nilai-nilai moral mereka yang merosot dengan cepat, maka mitos-mitos seperti itu tidak ada gunanya. Mitos-mitos hanyalah khayalan-khayalan, dan khayalan-khayalan tidak pernah dapat memainkan suatu peran bermakna dalam urusan umat manusia.
Kedatangan Kembali Yesus Kristus
Penerapan [hasil] pengamatan-pengamatan yang telah dilakukan sejauh ini sekarang dapat diperagakan. Permasalahan vital tentang keselamatan umat manusia zaman sekarang, berkisar pada sosok sentral Yesus Kristus. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami realita beliau. Siapa beliau dan peran apa yang telah beliau mainkan pada saat pertama sebagai Kristus di tengah-tengah masyarakat Yahudi yang telah merosot? Seberapa jauh kesungguhan kita dapat menanggapi janji kedatangan beliau kembali di akhir zaman? Inilah permasalahan-permasalahan vital yang harus kita perbincangkan.
Jika sosok Yesus Kristus tidak nyata dan hanya merupakan sebuah produk khayalan manusia, maka tidak mungkin untuk membayangkan kedatangan beliau kembali. Akan tetapi, walau bagaimanapun Yesus bukanlah sebuah produk khayalan. Beliau adalah seorang manusia nyata, dan hanya sebagai manusia nyatalah beliau dapat dilahirkan kembali sebagai seorang anak manusia, dan bukan turun sebagai hantu yang mendatangi makhluk-makhluk hidup. Khayalan-khayalan seperti itu tidak pernah muncul dalam kenyataan-kenyataan hidup manusia. Selain itu, suatu masyarakat yang hidup dengan dongeng-dongeng dan legenda-legenda, terus berlanjut melakukan hal demikian, mereka tidak akan pernah memiliki peluang untuk mengenali juru selamat mereka tatkala dia datang.
Jika Yesus memang benar Anak Tuhan, sebagaimana yang dikehendaki oleh orang-orang Kristen agar kami percaya, maka tentu beliau akan kembali dengan keagungan, menumpukan kedua tangan beliau pada pundak malaikatmalaikat nyata. Namun, jika hal ini sekedar suatu khayalan romantis dari harapan-harapan dan aspirasi-aspirasi Kristen, maka peristiwa tersebut tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah dunia menyaksikan peristiwa aneh ini, yakni beberapa tuhan turun dari langit/sorga dalam bentuk manusia beriringan dengan sebuah pasukan malaikat yang mendukungnya dan menyanyikan lagu-lagunya.
Pemikiran ini sangat menjijikkan bagi logika manusia dan hati nurani manusia. Ini merupakan kisah dongeng paling ngawur yang pemah dikarang untuk menidurkan kemampuan-kemampuan manusia. Di sisi lain, jika pemahaman Ahmadiyah tentang Yesus Kristus diterima, hal itu akan menggantikan skenario fantastik tersebut dengan sesuatu yang tidak hanya diterima oleh pemahaman manusia, tetapi juga secara kuat didukung oleh seluruh sejarah agama umat manusia. Dalam kasus tersebut kami pun menunggu-nunggu seorang juru selamat yang tidak berbeda dari Kristus yang telah datang sebelumnya. Kami menunggu seorang manusia rendah hati, yang lahir dari keturunanketurunan rendah hati seperti Yesus Kristus yang telah datang sebelumnya, yang akan memulai tugasnya dalam gaya yang sama seperti yang pernah Yesus lakukan. Dia akan berasal dari suatu umat beragama yang menyerupai orang-orang Yahudi di Judea, dalam hal sikap-sikap dan kondisikondisi mereka. Mereka tidak hanya akan menolak serta memungkiri penda’waannya sebagai Pembaharu Yang Dijanjikan, yang mereka tunggu-tunggu sebagai juru selamat mereka dari Tuhan, tetapi juga akan menggunakan segenap kekuatan mereka untuk membinasakannya. Dia akan menghidupkan kembali seluruh kehidupan Kristus dan akan diperlakukan dengan penghinaan, kebencian dan keangkuhan yang sama Dia akan mengalami penderitaan sekali lagi, bukan di tangan umatnya, melainkan di tangan kekuatan-kekuatan musuh mirip seperti yang telah menentang Yesus sebelumnya. Dia juga akan mengalami penderitaan di tangan kekuatan kerajaan besar asing yang di bawah kekuasaannya dia akan dilahirkan di tengah-tengah rakyat yang terjajah.
P.D.Ouspensky, seorang penulis Rusia temama di permulaan abad keduapuluh, menuliskan tentang kedatangan kembali Yesus Kristus dalam pandangan yang sangat mirip:
Ini sama sekali bukanlah pemikiran baru bahwa Kristus, jika dilahirkan ke bumi di kemudian hari, bukan hanya tidak akan dapat menjadi pemimpin Gereja Kristen, tetapi mungkin bahkan tidak akan punya kaitan dengan itu, dan pada periodeperiode gemilang kehebatan serta kekuatan Gereja dia sudah pasti akan dinyatakan sebagai seorang yang menyimpang dari agama dan akan dibakar di tempat pembakaran. Bahkan walau di masa-masa kita yang lebih memperoleh penerangan/petunjuk, ketika Gereja-gereja Kristen, jika mereka belum kehilangan ciri-ciri anti-Kristen mereka, bagaimana pun juga telah mulai menyembunyikannya, Kristus akan dapat hidup tanpa mengalami penganiayaan dari “para juru tulis dan Farisi” mungkin hanya di tempat tertentu di suatu pertapaan/tempat-terpencil Rusia. 1
Ini hanyalah proses nyata yang dalamnya para utusan dan pembaharu Samawi dibangkitkan. Apa pun konsep lain di luar itu adalah dusta, palsu, dan tidak bermakna.
Memang selalu terjadi bahwa pada waktu terpenuhinya kabar ghaib tentang kedatangan pembaharu-pembaharu Samawi, yang untuk keselamatan mereka para pembaharu itu telah diutus, umat itu gagal mengenalinya. Pada periode sejarah itu masyarakat tersebut telah merubah gambaran tentang pembaharu mereka dari kenyataan menjadi khayalan. Mereka mulai menanti-nanti suatu khayalan untuk tampil dan muncul secara zahir, sementara apa yang terjadi hanyalah suatu pengulangan kembali sejarah agama seperti yang telah terjadi tanpa kecuali sejak masa pembaharu Ilahi pertama. Para pembaharu senantiasa tampil sebagai manusia rendah hati yang dilahirkan dari ibu-ibu manusia dan selama hidup mereka selalu diperlakukan sebagai manusia. Jauh sesudah kematian merekalah proses pendewaan mereka bermula. Dalam kondisi demikian, penerimaan yang baik terhadap mereka pada saat kedatangan mereka yang kedua kalinya menjadi tidak mungkin.
Ketika anda menanti-nanti kedatangan seorang peri (makhluk khayalan) atau hantu untuk menjelma secara zahir, bagaimana mungkin anda dapat menerima kedatangan seorang manusia biasa? Itulah sebabnya mengapa dunia gagal menyaksikan dan mengenali kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya, yang temyata hal itu telah terjadi.
Mungkin ini suatu penda’ waan berlebihan yang tampaknya mudah ditolak oleh hampir seluruh pembaca. Bagaimana mungkin Yesus telah datang dan pergi tanpa [sempat] dicermati secara sungguh-sungguh oleh dunia? Bagaimana mungkin beliau telah pergi tanpa dipedulikan oleh seluruh dunia Kristen dan Islam? Zaman-zaman modern telah menyaksikan banyak penda’wa demikian yang bahkan telah menciptakan kegemparan-kegemparan dan badai topan di banyak kawasan kecil, tetapi kemana gerangan mereka kini?
Ini adalah suatu zaman ketika di banyak negara, sektesekte tumbuh seperti jamur, dan pendawaan-pendawaan aneh bahwa Yesus telah datang atau telah mengutus pembuka jalan baginya, telah dilakukan secara sporadis. Pernyataan ini mungkin hanya salah satu di antaranya. Mengapa seorang yang berpikiran serius harus menghabiskan waktunya untuk merenungkan hal ini? Secara pasti, keraguan-keraguan serius akan timbul dan suatu dilema pelik pasti akan dihadapi. Kami mohon perhatian pembaca untuk sudi membayangkan situasi itu bila Kristus benar-benar datang kembali. Apakah kedatangannya kembali hanyalah suatu khayalan atau dapatkah benar-benar beliau sendiri datang kembali ke dunia atau melalui pengganti? Inilah sebuah pertanyaan yang harus dipecahkan sebelum kita dapat mencoba menjawab berbagai keraguan yang telah dipaparkan di atas.
Apakah dunia, Kristen maupun Islam, benar-benar berada dalam kondisi pemikiran yang secara psikologis siap menerima kedatangan Yesus kedua kalinya? Jika ya, dalam bentuk apa dan dengan cara bagaimana? Jika kita memandang hal ini dari sudut pandang umat Islam dan Kristen keduanya, Yesus, jika beliau memang akan kembali, akan datang dengan keagungan sedemikian rupa serta dengan tanda-tanda begitu jelas, turun dari langit di siang hari bolong dengan para malaikat yang memapah beliau, maka hal itu menjadi tidak mungkin bagi orang yang paling ragu untuk menolak menerima beliau.
Sedihnya, hanya Yesus versi khayalan sajalah yang dapat diterima oleh dunia zaman sekarang. Yaitu seorang Yesus yang tidak pemah datang sebelumnya di seluruh sejarah umat manusia. Jika sejarah agama diperhatikan secara sungguh-sungguh, orang akan menemukan sejumlah contoh mengenai pendiri-pendiri agama mana saja dan para utusan Samawi mana saja yang diriwayatkan telah naik ke langit dengan tubuh kasar mereka. Penda’waan-penda’waan ini begitu banyak dan tersebar luas sedemikian rupa sehingga tampaknya hal itu merupakan suatu gaya universal umat manusia untuk mengarang kisah-kisah semacam itu dalam rangka mengangkat derajat dan menjadikan para pemimpin agama mereka sebagai manusia luar biasa. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita dapat menyangkal segenap riwayat ini yang telah diterima dan dipercayai mungkin oleh milyaran umat manusia di dunia zaman sekarang? Umat Kristen dan Islam saja yang mempercayai hal ini dan beberapa hal aneh serupa lainnya, sudah melebihi dua milyar. Jadi, seorang pembaca dapat mempertanyakan, apa hak kami atau siapa pun di dunia ini, untuk menolak seluruh kepercayaan semacam itu sebagai sesuatu yang tidak nyata dan berupa khayalan? Kami setuju bahwa menguji hal tersebut dari sudut ini akan menuntut suatu usaha yang keras untuk menolak penda’waan-penda’waan semacam itu, sebab tidak didukung oleh kitab-kitab suci dari agama-agama tersebut, yang dianut oleh mereka. Sekali seseorang sampai pada penafsiran alternatif dan mungkin, yang pelik ini, hal itu hanya akan berakhir pada selera kesukaan dan pilihan. Akhimya hal itu menjadi permainan setiap orang untuk menafsirkan kitab-kitab suci atau sejarah agama yang diriwayatkan sebagai sesuatu yang hakiki atau kiasan. Untuk melangkah ke dalam kubangan penjelasan-penjelasan yang penuh pertentangan ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Namun, hanya ada satu jalan keluar dari upaya yang sukar ini, yang dapat kami tunjukkan kepada para pembaca dan mengajak mereka untuk mengikuti atau menolaknya sesuai kehendak mereka.
Demi untuk argumentasi, andaikan kita menerima segenap penda’waan tentang para pemimpin agama yang [diriwayatkan] telah naik ke langit dan menerimanya begitu saja. Jika kasus Yesus Kristus yang diriwayatkan naik itu disikapi dalam pengertian yang selintas sedangkan kedatangan beliau yang kedua kali diartikan secara hakiki dan nyata, maka tidak ada alasan mengapa kita harus menolak kasus-kasus serupa lainnya di dunia. Mengapa memberikan pengecualian pada Elia (Ilyas), Raja Salim, Imam ke-12 golongan Syiah dalam Islam, kenaikan dewa-dewa Hindu, atau orang-orang suci lain dan apa-apa yang disebut sebagai penjelmaan-penjelmaan Tuhan yang serupa? Oleh karena itu, lebih aman untuk menghindari masuk ke dalam perdebatan-perdebatan yang tidak produktif dan sia-sia seperti itu. dengan orang-orang yang menganut kepercayaankepercayaan demikian. Seseorang dapat menanyakan kepada segenap orang yang mudah mempercayai khayalan seperti itu, jika mereka dapat menunjukkan satu saja kedatangan kembali, secara pribadi, dari antara orang-orang yang diriwayatkan telah naik ke langit yang jauh. Dapatkah segenap sejarah manusia menampilkan satu contoh saja tentang kembalinya seseorang dengan tubuh kasar ke dunia ini, yang telah diriwayatkan naik ke langit dengan tubuh kasamya? Tunjukkan kepada kami jika memang itu ada.
Memperhatikan tidak adanya sama sekali pemenuhan secara harfiah penda’waan-penda’waan semacam itu, orang dihadapkan pada dua pilihan: menolak penda’waan-penda’waan seperti itu sebagai suatu penipuan atau menerimanya dalam makna kiasan, seperti yang dilakukan Yesus dalam kasus kedatangan Eliya/llyas yang kedua kalinya. Dari hal ini jelas bahwa orang-orang yang menantinanti kedatangan Yesus secara harfiah dari langit telah menciptakan suatu penghalang antara diri mereka sendiri dengan realita Yesus. Jika memang Yesus datang kembali, beliau akan datang hanya sebagai manusia biasa seperti segenap pembaharu Samawi yang dinanti-nantikan sebelum beliau. Jika beliau tampil sebagai seorang manusia biasa yang rendah hati, dilahirkan di sebuah negeri yang serupa dengan Judea di Palestina dan mendapat mandat memainkan peran sama seperti yang beliau mainkan pada kedatangan pertama beliau, apakah orang-orang di negeri itu akan memperlakukan beliau berbeda dari perlakuan yang beliau terima sebelumnya?
1. P.D. Ouspensky, A New Model of the Universe, p. 149-150, Kegan Paul Trench, Trubener & Co., Ltd 1938
Di mana ada kristian di sana ada penjajahan dalam pelbagai bentuk lama atau baru.Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka jika tidak bertobat sebelum mati yang bakalan datang cepat atau lambat.Ucapkanlah Tidak ada TUhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah supaya kalian mendapat kejayaan.
February 14, 2011 at 11:46 pm
Gue mah kagak pusing – orang mau memeluk agama apa. Tetapi begitu orang memeluk Islam, nah itu baru jadi perhatian dan urusan gue.
Kenapa?
Soalnya Tuhannya Islam yang bernama Allah swt itu sesungguhnya adalah Setan Pembunuh Laknatullah,
dan si anjing gila pedofil cabul – Momed saw, adalah nabinya si Setan Pembunuh Laknatullah itu, yang bernama Allah swt.
Selama Islam masih eksis dalam dunia ini, kita tak akan pernah bisa untuk tidak terus menerus menjadi korban kebiadaban dan kefasisan ajaran sinting ini, dengan aksi-aksi kekerasan, bom bunuh diri serta penindasan kepada orang-orang yang mereka anggap kafir.
Innalillahi waina ilaihi rolling stones
March 10, 2011 at 3:54 pm
selama kristen masih ada, pembantaian di irak,afganistan dan palestina nggak bakalan berhenti
March 10, 2011 at 6:14 pm
bukannya kebalik,selama ada islam,dunia ga bakal aman,buktinya aja mesir,libya,sama negara islam,tp sekarnga kacau balau,mau nyalahin Kristen lagi??? wong udah jelas yg perang,islam dgn islam kok.
March 13, 2011 at 1:14 pm
yang kebalik itu udelmu, jumlah rakyat irak yang meninggal pasca invasi dan embargo ekonomi berapa?
nah dasar invasi ke irak apa?
apa kesalahan rakyat palestina?
apa emang bener tragedi 11 september itu dalangnya alkaida?
yang jajah indonesia siapa?
March 15, 2011 at 2:32 pm
@ jack.yang jelas klo Kristen tidak pernah perang,bawa bawa agama,udah gitu ga pengecut kayak muslim,beraninya pake bom bunuh diri,diam2 lagi,kayak israel atau amerika dong,sekali gempur langsung pada sasarannya,klo kalian muslim benci sama israel,serang langsung,klo berani,ISLAM PENGECUT.
February 19, 2011 at 4:24 am
Ketidak percayaan terhadap Yesus sudah ada ribuan tahun yang lalu, bukti-bukti arkelogi, tahun masehi, praktikal tentang Kasih seperti Yesus ajarkan terjadi hingga sekarang. ini secara sederhana membuktikan bahwa keberadaan Yesus ribuan tahun yang lalu memang ada, bahkan Mohammad sendiri mengakui adanya Dia yang dapat kita baca dalam Alquran dan hadis.
Pengenalan Yesus Kristus sebenarnya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan manusiawi baik dengan pendidikan, agama atau cara-cara manusia sehingga hasilnya sebuah kegagalan, hal ini dilakukan oleh ahli-ahli taurat, orang farisi, pemimpin agama, bahkan merea justru yang membunuh Yesus Kristus. secara lahiriah mereka orang yang ahli dalam agama, menguasai kitab suci, mengajar tentang Allah, berpuasa, memberi zakat, naik haji ke Yerusalem, mengorbankan kambing domba dsb tetapi mereka gagal karena pemahaman tentang Yesus Kristus sebatas akal pikiran, Yesus Kristus yang hidup sampai sekarang dan memiliki kuasa didunia dan sorga tidak dapat dikenal hanya akal manusia, maka tak heran orang-orang Islam tdk mungkin percaya kepada Dia, Islam ada ratusan tahun setelah Kekristenan, pemahaman tentang Yesus pasti tdk akan tercapai hasilnya adalah penghinaan dan penolakan terhadap Yesus, hanya sebuah khayalan, sesat dsb.bahkan orang Kristenpun belum menjadi jaminan untuk mengenal Allah.
Agama bagi manusia membuktikan bahwa manusia gagal untuk mendapatkan Allah, bahkan melalui agama bukan membawa orang untuk mengenal Allah justru menggunakan Allah untuk mengesahkan melakukan pembunuhan, teror, Intimidasi dan hal-hal yang berseberangan dengan jati diri Allah sebenarnya, akibatnya manusia mengalami kesimpang siuran dan kebingungan. Manusia melalui agama memanipulasi Allah dan memperalat Allah untuk kepentingan diri sendiri, manusia berusaha membenarkan dirinya dengan memakai ayat-ayat dalam kitab suci. tidaklah heran dunia sekarang ini termasuk di Indonesia banyak terjadi bentrok berdasarkan nilai-nilai agama.
Sesuai perkataan Yesus Kristus bahwa setiap orang yang menyembah Allah harus dalam Roh dan Kebenaran sebab Allah itu Roh.ingat! bahwa setan pun ujudnya adalah roh, Jika Allah ujudnya adalah Roh dan setanpun roh maka manusia yang jasmaniah ini tidak mungkin dapat memahami Allah dengan benar karena pikiran Allah bukanlah pikiran manusia, manusia yang terbatas pasti gagal untuk mengenal Allah bahkan akan tertipu oleh Setan yang roh itu dengan bungkus Agama.
Oleh karena itu setiap orang yang ingin mengenal Yesus Kristus harus mengalami kelahiran baru didalam roh, sebab apa yang dilahirkan daging adalah daging (jasmani) sedangkan apa yang dilahirkan Roh adalah roh. hal ini juga dialami oleh murid-murid Yesus Kristus sewaktu didunia sebelum mereka kepenuhan Roh Kudus, mereka bertahun-tahun hidup bersama dengan Tuhan Yesus, melihat Mujizat, org mati dibangkitkan tetapi merek TIDAK MENGENAL YESUS KRISTUS. Jika mereka mengalami demikian apalagi diluar Yesus Kristus pasti akan berlaku sama yaitu tidak percaya, ketidak tahuan dan tidak kenalnya manusia kepada Yesus di maklumi Yesus Kristus oleh karena pemahaman mereka pendekatan hanya pendekatan akali manusia bukan Roh, maka ketika Yesus disalib Dia mengatakan ” YA BAPA AMPUNILAH MEREKA KARENA MEREKA TDK TAHU APA YANG MEREKA BUAT ”
Pertanyaannya sekarang bagaimanakah saya dapat mengenal Yesus Kristus?
1.Saudara harus dilahirkan baru didalam Roh yaitu menerima atau percaya didalam hati bersifat pribadi melalui Doa
2.Ketika lahir baru Roh Allah tinggal dalam hidup saudara, mintalah kepada Roh Allah untuk menuntun saudara bagaimana mengenal Allah.
3. Ketika saudara dipimpin oleh Roh Kudus pikiran saudara akan dibuka ketika membca Injil bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah.
4. Dalam pimpinan Roh Kudus, saudara akan mengalami kenyataan dalam hidup bahwa Yesus itu ada, saudara akan mengalami kuasa-Nya sesuai yang dijanjikan.
5. Ingat pengenalan akan Yesus bukan sekali tetapi hari lepas hari, Dia akan menyatakan Kasih-Nya dan saudara akan mengalami damai sehatera dan suka cita sesuai yang diajarkan oleh-Nya yaitu KASIH.
February 19, 2011 at 2:28 pm
Yang menjadi pertanyaan kemudian setelah melaksanakan poin 1 dan 2 adalah, bagaimana jika jawaban atas doa dan Tuhan menuntun hambanya untuk melihat bahwa Yesus bukanlah tuhan melainkan Nabi semata? Apakah anda kemudian berkata jawaban itu bukan dari Tuhan? Dengan demikian, jawaban itu bukan jawaban Tuhan melainkan jawaban yang anda inginkan.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana setelah membaca injil ternyata bertambah keyakinan bahwa Yesus itu bukan Tuhan dan Allah? Apakah kemudian anda kemudian mengatakan bahwa itu bukan pimpinan Roh Kudus? Dengan demikian, pimpinan yang anda maksudkan adalah pimpinan dan arah yang anda inginkan.
Tidak perlu mendapatkan pimpinan Roh Kudus untuk mengetahui bahwa Yesus itu ada, karena Yesus memang tercipta, dan sesuatu yang telah tercipta tidak mungkin tidak ada. Seandainya anda mengenal Tuhan yang sebenarnya, maka anda akan melihat Yesus itu tidak kuasa apa-apa jika tanpa Tuhan penciptanya.
Bukan mengenal Yesus yang membuat hati damai, tetapi berpijak pada hukum utama yang hendak Yesus tegakan, yakni tidak mempetuhankan ciptaan Tuhan. Karena barangsiapa yang hanya mempertuhankan satu, sebagaimana keyakinan Kritsen Unitarian, maka dia selamat dari siksa melanggar hukum utama, yakni api neraka. Ketaatan kepada hukum utamalah yang membawa damai, bukan pelanggarannya.
March 7, 2011 at 4:57 pm
Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah
Gereja adalah terang dunia yang meneruskan Yesus Sang Terang kepada dunia.[1] Ini berdasarkan perkataan Yesus sendiri, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas di atas gunung tidak mungkin tersembunyi “(Mat 5:14). Karena itu, Gereja yang didirikan oleh Yesus dimaksudkan untuk berdiri sebagai institusi yang kelihatan. Yesus sendiri berjanji, “…di atas batu karang ini (Petrus) Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18) Artinya, Gereja-Nya tidak akan pernah binasa, dan tidak akan pernah terlepas daripadaNya. Gereja-Nya akan bertahan terus sampai kedatanganNya kembali di akhir zaman.
Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang bertahan sejak didirikan oleh Kristus (sekitar 30 AD). Dapat dikatakan bahwa gereja yang lain adalah kelompok yang memecahkan diri dari kesatuan Gereja Katolik. Gereja Timur Orthodox memisahkan diri dari pada tahun 1054, gereja Protestan tahun 1517, dan gereja-gereja Protestan yang lain adalah pemecahan dari gereja Protestan yang awal ini.[2]
Hanya Gereja Katolik yang bertahan dari abad pertama yang dengan setia mengajarkan pengajaran yang diberikan oleh Kristus kepada para Rasul-Nya, tanpa mengurangi ataupun mengubah. Kesinambungan para Paus dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Rasul Petrus. Hal ini tidak pernah terjadi di dalam organisasi apapun di dunia. Pemerintahan negara dunia yang tertua-pun tidak dapat menandingi lamanya keberadaan Gereja Katolik. Banyak gereja yang sekarang aktif menjalankan penginjilan didirikan hanya di abad- 19 atau ke- 20, atau baru-baru ini saja di abad ke-21. Tidak ada dari mereka yang dapat berkata mereka didirikan sendiri oleh Yesus.
Gereja Katolik telah berdiri selama kira-kira 2000 tahun, walaupun dalam sejarahnya sering menghadapi pertentangan dari dunia. Ini adalah kesaksian yang nyata bahwa Gereja berasal dari Tuhan, sebagai pemenuhan dari janji Kristus. Jadi, Gereja bukan semata-mata organisasi manusia, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada masa-masa di mana dipimpin oleh mereka yang tidak bijaksana, yang mencoreng nama Gereja dengan perbuatan- perbuatan mereka. Namun, kenyataannya, mereka tidak sanggup menghancurkan Gereja. Gereja Katolik tetap berdiri sampai sekarang. Jika Gereja ini hanya organisasi manusia semata, tentulah ia sudah hancur sejak lama. Sekarang Gereja Katolik beranggotakan sekitar satu milyar anggota, sekitar seper-enam dari jumlah manusia di dunia, dan menjadi kelompok yang terbesar dibandingkan dengan gereja-gereja yang lain. Ini bukan hasil dari kepandaian para pemimpin Gereja, tetapi karena karya Roh Kudus.
February 14, 2011 at 7:33 pm
February 23, 2011 at 5:32 pm
February 24, 2011 at 12:59 am
Serangan terhadap suku Kristen Ukl
Ada satu suku Arab yang bernama Ukl atau Uraina yang hidup dengan damai dan sejahtera. Penduduknya semua beragama Kristen. Muhammad datang menyerang mereka dan mengubah kedamaian mereka menjadi sungai darah dan air mata. Dia menghancurkan suku itu, membunuh banyak orang, dan mengambil sisanya sebagai tawanan. Muhammad merampok harta mereka dan membawanya ke Medinah. Setiba di Medinah Muhammad bertanya kepada para tawanan: “Adakah seseorang yang akan menebusmu dan membayar uang tebusannya?” Mereka menjawab: “Kamu telah mengambil semuanya dan kami sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan kepadamu.” Pada titik itu Ali bin Abu Talib menuntut mereka menghujat Kristus tetapi mereka tidak mau melakukannya. Akibatnya Muhammad memerintahkan mereka disiksa dan dibunuh.
Al-Khudri seorang ulama Muslim mengatakan:
“Sekelompok orang Arab datang dan membunuh salah satu dari sahabat nabi. Muhammad mengirim 120 orang penunggang kuda yang menangkap mereka dan membawa mereka menghadap Muhammad yang memerintahkan mereka disiksa saat mereka masih hidup. Tangan dan kaki mereka dipancung dan mata mereka ditusuk dengan paku panas. Mereka dibuang ke kubangan dan dipertontonkan hingga mereka mati.” (The Light of Certainly/Nur Al-Yaqin oleh Al-Khudri 24th edition, pp 184-185).
Sheikh Al-Khudri mencoba membenarkan tindakan Muhammad dengan menuduh suku tersebut telah membunuh salah satu sahabatnya. Namun orang-orang itu tidak membunuh siapapun dan serangan dilakukan oleh Muhammad sebagaimana yang lain yaitu untuk merampok, membunuh dan memperkosa.
Imam As-Suhaili mengutip Ibn Hisham mengatakan:
“Setelah Muhammad menangkap orang-orang tersebut, dia memotong tangan dan kaki mereka dan mengambil mata mereka. Mereka meminta air untuk diminum, tetapi Muhammad menolak untuk memberinya hingga mereka mati.”
(Rawd Al-Unuf oleh Imam As-Suhaili; vol.III, hal 187. Al Bukhari juga memastikan kisah tersebut dalam Sahihnya, lihat hadits Sahih Bukhari vol I, Buku 4, #234; vol.2, Buku 24, #577; vol.4, Buku 52, #261; Vol.5, Buku 59, #505; Vol.6, Buku 60, #134; Vol.7, Buku 71, #590 dan 623; Vol.8, Buku 82, #79, 796,797; dan Vol.9, Buku 71, #590 dan 623; Vol.8, Buku 82, #794, 797 dan Vol.9, Buku 83, #37. Lihat juga hadits Sahih Muslim, Buku 16, #4130-37).
Banyak referensi Islam tulen, mengutip bahwa jumlah tahanannya adalah sebanyak 42 orang. Empatpuluh dua orang inilah yang tangan dan kakinya dipotong dan matanya ditusuk dengan paku panas, kemudian dilempar ke kubangan sampai mati. Walaupun umat Muslim mengatakan Muhammad adalah nabi penutup semua utusan Tuhan dan nabi pengampun tetapi beliau menolak untuk memberikan mereka air minum. Orang-orang Muslim mengatakan bahwa kisah tersebut adalah palsu, tak mungkin terjadi.
Kita berharap bahwa kisah tersebut adalah palsu tetapi nyatanya memang benar terjadi, dan tercatat oleh sumber-sumber sahih Islam sendiri! Memang kebenaran terlalu silau bagi mereka yang buta sehingga tak sanggup melihatnya. Mereka tak mampu menghubungkan kisah itu dengan Allah SWT yang dikatakan mempunyai sifat-sifat Rahmani dan Rahimi (pengasih dan penyayang)?
February 24, 2011 at 12:59 am
Kita berharap bahwa kisah tersebut adalah palsu tetapi nyatanya memang benar terjadi, dan tercatat oleh sumber-sumber sahih Islam sendiri! Memang kebenaran terlalu silau bagi mereka yang buta sehingga tak sanggup melihatnya. Mereka tak mampu menghubungkan kisah itu dengan Allah SWT yang dikatakan mempunyai sifat-sifat Rahmani dan Rahimi (pengasih dan penyayang)?
March 10, 2011 at 3:52 pm
bagaimana dengan hitler?
February 28, 2011 at 2:07 pm
dan yang paling tidak berperikemanusiaan di antaranya adalah yang menimpa seorang Pigmi (suku di Afrika Tengah dengan tinggi badan rata-rata kurang dari 127 cm) bernama Ota Benga.
Ota Benga ditangkap di tahun 1904 oleh seorang peneliti evolusionis di Kongo, Afrika. Dalam bahasanya, Ota Benga berarti “teman”. Ia memiliki seorang istri dan dua anak. Dengan dirantai dan ditempatkan dalam kurungan, ia dibawa ke Amerika Serikat. Di sana para ilmuwan evolusionis memamerkannya di hadapan khalayak ramai pada Pekan Raya Dunia di St. Louis bersama spesies kera lain dan memperkenalkannya sebagai “mata rantai transisi terdekat dengan manusia”. Dua tahun kemudian, ia dibawa ke Kebun Binatang Bronx di New York di mana ia dipamerkan dalam kelompok “nenek moyang manusia” bersama beberapa sipanse, gorila bernama Dinah, dan orang utan bernama Dohung. Dr. William T. Hornaday, seorang evolusionis direktur kebun binatang tersebut memberikan sambutan panjang lebar tentang betapa bangganya ia mempunyai “bentuk transisi” yang luar biasa tersebut di kebun binatangnya dan memperlakukan Ota Benga dalam kandang bak seekor binatang. Setelah tidak tahan dengan perlakuan ini, Ota Benga akhirnya bunuh diri.
Di mana ada kristian di sana ada evolusionis.Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka yang sangat panas selama-lamanya jika mati tanpa sempat tobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah agar kalian mendapat kejayaan.
April 27, 2011 at 4:08 pm
TERNYATA JIN/SETAN TIDAK MENGENAL AULLOHUAKBAR, ini ceritanya:
Saya pernah melihat sebuah tayangan salah satu televisi swasta TRANS7 yang hoby urusan mistik yaitu acara Dua Dunia. Dalam tayangan itu, seorang Ustad dengan sombongnya memanggil arwah disebuah tempat yang dinilai angker. Ketika ada arwah masuk kebadan seorang mediator, kontan sang mediator berubah tingkah menjadi seperti binatang, mengerang, mencakar dan menunjukkan raut wajah yang seram terhadap orang-orang yang menjadi pemain dalam acara tersebut. Sang Ustad lalu bertanya kepada mediator yg sdh kerasukan itu.
Ustad: Dengan siapa saya bicara?
Mediator: hrrghhh (hanya menggeram tanpa menjawab)
Ustad: sudah berapa lama tinggal disini?
Mediator: Hrgghh…2000 tahun…
Ustad: Ayo sebut Allouhuakbar…(berkali-kali)
Mediator: ( meronta-ronta tapi dipegang paksa oleh beberapa orang)
Ustad: Ayo sebut Allouhuakbar…kamu kenalkan?
Mediator: (akhirnya dijawab juga)..tidak kenal!!
Ustad tampak terkejut atas jawaban tsb dan kelihatan gugup. Tapi kemudian Ustad langsung menekan beberapa tempat ditubuh mediator tersebut untuk menyadarkannya.
Saya yang saat itu menonton da mendengar dialog (Ustad dan Mediator)tersebut, merasa geli dan tertawa sendirian.
Dalam hati saya, rasain lo Ustad, setan atau jin yang mengaku sudah diam ditempat tersebut selama 2000 thn aja ngga kenal sama auloh islam, gimana muslim berani mengakui bahwa auloh adalah Tuhan maha besar yang katanya sebagai pencipta dunia dan segala isinya termasuk jin? Saya justru berpikir, Islam itu muncul di abad ke 7, brarti Jin tsb sudah tercipta lebih dahulu dibanding kemunculan islam.
Ah paling muslim akan berkomentar:
Itu kan Jin kafir bukan jin islam kekekekkkkk….atau…
itu kan sudah diatur dlm skenario hahahaha….
February 28, 2011 at 2:18 pm
Alexius Al Muallaf
“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3 : 7)
Membela Tuhan dengan Dusta…
ini tuhan yang mengajarkan dusta..atau mantan penjahat yang berdusta atas nama Tuhan…
kok bisa ya ayat ngga penting begitu masuk Kitab yang katanya Suci…
Di mana ada kristian di sana ada dusta.Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka yang sangat panas selama-lamanya jika mati tanpa bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah agar kalian beroleh kejayaan.
April 27, 2011 at 4:14 pm
Bagi kau itu ayat tdk penting dan bukan urusan kau dengan ayat-ayat Alkitab, makin lama kau makin jadi beringas dengan ayat-ayat Alkitab, seperti Setan yang kepanasan hehehe. Terus kalo ada ayat-ayat tentang pembunuhan, sex, rampok dan berbagai ayat setan di quran mu itu kau anggap penting ya?? Dasar keturunan Ular Beludak hehehe…
March 8, 2011 at 3:10 pm
saudara… jika baca Roma 3 jangan hanya ayat 7 aja,harap baca yg komplit termasuk Roma 3:4
March 9, 2011 at 2:09 am
Secara tidak langsung Paulus coba menanamkan doktrin bahawa termasuk para nabi juga adalah pembohong.Sungguh licik paulus ini dalam upaya membasmi wahyu Allah.
March 10, 2011 at 6:20 pm
klo Paulus licik,berarti dia hebat dong bisa mengalahkan Tuhan,wahyu Tuhan aja bisa dihapus atau dipalsukan sama dia,berarti Tuhan kalah sama manusia dong?????saya rasa tidak,justru Paulus itulah pembawa pesan yang asli dari Tuhan.Terpujilah Kristus.
April 5, 2011 at 9:25 pm
Muhammad seorang NABI PALSU
Bukti-bukti Muhammad seorang nabi palsu:
Tidak mampu mengadakan satu pun mujizat. (Kalau pun ada, itu berasal dari hadish tak sahih yang dibuat ratusan tahun kemudian sesudah Muhammad wafat, misal tentang mujizat Muhammad membelah bulan, ini pun berasal dari mulut Muhammad sendiri, tak ada saksi. Sungguh konyol).
Dirinya sendiri yang mengklaim bahwa dirinya adalah nabi. (Nabi-nabi di Israel tidak ada yang menyebut dirinya sendiri sebagai nabi, tetapi segala ucapan dan mujizat yang membenarkan bahwa dia nabi sehingga orang-oranglah yang menyebutnya nabi, bukan atas pengakuannya sendiri)
Dia dengan sengaja mengarang kitab suci sendiri dan mencoba membenarkan bahwa kitabnya asli bukan palsu. (Nabi-nabi Israel seperti Musa, Yesaya, Daniel, juga menulis kitabnya sendiri tapi tidak ada klaim-klaim bahwa kitabnya adalah kitab suci asli atau palsu, sebab tulisan mereka bukan untuk tujuan dikultuskan, justru orang-orang yang terkemudianlah yang mengkultuskan tulisan-tulisan nabi itu menjadi kitab suci).
Dia dengan sengaja menciptakan agama sendiri dan mencoba membenarkan bahwa agamanya adalah agama asli berasal dari Tuhan, yang merupakan kelanjutan dari agama-agama sebelumnya. (Padahal Tuhan yang Sejati tidak pernah menciptakan agama apapun. Yahudi dan Kristen adalah hasil penamaan masing-masing umat untuk lembaga mereka, bukan nama dari Tuhan. Ajaran Tuhan adalah universal)
Alquran dikatakan sebagai kitab suci kelanjutan dari kitab-kitab suci sebelumnya yang juga diturunkan oleh Tuhan kepada nabi Musa, nabi Daud dan nabi Yesus. (Padahal Tuhan yang Sejati tidak pernah menurunkan kitab suci dalam pengertian harfiah. Yang Tuhan berikan kepada Musa adalah 2 loh batu, bukan kitab. Demikian juga kitab Zabur (Mazmur) bukan kitab yang jatuh dari langit yang diberikan Tuhan kepada Daud, dan apalagi Injil, bukanlah kitab yang ditulis oleh Yesus. Kesalahkaprahan dalam pemahaman ini sebagai bukti kalau Muhammad nabi palsu yang bodoh)
Banyak kisah-kisah Islam yang mencatut dongeng-dongeng kafir dari agama-agama pagan di Timur Tengah, di antaranya kisah tentang Tuhan pernah mengutuk manusia jadi kera (monyet) (QS 2:65; 5:60; 7:166), kisah Bidadari Surga mirip dengan kisah dalam agama Zoroaster atau Hindu, kisah Isra’ Miraj, Raja Salomo bercakap-cakap dengan semut (Amsal 6:6; 30:25), kisah Abraham dibakar oleh Raja Nimrod (mirip dengan kisah dalam Daniel 3), kisah Gideon yang tertukar dengan Saul raja Israel, nama Maria ibu Yesus yang tertukar dengan nama Maryam saudara perempuan Musa/Harun, dan masih banyak lagi.
Kejahatan yang tak terperikan yang pernah dilakukan sang nabi. (Memang sebelum Muhammad terusir dari Mekkah, tingkah lakunya biasa-biasa saja. Tapi semenjak dia hijrah ke Madinah, dengan didukung oleh tentara Ansor yang notabene asli Madinah, gerombolan baru ini suka merampok para pedagang yang melintasi perbatasan Mekah-Madinah, sekaligus memperkosa para tawanan wanitanya. Di dalam kota sendiri, Muhammad membantai orang-orang Yahudi satu demi satu yang kebanyakan adalah para pedagang kaya, Muhammad dan gerombolannya mengambil alih harta orang-orang Yahudi yang dibunuh itu yang katanya merupakan rejeki dari Allah dan mengambil alih istri dan anak-anaknya, sebagian dijadikan budak dan sebagian dijadikan istri, dan masih banyak lagi).
Kebejatan moral yang dilakukan sang nabi. (Setelah istri pertamanya yang bernama Kadijah wafat, Muhammad bebas berbuat semaunya dalam mencari obyek seksnya. Dia mengembat menantunya sendiri yang bernama Zainab, memperistri anak kecil berumur 6 tahun bernama Aisyah, berzinah dengan budaknya yang bernama Maria, setelah ketahuan oleh istrinya yang bernama Hafsah, turun ayat palsu yang memerintahkan Muhammad agar menikahi budaknya, mengambil alih istri orang Yahudi dari Kaybar bernama Shafiyah sehari setelah keluarganya disiksa dan dibantai oleh gerombolannya, dan masih banyak lagi).
Muhammad sebagai nabi palsu sangat cocok dengan nubuat dalam kitab Wahyu (13:18; 19:20; 20:10). Di dalam kitab suci disebutkan bilangan namanya, yaitu 600 60 6 atau 666. Bila angka 666 dianggap sebagai angka tahun, ini sebuah angka yang sangat dekat dengan angka tahun Masehi di mana ketika itu Kerajaan Islam mencapai masa kejayaannya; bila ditilik dari pecahan bilangan tersebut, yaitu 600 60 6, maka ini pun sangat klop dengan Muhammad. Tahun 622M sebagai tahun hijrah Muhammad memulai karir gemilangnya sebagai nabi di Madinah, angka 622 bila diambil ratusannya saja maka kita peroleh angka 600. Usia 63 Muhammad wafat dipelukan Aisyah karena racun ganas yang menggerogotinya hampir selama 3 tahun, bila diambil angka puluhannya saja akan diperoleh angka 60. Muhammad lahir pada tahun 571/572M, bila dijadikan angka satuan (angka abad) akan kita peroleh angka 6. Sehingga 600 60 6 maupun 666 semuanya cocok dan klop dengan Muhammad bila kita mencoba untuk mencocokkannya. Apalagi kalau kita mau melihat jumlah ayat dalam Alquran, yang jumlahnya 6.666 ayat. Sungguh fantastis, semuanya serba 6, dan bila angka itu dipecah akan menjadi 6000 600 60 6. Kenapa saya coba menghubungkannya dengan Muhammad? Pertimbangan ini diambil karena kata “nabi palsu” dalam kitab Wahyu ditulis dalam bentuk tunggal (bukan jamak), artinya hanya ada satu nabi palsu yang perlu mendapatkan perhatian serius. Dan sepanjang sejarah manusia, hanya Muhammad-lah yang perlu mendapatkan perhatian khusus, sebab dia secara terang-terangan menentang Yesus sebagai Tuhan (Antikristus), pengaruhnya mendunia, tidak hanya lokal di Arab saja, dan ajarannya telah menyebabkan kehancuran besar dan menewaskan ribuan orang bahkan jutaan orang akibat dari buah-buah yang dihasilkan oleh pengikutnya, seperti dari kasus-kasus BOM BUNUH DIRI maupun PELEDAKAN PESAWAT & PERUNTUHAN GEDUNG WTC di Amerika. Islam sangat membenci Yahudi dan Kristen, nah, siapa lagi kalau bukan dia? Bukankah sejak dari zaman Taurat sampai zaman Yesus, Iblis memang selalu berusaha untuk menghancurkan umat Allah?
Kita jangan membenci Muslim, sebab mereka cuma korban. Mereka begitu karena nabinya. Mereka bejat dan jahat juga karena nabinya. Kita seharusnya merasa iba dan kasihan kepada Muslim. Kita harus tunjukkan buah-buah roh dan kasih sayang kepada para Muslim. Kita doakan semoga Tuhan mau mengampuni mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat. Mereka hanyalah korban. Sekali lagi, kita harus mengasihi mereka, karena sebagai manusia kita sebenarnya bersaudara.
March 10, 2011 at 6:35 pm
Menurut islam,Injil yang ada sekarang telah banyak dipalsukan oleh Paulus dan penulis Injil yang lain,kalau palsu,apa islam bisa membktikan dimana yang asli? dan kalaupun palsu,itu menandakan Tuhan itu lemah,mengapa? karena Tuhan kalah dengan manusia,masa seorang Paulus yang manusia biasa bisa memalsukan Kitab Tuhan? Apa berarti Tuhan itu lemah? yang kedua,kalu Tuhan mengijinkan Kitabnya dipalsukan,berarti Tuhan melawan dirinya sendiri atau sama dengan Tuhan itu iblis,jadi menurut saya karena Tuhan Yesus Kristus adalah sempurna,jadi Injil yang ada sekarang juga tetap sempurna,walaupun telah diterjemahkan dalam banyak bahasa,terbukti Alkitab adalah buku yang paling laris di seluruh dunia,dan terbukti Gereja Kristus yanag adalah Gereja Katolik telah ada 2000 tahun dan ajarannya,kalendernya,telah dipakai oleh seluruh bangsa di dunia,lihat saja hari Minggu di seluruh dunia adalah tanggal merah dan hari libur,itu semua adalah produk dari Gereja Katolik.Terpujilah Kristus dan kerajaanNya yang kekal selamanya.
March 11, 2011 at 2:45 am
Kalau manusia buat maksiat tentu Tuhan melihat.Berarti manusia tersebut membuat maksiat di hadapan Tuhan.Mengapa Tuhan tidak mencegahnya?Apakah itu menandakan Tuhan itu lemah?Berkenaan dengan mereka yang memalsukan kitab Allah dosanya adalah terpikul di pundak orang yang memalsukannya.Adapun jenerasi yang selepas mereka yang tidak tahu menahu tentang pemalsuan itu mereka di anggap hidup di zaman fatrah.Zaman tidak ada nabi.Mereka tidak berdosa asal saja mereka jujur utk melaksanakan agama seperti yang Tuhan perintahkan sekurang-kurangnya menurut ajaran yang mereka anggap benar.Tetapi selepas nabi Muhammad diutus zaman fatrah itu sudah tidak berlaku lagi karena Al Quran telah dijanjikan utk dipelihara sehingga hari kiamat.Oleh itu semua manusia adalah wajib memeluk agama Islam seperti yang diajarkan oleh nabi Muhammad.
March 11, 2011 at 2:52 am
Diantara kebohongan Paulus ialah dia mendakwa menemui mesiah(nabi Isa) di damascus padahal Nabi Isa sendiri telah menubuatkan selepas dia pergi jangan percaya kepada sesiapa pun yang mendakwa bertemu dengan dirinya(mesiah).
“PERINGATAN” yesus kpd muridnya (petrus,yakobus,yohanes dan andreas) ketika berada di bukit zaitun:
markus
13:21 Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau: Lihat, Mesias ada di sana, jangan kamu percaya
pada waktu itu(tanda2 dirubuhkanya baitallah artinya terjadi sblm baitallah dirubuhkan titus thn 70m) jika ada orang yg mengaku bertemu yesus(mesias) dimanapun”JANGAN ADA YG PERCAYA”
mesias disini adalah maksudnya yesus ini sesuai matius 16:20
Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias
disini sudah jelas sekali yesus melarang kpd muridnya(petrus ,yakobus,yohanes,andreas) jangan mempercayai apabila ada orang mengaku bertemu mesias(yesus)
krn yesus terangkat ke surga thn 29m ketika berusia 33 thn disebuah bukit di galilea bkn di bukit golgota yg disaksikan para murid(markus16:19)
markus
13:22 Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.
mesias(yesus)palsu dan nabi-nabi palsu yg menyertainya,dan mereka(yesus palsu dan nabi palsu yg menyertainya) bisa membuat” mujizat” dg tujuan untuk menyesatkan murid yesus sendiri(orang2 pilihan)
13:23 Hati-hatilah kamu! Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu.”
yesus sdh mem warning para murid agar berhati hati yaituagar supaya jangan ada yg mempercayai bila ada yg mengaku ketemu mesias(yesus)
Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu.”
ini merupakan nubuat yesus kpd murid2nya
tapi faktanya
umat kristen adalah umat dari seorang saulus (kisah para rasul 11:26)yg mempercayai kalau saulus bertemu mesias di dekat kota damsik
March 12, 2011 at 6:00 pm
@ilham.klo baca jgn setengah2 dong,udah gwa bilang baca yg komplit,baca dari Markus 13:1,itu semua Yesus bernubuat tentang akhir jaman.itu Markus 13:21,Yesus berbicara tentang akhir jaman,dimana mesias palsu akan muncul,buktinya??? di Markus 13:24 yg merupakan lanjutannya,Yesus juga mengatakan “24 Tetapi pada masa itu,sesudah siksaan itu,matahari akan menjadi gelap,dan bulan tidak bercahaya,25 dan bintang akan berjatuhan dari langit,dan kuasa kuasa langit akan goncang,26 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya”.jadi udah jelas blm ilham?? sekarang gwa mau nanya sama lu,apa setelah Paulus mengaku bertemu Yesus,bintang bintang berjatuhan dari langit??? kaga kan??? jd udah jelas bahwa mesias palsu akan muncul sebelum terjadinya akhir jaman atau kiamat.Sekali lg ilham klo baca jgn setengah2,dari awal sampai akhir,biar lu ngarti,dan juga Markus 13;22 bisa dipakai untuk muhammad yang mengaku seorang nabi,maksud Yesus udah jelas jangan percaya dengan orang yang mengaku mesias atau nabi,Apa Paulus pernah mengaku Dia seorang nabi??? tidak kan?justru si mamad tuh yg mengaku nabi,dia yg nabi palsu,karena sesudah Yesus,tidak ada lagi nabi atau mesias yg akan muncul,karena Yesus adalah Tuhan sendiri yg telah datang ke dunia,jd buat apa nabi lagi??? “yesus palsu dan nabi palsu yg menyertainya) bisa membuat” mujizat” dg tujuan untuk menyesatkan murid yesus sendiri(orang2 pilihan” ini kata2 lu kan? iya bener nabi palsu itu/si mamad yg menyesatkan murid Yesus,bukannya Paulus,karena Paulus waktu itu belum merupakan murid atau pengikut Yesus,jd sekali lagi,nabi palsu itulah si mamad yg menyesatkan umat pilihan/pengikut Yesus,udah jelas lu ilham???
March 13, 2011 at 7:03 am
@ Valentine
Berikut adalah keseluruhan Markus 13:1-37.
Ketika Yesus keluar dari Bait Allah, seorang murid-Nya berkata kepada-Nya: “Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!”
13:2
Lalu Yesus berkata kepadanya: “Kaulihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.”
13:3
Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah, Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas bertanya sendirian kepada-Nya:
13:4
“Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi, dan apakah tandanya, kalau semuanya itu akan sampai kepada kesudahannya.”
13:5
Maka mulailah Yesus berkata kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!
13:6
Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
13:7
Dan apabila kamu mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang, janganlah kamu gelisah. Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.
13:8
Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan. Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.
13:9
Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.
13:10
Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa.
13:11
Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.
13:12
Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.
13:13
Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat.”
13:14
“Apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat yang tidak sepatutnya*–para pembaca hendaklah memperhatikannya–/maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan.
13:15
Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun dan masuk untuk mengambil sesuatu dari rumahnya,
13:16
dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya.
13:17
Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu.
13:18
Berdoalah, supaya semuanya itu jangan terjadi pada musim dingin.
13:19
Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia, yang diciptakan Allah, sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.
13:20
Dan sekiranya Tuhan tidak mempersingkat waktunya, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan yang telah dipilih-Nya, Tuhan mempersingkat waktunya.
13:21
Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau: Lihat, Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.
13:22
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.
13:23
Hati-hatilah kamu! Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu.”
13:24
“Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya
13:25
dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang.
13:26
Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
13:27
Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.
13:28
Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
13:29
Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
13:30
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi.
13:31
Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
13:32
Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”
13:33
“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.
13:34
Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga.
13:35
Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta,
13:36
supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur.
13:37
Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!”
ayat markus diatas, pertama bercerita tentang nubuatan penghancuran bait suci oleh orang romawi pada th 70 an Masehi,
kemudian nubuatan tentang penyiksaan orang Kristen oleh kerajaan romawi,
diperparah dgn hasutan orang2 Yahudi yg sakit hati dgn orang2 judeo Kristen yg dianggap pengkhianat karena tidak mau membantu pemberontakan Yahudi melawan romawi yg berakhir dgn kehancuran
kemudia nubuatan soal perpecahan Kristen menjadi bermacam2 sekte, dgn bermacam model keimanan.
konflik iman antara Kristen yg percaya YESUS = Tuhan dan yg meyakini YESUS bukan Tuhan.
selanjutnya penyiksaan terhadap orang Kristen berakhir dengan diterimanya Kristen menjadi agama resmi kerajaan romawi.
tidak ada penyiksaan lagi, tapi berubah menjadi konflik pertentangan iman antara orang2 Kristen sendiri.
puncaknya adalah disahkannya paham trinitas dalam konsili necea,
di titik inilah awal kegelapan dalam sejarah Kristen,
ajaran YESUS yg sederhana dgn ketuhanan monoteis yg mudah – seperti model agama Yahudi – di perkosa menjadi seperti agama2 pagan yg umum mengenal tuhan trinitas pada waktu itu.
itulah fase tergelap dalam peradaban manusia yg disebutkan oleh YESUS, matahari meredup, bulan tidak bercahaya, dan bintang2 berjatuhan !
karena kegelapan / penyimpangan agama tidak hanya terjadi di dalam Kristen, tapi semua agama2 yg telah ada sebelumnya telah diselewengkan begitu jauh oleh para pengikutnya
kata2 bulan, matahari, bintang2 bukanlah dalam arti sebenarnya, tetapi metafora dari cahaya agama2 yg pernah diturunkan Tuhan pada umat2 manusia di seluruh dunia.
itu bukan bercerita tentang hari kimat, karena ayat 26 mengatakan :
Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
di situ diceritakan tentang orang2 yg masih bisa melihat langit yg berawan !
padahal jika dalam arti sesungguhnya, matahari meredup bulan tak bercahaya akan menciptakan jaman es yg membabat habis peradapan manusia ! apalagi ditambah bintang2 berjatuhan ! tidak akan ada orang yg bisa hidup !
lalu siapa yg disebut diayat 26 itu sebagai semua orang2 akan melihat anak manusia datang di antara awan ??
bukankah semua orang telah mati karena bencana alam dahsyat seperti itu ?
itu juga bukan tentang hari berbangkit,
karena ketika pasca kiamat, orang2 dibangkitkan dan bumi diganti menjadi bumi yg baru, maka apa gunanya ada awan ??
disuasana baru seperti itu hanya ada dua keadaan, surga dan neraka.
dan ayat 29 ada penjelasannya :
Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
jika hari itu adalah kiamat, maka mengapa dikatakan waktunya sudah dekat ? sudah diambang pintu ??
bukankah itu sudah gongnya ??
bukan waktu yg sudah dekat lagi ??
maka ayat 24 s/d 29 bukanlah menceritakan soal hari kiamat secara harfiah
tetapi itu kalimat metafora terhadap suatu jaman di bumi dalam suatu masa tertentu.
masa apakah itu ?
buka sejarah Islam, pelajarilah latar belakang budaya dan agama bangsa2 didunia menjelang kedatangan agama Islam.
anda akan menemukan kekelaman di dalamnya,
kegelapan yg meliputi seluruh bumi !
lalu datanglah nubuatan tentang anak manusia yg datang diantara awan2
YESUS tidak sedang menceritakan kedatangan dirinya sendiri.
karena dia menggunakan kata ganti orang ketiga, bukan orang pertama yg tidak lain adalah dirinya sendiri.
YESUS menceritakan tentang kedatangan penolong lain, roh kebenaran, paraclete (apa kata aslinya dlm bahasa YESUS??, paraclete tidak dikenal dalam bahasa2 aram, bahasa ibu YESUS, tapi ada kata paraklid (sorry kalo salah nulis) yg artinya sama persis dgn kata arab, muhammad yg artinya TERPUJI)
dan penolong yg lain itu pastinya bukan ROH KUDUS !
itu hanya tambahan iseng penulis injil !
karena ROH KUDUS tidak bisa menunjukkan seluruh kebenaran kepada orang Kristen !
fakta berbicara : Prostestan – Katholik – seksi yahowa… jika mereka mengklaim dibimbing oleh ROH KUDUS yg sama, kenapa mereka masih ngotot mengklaim sebagai Kristen yg benar sendiri ??
Anak manusia yg datang diantara awan adalah Nabi Muhammad SAW
Ketika itu Muhammad kecil sedang mengikuti pamannya dalam perjalanan dagang ke syam.
ada keanehan yg ditemukan oleh seorang Uskup Kristen Bukhara terhadap diri si anak ini, yaitu kemanapun dia berjalan atau berhenti, ada secarik awan yg selalu melindunginya dari terik panas matahari !
Inilah yg dimaksud ANAK MANUSIA DATANG DIANTARA AWAN oleh Injil !
Pendeta inilah yg berpesan pada Abu Thalib, paman si Muhammad kecil, untuk menjaga baik2 keponakannya karena dia kelak akan menjadi nabi besar yg dinubuatkan injilnya !
ayat 27
Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.
merupakan nubuatan tentang kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam misi dakwah beliau !
karena beliau doang satu2nya Nabi dan Utusan Tuhan yg begitu gilang gemilang prestasi pencapaiannya dalam perjuangan dakwah dan memimpin umat sepanjang sejarah agama2 dunia !
jaman yg dimaksud YESUS itu adalah Jaman Islam !
begitulah makna markus 13 : 1-37
March 13, 2011 at 9:32 am
@ilham Anak Manusia = muhammad,saya rasa tidak,karena sudah jelas bahwa Anak Manusia itulah Yesus sendiri.Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14).dan memang waktunya sudah dekat,dalam arti tidak lama lagi setelah Yesus,sekarang umur bumi memang baru 2011 tahun??? tidak kan?? umur bumi saja sudah milyaran tahun,dan kalau kiamat terjadi pada tahun 3000 atau 4000 atau 10000 tahun lagi,itu berarti sudah dekat,bandingkan 1milyar dengan 10ribu.Yesus bilang waktunya sudah dekat,bukan berarti 600 tahun kemudian,dimana muhammad baru lahir,dekat itu berarti tidak lama lagi dibandingkan umur bumi.Sekarang ilham belum jawab pertanyaan saya yg di Markus 13:22
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.Sudah jelas tertulis mesias mesias palsu dan nabi nabi palsu,jadi sudah jelas ditujukan kepada islam ,yg mengaku nabi muhammad,ada lagi nabi ahmad(ahmadiyah)ada lagi nabi lia eden.Kalu Kristen walaupun banyak aliran,namun para pemimpin agamanya tidak pernah mengaku nabi,tidak seperti islam yang jelas2 muhammad mengaku nabi,dan umatr Kristen walaupun terpecah2,namun tetap satu dan tidak ada kerusuhan dalam nama agama,tidak seperti islam yang rusuh satu sama lain,Syiah dengan Sunni(seperti di Irak)Sunni dengan Sheikh(di Pakistan)FPI dan Ahmadiyah(di indonesia.Itu semua fakta dalam islam.Jadi sekali lagi sudah jelas nabi palsu itulah si mamad,bukannya Paulus,pendeta,pastor,ataupun paus,karena mereka tidak pernah mengaku nabi.Dan sudah jelas juga bahwa Yesus bernubuat tentang Akhir Jaman karen memang waktunya sudah dekat,bintang bintang berjatuhan itu dalam arti sesungguhnya,karena Yesus kalau menggunakan perumpamaan,pasti Dia akan bilang seperti di Markus 13:28
Tariklah pelajaran dari “PERUMPAMAAN” tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.dan sudah jelas juga bahwa Anak Manusia yang dimaksud adala Yesus sendiri.(TITIK) NABI NABI PALSU=mamad,ahmad,lia eden,dll Anak Manusia= Yesus.
March 13, 2011 at 9:37 am
@ilham.dari tadi anda menggunakan ayat ayat dalam Alkitab buat membenarkan muhammad,sekarang boleh dong saya gunakan ayat dlm alquran yg katanya tidak ada salahnya,untuk membenarkan bahwa Yesus adalah Anak Tuhan.(Surat Maryam 19:19) – Hanya Isa Anak Maryam yang langsung masuk Syurga kerana Dia suci.
(Surat Al Imran 3:45) – Bahkan Dia (Isa Almasih) terkemuka di dunia dan di akhirat.
(Sura Al Fatihah 1:6) – “Indinash shiraathal mustaqiim” – Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”
(Surat Az Zukhruf 43:61) – “Wa innahu la’ilmu lis saa’ati fa laa tamtarunna bihaa wa tabi’unni haadzaa shiraathum mustaqiim.” – Artinya: “Dan sesungguhnya ISA itu BEBAR memberikan pengetahuan tentang hari kiamat karena itu janganlah kamu ragu tentang hari kiamat itu dan ikutlah AKU. Inilah jalan yang LURUS.”
(Surat Az Zukhruf 43:63) – “Wa lammaa jaa-a ‘Isa bil bayyinaati qaala qad ji’tukum bil hikmati wa li ubayina lakum ba’dhal ladzii tathtalifuuna fiihi fat taqullaaha wa athii’u.” – Artinya: “Dan tatkala Isa datang membawa keterangan. Dia berkata sesungguhnya Aku datang membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian yang apa kamu perselisihkan tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKu.”
(Surat An Nisa 4:171) – “Inamal Masihu ‘isabnu Maryama rasullahi wa kalimatuhu.” – Artinya: “Sesungguhnya Isa Al Masih putra Maryam itu utusan Allah dan FirmanNya.”
(Hadis Anas bin Malik hal.72) – “Isa faa innahu Rohullah wa kalimatuhu.” – Artinya: “Isa itu sesungguhNya Roh Allah dan FirmanNya.”
(Surat Maryam 19:17) – ”arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala lahaa basyaran sawiyya.” – Artinya: “Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya menjadi Manusia yang sempurna.”
(Hadis Ibnu Majah) – “Laa mahdia illa isabnu Maryama.” – Artinya: “Tidak ada Imam MAHDI selain Isa putra Maryam.”
(Surat Al Anbiyaa 21:91) – “Wallatii ahshanat farjahaa fa nafakhnaa fiihaa mir ruuhinaa Wa ja’alnaahaa wabnahaa ayatal lil ‘aalamiin” – Artinya: “Ingatlah kisah seorang perempuan yang memelihara kehormatannya (Maryam) lalu Kami tiupkan kepadanya Roh Kami (Roh Allah) dan Kami jadikan dia dan Anaknya tanda (kuasa Allah) bagi semesta alam.”
(Surat Maryam 19:33) – “Wa salaamu ‘alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma ub’atsu hayaa.” – Artinya: “Dan sejahtera atasNya pada hari Dia dilahirkan, pada hari Dia wafat, dan pada hari Dia dibangkitkan hidup kembali.”
(Surat Al Imran 3:55) – “Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafiika, wa raafi’uka ilayya, wa muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa’ilul ladzina tabauka fauqal ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati.” – Artinya: “Ingatlah tatkala Allah berfirman; Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanMu, dan mengangkatMu kepadaKu, dan akan menyucikan Engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMu di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat.”
(Surat Al Baqarah 2:253) – “Wa aatainaa ‘isabna Maryam bayyinaati wa ayyadnaahu bi ruuhil qudusi.” – Artinya: “Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam, beberapa mujizat serta Kami perkuat Dia dengan Roh Kudus.”
(Surat An Nisa, 4:156) – “Wa bi kufrihim wa qaulihim ‘alaa Maryama buhtaanan ‘azhiimaa.” – Artinya: “Dan kerana kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zinah).
(Surat Al Imran, 3:45) – “Idz qalatil malaikatu yaa Maryama innallaaha yubasyiruki bi kalimatim minhus muhul masihu ‘isabnu Maryama wajihan fiddun-yaa wal akhirati wa minal muqarrabiin.” – Artinya: “Ketika malaikat berkata, hai Maryam sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan Kalimah daripadaNya namanya Al Masih putra Maryam, terkemuka di dunia dan di akhirat dan orang yang paling dekat pada Allah.”
March 13, 2011 at 9:47 am
Para pengikut Yesus=Kristen memang banyak,termasuk islam sendiri yang bagi saya adalah salah satu aliran Kristen.Namun satu hal,Gereja yang mengandug Roh Kebenaran dan Roh Kudus inilah cuma satu Gereja yaitu Gereja Katolik,yang terbukti selama hampir 2000 tahun tetapa ada dan akan tetap ada,karena Gereja inilah yang didirikan oleh Yesus sendiri seperti dalam artikel ini. Mungkin kita pernah mendengar orang-orang mempertanyakan apa sih ciri-ciri Gereja yang sejati? Apakah benar Gereja Katolik itu Gereja yang didirikan Yesus Kristus, dan yang dengan setia meneruskan serta menjaga kemurnian ajaran Kristus itu? Atau mungkin kita pernah mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah anda yakin anda selamat? Sudahkah anda menerima Yesus sebagai Juruselamat anda pribadi?” Ulasan berikut ini mungkin bermanfaat bagi refleksi kita semua.
Ajaran Gereja Katolik menjawab pertanyaan yang paling mendasar dalam hidup kita, seperti, “Siapa yang menciptakan aku? Mengapa aku diciptakan? Apa Tuhan sungguh ada? Apa yang harus kulakukan supaya aku bahagia? Mengapa ada banyak penderitaan di dunia ini?” Pertanyaan- pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan memuaskan jika kita punya keterbukaan hati terhadap rahmat Tuhan, menerima apa yang dinyatakan Yesus melalui Gereja yang didirikan-Nya, dan selanjutnya mengikuti rencana-Nya untuk setiap dari kita.
Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah
Gereja adalah terang dunia yang meneruskan Yesus Sang Terang kepada dunia.[1] Ini berdasarkan perkataan Yesus sendiri, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas di atas gunung tidak mungkin tersembunyi “(Mat 5:14). Karena itu, Gereja yang didirikan oleh Yesus dimaksudkan untuk berdiri sebagai institusi yang kelihatan. Yesus sendiri berjanji, “…di atas batu karang ini (Petrus) Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18) Artinya, Gereja-Nya tidak akan pernah binasa, dan tidak akan pernah terlepas daripadaNya. Gereja-Nya akan bertahan terus sampai kedatanganNya kembali di akhir zaman.
Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang bertahan sejak didirikan oleh Kristus (sekitar 30 AD). Dapat dikatakan bahwa gereja yang lain adalah kelompok yang memecahkan diri dari kesatuan Gereja Katolik. Gereja Timur Orthodox memisahkan diri dari pada tahun 1054, gereja Protestan tahun 1517, dan gereja-gereja Protestan yang lain adalah pemecahan dari gereja Protestan yang awal ini.[2]
Hanya Gereja Katolik yang bertahan dari abad pertama yang dengan setia mengajarkan pengajaran yang diberikan oleh Kristus kepada para Rasul-Nya, tanpa mengurangi ataupun mengubah. Kesinambungan para Paus dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Rasul Petrus. Hal ini tidak pernah terjadi di dalam organisasi apapun di dunia. Pemerintahan negara dunia yang tertua-pun tidak dapat menandingi lamanya keberadaan Gereja Katolik. Banyak gereja yang sekarang aktif menjalankan penginjilan didirikan hanya di abad- 19 atau ke- 20, atau baru-baru ini saja di abad ke-21. Tidak ada dari mereka yang dapat berkata mereka didirikan sendiri oleh Yesus.
Gereja Katolik telah berdiri selama kira-kira 2000 tahun, walaupun dalam sejarahnya sering menghadapi pertentangan dari dunia. Ini adalah kesaksian yang nyata bahwa Gereja berasal dari Tuhan, sebagai pemenuhan dari janji Kristus. Jadi, Gereja bukan semata-mata organisasi manusia, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada masa-masa di mana dipimpin oleh mereka yang tidak bijaksana, yang mencoreng nama Gereja dengan perbuatan- perbuatan mereka. Namun, kenyataannya, mereka tidak sanggup menghancurkan Gereja. Gereja Katolik tetap berdiri sampai sekarang. Jika Gereja ini hanya organisasi manusia semata, tentulah ia sudah hancur sejak lama. Sekarang Gereja Katolik beranggotakan sekitar satu milyar anggota, sekitar seper-enam dari jumlah manusia di dunia, dan menjadi kelompok yang terbesar dibandingkan dengan gereja-gereja yang lain. Ini bukan hasil dari kepandaian para pemimpin Gereja, tetapi karena karya Roh Kudus.
Empat tanda Gereja sejati
Jika kita ingin tahu apa yang menjadi ciri-ciri Gereja yang didirikan oleh Kristus, kita akan mengetahui bahwa ada empat ciri; yaitu Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik (Lumen Gentium / LG, 8)
Gereja yang Satu
(Rom 12:5, 1Kor 10:17, 12:13, KGK (Katekismus Gereja Katolik 813-822), LG 4)
Yesus mendirikan hanya satu Gereja, bukan kesatuan dari beberapa gereja yang berbeda-beda. Kita mengetahuinya dari Yesus sendiri, yang mengatakan bahwa Ia akan mendirikan Gereja-Nya (bukan gereja-gereja) di atas Petrus (Mat 16:18). Pada saat Perjamuan Terakhir sebelum wafatNya Kristus berdoa untuk kesatuan GerejaNya: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Kitab suci mengatakan bahwa Gereja adalah ‘mempelai Kristus’ (Ef 5:23-32). Karenanya, tidak mungkin Ia mempunyai lebih dari satu mempelai. Mempelai-Nya yang satu adalah Gereja Katolik.
Kesatuan Gereja Katolik ini ditunjukkan dengan kesatuan dalam hal (1)iman dan pengajaran, berdasarkan ajaran Kristus (2) liturgi dan sakramen dan (3) kepemimpinan, yang awalnya dipegang oleh para rasul di bawah kepemimpinan Rasul Petrus, yang kemudian diteruskan oleh para pengganti mereka. Kepada kesatuan inilah semua para pengikut Kristus dipanggil (Fil 1:27, 2:2), sebagai “sebuah bangsa yang dipersatukan dengan kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus.” (LG 4)
Kesatuan Gereja Katolik dalam hal pengajaran mempunyai dua dimensi, yaitu berlaku di seluruh dunia dan berlaku sepanjang sejarah. Hal ini dimungkinkan karena dalam hal iman kepemimpinan Gereja dipegang oleh seorang kepala, yaitu seorang Paus yang bertindak sebagai wakil Kristus. Sepanjang sejarah, oleh bimbingan Roh Kudus, Gereja semakin memahami akan ajaran-ajaran Kristus (Yoh 16:12-13) dan menjabarkannya, namun tidak pernah menetapkan sesuatu yang bertentangan dari apa yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Gereja yang kudus
(Ef 5:25-27, Why 19:7-8, KGK 823-829, LG 8, 39, 41,42)
Kekudusan Gereja disebabkan oleh kekudusan Kristus yang mendirikannya. Hal ini tidak berarti bahwa setiap anggota Gereja-Nya adalah kudus, sebab Yesus sendiri mengakui bahwa para anggotaNya terdiri dari yang baik dan yang jahat (lih. Yoh 6:70), dan karena itu tak semua dari anggotaNya masuk ke surga (Mat 7:21-23). Tetapi Gereja-Nya menjadi kudus karena ia adalah mempelai Kristus dan Tubuh-Nya sendiri, sehingga Gereja menjadi sumber kekudusan dan sebagai penjaga alat yang istimewa untuk menyampaikan rahmat Tuhan melalui sakramen- sakramen (lih. Ef 5:26).
Jadi kekudusan Gereja dapat dilihat dari para anggotanya yang hidup di dalam rahmat pengudusan, terutama mereka yang sungguh-sungguh menerapkan kekudusan itu di dalam kaul religius seperti para rohaniwan, rohaniwati dan terutama terlihat nyata pada para martir dan Orang Kudus (lih. LG 42). Kekudusan Gereja juga terlihat dari banyaknya mukjizat yang dilakukan oleh Para Kudus sepanjang sejarah. Dalam hal kekudusan inilah, maka Gereja menggarisbawahi pentingnya pertobatan (lih. LG 8), agar para anggotanya dibawa kepada rahmat pengudusan Allah.
Gereja yang katolik
(Mat 28:19-20, Why 5:9-10, KGK 830-856, LG 1)
Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal” atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)
Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.
Nama ‘Gereja Katolik’ pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,
“…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.”
Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.
Namun, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[3] bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Di sini kata “Katha holos atau katholikos” dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”
Gereja yang Apostolik
(Ef 2:19-20, KGK 857-865, LG 22)
Gereja disebut apostolik karena Yesus telah memilih para rasul-Nya untuk menjadi pemimpin- pemimpin pertama Gereja-Nya, di bawah pimpinan Rasul Petrus (Mat 16:18, Yoh 21:15-18). Oleh karena Yesus sendiri menjanjikan Gereja-Nya tidak akan binasa (Mat 16:18), maka kepemimpinan Gereja tidak berhenti dengan kepemimpinan para rasul tetapi diteruskan oleh para penerus mereka. Dengan demikian janji penyertaan Yesus terus berlangsung sampai pada saat ini, di mana Ia mengatakan, “Aku akan menyertai engkau senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20).
Para rasul adalah para uskup yang pertama, dan sejak abad pertama, pengajaran para rasul di dalam Kitab suci dan Tradisi kudus diturunkan dari mulut ke mulut kepada para penerus mereka (lih. 2 Tes 2:15), misalnya tentang kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ekaristi, kurban Misa, pengampunan dosa melalui perantaraan imam, kelahiran baru dalam pembaptisan, keberadaan Api penyucian, peran khusus Maria dalam karya Keselamatan, hal kepemimpinan Paus, dan lain-lain.
Surat pertama dari Santo Klemens (penerus ketiga setelah Rasul Petrus, tahun 96) kepada jemaat di Korintus yang menyelesaikan konflik di antara mereka membuktikan kepemimpinan Gereja di bawah penerus Rasul Petrus sebagai uskup di Roma.[4] Kepemimpinan di bawah Paus di Roma ini diakui oleh Gereja Katolik sampai saat ini (LG 22). Singkatnya, jika kita kembali ke abad pertama, kita akan menemukan Gereja yang memiliki banyak kemiripan dengan Gereja Katolik yang sekarang, karena memang itu adalah satu dan sama.
Kesimpulan: Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran
Gereja yang otentik adalah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik; dan ini terdapat di Gereja Katolik.[5] Dari Kitab Suci, Tradisi dan tulisan para Bapa Gereja dapat diketahui bahwa Gereja mengajar dengan kuasa Yesus. Di tengah-tengah banyaknya pendapat dan ajaran dari agama-agama yang berbeda-beda, Gereja Katolik selalu menyuarakan ajaran yang sama sepanjang segala abad, sebab ia adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15).
Karena Yesus sendiri mengatakan kepada para rasul, “Barangsiapa yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku dan Dia yang mengutus Aku” (Luk 10:16), maka kita percaya bahwa Yesus mempercayakan kepemimpinan Gereja kepada para rasul dan penerus mereka. Karena Yesus sendiri berjanji akan membimbing Gereja-Nya sampai kepada seluruh kebenaran oleh kuasa Roh KudusNya (Yoh 16:12-13), maka kita dapat mengimani bahwa Gereja-Nya ini, Gereja Katolik, mengajarkan kebenaran Kristus.
March 13, 2011 at 11:21 am
Anda berkata berdasarkan ayat ini :
Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (MARYAM ayat 19)
bahwa hanya Isa yang akan langsung masuk syurga.
Anda keliru, jika kesucian menurut anda adalah syarat langsung masuk Syurga, maka menurut alQuran bukan hanya Isa yang akan masuk Syurga, tetapi juga semua pengikut Muhammad SAW yang mendapatkan kesucian dari melaksanakan syariat agama, berdasarkan firman ALLAH SWT:
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 151)
Seperti misalnya syariat zakat, siapa yang melaksanakannya, zakat itu mensucikan mereka:
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan {658} dan mensucikan {659} mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 103)
Manusia ada yang mendapatkan penjagaan dari ALLAH sehingga dia senantiasa dalam keadaan suci dari dosa, seperti para Nabi dan Rasul, dan ada pula yang mendapatkan kesuciannya dengan melaksanakan syariat agama-Nya.
Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain {1253}. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya {1254} dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu). (FAATHIR (PENCIPTA) ayat 18)
Dalam tafsir Ibn Katsir, mensucikan diri itu dengan amal soleh.
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (SHAAD ayat 45-46)
Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa mensucikan mereka itu adalah dengan menjadikan mereka beramal untuk Akhirat. dengan demikian bukan hanya Nabi isa dan pengikut para Nabi yang disucikan, Nabi dan Rasul pun disucikan oleh ALLAH
Makna suci manusia artinya bebasnya manusia dari kotoran dosa dan sifat buruk atau janabat dan hadats, suci lahir maupun bathin.
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (ASY SYAMS (MATAHARI) ayat
Dengan demikian yang mengotori kesucian manusia adalah perbuatan dosa. Salah satu dosa yang mengotori kesucian manusia adalah dosa menyekutukan ALLAH.
Sementara mereka yang menyekutukan ALLAH dengan YESUS, mereka itu berbuat dosa karena melanggar hak ALLAH dan hukum utama-Nya, mejauhkan mereka dari kesucian oleh sebab kotoran dosa tersebut. Isa masuk syurga tanpa hisab karena disucikan ALLAH, sementara mereka yang menuhankan YESUS terperosok masuk ke dalam Neraka, tidak bisa mengikuti YESUS yang mereka Tuhankan. Saat sebagian dari mereka bertemu Isa dan memanggilnya TUHAN, ternyata Isa memalingkan muka. Karena Isa menolak dipertuhankan sebagaimana perintahnya kepada umatnya untuk menegakan hukum utama.
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu {383}, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya {384} yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya {385}. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (AN NISAA’ (WANITA) ayat 171)
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah ?”. ‘Isa menjawab: “maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 116)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (ALI ‘IMRAN (KELUARGA ‘IMRAN) ayat 64)
March 13, 2011 at 11:57 am
@Valentine
Anda keliru menganggap hanya Isa yang menunjukan jalan lurus.
Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.(QS 43:61)
Aku di sana bukan Isa, tetapi TUHAN. Jalan lurus dalam konteks ayat tersebut dalam tafsir Ibn Katsir adalah mengikuti Tuhan mengenai apa yang telah Tuhan beritakan dan meyakini kebenarannya. Kebalikan dari jalan lurus adalah menolak kebenaran karena dipalingkan oleh setan.
Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (AQ 43:44)
Walau demikian sebagaimana Nabi lainnya, Isa pun menunjukan manusia kepada jalan yang lurus.
Dalam al-Fatihah disebutkan:
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS 1:6-7)
Sangat jelas bahwa jalan lurus itu bukan jalan yang hanya ditunjukan Isa saja, melainkan juga oleh Nabi dan Rasul lainnya. Karena mereka yang menapaki jalan lurus itu hidup pada masa sebelum, pada saat, dan setelah Isa.
Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS: 4:69).
Menurut tafsir Ibn Katsir, mereka yang berpaling dari jalan lurus karena mengikuti setan adalah mereka yang dimurkai, yakni yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya, dan mereka yang sesat, yakni mereka yang beramal tanpa ilmu.
Sifat Yahudi yang paling spesifik adalah dimurkai, sebagaimana firman ALLAH:
Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi424 dan (orang yang) menyembah thaghut ?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS: 5:60)
Sifat Nasrani yang paling spesifik ialah kesesatan, sebagaimana firman ALLAH:
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (QS:5:77)
Dalam tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud dengan berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu adalah melampaui batas dalam menghormati Isa sehingga mengeluarkan Isa dari kerangka kenabiannya ke kerangka ketuhanan sehingga Isa dijadikan Tuhan selain ALLAH. Kesesatan itu disebabkan karena orang kalian mengikuti Paulus yang sesat dengan mengatakan Isa sebagai Tuhan padahal jelas Isa menyuruh umatnya untuk menegakan hukum utama yakni tidak menyekutukan Tuhan. ALLAH menyuruh anda untuk mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dari jalan yang lurus.
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (ALI ‘IMRAN (KELUARGA ‘IMRAN) ayat 64)
March 13, 2011 at 12:22 pm
@Valentine
Anda keliru menganggap Islam semupakan aliran Kristen. Karena tidak ada satupun pengikut Kristen yang membuat alQuran seperti Paulus dan lainnya yang ikut andil membuat bible. Memang ada Kristen Unitarian yang menolak ketuhanan Yesus dan menuhankan Dia Yang Maha Esa. Tetapi Islam sama sekali berbeda dengan Kristen Unitarian. Islam itu aliran agama tauhid Ibrahim, dan begitu pula dengan Nasrani dan Yahudi. Wahyu ALLAH yang dilisankan oleh Nabi dan Rasul-lah yang menghubungkan ketiga agama tersebut, dan bukan selain mereka yang mengatasnamakan perkataan dusta sebagai perkataan Tuhan.
Agama Ibrahim meletakan keselamatan itu pada ALLAH dan bukan pada ciptaan-Nya. Setiap manusia selamat hanya dengan mengimani Tuhan YME, Nabi yang diutus-Nya, dan taat kepada perintah dan larangan-Nya. Setiap manusia selamat dengan usahanya sendiri. Setiap manusia membersihkan dirinya dengan melaksanakan syariat agama. Kemampuan mensucikan diri dengan keduatangannya inilah yang dibanggakan Tuhan dihadapan mahluk lainnya.
Dan setiap umat itu memiliki syariatnya masing-masing. Nabi berganti dan syariat berubah. Tetapi satu hal yang tidak berubah, yakni perintah untuk tidak mengambil ciptaan-Nya sebagai Tuhan. Jika muslim diberi usia yang panjang, dia akan menjadi umat Musa pada masanya, dia akan menjadi umat Isa pada masanya, dan dia akan menjadi umat Muhammad pada masanya. Yang dirasakannya hanya pada ujian dan syariat. Sementara jalan keselamatannya adalah tetap, yakni bersabat atas ujian dengan menjalankan syariat agama, dan Tuhannya sama, yakni Dia yang dikenal segala bangsa dengan banyak nama, yang memiliki sifat Maha Esa, tanpa sekutu, tidak beranak dan diperanakan.
Inilah tiang penopang dan dasar kebenaran, inilah kebenaran Kristus.
March 14, 2011 at 8:59 pm
Bagi orang muslim mungkin telah lupa bahwa manusia diciptakan serupa dengan gambar Tuhan sendiri,memang Tuhan Maha Kuasa,tapi jangan lupa kita manusia diciptakan menurut gambar Tuhan,jadi sudah jelas apa yang mungkin bagi manusia,pastilah mungkin juga bagi Tuhan,manusia punya anak,kenapa Tuhan tidak?? Tuhan dalam muslim itu tuhan yang mati dan tidak berbentuk,Kalau Tuhan dalam Kristen sudah tercermin dalam rupa dan gambar Yesus,itulah Tuhan yang sesungguhnya yang mempunyai citra manusia.
March 14, 2011 at 11:33 pm
@valentine
jika tuhan seperti manusia dan bisa beranak seperti manusia berarti cara beranaknya juga seperti manusia yaitu mempunyai partner, nah sekarang tuhan ibunya siapa? maria???
March 14, 2011 at 11:37 pm
@valentine
3:51. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”.
sudah tahu apa yang dimaksud jalan yang lurus?
April 1, 2011 at 1:26 am
@ someone:
Surat Maryam 19:33) – “Wa salaamu ‘alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma ub’atsu hayaa.” – Artinya: “Dan sejahtera atasNya pada hari Dia dilahirkan, pada hari Dia wafat, dan pada hari Dia dibangkitkan hidup kembali.”
(Surat Al Imran 3:55) – “Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafiika, wa raafi’uka ilayya, wa muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa’ilul ladzina tabauka fauqal ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati.” – Artinya: “Ingatlah tatkala Allah berfirman; Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanMu, dan mengangkatMu kepadaKu, dan akan menyucikan Engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMu di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat.” Kok di alquran dibilang klo Yesus wafat ya? tapi kapan dan bagaimana wafatnya,tidak bisa dijelaskan secara jelas oleh para muslim.Jadi sudah jelas bahwa Yesus wafat di kayu salib dan dibangkitkan pada hari ketiga,semu dengan jelas tertulis dalam Alkitab yang adalah kitab yang sempurna dan terakhir.
March 13, 2011 at 11:05 am
Roh Kebenaran= Roh Kudus,dan Roh Kudus inilah yang cuma ada dalam Gereja Katolik,bukan islam dan juga bukan gereja gereja yang lain,jadi sekali lagi Roh Kebenaran tidak sama dengan muhammad,karena apakah muhammad datang sebagai roh atau arwah?????? tidak kan??? si mamad juga tidak mengaku sebagai Roh Kudus,dia mengaku NABI,sekali lagi NABI,yang notabene nabi palsu,seperti yang dinubuatkan Yesus.”ROH” Kebenaran=”ROH” Kudus,bukannya nabi palsu mamad,Kalau Gereja Katolik jelas pimpinannya yang adalah Paus Benediktus XVI,mengaku dalam dirinya ada Roh Kudus,dan Roh Kudus inilah yang dijanjikan dan diwariskan oleh Yesus,kepada Rasul2Nya seperti Petrus,Paulus,dll sampai pada Paus Benediktus.Terbukti Gereja Katolik telah bertahan 2000 tahun,tidak ada organisasi apapun di dunia yang bisa bertahan seperti Gereja Katolik.
March 13, 2011 at 12:59 pm
Bagaimana Gereja yang dianggap diliputi roh kebenaran, dekat dengan Kerajaan ALLAH, melanggar kebenaran yang disampaikan YESUS dengan merubah sifat TUHAN menjadi tidak ESA, yakni ada yang lain selain DIA? Bukalah Matius 28-34:
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”
Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia .
Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”
Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.
Tapi Paulus kemudian berkata dusta dan mengatakan bahwa YESUS adalah Tuhan, menyalahi ahli Taurat dan YESUS sendiri. Dan kesesatan ini diikuti dan diperparah oleh Katolik dengan trinitasnya yang menganggap TUHAN, ROH KUDUS, dan YESUS itu sehakikat, ketiganya adalah pribadi yang sama yakni TUHAN. Jadi YESUS yang diyakini Arius sebagai Nabi adalah TUHAN, dan ROH KUDUS yang diyakini Makedonius sebagai makhluk ciptaan yang melayani Bapa dan Putera dianggap sebagai TUHAN. Padahal bukan hanya ROH KUDUS dan YESUS yang pernah seperti keduanya, melafalkan kalimat TUHAN. Padahal MUSA tidak menganggap batu terukir 10 perintah TUHAN atau api di gunung tursina sebagai TUHAN. Tuhan itu bukan tulisan-Nya, batu yang terukir kalimat-Nya, atau api yang mewakili kehadiran-Nya.
Perpecahan besar pertama dalam Gereja Katolik terjadi pada abad 11. Masalah perbedaan doktrin tentang rumusan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel (lihat filioque). Doa Syahadat Nicea atau Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, merupakan hasil dari dua konsili ekumenis yang berlangsung di Nicea pada tahun 325 dan Konstantinopel pada tahun 381.
Dalam Konsili Nicea I (325) hal utama yang dibahas adalah ajaran Arius, seorang imam paroki di Baukalis di Alexandria, Mesir. Arius mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Allah, tetapi adalah makhluk ciptaan-Nya. Menurut Arius, ada saat dimana Logos (Sabda Allah, maksudnya Yesus) tidak ada (Lihat:Arianisme). Konsili Nicea I menolak ajaran Arius dan menganggapnya menyeleweng dari ajaran Gereja yang benar. Para ‘Bapa’ yang hadir dalam konsili tersebut menegaskan ajaran Gereja bahwa Yesus (Putera Allah – Sabda Allah) sehakikat dengan Allah Bapa (Lihat:Tritunggal). Padahal jelas-jelas YESUS memanggil Tuhan saat berada di tiang salib. Bagaimana Tuhan mengeluh kepada diri-Nya sendiri dan memanggil diri-Nya sendiri? Seandainya YESUS adalah sehakikat, maka dia tidak akan mengeluhkan keadaan yang dikehendakinya.
Dalam Konsili Konstantinopel I (381) hal utama yang dibahas adalah ajaran Makedonius I, Patriarkh Konstantinopel. Makedonius mengajarkan bahwa Roh Kudus bukanlah Allah, tetapi adalah makhluk ciptaan dan adalah pelayan Bapa dan Putera. Pendapat Makedonius ini sejalan dengan pemahaman Islam. Konsili Konstantinopel I menolak ajaran Makedonius dan menegaskan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan dan Allah yang setara dengan Bapa dan Putera.
March 15, 2011 at 1:06 am
Ketetapan suatu konsili bukan semata ajaran yang ditentukan pada saat itu, namun lebih merupakan suatu pernyataan akan ajaran yang telah berkembang sebelumnya atau merupakan suatu tanggapan terhadap ajaran yang sesat. Oleh karena itu, pernyataan dari konsili adalah untuk menjaga ajaran iman adalah sesuai dengan apa yang diberikan oleh Yesus sendiri, sehingga ajaran tersebut dapat diteruskan dari generasi ke generasi tanpa ada penyimpangan.
Untuk membuktikan hal ini, saya akan memaparkan beberapa pernyataan dari bapa Gereja sebelum tahun 325, yang membuktikan bahwa ajaran Kristus adalah Tuhan memang dinyatakan oleh Kristus sendiri dan diteruskan oleh para rasul, dan para murid.
Untuk membuktikan bahwa jemaat awal mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, saya lampirkan beberapa kutipan dari Bapa Gereja sebelum tahun 325, yang saya ambil dari buku: William A. Jurgens, Faith of the Early Fathers: Three-Volume Set (Liturgical Press, 1980):
St. Ignatius of Antioch (110 AD)
Vol.1, hal. 17 – “Ignatius, yang juga dipanggil Theophorus, kepada Gereja di Efesus di Asia…. ditakdirkan dari sepanjang abada untuk sebuah kemuliaan yang tidak berkesudahan dan tak berubah, disatukan dan dipilih melalui penderitaan yang nyata oleh kehendak Bapa di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Letter to the Ephesians 1)
Vol. 1, hal. 18 – “Karena Tuhan kita, Yesus Kristus, dikandung oleh Maria, sesuai dengan rencana Tuhan: dari keturunan Daud, memang benar, namun juga dari Roh Kudus…..” (Letter to the Ephesians 18,2).
Vol. 1, hal. 21 – “..; kepada Gereja yang dikasihi dan diterangi oleh kasih dari Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak-Nya ….” (Letter to the Romans, 1).
St. Irenaeus (140 AD).
Vol. 1, hal. 84-85 – “….dan kebangkitan kembali semua badan dari seluruh umat manusia, sehingga kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Allah dan Penyelamat dan Raja…” (Against Heresies, 1,10,1)
Vol. 1, hal. 99 – “.. Namun demikian, engkau akan mengikuti satu-satunya guru yang benar dan dapat diandalkan, Sabda Allah, Yesus Kristus, Tuhan kita, dimana, karena kasih-Nya yang begitu besar, menjadi seperti kita [manusia], sehingga Dia dapat membawa kita kepada sebagaimana adanya Dia.” (Against Heresies, 5, Preface).
Tertullian (210 AD).
Vol. 1, hal. 146 – “…Asal dari dua hakekatnya [Yesus] menunjukkan bahwa Dia [Yesus] sebagai manusia dan Tuhan.” (The Flesh of Christ, 5:7).
Origen (225 AD).
Vol. 1, hal. 191 – “Walaupun Dia [Jesus] adalah Tuhan, Dia telah mengambil tubuh; dan menjadi manusia, Dia [Jesus] tetap sebagai Tuhan.” (The Fundamental Doktrines, 1 Preface, 4).
Cyprian of Carthage (253 AD).
Vol. 1, hal. 238 – “Barang siapa menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait-Nya [bait Roh Kudus].” (Letter of Cyprian to Jubaianus, 73,12).
Arnobius of Sicca (305 AD).
Vol. 1, hal. 262 – “… beberapa orang geram, marah, dan bergejolak, dan berkata “Apakah Kristus adalah Tuhanmu?” “Memang Dia adalah Tuhan,” kita harus menjawab, “dan Tuhan di dalam kekuatan yang tersembunyi.” (Against the Pagans, 1, 42).
Dari beberapa pemahaman tentang Kristologi yang semakin jelas berbeda dengan ajaran sesat Arianisme, maka Konsili Nisea, pada tahun 325 merumuskan formulasi sebagai berikut:
“We believe in one Lord, Jesus Christ, the only-begotten Son of God, God from God, light from light, true God from true God, begotten, not made, one in being with the Father. Through him all things were made” (Creed of Nicaea)
“Kami percaya akan satu Allah, Yesus Kristus, Putera Allah yang Tunggal, Alllah dari Allah, Terang dari Terang, Allah Benar dari Allah Benar, dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa, Segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.“
Dari pernyataan-pertanyaataan di atas, maka menjadi jelas, bahwa Yesus tidak dijadikan Tuhan oleh konsili Nisea pada tahun 325, namun Yesus sendiri adalah Tuhan, dengan bukti-bukti dari:
Pernjanjian Lama dan Perjanjian Baru, seperti yang telah ditulis dalam artikel tentang Kristologi (1, 2, 3, 4).
Dipercayai oleh para Rasul, para murid, dan juga pengikut Kristus pada jaman-jaman awal, sebelum konsili Nisea.
Dirumuskan secara resmi oleh Gereja Katolik pada konsili Nisea tahun 325.
Dan rumusan ini terus dipakai sampai sekarang, dan setiap hari diucapkan oleh umat Katolik dalam setiap perayaan Ekaristi.
Jadi kebenaran bahwa Yesus adalah Tuhan tidaklah berubah dengan perjalanan waktu. Bahkan kita masing-masing akan bertemu dengan Yesus yang akan mengadili setiap umat manusia pada akhir jaman. Hanya Tuhan yang dapat mengadili umat manusia. Dan memang, Yesus adalah Tuhan, sehingga Dia dapat mengadili seluruh umat manusia dengan kebijaksanaan, kasih, dan keadilan-Nya.
Demikian apa yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan dan keberatan PencariTuhan.
March 15, 2011 at 2:49 pm
“Dipercayai oleh para Rasul, para murid, dan juga pengikut Kristus pada jaman-jaman awal, sebelum konsili Nisea.”
Dan keyakinan bahwa YESUS itu manusia biasa juga dipercayai pengikut YESUS sebelum konsili Nisea, menunjukan terjadinya pergeseran keyakinan, khususnya tatkala Kristen berkembang di Roma dan tersinkretis dengan keyakinan Pagan Dewa Matahari.
April 1, 2011 at 1:06 am
@someone:
1. Arianism adalah bidaah/ heresi yang sangat berbahaya, di awal abad ke -4 (319) karena mengajarkan ajaran sesat dalam hal Trinitas dan Kristologis. Bidaah ini diajarkan oleh Arius, seorang imam dari Alexandria, yang ingin menyederhanakan misteri Trinitas. Ia tidak bisa menerima bahwa Kristus Sang Putera Allah berasal dari Allah Bapa, namun sehakekat dengan Bapa. Maka Arius mengajarkan bahwa karena Yesus ‘berasal’ dari Bapa maka mestinya Ia adalah seorang ciptaan biasa, namun ciptaan yang paling tinggi. Arius tidak memahami bahwa di dalam satu Pribadi Yesus terdapat dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia.
Berikut ini adalah ringkasan ajaran sesat/ heresi Arianism:
- Kristus Sang Putera tidak sama-sama kekal (tak berawal dan berakhir) dengan Bapa, melainkan mempunyai sebuah awal.
- Kristus Sang Putera tidak sehakekat dengan Allah Bapa.
- Allah Bapa secara tak terbatas lebih mulia dari pada Kristus Sang Putera.
- Kristus Sang Putera adalah seorang ciptaan, yang diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, berupa kodrat malaikat (super-archangel) yang tidak sehakekat dengan Allah Bapa.
- Tuhan bukan Trinitas secara kodratnya.
- Kristus Putera Allah bukan Putera Allah secara kodrati, tetapi Putera angkat.
- Kristus Putera Allah diciptakan dengan kehendak bebas Allah Bapa.
- Kristus Putera Allah tidak tanpa cela, tetapi dapat secara kodrati berubah/ berdosa.
- Kristus Putera Allah tidak dapat memahami Allah Bapa.
- Jiwa dari Kristus Putera Allah yang sudah ada sebelumnya (dari super archangel tersebut) mengambil tempat jiwa manusia dalam kemanusiaan Yesus.
Maka menurut Arius, Kristus adalah bukan sungguh-sungguh Allah, namun juga bukan sungguh-sungguh manusia (sebab jiwanya bukan jiwa manusia). Sebagai dasarnya Arius mengambil ayat Yoh Yoh 1:14, “Firman itu menjadi manusia/ “the Word was made flesh”, dan ia berkesimpulan bahwa Firman itu hanya menjelma menjadi daging saja tetapi tidak jiwanya. Prinsip ini kemudian juga diikuti oleh Apollinaris (300-390).
Ajaran sesat ini diluruskan melalui Konsili Nicea (325) yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup. Ajaran Arius ini dikecam, dan dianggap sebagai inovasi radikal. Maka dibuatlah suatu pernyataan Credo, untuk mempertahankan ajaran para rasul, yaitu Kristus adalah “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.” Pada waktu penandatanganan ajaran ini, hampir semua dari para uskup tersebut setuju, hanya terdapat 17 uskup yang enggan bersuara, namun kenyataannya hanya 2 orang uskup yang menolak, ditambah dengan Arius sendiri.
Konsili Nicea ini sering disalah mengerti oleh umat non-Kristen, sebab mereka menyangka bahwa baru pada tahun 325 Yesus dinobatkan sebagai Tuhan. Ini salah besar, sebab pernyataan Kristus sehakekat dengan Allah tersebut dibuat untuk meluruskan ajaran sesat Arianism dan untuk menegaskan kembali iman Gereja yang berasal dari pengajaran para rasul. Maka kita mengenal pernyataan itu sebagai “Syahadat Para Rasul”, karena memang dalam syahadat tersebut tercantum pokok-pokok iman yang diajarkan oleh para rasul.
Perjuangan melawan bidaah Arianism kemudian dilanjutkan oleh St. Athanasius (296-373). Ajaran St. Athanasius yang terkenal adalah bahwa kalau Kristus mempunyai awal mula, maka artinya ada saat bahwa Allah Bapa bukan Allah Bapa, dan di mana Allah Bapa tidak punya Sabda ataupun Kebijaksanaan….Ini jelas bertentangan dengan Wahyu Allah dan akal sehat. “Sebab jika Allah Bapa itu kekal, tak berawal dan tak berakhir maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga kekal, tak berawal dan berakhir.”[1]
Demikian yang dapat saya tuliskan mengenai bidaah/ heresi Arianism. Bidaah ini tidak menyebutkan secara khusus tentang Roh Kudus dan menghubungkannya dengan malaikat Gabriel/ Jibril. Namun melalui sejarah kita mengetahui bahwa sudah sejak abad awal ada orang-orang yang berusaha menyederhanakan konsep Trinitas, dan misteri ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus.
Dengan mempelajari sejarah Gereja, kita mengetahui betapa pentingnya peran Paus dan para uskup untuk mempertahankan kemurnian ajaran Alkitab dan para rasul, yang memang sering disalah-artikan oleh interpretasi pribadi orang-orang tertentu. Semoga kita semua dapat mempunyai kerendahan hati untuk menerima pengajaran dari para penerus rasul dalam Magisterium Gereja Katolik, dan dengan demikian menerima kemurnian pengajaran Alkitab sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul-Nya.
April 1, 2011 at 1:13 am
@ilham othmany:
Banyak orang mengartikan bahwa perikop ini menceritakan tentang akhir jaman, tanpa menyadari bahwa sebenarnya nubuat ini bukan hanya tentang akhir jaman. Secara prinsip, ada tiga kejadian yang hendak disampaikan dalam perikop ini, yaitu 1) kehancuran Yerusalem, 2) kedatangan Kristus yang ke dua, dan 3) akhir dunia, dimana kedatangan Kristus dan akhir dunia berlangsung dalam satu kejadian. Kalau kita mengartikan bahwa ayat 1-39 seluruhnya menceritakan tentang akhir jaman, maka kita akan terjebak dalam banyak kesalahan yang tidak perlu. Kunci dari perikop ini adalah ayat 36, dimana Yesus mengatakan bahwa tidak ada yang tahu tentang hari dan saat nubuat tersebut terjadi. Dan sikap yang paling bijak dalam menyikapi nubuat ini adalah dengan mengikuti apa yang dikatakan oleh Yesus dalam dua perikop berikutnya, yaitu nasihat supaya berjaga-jaga (ay. 37-44) dan perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat (ay. 45-51).
Oleh sebab itu, kita perlu mengidentifikasikan ayat mana yang telah terjadi – yang mengacu pada kehancuran Yerusalem – dan ayat mana yang belum terjadi – yang mengacu kepada kedatangan Kristus yang ke-dua atau hari kiamat. Mari kita bersama-sama menganalisa ayat-ayat ini. Secara prinsip ayat-ayat ini dibagi menjadi:
1-2: Yesus menceritakan tentang kehancuran Yerusalem
3-14: Permulaan dari kesengsaraan dan penyiksaan serta pemberitaan Injil
3: Tiga pertanyaan para murid, yaitu: a) kapan kehancuran Yerusalem, b) kapan kedatangan Kristus yang ke-dua, dan c) kapan akhir dari dunia ini.
4-12: Tanda-tanda dari kehancuran Yerusalem.
13: Yesus memberikan kunci, yaitu untuk tetap bertahan sampai pada akhirnya.
14: Tanda akhir jaman maupun kehancuran Yerusalem, yaitu dengan tersebarnya Injil ke seluruh bangsa.
15-22: Menceritakan tentang runtuhnya Yerusalem
23-28: Tentang akhir jaman
23-26: Menceritakan tentang tanda-tanda akhir jaman atau kedatangan Anak Manusia.
27: Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan-Nya.
28: Menceritakan bahwa baik kehancuran Yerusalem maupun akhir dunia pasti akan terjadi.
29-36: Kedatangan Anak manusia dan perumpaman pohon ara
29-31: Menceritakan bagaimana Anak Manusia akan datang yang kedua kali.
32-35: Akhir dunia pasti akan terjadi, seperti pohon ara yang tunasnya tumbuh menjelang musim panas.
36: Tidak ada yang tahu waktu kedatangan Kristus yang ke-dua
37-51: Nasihat supaya berjaga-jaga.
37-44: Berjaga-jagalah, karena hari kedatangan Yesus yang kedua adalah seperti pencuri.
45-51: Berjaga-jagalah, agar ketika Yesus datang, kita didapatinya sebagai hamba yang setia.
1-2: Yesus menceritakan tentang kehancuran Yerusalem
Sungguh suatu perkataan yang begitu mengejutkan hati para murid, ketika Yesus berkata “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (ay. 2). Tentu saja tidak terbayangkan oleh para murid, yang melihat bahwa bait Allah yang begitu kudus, tempat di mana mereka mempersembahkan persembahan kepada Allah, dan bangunan yang begitu kokoh dan megah akan hancur tak berbekas. Namun para murid belum mendapatkan wahyu yang penuh bahwa pada akhirnya akan tiba saatnya bahwa mereka akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem, namun mereka akan menyembah Bapa di dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:21-23).
3-14: Permulaan dari kesengsaraan dan penyiksaan serta pemberitaan Injil.
3: Tiga pertanyaan para murid.
Ketika sampai sampai di bukit Zaitun, para murid yang masih terkejut dan seakan tak percaya akan perkataan Yesus kemudian mendekati Yesus. Mungkin para murid berfikir bahwa Bait Allah yang begitu megah akan hancur adalah bersamaan dengan akhir dunia, atau juga mungkin mereka bertanya tentang dua hal yang berbeda. Oleh sebab itu, mereka bertanya “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (ay. 3). Karena Roh Kudus belum dicurahkan kepada mereka, maka mereka belum mengerti secara jelas akan hal ini (lih. Yoh 14:26).
Dalam Catena Aurea, St. Thomas Aquinas mengutip St. Jerome yang mengatakan “They ask Him three things. First, The time of the destruction of Jerusalem, saying, Tell us when shall these things be? Secondly, The time of Christ’s coming, saying, And what shall be the sign of your coming? Thirdly, The time of the consummation of this world, saying, And of the end of the world?“
atau “Mereka bertanya kepada-Nya [Yesus] tiga hal. Pertama, waktu dari kehancuran Yerusalem, dengan mengatakan “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi?” Kedua, waktu kedatangan Kristus, dengan mengatakan “Dan, apakah tanda kedatangan-Mu?” Ketiga, waktu dari akhir dunia ini, dengan mengatakan “Dan tanda kesudahan dunia?“
St. Hillary mengatakan “And because the questions of the disciples are threefold, they are separated by different times and meanings. That concerning the destruction of the city is first answered, and is then confirmed by truth of doctrine, that no seducer might prevail with the ignorant.” St. Hillary mempunyai pendapat yang sama dengan St. Jerome bahwa ada tiga hal yang ditanyakan oleh para murid.
Namun perlu digarisbawahi, hal kedua (kedatangan Kristus yang ke-dua) dan ketiga (akhir dunia) adalah terjadi secara bersamaan dan bukan dua kejadian yang terjadi secara terpisah. Untuk pembahasan tentang hal ini, silakan melihat artikel tentang akhir jaman dan rapture (bagian-1, bagian-2, dan rapture).
4-12: Tanda-tanda dari Kehancuran Yerusalem.
4-7: Memang terdapat beberapa interpretasi tentang apakah tanda-tanda yang dijelaskan oleh Yesus – seperti: mesias palsu (ay. 5), perang (ay. 6), bangsa melawan bangsa (ay. 7) – merupakan tanda-tanda kehancuran Yerusalem atau tentang akhir jaman. St. Agustinus mengatakan “To this inquiry of the disciples the Lord makes answer, declaring all things which were to come to pass from that time forwards, whether relating to the destruction of Jerusalem, which had given occasion to their inquiry; or to His coming through the Church, in which He ceases not to come to the end of time; for He is acknowledged as coming among His own, while new members are daily born to Him; or relating to the end itself when He shall appear to judge the quick and the dead. When then He describes the signs which shall attend these three events, we must carefully consider which signs belong to which events, lest perchance we refer to one that which belongs to another.”
Memang begitu sulit untuk mengidentifikasikan bagian mana yang merupakan tanda kehancuran Yerusalem dan bagian mana yang merupakan tanda akhir dunia. Namun banyak ahli Kitab Suci yang setuju bahwa semua ini adalah tanda-tanda tentang kehancuran Yerusalem. Dan tanda-tanda tentang kehancuran Yerusalem juga merupakan tanda-tanda sebelum kedatangan Anak Manusia yang kedua (lih. ay 23-24).
8: Apa yang dikatakan di dalam ayat 8 “Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru” lebih memperkuat bahwa bagian ini mengacu kepada kehancuran Yerusalem. Permulaan bukanlah suatu akhir, namun suatu awal dari sesuatu. Kita dapat menghubungkan hal ini dengan apa yang dikatakan oleh Mikha “9 Maka sekarang, mengapa engkau berteriak dengan keras? Tiadakah raja di tengah-tengahmu? Atau sudah binasakah penasihatmu, sehingga engkau disergap kesakitan seperti perempuan yang melahirkan? 10 Menggeliatlah dan mengaduhlah, hai puteri Sion, seperti perempuan yang melahirkan! Sebab sekarang terpaksa engkau keluar dari kota dan tinggal di padang, terpaksa engkau berjalan sampai Babel; di sanalah engkau akan dilepaskan, di sanalah engkau akan ditebus oleh TUHAN dari tangan musuhmu.” (Mik 4:9-10, lih. Yoh 16:20-22).[1]
9: Yesus juga menubuatkan apa yang akan dialami oleh para murid. Kita mengingat bahwa setelah Pentakosta, para murid mengalami begitu banyak siksaan, seperti yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul. Oleh sebab itu, Yesus berkata “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku“. Para rasul memang mengalami siksaan dan dibunuh karena bersaksi tentang Kristus Tuhan.
10-12: Tanda-tanda kehancuran Yerusalem di ayat 5-7 ditambah lagi dengan tanda-tanda yang lain, yaitu: orang yang murtad dan saling membenci (ay. 10), nabi palsu (ay. 11), durhaka sampai kasih menjadi dingin (ay. 12). Kita melihat bahwa tanda-tanda ini terpenuhi beberapa tahun sebelum kehancuran Yerusalem (tahun 70), seperti yang diceritakan di: Rm 16:17-18; Gal 1:6-9; 2 Kor 11:13, dll.[2] Namun tanda ini juga dapat menjadi tanda akhir jaman, sehingga Katekismus Gereja Katolik berkata,
“Sebelum kedatangan Kristus, Gereja harus mengalami ujian terakhir yang akan menggoyahkan iman banyak orang (Bdk. Luk 18:8. Mat 24:12.). Penghambatan, yang menyertai penziarahannya di atas bumi (Bdk. Luk 21:12. Yoh 15:19-20.), akan menyingkapkan “misteri kejahatan”. Satu khayalan religius yang bohong memberi kepada manusia satu penyelesaian semu untuk masalah-masalahnya sambil menyesatkan mereka dari kebenaran. Kebohongan religius yang paling buruk datang dari Anti-Kristus, artinya dari mesianisme palsu, di mana manusia memuliakan diri sendiri sebagai pengganti Allah dan mesias-Nya yang telah datang dalam daging (Bdk. 2 Tes 2:4-12; 1 Tes 5:2-3; 2Yoh 7; 1 Yoh 2:18.22.).”[3]
13: Yesus memberikan kunci, yaitu untuk tetap bertahan sampai pada akhirnya.
Kemudian di ayat 13 dikatakan bahwa orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Bagi yang merujuk ayat ini terhadap kehancuran Yerusalem, maka yang bertahan sampai kesudahannya mengacu kepada sampai akhir hidup mereka, yaitu mereka yang sampai akhir hidupnya tetap setia terhadap pengajaran Kristus dan bukan seperti yang digambarkan di ayat 5-7 dan 10-12 (tidak tergoda dan jatuh pada nabi palsu, kemurtadan, kebencian, kedurhakaan, dll). Bagi yang merujuk ayat ini kepada akhir jaman, maka yang bertahan sampai kesudahannya mengacu kepada orang-orang yang bertahan dan setia pada iman mereka sampai kedatangan Anak Manusia yang ke-dua.
14: Tanda akhir jaman dan kehancuran Yerusalem, yaitu dengan tersebarnya Injil ke seluruh bangsa.
Ayat 14 juga dapat diartikan dalam dua hal, yaitu mengacu kepada kehancuran Yerusalem dan juga akhir dunia. Dikatakan bahwa “Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” Kita juga dapat melihat bahwa Injil memang telah diberitakan ke hampir seluruh kerajaan Roma sebelum kehancuran Yerusalem, seperti yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul. Oleh karena itu, semua bangsa mengacu kepada banyak bangsa yang diketahui pada saat itu (lih. Kol 1:6, 23).
Namun, secara lebih luas, ayat ini juga dapat mengacu kepada tanda akhir jaman. St. Jerome menegaskan ayat ke-14 menceritakan tentang tanda dari berakhirnya dunia ini atau kedatangan Kristus yang ke dua, yaitu ketika Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi seluruh bangsa, sehingga mereka tidak mempunyai alasan apapun karena tidak pernah mendengar tentang Kristus.[4]
15-22: Menceritakan tentang runtuhnya Yerusalem
15: Menceritakan tentang “desolating sacrilege“, penghancuran tempat kudus, seperti yang telah terjadi dalam nubuat Daniel (Dan 9:27; 11:31; 12:11). Sebagian nubuat Daniel terpenuhi ketika Antiochus IV menduduki bait Allah dan mendirikan patung berhala. Dan nubuat Yesus terpenuhi ketika pada tahun 70 AD, tentara Romawi menghancurkan bait Allah di Yerusalem dan kemudian di bawah perintah Hadrian, mereka mendirikan patung Yupiter.
16:19: Menceritakan bagaimana kekacauan melanda Israel ketika tentara Roma menduduki Yerusalem.
20: Ayat 20 mengatakan “Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat.“. Hal in berhubungan dengan kesengsaraan besar yang dinubuatkan oleh Yesus sendiri (ay. 15-28). Ayat Mt 24:20 telah terpenuhi pada tahun 70, dimana tentara Roma menghancurkan Yerusalem. Jemaat perdana yang percaya akan nubuat tersebut kemudian melarikan diri ke Pella, sehingga mereka selamat.[5]
Yesus mengatakan untuk berdoa, sehingga kesengsaraan besar itu tidak terjadi pada musim dingin dan hari Sabat, karena musim dingin menghalangi perjalanan mereka untuk melarikan diri dan hari Sabat membuat sebagian dari mereka tidak dapat berjalan terlalu jauh (Ex 16:29). Kita mengingat bahwa jemaat perdana dari Yahudi, sebagian masih terpengaruh tradisi Sabat.
21: Dikatakan di ayat 21 “Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.” Ahli sejarah bangsa Yahudi, Flavius Josephus, mengatakan bahwa ada sekitar satu juta, seratus ribu orang meninggal pada waktu terjadinya penyerbuan tentara Roma ke Yerusalem di tahun 70.[6] Jumlah yang begitu besar dikarenakan pada waktu itu banyak peziarah dari seluruh negeri yang datang untuk merayakan hari raya Paskah.[7]
22: Dikatakan “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.” Dalam hubungannya dengan kehancuran Yerusalem, maka kalau pada waktu itu perang dilanjutkan, maka tidak ada orang Israel yang hidup. Dalam hubungannya dengan akhir dunia, kalau masa anti Kristus diperpanjang, maka akan menjadi berbahaya bagi seluruh umat beriman. Yesus mengatakan “…jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lk 18:8).
23-28: Tentang akhir jaman.
23-26: Menceritakan tentang tanda-tanda akhir jaman atau kedatangan Anak Manusia.
23-24, 26: Tanda-tanda akan kedatangan Kristus. Tanda ini adalah begitu banyak mesias-mesias dan nabi-nabi palsu yang mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mukjijat-mukjijat. Dan akan begitu banyak orang yang tersesat.
25: Peringatan kepada dunia. Yesus mengatkan “Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.” Apa yang dikatakannya adalah tanda-tanda yang mendahului kedatangan Kristus yang ke-dua dan juga “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (ay. 13).
27: Tanda kedatangan Kristus. “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.” Maka kedatangan Yesus yang kedua pastilah merupakan sesuatu yang publik[bukan rahasia] dan diketahui oleh semua orang.
28: Dikatakan “Dimana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun.” Beberapa orang mengartikan ayat ini secara literal dan menghubungkannya dengan kehancuran Yerusalem, karena pada waktu itu begitu banyak orang yang meninggal sehingga burung nazar berkerumun. Namun kalau dihubungkan dengan hari kiamat, “dimana ada bangkai” atau “Wherever the body is, there the eagles will be gathered together” dapat juga dimengerti sebagai Kristus yang telah mati dan bangkit dan pada penghakiman terakhir Kristus akan mengadili seluruh bangsa dengan diiringi para malaikat (sebagai arti dari the eagles).
29-36: Kedatangan tentang Anak Manusia dan perumpamaan pohon ara
29-31: Menceritakan bagaimana Anak Manusia akan datang yang kedua kali.
29: Tanda sebelum kedatangan Kristus dan akhir dunia. Dikatakan “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.” Ini adalah akhir dunia yang berarti adalah kedatangan Kristus yang ke-dua. Siksaan mengacu kepada penyiksaan dan derita yang diakibatkan oleh anti- Kristus. Namun hal ini tidak berlangsung lama, seperti juga yang dikatakan di ayat 22 “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.” Oleh karena itu dikatakan “segera” (ayat 29), yang mengindikasikan bahwa penyiksaan tidak berlangsung lama demi orang-orang yang percaya.
30: Kedatangan Anak Manusia yang ke-dua. Ayat ini menceritakan tentang kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan-Nya. Ini juga mengingatkan akan transfigurasi, dimana Anak Manusia dipermuliakan dan Bapa berkata “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mt 17:5) Yesus yang dipermuliakan oleh Bapa akan datang dalam kemuliaan-Nya, dimana semua bangsa harus mendengarkan Dia, karena Yesuslah yang akan mengadili orang hidup dan mati pada saat pengadilan terakhir.
31: Kedatangan-Nya diiringi dengan para malaikat dan tiupan sangkakala. Semua orang, baik yang percaya maupun yang tidak percaya, akan menyaksikan kedatangan Yesus yang ke-dua, karena kedatangan-Nya dinyatakan secara mulia dengan diiringi para malaikat. Dan tiupan sangkakala melambangkan kebangkitan badan dan semua yang telah dan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga akan dikumpulkan dari empat penjuru untuk menyambut kedatangan Kristus. Inilah saat dimana Tubuh Mistik Kristus, sebagai mempelai wanita menyambut mempelai Pria, yaitu Yesus. Inilah saatnya di mana Yesus sendiri akan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang tak bercela. (lih. Ef 5:27).
32-35: Akhir dunia pasti akan terjadi, seperti pohon ara yang tunasnya tumbuh menjelang musim panas.
32-33: Semua orang di Israel tahu kapan musim panas akan datang, yaitu dari tanda-tanda alam, seperti yang ditunjukkan oleh pohon ara. Pada saat ranting-ranting melembut dan terlihat tunas-tunas baru muncul, maka mereka tahu bahwa musim panas sudah dekat. Kalau mereka tahu akan datangnya musim panas sebagai bagian dari hukum alam, maka Yesus telah memberikan tanda-tanda tentang kedatangan-Nya yang ke-dua.
34: Dikatakan di ayat 33 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.” Karena Yesus berbicara tentang kehancuran Yerusalem dan kedatangan-Nya yang ke-dua, maka kita dapat menyimpulkan bahwa angkatan ini dapat merujuk kepada orang-orang tetap hidup setelah kehancuran Yerusalem di tahun 70, dimana para rasul memang tetap hidup menyaksikan kehancuran Yerusalem. Dalam hubungannya dengan kedatangan Kristus yang ke-dua, “angkatan ini” merujuk kepada angkatan orang yang percaya, yang akan bertahan sampai akhir dunia.
St. Yohanes Krisostom mengatakan “Tuhan tidak hanya berbicara tentang generasi ketika [Yesus] hidup, melainkan juga generasi orang percaya; karena Dia tahu bahwa generasi dibedakan bukan hanya dengan waktu tapi juga dengan cara penyembahan dan praktek religiusnya”[8].
35: Dikatakan di ayat 35 “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Ini adalah suatu penegasan dari Kristus tentang nubuat yang pasti akan terjadi. Sama seperti nubuat kehancuran Yerusalem telah terjadi di tahun 70, maka nubuat akan akhir jaman yang bersamaan dengan kedatangan-Nya yang ke-dua akan terpenuhi dan tidak mungkin gagal.
36: Tidak ada yang tahu waktu kedatangan Kristus yang ke-dua
Kalau kedatangan-Nya yang kedua atau akhir dunia pasti terjadi, maka pertanyaannya adalah kapan hal ini akan terjadi? Mengapa Yesus mengatakan “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” Apakah benar bahwa Yesus tidak tahu? Untuk mengerti hal ini, kita harus mengerti bahwa dalam diri Yesus ada dua kodrat: kodrat manusia dan kodrat Allah. Dalam kodrat-Nya sebagai Allah, Dia tahu kapan terjadinya akhir dunia. Kalau Allah tidak tahu, maka Dia bukan lagi Allah. Namun pengetahuan tentang hal ini bukan didapatkan-Nya dari kodrat-Nya sebagai manusia. Untuk keterangan tentang hal ini, silakan untuk melihat tanya jawab ini (silakan klik). Walaupun Yesus tahu kapan hari kiamat terjadi, namun di dalam kebijaksanaan-Nya, Dia memilih untuk tidak menyatakannya kepada manusia.
37-51: Nasihat supaya berjaga-jaga.
37-44: Berjaga-jagalah, karena hari kedatangan Yesus yang kedua adalah seperti pencuri.
Setelah Yesus selesai dengan pengajarannya tentang nubuat kehancuran Yerusalem dan akhir dunia, maka Yesus masuk kepada pengajaran yang paling penting. Hal yang paling penting adalah bukan tahu kapan hari kiamat terjadi, namun persiapan apa yang harus dilakukan kalau sampai kita mengalami hari kiamat. Persiapan yang paling baik adalah berjaga-jaga dan bukan dengan terus-menerus menerka-nerka kapan hari kiamat terjadi. Kalau Yesus, dalam kebijaksaan-Nya tidak ingin menyatakannya kepada manusia, mengapa manusia harus terus-menerus mencoba meramal dan berspekulasi tentang kedatangan Kristus yang ke-dua?
Yesus menegaskan sekali lagi dengan mengatakan “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (ay. 42). Dan di ayat 44, Yesus mengatakan sekali lagi “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”
45-51: Berjaga-jagalah, agar ketika Yesus datang, kita didapatinya sebagai hamba yang setia.
Setelah Yesus memberikan pengajaran bahwa sikap yang paling penting adalah berjaga-jaga, karena kedatangan-Nya seperti pencuri di malam hari dan tidak ada yang tahu, maka pengajaran yang berikutnya adalah “apa yang harus dilakukan dalam berjaga-jaga.” Apakah kita harus duduk diam, apakah harus terus bekerja, apakah harus terus merenung dan tidak melakukan apa-apa? Untuk memperjelas tentang hal ini, Yesus memberikan perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat. Untuk berjaga-jaga dalam menyambut kedatangan Kristus, maka kita harus menjadi hamba yang baik. Dan hamba yang baik adalah yang melaksanakan apa yang dikehendaki Tuan-nya.
Tugas apa yang dipercayakan kepada hamba tersebut? Yesus mengatakan dalam perumpamaan tersebut “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?” (ay. 45) Dari sini kita melihat bahwa kita semua yang menjadi hamba dipercayakan oleh Tuhan menjadi orang kepercayaan-Nya, yang dipercaya dengan harta-benda yang harus dibagikan kepada orang-orangnya. Harta benda yang dibagikan adalah kekayaan spiritual dan orang-orang-Nya adalah orang-orang yang percaya dan juga orang-orang yang belum percaya. Setiap orang dipercaya sesuai dengan talenta yang diberikan, dan harus mengembangkan talenta yang dipercayakan sehingga dapat membawa orang-orang-Nya untuk juga siap dalam menyambut kedatangan Kristus. Kristus mengajarkan bahwa memikirkan keselamatan diri sendiri saja tidaklah cukup, namun juga harus mempersiapkan orang-orang yang dipercayakan kepada kita, sehingga mereka juga siap menyambut kedatangan Kristus yang ke-dua.
Diskusi tentang kapan terjadinya akhir dunia yang seharusnya berakhir
Kita melihat bahwa nubuat tentang kehancuran Yerusalem dan akhir dunia atau kedatangan Kristus yang ke-dua saling tumpang tindih, yang mungkin dapat membuat banyak kebingungan. Namun di satu sisi, kita juga melihat bahwa kehancuran Yerusalem telah dinubuatkan terjadi, sehingga umat manusia pada akhirnya akan memperoleh Yerusalem yang baru (lih. Why 3:12; 21:2). Kehancuran Yerusalem membuat umat Allah dapat menyembah Allah di dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:23). Dan kita juga mengingat akan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri “Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia” (Mk 14:58). Dan Yerusalem memang rubuh tak berbekas di tahun 70, sama seperti tubuh Kristus yang mati pada hari Jum’at Agung. Dan sama seperti pada hari ke-tiga, Yesus dibangkitkan, maka pada akhir dunia, kita akan melihat tempat kudus yang baru, Yerusalem baru, di Sorga.
Yerusalem yang baru inilah yang seharusnya menjadi fokus utama kita dan bukan kapan terjadinya. Dari perikop ini, kita dapat melihat bahwa kedatangan Kristus yang ke-dua atau hari kiamat adalah pasti akan terjadi. Begitu banyak orang yang telah mencoba meramalkan akan hari dan tanggal hari kiamat, namun tidak ada satupun yang terbukti benar. Kalau Yesus, di dalam kebijaksanaan-Nya memilih untuk tidak mengatakannya kepada manusia, mengapa manusia masih terus berusaha untuk menebak dan berspekulasi tentang hal ini? Yesus menegaskan, yang penting bukan tahu hari kiamat, namun adalah berjaga-jaga dan melaksanakan kehendak Allah, sehingga pada saatnya Yesus datang untuk yang ke-dua kali, kita semua dapat menjadi hamba yang setia. Mari, kita bersama-sama mempergunakan waktu yang diberikan oleh Tuhan dengan bijaksana, sehingga kita benar-benar dapat menjadi hamba yang setia, sehingga pada saatnya nanti, Yesus akan berkata “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mt 25:23).
April 1, 2011 at 1:29 am
@ ilham othmany:
Banyak orang mengartikan bahwa perikop ini menceritakan tentang akhir jaman, tanpa menyadari bahwa sebenarnya nubuat ini bukan hanya tentang akhir jaman. Secara prinsip, ada tiga kejadian yang hendak disampaikan dalam perikop ini, yaitu 1) kehancuran Yerusalem, 2) kedatangan Kristus yang ke dua, dan 3) akhir dunia, dimana kedatangan Kristus dan akhir dunia berlangsung dalam satu kejadian. Kalau kita mengartikan bahwa ayat 1-39 seluruhnya menceritakan tentang akhir jaman, maka kita akan terjebak dalam banyak kesalahan yang tidak perlu. Kunci dari perikop ini adalah ayat 36, dimana Yesus mengatakan bahwa tidak ada yang tahu tentang hari dan saat nubuat tersebut terjadi. Dan sikap yang paling bijak dalam menyikapi nubuat ini adalah dengan mengikuti apa yang dikatakan oleh Yesus dalam dua perikop berikutnya, yaitu nasihat supaya berjaga-jaga (ay. 37-44) dan perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat (ay. 45-51).
Oleh sebab itu, kita perlu mengidentifikasikan ayat mana yang telah terjadi – yang mengacu pada kehancuran Yerusalem – dan ayat mana yang belum terjadi – yang mengacu kepada kedatangan Kristus yang ke-dua atau hari kiamat. Mari kita bersama-sama menganalisa ayat-ayat ini. Secara prinsip ayat-ayat ini dibagi menjadi:
1-2: Yesus menceritakan tentang kehancuran Yerusalem
3-14: Permulaan dari kesengsaraan dan penyiksaan serta pemberitaan Injil
3: Tiga pertanyaan para murid, yaitu: a) kapan kehancuran Yerusalem, b) kapan kedatangan Kristus yang ke-dua, dan c) kapan akhir dari dunia ini.
4-12: Tanda-tanda dari kehancuran Yerusalem.
13: Yesus memberikan kunci, yaitu untuk tetap bertahan sampai pada akhirnya.
14: Tanda akhir jaman maupun kehancuran Yerusalem, yaitu dengan tersebarnya Injil ke seluruh bangsa.
15-22: Menceritakan tentang runtuhnya Yerusalem
23-28: Tentang akhir jaman
23-26: Menceritakan tentang tanda-tanda akhir jaman atau kedatangan Anak Manusia.
27: Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan-Nya.
28: Menceritakan bahwa baik kehancuran Yerusalem maupun akhir dunia pasti akan terjadi.
29-36: Kedatangan Anak manusia dan perumpaman pohon ara
29-31: Menceritakan bagaimana Anak Manusia akan datang yang kedua kali.
32-35: Akhir dunia pasti akan terjadi, seperti pohon ara yang tunasnya tumbuh menjelang musim panas.
36: Tidak ada yang tahu waktu kedatangan Kristus yang ke-dua
37-51: Nasihat supaya berjaga-jaga.
37-44: Berjaga-jagalah, karena hari kedatangan Yesus yang kedua adalah seperti pencuri.
45-51: Berjaga-jagalah, agar ketika Yesus datang, kita didapatinya sebagai hamba yang setia.
1-2: Yesus menceritakan tentang kehancuran Yerusalem
Sungguh suatu perkataan yang begitu mengejutkan hati para murid, ketika Yesus berkata “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (ay. 2). Tentu saja tidak terbayangkan oleh para murid, yang melihat bahwa bait Allah yang begitu kudus, tempat di mana mereka mempersembahkan persembahan kepada Allah, dan bangunan yang begitu kokoh dan megah akan hancur tak berbekas. Namun para murid belum mendapatkan wahyu yang penuh bahwa pada akhirnya akan tiba saatnya bahwa mereka akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem, namun mereka akan menyembah Bapa di dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:21-23).
3-14: Permulaan dari kesengsaraan dan penyiksaan serta pemberitaan Injil.
3: Tiga pertanyaan para murid.
Ketika sampai sampai di bukit Zaitun, para murid yang masih terkejut dan seakan tak percaya akan perkataan Yesus kemudian mendekati Yesus. Mungkin para murid berfikir bahwa Bait Allah yang begitu megah akan hancur adalah bersamaan dengan akhir dunia, atau juga mungkin mereka bertanya tentang dua hal yang berbeda. Oleh sebab itu, mereka bertanya “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (ay. 3). Karena Roh Kudus belum dicurahkan kepada mereka, maka mereka belum mengerti secara jelas akan hal ini (lih. Yoh 14:26).
Dalam Catena Aurea, St. Thomas Aquinas mengutip St. Jerome yang mengatakan “They ask Him three things. First, The time of the destruction of Jerusalem, saying, Tell us when shall these things be? Secondly, The time of Christ’s coming, saying, And what shall be the sign of your coming? Thirdly, The time of the consummation of this world, saying, And of the end of the world?“
atau “Mereka bertanya kepada-Nya [Yesus] tiga hal. Pertama, waktu dari kehancuran Yerusalem, dengan mengatakan “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi?” Kedua, waktu kedatangan Kristus, dengan mengatakan “Dan, apakah tanda kedatangan-Mu?” Ketiga, waktu dari akhir dunia ini, dengan mengatakan “Dan tanda kesudahan dunia?“
St. Hillary mengatakan “And because the questions of the disciples are threefold, they are separated by different times and meanings. That concerning the destruction of the city is first answered, and is then confirmed by truth of doctrine, that no seducer might prevail with the ignorant.” St. Hillary mempunyai pendapat yang sama dengan St. Jerome bahwa ada tiga hal yang ditanyakan oleh para murid.
Namun perlu digarisbawahi, hal kedua (kedatangan Kristus yang ke-dua) dan ketiga (akhir dunia) adalah terjadi secara bersamaan dan bukan dua kejadian yang terjadi secara terpisah. Untuk pembahasan tentang hal ini, silakan melihat artikel tentang akhir jaman dan rapture (bagian-1, bagian-2, dan rapture).
4-12: Tanda-tanda dari Kehancuran Yerusalem.
4-7: Memang terdapat beberapa interpretasi tentang apakah tanda-tanda yang dijelaskan oleh Yesus – seperti: mesias palsu (ay. 5), perang (ay. 6), bangsa melawan bangsa (ay. 7) – merupakan tanda-tanda kehancuran Yerusalem atau tentang akhir jaman. St. Agustinus mengatakan “To this inquiry of the disciples the Lord makes answer, declaring all things which were to come to pass from that time forwards, whether relating to the destruction of Jerusalem, which had given occasion to their inquiry; or to His coming through the Church, in which He ceases not to come to the end of time; for He is acknowledged as coming among His own, while new members are daily born to Him; or relating to the end itself when He shall appear to judge the quick and the dead. When then He describes the signs which shall attend these three events, we must carefully consider which signs belong to which events, lest perchance we refer to one that which belongs to another.”
Memang begitu sulit untuk mengidentifikasikan bagian mana yang merupakan tanda kehancuran Yerusalem dan bagian mana yang merupakan tanda akhir dunia. Namun banyak ahli Kitab Suci yang setuju bahwa semua ini adalah tanda-tanda tentang kehancuran Yerusalem. Dan tanda-tanda tentang kehancuran Yerusalem juga merupakan tanda-tanda sebelum kedatangan Anak Manusia yang kedua (lih. ay 23-24).
8: Apa yang dikatakan di dalam ayat 8 “Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru” lebih memperkuat bahwa bagian ini mengacu kepada kehancuran Yerusalem. Permulaan bukanlah suatu akhir, namun suatu awal dari sesuatu. Kita dapat menghubungkan hal ini dengan apa yang dikatakan oleh Mikha “9 Maka sekarang, mengapa engkau berteriak dengan keras? Tiadakah raja di tengah-tengahmu? Atau sudah binasakah penasihatmu, sehingga engkau disergap kesakitan seperti perempuan yang melahirkan? 10 Menggeliatlah dan mengaduhlah, hai puteri Sion, seperti perempuan yang melahirkan! Sebab sekarang terpaksa engkau keluar dari kota dan tinggal di padang, terpaksa engkau berjalan sampai Babel; di sanalah engkau akan dilepaskan, di sanalah engkau akan ditebus oleh TUHAN dari tangan musuhmu.” (Mik 4:9-10, lih. Yoh 16:20-22).[1]
9: Yesus juga menubuatkan apa yang akan dialami oleh para murid. Kita mengingat bahwa setelah Pentakosta, para murid mengalami begitu banyak siksaan, seperti yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul. Oleh sebab itu, Yesus berkata “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku“. Para rasul memang mengalami siksaan dan dibunuh karena bersaksi tentang Kristus Tuhan.
10-12: Tanda-tanda kehancuran Yerusalem di ayat 5-7 ditambah lagi dengan tanda-tanda yang lain, yaitu: orang yang murtad dan saling membenci (ay. 10), nabi palsu (ay. 11), durhaka sampai kasih menjadi dingin (ay. 12). Kita melihat bahwa tanda-tanda ini terpenuhi beberapa tahun sebelum kehancuran Yerusalem (tahun 70), seperti yang diceritakan di: Rm 16:17-18; Gal 1:6-9; 2 Kor 11:13, dll.[2] Namun tanda ini juga dapat menjadi tanda akhir jaman, sehingga Katekismus Gereja Katolik berkata,
“Sebelum kedatangan Kristus, Gereja harus mengalami ujian terakhir yang akan menggoyahkan iman banyak orang (Bdk. Luk 18:8. Mat 24:12.). Penghambatan, yang menyertai penziarahannya di atas bumi (Bdk. Luk 21:12. Yoh 15:19-20.), akan menyingkapkan “misteri kejahatan”. Satu khayalan religius yang bohong memberi kepada manusia satu penyelesaian semu untuk masalah-masalahnya sambil menyesatkan mereka dari kebenaran. Kebohongan religius yang paling buruk datang dari Anti-Kristus, artinya dari mesianisme palsu, di mana manusia memuliakan diri sendiri sebagai pengganti Allah dan mesias-Nya yang telah datang dalam daging (Bdk. 2 Tes 2:4-12; 1 Tes 5:2-3; 2Yoh 7; 1 Yoh 2:18.22.).”[3]
13: Yesus memberikan kunci, yaitu untuk tetap bertahan sampai pada akhirnya.
Kemudian di ayat 13 dikatakan bahwa orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Bagi yang merujuk ayat ini terhadap kehancuran Yerusalem, maka yang bertahan sampai kesudahannya mengacu kepada sampai akhir hidup mereka, yaitu mereka yang sampai akhir hidupnya tetap setia terhadap pengajaran Kristus dan bukan seperti yang digambarkan di ayat 5-7 dan 10-12 (tidak tergoda dan jatuh pada nabi palsu, kemurtadan, kebencian, kedurhakaan, dll). Bagi yang merujuk ayat ini kepada akhir jaman, maka yang bertahan sampai kesudahannya mengacu kepada orang-orang yang bertahan dan setia pada iman mereka sampai kedatangan Anak Manusia yang ke-dua.
14: Tanda akhir jaman dan kehancuran Yerusalem, yaitu dengan tersebarnya Injil ke seluruh bangsa.
Ayat 14 juga dapat diartikan dalam dua hal, yaitu mengacu kepada kehancuran Yerusalem dan juga akhir dunia. Dikatakan bahwa “Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” Kita juga dapat melihat bahwa Injil memang telah diberitakan ke hampir seluruh kerajaan Roma sebelum kehancuran Yerusalem, seperti yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul. Oleh karena itu, semua bangsa mengacu kepada banyak bangsa yang diketahui pada saat itu (lih. Kol 1:6, 23).
Namun, secara lebih luas, ayat ini juga dapat mengacu kepada tanda akhir jaman. St. Jerome menegaskan ayat ke-14 menceritakan tentang tanda dari berakhirnya dunia ini atau kedatangan Kristus yang ke dua, yaitu ketika Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi seluruh bangsa, sehingga mereka tidak mempunyai alasan apapun karena tidak pernah mendengar tentang Kristus.[4]
15-22: Menceritakan tentang runtuhnya Yerusalem
15: Menceritakan tentang “desolating sacrilege“, penghancuran tempat kudus, seperti yang telah terjadi dalam nubuat Daniel (Dan 9:27; 11:31; 12:11). Sebagian nubuat Daniel terpenuhi ketika Antiochus IV menduduki bait Allah dan mendirikan patung berhala. Dan nubuat Yesus terpenuhi ketika pada tahun 70 AD, tentara Romawi menghancurkan bait Allah di Yerusalem dan kemudian di bawah perintah Hadrian, mereka mendirikan patung Yupiter.
16:19: Menceritakan bagaimana kekacauan melanda Israel ketika tentara Roma menduduki Yerusalem.
20: Ayat 20 mengatakan “Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat.“. Hal in berhubungan dengan kesengsaraan besar yang dinubuatkan oleh Yesus sendiri (ay. 15-28). Ayat Mt 24:20 telah terpenuhi pada tahun 70, dimana tentara Roma menghancurkan Yerusalem. Jemaat perdana yang percaya akan nubuat tersebut kemudian melarikan diri ke Pella, sehingga mereka selamat.[5]
Yesus mengatakan untuk berdoa, sehingga kesengsaraan besar itu tidak terjadi pada musim dingin dan hari Sabat, karena musim dingin menghalangi perjalanan mereka untuk melarikan diri dan hari Sabat membuat sebagian dari mereka tidak dapat berjalan terlalu jauh (Ex 16:29). Kita mengingat bahwa jemaat perdana dari Yahudi, sebagian masih terpengaruh tradisi Sabat.
21: Dikatakan di ayat 21 “Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.” Ahli sejarah bangsa Yahudi, Flavius Josephus, mengatakan bahwa ada sekitar satu juta, seratus ribu orang meninggal pada waktu terjadinya penyerbuan tentara Roma ke Yerusalem di tahun 70.[6] Jumlah yang begitu besar dikarenakan pada waktu itu banyak peziarah dari seluruh negeri yang datang untuk merayakan hari raya Paskah.[7]
22: Dikatakan “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.” Dalam hubungannya dengan kehancuran Yerusalem, maka kalau pada waktu itu perang dilanjutkan, maka tidak ada orang Israel yang hidup. Dalam hubungannya dengan akhir dunia, kalau masa anti Kristus diperpanjang, maka akan menjadi berbahaya bagi seluruh umat beriman. Yesus mengatakan “…jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lk 18:8).
23-28: Tentang akhir jaman.
23-26: Menceritakan tentang tanda-tanda akhir jaman atau kedatangan Anak Manusia.
23-24, 26: Tanda-tanda akan kedatangan Kristus. Tanda ini adalah begitu banyak mesias-mesias dan nabi-nabi palsu yang mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mukjijat-mukjijat. Dan akan begitu banyak orang yang tersesat.
25: Peringatan kepada dunia. Yesus mengatkan “Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.” Apa yang dikatakannya adalah tanda-tanda yang mendahului kedatangan Kristus yang ke-dua dan juga “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (ay. 13).
27: Tanda kedatangan Kristus. “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.” Maka kedatangan Yesus yang kedua pastilah merupakan sesuatu yang publik[bukan rahasia] dan diketahui oleh semua orang.
28: Dikatakan “Dimana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun.” Beberapa orang mengartikan ayat ini secara literal dan menghubungkannya dengan kehancuran Yerusalem, karena pada waktu itu begitu banyak orang yang meninggal sehingga burung nazar berkerumun. Namun kalau dihubungkan dengan hari kiamat, “dimana ada bangkai” atau “Wherever the body is, there the eagles will be gathered together” dapat juga dimengerti sebagai Kristus yang telah mati dan bangkit dan pada penghakiman terakhir Kristus akan mengadili seluruh bangsa dengan diiringi para malaikat (sebagai arti dari the eagles).
29-36: Kedatangan tentang Anak Manusia dan perumpamaan pohon ara
29-31: Menceritakan bagaimana Anak Manusia akan datang yang kedua kali.
29: Tanda sebelum kedatangan Kristus dan akhir dunia. Dikatakan “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.” Ini adalah akhir dunia yang berarti adalah kedatangan Kristus yang ke-dua. Siksaan mengacu kepada penyiksaan dan derita yang diakibatkan oleh anti- Kristus. Namun hal ini tidak berlangsung lama, seperti juga yang dikatakan di ayat 22 “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.” Oleh karena itu dikatakan “segera” (ayat 29), yang mengindikasikan bahwa penyiksaan tidak berlangsung lama demi orang-orang yang percaya.
30: Kedatangan Anak Manusia yang ke-dua. Ayat ini menceritakan tentang kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan-Nya. Ini juga mengingatkan akan transfigurasi, dimana Anak Manusia dipermuliakan dan Bapa berkata “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mt 17:5) Yesus yang dipermuliakan oleh Bapa akan datang dalam kemuliaan-Nya, dimana semua bangsa harus mendengarkan Dia, karena Yesuslah yang akan mengadili orang hidup dan mati pada saat pengadilan terakhir.
31: Kedatangan-Nya diiringi dengan para malaikat dan tiupan sangkakala. Semua orang, baik yang percaya maupun yang tidak percaya, akan menyaksikan kedatangan Yesus yang ke-dua, karena kedatangan-Nya dinyatakan secara mulia dengan diiringi para malaikat. Dan tiupan sangkakala melambangkan kebangkitan badan dan semua yang telah dan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga akan dikumpulkan dari empat penjuru untuk menyambut kedatangan Kristus. Inilah saat dimana Tubuh Mistik Kristus, sebagai mempelai wanita menyambut mempelai Pria, yaitu Yesus. Inilah saatnya di mana Yesus sendiri akan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang tak bercela. (lih. Ef 5:27).
32-35: Akhir dunia pasti akan terjadi, seperti pohon ara yang tunasnya tumbuh menjelang musim panas.
32-33: Semua orang di Israel tahu kapan musim panas akan datang, yaitu dari tanda-tanda alam, seperti yang ditunjukkan oleh pohon ara. Pada saat ranting-ranting melembut dan terlihat tunas-tunas baru muncul, maka mereka tahu bahwa musim panas sudah dekat. Kalau mereka tahu akan datangnya musim panas sebagai bagian dari hukum alam, maka Yesus telah memberikan tanda-tanda tentang kedatangan-Nya yang ke-dua.
34: Dikatakan di ayat 33 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.” Karena Yesus berbicara tentang kehancuran Yerusalem dan kedatangan-Nya yang ke-dua, maka kita dapat menyimpulkan bahwa angkatan ini dapat merujuk kepada orang-orang tetap hidup setelah kehancuran Yerusalem di tahun 70, dimana para rasul memang tetap hidup menyaksikan kehancuran Yerusalem. Dalam hubungannya dengan kedatangan Kristus yang ke-dua, “angkatan ini” merujuk kepada angkatan orang yang percaya, yang akan bertahan sampai akhir dunia.
St. Yohanes Krisostom mengatakan “Tuhan tidak hanya berbicara tentang generasi ketika [Yesus] hidup, melainkan juga generasi orang percaya; karena Dia tahu bahwa generasi dibedakan bukan hanya dengan waktu tapi juga dengan cara penyembahan dan praktek religiusnya”[8].
35: Dikatakan di ayat 35 “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Ini adalah suatu penegasan dari Kristus tentang nubuat yang pasti akan terjadi. Sama seperti nubuat kehancuran Yerusalem telah terjadi di tahun 70, maka nubuat akan akhir jaman yang bersamaan dengan kedatangan-Nya yang ke-dua akan terpenuhi dan tidak mungkin gagal.
36: Tidak ada yang tahu waktu kedatangan Kristus yang ke-dua
Kalau kedatangan-Nya yang kedua atau akhir dunia pasti terjadi, maka pertanyaannya adalah kapan hal ini akan terjadi? Mengapa Yesus mengatakan “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” Apakah benar bahwa Yesus tidak tahu? Untuk mengerti hal ini, kita harus mengerti bahwa dalam diri Yesus ada dua kodrat: kodrat manusia dan kodrat Allah. Dalam kodrat-Nya sebagai Allah, Dia tahu kapan terjadinya akhir dunia. Kalau Allah tidak tahu, maka Dia bukan lagi Allah. Namun pengetahuan tentang hal ini bukan didapatkan-Nya dari kodrat-Nya sebagai manusia. Untuk keterangan tentang hal ini, silakan untuk melihat tanya jawab ini (silakan klik). Walaupun Yesus tahu kapan hari kiamat terjadi, namun di dalam kebijaksanaan-Nya, Dia memilih untuk tidak menyatakannya kepada manusia.
37-51: Nasihat supaya berjaga-jaga.
37-44: Berjaga-jagalah, karena hari kedatangan Yesus yang kedua adalah seperti pencuri.
Setelah Yesus selesai dengan pengajarannya tentang nubuat kehancuran Yerusalem dan akhir dunia, maka Yesus masuk kepada pengajaran yang paling penting. Hal yang paling penting adalah bukan tahu kapan hari kiamat terjadi, namun persiapan apa yang harus dilakukan kalau sampai kita mengalami hari kiamat. Persiapan yang paling baik adalah berjaga-jaga dan bukan dengan terus-menerus menerka-nerka kapan hari kiamat terjadi. Kalau Yesus, dalam kebijaksaan-Nya tidak ingin menyatakannya kepada manusia, mengapa manusia harus terus-menerus mencoba meramal dan berspekulasi tentang kedatangan Kristus yang ke-dua?
Yesus menegaskan sekali lagi dengan mengatakan “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (ay. 42). Dan di ayat 44, Yesus mengatakan sekali lagi “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”
45-51: Berjaga-jagalah, agar ketika Yesus datang, kita didapatinya sebagai hamba yang setia.
Setelah Yesus memberikan pengajaran bahwa sikap yang paling penting adalah berjaga-jaga, karena kedatangan-Nya seperti pencuri di malam hari dan tidak ada yang tahu, maka pengajaran yang berikutnya adalah “apa yang harus dilakukan dalam berjaga-jaga.” Apakah kita harus duduk diam, apakah harus terus bekerja, apakah harus terus merenung dan tidak melakukan apa-apa? Untuk memperjelas tentang hal ini, Yesus memberikan perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat. Untuk berjaga-jaga dalam menyambut kedatangan Kristus, maka kita harus menjadi hamba yang baik. Dan hamba yang baik adalah yang melaksanakan apa yang dikehendaki Tuan-nya.
Tugas apa yang dipercayakan kepada hamba tersebut? Yesus mengatakan dalam perumpamaan tersebut “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?” (ay. 45) Dari sini kita melihat bahwa kita semua yang menjadi hamba dipercayakan oleh Tuhan menjadi orang kepercayaan-Nya, yang dipercaya dengan harta-benda yang harus dibagikan kepada orang-orangnya. Harta benda yang dibagikan adalah kekayaan spiritual dan orang-orang-Nya adalah orang-orang yang percaya dan juga orang-orang yang belum percaya. Setiap orang dipercaya sesuai dengan talenta yang diberikan, dan harus mengembangkan talenta yang dipercayakan sehingga dapat membawa orang-orang-Nya untuk juga siap dalam menyambut kedatangan Kristus. Kristus mengajarkan bahwa memikirkan keselamatan diri sendiri saja tidaklah cukup, namun juga harus mempersiapkan orang-orang yang dipercayakan kepada kita, sehingga mereka juga siap menyambut kedatangan Kristus yang ke-dua.
Diskusi tentang kapan terjadinya akhir dunia yang seharusnya berakhir
Kita melihat bahwa nubuat tentang kehancuran Yerusalem dan akhir dunia atau kedatangan Kristus yang ke-dua saling tumpang tindih, yang mungkin dapat membuat banyak kebingungan. Namun di satu sisi, kita juga melihat bahwa kehancuran Yerusalem telah dinubuatkan terjadi, sehingga umat manusia pada akhirnya akan memperoleh Yerusalem yang baru (lih. Why 3:12; 21:2). Kehancuran Yerusalem membuat umat Allah dapat menyembah Allah di dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:23). Dan kita juga mengingat akan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri “Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia” (Mk 14:58). Dan Yerusalem memang rubuh tak berbekas di tahun 70, sama seperti tubuh Kristus yang mati pada hari Jum’at Agung. Dan sama seperti pada hari ke-tiga, Yesus dibangkitkan, maka pada akhir dunia, kita akan melihat tempat kudus yang baru, Yerusalem baru, di Sorga.
Yerusalem yang baru inilah yang seharusnya menjadi fokus utama kita dan bukan kapan terjadinya. Dari perikop ini, kita dapat melihat bahwa kedatangan Kristus yang ke-dua atau hari kiamat adalah pasti akan terjadi. Begitu banyak orang yang telah mencoba meramalkan akan hari dan tanggal hari kiamat, namun tidak ada satupun yang terbukti benar. Kalau Yesus, di dalam kebijaksanaan-Nya memilih untuk tidak mengatakannya kepada manusia, mengapa manusia masih terus berusaha untuk menebak dan berspekulasi tentang hal ini? Yesus menegaskan, yang penting bukan tahu hari kiamat, namun adalah berjaga-jaga dan melaksanakan kehendak Allah, sehingga pada saatnya Yesus datang untuk yang ke-dua kali, kita semua dapat menjadi hamba yang setia. Mari, kita bersama-sama mempergunakan waktu yang diberikan oleh Tuhan dengan bijaksana, sehingga kita benar-benar dapat menjadi hamba yang setia, sehingga pada saatnya nanti, Yesus akan berkata “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mt 25:23).
March 13, 2011 at 9:51 am
Gereja Tanda Kasih Tuhan
Jika anda seorang perancang, entah itu arsitek, perancang busana, mesin, mobil ataupun program komputer, tentu pada saat anda merancang, anda sudah punya sebuah gambaran dalam pikiran anda tentang hasil akhir rancangan anda. Mungkin hal ini dapat membantu kita untuk memahami bagaimana Allah telah merencanakan tujuan akhir pada saat menciptakan dunia. Kita semua mengetahui bahwa manusia adalah mahluk terakhir yang diciptakan-Nya, yang menjadi paling sempurna dari antara mahluk hidup lainnya, yaitu tumbuhan dan hewan. Pada saat menciptakan manusia inilah, Allah telah merancang hasil akhir dari penciptaan tersebut, yaitu bahwa semua manusia akan dipersatukan dengan diri-Nya sendiri. Begitu dalamnya makna kasih Tuhan ini, hingga kita-pun sulit membayangkannya. Tetapi begitulah yang direncanakan Allah bagi kita, sehingga digenapi apa yang tertulis, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9, Yes 64:4). Ya, Tuhan bermaksud menjadikan kita bagian yang terpisahkan daripada-Nya, bersatu denganNya di dalam hidup Ilahi dan menikmati kebahagiaan bersamaNya tanpa akhir.
Persatuan inilah yang menjadi hakekat Gereja, maka benarlah jika dikatakan bahwa “dunia diciptakan untuk Gereja dan Gereja adalah tujuan segala sesuatu“.[1] Untuk tujuan ini, Allah telah mengirimkan Yesus Kristus Putera-Nya yang mengorbankan DiriNya demi menghapus dosa manusia, agar manusia dapat dikumpulkan di dalam Dia dalam suatu sarana yang dinamakan “Gereja”. Dengan demikian, Gereja tidak saja menjadi tujuan akhir hidup manusia tetapi juga sarana untuk mencapai tujuan itu (KGK 778, 824). Sungguh tak terbataslah kasih Tuhan dan tak ternilailah ‘harga’ yang telah dibayarNya demi terbentuknya Gereja! Di saat kita sampai pada pengertian inilah, kita akan memiliki rasa syukur dan hormat yang mendalam kepada Tuhan dan kepada Gereja yang didirikanNya.
Seperti halnya bulan memantulkan cahaya matahari, Gereja yang adalah Tubuh Mistik Kristus memantulkan cahaya Kristus, Sang Terang dunia (Yoh 8:12, 9:5) kepada semua bangsa. Gereja di dalam Kristus adalah seperti sakramen yaitu tanda dan sarana persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah dan kesatuan dengan seluruh umat manusia.[2] Oleh karena itu, Gereja sebagai cerminan Kristus menjadi tanda Kasih Allah kepada manusia, yang mengarahkan manusia pada tujuan akhir hidupnya yaitu persatuan dengan Allah. Jadi, Gereja memiliki dua dimensi yang tak terpisahkan, yaitu: pertama, sebagai tujuan akhir, ia berdimensi Ilahi, dan kedua, sebagai sarana, ia berdimensi manusiawi. Perpaduan kedua hal ini merupakan suatu yang kompleks, yang membuat Gereja sebagai kelompok yang kelihatan secara lahiriah, namun bersifat rohaniah; kelompok yang dilengkapi struktur kepemimpinan, namun juga sebagai Tubuh Mistik Kristus; kelompok yang berada di dunia namun diperkaya oleh karunia-karunia surgawi.[3]
Gereja sebagai tujuan akhir hidup manusia
(lih. Ef 1:9-10, Kol 1:15-20,26-27; 1Kor 2:7, Lumen Gentium 2, KGK 760-764)
Pada saat penciptaan dunia, Allah telah merencanakan untuk mengangkat manusia ke dalam kehidupan Ilahi. Namun rencana persatuan Ilahi ini terhalang oleh karena dosa Adam yang kemudian diturunkan kepada semua manusia. Karenanya Allah terus menerus mengutus para nabi untuk membawa manusia kembali kepadaNya, hingga akhirnya Ia mengutus Putera-Nya sendiri yaitu Yesus Kristus menjadi tebusan atas dosa-dosa manusia, supaya tidak ada lagi penghalang antara manusia dengan Allah.
Di dalam diri Kristus, Allah yang tidak kelihatan menyatakan diriNya dan Kristus menjadi yang sulung dari segala ciptaan. Segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, Sang Firman, (Yoh 1:1), oleh Kristus, dan untuk Kristus. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat (lih. Kol 1:15-18, Ef 1:9-10). Karenanya, sudah sejak awal mula Allah telah merencanakan penggabungan jemaat dengan Kristus sebagai kepala yang kemudian dikenal sebagai ‘Gereja’. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada mulanya Allah menentukan orang-orang yang dipilihNya untuk menjadi serupa dengan Kristus Putera-Nya, supaya Kristus menjadi yang sulung dari banyak saudara (lih. Rom 8:29). Nah, kesatuan semua manusia dengan Yesus sebagai yang sulung inilah yang disebut Gereja.
Maka kalau ada orang bertanya pada kita sejak kapan Gereja direncanakan oleh Allah, kita dapat mengatakan bahwa Gereja sudah direncanakan sejak penciptaan dunia. Hanya saja pada waktu itu (di dalam Kitab Kejadian) belum secara eksplisit disebut sebagai ‘Gereja’. Persekutuan manusia dalam ‘wadah’ Gereja ini dipersiapkan oleh Allah melalui pembentukan bangsa Israel di masa Perjanjian Lama hingga tiba waktunya Kristus sendiri menyempurnakannya oleh kuasa Roh Kudus pada Perjanjian Baru, yang merupakan penggenapan Perjanjian Lama. Pada akhir zaman, Gereja akan mencapai kesempurnaannya, di mana semua orang benar sepanjang segala abad akan dipersatukan dengan Allah sendiri.
Nyatalah, sebagai tujuan akhir hidup manusia, Gereja bersifat Ilahi, sebab di dalamnya manusia dipersatukan dengan Allah. Persekutuan kudus dengan Allah ini membawa manusia pada persekutuan dengan para orang kudus sepanjang zaman, karena semua orang kudus tersebut bersekutu dengan Allah, dan juga, karena kematian tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm 8:38). Persekutuan kudus ini pula yang menjelaskan, bahwa hanya ada satu Gereja, karena hanya ada satu Tubuh Mistik Kristus, yang terdiri dari kita yang masih berziarah di dunia ini, mereka yang sudah mulia di surga, dan mereka yang sebelum masuk ke surga masih dimurnikan di Api Penyucian.[4] Kedua dimensi persekutuan ini –yaitu persekutuan dengan Allah dan dengan para kudusNya- menunjukkan sifat ilahi dari Gereja, yang membedakannya dari organisasi apapun di dunia.
Gereja sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir hidup manusia
(lih. Ef 4:7,12-16, 1 Tim 3:15, LG 1, 4, KGK 765-768)
Sekarang, mari kita lihat peran Gereja sebagai sarana menuju tujuan akhir manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, supaya kita beroleh keselamatan dan dapat dipersatukan dengan Allah. Untuk itu, Kristus mendirikan Gereja-Nya pada hari Pentakosta oleh kuasa Roh Kudus, supaya oleh Roh yang sama Ia senantiasa dapat menguduskan Gereja-Nya, untuk membawa umat manusia kepada keselamatan dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Ini adalah suatu karunia rahmat, bukan usaha manusia sendiri. Karunia keselamatan ini diberikan melalui perantaraan Gereja, yang adalah Tubuh Kristus, sehingga Gereja juga disebut ‘sakramen keselamatan,’[5] yaitu tanda/ sarana untuk menyalurkan rahmat keselamatan dari Tuhan. Perlu kita ingat bahwa Kristus sendiri adalah Sakramen (Tanda) Kasih Allah, dan Gereja adalah sakramen Kristus. Dengan demikian, Gereja sebagai tanda Kasih Allah terjadi karena hubungan Gereja dengan Kristus.
Sebagai ‘sakramen’, Gereja terus-menerus menghadirkan secara nyata karya keselamatan Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Kristus terus menerus hadir dan berperan aktif dengan cara yang kelihatan di dalam dan melalui Gereja-Nya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Jadi di dalam GerejaNya, Kristus sendirilah yang mengajar, menguduskan, dan melayani Gereja melalui para uskup. Hal ini sesuai dengan janjiNya kepada para rasul, “Engkau akan menerima kuasa Roh Kudus…. dan engkau akan menjadi saksi-saksiKu di Yerusalem….” (Kis 1:8). Telah menjadi kehendak Yesus bahwa setelah kenaikanNya ke surga, Ia akan tetap berkarya di dalam Gereja, agar kita diberi kasih karunia untuk keperluan pembangunan Tubuh-Nya sampai kita bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:7,12-13). Yesus berkarya melalui perantaraan manusia yang dipilihNya, yaitu para rasul dan penerus mereka yaitu para uskup, yang secara turun temurun diurapi dengan kuasa Roh KudusNya sendiri.[6]
Jelaslah bahwa selain dijiwai oleh Tuhan Yesus, Gereja juga melibatkan peran serta manusia, misalnya, Gereja dipimpin oleh manusia (Paus dan para uskup, imam), beranggotakan kita manusia, yang kesemuanya tidak terlepas dari dosa. Karenanya, Tuhan menyediakan sarana pengudusan, di mana Ia sendiri yang bertindak menguduskan lewat perantaraan para imam-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen, rahmat Tuhan yang tidak kelihatan disalurkan melalui simbol-simbol yang kelihatan. Maka dalam dimensi manusiawi ini terdapat dua hal yang penting, yaitu hal kepemimpinan/ struktur Gereja dan hal sakramen sebagai saluran rahmat Tuhan yang melibatkan perantaraan manusia dan benda-benda lahiriah.
Kepemimpinan/ struktur Gereja
(KGK 880-883, LG 18-29)
Yesus mendirikan GerejaNya di atas Rasul Petrus (Kepha, Petros) -yang artinya batu karang- (Mat 16:18) dan memberikan kuasa yang khusus kepadanya di atas para rasul yang lain, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:5-7). Walaupun Kristus juga memberikan kuasa kepada rasul-rasul yang lain (Mat 18:18), hanya kepada Petruslah Ia memberikan kunci- kunci Kerajaan Surga (Mat 16:19) yang melambangkan kuasa untuk memimpin GerejaNya di dunia.
Yesus sang Gembala yang Baik mempercayakan domba-dombaNya kepada Petrus dan mempercayakan tugas untuk meneguhkan iman para rasul yang lain, agar iman Gereja jangan sampai sesat (Luk 22:3-32). Petruslah yang kemudian menjadi pemimpin para rasul setelah hari Pentakosta, mengabarkan Injil, membuat keputusan dan pengarahan (Kis 2:1-41, 15:7-12). Para penerus Rasul Petrus ini dikenal sebagai uskup Roma, yang dipanggil sebagai ‘Paus’ yang artinya Papa/ Bapa.
Jelaslah bahwa secara struktural, Paus (penerus Rasul Petrus) memegang kepemimpinan tertinggi, diikuti oleh para uskup (penerus para rasul lainnya) di dalam persekutuan dengan Paus. Para uskup ini dibantu oleh para imam dan diakon. Dalam hal ini, para Paus memegang kuasa Rasul Petrus, yang menerima perintah dari Yesus sendiri, dan karenanya tidak mungkin sesat. Perlu diketahui, bahwa kepemimpinan Paus -dan para uskup di dalam persekutuan dengannya- yang tidak mungkin sesat (‘infallible’) ini- hanya berlaku di dalam hal pengajaran iman dan moral.[7] Hal ini sungguh membuktikan kemurnian pengajaran Gereja, karena ajarannya bukan merupakan hasil demokrasi manusia, melainkan diturunkan dari Yesus sendiri, dan Paus tidak punya kuasa untuk mengubahnya.
Sakramen-sakramen Gereja
(KGK 1113-1532)
Ketujuh sakramen (Pembaptisan, Penguatan, Ekaristi, Pengakuan Dosa, Tahbisan, Perkawinan, dan Urapan orang sakit) merupakan tanda yang menyampaikan rahmat dan kasih Tuhan secara nyata. Hal ini merupakan pemenuhan janji Kristus yang tidak akan pernah meninggalkan kita sebagai yatim piatu (Yoh 14:18). Melalui sakramen tersebut, Allah mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk menyembuhkan, memberi makan dan menguatkan kita.
Keberadaan sakramen sebenarnya telah diperkenalkan sejak zaman Perjanjian Lama, tetapi pada saat itu hanya merupakan simbol saja -seperti sunat dan perjamuan Paskah (pembebasan Israel dari Mesir)- dan bukan sebagai tanda yang menyampaikan rahmat Tuhan. Kemudian Kristus datang, bukan untuk menghapuskan Perjanjian Lama melainkan untuk menggenapinya. Maka Kristus tidak menghapuskan simbol-simbol itu tetapi menyempurnakannya, dengan menjadikan simbol sebagai tanda ilahi. Sunat disempurnakan menjadi Pembaptisan, dan perjamuan Paskah menjadi Ekaristi. Dengan demikian, sakramen bukan hanya sekedar simbol semata, tapi menjadi tanda yang sungguh menyampaikan rahmat Tuhan.
Di sini kita melihat bagaimana Allah tidak menganggap benda- benda lahiriah sebagai sesuatu yang buruk, sebab di akhir penciptaan Allah melihat semuanya itu baik (Gen 1:31). Bukti lain adalah Kristus sendiri mengambil rupa tubuh manusia (yang termasuk ‘benda’ hidup) sewaktu dilahirkan ke dunia (lih. Ibr 10:5) Kita dapat melihat pula bahwa di dalam hidupNya, Yesus menyembuhkan, memberi makan dan menguatkan orang-orang dengan menggunakan perantaraan benda-benda, seperti tanah sewaktu menyembuhkan orang buta (Yoh 9:1-7); air sewaktu mengubahnya menjadi anggur di Kana (Yoh 2:1-11), roti dan ikan dalam mukjizat pergandaan untuk memberi makan 5000 orang (Yoh 6:5-13), dan roti dan anggur yang diubah menjadi Tubuh dan DarahNya di dalam Ekaristi (Mat 26:26-28). Jika Yesus mau, tentu Ia dapat melakukan mujizat secara langsung, tetapi Ia memilih untuk menggunakan benda- benda tersebut sebagai perantara. Janganlah kita lupa bahwa Ia adalah Tuhan dari segala sesuatu, dan karenanya Ia bebas menentukan seturut kehendak dan kebijaksanaan-Nya untuk menyampaikan rahmatNya kepada kita.
Sakramen Pembaptisan
(KGK 1213-1284)
Akibat dosa asal, kita lahir di dunia dengan kehilangan kemuliaan Allah (Rm 3:23), sehingga kita tidak mungkin bersekutu dengan Allah. Yesus telah turun ke dunia untuk membawa manusia kembali ke pangkuan Allah. Yesus mengatakan bahwa seseorang harus “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5), yaitu di dalam Pembaptisan, di mana seseorang dilahirkan kembali secara spiritual. Oleh kelahiran baru di dalam Pembaptisan ini kita diselamatkan (lih. 1Pet 3:21), karena di dalam Pembaptisan kita dipersatukan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama-sama dengan Dia (Rom 6:5).
Jadi Sakramen Pembaptisan mendatangkan dua macam berkat, yaitu penghapusan dosa dan pencurahan Roh Kudus beserta karuniaNya ke dalam jiwa kita, yang memampukan kita untuk hidup baru (Acts 2:38). Oleh Pembaptisan, kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan digabungkan ke dalam Gereja yang menjadikan kita anggota Tubuh Kristus.
Sakramen Ekaristi
(KGK 1322- 1419)
Kristus mengasihi Gereja-Nya tanpa batas dengan menganugerahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri kepada setiap anggota keluargaNya di dalam perjamuan Ekaristi. Ekaristi merupakan penyempurnaan dari perjamuan Paska Perjanjian Lama, yang ditandai dengan kurban anak domba yang membebaskan orang-orang Israel dari maut. Dalam Ekaristi, Kristuslah, Anak Domba Allah yang menjadi kurban untuk menghapus dosa-dosa kita, dan karena itu kita memasuki Perjanjian Baru yang membebaskan kita dari kematian kekal.
Yesus sendiri berkata, “Jika kamu tidak makan daging-Ku dan minum darah-Ku, engkau tidak mempunyai hidup di dalam dirimu” (Yoh 6:53). Maka, dengan menyambut Ekaristi, kita melaksanakan ajaran Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal. Sakramen ini ditetapkan oleh Yesus sendiri pada Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya, ketika Ia berkata kepada para rasulNya, “Ambillah, makanlah, inilah TubuhKu… Minumlah…inilah darahKu yang ditumpahkan bagiMu.. ..perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19-29, Mat 26: 28, Mrk 14:22-24).
Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus untuk mendatangkan buah-buahnya, yaitu penebusan dan pengampunan dosa.[8] Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian, sehingga kurbanNya dapat dihadirkan kembali, tanpa berarti diulangi.
Melalui perkataan imam yang dikenal sebagai konsekrasi, roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Karena itu, kita harus memeriksa diri sebelum menyambut Ekaristi, sebab “barangsiapa dengan tidak layak makan roti dan minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan…dan barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1Kor 11:27-29). Dari pengajaran Rasul Paulus ini, kita mengetahui bahwa Kristus sungguh hadir di dalam Ekaristi. Yesus memakai segala cara untuk menyatakan bahwa Ia mau tinggal bersama kita, untuk menyertai dan menguduskan kita, karena sungguh besarlah kasihNya kepada kita sebagai anggota Gereja-Nya.
Sakramen Penguatan
(KGK 1285-1321)
Tuhan memperkuat jiwa kita juga dengan Sakramen Penguatan. Hal ini kita lihat dari kisah para rasul yang, walaupun telah menerima rahmat Tuhan, mereka dikuatkan secara istimewa pada hari Pentakosta, ketika Roh Kudus turun atas mereka. Atas karunia Roh Kudus ini para rasul dapat dengan berani mengabarkan Injil dan melaksanakan misi yang Yesus percayakan kepada mereka. Karunia Roh Kudus ini diturunkan melalui penumpangan tangan para rasul (Kis 8:14-17) yang kemudian juga dilanjutkan oleh para penerus mereka (para uskup) kepada Gereja-Nya. Melalui Sakramen Penguatan inilah kita dikuatkan dalam iman untuk menghadapi tantangan hidup.
Sakramen Pengakuan/ Tobat
(KGK 1422-1498)
Allah mengetahui bahwa di dalam perjalanan iman, kita dapat jatuh di dalam dosa. Maka Ia menganugerahkan Sakramen Pengakuan/ Tobat pada kita, karena Allah selalu siap sedia untuk mengangkat kita dan mengembalikan kita ke dalam persekutuan dengan Dia. Di dalam sakramen ini kita mengakukan dosa kita di hadapan imam, karena Yesus telah memberi kuasa kepada para imamNya untuk melepaskan umatNya dari dosa. Setelah kebangkitanNya, Yesus berkata kepada para rasulNya, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:22-23). Melalui Sakramen Tobat ini kita menerima pengampunan dosa dari Tuhan dan juga rahmatNya, yang membantu kita untuk menolak godaan dosa di waktu yang akan datang.
Sakramen Perkawinan
(KGK 1601-1666)
Sebagian besar orang dipanggil untuk kehidupan berumah tangga. Melalui Sakramen Perkawinan, Tuhan memberikan rahmat yang khusus kepada pasangan yang menikah untuk menghadapi bermacam tantangan yang mungkin timbul, terutama sehubungan dengan membesarkan anak-anak dan mendidik mereka untuk menjadi para pengikut Kristus yang sejati.
Dalam sakramen Perkawinan terdapat tiga pihak yang dilibatkan, yaitu mempelai pria, mempelai wanita dan Allah sendiri. Ketika kedua mempelai menerimakan sakramen Perkawinan, Tuhan berada di tengah mereka, menjadi saksi dan memberkati mereka. Allah menjadi saksi melalui perantaraan imam, atau diakon, yang berdiri sebagai saksi dari pihak Gereja.
Sakramen Perkawinan adalah kesatuan kudus antara suami dan istri yang menjadi tanda yang hidup tentang hubungan Kristus dengan GerejaNya (Ef 2:21-33). Karenanya, perkawinan sakramental Katolik adalah sesuatu yang tetap dan tak terceraikan, kecuali oleh maut (Mrk 10:1-2, Rom 7:2-3, 1Kor 7:10-11).
Sakramen Tahbisan
(KGK 1536- 1600)
Pada zaman Perjanjian Lama, meskipun bangsa Israel telah dikatakan sebagai ‘kerajaan imam dan bangsa yang kudus’ (Kel 19:6), Allah tetap memanggil para pria tertentu untuk menjalankan tugas sebagai imam (Kel 19:22). Hal yang sama terjadi di dalam Perjanjian Baru, sebab walaupun semua orang Kristen dikatakan sebagai ‘imamat yang rajani’ (1Pet2:9), namunYesus memanggil secara khusus beberapa orang pria untuk menjalankan tugas pelayanan sebagai imam. Melalui Tahbisan ini, para imam diangkat untuk menjadi pelayan Gereja untuk menjalankan tugas-tugas Kristus, yaitu sebagai imam untuk menguduskan, nabi untuk mengajar dan raja untuk memimpin dan melayani umat-Nya. Di atas semua ini tugas yang terpenting adalah mengabarkan Injil dan menyampaikan sakramen-sakramen.
Sakramen Urapan Orang Sakit
(KGK 1499- 1532)
Alkitab mengatakan agar jika kita sakit, maka baiklah kita memanggil penatua Gereja untuk mendoakan dan mengurapi kita dengan minyak di dalam nama Tuhan. Dan doa yang didoakan dengan iman ini akan menyelamatkan kita yang sakit dan mengampuni dosa kita (Yak 5:14-15). Oleh karena itu, sakramen Urapan orang sakit ini tidak hanya dimaksudkan untuk menguatkan kita di waktu sakit, tetapi juga untuk membersihkan jiwa kita dari dosa dan mempersiapkan kita untuk bertemu dengan Tuhan.
Kesimpulan: Gereja adalah Tanda Kasih Tuhan
Gereja adalah tujuan akhir hidup manusia dan sarana untuk mencapai tujuan itu. ‘Gereja’ yang merupakan keselamatan manusia dalam persekutuan dengan Allah dan sesama, juga menjadi ‘sakramen keselamatan’, atau sarana dan tanda yang nyata dari misteri kasih Allah yang ditunjukkan oleh pengorbanan Yesus di kayu salib. Sebagai anggota Gereja, kita diikutsertakan di dalam misteri itu, dengan mengambil bagian di dalam misteri Paska Kristus yang dinyatakan di dalam ketujuh sakramen yang kita terima, lewat perantaraan penerus para rasul, yaitu para uskup dan pembantunya (imam). Marilah kita mensyukuri anugerah Gereja Kudus ini, beserta dengan rahmat sakramen dan keberadaan para pemimpin Gereja, sebab oleh semua itu kita beroleh karunia Allah yang tiada batasnya, yaitu keselamatan di dalam persekutuan dengan Tuhan.
March 13, 2011 at 9:53 am
Pencarian kebenaran harus lebih tinggi daripada penghargaan dan perasaan pribadi.
Pertanyaan di atas menjadi penting pada jaman sekarang ini, mengingat bahwa ada begitu banyak tipe ke-Kristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Sering kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:
Saya senang ke gereja ini, karena gereja ini umatnya begitu ramah, musiknya juga bagus sekali.
Saya merasa bahwa gereja ini diberkati oleh Roh Kudus, karena saya merasakan bahwa kuasa Roh Kudus hadir di gereja tersebut.
Saya merasakan bahwa pembawa firmannya begitu penuh dengan Roh Kudus, sehingga dapat menyentuh hatiku.
Saya tidak dapat berkembang di gereja A, sehingga saya harus mencari gereja yang membuat saya berkembang.
Dan begitu banyak pernyataan-pernyataan yang lain.
Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada “saya?” Dalam pencarian kebenaran, fokusnya bukan diri sendiri, tapi pada kebenaran, yang pada akhirnya akan mengarahkan manusia kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus. Ini berarti kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.
Gereja yang mana?
Pertanyaan untuk mencari kebenaran adalah “Sebenarnya Tuhan ingin saya ke gereja yang mana? Atau Gereja manakah yang Yesus dirikan? Pertanyaan ini sangat mendasar, karena kalau Tuhan mendirikan sebuah Gereja dan kalau kita menempatkan kebenaran di atas segalanya, termasuk diri kita sendiri, maka kita seharusnya memberikan diri kita kepada Gereja tersebut. Dalam tulisan ini, kita akan meneliti, gereja manakah yang dirancang oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dan dikuduskan oleh Roh Kudus sampai akhir jaman.
Gereja terpecah belah
Pada waktu saya kuliah di Bandung, saya didatangi oleh umat dari gereja tertentu. Kemudian mereka memperkenalkan diri, bahwa mereka datang dari gereja X. Dalam hati saya sungguh mengagumi keberanian mereka untuk menyebarkan kabar gembira dan dedikasi mereka terhadap Tuhan. Kemudian mereka menceritakan tentang pendiri gereja X tersebut, sebut saja Yesaya. Pendiri gereja X adalah seseorang yang diurapi oleh Roh Kudus yang tadinya beliau menjadi jemaat gereja Y. Kemudian karena suatu hal, menurut Yesaya, pemimpin gereja Y tidak dipenuhi lagi oleh Roh Kudus. Kemudian Yesaya mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, yang bernama gereja X. Dalam keterbatasan saya tentang teologi dan juga pengertian saya yang dangkal, saya bertanya kepada mereka “Bagaimana bila suatu saat, karena suatu hal, ada umat di gereja X mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, sehingga nanti ada gereja X1, X2, dan seterusnya?”
Dan kalau kita meneliti secara jujur, inilah yang terjadi di dunia ini. Ada lebih dari 28,000 denominasi gereja di dunia ini, dimana data di Amerika menunjukkan bahwa setiap minggu ada satu gereja baru muncul, dan kemudian dalam dua generasi akan lenyap. Keberadaan gereja yang ‘timbul dan tenggelam’ sudah menjadi hal yang biasa pada saat ini. Pertanyaan-nya adalah “Mengapa gereja terpecah-pecah, dan kalau memang ini semua dari Roh Kudus, kenapa tidak ada kesatuan? Kita tahu bahwa Roh Kudus adalah Roh Pemersatu bukan roh pemecah.”
Perpecahan Gereja terjadi dari awal jemaat sampai sekarang
Kita dapat melihat sejak dari awal, akibat dari dosa, benih-benih perpecahan sudah ada sejak dari jemaat awal. St. Paulus mengingatkan jemaat di Roma dan di Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17; 1 Kor 1:10; 11:18-19; 12:25). Dan benih perpecahan ini terjadi terus, mulai dari Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Ini terus berkembang dengan perpecahan gereja:
Gereja Timur Orthodox (1054).
Gereja Anglikan di Inggris (abad ke 16), didirikan oleh Raja Henry VIII.
Lutheran dan Calvinis di Jerman (abad ke 16), didirikan oleh Luther dan Calvin.
Methodis di Inggis (1739), didirikan oleh John Wesley.
Kristen Baptis (1639), didirikan oleh Roger Williams.
Anabaptis (1521), didirikan oleh Nicolas Stork.
Presbyterian di Skotlandia (1560).
Mormon di Amerika (1830), didirikan oleh Joseph Smith.
Saksi Yehovah di Amerika (1852-1916), didirikan oleh Charles Taze Russell.
Unification Church di Korea (1954), didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon.
Perpecahan ini terus berkembang dan bertambah setiap hari di dunia ini. Namun perpecahan bertentangan dengan pesan Yesus yang terakhir sebelum Yesus mengalami penderitaan. Yesus berdoa untuk persatuan umat Tuhan, seperti persatuan antara Bapa dan Yesus sendiri dan juga agar dunia bisa percaya kepada Yesus (lih. Yoh 17:21).
Mungkin ada yang berargumentasi, bahwa banyaknya gereja tidaklah berarti perpecahan, karena semua percaya kepada Trinitas, juga kepada Yesus. Namun, kalau kita teliti, sebetulnya tidaklah demikian, karena ada gereja-gereja tertentu tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Juga gereja-gereja tersebut tidak mempunyai ajaran yang sama, sebagai contoh: baptisan bayi diperbolehkan atau tidak? Jumlah sakramen ada berapa? Isu-isu tentang otoritas, dll. Kita juga tahu bahwa Martin Luther sendiri bertentangan dengan John Calvin dalam pengajaran tentang sakramen pengampunan dosa, dll.
Yang penting jadi Kristen, namun tidak penting gereja apa.
Kita sering mendengar seseorang mengatakan bahwa yang penting bahwa manusia percaya kepada Yesus, mendapatkan keselamatan, dan tidak penting berada di gereja yang mana. Mungkin pernyataan seperti ini, ada pengaruh tulisan dari C.S. Lewis, yang mengatakan bahwa menjadi Kristen sama seperti banyak orang yang tinggal di rumah yang besar. Yang penting masuk ke rumah tersebut dan perkara mau masuk ruangan di manapun itu tidaklah penting. Ruangan di sini dapat berarti denominasi gereja-gereja.
Kalau kita merenungkan lebih jauh dan meneliti hakekat dari gereja dengan menggunakan argumen dari C.S. Lewis, kita bisa mempertanyakan bahwa bagaimana mungkin banyak orang bisa tinggal satu rumah, memilih ruangan masing-masing dan tidak mempunyai aturan dan ajaran yang sama. Bahkan yang menyedihkan adalah ada kemungkinan orang-orang tersebut masih mempertanyakan tuan rumah dari rumah tersebut. Kita melihat bahwa di kehidupan rumah kita masing-masing mempunyai peraturan yang harus ditaati, sehingga semuanya dapat hidup dengan baik. Yesus mengatakan kalau suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan (Mar 3:25). Kalau di dalam rumah besar terpecah-pecah dengan berbagai pengajaran dan aturan moral yang berlainan, maka rumah besar itu tidak akan bertahan. Santo Paulus sendiri memperingatkan jemaat di Roma dan Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17, 1 Kor 1:10, 12:25). Kalau benar bahwa semua orang tinggal di rumah besar itu, seharusnya semakin lama mereka tinggal bersama-sama, mereka akan semakin bersatu.
Gereja Tuhan hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.
Namun kenyataanya tidaklah demikian, perpecahan demi perpecahan mewarnai gereja-gereja tersebut. Dari buah-buah perpecahan yang terjadi di gereja-gereja di dunia ini, maka timbul pertanyaan, apakah semuanya itu datang dari Tuhan. Kalau datang dari Tuhan, kenapa mereka mempunyai ajaran yang berbeda-beda? Pertanyaan ini dapat dijawab dari hakekat Gereja itu sendiri.
Gereja, seperti yang dinyatakan oleh Santo Paulus, adalah Tubuh Mistik Kristus,[4] dimana Kristus sebagai kepala, dan Gereja sebagai tubuh-Nya (Ef 5:23-32). Sama seperti tubuh manusia, semua organ diatur oleh mekanisme tubuh yang bersumber pada otak manusia atau di kepala manusia. Demikian juga dengan gereja. Gereja sebagai tubuh harus mengikuti keinginan kepalanya, yaitu Kristus. Dan kalau Yesus sendiri berkata bahwa umat Tuhan harus bersatu, maka umat harus mengikuti. Persatuan inilah yang diinginkan oleh Yesus Kristus, sehingga Dia dapat mempersiapkan, menguduskan, dan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang kudus (Ef 5:27). Sama seperti perkawinan yang kudus hanya ada satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Gereja Tuhan juga harus hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.
Manusia tidak dapat membuat Gereja, namun hanya bisa menerima dan berpartisipasi.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa kesatuan Gereja adalah hanya secara spiritual, dimana semua mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus sendiri mengatakan bahwa dimana dua atau tiga orang berkumpul, maka Dia hadir (Lih. Mat 18:20). Jadi dimana dua atau tiga jemaat berkumpul disitulah terbentuk gereja. Disinilah letak permasalahannya, bahwa hakekat Gereja bukan hanya sekedar komunitas[5], melainkan lebih dari itu. Kalau orang membuat suatu komunitas dan menamakan komunitas itu gereja, berarti dia membuat gereja, bukan menerima gereja sebagai suatu pemberian dari Tuhan. Manusia tidak bisa membuat Gereja, dia hanya bisa menerima dan menjadi bagian dari Gereja.[6]
Menyadari bahwa Gereja adalah pemberian Tuhan, harus membuat setiap anggota Gereja semakin rendah hati. Dan juga setiap anggota harus menyadari peran masing-masing untuk melindungi dan membuat tanda kasih dari Allah untuk semakin memancarkan cahaya kasih Allah. Di sinilah Gereja yang sedang mengembara di dunia ini[7], yang terdiri dari para pendosa dan para kudus harus terus mengalami pemurnian dan pertobatan terus menerus sampai kepada tujuan akhir, yaitu persatuan kekal dengan Allah di surga.
Kalau begitu, Gereja mana yang didirikan oleh Yesus Kristus
Akhirnya dari semua argumen di atas, kita menarik kesimpulan bahwa Gereja yang didirikan oleh Tuhan harus mempunyai tanda-tanda: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Satu, karena kesatuan iman, pengajaran, sakrament, kepemimpinan; Kudus, karena bersumber pada Tuhan sendiri – yang hakekatnya adalah kudus; katolik, karena Gereja Tuhan harus universal baik dari segi waktu maupun tempat; apostolik, karena berdasarkan apostolik atau para murid yang telah diberi mandat suci oleh Yesus. Keempat tanda inilah yang membedakan antara Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri dengan gereja-gereja yang lain. Dan Gereja ini berada dalam Gereja Katolik.[8] Hanya Gereja Katolik yang mempunyai empat tanda ini atau yang disebut “the four marks of the Church.” (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – bagian 1). Mengapa empat tanda ini begitu penting? Karena tanda itu adalah bukti bahwa Gereja bukan organisasi yang didirikan oleh manusia, namun didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Didirikan di atas Rasul Petrus, dan senantiasa dilindungi oleh Yesus sendiri, melalui karya Roh Kudus, dimana tidak ada apapun yang dapat meruntuhkan Gereja ini.[9]
Ketahanan Gereja Katolik meskipun menghadapi percobaan-percobaan sepanjang zaman membuktikan bahwa Yesus memegang janji-Nya untuk melindungi Gereja-Nya.
Mungkin ada yang berpendapat, bahwa Gereja awal adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, namun kemudian menjadi tidak murni dan baru sekitar abad 15, Gereja kemudian dimurnikan. Jadi Gereja Katolik yang sekarang ada adalah Gereja yang tidak murni. Mari kita menelusuri keberatan dari argumen ini. Pertama, apakah mungkin bahwa Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya (Mat 16:18) kemudian melupakan Gereja-Nya selama kurang lebih 15 abad? Kalau jawabannya mungkin, kita telusuri lebih jauh. Taruhlah hal tersebut benar, bahwa Gereja tidak murni lagi dan diperbaharui pada jaman reformasi. Seharusnya setelah diperaharui, maka Gereja Tuhan akan bersatu. Namun apa yang terjadi? Sejarah membuktikan bahwa setelah jaman reformasi (atau lebih tepatnya revolusi) Gereja, maka gereja justru terpecah-belah, sehingga ada sekitar 28,000 denomasi sampai sekarang. Dengan demikian keberatan ini tidaklah mendasar.
Keberatan yang lain ada yang berkata bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tidak murni dan banyak korupsi di dalam Gereja. Memang, percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik sudah begitu banyak, mulai dari abad awal melalui begitu banyak tantangan, percobaan, dan juga serangan dari ajaran-ajaran sesat. Juga banyak yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, seperti yang telah dijelaskan di atas. Tidak terlepas percobaan dari dalam Gereja Katolik sendiri, baik melalui korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di dalam Gereja, dll. Gereja Katolik mengakui bahwa ada unsur manusia yang tidak sempurna[10]. Kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun menghadapi berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Hal ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Kalau Gereja Katolik hanya buatan manusia, seharusnya Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas.
Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus.
Namun sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tetap mempunyai empat tanda, yaitu “satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Gereja Katolik sampai sekarang mempunyai kesatuan pengajaran yang kalau ditelusuri berasal dari Yesus dan ajaran para murid dan bapa Gereja. Sehingga dikatakan ada suatu “pertumbuhan organik“.[11] Konsistensi ini dapat dibuktikan dari segi waktu dan juga tempat. Gereja Katolik di semua negara dan juga di masa apapun juga mengajarkan hal yang sama.
Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Kristus atau umat yang sudah menjadi anggota gereja lain?
(pembahasan detail untuk topik ini akan dijelaskan dalam artikel yang lain).
Setelah kita mengetahui bahwa Gereja Katolik adalah Gereja Kristus, bagaimana dengan saudara kita yang tidak kenal dengan Yesus? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]
Bagaimana juga dengan saudara kita yang menjadi anggota gereja lain? Dokumen Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalkan memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup dengan kasih, dll. Bahkan gereja Katolik mengakui pembatisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.”
Bagaimana dengan umat Gereja Katolik?
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Apakah mereka semua dapat diselamatkan? Dalam Lumen Gentium 14 ditegaskan akan pentingnya untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mempraktekan kasih kepada Tuhan dan sesama. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmaniah, namun bukan secara spiritual, tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini dikarenakan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).
Berapa banyak dari umat agama lain yang mengatakan bahwa percuma saja menjadi Katolik kalau kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus. Pernyataan ini adalah suatu tantangan bagi kita semua yang menjadi anggota Gereja Katolik – dimana kepenuhan kebenaran ada pada Gereja ini – untuk senantiasa berjuang setiap hari mempraktekkan kasih dan hidup kudus. Hidup kudus adalah merupakan cara untuk ” menjadi saksi Kristus dan membangun Gereja” yang paling efektif, seperti yang telah dilakukan oleh Para Kudus. Kita tidak bisa mengasihi Yesus, kalau kita tidak mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja-Nya berada di dalam Gereja Katolik. Mari kita renungkan, sudahkah kita semua mengasihi Yesus?
March 13, 2011 at 10:10 am
Anda akan masuk neraka yang sangat panas jika mati tanpa sempat tobat.Ingat mati itu datang kadang tiba-tiba dan mengejut.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.Amalkanlah ajaran Islam.Hanya dengan itu saja dosa-dosamu tertebus dan hanya Islam sajalah jalan keselamatan.
March 13, 2011 at 10:15 am
SIAPAKAH YANG AKAN MASUK NERAKA?????
TANTANGAN: Orang-orang Muslim yang religius menolak kesaksian Injil, yang mengatakan bahwa Kristus mati bagi dosa-dosa kita, karena mereka mengatakan bahwa penyaliban Kristus itu hanyalah khayalan semata dan hasil dari pemalsuan orang-orang Kristen terhadap Injil. Mereka percaya kepada Al-Quran yang mengatakan bahwa Kristus tidak dibunuh dan tidak disalibkan, dan bahwa tidak mungkin ada manusia yang terbebani oleh kesalahan bisa memikul beban orang-orang lain. Karena itu orang-orang Muslim mengundang orang-orang Kristen, dalam kerangka keselamatan dari neraka, untuk tidak lagi percaya kepada kematian Kristus sebagai pengganti atas dosa-dosa mereka. Kemudian, mereka mengajak orang-orang Kristen untuk melakukan perbuatan baik yang dijelaskan di dalam Al-Quran dan Islam, yang dipercaya sebagai satu-satunya cara yang mampu untuk menghapus perbuatan jahat pada Hari Penghakiman. Hanya ini cara untuk bisa diselamatkan dari neraka dan masuk ke surga. –Bisakah orang Kristen mengikuti ajakan ini? Apakah perbuatan baik memang menjamin adanya keselamatan dari neraka?
JAWABAN : Anda bisa mendapatkan jawaban akan hal ini kalau anda menyelidiki Al-Quran tentang siapa sebenarnya yang akan masuk neraka. Dalam rangka mendapatkan jawaban untuk pertanyaan ini maka penjelasan di dalam ayat Al-Quran bisa digolongkan menjadi empat kelompok:
1. Orang-orang berdosa masuk neraka. Al-Quran mengatakan bahwa neraka adalah tempat penghukuman bagi orang-orang berdosa. Di dalam Al-Quran Allah mengancam adanya hukuman neraka bagi orang-orang yang mengikuti dosa menurut ajaran Islam ini: menolak ajaran Islam (kufr – 16x, mis Surat 9:68), menganggap ada yang setara dengan Allah di dalam keilahian-Nya (syirik – 3x, mis. Surat 17:39), menyangkal adanya neraka (takdhib jahannam – Surat 55:43), dengan lisan menyangkal dan melawan Allah serta Muhammad (tahaadud – Surat 9:63; 72:23), bersikap sombong dan merendahkan Muhammad atau menghina dia (istikbaar – 5x, mis. Surat 39:59f), bersikap munafik (nifaaq – Surat 9:68,73), berkhianat (khubth –Surat 8:36f), melakukan kejahatan (jurm – 5 x, mis. Surat 20:74), orang Muslim yang sengaja membunuh sesama Muslim (qatl – Surat 4:93), orang Muslim yang tidak melakukan cukup kebajikan (khaffat mawaazinuhu – Surat 23:103), orang Muslim yang menyimpang dari jalan Islam dengan tidak memberikan sedekah (al-qaasituun – Sura 72:14f), pengikut Kristus yang menolak iman Islam (kufr atbaa’ ‘Isa – Surat 3:56), dan akhirnya, menyekutukan Tuhan (musyrik – Surat 48:6). Dalam sebagian besarnya, ayat-ayat itu menunjukkan kebencian Muhammad kepada para musuh dan orang-orang yang mengkritiknya. Dengan mengancam mereka masuk neraka, ia membalaskan sakit hatinya kepada mereka.
2. Allah meng’azab barangsiapa yang dikehendaki-Nya di dalam neraka. Menurut Al-Quran, sepenuhnya terserah kepada Allah untuk memutuskan apakah Ia mau menunjukkan rahmat kepada seseorang atau menghukum dan meng’azabnya. “Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu (Muslim). Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan meng’azabmu, jika Dia menghendaki. Dan, Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi penjaga bagi mereka.”. (Surat al-Isra’ 17:54, lihat juga Surat al-’Ankabut 29:21 dan al-Ma´ida 5:40) Sebagai seorang Muslim, tidak seorangpun yang mengetahui bagaimana keputusan Allah atas dirinya: apakah Ia akan menunjukkan rahmat, atau justru akan meng’azabnya di neraka. Kalau anda bertanya kepada seorang Muslim apakah ia akan masuk surga, ia akan menjawab: In-sha-llah, artinya : “Kalau Allah menghendaki!” Tidak ada kepastian di dalamnya.
3. Ketidakpastian tentang apakah seseorang bisa mendapatkan rahmat Allah dengan melakukan kebajikan menurut Islam. Dalam banyak bagian Al-Quran kita bisa menemukan, di dalam konteks kemurahan Allah, adanya pernyataan “mungkin” (la’alla), atau “Mudah-mudahan” (‘asaa). Beberapa contoh di antaranya : “Hai orang-orang yang beriman (Muslim), bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungaisungai…” (Surat at-Tahrim 66:8a) — “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar (mudah-mudahan) kamu mendapat rahmat.” (Surat al-A’raf 7:204) — “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada rasul, mungkin kamu diberi rahmat.” (Surat an-Nur 24:56) — “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (Surat at-Taubah 9:102) – Di dalam Islam tidak ada kepastian bahwa seseorang akan menerima pengampunan dosa secara pribadi. Melingkupi semua kebajikan Islam yang dilakukan seseorang agar ia bisa diselamatkan, anda akan menemukan sebuah kata yang sangat menonjol “mudah-mudahan.”
4. Benarkah semua orang Muslim akan masuk neraka? Disamping ketidakpastian berlipat-ganda itu, tentang apakah seseorang, sebagai seorang Muslim yang baik, bisa menghindar dari hukuman neraka, ada bagian di dalam Al-Quran yang bisa melenyapkan sama sekali sisa-sisa harapan dari seorang Muslim yang jujur, “68 Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. 69 Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah … 71 Dan tidak ada seorangpun dari padamu (Muslim), melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian (pasti akan terjadi) yang sudah ditetapkan. 72 Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Surat Maryam 19:68-72)
Ayat 71 dengan jelas mengatakan bahwa semua orang Muslim akan masuk neraka, karena Allah sudah membuatnya sebagai sebuah kepastian untuk memasukkan mereka ke dalam neraka. Hanya kemudian, Allah (mungkin) akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dari siksaan itu. Dalam perjalanan sejarahnya orang-orang Muslim sangat kesulitan dalam usaha menjelaskan ayat ini. Untuk alasan ini juga, semua sudah diupayakan dan bahkan diusahakan untuk mengutip hanya sebagian saja dari ayat-ayat ini untuk membuatnya lebih menarik dalam penafsirannya. Ada juga usaha yang dilakukan yaitu mencocokkannya dengan tradisi Islam yang menuliskan bahwa Muhammad, dianggap pernah mengatakan bahwa ada sebuah jembatan yang menghubungkan antara surga dengan neraka; orang-orang yang bertakwa dan saleh akan bisa dengan cepat melalui jembatan itu, sementara bagi orang-orang yang jahat jembatan itu menjadi sangat kecil, sehingga mereka kemudian jatuh ke dalam neraka. Tetapi teks asli Al-Quran di dalam bahasa Arab, sama sekali tidak menyisakan ruang untuk ragu akan hal ini: Bagi orang-orang Muslim tidak ada cara sama sekali untuk melewati neraka.
Seorang Kristen, sebaliknya, memiliki sebuah janji Allah yang sangat jelas tertulis di dalam Alkitab: Melalui iman kepada kematian Kristus di kayu salib bagi dosa-dosanya, maka ia pasti tidak akan mengalami penghukuman apapun di neraka.
KABAR BURUK: Seorang Kristen tidak bisa mengikuti undangan dari orang Muslim ini, untuk menyelamatkan diri dari neraka dengan melakukan kebajikan Islami, karena Al-Quran dengan sangat nyata menyatakan, bahwa Allah yang mau menyelamatkan seseorang atau tidak, tetapi berjanji bahwa bahkan jalan menuju ke surga harus melewati neraka terlebih dahulu!
KABAR BAIK : Ada jalan keselamatan yang membawa kita lepas dari belenggu neraka, Iblis, dan maut. Jalan ini adalah jalan Kristus sendiri! Ia tidak membawa kita ke taman Firdaus, tetapi kepada Allah sendiri, sumber dari segala kehidupan. Persekutuan dengan Allah jauh lebih berharga dibandingkan dengan semua kesenangan di surga.
March 13, 2011 at 10:21 am
hebat ya ,lu berarti Tuhan,bisa menentukan orang masuk neraka,baca tuh artikel di bawah,semua diambil dari alquran punya agama lu,jadi sekarang gwa yg mau tanya SIAPAKAH YANG AKAN MASUK NERAKA?????
March 13, 2011 at 10:52 am
Aku percaya akan Allah Bapa yang Maha Kuasa,pecipta langit dan bumi,dan akan Yesus Kristus,PuteraNya yang tunggal Tuhan kita,yang dikandung oleh Roh Kudus,dilahirkan oleh Santa Perawan Maria,yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus,disalibkan,wafat dan dimakamkan,yang turun ke tempat penantian,pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati,yang naik ke surga,duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa,dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati.Aku percaya akan Roh Kudus,Gereja Katolik yang Kudus,persekutuan para Kudus,pengampunan dosa,kebangkitan badan,kehidupan kekal,AMIN. Ini baru benar,sebab AKUlah JALAN,KEBENARAN,dan HIDUP.
March 13, 2011 at 1:21 pm
tine2 lo ini bahlul
yesus sama allah itu pribadi yang terpisah atau sama kok yesus mau membawa manusia ke allah
kalau terpisah saya bisa mengerti tapi kalau sama berarti tuhan lo itu seperti kopi 3 in 1
March 13, 2011 at 1:53 pm
@Valentine
Anda berkata: “Ayat 71 dengan jelas mengatakan bahwa semua orang Muslim akan masuk neraka, karena Allah sudah membuatnya sebagai sebuah kepastian untuk memasukkan mereka ke dalam neraka. Hanya kemudian, Allah (mungkin) akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dari siksaan itu. Dalam perjalanan sejarahnya orang-orang Muslim sangat kesulitan dalam usaha menjelaskan ayat ini.”
Anda berdusta mengatakan bahwa dalam perjalanannya Muslim kesulitan dalam usaha menjelaskan ayat ini. Karena faktanya dalam tafsir Ibnu Katsir ditunjukan bahwa Rasulullah SAW telah menjelaskan ayat ini. Hanya saja banyak sahabat yang tidak tahu sehingga kemudian memperdebatkannya, sehingga salah seorang sahabat kemudian mengingatkan bahwa Rasulullah SAW pernah menjelaskan ayat ini. Rasulullah menjelaskan bahwa semua manusia baik muslim atau non muslim akan melewati neraka, sehingga ahli neraka kemudian terperosok ke dalam neraka. Ahli syurga akan mendapatkan kesyukuran yang banyak karena berhasil melewati perjalanan yang mendebarkan dalam keadaan was-was apakah dirinya akan selamat, dan karena melihat banyak orang masuk ke dalam neraka. Kesyukuran orang yang melihat dirinya selamat dan orang lain tidak, berbeda dengan kesyukuran orang yang tidak melihat orang lain tidak selamat.
Dalam ayat 71 tersebut sangat jelas, tidak dikatakan “Dan tidak ada seorangpun daripada muslim” melainkan “Dan tidak ada seorangpun dari padamu”
Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut…. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.
Jelas, Tuhan sedang berbicara tentang manusia bukan hanya muslim, karena yang dimaksud Tuhan dengan “mereka” adalah “manusia”, dengan demikian yang dimaksud “seorangpun dari padamu” adalah “setiap manusia” karena konteks yang sedang dibicarakan oleh ALLAH dalam runtunan ayat ini adalah manusia, baik yang bertakwa ataupun yang zalim. Dengan demikian merupakan kebodohan apabila anda berkata:
“Tetapi teks asli Al-Quran di dalam bahasa Arab, sama sekali tidak menyisakan ruang untuk ragu akan hal ini: Bagi orang-orang Muslim tidak ada cara sama sekali untuk melewati neraka.”
Bahkan anda sama sekali tidak faham metodologi tafsir, sehingga anda menggambarkan cara penafsiran yang sama sekali tidak dilakukan oleh mufasir:
“Untuk alasan ini juga, semua sudah diupayakan dan bahkan diusahakan untuk mengutip hanya sebagian saja dari ayat-ayat ini untuk membuatnya lebih menarik dalam penafsirannya.”
Faktanya, mufasir melihat keseluruhan ayat untuk menemukan kebenaran dan bukan untuk membuatnya lebih menarik. Anda memah tukang fitnah sejati. Orang kristen di situs ini hampir semuanya tukang fitnah model anda. Barangkali memang Kritsen menghalalkan fitnah. Semoga manusia dihindarkan dari perbuatan fitnah dan manusia serta agama yang mengajarkannya.
Saya fikir anda bersangka, sehingga mengatakan:
“Melalui iman kepada kematian Kristus di kayu salib bagi dosa-dosanya, maka ia pasti tidak akan mengalami penghukuman apapun di neraka.”
Apakah ada perkataan YESUS bahwa kematiannya di kayu salib akan membebaskan anda dari siksa neraka? Perkataan ini hanyalah sesuatu yang dibuat-buat, sangkaan yang sangat jauh dari kebenaran. Bagaimana Tuhan membebaskan para pendosa yang menyalahi syariat-Nya hanya karena mereka beriman kepada YESUS? Bagaimana keimanan kepada kematian YESUS di tiang salib dapat membebaskan manusia dari dosa menyalahi syariat agama? Saya tidak menemukan di perjanjian baru bahwa syariat agama menjadi gugur hanya karena beriman kepada kematian YESUS. Pantas saja kalian menjadi seperti Yahudi yang tahu syariat agama tapi tidak dilaksanakan. Dengan demikian kalian bukan hanya tersesat, tetapi juga dimurkai karena melalaikan syariat.
Dalam masyarkat Islam terdapat golongan Ittihad yang meyakini persatuan hamba dengan Tuhan yang memahami ayat “dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini.” (AL HIJR ayat 99) sebagai landasan hilangnya kewajiban menjalankan syariat karena telah bersatu dengan Tuhan (hulul). Kesesatan tafsir menyebabkan kemurkaan Tuhan karena syariat tidak diindahkan. Hal yang sama terjadi pada kalian karena membuat tafsir semaunya sehingga kalian menganggap mengerjakan syariat atau tidak sama sekali bukan merupakan hal yang penting a”pabila datang kepadamu yang diyakini” yakni keyakinan kepada kematian YESUS di tiang salib.
Ini adalah tipu daya iblis (talbis) yang menjauhkan manusia dari kebenaran, dari kenyataan fungsi syariat sebagai pensuci manusia. Kalian menganggap suci, padahal terus menerus berbuat dosa dengan tidak melaksanakan syariat dan menyekutukan TUHAN.
Dengan melihat tafsir ayat sebenarnya dari Surat Maryam 19:68-72, maka dengan mengikuti atau tidak mengikuti undangan muslim, anda sebagai manusia akan tetap melewati neraka. Dan jika anda zalim karena menyekutukan Tuhan dan melalaikan syariat agama, maka anda adalah orang yang tersungkur di neraka. Dalam alKitab tidak digambarkan di mana posisi syurga dan neraka. alQuran menjelaskan, untuk mencapai Syurga, manusia harus melewati neraka dari padang mahsyar (tempat kebangkitan). Ini rancangan ALLAH yang mengandung hikmah, sebagai rasa sedih mendalam bagi ahli neraka karena melihat ahli syurga berjalan menuju syura dan tidak terjatuh seperti dirinya, dan sebagai rasa sukacita bagi ahli syurga karena tidak jatuh bersama ahli neraka. Hikmah seprti ini tidak dapat dicapai melainkan oleh mereka yang melihat.
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (SHAAD ayat 27)
Jalan Kristus adalah tidak menuhankan selain ALLAH dan mengasihi ciptaan-Nya. Kalian yang menuhankan YESUS dan memfitnah tidak sedang menapaki jalan Kristus.
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu {383}, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya {384} yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya {385}. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (AN NISAA’ (WANITA) ayat 171)
March 13, 2011 at 4:42 pm
@ilham,anda belum menjawab pertanyaan saya,anda dari tadi berbicara fakta atau hanya tafsiran semata? Yang Nabi Palsu itu siapa??????? jawab aja itu dulu,baru bahas yang lain,anda tentu tidak bisa menjawab,karena sudah jelas nabi palsu itulah muhammad.@ Jack,memang benar Tuhan itu Esa,Tuhan itu satu dalam tiga Pribadi,sekarang gwa mau nanya sam lu jack,lu klo mati,yang tertinggal apanya? pasti roh kan??,karena di setiap makhluk hidup pasti ada roh/jiwa/arwah,Begitu juga dengan Tuhan,tentu punya roh,yaitu Roh Kudus.itu semua fakta yang tidak bisa dipungkiri semua manusia,bahwa setiap makhluk punya roh.Kalu jack melawan fakta itu,berarti lu jack menolak semua ajaran alquran,dimana dalam tubuh pasti terdapat roh.Anda kalu datang ke makam,buat apa??? kan orang udah mati,pasti anda juga percaya bahwa roh itu kekal,Apalgi Roh Kudus yang notabene berasal dari Tuhan.GITU AJA KOK BINGUNG??? NABI PALSU=MUHAMMAD,HATI HATI KARENA NABI PALSU INI JUGA PUNYA MUKJIZAT,SEPERTI YANG YESUS NUBUATKAN.
March 31, 2011 at 3:25 pm
@someone and ilham.
“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut…. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.”
Sekarang yang percaya dengan kata2 dalam ayat ini siapa? muslim kan? klo saya tidak percaya satu titik dalam ayat ini,jadi bagi yang percaya itulah yang masuk neraka,Saya cuma bertanya “siapakah yang akan masuk neraka?” saya tidak bilang muslim yg akan masuk neraka,tapi Orang Yang Percaya Pada alquran lah yang akan masuk neraka.Siapakah Itu????? yang pasti bukan orang Kristen seperti saya,karena dalam Alkitab yang saya percayai sepenuhnya,sudah dijanjikan keselamatan dan surga bagi semua yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.
March 31, 2011 at 3:31 pm
@ilham othmany,di ayat mana dalam islam dijanjikan keselamatan??? tidak ada kan,berarti gwa makin ogah sama yg namanya islam,udah pasti masuk neraka sih.
March 13, 2011 at 4:47 pm
Yesus adalah sang Mesias,Jalan,Kebenaran dan Hidup,tidak akan ada lagi nabi setelah Yesus naik ke surga,yang ada adalah NABI PALSU=MUHAMMAD,seperti kata gusdur,GITU AJA KOK REPOT,PAKAI SUSAH SUSAH BERDEBAT DAN TAFSIR INI ITU,KALAU ADA ORANG YANG BISA JAWAB PERTANYAAN SAYA,BARU SAYA AKAN BERDEBAT DAN SAYA AKAN SALUT SAMA ORANG ITU,SIAPAKAH NABI PALSU YANG DINUBUATKAN YESUS????????
March 13, 2011 at 5:22 pm
Anda bukanlah pengkaji alkitab yang baik sehingga tidak mengetahui bahwa akan ada Nabi setelah Yesus. Coba anda kaji:
1. Ulangan 18:18-20, tentang nabi diluar bani Israel dengan ciri-ciri: nabi seperti musa, tidak mati terbunuh dan semua perkatannya terjadi.
2. Habakuk 3:3 jo. Ulangan 33;1-3, tentang nabi yang berhasil menegakkan syariat agama di tanah Arab.
3. Yesaya 29:12, nabi yang tidak bisa membaca.
4. Yesaya 41:1-4, nabi yang bisa perang, punya keturunan dan sudah lama ditunggu-tunggu oleh bangsa yang tertindas sebagai pembebas dan penyelamat dari penindasan kaum yang zalim.
5. Yesaya 42:1-4, nabi yang menegakkan hukum kepada bangsa-bangsa lain dan tidak pernah berteriak dengan suara nyaring.
6. Yeremia 28:9, tentang nabi yang membawa damai.
7. Kejadian 49: 1, 10 dan Matius 21: 42-43, nabi tersebut keturunan nabi Ismail.
8. Yohanes 1: 19-25, datangnya setelah zaman Yahya dan Yesus.
9. Yohanes 16:7-1 5, nabi yang mendapat julukan “Penolong yang lain” dengan ciri-ciri: manusia biasa, memiliki gelar ‘penghibur’ dan ‘al-amin/orang benar jujur terpercaya’, tidak berkata-kata dari dirinya sendiri dan memuliakan nabi Isa dengan alaihisalam.
10. Dan lain-lain.
Muslim merujuk kepada kitab tafsir untuk menguji apakah tafsir anda benar atau batil. Dengan menggunakan tafsir pada kahirnya terlihat, bahwa perkataan anda adalah bathil atau dusta.
Ilham sudah pernah mengirimkan komentar yang menjelaskan bahwa Paulus itu salah satu yang disebut nabi palsu oleh YESUS. Mudah-mudahan Ilham masih mau mengirimkan komentarnya kembali untuk membantu anda menemukan siapakah Nabi Palsu yang diisyaratkan oleh YESUS.
March 13, 2011 at 6:55 pm
@ someone,lu udah baca yang jelas belum semua ayat ayat diatas,ha ha ha……itu semua menubuatkan tentang Yesus,dasar goblok lu nih klo lu ga percaya di Ulangan 18;18 berbunyi “seorang nabi akan KUBANGKITKAN bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.Apa nabi muhammad DIBANGKITKAN OLEH TUHAN???? yang dibangkitkan oleh ALLAH YA SUDAH JELAS YESUS.DASAR GOBLOOOOOOOOK LU>
March 14, 2011 at 4:38 am
tentang nabi yang berhasil menegakkan syariat agama di tanah Arab, apa itu YESUS juga?
March 14, 2011 at 7:26 pm
Ulangan 33;1-3, tentang nabi yang berhasil menegakkan syariat agama di tanah Arab.@ someone anda telah berdusta tentang isi ayat dalam ulangan,tidak ada kata2 nabi yang menegakkan syariat di arab,coba lu baca lagi yang bener lah,apa lu buta huruf kayak nabi lu si mamad ya??? dari kemarin kasih ayat yang salah2.Tolong klo kasih ayat,sekalin isinya,lu para muslim emang pada buta huruf,bahasa indonesia aja lu pada ga bisa baca,apalgi bahasa arab???? HA HA HA……..
March 14, 2011 at 7:53 pm
@someone,udah jelas bahwa Yesus bernubuat tentang AKAN DATANGNYA NABI PALSU,BUKAN AKAN DATANG NABI BENAR ATAU NABI ASLI,INGAT NABI PALSU.Yesus bernubuat bukan tentang akan datang lagi seorang nabi sesudah Ia naik ke surga,tapi bernubuat tentang NABI PALSU,HATI HATI.Namun Yesus juga menjanjikan akan datang ROH KEBENARAN,ingat ROH KEBENARAN,BUKAN MANUSIA TAPI ROH ATAU JIWA ATAU ARWAH,yaitu ROH KUDUS yang telah turun kepada para rasul pada hari PENTAKOSTA,pada kitab Kisah Para Rasul semua telah dijelaskan.
March 14, 2011 at 11:45 pm
@valentine
ciri2 nabi palsu emangnya apa menurut al kitab anda?
March 15, 2011 at 6:38 am
SEJAHTERA bagi siapapun yang mengikuti petunjuk. Apa yg menghalangi kalian beriman kepada kenabian Muhammad, padahal YESUS sendiri tidak pernah mengingkari kenabian sesudahnya.
P. Baru: Matius: 7
7:15. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
YESUS hanya berpesan agar waspada terhadap nabi-nabi palsu, bukan meniadakan nabi sesudahnya “…Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik,… Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Jikalau bukan kepada Nabi Muhammad kepada siapa hendak kau yakini kenabiannya. Adakah nabi sesudah YESUS selain Muhammad yang hendak kau yakini???
P. Baru: Yohanes: 1
1:19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”
1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.”
1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!”
1:22 Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?”
1:23 Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”
1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?”
Jika Mesias adalah YESUS (P. Baru: Matius Pasal 16 Ayat 20) dan Elia adalah Yohanes (–menurut YESUS, Elia adalah Yohanes–P. Baru: Matius: 11 Ayat 13-14). Siapa nabi yang akan datang itu ???
Sungguh adakalanya sebutan Roh dalam Al Kitab itu bukanlah Roh dalam arti yang sesungguhnya, namun hal itu menunjuk kepada kenabian yang akan datang.
P. Baru: I Yohanes: 4
4:1. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
Demikian itulah yang dimaksud YESUS sebagai Sang Penghibur. Bukanlah sekedar ROH KUDUS yang telah diutus (Luk 2:25-28 ; Luk 3:21-22 ; Luk 1:15 ; Luk 1:41 ; Luk 1:67 ) tapi ROH KUDUS yang merupakan Roh Kenabian Suci yang akan di utus (I Yoh 4:1). Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia saat itu (zaman YESUS) tidak melihat Dia (belum lahir) dan tidak mengenal Dia. Tetapi para murid YESUS mengenal Dia, sebab Ia menyertai dan akan diam di dalam hati para Murid (oleh sebab iman).
P. Baru: Yohanes: 14
14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
14:17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.
P. Baru: Yohanes: 14
14:25. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu;
14:26 tetapi Penghibur, yaitu ROH KUDUS (???, Red.), yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
P. Baru: Yohanes: 16
16:7. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku (YESUS, Red.) pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
YESUS telah memberikan indikasi tentang kenabiannya. Bagaimana cara kita mengenalnya ?
P. Baru: Yohanes: 16
16:8 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
16:9 akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
16:10 akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
16:11 akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
16:14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
Indikasi kenabian menurut ayat-ayat Yohanes di atas :
1. –16:8– Kalau Ia datang, Ia akan menyatakan kepada dunia arti sebenarnya dari dosa, dari apa yang benar, dan dari hukuman Allah. (Meluruskan konsep dosa)
2. –16:9– Ia akan menyatakan bahwa siapa yang tidak percaya kepada kenabian YESUS adalah dosa;
3. –16:10– Ia akan menyatakan bahwa Allah telah mengangkat YESUS kepada-Nya.
4. –16:11– Ia akan menyatakan tentang penghakiman, bahwa penguasa dunia ini (kekaisaran Romawi/kerajaan adidaya masa YESUS) akan segera ditaklukkan.
5. –16:12– Banyak lagi yang mau YESUS katakan, namun saat itu para murid YESUS dirasa YESUS belum sanggup menerimanya.
6. –16:13– Tetapi kalau Roh (kenabian) itu datang, yaitu Dia yang menyatakan kebenaran tentang Allah, kalian akan dibimbing-Nya untuk mengenal seluruh kebenaran. Ia tidak akan berbicara dari diri-Nya sendiri tetapi mengatakan apa yang sudah didengar-Nya, dan Ia akan memberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi di kemudian hari (hari kiamat).
7. –16:14–Ia akan memuliakan YESUS sebagai nabi, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya sebagaimana ajaran-ajaran YESUS (yang sebenarnya).
8. –16:15– karena ajaran yang YESUS terima berasal dari Allah (dan ajaran nabi itu juga berasal dari Allah), sebab itu YESUS berkata: “Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
P. Baru: I Yohanes: 4
4:1. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
P. Baru: Matius: 7
7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Jikalau bukan kepada Nabi Muhammad kepada siapa hendak kau yakini kenabiannya. Adakah nabi sesudah YESUS selain Muhammad yang hendak kau yakini???
P. Lama: Ulangan: 18
18:15. Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku (Musa), akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.
Musa mengabarkan kepada kita pada ayat ulangan diatas bahwa Tuhan akan membangkitkan seorang nabi seperti dia (Musa). Orang Kristen menganggap Nubuat ini ditujukan kepada YESUS. Padahal YESUS tidak seperti Musa. YESUS dianggap Tuhan oleh orang Kristen, sedangkan Musa tidak dianggap Tuhan oleh orang Kristen. Jadi YESUS tidak seperti Musa. Padahal yang dinubuatkan adalah nabi seperti Musa. Apalagi tidak akan ada lagi nabi di antara orang Israel seperti Musa sebagaiman Ulangan 34: 10:
P. Lama: Ulangan: 34
34:10 Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,
Bagaimana cara mengenal nabi seperti Musa itu?
P. Lama: Ulangan: 18
18:18. seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.
18:19. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.
18:20. Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.
18:21. Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? –
18:22. apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.”
Indikasi kenabian menurut ayat ulangan 18 di atas:
1. ia akan bangkit dari antara saudara orang Israel yaitu orang Ismael
P. Lama: Kejadian: 17
17:20 Tentang Ismael, Aku (Allah) telah mendengarkan permintaanmu (hai Abaraham/Ibrahim); ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
2. ia akan menerima firman Allah melalui lisannya (tidak menulis dan membaca) dan menyampaikan apa yang diperintahkan.
3. nabi itu mengucapkan Firman Tuhan dengan ucapan ”demi nama Allah (arab: bismillah)”
4. nabi itu berpesan terhadap apa yang diperintahkan dan tidak mengajarkan menyembah Tuhan yang lain selain Alloh (ibrani: ELOHIM)
5. jika nabi itu tidak benar (tidak sesuai perintah) maka nabi itu pasti akan mati binasa/tidak akan diberi kemenangan oleh Tuhan
6. Jika nabi itu benar, apa yang dinyatakannya ”demi nama Allah”, harus terjadi.
Kembalilah pada agama para nabi yaitu agama shalom/Damai Sejahtera (Arab: Salam/ Islam). Setiap Nabi yang berasal dari Alloh (ibrani: ELOHIM) haruslah bernubuat tentang Agama Shalom.
P. Lama: Yeremia: 28
28:9 Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN.”
Sebagaimana YESUS menyebut agama yang ditinggalkannya demikian:
P. Baru: Yohanes: 14
14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Sebutan Kristen ada hanya setelah sepeninggal YESUS:
Kisah Para Rasul 11
11:26 Setelah bertemu dengan Saulus, ia membawa Saulus ke Antiokhia dan satu tahun penuh mereka berkumpul dengan jemaat di sana sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia itulah orang-orang yang percaya kepada YESUS untuk pertama kali disebut orang-orang Kristen.
Lihatlah sangat liciknya Paulus menutupi ajaran YESUS:
P. Baru: II Korintus: 11
11:12 Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan.
11:13 Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul KRISTUS.
P. Baru: II Korintus: 11
11:4 Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan YESUS yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.
P. Baru: I Korintus: 15
15:14 Tetapi andaikata KRISTUS tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
Ajaran Pokok para nabi adalah sama yaitu Meng-Esa-kan (bahwa satu-satunya Tuhan adalah) Alloh/ ibrani: ELOHIM. Bagaimana mungkin telah berlalu sekian banyak nabi sebelum YESUS mengajarkan ke-Esa-an Tuhan, kemudian tiba-tiba menjadikan ”Tuhan itu Tiga dalam satu”.
P. Baru: Markus: 12
12:28. Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar YESUS dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa YESUS memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”
12:29 Jawab YESUS: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah “kita”, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”
12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada YESUS: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.
P. Lama: Keluaran: 3
3:15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.
Bertobatlah sebelum datang masa engkau menyeru-nyeru YESUS namun ia tidak mengenalimu sebagai pengikutnya melainkan sebagai pembuat kejahatan.
P. Baru: Matius: 7
7:21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku (YESUS): Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Maka tidaklah mungkin segala penyimpangan itu berakhir melainkan dengan dengan diutusnya Sang Penghibur. Janganlah engkau seperti Yahudi yang telah menolak kenabian YESUS, dan sekarang engkau hendak menolak kenabian Muhammad.
P. Baru: Yohanes: 16
16:8 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
16:9 akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
16:10 akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
16:11 akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
16:14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
P. Baru: I Yohanes: 4
4:1. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
P. Baru: Matius: 7
7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Jikalau bukan kepada Nabi Muhammad kepada siapa hendak kau yakini kenabiannya. Adakah nabi sesudah YESUS selain Muhammad yang hendak kau yakini???
Terjemah Qur’an Surat 61. Ash Shaff :
6. Dan (ingatlah) ketika Isa anak Maryam berkata: “Hai Orang Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar penghiburan dengan (datangnya) seorang utusan yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah tipuan yang nyata.”
March 13, 2011 at 5:26 pm
Tahukah anda bahwa Alkitab menuduh Yesus sebagai Nabi Palsu?
Bagaimana cara mendeteksi nabi palsu, buka dan perhatikan ayat ini:
“Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepada-nya.” (Ulangan 18:21-22)
Jadi semua perkataan nabi itu harus tejadi. Kalau perkataannya tidak terjadi, maka itu bukan firman Tuhan tapi hanya perkataan nabi nabi palsu. Mari kita teliti tentang nubuatan dari Yesus :
1. Kedatangan kedua Yesus dan Berakhirnya dunia.
Yesus berkata…
“And as he sat upon the mount of Olives, the disciples came unto him privately, saying, Tell us, when shall these things be? and what shall be the sign of thy coming, and of the end of the world?” (Matthew 24:3)
“Ketika Yesus duduk diatas bukit Zaitun, datanglah murid-muridnya kepadanya untuk bercakap-cakap sendirian dengan dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatanganmu dan tanda kesudahan dunia?” (Mat 24:3)
Dia menjawab dengan detail tentang tanda kedatangannya yang kedua kali, dia berkata…..
“Verily I say unto you, This generation shall not pass, till all these things be fulfilled.” (Matthew 24:34).
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semua ini terjadi”. (Mat 24:34).
Lihat juga Markus 13:30 and Lukas 21:31.
Jadi, menurut Yesus, kedatangan nya kedua kali akan terjadi sebelum kematian generasi yang sejamannya. Dia mengkomfirmasikan hal ini dengan berkata:
“Verily I say unto you, There be some standing here, which shall not taste of death, till they see the Son of man coming in his kingdom.” (Matthew 16:28).
LIhat juga Markus 9:1 and Lukas 9:27.
“Sesungguhnya diantara orang yang hadir disini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat anak manusia datang sebagai raja dalam kerajaannya.”
Tetapi nubuatan ini tidak pernah terwujud. Semua generasi yang Yesus menjanjikan nubuatan ini telah mati dan menjadi debu dan dia belum kembali sebagai raja dalam kerajaannya.
He sent his disciples to preach the Israelites in their cities and added …
“Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah kekota yang lain, karena aku berkata kepadamu ; “Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, anak manusia (yesus) sudah datang”. (Matius 10:23).
Para murid Yesus telah selesai mengunjungi kota-kota Israel dan telah sampai ke Eropa dan Asia tapi Yesus belum juga datang.
2. Dua belas murid.
Yesus berkata bahwa keduabelas muridnya akan terselamatkan dikehidupan kelak….
“Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti engkau, jadi apakah yang akan kami peroleh? Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila anak manusia bersemayam dalam takhta kemuliaannya kamu yang telah mengikuti aku, akan duduk juga diatas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” (Matius 19:27-28). Lihat juga Lukas 22:29-30.
Yudas Iscariot adalah termasuk murid yang dijanjikan dalam nubuatan ini, tapi kita tahu bahwa dia tidak dapat duduk dalam takhta dan tidak menghakimi siapapun. Jadi nubuatan ini terang-terangan telah gagal.
“In those days Peter stood up among the believers (a group numbering about a hundred and twenty) and said, ‘Brothers, the Scripture had to be fulfilled which the Holy Spirit spoke long ago through the mouth of David concerning Judas, who served as guide for those who arrested Jesus- he was one of our number and shared in this ministry. (With the reward he got for his wickedness, Judas bought a field; there he fell headlong, his body burst open and all his intestines spilled out. Everyone in Jerusalem heard about this, so they called that field in their language Akeldama, that is, Field of Blood.) For,’ said Peter, ‘it is written in the book of Psalms, “May his place be deserted; let there be no one to dwell in it,” and, “May another take his place of leadership.” Therefore it is necessary to choose one of the men who have been with us the whole time the Lord Jesus went in and out among us, beginning from John’s baptism to the time when Jesus was taken up from us. For one of these must become a witness with us of his resurrection.’ So they proposed two men: Joseph called Barsabbas (also known as Justus) and Matthias. Then they prayed, ‘Lord, you know everyone’s heart. Show us which of these two you have chosen to take over this apostolic ministry, which Judas left to go where he belongs.’ Then they cast lots, and the lot fell to Matthias; so he was added to the eleven apostles.” (Acts 1:15-26)
Diatas terlihat bahwa para murid Yesus mengetahui bahwa nubuatan Yesus tidak akan terpenuhi, karena muridnya tinggal berjumlah 11 orang. Maka dipilihlah pengganti Yudas.
3. Tiga hari tiga malam.
This is the ultimate prophecy of Jesus with whom he challenged the entire world …
Namun Yesus menjawab permintaan orang Yahudi itu dengan keras dan kasar. Ia berucap, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Matius 12:39-40. See also Matthew 16:21, 20:19, Mark 8:31, 9:31, 10:34, Luke 11:29-30 and John 2:19.
Yesus mengatakan bahwa ia akan tinggal diperut bumi Tiga hari + tiga malam = 72 jam?!
Kini timbul pertanyaan: “Kapan Almasih disalib? Seluruh dunia Masehi akan mengatakan: “Pada hari jumat!” Peristiwa inilah yang menyebabkan timbulnya pesta peringatan yang disebut “Good Friday” (hari jumat yang baik/jum’at Agung). Seluruh umat Masehi di Amerika hingga ke Zambia, di Afrika Selatan, dari Ethiopia sampai ke Zaire dan Indonesia semua mengadakan hari besar resmi pada hari “jumat” yang mendahului hari raya Paskah. Timbul pertanyaan, “Apa yang membuat “Good Friday” mempunyai tempat yang begitu terhormat di kalangan kaum Nasrani?” Seluruh umat Masehi akan serempak mengatakan: “Karena kematian Almasih di atas kayu salib pada hari ini untuk membersihkan dosa-dosa kita.” Musuh-musuh Yesus berhasil memaksa penguasa setempat untuk menyalibnya. Mereka jugalah yang ingin cepat-cepat menu-runkan Yesus dari kayu salib sebelum matahari Jumat terbenam. Ini dilakukan demi menghormati hari Sabtu yang kudus bagi mereka (orang Yahudi).
Bagi mereka hari Sabtu yang kudus dimulai sekitar pukul enam sore hari Jumat. Untuk ini bangsa Yahudi sudah diperingatkan dalam Kitab surat Ulangan 21:23. Mereka dilarang menggantung mayat orang yang disalib yang dikutuk Allah (semalam suntuk) di atas kayu salibnya. Mayat itu harus segera dikuburkan pada hari itu juga supaya bumi Allah tidak terkena najis. Begitu besar perhatian mereka pada hari Sabtu. Demi mensucikan hari Sabtu maka mayat Yesus segera diturunkan dari atas kayu salibnya.
Demikianlah yang telah dilakukan oleh murid-murid rahasia Yesus kepada Pilatus. Mereka meminta agar diperbolehkan menurunkan mayat Yesus dan menguburkannya menurut adat bangsa Yahudi. Mereka memandikannya, mengafaninya dengan kain lenen dan membubuhinya dengan rempah-rempah sesuai tradisi bangsa Yahudi (Yohanes 19:39). Setelah itu mereka memasukkan mayat yang sudah dikafani itu ke dalam tanah galian kuburan menjelang malam. Di antara berbagai golongan dan mazhab yang beraneka ragam dalam agama Masehi terdapat banyak perselisihan dan perbedaan.
Namun untuk mengatasi perselisihan itu mereka telah bersepakat untuk menduga bahwa Yesus berada dalam kubur pada Jumat malam, seperti dugaan mereka Yesus masih berada di dalam kuburnya pada pagi hari Sabtu. Mereka juga menduga Yesus masih di dalam kuburnya pada Sabtu malam. Mengenai dugaan ini umat Masehi telah bersepakat dengan sepenuh hati.
Kami sengaja mengulang-ulang kata “menduga atau dugaan” hingga tiga kali, karena terhadap kejadian ini semua Injil hanya berdiam diri terutama dalam menetapkan kepastian waktu Yesus ke luar dari kuburnya. Ada kemungkinan Yesus telah dibawa pergi oleh “murid-murid rahasianya” pada malam Jumat ke suatu tempat yang lebih aman. Tapi dalam hal ini kami tidak mempunyai hak untuk berprasangka terhadap para pengarang Injil. Oleh karena itulah saya sengaja mengulang kata “menduga dan dugaan” sampai tiga kali. Sekarang marilah kita melihat pemecahan terakhir tentang kebenaran Yesus (telah tinggal) dalam kuburnya selama tiga hari tiga malam.
(Hari Jumat): Dikubur sebelum matahari terbenam 1 malam
(Hari Sabtu): Diduga ia ada di dalam kuburnya 1 hari 1 malam
(Hari Ahad): Tidak ditemukan di kuburannya sejak matahari belum terbit kosong
Jumlah total : sehari Dua malam (atau 12×3 Jam)
Dalam kitab suci umat Nasrani sendiri dikatakan bahwa Yesus dikubur sore hari jumat menjelang matahari terbenam, dan sudah tidak diketemukan lagi mayatnya dalam kubur pada pagi hari Ahad sebelum matahari terbit (lihat uraian dalam tabel). Dengan demikian jelaslah, Yesus tinggal di dalam kuburannya bukan tiga hari tiga malam (seperti yang dikatakan para penginjil), tetapi hanya sehari dua malam! Dari pengamatan terhadap keterangan kitab suci kaum Masehi itu kita melihat untuk kedua kalinya Yesus telah gagal “membuktikan janjinya”. Pertama, ketika Yesus berbeda dengan Yunus. Yunus berada dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam dalam keadaan hidup. Tapi Yesus sebaliknya. la mati kemudian bangkit dari tengah-tengah orang mati itu.
Kedua, ketika terungkap bahwa tiga hari tiga malam yang dinyatakan dengan tegas oleh semua Injil itu setelah diselidiki ternyata hanya sehari dua malam. Maria Magdalena pergi ke kuburannya menjelang fajar menyingsing pagi hari ahad, tetapi Yesus sudah tidak ada lagi di kuburannya.
4. Ayam berkokok.
Lukas 22:33-34 dengan Markus 14:68
Didalam Bibel diceritakan bahwa ucapan Yesus tentang apa yang akan datang itu tidak terjadi (ramalannya meleset). Dia berkata bahwa AYAM TIDAK AKAN BERKOKOK SEBELUM PETRUS MENYANGKAL YESUS 3 KALI.
“Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam TIDAK AKAN berkokok, SEBELUM engkau TIGA KALI menyangkal, bahwa engkau mengenal aku.” (Lukas 22:33–34).
Kenyataannya, Petrus baru menyangkal Yesus satu kali, ayam sudah berkokok.
“Tetapi ia menyangkalnya dan berkata: “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Lalu ia pergi ke serambi muka dan BERKOKOKLAH AYAM.” (Markus 14:68).
5. Yesus selalu menyertai muridnya.
“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, AKU MENYERTAI KAMU SENANTIASA SAMPAI KEPADA AKHIR ZAMAN.” (Matius 28:20)
Yesus berjanji bahwa dia akan senantiasa menyertai muridnya sampai akhir jaman. Tapi ternyata janji Yesus tersebut tidak cocok alias meleset. Yesus tidak selalu menyertai muridnya.
Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi AKU TIDAK AKAN SELALU BERSAMA-SAMA KAMU.” (Matius 26:11)
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa, menurut Alkitab Yesus adalah nabi palsu karena perkataannya banyak yang meleset.
Dari dahulu orang-orang Yahudi senantiasa mengejar-ngejar Yesus untuk dibunuhnya. Karena mereka berkeyakinan bahwa Yesus adalah nabi palsu, dan untuk membuktikan keyakinan mereka, yahudi berusaha dengan sekuat tenaga untuk membunuh Yesus. Sebab kalau Yesus terbunuh berarti benarlah keyakinan mereka bahwa Yesus adalah nabi palsu.
“Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaku perkataan yang tidak kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama Allah yang lain, nabi itu harus mati” (ULANGAN 18 : 20).
Jadi kalau ada orang mengaku nabi, padahal dia itu bukan nabi maka dia harus mati terbunuh.
Menurut injil Yesus jelas mengaku nabi (Yoh 15:10 17:3; Mar 9:37; Mat 10:40 15:24).
Menurut injil, Yesus mati ditiang salib. (Mrk 15:34).
Dengan demikian bukankah injil menuduh bahwa Yesus adalah nabi palsu, karena beliau mati di tiang salib?
Kesimpulan:
Jadi ….
Alkitab menuduh Yesus seorang nabi palsu.
March 14, 2011 at 8:10 pm
Baca lagi yang benar dong,jangan setengah2.Nih yang benar
[24:3] Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”
[24:4] Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!
[24:5] Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
[24:6] Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.16:28] Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Apakah anda tau semua orang yang hadir pada waktu Yesus telah mati???? belum tentu.“Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaku perkataan yang tidak kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama Allah yang lain, nabi itu harus mati” (ULANGAN 18 : 20).Apa ini bisa dikaitkan dengan si mamad yang mengaku nabi???? kan si mamad mati(dead) kalau Yesus sudah jelas dibangkitkan lagi dan naik ke surga,jadi sudah jelas Yesus tidak mati,klo si mamad tuh yang ngaku NABI,DIA MATI/DEAD/DEATH/PEDOT/DIKUBUR/JADI ABU,KALAU YESUS diBANGKITKAN,NAIK KE SURGA.JELAS TOH siapa YANG MENGAKU NABi=NABI PALSU=MAAAAAAAAATTTTTTTTTTIIIIIIIII.
March 14, 2011 at 8:18 pm
@someone,makanya HATI HATI kalu ngambil ayat dalam Alkitab,SALAH SALAH BISA TERJEBAK sendiri,hampir semua ayat dalam perjanjian lama itu bernubuat tentang datangnya Yesus,bukan si mamad,Dan semua ayat dalam perjanjian baru tidak ada nubuatan tentang akan datang lagi seorang nabi,yang ada dalam perjanjian baru adalah nubuatan tentang datangnya NABI PALSU,dan turunnya ROH KEBENARAN/ROH KUDUS,dan yang terakhir nubuatan tentang menjelang AKHIR JAMAN.ITU SAJA.
March 14, 2011 at 11:48 pm
@valentine
bagaimana mengetahui yang datang kepada para rasul itu roh kudus bukannya iblis?
March 31, 2011 at 3:04 pm
Agaknya perlu dibedakan di sini antara karunia- karunia Roh Kudus, dengan karunia- karunia karisma Roh Kudus.
1. Karunia- karunia Roh Kudus
Karunia- karunia Roh Kudus, itu ada tujuh, seperti yang disebut dalam Yes 11:2-3. Ketujuh karunia ini diberikan kepada kita pada waktu Pembaptisan, di mana melaluinya kita menerima Roh Kudus, dan mengambil bagian dalam hidup di dalam Kristus, yang memampukan kita untuk hidup sebagai anak- anak angkat Allah. Karunia- karunia ini kemudian menerima pertambahannya oleh karena rahmat Allah yang diberikan melalui sakramen- sakramen selanjutnya, terutama Krisma (Penguatan) dan Ekaristi, dan juga dalam doa- doa, permenungan akan Sabda Allah, dan juga melalui persekutuan doa di dalam komunitas umat beriman, seperti dalam acara SHBDR (Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus).
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang karunia- karunia Roh Kudus, sebagai berikut:
KGK 1830 Kehidupan moral orang-orang Kristen ditopang oleh karunia-karunia Roh Kudus. Karunia ini merupakan sikap yang tetap, yang mencondongkan manusia, supaya mengikuti dorongan Roh Kudus.
KGK 1831 Ketujuh karunia Roh Kudus adalah: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, kesalehan, dan rasa takut akan Allah. Dalam seluruh kepenuhannya mereka adalah milik Kristus, Putera Daud (Bdk. Yes 1-2). Mereka melengkapkan dan menyempurnakan kebajikan dari mereka yang menerimanya. Mereka membuat umat beriman siap mematuhi ilham ilahi dengan sukarela.
“Kiranya Roh-Mu yang baik menuntun aku di tanah yang rata” (Mzm 143:10).
“Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah … Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris; kita adalah ahli waris Allah dan rekan ahli waris Kristus” (Rm 8:14.17).
Jadi Katekismus mengajarkan bahwa karunia- karunia Roh Kudus membantu kita untuk menaati dorongan ilahi dalam diri kita, agar kita dapat hidup sebagai anak- anak Allah.
2. Manfaat karunia- karunia Roh Kudus: untuk menjadikan kita bahagia
Maka benar, bahwa jika Allah memberi karunia, pasti ada manfaatnya. Karunia- karunia Roh Kudus dimaksudkan Allah untuk menguduskan kita supaya kita dapat mencapai kebahagiaan yang sejati, yaitu kebahagiaan menurut Tuhan, dan bukan menurut manusia.
St. Agustinus dalam penjelasannya tentang khotbah di bukit (Delapan Sabda Bahagia) menghubungkan antara ketujuh karunia Roh Kudus (Yes 11:2-3) dengan ketujuh Sabda Bahagia tersebut (Mat 5:3-9), hanya urutannya terbalik. Nabi Yesaya menyebutkan karunia itu dengan urutan mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling sederhana, sedangkan Tuhan Yesus memberikan Sabda Bahagia mulai dari urutan yang paling sederhana sampai kepada yang paling tinggi. Dari tiap- tiap pasangannya, karunia Roh Kudus merupakan cara untuk mencapai Sabda Bahagia tersebut.
Demikian sekilas kutipan dari pengajaran St. Agustinus:
“Oleh karena itu, kelihatannya bagiku bahwa ketujuh karunia Roh Kudus yang disebutkan oleh Nabi Yesaya bertepatan dengan urutan- urutan ini. Namun demikian, urutannya berbeda. Di Kitab Yesaya, urutan bermula dari yang tertinggi, sedangkan dalam Sabda Bahagia, urutan dimulai dari yang ter-rendah. Dari Yesaya, dimulai dari karunia hikmat kebijaksanaan dan berakhir dengan karunia takut akan Tuhan. Tetapi ‘takut akan Allah adalah permulaan hikmat’. Maka, jika kita menanjak selangkah demi selangkah…., tingkatan pertama adalah takut akan Tuhan, kedua adalah kesalehan, ketiga adalah pengetahuan, keempat adalah keperkasaan, kelima adalah nasihat, keenam adalah pengertian dan ketujuh adalah kebijaksanaan. Takut akan Tuhan berkaitan dengan orang- orang yang rendah hati, yang kepadanya dikatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.” Ini maksudnya: Berbahagialah mereka yang tidak meninggikan diri, tidak sombong… jangan memuliakan diri sendiri. Kesalehan berkaitan dengan mereka yang lemah lembut, sebab jika seseorang dengan saleh menelaah Kitab Suci, dan tidak menyalahkan sesuatu hal yang belum ia pahami, ia menghormati Kitab Suci dan tidak melawannya. Ini adalah kelemahlembutan…. Pengetahuan berkaitan dengan mereka yang berduka cita. Orang-orang yang berduka adalah mereka yang setelah mempelajari Kitab Suci, menjadi paham akan betapa mereka telah dihindarkan dari kejahatan- kejahatan, yaitu segala kejahatan yang dulunya mereka pandang sebagai sesuatu yang baik dan berguna…. Keperkasaan berkaitan dengan mereka yang lapar dan haus, sebab mereka bekerja sambil menginginkan kegembiraan di dalam hal- hal yang sungguh- sungguh baik, dan mereka rindu untuk mengalihkan cinta mereka dari hal- hal yang sifatnya duniawi dan sementara…. Nasihat berkaitan dengan mereka yang berbelas kasihan, sebab satu- satunya obat untuk melepaskan diri dari kejahatan yang besar adalah untuk mengampuni seperti kita sendiri ingin diampuni dan untuk membantu orang lain ketika kita mampu, sama seperti kita ingin dibantu pada saat kekuatan kita sendiri tidak cukup …. Pengertian berkaitan dengan hati yang murni; ini berhubungan dengan mereka yang mempunyai mata yang bersih,….yang olehnya dapat dilihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, apa yang tidak dapat didengar oleh telinga, dan apa yang tak pernah terpikirkan dalam hati manusia (lih. 1 Kor 2:9)…. Kebijaksanaan berkaitan dengan para pembawa damai, sebab dengan pembawa damai segala sesuatu diletakkan dalam tempatnya yang layak, dan tak ada keinginan/ hasrat yang membangkang terhadap akal budi tetapi segalanya tunduk kepada roh manusia, sebab roh taat kepada Tuhan.”[1]
Kaitan antara karunia Roh Kudus dengan Sabda Bahagia ini menunjukkan kepada kita bahwa maksud karunia Roh Kudus ini diberikan adalah supaya kita yang menerimanya mencapai kebahagiaan sejati.
3. Karunia- karunia karisma Roh Kudus.
Selain karunia- karunia Roh Kudus yang pertama- tama ditujukan untuk menguduskan diri orang yang menerimanya, ada juga yang disebut sebagai karunia- karunia karisma Roh Kudus, yang bertujuan untuk menguduskan jemaat/ Gereja (lih. 1 Kor 14:12). Karunia- karunia karisma ini dijelaskan oleh Rasul Paulus secara khusus di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus yaitu 1 Kor 12 dan 1 Kor 14. Di 1 Kor 12:8-10 dikatakan bahwa karunia- karunia karisma itu adalah: berkata- kata dengan hikmat, berkata- kata dengan pengetahuan, iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk mengadakan mujizat, karunia nubuat, membeda- bedakan roh, berkata- kata dengan bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh. Di 1 Kor 12:28, mungkin lebih jelas menurut urutannya, yaitu, yang tertinggi/ pertama adalah karunia sebagai rasul, sebagai nabi, sebagai pengajar, karunia melakukan mujizat, menyembuhkan, melayani, memimpin, dan untuk berkata- kata dalam bahasa roh. [Itulah sebabnya Gereja Katolik mengajarkan bahwa penilaian akan otentisitas suatu karunia karisma dan pengaturan-nya harus tunduk kepada karisma apostolik/ rasuli yang diberikan kepada Magisterium Gereja, agar karunia tersebut dapat diberdayakan di dalam kesatuan seluruh Gereja- (lihat Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium 12)]. Di 1 Kor 14 kembali Rasul Paulus menyebutkan adanya karunia berkata- kata dalam bahasa roh, namun ia mengajarkan bahwa yang lebih penting adalah karunia untuk menafsirkannya (lih. 1 Kor 14:5,13) dan karunia nubuat untuk membangun, menasihati dan menghibur jemaat (lih. 1 Kor 14:3).
Menarik di sini untuk disimak bahwa antara 1 Kor 12 dan 1 Kor 14 adalah 1 Kor 13 yang mengajarkan tentang Kasih. Jangan dilupakan bahwa Roh Kudus itu adalah Roh Kasih Allah Bapa dan Allah Putera. Sebab hubungan kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera menghembuskan Roh Kudus. Kasih adalah hakekat Allah, Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8), dan Roh Kudus adalah Roh Kasih itu. Maka, Nampaknya bukan kebetulan bahwa Rasul Paulus meletakkan perikop tentang Kasih di antara perikop yang mengajarkan tentang karunia- karunia karisma Roh Kudus ini. Rasul Paulus mau mengajarkan kepada kita bahwa di atas semua karunia itu, yang ter-utama dan terpenting adalah Kasih. Rasul Paulus jelas menyatakan bahwa Kasih adalah yang terutama, dalam 1 Kor 12:31, 1 Kor 13:13, dan 1 Kor 14:1. Kasih inilah yang mengingatkan bahwa jika kita diberi karunia- karunia Roh Kudus, jangan sampai kita menjadi tinggi hati dan sombong, atau menganggap diri lebih hebat dari yang lain. Sebab, “Kasih itu sabar, murah hati…. tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Kor 13:4). Kasih yang rendah hati ini membuat seseorang yang menerima karunia Roh Kudus semakin menginginkan persatuan dan kesatuan di dalam Gereja, dan tunduk kepada pengarahan dari Magisterium Gereja yang dipercaya oleh Kristus untuk mengatur penggunaan karisma untuk membangun Tubuh Kristus.
Konsili Vatikan II mengajarkan tentang karunia- karunia karisma Roh Kudus, demikian:
“Selain itu, tidak hanya melalui sakramen- sakramen dan pelayanan Gereja saja, bahwa Roh Kudus menyucikan dan membimbing Umat Allah dan menghiasinya dengan kebajikan- kebajikan, melainkan, Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat istimewa, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, sebab karunia- karunia tersebut sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaanya secara layak/teratur, termasuk dalam wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).” (Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium 12)
4. Karunia discernment/ membeda- bedakan roh
Sejauh yang saya ketahui, karunia membeda- bedakan roh (discernment) adalah penting, sebab dengan kemampuan kita membedakannya maka kita akan dapat mengetahui apakah suatu dorongan yang ada di dalam hati kita itu berasal dari Roh Kudus, dari si jahat atau dari diri kita sendiri. Dorongan yang berasal dari Roh Kudus selalu menghasilkan damai sejahtera, walaupun dapat saja terlihat sulit pada awalnya. Sedangkan dorongan yang berasal dari si jahat umumnya terlihat enak dan mudah pada awalnya, namun akhirnya tidak mendatangkan damai sejahtera.
Memang bagi seseorang yang sudah hidup diperbaharui di dalam Kristus, maka tidaklah terlalu sulit untuk membedakan hal yang baik dari yang buruk, sehingga tidaklah terlalu sulit untuk memilih satu di antara keduanya. Yang kemungkinan lebih sulit adalah untuk memilih satu keputusan dari antara dua atau lebih pilihan yang kelihatannya sama- sama baik. Untuk hal ini memang diperlukan karunia discernment untuk menentukan pilihan tersebut. Mungkin dalam hal ini, kita perlu belajar dari St. Ignatius dari Loyola, yang mengajarkan di dalam membuat keputusan, maka kita perlu memilih sesuatu yang mendatangkan kemuliaan lebih besar kepada Allah (for the greater glory of God/ ad maiorem Dei gloriam).
5. Bolehkah meminta karunia- karunia Roh Kudus?
Kitab Suci mencatat bahwa Tuhan Yesus mengajarkan agar kita meminta Roh Kudus kepada Allah Bapa, “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; …. Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:9-13). Maka tak salah jika kita memohon Roh Kudus dan memenuhi jiwa kita dengan rahmat dan karunia-Nya. Gereja memohon Roh Kudus juga dalam doa- doanya. Tentu kita ingat salah satu kidung pujian di Puji Syukur 565 yang dimulai dengan, “Datanglah, ya Roh Pencipta, hati kami kunjungilah, penuhi dengan rahmat-Mu, jiwa kami ciptaan-Mu.”
Dengan demikian, jika kita meminta Roh Kudus, dan ketujuh karunia-Nya itu adalah sesuatu yang baik, dan itu sesuai dengan kehendak-Nya; sebab sudah menjadi kehendak Tuhan agar kita dapat hidup kudus seperti Ia sendiri adalah kudus (Im 19:2; 1 Pet 1:16). Nah, karena kekudusan itu bertolak belakang dengan dosa, maka akibat yang paling langsung dari seseorang yang terkena jamahan Roh Kudus adalah ia semakin menyadari akan segala dosanya. Ini memang cocok dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Yohanes, “Dan kalau Ia [Roh Kudus] datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman…” (Yoh 16:8). Maka selain membawa ketujuh karunia-Nya, jika Roh Kudus datang, Ia mengakibatkan pertobatan. Dengan demikian pertobatan dan ketujuh karunia Roh Kudus itu memang dapat, atau bahkan harus kita minta kepada Tuhan.
Namun demikian, dalam hal karunia karisma Roh Kudus, agaknya kita harus menyerahkannya ke dalam tangan Allah Bapa, sebab maksud utama pemberian karunia karisma tersebut adalah untuk membangun jemaat. Tuhanlah yang paling mengetahui apa kebutuhan jemaat-Nya dan bagian apa yang dapat kita lakukan untuk dapat turut membangun jemaat-Nya. Tuhan Yesus adalah Kepala Tubuh (Kol 1:18) dan yang menciptakan Tubuh itu; Ia yang paling memahami apakah yang dibutuhkan oleh anggota- anggota-Nya. Jika dipandangNya baik maka akan diberikannya kepada kita karunia- karunia karisma itu sesuai dengan kemampuan kita.
March 31, 2011 at 3:10 pm
Maksudnya adalah:
1. Tiap- tiap kita mempunyai karunia yang berlain- lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita (Rom 12:6). Namun demikian, meskipun ada rupa- rupa karunia, tetapi kita satu Roh (1 Kor 12:4)
2. Karunia yang kita terima harus dikembangkan dengan kasih. Prinsip dasar kasih adalah ‘membagi’/ memberi dengan murah hati, karena kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri (1 Kor 13:4-5). Dengan membagi maka kita juga akan menerima, dan dengan demikian semakin mengembangkan talenta/ karunia yang Tuhan percayakan kepada kita. Prinsip inilah yang kembali ditekankan oleh Rasul Paulus pada saat mengajarkan konsep kesatuan umat beriman sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus (lih. 1 Kor 12).
3. Karunia- karunia dari Allah harus digunakan untuk membangun jemaat/ Gereja (lih. 1 Kor 14:12). Karunia yang dimaksud oleh Rasul Paulus di sini antara lain adalah: karunia sebagai rasul, nabi, pengajar, mengadakan mukjizat, menyembuhkan, melayani, memimpin, berkata- kata dalam bahasa Roh dan menafsirkannya (1 Kor 12:28-30) ataupun bernubuat (1 Kor 14:1).
4. Karunia- karunia dari Allah itu harus digunakan dan dikembangkan di dalam kerendahan hati, sebab kasih itu tidak memegahkan diri dan sombong (1 Kor 13:4), tidak mencari keuntungan diri sendiri…. sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor 13:4-7).
5. Karunia- karunia Allah harus dimanifestasikan dalam kesopanan dan keteraturan (1 Kor 14:40), sebab Allah menghendaki damai sejahtera (1 kor 14:38).
Dengan demikian, untuk menilai apakah suatu karunia itu dapat digunakan oleh Iblis untuk menyesatkan umat, kita melihat sejauh mana terjadi penyimpangan dari prinsip kasih, seperti telah disebutkan di atas. Pemeriksaan secara sederhana, dapat dilihat misalnya demikian:
1. Apakah buah yang dihasilkan adalah kesatuan (satu Roh) ataukah perpecahan?
2. Jika karunia itu dalam rupa penglihatan atau pengetahuan, apakah yang disampaikan sesuai dengan ajaran Gereja Katolik?
3. Apakah ada prinsip kasih dan kemurahan hati, atau sebaliknya, mencari keuntungan diri sendiri?
4. Apakah karunia tersebut digunakan untuk membangun jemaat secara keseluruhan, atau untuk menonjolkan diri sendiri?
5. Apakah karunia tersebut digunakan untuk memuliakan Tuhan atau memuliakan nama sendiri? Apakah orang yang bersangkutan cukup sabar dan rendah hati?
6. Apakah manifestasi karunia tersebut dapat dikendalikan dalam kesopanan dan keteraturan, dan memberi damai sejahtera? Apakah yang menerima karunia mau tunduk di bawah arahan pemimpin Gereja?
Point-point di atas hanyalah sesuatu yang dapat kita pegang dalam proses discerment, untuk menilai apakah karunia yang kita terima sungguh berasal dari Tuhan, dan kemudian bagaimana kita menyikapi talenta/ karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Memang prinsip dasarnya adalah seperti yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita, “Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” (Mat 12:33, Luk 6:44). Maka jika karunia tersebut dari Tuhan maka akan menghasilkan buah- buah yang baik, yang kita kenal sebagai buah Roh Kudus, yaitu, “kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan pengendalian diri” (Gal 6:22).
Maka jika yang dihasilkan bukan buah Roh Kudus, melainkan ‘perbuatan daging’ (lih. Gal 6:19-21), maka kita mengetahui bahwa ada peran diri sendiri ataupun pengaruh Iblis di sini untuk mengacaukan dan memecah belah. Perpecahan sendiri merupakan tanda yang tidak baik, sebab Rasul Paulus mengatakan bahwa Allah telah menyusun kita sebagai anggota Tubuh Kristus sedemikian, “supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” (1 Kor 12:25-26). Yesus juga berdoa bagi kesatuan kita yang percaya kepada-Nya (lih Yoh 17:21); sehingga karunia- karunia yang Tuhan berikan kepada kita maksudnya adalah untuk mempersatukan kita dalam kesatuan Tubuh-Nya- dan bukannya mencerai- beraikan.
Dalam hal ini Tuhan Yesus berkata, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Mat 12:30, Luk 11:23).
Mari kita menggunakan talenta/ karunia yang Tuhan berikan kepada kita untuk membangun Gereja-Nya di dalam kasih, dan dengan demikian kita mengumpulkan bersama Yesus.
March 15, 2011 at 12:51 am
@someone,nih jawaban lu.Yesus mengatakan bahwa Dia akan bangkit pada hari ke-tiga, seperti yang dikatakan-Nya dalam beberapa ayat berikut ini:
a) Mt 12:39-40 – “39 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. 40 Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Bdk Lk 11:30; Mt 26:61; Mt 27:63).
b) Mk 8:31 – “31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.“
c) Jn 2:19 – “19 Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Bdk Mt 26:61; Mt 27:40; Mk 14:58; Mk 15:29).
2) Yesus wafat di kayu salib pada hari Jum’at sebelum dimulainya hari Sabat, karena Sabat dimulai pada hari Jumat saat matahari terbenam dan selesai pada hari Sabtu malam. Dikatakan di Yoh 19:31-33 “31 Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib–sebab Sabat itu adalah hari yang besar–maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. 32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; 33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,“. (Bdk Mk 15:37-47; Lk 23:53-56)
Diceritakan bahwa Yesus meninggal pada jam 3 “33 Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. 34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mk 15:33-34).
3) Yesus bangkit pada hari Minggu. Diceritakan bahwa ketika para wanita mengunjungi kubur Yesus, setelah lewat hari Sabat (lewat hari Sabtu), pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu (hari Minggu setelah hari Sabtu), Yesus telah bangkit.
Mk 16:1-4 – “1 Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. 2 Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. 3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” 4 Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.” (Bdk Mt 28:1-4; Lk 24:1; Jn 20:1).
4) Kalau Yesus wafat pada hari Jumat dan bangkit pada hari Minggu, bagaimana untuk menafsirkan Mt 12:40 yang mengatakan bahwa Anak Manusia akan tinggal di rahim bumi tiga hari tiga malam?
a) Perhitungan waktu dari Bangsa Yahudi dapat ditemukan di “Jewish Talmud” dan “The Babylonian Jerusalem Talmud (the commentaries of the Jews)“, memberikan indikasi bahwa bagian dari hari diperhitungkan sebagai satu hari penuh. Oleh karena itu, kalau Yesus meninggal pada hari Jum’at sebelum hari Sabat, maka dihitung 1 hari. Hari Sabat (dari Jumat sore-Sabtu sore) dihitung 1 hari. Dan hari Sabtu Sore sampai pagi-pagi benar ketika para wanita menemukan Yesus telah bangkit, dihitung 1 hari. Oleh karena itu, Yesus bangkit pada hari ke-tiga.
b) Ini juga dimengerti oleh kaum Farisi, dimana mereka mengatakan kepada Pilatus “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. 64 Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.“
c) Lk 24:21-24 mengatakan “21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.“
Dan perkataan telah lewat tiga hari mengacu kepada hari Minggu ketika para perempuan menemukan bahwa kubur Yesus telah kosong. Ini berarti, mereka mengerti bahwa hari Minggu pagi dikatakan sebagai “lewat tiga hari“, walaupun hari ketiga belum berakhir.
d) Idiom tiga hari tiga malam juga ditemukan pada kitab Est 4:16-17 – 5:1 “16 Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” 17 Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya. 1 Pada hari yang ketiga Ester mengenakan pakaian ratu, lalu berdirilah ia di pelataran dalam istana raja, tepat di depan istana raja. Raja bersemayam di atas takhta kerajaan di dalam istana, berhadapan dengan pintu istana itu.”
Ester tidak pergi setelah tiga hari tiga malam selesai, namun pada hari yang ketiga dia pergi menghadap raja.
March 13, 2011 at 5:26 pm
@ Valentine
Nabi Muhammad itu nabi palsu atau nabi benar?Kan udah dijawab oleh Markus 13.Dialah “anak manusia” yang datang diantara awan.
Berkenaan kata anda Yesus adalah nabi yang terakhir itu tidak benar karena Injil sendiri menyebut bahawa masih ada lagi nabi-nabi yang datang selepas Yesus.sesudah Yesus sebetulnya masih ada nabi-nabi lagi, hal ini terungkap dalam Alkitab. Antara lain :
Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 11 tersebut: (27) Pada masa itu datanglah beberapa orang nabi dari Jeruzalem turun ke Antiochia. (28) Maka bangkitlah seorang dari antara mereka itu bernama Agabus, lalu menyatakan dengan ilham Roh, bahwa suatu bala kelaparan yang besar akan jadi di seluruh dunia ini. Maka berlakulah yang demikian itu pada zaman Kalaudius.
Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 21 tersebut: (10) Sementara kami tinggal beberapa hari lamanya disitu, maka turunlah dari tanah Judea seorang nabi, namanya Agabus. (11) lalu datang kepada kami, mengambil ikat pinggang Paulus, mengikat kaki tangannya sendiri serta berkata: “Inilah sabda Rohul kudus, bahwa orang yang empunya ikat pinggang ini, sedemikian inilah akan diikat di Jerusalem oleh orang Yahudi dan diserahkan ke tangan orang kafir.
Ayat-ayat ini menyatakan bahwa pada zaman rasul-rasul Yesus beberapa orang nabi telah datang dari Jerusalem ke Antiochia, seorang diantaranya bernama Agabus.
Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 13 tersebut: (1) Adalah di Antiochia di dalam sidah jumat beberapa nabi dan guru, yaitu Barnabas dan Simon yang bergelar Nigar, dan Lukas orang Kireni, dan Manahen saudara susuan Herodes, raja seperempat negeri, dan Saul.
Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 15 tersebut: (32) Maka Yudas dan Silas, yang sendirinyapun nabi juga, menyegarkan hati segala saudara itu sambil meneguhkan mereka itu dengan beberapa banyak perkataan.
Dalam ayat ini disebutkan lagi bahwa pada zaman murid-murid Yesus ada lagi seorang Nabi yang bernama Silas. Dengan demikian ternyata bahwa menurut Alkitab masih ada Nabi yang datang sesudah Yesus. Jadi Yesus bukanlah Nabi terakhir.
Menurut Yesus masih akan datang lagi Nabi yang benar kemudiannya, karena itu ia menunjukkan tanda-tandanya. Ada nabi yang benar dan ada nabi yang palsu. Oleh karena itu beliau menunjukkan tanda-tanda pengenalannya. Dalam Injil Matius pasal 7 tersebut :
(15) Jagalah dirimu dari pada segala nabi palsu, yang datang kepadamu mereka seperti serigala buas.
(16) Dari pada buah-buahnya kamu akan mengenal dia. Pernahkah orang memetik buah anggur dari pada pohon duri, atau buah ara dari pada pohon unak ?
(17) Demikian juga tiap-tiap pohon kayu yang baik, berbuahkan buah yang baik; tetapi pohon kayu yang jahat, berbuahkan buah yang jahat.
(18) Tiada dapat pohon kayu yang baik berbuahkan buah yang jahat, atau pohon yg jahat itu berbuahkan buah yang baik.
(19) Tiap-tiap pohon kayu, yang tiada memberi buah yang baik, akan dipotong dan dibuangkan ke dalam api.
(20) Sebab itu dari pada buahnya kamu akan mengenal dia.
Seterusnya dalam 1 Yahya pasal 4 tersebut demikian :
(1) Hari segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu kalau-kalau dari pada Allah datangnya; karena banyak nabi palsu sudah keluar ke seluruh dunia.
(2) Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenal Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu dari pada Allah.
(3) dan tiap-tiap roh, yang tiada mengaku Yesus itu, bukanlah dari pada Allah, melainkan inilah roh di Dajjal, yang telah kamu dengar yang akan datang, dan sekarang ini sudah ada di dalam dunia.
Dengan ayat-ayat yang tersebut diatas ini Yesus menyuruh menjaga diri dari pada nabi-nabi palsu yang akan datang. Yesus menyuruh mengenalnya dari pada buahnya, baik itu jahat. Seterusnya Yesus menyuruh pula menguji tiap-tiap roh yang datang , apakah dari pada Allah atau dari pada Dajjal. Keterangan Yesus ini memberi pengertian bahwa Nabi yang benar akan datang lagi sesudah Yesus, karena ia masih menyuruh memeriksa dan mengujinya dengan mengemukakan tanda-tanda Nabi dan roh yang benar itu. Seandainya tiap-tiap Nabi yang akan datang palsu, tentulah Yesus tidak mengatakan demikian, tetapi ia akan memperingatkan supaya jangan memperca yai tiap-tiap Nabi yang akan datang, karena Nabi yang benar tidak akan datang lagi. Menurut Yesus, Nabi yang benar itu akan dapat diketahui dari pada buahnya yang baik dan dari pada ajarannya yang mengakui bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia. Tanda itu kedua-duanya telah sesuai kepada Nabi Muhammad SAW yg datang setelah Yesus. Nabi Muhammad SAW dengan ajaran-ajarannya yang lengkap dan sempurna telah mengeluarkan buah yang baik.
Dalam masa 23 tahun ia telah mengubah keadaan masyarakat yang buruk menjadi masyarakat yang sebaik-baiknya. Seterusnya buah ajarannya yang baik itu telah mendatangkan kebahagiaan bagi manusia berabad-abad lamanya. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW telah mengakui bahwa Yesus Kristus benar-benar telah datang dalam keadaan manusia dan ia menolak dengan tegas Yesus telah datang dalam keadaan Tuhan atau anak Tuhan.
March 14, 2011 at 8:24 pm
@ilham,sekali lagi saya tidak bilang Yesus adalah seorang nabi,bagi saya Yesus adalah Tuhan sendiri,dan tidak perlu lagi seorang nabi yang akan datang setelah Yesus,mengenai Yesus adalah seorang nabi,itu hanya dalam islam,yang menyebut Yesus sbg nabi.Dan jelas Yesus tidak pernah mengakui Dia seorang nabi.Jadi NABI PALSU yang dimaksud Yesus itu siapa??? belum terjawab?????Nabi Paulus????Nabi Petrus???atau Nabi Paus Benediktus XVI??? sudah pasti lah NABI MUHAMMAD,siapa lagi????
March 14, 2011 at 8:38 pm
Apa Nabi Yudas,Silas dan Agabus punya mukjizat juga,seperti ciri ciri yang dinubuatkan Yesus??? di Markus 13:22
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.Tidak kan??Jadi sekali lagi ilham anda terjebak sendiri.NABI PALSU=manusia yang mengaku NABI dan punya MUKJIZAT=NABI muhammad dan MUKJIZATNYA alquran,jadi sudah jelas NABI PALSU itu SI MAMAD.
March 14, 2011 at 11:56 pm
@valentine
sekarang umat kristen itu mengikuti ajaran yesus/paulus?
baca ulangan 18:20, ciri nabi palsu adalah ia akan mati terbunuh, nah apa muhammad mati dibunuh seseorang? (racun dari khaibar itu udah basi silahkan jika mau pake lagi biar sekalian saya jawab)
March 15, 2011 at 12:49 am
udah jelas lah Kristen mengikuti ajaran Yesus,bukan Paulus,apa Yesus menganjurkan sunat???? Yesus memang disunat karena Dia berasal dari keluarga Yahudi,tentu saja umat Kristen yang masih keturunan Yahudi,disunat.Udah jelas juga si mamad itu MATI,gwa ga mau tau dia mati dibunuh kek,diracuni kek,disodomi kek,pokoknya dia MATI,sedangkan Yesus TIDAK MATI karena Dia BANGKIT,dan NAIK KE SURGA.
March 13, 2011 at 5:29 pm
Tahukah anda, yang dimaksud Nabi Palus oleh YESUS adalah PAULUS.
Di dalam kitab Matius (7: 15-20) Yesus berpesan tentang kehadiran Nabi palsu , siapakah Nabi palsu yg dimaksud oleh Yesus ?? kita akan bahas di sini .
MATIUS
7:15. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
Di ayat ini , Yesus mengingatkan agar waspada terhadap Nabi palsu yg menyamar seperti domba. Di dalam Alkitab , umat atau pengikut Yesus sering diibaratkan sebagai domba. jadi maksud ayat di atas jelas , bahwa NABI PALSU TERSEBUT MENYAMAR SEBAGAI PENGIKUT YESUS (DOMBA) , SEHINGGA ORANG2 AKAN MENGENAL DIA SEBAGAI PENGIKUT YESUS.
MATIUS
7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.*
7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.*
7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka
Di ayat (7 : 16 – 20) Yesus menjelaskan lagi bahwa dari buah (ajaran) yg dibawa kita akan bisa mengetahui dia Nabi palsu atau bukan. Nabi yg benar dari Allah , pasti akan membawa ajaran yg baik , sebaliknya Nabi yg palsu pasti akan mengajarkan ajaran yg buruk.
Namun kita harus sadar , bahwa baik dan buruk , penentunya adalah Allah. Dan bukan menurut nafsu kita , karena boleh jadi sesuatu yg buruk ketika dikemas dengan bagus , bisa nampak sebagai sesuatu yg baik. Mari kita cari definisi baik menurut Allah.
Kita semua tentu sepakat , bahwa ajaran yg dibawa oleh para Nabi pendahulu seperti :
- Larangan atau pengharaman Babi dan minuman keras
- Larangan berzina
- Perintah sunat bagi laki2
- Perintah melaksanakan Hukum Taurat
dan lain2 ajaran kitab nabi. adalah merupakan ajaran yg datang dari Allah.
DAN SUDAH PASTI AJARAN DARI ALLAH ADALAH AJARAN YANG BAIK. SEDANGKAN AJARAN YG BERTOLAK BELAKANG DENGAN AJARAN DI ATAS SUDAH PASTI AJARAN YG BURUK. BUKANKAH LAWAN DARI BAIK ADALAH BURUK ?? .
RUMUSNYA SEDERHANA SAJA . JIKA AJARAN PENDAHULU YG DIBAWA NABI2 ADALAH BAIK , MAKA AJARAN YG BERTOLAK BELAKANG DENGAN AJARAN TSB PASTI BURUK . SECARA RINCI MAKA BISA DISIMPULKAN SEBAGAI BERIKUT :
- PENGHARAMAN BABI DAN MINUMAN KERAS DARI ALLAH ADALAH AJARAN YG BAIK
- PENGHALALAN BABI DAN MINUMAN KERAS PASTI AJARAN YG BURUK
- PERINTAH SUNAT BAGI LAKI2 ADALAH BAIK , KARENA DATANG DARI ALLAH
- LARANGAN SUNAT , PASTI AJARAN YG BURUK.
- PERINTAH MELAKUKAN HUKUM TAURAT ADALAH AJARAN DARI ALLAH TENTUNYA BAIK
- LARANGAN MELAKUKAN HUKUM TAURAT ADALAH AJARAN BURUK.
NAH …., AJARAN YG BURUK (TIDAK BAIK) TIDAK MUNGKIN DATANG DARI ALLAH.
KITA SEMUA TAHU PAULUSLAH YG MELARANG SUNAT , MENGHALALKAN BABI DAN MINUMAN KERAS, MELARANG PELAKSANAAN HUKUM TAURAT , JIKA KITA INGAT RUMUS AJARAN BAIK DAN BURUK DI ATAS , MAKA JELAS BAHWA AJARAN YG DIBAWA PAULUS BUKAN DARI YESUS ATAUPUN ALLAH.
DAN BUKANKAH PAULUS JUGA DIKENAL ORANG SEBAGAI UMAT PENGIKUT YESUS ??
MAKA TIDAK SALAH LAGI PAULUSLAH NABI PALSU YG DIMAKSUDKAN YESUS . NAMUN SAYANG ….BANYAK MANUSIA TIDAK MENYADARI INI , DAN TERTIPU OLEH TIPU DAYANYA YG MEMBUNGKUS AJARAN YG BURUK DENGAN SEDEMIKIAN RUPA , SEHINGGA NAMPAK INDAH DAN BAIK.
DAN SUNGGUH SAYANG….. MANUSIA TELAH TELEDOR DAN TIDAK WASPADA , SEBAGAIMANA PESAN YESUS :
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.”
March 13, 2011 at 6:28 pm
Buat orang muslim,janganlah pakai standar ganda dalam membenarkan ajaran kalian,intinya kalian PERCAYA ATAU TIDAK PADA ALKITAB? kalau PERCAYA YA BERARTI KALIAN MENGAKUI BAHWA YESUS MATI DI KAYU SALIB,KALAU KALIAN TIDAK PERCAYA,YA JANGAN DIPAKAI SAMA SEKALI,SUDAH JELAS YANG MENGAKU NABI ITU muhammad yang notabene serigala berbulu domba,karena dia mengakui Yesus juga kan,coba di dalam alquran sudah jelas ada Yesus,sedangkan di Alkitab tidak ada kata muhammad.DAN JUGA PERLU UMAT muslim TAU,BAHWA ALKITAB MEMANG MERUPAKAN PRODUK DARI GEREJA KATOLIK<KARENA GEREJA INILAH YANG MENYUSUN ,MENENTUKAN KITAB KITAB MANA YANG AKAN DITERJEMAHKAN DAN DIBUAT DALAM SATU BUKU,JADI HANYA GEREJA KATOLIK LAH YANG BERHAK MENGINTERPRESTASIKAN ATAU MENAFSIRKAN AYAT AYAT DALAM ALKITAB,KARENA ALKITAB LAHIR OLEH KARENA GEREJA,DAN GEREJA TELAH LEBIH DULU ADA SEBELUM ALKITAB
March 13, 2011 at 6:34 pm
Gereja Katolik=Anak Domba Allah.gereja gereja lain=anak domba yang hilang.islam=serigala berbulu domba.nabi palsu=nabi muhammad,karena dalam Kristen tidaka ada Nabi Yesus atau Nabi Paulus,yang ada adalah Tuhan Yesus dan rasul Paulus atau santo Paulus.Kalau dalam islam sudah jelas Nabi muhammad yang mengaku nabi ,dan sering ber ulang2 disebutkan dalam Aku bersaksi bahwa nabi muhammad itu utusan allah.NABI PALSU = NABI MUHAMMAD,tidak ada NABI YESUS atau NABI PAULUS.
March 13, 2011 at 6:44 pm
Nama Nabu Muhammad dalam bible disebut Machmadim.Carilah dalam Mazmur.Dalam injil disebut priklitus yang berarti “terpuji” sama seperti nama nabi Muhammad karena Muhammad dalam bahsa Arab berarti terpuji.
March 13, 2011 at 7:13 pm
klo cuma nama,jangan disama samain,di kitab Mazmur memang berisi tentang nubuatan,dan kalaupun ada nama muhammad,MANA BUKTINYA,MASA GWA DISURUH NYARI NAMA si mamad<LU AJA YANG CARI SENDIRI NAMA NABI LU.DAN SUDAH JELAS YESUS DATANG TIDAK MENGAKU SEBAGAI NABI<PAULUS JUGA TIDAK MENGAKU DIRINYA NABI.TAPI si mamad jelas dia mengaku NABI.NABI PALSU……………
March 14, 2011 at 4:58 am
Anda harus belajar memahami keimanan terhadap kitab ALLAH menurut ISLAM. Karena keimanan tersebut tidak seperti keimanan menurut hawa nafsumu.
Apa-apa dalam alKitab yang tidak berkesesuaian dengan alQuran, maka itu adalah bathil, bukan sesuatu yang harus diimani. Jelas, dalam alQuran disebutkan bahwa Nabi Isa tidak mati di atas tiang salib. Oleh karenanya, keterangan apapun dalam alKitab yang menyatakan bahwa Nabi Isa mati di atas tiang salib, itu adalah cerita bathil, yang diluruskan TUHAN dalam alQuran.
Iman kepada kitab terdahulu itu bukan berarti percaya semua yang tertulis dalam alKitab, karena dijelaskan dalam alQuran bahwa alKitab telah berisi pula tulisan-tulisan manusia yang mengatasnamakan TUHAN. Jadi ini bukan soal standar ganda, tapi soal kebenaran yang dipilih. Apalagi jelas bahwa prinsip keimanan Islam itu bukan totalitas membabibuta melainkan totalitas bertanggung jawab. Muslim dipandang tidak bertanggung jawab jika dia mengambil semua yang sesuai atau tidak sesuai dengan alQuran.
Sudah jelas dalam alKitab terdapat nubuat tentang adanya Nabi setelah Yesus, anda harus belajar alKitab dan sejarah Kristen. Dengan demikian salah besar jika anda mengatakan orang yang mengaku sebagai Nabi setelah Yesus adalah Nabi Palsu.
Anda ini memang tidak hidup dalam kerangka ruang dan waktu. Bagaimana mungkin nama Muhammad disebutkan dalam alKitab sebagaimana Isa disebut dalam alQuran. Apa anda nemuin di perjanjian lama nama YESUS gitu? Yang ada kan Nubuwatan tentang adanya Nabi setelahnya.
Anda berhasil mengetahui siapa yang bertanggungjawab atas masalah-masalah yang terdapat dalam Kitab anda, yakni GEREJA KATOLIK. Jadi kalau dalam alKitab terdapat cerita porno seperti Kidung Agung, yang paling bersalah adalah GEREJA KATOLIK.
March 14, 2011 at 5:21 am
Tentang bagaimana keimanan muslim kepada kitab terdahulu, perhatikan firman ALLAH berikut ini:
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan memeliharanya.…” [Al-Ma'idah 48]
Berkaitan dengan kata “muhaiminan”, Ibnu Juraiz menafsirkan bahwa alQuran itu mengamankan kitab-kitab yang mendahuluinya, di mana perkara yang sesuai dengan alQuran maka ia merupakan kebenaran dan perkara yang tidak sesuai dengan alQuran adalah batil. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa “muhaiminan” berarti mengahkimi kitab-kitab sebelumnya, sehigga jelas mana yang benar dan yang bathil.
Oleh karenanya, segala cerita dalam perjanjian lama atau baru yang besebrangan dengan cerita dalam alQuran adalah bathil. ALLAH lah pemilik otoritas atas cerita yang dibuat-Nya. Tuhan meluruskan cerita bathil itu melalui alQuran. dan muslim meyakini cerita ALLAH lah yang benar, sehingga muslim sama sekali tidak berfikir seperi anda bahwa alQuran telah merubah cerita dalam alKitab.
March 14, 2011 at 7:18 pm
@someone,mana coba bacakan ayat dalam Alkitab yang ada nama muhammadnya???
March 14, 2011 at 7:32 pm
Kalau kitab alquran sempurna mestinya isinya lebih lengkap dan lebih banyak dari isi Alkitab,tulis lagi yang versi benarnya dari kitab Kejadian sampai Wahyu,baru gwa akan percaya bahwa alquran yang benar,ini nyatanya isinya aja tidak lebih dari Alkitab,udah gitu hganya sepenggal penggal lagi,itu berarti alquran tidak sempurna.BIKIN DONG DARI KITAB KEJADIAN SAMPAI WAHYU VERSI alquran,BIAR SEMUA UMAT YAHUDI DAN KRISTEN PERCAYA.
March 14, 2011 at 11:42 pm
@valentine
siapa nabi yang seperti musa?muhammad/isa?
apa kebenaran suatu kitab diukur dari tebal tipisnya?
kalau alkitab sudah memuat ayat tambahan sehingga jadi lebih tebal gimana?
March 15, 2011 at 12:27 am
@Valentine
Apa ada dalam kitab pernjanjian lama disebut nama YESUS?
Apa kesempurnaan itu dilihat dari ketebalannya? Bagaimana kalau ternyata tebal itu karena dijejali kebatilan dan sesuatu yang tidak perlu? Apakah itu sebuah kesempurnaan? alQuran adalah kitab yang sempurna.
Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Qur’an yang memberi penjelasan. (AL HIJR ayat 1)
(Al Quraan) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (IBRAHIM ayat 52)
Seandainya anda anda Kristen Trinity, ketahuilah selamanya jemaat Kristen berada dalam permusuhan, khususnya jemaat anda dengan jemaat Kristen Unitarian, karena anda dan jemaat anda melupakan hukum utama pertama yang merupakan perjanjian anda dengan ALLAH dan menganggap berpegang pada hukum kedua saja sudah menjadi pengikut YESUS yang sebenarnya.
Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan. (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 14)
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (SURAT AL AN’AAM (Binatang ternak) ayat 44)
Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya {547} sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”. Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan. (AL A’RAAF (Tempat tertinggi) ayat 53)
Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. (AL KAHFI (Gua) ayat 57)
Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan. (AS SAJDAH (SUJUD) ayat 14)
March 15, 2011 at 12:35 am
sekarang kita bicara logika yang simpel simpel aja,kan islam agama yang simpel(katanya).Kalau sebuah Alkitab adalah kitab yang palsu atau telah dipalsukan(katanya),Kalau begitu dimana yang asli???karena ada barang palsu,pasti juga ada barang yang asli,iya dong??dan darimana kalian bisa menilai Alkitab itu palsu,kalau tidak tahu yang asli seperti apa,sama saja darimana kalian bisa menilai cd/dvd bajakan/palsu itu palsu,kalau tidak ada cd/dvd yang asli,darimana kalian bisa menilai baterai nokia yang palsu,kalau tidak ada yang asli,Sekarang Dimanakah ALKITAB YANG ASLI,kalau kalian para muslim bilang itu Alkitab Palsu?????? Apa kalian para muslim punya Alkitab yang asli?????? al quran itu Kitab yang asli???? kalau alquran yang asli,kenapa kalian masih pakai ayat dalam ALKITAB buat dijadikan pembenaran???,sama saja barang yang asli mengcopy dari yang palsu,apa itu tidak aneh????? ada juga yang palsu itu mengcopy dari yang asli,bukan kebalikannya,jadi yang KITAB PALSU itu yang mana???? ha ha ha …….sudah jelaslah alquran yang palsu,krena mengambil pembenaran dari ALKITAB,kalau Alkitab tidak ada,ya pasti alquran juga tidak ada,simpel kan?????? jadi coba jawab DIMANA KITAB YANG ASLI??????kalau kalian bilang Kitab yang asli ada pada Romawi dan telah dibakar,berarti sudah tidak ada lagi yang asli dong,dan kembali lagi pertanyaan saya,Dari mana kalian bisa bilang Alkitab palsu,kalau yang asli sudah tidak ada/dibakar???Darimana kalian bisa menilai sebuah barang itu palsu kalau tidak ada yanga asli sebagai pembanding,UDAH JELAS YANG PALSU ITULAH alquran karangan si mamad.
March 15, 2011 at 1:01 am
@jack,lu nanya siapa nabi yang seperti Musa,seperti apanya???mukanya??? mukjizatnya???namanya????sifatnya????ya ga ada nabi yang seperti musa,krena setiap nabi punya kekhasan,sifat dan mukjizatnya masing2,kalau lu bilang Muhammad itu seperti Musa,apa muhammad itu membelah lautan?? apa muhammad itu merubah tongkat menjadi ular???? apa muhammad membebaskan bangsa israel dari perbudakan? ngga kan???? jadi tidak ada nabi seperti musa,dan kalau menyamakan musa dengan muhammad,saya juga bisa menyamakan musa dengan nabi nabi yang lain.
March 15, 2011 at 6:12 am
@Valentine
Anda nanya yang asli yang mana? Pastinya karena terlalu banyak versi alKitab sehingga anda bingung nyari yang asli yang mana. Muslim tidak mengetahui apakah alKitab yang anda pegang sekarang itu asli atau tidak. Yang muslim ketahui adalah bahwa dalam alKitab itu sudah terdapat banyak penambahan, banyak perkataan Tuhan yang dirubah dari tempatnya. Semua ini bukan didasarkan karena melihat sendiri perubahan tersebut, tetapi karena diberi tahu oleh ALLAH melalui alQuran, misalnya:
Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 59)
Bentuk kongkritnya seperti kata @jack, alKitab memerintahkan sunnat dan melarang makan babi malah Paulus merubah perintah tersebut.
Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka. (AL A’RAAF (Tempat tertinggi) ayat 162)
Ini adalah kecurangan dan kebohongan yang mengatas namakan TUHAN. Contoh kongkritnya ya Paulus yang berkata:
“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya; mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Roma 3:7) .
Secara keseluruhan ALLAH menyaksikan bentuk perbuatan ahli kitab terhadap kitab mereka:
Hai ahli kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran {204}, padahal kamu mengetahuinya? (ALI ‘IMRAN (KELUARGA ‘IMRAN) ayat 71)
Dan kesalahan fatal yang dilakukan ahli kitab terhadap Injil adalah memasukan faham pagan Trinitas sebagai ajaran Kristen sehingga Yesus dituhankan. Yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah Paulus.
Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (AN NISAA’ (WANITA) ayat 171)
Perubahan ajaran YESUS ini bukannya tidak diketahui oleh kalangan kristen, buktinya ARIUS dan golongan Kritsen UNITARIAN menggugatnya. Hanya saja KATOLIK membungkam protes ini, menganggapnya sebagai penyimpangan, dan membunuh mereka.
Dan kemudian alQuran diturunkan ALLAH sebagai kitab penutup, meluruskan ajaran yang bengkok, dan mempertegas kebenaran dari gugatan golongan UNITARIAN tersebut, bahwa YESUS itu manusia semata. Ketuhanan YESUS sendiri faktanya merupakan sesuatu yang diada-adakan, pemberian segolongan Kristen dan bukan pemberian TUHAN.
Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 15)
Setelah anda mendengar penjelasan mana keyakinan yang benar tentang YESUS melalui alQuran, maka tidak ada kesempatan lagi bagi anda untuk protes jika ternyata di akhirat sana yang benar adalah apa yang disampaikan ALLAH dalam alQuran dan bukan apa yang disampaikan oleh Paulus, yakni bahwa TUHAN itu tanpa sekutu.
Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 19)
Tuhan menasihatkan kepada anda untuk meninggalkan ajaran Paulus dan kembali kepada syariat Tuhan yang benar, kepada hukum utama untuk tidak menserikatkan Tuhan dengan siapapun.
Katakanlah: “Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 77)
Saya kira ini bukan jawaban pertama yang pernah anda dengar dari muslim. Tuhan memperdengarkan jawaban yang sama berulang-ulang kepada anda.
Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari ahli kitab)”, dan supaya Kami menjelaskan Al Quraan itu kepada orang-orang yang mengetahui. (SURAT AL AN’AAM (Binatang ternak) ayat 105)
(Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (AL HADIID (BESI) ayat 29)
Akhirnya, bukalah Kidung Agung, baca berkali-kali. Kalau birahi anda tidak naik, berarti sebagai manusia anda tidak normal. Bagaimana bisa sebuah Kitab Suci mengandung perkataan yang membangkitkan birahi? alQuran adalah lembaran-lembaran suci yang mensucikan, membebaskan jiwa manusia dari syahwat dan kekotoran lainnya. Maka bagaimana ada sebuat Kitab yang dianggap suci, membacanya malah membuat jiwa diliputi kotoran syahwat (birahi)? Bukankah ini bukti bahwa Kidung Agung itu sesuatu yang palsu yang ditambah-tambahkan ke dalam alKitab?
Anda bertanya, di manakah alQuran yang asli? Saya bilang, apa yang anda temukan sekarang adalah ayat-ayat yang sama dengan ayat-ayat yang diturunkan kepada Muhammad SAW. Jika anda bertanya soal keaslian dalam konteks alKitab, maka yang dimaksud muslim dengan keaslian tersebut adalah sucinya atau terbebasnya alKitab dari
mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran (ALI ‘IMRAN (KELUARGA ‘IMRAN) ayat 71)
Bagaimana faham pagan yang bathil dan bersumber dari kepercayaan terhadap dewa matahari dicampur adukan dengan hukum utama pertama?
Dan alQuran adalah kitab yang disucikan ALLAH dari itu semua. Saat pembuatan mushaf, tidak ada satupun ayat yang disembunyikan. Sesuatu yang tidak dituliskan dalam Mushaf adalah sesuatu yang sudah ada yang riwayatnya lebih kuat. Dan selama ini kalian menyangka Islam mengajarkan muslim menyembah dewa bulan atau batu hitam, padahal sama sekali tidak ditemukan dalam alQuran perintah menyembah benda-benda tersebut. Lain dengan alKitab yang kami menemukan di dalamnya ada ajaran TRINITAS, sebuah kebathilan yang dilegalitas Paulus dengan memasukannya ke dalam Injil.
March 31, 2011 at 2:52 pm
@jack,saya bertanya apakah muslim punya kitab yang asli,karena muslimlah yg menuduh bahwa Alkitab itu palsu,klo menuduh Alkitab itu palsu,harus punya yang asli dong buat barang bukti dan bahan perbandingan,sedangkan Alkitab yang asli sudah jelas berada dalam Gerej Katolik<Gereja Katolik juga lah yang melisensikan Alkitab untuk diterjemahkan ke dalam banyak bahasa,dan disebarkan ke seluruh bangsa di bumi.
March 13, 2011 at 6:35 pm
I. Perkenalan dengan Kitab Suci
Orang mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Maka agar kita dapat mengasihi Tuhan, kita perlu mengenal Dia. Sekarang pertanyaannya, bagaimana caranya kita mengenal Allah? Agaknya Tuhan memahami bahwa manusia akan mempunyai pertanyaan semacam ini dalam hatinya, sehingga Allah-lah yang pertama- tama melakukan inisiatif: Ia mewahyukan Diri-Nya, melalui alam semesta, melalui suara hati nurani dan yang secara khusus, melalui Wahyu umum yang diberikan kepada Gereja.
1. Apakah Kitab Suci itu?
Kita sering mendengar bahwa Kitab Suci adalah “Wahyu Allah”. Wahyu atau pernyataan Allah tentang diri-Nya ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1: 26). Artinya kita adalah mahluk rohani yang diciptakan menurut gambaran Allah, yang dilengkapi oleh akal budi dan kehendak bebas, sehingga kita dapat mengetahui, memilih dan mengasihi. Dengan demikian, kita manusia dapat menyimpulkan bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada, dengan melihat segala ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita. Keberadaan Tuhan juga diketahui dengan memperhatikan suara hati nurani dalam setiap orang, di mana Tuhan menuliskan hukum-hukum-Nya untuk menyatakan hal yang benar dan yang salah; inilah wahyu yang universal. Selanjutnya, Tuhan juga secara khusus memberikan wahyu yang merupakan pernyataan akan diri-Nya dan kehendak-Nya bagi manusia untuk mencapai tujuan akhir yang direncanakan-Nya. Wahyu ini disampaikan kepada manusia sejak awal sejarah manusia sampai sekarang; yaitu melalui para nabi, yang mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus Putera-Nya, dan wahyu ini yang kemudian dilanjutkan oleh para rasul Kristus.
Wahyu umum ini adalah wahyu Allah yang khusus diberikan kepada umat manusia agar manusia dapat mengenal siapa diri-Nya dan rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia. Wahyu umum ini bermula dari wahyu yang diberikan kepada para nabi, dan berakhir dengan wafatnya rasul Kristus yang terakhir.[1] Wahyu umum ini terdiri dari dua jenis, yang tergantung dari cara penyampaiannya; yaitu Kitab Suci (tertulis) dan Tradisi Suci (lisan).[2] Maka kita ketahui ketiga hal ini:
1. Kitab Suci adalah Wahyu ilahi yang disampaikan secara tertulis di bawah inspirasi Roh Kudus.[3].
2. Tradisi Suci adalah Wahyu ilahi yang tidak tertulis, namun yang diturunkan oleh para rasul sejak awal oleh inspirasi Roh Kudus, sesuai dengan yang mereka terima dari Yesus dan yang kemudian diturunkan kepada para penerus mereka.[4]
3. Maka kita ketahui sekarang bahwa untuk menerima wahyu Allah secara lengkap, kita tidak hanya perlu Kitab Suci, namun juga Tradisi Suci, dan pihak wewenang mengajar Gereja (Magisterium) yang dapat secara benar mengartikan wahyu ilahi tersebut. Ketiga hal ini disebut sebagai pilar iman, yang ditujukan untuk menjaga dan mengartikan wahyu publik dari Allah ini di dalam kemurniannya.
2. Kitab Suci yang adalah Sabda Allah itu terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Pernahkah anda membaca novel, namun hanya membaca bagian akhirnya saja? Walaupun mungkin anda dapat menangkap bagian yang terpenting dari kisah tersebut, namun tentu, kisah tersebut akan lebih dapat dipahami, jika anda membaca buku tersebut mulai dari bagian awal. Demikianlah halnya dengan Kitab Suci yang merupakan Sabda Allah yang tertulis tentang rencana keselamatan Allah yang dimulai sejak awal mula penciptaan dunia, sampai penggenapannya di dalam diri Kristus.
Oleh karena itu, untuk mempelajari Kitab Suci, kita perlu melihat kaitan antara Perjanjian Lama (sebelum kedatangan Kristus) dan Perjanjian Baru (saat dan setelah kedatangan Kristus), dan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, untuk mendapat pengertian yang menyeluruh dan pemahaman yang benar akan Sabda Allah itu. Perjanjian Lama (PL) yang melatar-belakangi Perjanjian Baru (PB), merupakan satu kesatuan dengan Perjanjian Baru. Sebab “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru.”[5]. Sama seperti suatu kisah tidak akan lengkap jika hanya dibaca awalnya saja, atau akhirnya saja, tanpa memperhatikan kaitannya, demikian juga Kitab Suci hanya akan dapat kita pahami secara menyeluruh dalam kesatuan antara PL dan PB, dan dalam kaitan satu ayat dengan ayat yang lain.
3. Penulisan Kitab Suci melibatkan akal budi para penulisnya
Kitab Suci merupakan Sabda Allah yang disampaikan melalui tulisan penulis kitab yang ditunjuk oleh Allah untuk menuliskan hanya yang diinginkan oleh Tuhan.[6]. Namun demikian, ini melibatkan juga kemampuan sang penulis tersebut dalam hal gaya bahasa, cara penyusunan, latar belakang budayanya, dst. Maka jika kita ingin memahami Kitab Suci, kita perlu mengetahui makna yang disampaikan oleh para pengarang kitab dan apakah yang ingin disampaikan oleh Allah melalui tulisannya. Karena Kitab Suci bersumber pada Allah yang satu, maka kita harus melihat keseluruhan Kitab Suci, walaupun ditulis oleh orang yang berbeda- beda, sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Inilah yang menjadi dasar bagaimana kita memperoleh pengertian yang mendalam tentang Kitab Suci, dan dengan cara demikianlah jemaat awal mengartikan Kitab Suci.
4. Kitab Suci itu diberikan kepada Gereja sebagai pedoman
Rasul Paulus memberikan alasan kepada kita untuk mempelajari Kitab Suci yaitu, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16) agar kita yang menjadi umat-Nya diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Dengan demikian, Kitab Suci mendapatkan tempat yang begitu tinggi di dalam Gereja Katolik, yang dapat kita lihat dari dokumen-dokumen Gereja yang senantiasa mempunyai sumber dari Kitab Suci disamping Tradisi Suci, dan kita dapat melihat secara jelas dalam liturgi Gereja. Paus Benediktus XVI dalam pengajaran apostoliknya, Verbum Domini, mengajarkan bahwa Kitab Suci mendapatkan tempat di dalam sakramen-sakramen, liturgi, brevier, buku-buku doa dan pemberkatan, lagu-lagu, dll.[7]
II. Prinsip umum yang harus dipegang
1. Gereja ada terlebih dahulu sebelum Kitab Suci.
Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Demikian pula, Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Yesus tidak membentuk Kitab Suci, namun Yesus membentuk Gereja, yang Ia dirikan di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18). Gereja pulalah yang menentukan kanon seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab Perjanjian Baru adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama.
2. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan para rasul, sebab tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, berabad – abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan di akhir abad ke 4. Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga bahwa ‘ajaran yang diteruskan/ diberitakan melalui pembicaraan’ oleh para rasul inilah Tradisi suci -1 Kor 11:2, 23; 2 Yoh 12, 3 Yoh 13)
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25). Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35, di mana rasul Paulus meneruskan perkataan Yesus “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima”; yaitu perkataan Yesus yang tidak tertulis dalam Injil.
3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya
Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Kitab Suci yang memang sulit untuk dicerna (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16), dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Kitab Suci untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan.
4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya.
Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 18:18; 28:19-20; Luk 10:16; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ Wewenang mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya. Prinsip fungsi Magisterium ini hanya seperti wasit dalam pertandingan sepak bola: ia tidak mengatasi peraturan, namun hanya menjaga agar peraturan dijalankan semestinya.
Hal yang sama ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI dalam pengajaran Apostoliknya, Verbum Domini. Paus menegaskan bahwa apa yang tertulis di dalam Kitab Suci bukanlah sesuatu yang dapat diinterpretasikan oleh masing-masing individu dengan bebas tanpa melihat apa yang menjadi pandangan Gereja. Karena Sabda Allah yang bersumber pada Roh Kudus diberikan kepada Gereja. Oleh Roh Kudus menjadi jiwa dari Gereja, Gereja menentukan buku-buku yang masuk ke dalam kanon Kitab Suci. Dengan demikian, Gereja mempunyai otoritas untuk menginterpretasikan Kitab Suci sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan oleh Roh Kudus.[8] Hal yang sama juga ditegaskan oleh St. Agustinus yang mengatakan “I would not believe the Gospel, had not the authority of the Catholic Church led me to do so”[9]
Jika kita melihat sejarah, maka kita dapat melihat bahwa Kitab Suci yang ada pada kita sekarang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damasus pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthago (397) dan Kalsedon/ Chalcedon (451) yang kemudian diteguhkan oleh banyak konsili sampai Konsili Trente (1545- 1563). Maka Gerejalah, atas ilham Roh Kudus, yang menentukan kitab- kitab mana saja yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, sehingga dapat termasuk dalam Kitab Suci. Sebelum Kitab Suci ditulis, Gereja mengandalkan Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan para rasul. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15, yaitu bahwa Gereja-lah (bukan Kitab Suci) yang menjadi tiang penopang dan tonggak kebenaran. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Gereja, yang dipimpin oleh Magisterium.
5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat
Saat terjadinya krisis dalam jemaat di sekitar tahun 40-an, kitab Perjanjian Baru belum ada, dan Kristus sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci Perjanjian Lama yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel 12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh Kristus dalam Perjanjian Baru, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.
6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15)
Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.
7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan.
Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan pemberitaan Firman Allah (melalui pendengaran) yang disampaikan oleh para rasul adalah Tradisi Suci.
III. Prinsip untuk menginterpretasikan Kitab Suci
1. Cara umum:
Konsili Vatikan II mengajarkan tiga cara umum untuk menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan Roh Kudus yang mengilhaminya:[10]
1. Memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci.
2. Membaca Kitab Suci dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja.
3. Memperhatikan “analogi iman”.
a. Memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci
Kita harus mengartikan ayat tertentu dalam Kitab Suci dalam kaitannya dengan pesan Kitab Suci secara keseluruhan. Mengartikan satu paragraf atau bahkan satu kalimat saja namun tidak memperhatikan kaitannya dengan ayat yang lain, dapat berakibat fatal. Contohnya, seorang atheis mengutip Mzm 14:1, dan berkata “Tidak ada Allah”. Tetapi sebenarnya, keseluruhan kalimat itu berkata, “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah”. Maka arti yang disampaikan dalam Kitab Suci tentu sangat berbeda dengan pengertian orang atheis tersebut.
b. Membaca Kitab Suci dalam terang Tradisi hidup seluruh Gereja
Banyak ahli Kitab Suci di jaman modern yang tidak mengindahkan interpretasi yang berakar dari tradisi Gereja. Mereka berpikir seolah-olah baru pada saat mereka menginterpretasikan Kitab Suci, Roh Kudus memberikan pengertian yang paling “asli”, sedang interpretasi pada abad- abad yang lalu itu keliru. Sikap ini tentunya tidak mencerminkan kerendahan hati. Gereja mengajarkan bahwa kita harus menginterpretasikan Kitab Suci sesuai dengan Tradisi hidup seluruh Gereja, sebab “Kitab suci lebih dulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas pergamen (kertas dari kulit)”.[11] Di dalam Tradisi Suci inilah Roh Kudus menyatakan kenangan yang hidup tentang Sabda Allah dan interpretasi spiritual dari Kitab Suci. Tradisi Suci tercermin dari tulisan Para Bapa Gereja, dan ajaran- ajaran definitif yang ditetapkan oleh Magisterium, seperti yang dihasilkan dalam Konsili-konsili, Bapa Paus maupun yang dijabarkan dalam doktrin Gereja.
c. Memperhatikan “analogi iman”
Analogi iman maksudnya adalah bahwa wahyu Allah berisi kebenaran- kebenaran yang konsisten dan tidak bertentangan satu sama lain. Gereja Katolik percaya bahwa Roh Kudus yang meng-inspirasikan Kitab Suci adalah Roh Kudus yang sama, yang membimbing dan menjaga wewenang mengajar Gereja (Magisterium), yang juga bekerja dalam Tradisi Suci Gereja. Maka tidak mungkin ajaran Gereja Katolik bertentangan dengan Kitab Suci, karena Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Juga, karena Gereja menjaga kemurnian ajaran dalam Kitab Suci, maka untuk meng-interpretasikan Kitab Suci, kita harus melihat kaitannya dengan ajaran/ doktrin Gereja.
Analogi iman yang berdasarkan ajaran Gereja berperan sebagai “penjaga” yang membantu kita agar kita tidak sampai salah jalan dalam meng-interpretasikan Kitab Suci. Ibaratnya, seperti pagar yang membatasi rumah kita dengan dunia luar yang penuh dengan anjing galak. Di dalam halaman rumah, kita tetap dapat beraktivitas, anak-anak dapat bermain dengan bebas, namun aman dari bahaya. Maka dengan berpegang pada ajaran Gereja, kita tetap mempunyai kebebasan dalam menginterpretasikan ayat-ayat Kitab Suci, namun kita dapat yakin bahwa interpretasi kita tidak salah, ataupun tidak bertentangan dengan kebenaran yang diwahyukan. Keyakinan ini merupakan karunia yang diberikan kepada kita, jika kita setia berpegang pada pengajaran Gereja yang disampaikan oleh Magisterium (Wewenang mengajar Gereja). Magisterium inilah yang bertugas menginterpretasikan Sabda Allah dengan otentik, baik yang tertulis (Kitab Suci) maupun yang lisan (Tradisi Suci), dengan wewenang yang dilakukan dalam nama Tuhan Yesus[12] agar Sabda itu dapat diteruskan sesuai dengan yang diterima oleh para rasul.
2. Menghindari dualisme hermenetik sekular/ ‘secularized hermeneutic’ dan interpretasi fundamentalis/“fundamentalist interpretation”
Paus Benediktus XVI dalam ekshortasi apostoliknya, Verbum Domini menekankan dua kesalahan ekstrem yang tidak boleh dilakukan oleh umat Katolik dalam menginterpretasikan Kitab Suci. Dua kesalahan ini adalah hanya berdasarkan metoda sekular dan metoda fundamentalisme.
a. Metoda historical-criticism yang terpisah dari teologi
Metode sekular yang terpisah dari teologi ini menekankan sisi sejarah dari Kitab Suci, sehingga Kitab Suci hanya dilihat sebagai buku dari masa lampau yang tidak mempunyai kaitan dengan saat ini. Pendekatan yang ilmiah dengan mengesampingkan sisi-sisi Ilahi dari Kitab Suci membuat metode ini kehilangan apa yang menjadi dasar untuk mengerti Kitab Suci – yaitu iman – yang pada akhirnya menolak campur tangan Tuhan dalam sejarah manusia.[13] Inilah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II – dalam ensiklik Fides et Ratio – dan Paus Benediktus XVI menekankan harmoni antara iman dan akal budi. Menyandarkan metoda ilmiah dalam menginterpretasikan Kitab Suci tanpa dibarengi iman, mereduksi sisi Ilahi dari Kitab Suci menjadi buku sejarah atau hanya menjadi buku literatur biasa. Sebagai contoh: Ketika di Kitab Suci dikatakan bahwa Yesus memberi makan lima ribu orang (Mt 14:15-21; Mk 6:34-44), maka metoda ini cenderung untuk mereduksi sisi Ilahi dari Kristus dan kemudian menjelaskannya dengan sesuatu yang lebih ilmiah, seperti orang-orang yang ada berkumpul mengeluarkan bekal masing-masing dan kemudian saling berbagi.
b. Metode fundamentalisme
Metode fundamentalisme mengambil kata demi kata di Kitab Suci dan menganggap kata demi kata dalam Kitab Suci adalah didikte oleh Tuhan tanpa melihat bahwa penulisan Kitab Suci senantiasa di dalam konteks sejarah pada waktu tulisan tersebut dibuat. Penolakan akan sisi sejarah dan juga penolakan akan Gereja sebagai pemberi interpretasi Kitab Suci yang otentik membuat metode ini menjadi sangat subyektif[14] yang mengarah bahwa interpretasi pribadinya sendiri adalah yang paling benar. Metoda ini juga dapat menyebabkan kegagalan untuk melihat Sabda Allah dalam konteks keseluruhan. Sebagai contoh, ketika Yesus mengatakan “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mt 24:36), maka metoda ini mempunyai tendensi untuk mengatakan bahwa Yesus memang tidak mengetahui kapan akhir dunia terjadi, tanpa melihat kompleksitas dari kodrat Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Karena mereka juga tidak mau melihat komentar Kitab Suci dari Bapa Gereja dan Magisterium Gereja, maka mereka akan mengeraskan hati bahwa interpretasi merekalah yang paling benar.
3. Ke-4 Prinsip menginterpretasikan Kitab Suci
Secara umum, Kitab Suci mempunyai dua macam arti. Yang pertama disebut ‘literal/ harafiah’ sedangkan yang kedua disebut sebagai ‘spiritual/ rohaniah’. Kemudian arti rohaniah ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu: alegoris, moral dan anagogis.[15] Ke-empat macam arti ini secara jelas menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
a. Arti literal/ harafiah.
Arti harafiah adalah arti yang berdasarkan atas penuturan teks yang ada secara tepat. Mengikuti ajaran St. Thomas Aquinas, kita harus berpegang bahwa, “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harafiah.”[16] Jadi dalam membaca Kitab suci, kita harus mengerti akan arti kata-kata yang dimaksud secara harafiah yang ingin disampaikan oleh pengarangnya, baru kemudian kita melihat apakah ada maksud rohani yang lain. Arti rohani ini timbul berdasarkan arti harafiah.
b. Arti alegoris
Arti alegoris adalah arti yang lebih mendalam yang diperoleh dari suatu kejadian, jika kita menghubungkan peristiwa tersebut dengan Kristus. Contohnya:
1. Penyeberangan bangsa Israel melintasi Laut Merah adalah tanda kemenangan yang diperoleh umat beriman melalui Pembaptisan (lih.Kel14:13-31; 1Kor 10:2).
2. Kurban anak domba Paska di Perjanjian Lama merupakan gambaran kurban Yesus Sang Anak Domba Allah pada Perjanjian Baru (Kel 12: 21-28; 1 Kor 5:7).
3. Abraham yang rela mengurbankan anaknya Ishak adalah gambaran dari Allah Bapa yang rela mengurbankan Yesus Kristus Putera-Nya (Kej 22: 16; Rom 8:32).
4. Tabut Perjanjian Lama adalah gambaran dari Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru. Karena pada tabut Perjanjian Lama tersimpan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), roti manna (Kel 25:30), tongkat Harun sang imam(Ibr 9:4); sedangkan pada rahim Maria Sang Tabut Perjanjian Baru tersimpan Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Imam Agung (Ibr 8:1).
c. Arti moral
Arti moral adalah arti yang mengacu kepada hal-hal yang baik yang ingin disampaikan melalui kejadian-kejadian di dalam KItab Suci. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita …sebagai peringatan” (1 Kor 10:11).
1. Ajaran Yesus agar kita duduk di tempat yang paling rendah jika diundang ke pesta (Luk 14:10), maksudnya adalah agar kita berusaha menjadi rendah hati.
2. Peringatan Yesus yang mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita (Mrk 4: 24) maksudnya agar kita tidak lekas menghakimi orang lain.
3. Melalui mukjizat Yesus menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” (Mat 20: 29-34) Yesus mengajarkan agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita.
d. Arti anagogis
Arti anagogis adalah arti yang menunjuk kepada surga sebagai ‘tanah air abadi’. Contohnya adalah:
1. Gereja di dunia ini melambangkan Yerusalem surgawi (lih. Why 21:1-22:5).
2. Surga adalah tempat di mana Allah akan menghapuskan setiap titik air mata (Why 7:17).
e. Hubungan antara ke-empat arti Kitab Suci
Berikut ini adalah pepatah yang berasal dari Abad Pertengahan tentang arti ke-empat arti Kitab Suci. “Huruf [dari kata letter/ literal] mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori; moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi.”[17]
4. Contoh interpretasi Kitab Suci dengan menggunakan ke-4 prinsip
Maka semua kejadian di dalam Kitab Suci memiliki makna harafiah, walaupun dapat mengandung arti rohaniah juga. Contohnya adalah kisah Allah menurunkan roti manna di padang gurun (Kel 16).[18]
1. Secara harafiah, memang Allah memberi makan bangsa Israel dengan manna yang turun dari langit selama 40 tahun saat mereka mengembara di padang gurun.
2. Secara alegoris, roti manna menjadi gambaran Ekaristi, di mana Yesus sebagai Roti Hidup adalah Roti yang turun dari surga (Yoh 6:51), menjadi santapan rohani kita umat beriman yang masih berziarah di dunia ini.
3. Secara moral, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak cepat mengeluh dan bersungut-sungut (Kel 16:2-3) kepada Allah. Umat Israel yang bersungut-sungut akhirnya dihukum Allah sehingga tak ada dari generasi mereka yang dapat masuk ke tanah terjanji (selain Yoshua dan Kaleb).
4. Secara anagogis, kita diingatkan bahwa seperti roti manna yang berhenti diturunkan setelah bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, maka Ekaristipun akan berakhir pada saat kita masuk Surga, yaitu saat kita melihat Tuhan dalam keadaan yang sebenarnya (1 Yoh 3:2).
5. Peran Gaya Bahasa dalam Kitab Suci
Seperti halnya pada karya tulis pada umumnya, peran gaya bahasa adalah sangat penting. Demikian juga pada Kitab Suci, sebab Allah berbicara pada kita dengan menggunakan bahasa manusia. Maka kita perlu memahami gaya bahasa yang digunakan, agar dapat lebih memahami isinya. Secara umum, gaya bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci sebenarnya tidaklah rumit, sehingga orang kebanyakan dapat menangkap maksudnya. Dalam hampir semua perikop Kitab Suci, sebenarnya cukup jelas, apakah pengarang Injil sedang membicarakan hal yang harafiah atau yang rohaniah. Namun ada kekecualian pada perikop-perikop tertentu, sehingga kita perlu mengetahui beberapa prinsipnya:[19]
1. Simili: adalah perbandingan langsung antara kedua hal yang tidak serupa. Misalnya, pada kitab Dan 2:40, digambarkan kerajaan yang ke-empat ‘yang keras seperti besi’, maksudnya adalah kekuatan kerajaan tersebut, yang dapat menghancurkan kerajaan lainnya.
2. Metafor: adalah perbandingan tidak langsung dengan mengambil sumber sifat-sifat yang satu dan menerapkannya pada yang lain. Contohnya, “Jiwaku haus kepada Allah Yang hidup” (Mzm 42:3). Sesungguhnya, jiwa yang adalah rohani tidak mungkin bisa haus, seperti tubuh haus ingin minum. Jadi ungkapan ini merupakan metafor untuk menjelaskan kerinduan jiwa kepada Allah.
3. Bahasa perkiraan: adalah penggambaran perkiraan, seperti jika dikatakan pembulatan angka-angka perkiraan. Misalnya,“Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki” (Mat 14: 21; Mrk 6:44; Luk 9:14; Yoh 6:10) dapat berarti kurang lebih 5000 orang, dapat kurang atau lebih beberapa puluh.
4. Bahasa fenomenologi: adalah penggambaran sesuatu seperti yang nampak, dan bukannya seperti mereka adanya. Kita mengatakan ‘matahari terbit’ dan ‘matahari terbenam’, meskipun kita mengetahui bahwa kedua hal tersebut merupakan akibat dari perputaran bumi. Demikian juga dengan ucapan bahwa ‘matahari tidak bergerak’ (Yos 10: 13-14).
5. Personifikasi/ antropomorfis : adalah pemberian sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang bukan manusia. Contohnya adalah ungkapan ‘wajah Tuhan’ atau ‘tangan Tuhan’ (Kel 33: 20-23), meskipun kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah adalah Roh (Yoh 4:24) sehingga tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu.
6. Hyperbolisme: adalah pernyataan dengan penekanan efek yang besar, sehingga kekecualian tidak terucapkan. Contohnya adalah ucapan rasul Paulus, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23); di sini tidak termasuk Yesus, yang walaupun Tuhan juga sungguh-sungguh manusia dan juga tidak termasuk Bunda Maria yang walaupun manusia tetapi sudah dikuduskan Allah sejak dalam kandungan (tanpa dosa asal).
Selanjutnya, ada juga kekecualian juga terjadi pada kondisi berikut:
1. Jika Kitab Suci jelas mengatakannya bahwa yang disampaikan adalah perumpamaan, maka yang disampaikan tidak/ belum tentu terjadi. Contoh Yoh 10:6 “Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka…” yang kemudian dilanjutkan oleh Yesus, yang mengumpamakan Ia sebagai ‘pintu’ (Yoh 10:7). Demikian juga dengan Mat 13:33 yang mengatakan bahwa Yesus mengajar dengan perumpamaan. Di sini perumpamaan belum tentu terjadi secara nyata.
2. Interpretasi harafiah dilakukan sejalan dengan akal sehat, namun jika tidak masuk akal, maka tidak mungkin dimaksudkan secara harafiah. Jadi misalnya, pada saat Yesus mengatakan bahwa raja Herodes adalah ‘serigala’ (Luk 13:32), maka kita tidak akan mengartikan bahwa pada waktu itu pemerintah di jaman Yesus dikepalai oleh mahluk mamalia, berambut, berekor, berkuping lancip yang bernama Herodes.
3. Jika pengartian secara harafiah malah menujukkan kontradiksi pada Allah, maka gaya bahasa yang diucapkan tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harafiah. Dalam hal ini penting sekali kita melihat ayat-ayat lain untuk melihat gambaran yang lebih jelas akan makna ayat tersebut. Contoh: Dalam Mat 23:9, Yesus berkata “Jangan memanggil seorangpun sebagai bapa di bumi ini”, padahal baru sesaat sebelumnya Yesus mengulangi perintah ke-4 dari kesepuluh perintah Allah, “Hormatilah ibu bapa-mu” (Mat 19:19) dan Ia juga menyebut Abraham sebagai “bapa” (Mat 3:9). Selanjutnya kita melihat bagaimana Rasul Paulus kemudian menyebut dirinya sendiri sebagai “bapa” bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan kepada Onesimus (Flm 1:10). Maka ayat Mat 23:9 tidak mungkin diartikan secara harafiah. Dalam hal ini, Yesus menggunakan gaya bahasa hyperbolisme untuk menyatakan otoritas ilahi yang mengatasi otoritas duniawi.
IV. Contoh- contoh ayat dan interpretasinya.
1. Ayat- ayat yang menunjukkan tipologis Perjanjian Lama digenapi dalam Perjanjian Baru
Bukan menjadi kebetulan bahwa lebih dari dua per tiga bagian dari Kitab Suci adalah Perjanjian Lama (Perjanjian Baru hanya sepertiga bagian). Ini menunjukkan bahwa Perjanjian Lama mengambil bagian yang cukup penting di dalam Kitab Suci, yang akhirnya dipenuhi di dalam Perjanjian Baru. Maka Perjanjian Baru (PB) perlu dibaca dalam terang Perjanjian Lama (PL) dan demikian pula sebaliknya.
Tipologi maksudnya adalah bahwa PL merupakan tanda/ tipe yang dipenuhi maknanya di dalam PB. Tipologi menerangkan bagaimana Kristus dan Gereja-Nya telah dinyatakan secara figuratif di dalam PL. Beberapa contoh yang cukup jelas adalah:
1. Dalam Yoh 3:14 Yesus sendiri mengajarkan bahwa “Ular [tembaga] yang ditinggikan di padang gurun” yang disebutkan dalam Bil 21:9 melambangkan penyaliban-Nya di gunung Golgota.
2. Dalam Mat 12:40, Yesus mengajarkan bahwa masa 3 hari Nabi Yunus berada di dalam perut ikan besar (Yun 1:17), merupakan gambaran dari 3 hari Yesus berada di dalam kubur, sebelum kebangkitan-Nya.
3. Dalam Luk 24:26-27, sewaktu Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus, Ia sendiri menghubungkan isi Kitab Suci [Perjanjian Lama] yang digenapi di dalam diriNya sebagai Mesias yang menderita, wafat dan bangkit dengan mulia [dalam Perjanjian Baru].
4. Dalam 1Pet 3:19-21, Rasul Petrus menyatakan bahwa air bah pada jaman Nabi Nuh merupakan gambaran/ kiasan Pembaptisan.
5. Dalam Rom 5:14, Rasul Paulus menyebutkan bahwa manusia pertama Adam adalah “gambaran” dari Kristus, [dengan Kristus sebagai manusia sempurna]; sebab dosa datang karena Adam, dan keselamatan datang karena Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia.
6. Wahyu 11:19- 12:1-2: Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru: Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! (Lihat pula bagaimana Allah menguduskan Tabut Perjanjian Lama dalam 2 Sam 6:6-7, 1 Taw 13:9-10, dan juga perbandingan ayat 2 Sam 6:9; dengan Luk 1:43; 2 Sam 6:11 dengan Luk 1:56). Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran, Samuel dan Tawarikh itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.
2. Contoh ayat- ayat yang harus dilihat kaitannya dengan ayat- ayat lainnya, Tradisi Suci dan pengajaran Magisterium Gereja
a. Ayat- ayat tentang keselamatan
Ayat Yoh 3:16 mengatakan bahwa siapa yang percaya pada Yesus akan memperoleh hidup kekal, atau “diselamatkan”; lalu pada ayat Ef 2:8 ada perkataan “diselamatkan oleh iman”, maka ada banyak orang Kristen non- Katolik mengatakan bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman saja (saved by faith alone). Padahal ayat-ayat Kitab Suci yang lain memberikan pengajaran yang lebih menyeluruh, misalnya pada ayat Ef 2:8 sendiri dikatakan: “Karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman”, sehingga di sini saja kita tahu bahwa bukan hanya iman yang menyelamatkan kita. Ayat yang lain mengajarkan iman yang menyelamatkan itu “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). Artinya kita harus melakukan perintah Tuhan agar dapat diselamatkan (Mat 19:17), dan perintah ini adalah hukum kasih kepada Tuhan dan sesama (Mat 22:37-40; Mrk 12:30-31). Kitab Suci juga mengajarkan bahwa -keselamatan dalam Kristus diperoleh dengan iman melalui pertobatan dan pembaptisan dalam nama-Nya, demi penebusan dosa (Kis 2:38-41). Rasul Yakobus, bahkan dengan jelas mengatakan bahwa kita dibenarkan karena perbuatan-perbuatan kita dan bukan hanya karena iman (Yak 2:24). Kristus sendiri menyatakan bahwa agar seseorang dapat masuk dalam Kerajaan Allah (diselamatkan), ia harus dilahirkan kembali dengan air dan Roh (Yoh 3:5). Dengan demikian, untuk mengetahui gambaran yang menyeluruh tentang keselamatan, maka kita harus melihat Kitab Suci secara keseluruhan.
Oleh karena itu, Magisterium Gereja Katolik mengajarkan demikian:
1. KGK 1257 Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Bdk. Yoh 3:5). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, …Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada sakramen-sakramen-Nya.
2. KGK 1815 Anugerah iman tinggal di dalam dia yang tidak berdosa terhadapnya (Bdk. Konsili Trente: DS 1545). Tetapi “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26) Iman tanpa harapan dan kasih tidak sepenuhnya mempersatukan orang beriman dengan Kristus dan tidak menjadikannya anggota yang hidup dalam Tubuh-Nya.
3. KGK 1816 Murid Kristus harus mempertahankan iman dan harus hidup darinya, harus mengakuinya, harus memberi kesaksian dengan berani dan melanjutkannya; Semua orang harus “siap-sedia mengakui Kristus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja ” (LG 42, Bdk. DH 14). Pengabdian dan kesaksian untuk iman sungguh perlu bagi keselamatan: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:32-33)
b. Ayat- ayat yang menyebutkan adanya ‘saudara- saudara’ Yesus.
Perikop Luk 8:19-21 atau juga Mat 12:46-50, Mrk 3:31-35, memang berjudul: Yesus dan sanak saudara-Nya. Bahkan dalam Mat 13:55 dan Mrk 6:3 disebutkan nama saudara- saudara-Nya itu yaitu: Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Oleh karena itu ada banyak orang menyangka bahwa Yesus mempunyai saudara- saudara kandung, atau artinya Bunda Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus. Namun tentu ini tidak benar!
Di dalam Kitab Suci, istilah “saudara” dipakai untuk menjelaskan banyak arti. Kata “saudara” (dari kata Yunani, ‘adelphos’ ) memang dapat berarti saudara kandung, namun dapat juga berarti saudara seiman (Kis 21:7), saudara sebangsa (Kis 22:1), ataupun kerabat, seperti pada kitab asli bahasa Ibrani yang mengatakan Lot sebagai saudara Abraham (Kej 14:14), padahal Lot adalah keponakan Abraham.
Jadi untuk memeriksa apakah Yakobus dan Yusuf itu adalah saudara Yesus, kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat Matius 27:56 dan Markus 15:40, yang menuliskan nama-nama perempuan yang ‘melihat dari jauh’ ketika Yesus disalibkan. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf/ Yoses, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56); atau Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Mrk 15:40). Maka di sini, Kitab Suci menunjukkan bahwa Maria ibu Yakobus ini tidak sama dengan Bunda Maria. Maria ibu Yakobus dan Yoses (Yusuf) dicatat dalam Kitab Suci sebagai salah satu wanita yang menyaksikan penyaliban Kristus (Mat 27:56; Mrk 15:40) dan kubur Yesus yang kosong/ kebangkitan Yesus (Mrk 16:1; Luk 24:10)
Mungkin yang paling jelas adalah kutipan dari Injil Yohanes, yang menyebutkan bahwa yang hadir dekat salib Yesus adalah, Bunda Maria, saudara Bunda Maria yang juga bernama Maria yang adalah istri Klopas, dan Maria Magdalena (Yoh 19:25). Jadi di sini jelaslah bahwa Maria (saudara Bunda Maria) ini adalah istri Klopas/ Kleopas, yang adalah juga ibu dari Yakobus dan Yusuf/Yoses. Kleopas adalah salah satu dari murid-murid Yesus yang berjalan ke Emmaus dan mengalami penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:18).
Kesimpulannya, Yakobus dan Yoses ini bukanlah saudara kandung Yesus.
Selanjutnya, kita juga melihat bahwa Tradisi Suci mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Perawan selamanya, sehingga dengan demikian Yesus tidak mempunyai saudara- saudari kandung:
1. St. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan St.Gregorius Nissa (m. 394), mengajarkan tentang keperawanan Bunda Maria.[20]
2. Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.”[21]
3. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin.[22]
4. St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….”[23]
5. St. Hieronimus/ Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf.[24]
6. St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya.[25]
“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).”[26] Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.
Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.”[27]
7. St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan.”[28] Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.”[29]. St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: “Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ’sulung’…. arti kata ’sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.”
Atas dasar Tradisi Suci tersebut, maka Magisterium Gereja Katolik mengajarkan demikian tentang keperawanan Maria:
1. Maria adalah Perawan, sebelum, pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide).[30]
Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.[31]
2. Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting sehubungan dengan ajaran bahwa Yesus, adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah ajaran tentang keperawanan Maria; karena kelahiran Yesus dari seorang Perawan adalah salah satu bukti keilahian-Nya. Selanjutnya, pemahaman tentang Maria dikuduskan Allah diperoleh dengan memahami perbandingannya dengan Tabut Perjanjian di Perjanjian Lama. Jika Tabut Perjanjian Lama saja begitu dikuduskan Allah, betapa Allah akan lebih lagi secara istimewa menguduskan Maria, Tabut Perjanjian Baru, yang mengandung dan melahirkan Kristus, Sang Sabda yang telah menjadi daging, Sang Roti Hidup dan Sang Imam Agung. Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:
“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)
Maka keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria.[32]
Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)
Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “Qui conceptus est de Spiritu Sancto.” (D 86, 256,993)
Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya (De fide)
Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum (Ep 28,2), disetujui oleh Konsili di Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus (Enchiridion 34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.
Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan (De fide).
Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran (649) menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34) (Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.
V. Lectio Divina
Walaupun pendekatan pengetahuan akan Tradisi Suci adalah sangat penting, namun pendekatan penghayatan Sabda dalam relasi pribadi dengan Tuhan juga tak kalah penting. Oleh karena itu, Bapa Gereja dan konsili-konsili Gereja mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa dalam membaca Kitab Suci. Lebih lanjut, Verbum Domini menekankan untuk membaca Kitab Suci dalam dialog dengan Tuhan[33]. St. Agustinus mengatakan “Your prayer is the word you speak to God. When you read the Bible, God speaks to you; when you pray, you speak to God”[34] Dengan demikian, orang yang membawa Sabda Allah dan merenungkannya di dalam doa, maka menjadi suatu percakapan yang begitu intim dan personal antara seseorang dengan Tuhan, yang pada akhirnya akan membaca seseorang pada kesempurnaan kehidupan Kristiani. Namun, dokumen yang sama mengingatkan agar kita tidak boleh terjebak pada interpretasi pribadi, namun harus teks-teks di dalam Kitab Suci harus senantiasa dimengerti dalam kesatuan dengan Gereja.
1. Pengertian
Tradisi Gereja Katolik mengenal apa yang disebut sebagai “lectio divina” untuk membantu kita umat beriman untuk sampai kepada persahabatan yang mendalam dengan Tuhan. Caranya ialah dengan mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. “Lectio” sendiri adalah kata Latin yang artinya “bacaan”.[35] Maka “lectio divina” berarti bacaan ilahi atau bacaan rohani. Bacaan ilahi/ rohani ini terutama diperoleh dari Kitab Suci. Maka, lectio divina adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci untuk mencapai persatuan dengan Tuhan Allah Tritunggal. Di samping itu, dengan berdoa sambil merenungkan Sabda-Nya, kita dapat semakin memahami dan meresapkan Sabda Tuhan dan misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui Kristus Putera-Nya. Melalui lectio divina, kita diajak untuk membaca, merenungkan, mendengarkan, dan akhirnya berdoa ataupun menyanyikan pujian yang berdasarkan sabda Tuhan, di dalam hati kita. Penghayatan sabda Tuhan ini akan membawa kita kepada kesadaran akan kehadiran Allah yang membimbing kita dalam segala kegiatan kita sepanjang hari. Jika kita rajin dan tekun melaksanakannya, kita akan mengalami eratnya persahabatan kita dengan Allah. Suatu pengalaman yang begitu indah tak terlukiskan!
2. Empat hal dalam proses lectio divina
Meskipun terjemahan bebas dari kata lectio adalah bacaan, proses yang terjadi dalam lectio divina bukan hanya sekedar membaca. Proses lectio divina ini menyangkut empat hal, yaitu: lectio, meditatio, oratio dan contemplatio.[36]
a. Lectio
Membaca di sini bukan sekedar membaca tulisan, melainkan juga membuka keseluruhan diri kita terhadap Sabda yang menyelamatkan. Kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, untuk berbicara kepada kita, dan menguatkan kita, sebab maksud kita membaca bukan sekedar untuk pengetahuan tetapi untuk perubahan dan perbaikan diri kita. Maka saat kita sudah menentukan bacaan yang akan kita renungkan (misalnya bacaan Injil hari itu, atau bacaan dari Ibadat Harian), kita dapat membacanya dengan kesadaran bahwa ayat-ayat tersebut sungguh ditujukan oleh Tuhan kepada kita.
b. Meditatio
Meditatio adalah pengulangan dari kata-kata ataupun frasa dari perikop yang kita baca, yang menarik perhatian kita. Ini bukan pelatihan pemikiran intelektual di mana kita menelaah teksnya, tetapi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Allah, pada saat kita mengulangi dan merenungkan kata-kata atau frasa tersebut di dalam hati. Dengan pengulangan tersebut, Sabda itu akan menembus batin kita sampai kita dapat menjadi satu dengan teks itu. Kita mengingatnya sebagai sapaan Allah kepada kita.
c. Oratio
Doa adalah tanggapan hati kita terhadap sapaan Tuhan. Setelah dipenuhi oleh Sabda yang menyelamatkan, maka kita memberi tanggapan. Maka seperti kata St. Cyprian, “Melalui Kitab Suci, Tuhan berbicara kepada kita, dan melalui doa kita berbicara kepada Tuhan.” Maka dalam lectio divina ini, kita mengalami komunikasi dua arah, sebab kita berdoa dengan merenungkan Sabda-Nya, dan kemudian kita menanggapinya, baik dengan ungkapan syukur, jika kita menemukan pertolongan dan peneguhan; pertobatan, jika kita menemukan teguran; ataupun pujian kepada Tuhan, jika kita menemukan pernyataan kebaikan dan kebesaran-Nya.
d. Contemplatio
Saat kita dengan setia melakukan tahapan-tahapan ini, akan ada saatnya kita mengalami kedekatan dengan Allah, di mana kita berada dalam hadirat Allah yang memang selalu hadir dalam hidup kita. Kesadaran kontemplatif akan kehadiran Allah yang tak terputus ini adalah sebuah karunia dari Tuhan. Ini bukan hasil dari usaha kita ataupun penghargaan atas usaha kita. St. Teresa menggambarkan keadaan ini sebagai doa persatuan dengan Allah/ prayer of union di mana kita “memberikan diri kita secara total kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya kehendak kita kepada kehendak-Nya.”[37]
Ke-empat fase ini membuat kelengkapan lectio divina. Jika lectio diumpamakan sebagai fase perkenalan, maka meditatio adalah pertemanan, oratio persahabatan dan contemplatio sebagai persatuan.
3. Bagaimana caranya memulai lectio divina
Karena maksud dari lectio divina adalah untuk menerapkan Sabda Allah dalam kehidupan kita, dan dengan demikian hidup kita diubah dan dipimpin olehnya, maka langkah-langkah lectio divina adalah sebagai berikut:
1. Ambillah sikap doa, bawalah diri kita dalam hadirat Allah. Resapkanlah kehadiran Tuhan di dalam hati kita. Mohonlah agar Tuhan sendiri memimpin dan mengubah hidup kita melalui bacaan Kitab Suci hari itu.
2. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami perikop itu dengan pengertian yang benar.
3. Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama, jika mungkin ulangi lagi sampai beberapa kali.
4. Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang disampaikan dalam perikop tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepadaku?”
5. Tutuplah doa dengan satu atau lebih resolusi/keputusan praktis yang akan kita lakukan, dengan menerapkan pokok-pokok ajaran yang disampaikan dalam perikop tersebut di dalam hidup dan keadaan kita sekarang ini.
6. Resapkanlah kehadiran Tuhan di sepanjang aktivitas kita sehari itu. Dengan kesadaran ini kita dapat selalu mengarahkan dan mempersembahkan segala sesuatu yang kita lakukan hari itu demi kemuliaan nama-Nya.
4. Contoh merenungkan Kitab Suci dengan lectio divina
Mari kita melihat bacaan Injil dari Mat 18:21-19:2. Di dalam perikop tersebut diceritakan perumpamaan tentang pengampunan. Pada saat kita merenungkan perikop ini, maka kita dapat bertanya pada diri sendiri, apakah yang Tuhan inginkan agar kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari?
Maka kita bisa membayangkan salah satu tokoh dalam perikop itu, misalnya, kita menjadi hamba itu yang berhutang sepuluh ribu talenta. Namun oleh belas kasihan raja [yaitu Tuhan], maka hutang hamba itu dihapuskan. Namun kemudian kita berjumpa dengan orang yang telah menyakiti hati kita, dan kita merasa sulit untuk mengampuni. Dengan demikian, kita bersikap seperti hamba itu, yang walaupun sudah diampuni dan dihapuskan hutangnya, namun tidak dapat/ sukar mengampuni orang lain. Mari dengan jujur melihat, apakah kita pun pernah atau sering bersikap seperti hamba yang tidak berbelas kasihan ini? Siapakah kiranya orang yang Tuhan inginkan agar kita ampuni? Tanyakanlah kepada Tuhan dalam hati, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku, adakah aku pernah bersikap demikian? Siapakah yang harus kuampuni…?
Sambil terus merenungkan ayat demi ayat dalam perikop tersebut, bercakap-cakaplah dengan Tuhan dalam keheningan batin. Mungkin Tuhan ingin mengingatkan kita akan ayat ini, “Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti Aku telah mengasihani engkau?” (Mat 18:33). Jika ayat itu yang sungguh berbicara pada kita hari ini, maka kita mengingatnya dan mengulanginya kembali dalam hati, sebagai perkataan Tuhan yang ditujukan kepada kita. Dan semakin kita merenungkannya, semakin hiduplah perkataan itu di batin kita, dan bahkan kita dapat mendapat dorongan untuk menerapkannya.
Atau jika pada saat ini kita masih terluka atas perlakuan seseorang kepada kita, maka, kitapun dapat membawanya ke hadapan Kristus. Kita dapat pula menyatakan kepada-Nya, betapa kita ingin mengampuni, namun rasa sakit masih begitu mendalam dan nyata dalam hati kita. Maka, mungkin ayat yang berbicara adalah beberapa ayat sesudahnya yang berkata, “Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana.” (Mat 19:2). Kita dapat membayangkan bahwa kita berada di antara orang yang berbondong-bondong itu, dan memohon agar Ia menyembuhkan luka-luka batin kita. Biarlah ayat Mat 19:2 meresap dalam hati kita, dan kita ulangi berkali-kali sepanjang hari, “…. dan Tuhan Yesus-pun menyembuhkan luka-luka batinku di sana.” Biarkan jamahan Tuhan yang menyembuhkan banyak orang pada 2000 tahun yang lalu menyembuhkan kita juga pada saat ini. Dengan kita mengalami kesembuhan batin, maka sedikit demi sedikit Tuhan membantu kita untuk mengampuni, sebab kekuatan kasih-Nya memampukan kita melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita sebagai manusia.
Memang, pada akhirnya, lectio divina ini tidak akan banyak berguna jika kita berhenti pada meditatio/ permenungan, tapi tanpa langkah selanjutnya. Kita harus menanggapi apa yang Tuhan sampaikan lewat sabda-Nya, dan membuat keputusan tentang apakah yang akan kita lakukan selanjutnya, setelah menerima pengajaran-Nya. Maka langkah berikut, kita dapat mengadakan percakapan/ oratio yang akrab dengan Tuhan Yesus, entah berupa ucapan syukur, pertobatan, atau permohonan, yang semua dilakukan atas dasar kesadaran kita akan besarnya kasih Tuhan kepada kita. Kesadaran akan kasih Kristus inilah yang sedikit demi sedikit mengubah kita, dan mendorong kita untuk memperbaiki diri, supaya dapat mengikuti teladan-Nya, untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita, terutama anggota keluarga kita sendiri: suami, istri, orang tua, dan anak-anak. Kasih-Nya ini pula yang membangkitkan di dalam hati kita rasa syukur, atas pengampunan dan pertolongan-Nya pada kita. Dengan memandang kepada Yesus, kita dapat melihat dengan jujur ke dalam diri kita sendiri, untuk menemukan hal-hal yang masih harus kita perbaiki, agar kita dapat hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid- murid-Nya.
Jika melalui lectio divina akhirnya kita mampu mengalahkan kehendak diri sendiri untuk mengikuti kehendak Allah, maka kita perlu sungguh bersyukur. Sebab sesungguhnya, ini adalah karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup kita. Perubahan hati, atau pertobatan terus menerus yang menghantar kita lebih dekat kepada Tuhan dengan sendirinya mempersiapkan kita untuk bersatu dengan-Nya dalam contemplatio. Dalam contemplatio ini, hanya ada Allah saja di dalam hati dan pikiran kita. Kerajaan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kehendak-Nya sepenuhnya menjadi kehendak kita. “Jadilah padaku ya Tuhan, menurut kehendak-Mu….” Dan dalam keheningan dan kedalaman batin kita masuk dalam persatuan dengan Dia.
Jika arti doa yang sesungguhnya adalah “turun dengan pikiran kita menuju ke dalam hati, dan di sana kita berdiri di hadapan wajah Tuhan, yang selalu hadir, selalu memandang kita, di dalam diri kita,”[38]. Pandangan kepada Yesus ini adalah suatu bentuk penyangkalan diri, di mana kita tidak lagi menghendaki sesuatu yang lain daripada kehendak Allah. Dengan pandangan ini kita mempercayakan seluruh diri kita ke dalam tangan-Nya, dan kita semakin terdorong untuk mengasihi dan mengikuti Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita.
5. Apa buah-buah dari lectio divina?
Buah-buah dari lectio divina adalah compassio dan operatio[39]. Dengan persatuan kita dengan Tuhan, maka kita membuka diri juga untuk lebih memperhatikan dan mengasihi sesama dan ciptaan Tuhan yang lain. Kita juga didorong untuk melakukan tindakan nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan, ataupun untuk selalu mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Dengan demikian perbuatan kita menjadi kesatuan dengan doa kita, atau dengan perkataan lain kita memiliki perpaduan sikap Maria dan Martha (lih. Luk 10:38-42).
6. Mari, memulai perjalanan iman dengan lectio divina
Jika kita membaca pengalaman para orang kudus, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka menerapkan lectio divina dalam kehidupan rohani mereka. Diakui bahwa perjalanan menuju contemplatio bukan sesuatu yang mudah, karena memerlukan disiplin dan kesetiaan kita untuk menyediakan waktu untuk berdoa. Namun demikian, sesungguhnya setiap orang dapat mulai menerapkan lectio divina ini dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang keliru jika berpikir bahwa membaca dan merenungkan Kitab Suci secara pribadi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang tingkat pendidikan yang tinggi tentang Kitab Suci. Kenyataannya, sebagian besar perikop Kitab Suci tidak sulit di-interpretasikan. Bahkan perikop yang mengandung ayat yang sulit sekalipun, akan tetap berguna untuk direnungkan. Maka sesungguhnya, tidak ada alasan bagi kita untuk malas membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kita dapat menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk berdoa dan untuk menjadi penuntun sikap kita sehari-hari. Membaca atau menghafalkan ayat- ayat Kitab Suci adalah sesuatu yang baik, tetapi alangkah lebih baik jika kita meresapkannya dan membiarkan hidup kita terus menerus diubah olehnya. Tentu, ke arah yang lebih baik, agar kita semakin dapat mengikuti teladan Kristus Tuhan kita.
VI. Kesimpulan
Untuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Karena wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci dan keduanya berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan hormat yang sama[40].
Dengan demikian, Kitab Suci harus dibaca dalam terang Tradisi Suci, dengan memperhatikan analogi iman; dan interpretasi suatu ayat dalam Kitab Suci harus memperhatikan artinya dalam kesatuan seluruh Kitab Suci. Selanjutnya, di dalam hal iman dan moral, kita harus menginterpretasikan Kitab Suci dengan menempatkan pemahaman Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada ”pengenalan yang mulia akan Kristus” (Flp 3:8).[41] Ini adalah suatu tantangan buat kita semua yang mengatakan bahwa kita mengenal dan mengasihi Yesus.
Dengan menyadari bahwa penulisan Kitab Suci melibatkan Roh Kudus sebagai Penyebab (auctor) dan sang penulis Kitab, maka tidak dapatlah dikesampingkan faktor- faktor keilahian dalam Kitab Suci, maupun faktor latar belakang penulisnya. Dengan demikian harus dihindari kedua cara interpretasi ini: 1) yang meniadakan faktor keilahian dalam Kitab Suci, dan hanya menganggapnya sebagai buku sejarah (hermenetik sekular); dan 2) yang menganggap ketiadaan faktor latar belakang sejarah, dengan menganggap Kitab Suci sebagai hasil ‘dikte’ dari Roh Kudus tanpa ada keterlibatan sang manusia penulis (fundamentalisme). Dengan melihat adanya kerjasama antara ilham Roh Kudus dan manusia penulisnya, Kitab Suci diartikan dengan menggunakan empat prinsip; yaitu bahwa setiap ayat mempunyai makna literal (apa kejadiannya), allegoris (apa yang harus dipercaya), moral (apa yang harus dilakukan) dan anagogis (apa tujuan akhirnya). Di samping itu, untuk mengetahui keempat arti tersebut, peran gaya bahasa penulis Kitab sangatlah penting untuk dipahami.
Akhirnya, permenungan akan makna Sabda Tuhan dapat dilakukan dengan cara lectio divina, yang terdiri dari empat tahapan yaitu membaca Kitab Suci (lectio), merenungkannya (meditatio), berdoa (oratio), menghayati persatuan dengan Allah (contemplatio). Selanjutnya, buah yang ditunjukkannya adalah belas kasihan dan perbuatan baik (compassio dan operatio) yang membawa kepada pertumbuhan hidup rohani menuju kekudusan dalam persahabatan yang erat dengan Allah dan sesama.
“O, Tuhan Yesus, tambahkanlah di dalam hatiku, kasih kepada-Mu; sehingga aku dapat setia menginginkan persahabatan dengan Engkau melalui doa dan Sabda.”
March 14, 2011 at 7:20 pm
7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Sekarang bandingkan muhammad dengan Paulus,lebih baik mana dalam tingkah lakunya? dan sudah JELAS Paulus tidak mengaku sebagai nabi.
March 14, 2011 at 11:34 pm
Masih mending Muhammad SAW ngaku jadi Nabi terus meluruskan pemahaman orang bahwa Tuhan itu tanpa sekutu seperti yang disebutkan hukum utama berdasarkan firman TUHAN, dari pada Paulus gak ngaku jadi Nabi malah menyimpangkan hukum Tuhan yang utama dengan mengatakan YESUS itu sekutu TUHAN berdasarkan perkataan dusta.
Di mata MUSA dan ISA yang menyerukan hukum utama yang yang pertama, siapakah di antara MUHAMMAD SAW dan pulus yang lebih baik tingkah lakunya?
March 15, 2011 at 12:11 am
nah itu lu bisa bilang paulus gak ngaku nabi,kmrn lu nuduh paulus yang nabi palsu,udah deh ga usah berbelit belit,yang simpel simpel aja,kan katanya islam agam yang simpel,percaya pada satu tuhan,dan percaya pada kata kata yang masuk akal,sekarang yang masuk akal,NABI PALSU=MANUSIA YANG MENGAKU NABI DAN PUNYA MUKJIZAT,ya udah jelas SI MAMAD LAH.SIMPEL KAN???? JANGAN DIBUAT SUSAH.
March 15, 2011 at 5:13 am
Loh, yang bilang Paulus itu bukan nabi kan anda, saya cuma membandingkan mengikuti pernyataan anda:
Sekarang bandingkan muhammad dengan Paulus,lebih baik mana dalam tingkah lakunya? dan sudah JELAS Paulus tidak mengaku sebagai nabi.
Klo anda bilang Paulus ngaku Nabi pasti komentar saya tidak akan seperti ini …
March 13, 2011 at 6:38 pm
MAMAD=NABI PALSU.ISLAM=SERIGALA BERBULU DOMBA.KATOLIK=ANAK DOMBA ALLAH,gereja dan umat di luar KATOLIK=ANAK DOMBA YANG HILANG.
March 14, 2011 at 3:58 am
Jangan mendustai hatimu sendiri.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.Ingat!Hidup ini sangat singkat dan azab Allah itu sangat dahsyat.Di sana nanti tidak ada penolong.Hanyalah kebenaran yang dapat menyelamatkan.
March 14, 2011 at 7:15 pm
seandainya saja islam lebih dulu ada dari Kristen,baru saya akan percaya pada islam,sama saja dengan yahudi yang tidak percaya pada Yesus,karena Yahudi lebih dulu ada dari Kristen.Kita lihat saja agama mana yang akan bertahan samp[ai akhir jaman nanti,Itulah agama yang benar dan saya tetap meyakini bahwa Katolik lah agama yang benar dan akan bertahan sepanjang segala masa,seperti yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus.
March 14, 2011 at 11:26 pm
@Valentine
Ini sih seperti pernyataan Firaun yang klo dibahasakan pake bahasa kita gini dia bilang, ‘seandainya saja laut terbelah ini akan menenggelamkanku, saya akan percaya pada segala perkataan Musa, karena pagan lebih dahulu ada dari ajarannya’
Sayangnya, mungkin apa yang ditunggunya di akhirat tidak seperti yang diharapkannya … persis seperti apa yang terbetik dalam hatihnya pada saat di dunia yang dia kesampingkan …
March 15, 2011 at 12:14 am
Firaun jaman sekarang sudah tidak ada,tapi YAHUDI dan KRISTEN masih ada dan akan TETAP ADA,karena YAHUDI adalah bangsa pilihan TUHAN,dan KRISTEN adalah pengikutNya,KATOLIK adalah GerejaNYA.
March 15, 2011 at 5:16 am
Firaunnya sih memang sudah tidak ada, tinggal muminya saja dan sejarahnya, tapi manusia yang perilakunya seperti dia masih ada dan sudah saya tunjukan. Makanya komentar saya “Ini sih seperti pernyataan Firaun” yang artinya pernyataan anda bukan pernyataan firaun, karena anda bukan firaun, tetapi seperti firaun.
March 14, 2011 at 10:17 pm
@ Valentine
Di dunia bisa saja kamu berkata begitu.Di hadapan Tuhan nanti alasan begitu gak diterima.
March 15, 2011 at 12:10 am
Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (HUUD ayat 105)
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (AL KAHFI (Gua) ayat 49)
Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”. (AL QALAM (KALAM) ayat 31)
Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”. (YUNUS ayat 108)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:15)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:19)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:24)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:28)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:34)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:37)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:40)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:45)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:47)
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS 77:49)
Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa (AL JAATZIYAH (YANG BERLUTUT) ayat 7)
maka dia akan berteriak: “celakalah aku”. (AL INSYIQAAQ (TERBELAH) ayat 11)
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). (AL FURQAAN (PEMBEDA) ayat 28)
Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: “(Al Quraan) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”.
Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.(QS 74:18)
JANGAN BILANG KAMI TIDAK MENGINGATKAN
Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. (FUSHSHILAT (YANG DIJELASKAN) ayat 6)
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quraan ketika Al Quraan itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quraan itu adalah kitab yang mulia. (FUSHSHILAT (YANG DIJELASKAN) ayat 41)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (SURAT AZ ZUMAR (ROMBONGAN-ROMBONGAN) ayat 22)
Berkata Musa kepada mereka: “celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. (THAAHAA ayat 61)
Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). (AL ANBIYAA’ (NABI-NABI) ayat 18)
March 15, 2011 at 12:41 am
Apakah Injil dipalsukan Paulus?
Pertama-tama, jika kita mendengar ada tuduhan-tuduhan seperti itu, janganlah kita terlalu cepat emosi namun sebaliknya juga jangan mudah goyah. Silakan tanyakan sumbernya dari mana rumor itu berasal, dan silakan pula mempelajari dari fakta yang obyektif yang dapat kita peroleh mengenai Kitab Suci (dalam hal ini Injil yang menjadi bagian dari Kitab Perjanjian Baru), sehingga kita dapat semakin memahami duduk masalahnya.
Mari bersama kita melihat fakta-fakta obyektif yang mendukung ke-aslian Injil tersebut:
1. Kesaksian para Bapa Gereja mengenai penulisan kitab Injil memberikan kredibilitas atas ke-otentikan Injil. Menurut kesaksian St. Irenaeus (180 AD), yang menjadi murid dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, dan murid St. Ignatius Martir yang adalah murid langsung dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Dengan demikian, kesaksian St. Irenaeus menjadi sangat penting tentang para penulis Injil. Dalam bukunya yang terkenal Against the Heresies, Buku III, bab 1,1 ia menggarisbawahi asal usul apostolik dari kitab Injil,
“Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita…. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul] diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun [atas mereka] dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita…. Matius… menuliskan Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga memmeneruskan kepada kita secara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Selanjutnya, Yohanes, murid Tuhan Yesus ….juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.”
Hal serupa dituliskan juga oleh Origen (185-254) tentang asal usul Injil, dalam In Matthew. I apud Eusebius, His eccl 6.25.3-6:
“[Injil] yang pertama dituliskan oleh Matius, yang adalah seorang publikan tetapi kemudian menjadi rasul Yesus Kristus, yang menerbitkannya untuk umat Yahudi, dituliskan dalam bahasa Ibrani. [Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:17). Dan ketiga, menurut Lukas, yang menyusunnya untuk umat non-Yahudi, Injil yang dibawakan oleh Rasul Paulus; dan setelah semuanya itu, [Injil] menurut Yohanes.
Dari kesaksian para Bapa Gereja, yaitu Papias, St. Irenaeus, Origen, Eusebius dan St. Jerome, kita mengetahui bahwa St. Matius menuliskan Injilnya untuk umat Yahudi agar mereka dapat bertobat dan mempercayai Kristus sebagai Anak Daud yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Para ahli sejarah seperti Eusebius, Theophylact, Euthymius dan Nicephorus memperkirakan bahwa Injil pertama ini dituliskan sekitar 8-15 tahun setelah kenaikan Kristus ke surga (antara 38-45 AD).
Berikutnya Injil dituliskan oleh Markus dan Lukas yang diperkirakan dituliskan pada jangka waktu yang hampir sama (64-67) dan Yohanes (90-100), dan dari ketiga penulis ini yang memiliki hubungan dengan Rasul Paulus adalah Lukas. Namun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa Paulus memalsukan Injil, karena:
1) Banyaknya saksi yang telah menerima pengajaran dari Injil lainnya (Matius dan Markus), sehingga apa yang dituliskan dalam Injil Lukas (rekan kerja Paulus) justru malah dapat dicek kebenarannya.
2) Sebab, kalau benar dipalsukan, pasti akan ada bukti tertulis juga yang menolak pemalsuan tersebut, mengingat para saksi mata yang menerima pengajaran Yesus maupun para rasul masih hidup. Namun fakta sejarah menunjukkan tak ada satupun tulisan pada jaman itu yang menentang kebenaran Injil, terutama tentang ke-Allahan Yesus dan mukjizat kebangkitan-Nya dari mati. Protes atau ketidakpercayaan akan ke-Allahan dan kebangkitan Yesus baru timbul pada abad-abad berikutnya, yang terkenal misalnya Arianism pada sekitar tahun 320, pada saat generasi para saksi hidup kebangkitan Yesus yang terdiri lebih dari 500 orang itu sudah tidak ada yang hidup. Atau bahkan tulisan jaman sekarang yang menentang kebangkitan Kristus; alibinya hanya berdasarkan hipotesa, karena terpisah jauh [dan tak terseberangi] dengan para saksi dan keadaan yang sesungguhnya.
Suatu kenyataan bahwa suatu legenda tidak mungkin ditulis pada saat saksi mata masih hidup, karena mereka yang menjadi saksi akan dengan mudah mengkoreksi dan menyampaikan hal yang sesungguhnya. Maka Rasul Paulus juga tidak mungkin mengubah isi Injil, karena masih banyaknya saksi hidup tentang pemberitaan Injil tersebut, seperti dikatakannya sendiri dalam 1 Kor 15:6. Justru, karena Injil ini dituliskan oleh orang-orang yang berbeda, di tempat berbeda, namun secara garis besar menceritakan hal yang sama tentang Kristus dan ajaran-Nya, maka kita dapat melihat karya Roh Kudus yang memimpin mereka dalam menuliskan wahyu ilahi tersebut.
2) Sekarang, mari kita melihat, apakah Injil dalam kitab Perjanjian Baru tersebut adalah sungguh dari Allah atau hanya rekayasa manusia.
Pertama, bagaimana kita melihat suatu karya tulis merupakan dokumen sejarah yang otentik?
a. Kita harus menemukan jangka waktu dari ketika kejadian itu ada/ ketika karya itu dituliskan sampai ketika manuskrip pertama ditemukan. Semakin pendek jangka waktunya, maka semakin sedikit kemungkinan kesalahan dan korupsi dari kisah kejadian yang sesungguhnya oleh kesalahan penulisan.
b. Kita harus menemukan berapa banyak manuskrip original yang ada. Semakin banyak manuskrip yang ada tentang kisah kejadian yang sama, terutama jika dilakukan pada waktu yang sama, tetapi pada lokasi yang berbeda, maka akan menambah nilai integritas dan ke-otentikan dokumen.
Sekarang mari kita lihat melihat fakta karya tulis yang penting dalam literatur sejarah:
Karya tulis Kapan ditulis Copy pertama Jangka waktu Jumlah copy
Herodotus 488-428 BC 900 AD 1,300 8
Thucydides 100 AD 1100 1,000 20
Caesar’s Gallic War 58-50 BC 900 AD 950 9-10
Roman History 59 BC-17 AD 900 AD 900 20
Homer (Iliad) 900 BC 400 BC 500 643
Injil dan PB 38-100 AD 130 AD 30-50 5000 ++ Yunani
10,000 Latin, 9,300 bhs lain
Maka kita melihat bahwa dokumen tentang sejarah Romawi ditemukan sekitar 900 tahun atau hampir 1 millenium setelah kejadian terjadi, dan hanya ada 20 copy yang masih eksis. Sedangkan, manuskrip Injil ditemukan sekitar 30 tahun setelah kejadian, dan bahwa terdapat 5000 manuskrip asli dalam bahasa Yunani (dan sekitar 20,000 non-Yunani) yang eksis. Kitab Injil dan Perjanjian Baru yang asli seluruhnya dituliskan dalam bahasa Yunani, karena bahasa Yunani pada saat itu merupakan bahasa yang umum dipakai, bahkan oleh kaum Yahudi. Banyaknya manuskrip Yunani yang asli tersebut dapat membantu mengidentifikasi adanya kelainan teks dan dengan demikian dapat diketahui teks aslinya. Banyaknya teks asli Perjanjian Baru juga tidak mendukung perkiraan bahwa teks tersebut dipalsukan. Dengan melihat tabel di atas, secara obyektif kita melihat bahwa karya tulis sejarah Romawi bahkan terlihat sangat ‘minim’ jika dibandingkan dengan Injil, dari segi ke-otentikannya, akurasi dan integritasnya. Padahal orang jaman sekarang tidak mempunyai kesulitan untuk menerima sejarah Romawi tersebut sebagai kebenaran. Suatu permenungan adalah bagaimana Injil yang secara obyektif lebih ‘meyakinkan’ keasliannya dibandingkan sejaran Romawi malah mengundang perdebatan.
Keaslian Injil juga kita ketahui dari tulisan Bapa Gereja, seperti St. Klemens (95) sudah mengutip ayat-ayat Injil, berarti pada saat itu Injil sudah dituliskan, demikian pula Kisah para rasul, Roma, 1 Korintus, Efesus, Titus, Ibrani dan 1 Petrus. Demikian St. Ignatius (115) telah mengutip ayat Injil Matius, Yohanes, Roma, 1dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 & 2 Timotius dan Titus.
Dari banyaknya manuskrip asli tersebut, maka memang banyak orang menyangka bahwa akan terdapat banyak perbedaan-perbedaan teks. Namun ternyata, fakta menunjukkan tidak demikian. Tingkat kesesuaian manuskrip Perjanjian Baru adalah 99.5 % (dibandingkan dengan Iliad 95%). Kebanyakan perbedaan adalah dari segi ejaan dan urutan kata. Tidak ada perbedaan yang menyangkut doktrin yang penting yang dapat mengubah doktrin Kristiani.
3) Sebenarnya, tuduhan Rasul Paulus yang memalsukan Injil adalah spekulasi kaum skeptik jaman sekarang, seperti Bart Erhman dalam bukunya Misquoting Jesus, atau para tokoh liberal dalam the Jesus Seminar, dan mungkin juga kaum skeptik lainnya yang tidak mempercayai keliahian pesan Injil. Namun sesungguhnya jika mereka mau melihat kepada fakta objektif tentang keberadaan lebih dari 5000 teks asli Yunani Perjanjian Baru, maka sudah selayaknya mereka dapat melihat, bahwa sesungguhnya tidak benar bahwa Injil tidak mempunyai teks asli dan hanya merupakan buatan orang-orang tertentu dan merupakan hasil ‘copy’ dari ‘copy’ yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Meskipun memang terdapat perbedaan teks karena faktor penyalinan yang dilakukan oleh para rahib pada jaman itu, namun perbedaan itu tidak mengandung perubahan ataupun penambahan pernyataan doktrinal. Kanon Kitab Perjanjian Baru (termasuk Injil) telah diterima oleh jemaat awal, yang nyata sejak abad awal abad ke-2. Dan penerimaan secara berkesinambungan pada abad-abad sesudahnya sendiri merupakan bukti yang tak terhapuskan tentang keaslian Injil. Hal ini tidak bisa dihapuskan oleh pandangan seseorang atau sekelompok orang yang ingin membatalkan keseluruhan fakta sejarah, tanpa melihat dengan obyektif betapa kuatnya fakta yang sudah ada tersebut.
4) Ada juga orang-orang yang membandingkan Injil dengan suatu karya tulis lainnya yang dituliskan oleh seorang penulis pada suatu waktu tertentu, atau karya tulis yang pernah mengalami suatu standarisasi. Namun, kita ketahui Injil tidak disusun oleh satu orang, dan tidak ada proses standarisasi yang dibuat oleh satu orang yang dapat dikatakan sebagai penulis ataupun penyalin utama Alkitab. Hal ini seharusnya malah menambah kredibilitas Alkitab, karena meskipun melibatkan jangka waktu ribuan tahun dan banyak orang untuk menuliskannya (tentu atas ilham Roh Kudus) namun dapat menyampaikan isi yang kurang lebih sama, saling mendukung dan melengkapi, dengan tingkat akurasi yang masih tetap sangat tinggi. Sedangkan, jika suatu karya tulis merupakan karya satu orang pada suatu saat tertentu, atau pernah distandarkan oleh satu orang, maka tidak ada yang mengherankan jika karya tersebut konsisten, dan tidak mengandung kesalahan.
Alkitab sendiri yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Baru melibatkan sekitar 2000 tahun penyusunan. Sebelum penemuan penemuan Dead Sea Scroll (1947-1956), teks Perjanjian Lama yang tertua adalah teks Masoretik yang disusun sekitar tahun 800, sedangkan teks Septuagint (terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama) dibuat sekitar abad ke-2 sebelum Masehi. Maka perbandingan antara teks-teks ini yang berselang antara 800-1000 tahun malah memberikan fakta yang sangat kuat, karena ternyata teks-teks tersebut 95% identik, dan hanya mempunyai variasi yang minor, dan hanya sedikit ketidakcocokan. Sedangkan ke-otentikan Perjanjian Baru dapat dilihat jika dibandingkan dengan karya tulis bersejarah lainnya pada jaman itu, seperti terlihat dalam tabel di atas.
Demikian sekilas jawaban saya tentang keaslian kitab Injil.
March 15, 2011 at 1:10 am
Mana pengakuan Yesus di dalam Alkitab bahwa dia beragama Kristen?
Yesus tidak pernah berkata bahwa Dia beragama Kristen. Kristen mulai dipakai di Antiokia (Kis 11:23-26). Jadi yang membuat nama Kristen adalah adalah Barnabas dan Paulus. Kristen hanya disebut 6x (Kis 11:26, Kis 26:28, Rm 16:7, 1 Kor 9:5, 2 Kor 12:2 dan 1 Ptr 4:16).
“Tunjukkan kepada saya, bahwa Bill Gates adalah orang kaya. Kalau dia tidak pernah mengatakan bahwa dia orang kaya, saya tidak akan percaya bahwa dia orang kaya.” Pernyataan seperti ini tidak mendasar, karena kita dapat melihat buktinya bahwa Bill Gates mempunyai uang 58 milyar US$, yang kurang lebih sekitar 60% dari budget negara Indonesia tahun 2008. Organisasi amalnya mempunyai uang sekitar 32% dari total budget negara indonesia selama satu tahun. Kalau kita tetap bersikeras bahwa Bill Gates tidak kaya, karena Bill Gates tidak pernah mengatakan bahwa dia kaya walaupun bukti-bukti di atas sudah menunjukkan bahwa Bill Gates orang yang sangat kaya, rasanya keberatan seperti itu kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Atau contoh yang lain, seorang anak mengatakan “saya tidak percaya bahwa orang tua saya mencintai saya, karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka mencintai saya.” Namun orang tua dari anak itu, sebenarnya begitu memperhatikan, berlaku lemah lembut, selalu ada di samping anak itu kalau anak itu mengalami kesulitan, mencukupi semua kebutuhan anak itu, meluangkan waktu untuk bercanda, bercerita, dll.
Contoh yang mungkin lebih gamblang adalah seseorang yang bertanya kepada seorang suami dan mengatakan “Saya tidak akan percaya bahwa istri kamu adalah seorang wanita, karena dia tidak pernah mengatakan bahwa dia seorang wanita.” Tentu saja sang suami tidak terpengaruh, karena sang suami tahu persis bahwa istrinya adalah seorang wanita, karena istrinya telah melahirkan beberapa anak, dll.
Begitu mudah orang untuk mengatakan bahwa “saya kaya, saya mengasihi engkau”, namun belum tentu terbukti. Nah dalam hal ini, Tuhan kita yang menjelma menjadi manusia, telah menunjukkannya dalam segala perkataan dan juga dalam perbuatan, bahwa dia adalah Allah yang benar-benar mengasihi umat-Nya. Mana yang lebih besar tanda kasihnya “perkataan saya mengasihi engkau” atau “mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia”? Oleh karena itu, jawaban-jawaban berikut ini tidak akan mencoba untuk mencari-cari perkataan seperti yang diinginkan oleh penanya, namun membuktikan apa yang sesungguhnya mau ditanya.
March 15, 2011 at 1:11 am
Tentang pengakuan Yesus bahwa Dia beragama Kristen.
Yesus memang tidak pernah mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini untuk mendirikan agama Kristen. Namun Yesus mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia dari belenggu dosa (Yoh 3:17; Yoh 12:47). Yesus juga mendirikan Gereja, seperti yang dikatakan-Nya di Mat 16:18, bahwa Dia mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus (batu karang) dan berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Dan juga begitu banyak perkataan akan “kerajaan Allah”, yang sebenarnya merujuk kepada “Gereja”. Nah, sampai di sini, kita setuju bahwa Yesus mendirikan Gereja. Apakah nama Gereja-Nya? Dalam perkembangannya, memang betul bahwa nama Kristen mulai dipakai di Antiokia (Kis 11:23-26). Dan agama Kristen terus berkembang, yang mendasari ajarannya berdasarkan akan perkataan dan perbuatan Kristus.
Dan Gereja Katolik mulai dipakai pada tahun 110 AD oleh St. Ignasius, seperti yang tertulis dalam suratnya kepada Smyrnaeans (jemaat di Smyrna), dimana dia mengatakan bahwa dimana uskup ada, disitu juga umat berada, dan dimana Jesus ada, disitu juga ada Gereja Katolik. Dan ini terus diteguhkan dengan surat dari St. Polikarpus, dll, sampai saat ini. Dan begitu banyak surat-surat yang ada untuk membuktikan hal ini.
Jadi, sampai sini, kita tahu bahwa Yesus telah mendirikan Gereja, kemudian berkembang dengan nama Kristen, yang dimanifestasikan dalam Gereja Katolik. Nah, Yesus dalam banyak kesempatan mengatakan “ikutlah aku” (Mat 4:19; Mat 9:9; Mk 1:17; Lk 9:59; Yoh 1:43). Seseorang yang mengikuti Kristus disebut “Kristen” atau “Christian“. Jadi Yesus tidak mengakan Dia beragama Kristen, namun Dia mengatakan “Ikutlah Aku”. Jadi, Yesus Kristus memang bukan beragama Kristen, namun Dia adalah pendiri agama Kristen; karena Ia memberikan perintah untuk mengikuti Dia. Pengikut Kristus inilah yang disebut Kristen.
March 15, 2011 at 1:13 am
Sdr Valentine…7an sy hanya akan meluruskan aja, sdr pernah berkata “saya tetap meyakini bahwa Katolik lah agama yang benar”. umat katholik sampai saat ini masih berpaling pd arwah mis bunda maria atau para santo,ada yg minta supaya sdrnya atau orang tuanya yg telah meninggal bisa segera keluar dari api penyucian apa itu sdh benar? padahal Tuhan telah berfirman dlm Imamat 19:31 “Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka,Akulah TUHAN, Allahmu”.
March 16, 2011 at 5:07 pm
@ suka kebenaran.Bagi umat Katolik,kitab dalam perjanjian lama hanya diperuntukkan bagi orang Isrel dan Yahudi,karena itu merupakan perjanjian yang”lama” antara Tuhan dgn bangsa Isrel,namun sekarang ada Perjanjian “Baru” antara Tuhan dan semua manusia yaitu digenapi dalam diri Yesus,jadi buat orang Protestan yang masih mengutip ayat dalam Perjanjian Lama,itu hanya relevan dgn bangsa Israel/Yahudi,namanya aja kitab Perjanjian “lama”
March 15, 2011 at 1:15 am
Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi
Kalau beberapa orang dalam tingkatan direktur pabrik mobil Toyota mengatakan bahwa 20 tahun lagi – semua produk mobil Toyota tidak akan menggunakan bensin, namun menggunakan tenaga surya, dan juga dapat bergerak dengan kecepatan 200 km/jam, ditambah dengan kemampuan yang lain – maka kita akan percaya, karena yang mengatakan adalah para pembuat mobil tersebut. Kalau yang mengatakan berita itu adalah saya sendiri, orang tidak akan percaya, karena saya tidak bekerja di Toyota. Kalau yang mengatakan seorang direktur dari Toyota, mungkin kita masih mempertanyakan kebenarannya. Kalau ada beberapa direktur memberikan pernyataan yang berlainan, maka kita masih akan bertanya-tanya. Namun kalau yang mengatakan beberapa orang dan orang-orang tersebut menduduki posisi yang begitu penting dalam perusahaan Toyota, dan pernyataan mereka saling melengkapi dan tidak bertentangan satu sama lain, maka kita akan percaya. Kita akan lebih yakin lagi, kalau pernyataan ini bukan hanya satu kali, namun dibuat berkali-kali, terutama kalau mereka mengundang banyak wartawan, sehingga semua pernyataan mereka dapat ditulis oleh wartawan dan semua orang dapat membacanya. Kalau kita masih tidak percaya dengan hal ini, maka orang lain akan mempertanyakan ketidaklogisan dalam cara berfikir kita.
Hal ini sama seperti yang terjadi dengan Nubuat. Nubuat di dalam Perjanjian Lama adalah salah satu dari alasan “motive of credibility” (motive yang dapat dipercaya), mengapa kita percaya akan Yesus Kristus sebagai Tuhan. Nubuat ini begitu penting, karena ini membuktikan bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan, sehingga manusia dapat mengenali dan menantikan kedatangan-Nya.
Kalau nubuat ini dibuat hanya satu kali, atau beberapa kali namun bertentangan satu sama lain, maka kita akan mempertanyakan kebenarannya. Namun nubuat tentang kedatangan Yesus diberitakan lebih dari 20 abad sebelum kedatangannya dan dilakukan secara terus-menerus. Kalau para nabi yang menubuatkan kurang dapat dipercaya, misalkan dapat disuap, atau tidak mempunyai karakter yang baik, kita mungkin masih dapat mempertanyakan kebenarannya. Namun, kita melihat bahwa para nabi yang memberitakan kedatangan Yesus adalah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan sendiri, yang mempunyai prinsip yang teguh sampai pada titik mau mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan.
Kalau berita yang disampaikan oleh para nabi saling bertentangan, kita akan mempertanyakan kebenarannya. Namun yang terjadi adalah ratusan nubuat yang dibuat oleh para nabi dalam rentang waktu lebih dari 20 generasi memberikan gambaran yang tidak bertentangan, namun saling melengkapi sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang siapa itu Mesias.
Kalau nubuat ini dibuat oleh Gereja Katolik, mungkin orang akan berkata bahwa itu semua adalah karangan Gereja untuk mendukung ajarannya. Namun Kitab Perjanjian Lama adalah kitab yang dipercaya dan dipegang teguh oleh ajaran Yahudi, yang sebenarnya mereka juga tidak mempercayai Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah. Dengan ini, sebenarnya nubuat ini lebih dapat dipercaya lagi, karena bebas dari usaha pembenaran diri.
Saya mencoba untuk memikirkan apa lagi alasan yang dapat diberikan untuk menyanggah kebenaran ini. Mungkin ada yang mengatakan bahwa semua nubuat itu hanya karangan belaka. Namun kalau kita renungkan, kalau semua itu hanya merupakan suatu fantasi dan karangan belaka, sungguh mustahil untuk mempertahankan suatu karangan dalam kurun waktu 2000 tahun, dan juga nubuat tersebut tidaklah statik, namun terus berkembang, saling melengkapi dan tidak bertentangan. Lebih lagi, pemenuhan kebenaran bahwa akan kedatangan Yesus juga dicatat dalam Kitab Suci agama Islam, yang mengatakan: Yesus lahir dari perawan Maria, Yesus melakukan banyak mukjijat, dll. Jadi pemenuhan kebenaran ini bukan saja dicatat oleh Kitab Suci umat Nasrani, namun juga dalam Kitab Suci kaum Muslim.
Semua pemikiran di atas membuat orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, yang menjadi pemenuhan janji Allah. Apakah mungkin untuk percaya kepada nubuat tersebut, namun tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan? Hal ini tidaklah mungkin, karena ada banyak dari nubuat-nubuat tersebut yang hanya mungkin terjadi, kalau pemenuhannya hanya pada diri Allah. Mari kita teliti akan nubuat yang telah diberikan oleh Tuhan melalui para nabi, yang pemenuhan dari semua nubuat itu hanya ada pada Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia.
Waktu, tempat, dan cara kedatangan Mesias
Kedatangannya telah diberitakan secara terus-menerus dari asal mula dunia ini. Mesias akan datang dari keturunan Abraham, Iskak, dan Yakub, dan akhirnya Dia akan datang dari Isai, dari keturunan Daud. Dimana Mesias akan lahir? Nabi Mikha telah memberikan lokasi yang begitu tepat akan kedatangan Mesias, yaitu di salah satu desa yang terkecil di daerah Yudea, Betlehem Ephrathah.
Untuk meyakinkan manusia agar tidak sampai salah mengenali kedatangan Mesias, maka Tuhan telah memberitakan waktu dan tempat kedatangan-Nya. Karena Sang Mesias diberitakan datang dari suku Yehuda dan dari keturunan Daud, maka dapat kita simpulkan bahwa Mesias akan datang sebelum suku Yehuda dan keturunan Daud lenyap. Sejarah mencatat bahwa suku keturunan Yehuda dan keturunan Daud lenyap setelah uskup ke dua dari Yerusalem, pengganti Yakobus, yang kemungkinan menjadi uskup sampai kira-kira akhir abad pertama. Akhirnya, melalui nabi Daniel, Tuhan memberitahukan bahwa Mesias akan datang 70 minggu tahun (490 tahun) dari waktu pembangunan kembali Yerusalem (kira-kira tahun 458 BC) , dimana kalau dihitung akan membawa kita ke sekitar tahun 30 AD, waktu penyaliban Kristus. Dan, agar manusia tahu secara persis kedatangan Sang Mesias, Tuhan memberikan tanda yang lain, dimana dikatakan bahwa Mesias akan dilahirkan dari seorang perawan. Tanda ini adalah suatu tanda supernatural (di luar hukum alam) yang sungguh tepat, karena Sang Mesias adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Kita dapat menyimpulkan disini, bahwa garis keturunan, lokasi kedatangan-Nya, waktu, bagaimana Dia akan datang ke dunia ini, hanya dapat dipenuhi dalam diri Kristus, yang datang dari garis keturunan Daud, yang lahir dari Bunda Maria di Bethlehem, pada waktu sebelum suku Yehuda dan keturunan Daud lenyap.
Tuhan juga memberikan karakter-karakter spesifik seorang Mesias. Nabi Mikha mengatakan bahwa Sang Mesias sudah datang dari jaman purbakala, namun Mesias akan datang dan lahir di Bethlehem. Keallahan dari Anak Manusia dan Anak Allah telah dinubuatkan oleh nabi Daniel, dimana dia melihat bahwa Anak Manusia diberikan kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja dan segala suku bangsa akan mengabdi kepada-Nya. Roh Tuhan juga akan ada pada-Nya, seperti Roh Hikmat dan Pengertian, Roh Nasihat dan keperkasaan, Roh Pengenalan dan Takut akan Tuhan. Memang, Mesias datang ke dunia ini adalah Tuhan, dan lambang pemerintahan ada di atas bahu-Nya, sehingga nabi Yesaya mengatakan bahwa Sang Mesias akan diberikan gelar: Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Roh Kebijaksanaan dan Gelar ke-Ilahian Mesias sebagai Penasehat Ajaib mengingatkan kita akan suatu pribadi dari Kebijaksanaan Allah yang digambarkan dalam buku Amsal. Akhirnya, Nabi Yesaya dan Zakariah menggambarkan Sang Mesias sebagai sosok dengan Roh kelemahlembutan dan penuh belas kasih. Dan kalau kita perhatikan, itu hanya dapat dipenuhi dalam diri Kristus, Anak Allah yang menjadi manusia, lahir di Betlehem. Dia adalah penggenapan yang penuh dari Roh Allah, sehingga gelar-gelar Ilahi diberikan kepada Yesus, seperti yang diberitakan oleh Nabi Yesaya. Memang Yesus adalah Tuhan. Walaupun segala kekuasaan, kemuliaan, dan kerajaan diberikan kepada Kristus, Dia datang ke dunia dengan Roh yang lemah lembut dan penuh belas kasih. Hal ini terpenuhi dalam diri Kristus yang datang ke dunia ini untuk menyelamatkan pendosa, bukan dengan senjata di tangan, namun dengan hati yang penuh kasih, yang tidak mengendarai kuda perang, namun datang ke Yerusalem dengan keledai.
Mesias dinubuatkan akan menjalankan tiga misi, sebagai Raja, Nabi, dan Imam.
Nubuat yang lain, yang diberikan di dalam Perjanjian Lama adalah tiga misi Kristus, yaitu sebagai Raja, Nabi, dan Imam. Yakub memberikan berkat kepada Yehuda dan mengatakan bahwa dari keturunan tonggak kerajaannya Mesias akan datang untuk mendirikan kerajaan-Nya, dimana semua bangsa akan tunduk kepada-Nya. Dia akan seperti bintang, dimana semua kekuasaan diberikan kepada-Nya dan pemerintahan ada di pundak-Nya. Dan memang dalam kenyataannya, Yesus memenuhi misi-Nya sebagai raja di dunia ini dengan mengatur semua orang dan semua bangsa. Dia sendiri meminta kepada para murid-Nya dan orang-orang untuk mengikuti Dia, dan juga mengikuti segala perintah-Nya, karena Dia adalah Raja yang sesungguhnya.
Mesias juga adalah Nabi, seperti yang dikatakan oleh nabi Musa bahwa Tuhan akan memberikan seorang nabi seperti nabi Musa. Tidak ada gunanya Tuhan memberikan nabi yang baru dengan hukum dan peraturan yang sama. Namun, Tuhan memberikan Nabi yang baru, dimana Dia akan memberikan hukum yang baru, yang lebih sempurna daripada Musa. Kita dapat melihat hukum yang diberikan oleh Yesus pada saat Dia mulai pemberitaan Kerajaan Surga, yaitu dengan memberikan Delapan Sabda Bahagia. Hukum ini bukan seperti hukum yang diberikan oleh nabi-nabi sebelum kedatangan Kristus, atau bukan hukum yang dikenal oleh dunia dan manusia, karena Kristus adalah Tuhan.
Mesias juga menjadi Imam, yang berlaku untuk selama-lamanya menurut Melkizedek, dimana dipenuhi Yesus pada saat dia merayakan Perjamuan Terakhir. Dan persembahan ini mencapai kesempurnaannya dengan persembahan diri-Nya sendiri dengan kematian-Nya di kayu salib. Yesus, menjadi satu-satunya pengantara antara manusia dan Tuhan, yang memeteraikan perjanjian yang baru dengan darah-Nya sendiri di kayu salib. Dengan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Perjanjian Lama memberikan nubuat yang begitu akurat akan tiga misi Kristus sebagai Raja, Nabi, dan Imam.
Nubuat akan kehidupan, kematian, kebangkitan, dan Kemenangan Mesias
Setelah memberikan gambaran akan tiga misi Kristus, Tuhan, melalui nabi-nabi menubuatkan akan kehidupan, kematian kebangkitan, dan kemenangan Sang Mesias. Kehidupan-Nya akan diisi dengan perbuatan-perbuatan dan mukjijat-mukjijat yang ajaib, seperti: yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh berjalan, dan yang bisu akan bernyanyi.
Meskipun orang melihat kuasa dan mukjijat yang dilakukan, orang-orang akan menolak-Nya dan Dia akan menderita dengan cara yang begitu kejam, dimana Yakub menggambarkannya bahwa Dia akan melumuri jubahnya dengan darah. Daniel memperkuat nubuat ini dengan mengatakan bahwa Mesias akan disingkirkan, walaupun Dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dan nabi Yesaya menggambarkan-Nya sebagai Hamba yang menderita (the Suffering Servant). Kemudian, nabi Yesaya melanjutkannya dengan memberikan gambaran yang begitu jelas tentang bagaimana Mesias menderita. Dinubuatkan juga bahwa Mesias harus menderita untuk menebus dosa manusia sehingga manusia akan menerima keselamatan. Kemudian, Daud di dalam Mazmur dan Kitab Kebijaksanaan memberikan drama penyaliban Mesias. Namun, Daud juga menceritakan kebangkitan Mesias, ketika Daud mengatakan bahwa Tuhan tidak akan menyerahkan-Nya ke dunia orang mati. Walapun Mesias mengalami semua penderitaan yang begitu berat, Tuhan telah memberitakan kepada Adam dan Hawa, dan juga kepada ular, bahwa Mesias akan memenangkan pertempuran dengan meremukkan kepala Setan melalui penderitaan Kristus, yang dilambangkan dengan meremukkan tumit-Nya. Semua nubuat ini dipenuhi oleh Kristus dalam kehidupan-Nya, pelayanan-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya di kayu salib, dan kebangkitan-Nya.
Gereja Katolik dinubuatkan sebagai sakramen keselamatan untuk seluruh dunia.
Memang sesungguhnya, melalui penderitaan Mesias, Tuhan telah mengatakannya dari semula bahwa Mesias akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa. Lebih lanjut, Daniel 9 menekankan bahwa kedatangan Mesias adalah untuk menghancurkan dosa dan membawa keadilan sejati. Dengan cara ini, maka Kerajaan Allah dapat terjadi di dunia ini dengan Kristus sendiri menjadi raja, batu penjuru, dimana Tuhan sendiri memberikan-Nya segala kekuasaan dan kemuliaan, dan kerajaan, sehingga semua orang dari segala penjuru dan bangsa dapat memuji dan menyembah-Nya. Dan Gereja menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa.
Sang Mesias memberikan Perjanjian Baru
Efek yang lain dari kedatangan Mesias ke dunia adalah Dia akan menetapkan Perjanjian Baru. Dan Perjanjian yang baru ini tidak ditulis di atas batu, namun ditulis di setiap hati manusia. Dan ini mencapai pemenuhannya melalui pelayanan yang diberikan melalui Gereja dengan memberikan rahmat kekudusan dan berkat Roh Kudus yang diterimakan di dalam Sakramen Permandian dan Penguatan.
Kesimpulan
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa begitu banyak nubuat tentang Mesias yang diberitakan oleh para nabi dalam kurun waktu lebih dari 20 generasi. Tuhan sendiri telah mempersiapkan kedatangan-Nya secara perlahan-lahan dan terus menerus dari awal mula, sehingga manusia akan dapat mengenali dan mempersiapkan kedatangan-Nya dengan pertobatan hati seperti yang diberitakan oleh Yohanes Pemandi.
Dengan mempelajari semua nubuat tersebut di atas secara jujur, sungguh sangat sulit untuk sampai tidak mengenali bahwa semua nubut tersebut hanya bermuara ke satu titik, lebih tepatnya satu pribadi, yaitu Yesus Kristus, Anak Allah yang menjadi manusia dan membawa keselamatan bagi seluruh bangsa. Kedatangan Yesus yang telah diberitakan sebelumnya ini membedakan Yesus dengan para pemimpin agama yang lain. Semua nubuat kedatangan Yesus ini menjadi salah satu “motives of credibility“, motif yang dapat dipercaya bahwa Yesus adalah benar-benar Mesias, Anak Allah, yang dijanjikan.
Ringkasan dari nubuat tentang Mesias dalam kurun waktu 2000 tahun lebih, yang dipenuhi dalam diri Yesus:
A. Kedatangan Mesias
1. Dia akan datang dari keturunan Abraham, Iskak, Yakub, dan Daud.
Mesias akan datang dari keturunan Abraham, Iskak, Yakub (Kej 2:3; 18:8; 22:18; Kej 26:4; Kej 28:13-15).
Mesias akan datang dari tunggul Isai (Yes 11:1-2). Isai adalah bapa dari Daud (1 Sam 16:19).
Seorang nabi dari Moab, Bileam, bernubuat tentang kedatangan Mesias yang akan datang dari keturunan Yakub (Bil 24-17-19).
Mesias akan datang dari keturunan Daud dari suku Yudah, dan Tuhan menjanjikan bahwa tahta-Nya akan berlangsung untuk selamanya (2 Sam 7:12-16; Yer 23:5; Maz 89:35-37).
Pemenuhan janji ini adalah dalam diri Kristus, seperti yang ditunjukkan dalam garis keturunan yang diberikan oleh Matius dan Lukas (Mat 1:1-17; Luk 3:23-38). Perbedaan garis keturunan yang dikemukakan antara Matius dan Lukas, dikarenakan Matius membuat garis keturunan St. Yosef dan Lukas melihatnya dari Bunda Maria. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai bagaimana sebenarnya garis keturunan ini tidak bertentangan, silakan klik disini (dalam bahasa Inggris).
Untuk menyimpulkan bahwa kerajaan yang dijanjikan oleh Tuhan adalah kerajaan Daud atau Salomo adalah tidak mungkin, karena kerajaan mereka telah runtuh. Pemenuhan janji ini hanya ada pada diri Kristus, dimana kerajaan-Nya akan terus ada sampai akhir jaman. Dan kerajaan-Nya di dunia ini adalah Gereja Katolik, dimana Yesus sendiri menjanjikan akan melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman (Mat 16:16-20).
2. Dia akan datang di Bethlehem.
Betlehem Efrata, di daerah Yudea adalah lokasi yang sangat spesifik untuk kelahiran Mesias, seperti yang diberitakan oleh nabi Mikah (Mic 5:2).
Yesus adalah pemenuhan janji ini, karena Yesus lahir di Betlehem di daerah Yudea (Mat 2:6; Yoh 7:42; Luk 2:4). Hal ini menjadi begitu penting, karena dengan mengatakan Mesias lahir di Betlehem, sama saja kalau di Indonesia mengatakan bahwa Mesias akan lahir di Mojokerto di daerah Jawa Timur. Jadi Tuhan memilih tempat yang begitu kecil, yang secara manusia tidak mungkin terjadi, namun semua ini terpenuhi dalam diri Yesus.
3. Dia akan datang pada waktunya, yaitu sebelum kehancuran Yerusalem.
Sang Mesias akan datang sebelum suku Yehuda benar-benar lenyap (Kej 49:8-11; Bil 24:17-19).
Karena dinubuatkan bahwa Mesias akan datang dari keturunan Daud, suku Yehuda, maka Mesias akan datang sebelum keturunan Daud lenyap (2 Sam 7:12-16; Yer 23:5; Maz 89:35-37). Kita tahu bahwa pada tahun 70AD, Yerusalem mengalami kerusakan total karena kepungan tentara Roma dibawah jendral Titus, dimana kehancuran ini telah dinubuatkan oleh Yesus sendiri (Mat 24:3-21).
Malaikat Gabriel mengatakan kepada nabi Daniel bahwa Mesias akan datang dalam waktu 70 minggu tahun dari saat pembangunan kembali Yerusalem (Dan 9:1-27).
70 minggu tahun (490 tahun) dari saat pembangunan kembali Yerusalem (sekitar tahun 458 BC), membawa kita kepada sekitar tahun 32 AD, tahun dimana Yesus disalibkan.
Semua nubuat di atas dipenuhi oleh Yesus Kristus, keturunan Daud, yang berkarya sampai tahun 33 AD. Jadi Mesias datang sebelum kehancuran total Yerusalem tahun 70 AD.
4. Dia akan dilahirkan oleh seorang perawan.
Mesias akan lahir dari seorang perawan, seperti yang diberitakan kepada raja Ahab oleh nabi Yesaya (Yes 7:13-14).
Pemenuhan janji ini adalah Yesus Kristus, yang lahir dari perawan Maria. (Luk 1:26-38). Hal ini juga dicatat dalam Kitab Suci agama Islam.
B. Karakter dari Mesias yang dijanjikan
1. Dia adalah abadi
Nabi Mikah menubuatkan tentang Mesias, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala, namun Dia akan lahir di Betlehem (Mik 5:2; Ams 8:22-31).
Ini adalah dua hal yang mempunyai sifat yang berbeda. Di satu sisi, Dia ada sejak asal mula, namun di satu sisi dia masuk dalam sejarah manusia, yang bermula di Betlehem. Disinilah pemenuhan janji Allah pada diri Yesus, yang mempunyai dua kodrat, Tuhan dan Manusia (one person with two nature).
2. Dia adalah Anak Manusia dan Anak Allah
Nabi Daniel mengalami suatu penglihatan, dimana datang Anak Manusia dan kepada-Nya diberikan segala kuasa, kemuliaan, dan kerajaan (Dan 7:13-14; Maz 2:7-8; 2 Sam 7:14).
Orang Yahudi mengerti bahwa Anak Manusia berarti “Manusia itu” atau Anak Allah berarti “Allah”.
Dan semua dipenuhi dalam diri Yesus, dimana dalam beberapa kesempatan, Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Anak Manusia (Mat 8:20, 18:11,12:8, 12:38-42, 13:37,41-42; Lk 9:58, 6:5, 11:29-32, 18:31-34, 20:17-19, 16:27-28, 9:26-27; Mk 2:27-28, 8:11-13, 8:38-9:1, 10:32-34).
3. Dia mempunyai Roh Allah dan diberi gelar Ilahi
Roh Allah akan ada pada diri Mesias: roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan (Yes 11:2).
Mesias akan diberi gelar-gelar Ilahi, seperti: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yes 9:6).
Semua gelar di atas adalah hanya untuk Tuhan, yang terpenuhi dalam diri Kristus, karena memang Yesus datang ke dunia dan Dia telah menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan.
Gelar Penasehat Ajaib mengingatkan kita akan suatu figur kebijaksaan (Am 8:22-31). Dan Roh Tuhan ini adalah Tuhan sendiri, seperti yang kita lihat dalam penciptaan dunia (Kej 1:2).
4. Mesias akan mempunyai Roh Kelemahlembutan dan Belas Kasihan
Seluruh ajaran dan pengadilan dari Mesias akan ditandai dengan Roh kelemahlembutan dan belas kasihan, dimana nabi Zakaria mengatakan bahwa Raja yang rendah hati akan naik keledai (Yes 42:3; Zak 9:9).
Hal ini terpenuhi dalam diri Yesus, yang mengajarkan ajaran cinta kasih, seperti yang tercermin dalam kotbah di bukit (Mat 5:1-12).
Yesus juga memasuki kota Yerusalem dengan menunggang keledai (Mat 21:5-7)
C. Mesias mempunyai 3 misi utama: menjadi Raja, Nabi, dan Imam.
1. Mesias adalah Raja
Mesias digambarkan sebagai Raja, pada waktu Yakob memberkati Yehuda, dimana Yakob mengatakan bahwa tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda sampai Dia datang yang berhak atasnya, dan kepada-Nya akan takluk bangsa-bangsa. (Kej 49:8-10).
Sampai Dia yang berhak atasnya merujuk kepada Mesias, dimana Dia datang untuk mendirikan kerajaan-Nya yang memang menjadi hak-Nya, sebelum suku Yehuda benar-benar musna. Jadi nubuat ini merujuk kepada Kristus, yang juga memprediksikan kehancuran Yerusalem.
Bileam, bernubuat tentang Mesias, yang akan menjadi bintang, dan mempunyai kekuasaan seluruh bangsa (Bil 24:17-19).
Bintang dari Yakub terpenuhi dari diri Yesus, dimana kelahiran-Nya ditandai dengan bintang yang diikuti oleh orang-orang magus. Bintang Israel bukanlah raja dari dunia ini, namun Dia adalah Raja Surgawi yang bertahta dalam hati setiap orang.
Yesaya mengatakan bahwa seorang anak akan lahir dan pemerintahan akan ada pada pundak-Nya (Yes 9:6).
Zakaria mengatakan bahwa seorang Raja yang rendah hati akan menaiki keledai (Zak 9:9).
2. Mesias adalah Nabi
Musa berkata bahwa Tuhan akan memberikan nabi yang baru seperti dia diantara kaum Israel (Ul 18:15-19).
Rasul Petrus dan diakon Stefanus mengatakan bahwa Yesus adalah pemenuhan dari Nabi yang Baru seperti yang telah dijanjikan oleh Musa karena Dia memberikan hukum yang baru, yang lebih sempurna daripada hukum Musa (Kis 3:22-23; Kis 7:37).
Yesus adalah Musa yang baru, seorang Nabi, perantara antara manusia dan Tuhan, yang memateraikan perjanjian baru dengan darah-Nya sendiri di kayu salib. Perjanjian Baru ini lebih sempurna daripada Perjanjian Lama yang diadakan di gunung Sinai.
3. Mesias adalah Imam
Mesias akan menjadi imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek (Maz 110:4).
Yesus adalah Imam Agung menurut Melkisedek dimana Dia menggenapi nubuat ini dengan kurban imamat pada saat perjamuan terakhir (Ibr 5:1-10; 6:20).
D. Kehidupan, penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kemenangan Sang Mesias.
1. Dia akan melakukan banyak mukjijat
Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Mesias akan melakukan banyak mukjijat, seperti: orang buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh berjalan, dan yang bisu bersorak-sorai (Yes 29:18, 35:5-6, 61:1).
Yesus menjadi pemenuhan nubuat ini, seperti yang dikutip-Nya pada waktu Dia menjawab utusan Yohanes Pemandi (Mat 11:5; Luk 4:18; Mat 15:30).
Kita juga melihat dalam seluruh Injil, Yesus melakukan banyak sekali mukjijat.
Bahwa Yesus melakukan banyak sekali mukjijat, juka di akui oleh kaum Muslim.
2. Dia akan dianiaya, mengalami penderitaan dan mati di kayu salib
Sang Mesias digambarkan mengalami penderitaan
Yakob menggambarkan bahwa Mesias akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur (Kej 49:11).
Daniel 9 memberikan gambaran akan Mesias yang menderita, dimana dia akan disingkirkan, walaupun tidak mempunyai kesalahan apapun (Dan 9: 26).
Gambaran akan penderitaan Mesias:
Nabi Yesaya memberikan gambaran yang begitu jelas akan penderitaan Sang Mesias (Yes 42; 49; 50; 53).
Mesias harus menderita untuk menanggung dosa dunia; oleh bilur-bilur-Nya, kita disembuhkan (Yes 53:5).
Mesias juga akan ditolak oleh orang-orang (Maz 118:22).
Yesus ditolak bukan hanya oleh orang-orang, namun terutama adalah para ahli farisi, imam agung. Namun penolakan ini melahirkan Kerajaan Allah, dengan Yesus sendiri sebagai batu penjuru (Mat 21:42).
Daud berbicara tentang penderitaan Kristus di kayu salib, seperti: tangan dan kakinya akan ditusuk, segala tulangnya terlihat, membagi pakaiannya, menderita kehausan yang sangat (Maz 22). Dan lebih lanjut nabi Yesaya mengatakan bahwa Mesias akan memberikan punggungnya bagi orang-orang yang memukulnya, dan memberikan pipinya bagi yang mencabut janggutnya. Dia dinodai dan diludahi, namun dia tidak menyembunyikan mukanya (Yes 50:6). Lebih lanjut buku Kebijaksanaan Salomo menceritakan tentang penganiayaan dan penolakan Kristus (Keb 2:12-20).
Drama yang begitu kejam ini terpenuhi dalam diri Kristus yang mengalami penderitaan begitu hebat sesuai dengan yang dinubuatkan nabi Daud dan Yesaya (Mat 27:39-42).
3. Dia akan bangkit
Daud berbicara tentang kebangkitan Mesias ketika dia berkata bahwa Tuhan tidak akan memberikan Dia kepada dunia orang mati (Maz 49:15).
Yesus adalah pemenuhan nubuat ini, karena Yesus telah bangkit dari mati dengan begitu banyak saksi yang masih hidup pada waktu Injil dan Surat Rasul Paulus ditulis (Mat 28:7).
Yesus juga mengatakan bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup dan barangsiapa percaya kepada-Nya, dia akan hidup walaupun dia sudah mati (John 11:25).
4. Dia akan menjadi pemenang
Namun Sang Mesias telah dinubuatkan akan menjadi pemenang, seperti yang dikatakan oleh Tuhan sendiri, ketika Tuhan berbicara di hadapan Adam, Hawa, dan ular, dan mengatakan ” Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15).
Wanita ini dapat diinterpretasikan sebagai Maria, yang melahirkan Yesus.
Jadi Yesus, anak dari Maria, adalah pemenuhan dari nubuat ini, yang telah meremukkan kepala setan, namun dengan mengalami keremukan tumit, atau penderitaan yang berat, yang mencapai puncaknya pada penderitaan Kristus di kayu salib.
E. Mesias akan menghapus dosa manusia dengan Perjanjian yang baru, yang akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dan dicapai melalui Gereja-Nya.
1. Mesias akan menghapuskan dosa dan membawa keadilan yang sejati
Daniel 9 mengatakan bahwa Mesias akan melenyapkan kefasikan, mengakhiri dosa, menghapuskan kesalahan, mendatangkan keadilan yang kekal (Dan 9:24).
Nubuat ini terpenuhi dalam diri Yesus, yang kedatanga-Nya memberikan kesempatan kepada manusia untuk bersatu kembali dengan Tuhan.
2. Mesias akan membuat Perjanjian yang Baru.
Nabi Yeremiah dan Ezekiel mengatakan bahwa Mesias akan memberikan perintah yang baru, Perjanjian yang Baru, dimana tidak ditulis di atas batu, namun ditulis di dalam hati setiap orang (Yer 31:31-33; Ez 36:24-27).
Dan semua ini dipenuhi oleh pelayanan Gereja dalam memberikan rahmat kekudusan dan karunia Roh Kudus melalui Sakramen Permandian dan Sakramen Penguatan.
3. Dia akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa
Berkat bagi seluruh bangsa telah dijanjikan oleh Tuhan kepada Abraham, Iskak, Yakob (Kej 12:3; 18:8; 22:18; Kej 26:4; Kej 28:13-15).
Berkat untuk seluruh bangsa mengalir dari Yesus, melalui Gereja-Nya, sehingga Gereja Katolik menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa.
4. Mesias akan mendirikan Kerajaan Allah
Daniel menafsirkan mimpi dari raja tentang patung yang terdiri dari empat elemen, dimana akhirnya dihancurkan oleh tangan Ilahi, yang dilambangkan dengan batu yang bukan dari tangan manusia (Dan 2:32-45).
Empat kerajaan melambangkan: Babilonia, Persia & Media, Aleksandria, Roma.
Batu melambangkan sesuatu yang lebih besar dari kerajaan Roma dan terbuat dari tangan Ilahi. Batu ini melambangkan Mesias.
Batu itu kemudian tumbuh menjadi gunung yang besar dan memenuhi bumi, yang melambangkan Gereja Katolik yang menjadi sakramen Keselamatan bagi seluruh bangsa.
Daniel melihat Anak Manusia, yang diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kekuasaan sebagai raja, dan semua orang dari segala penjuru, bangsa, dan bahasa akan melayani Dia dan kekuasaan ini tidak akan berakhir (Dan 7:13-14; Maz 72:4-17).
Dan semua dipenuhi dalam diri Yesus, dimana dalam beberapa kesempatan, Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Anak Allah (Mat 8:20, 18:11,12:8, 12:38-42, 13:37,41-42; Lk 9:58, 6:5, 11:29-32, 18:31-34, 20:17-19, 16:27-28, 9:26-27; Mk 2:27-28, 8:11-13, 8:38-9:1, 10:32-34).
Kedatangan Yesus yang kedua digambarkan seperti Anak Manusia yang datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan (Dan 7:13-14).
5. Gereja Katolik adalah Kerajaan Allah yang didirikan oleh Mesias
Yesaya menubuatkan bahwa rumah Allah akan didirikan dan dimuliakan, dimana seluruh orang dan bangsa akan datang kepadanya (Yes 2:2-3). Lebih lanjut, Yesaya berkata bahwa Mesias adalah terang bagi bangsa-bangsa, dimana keselamatana akan mencapai seluruh dunia. (Yes 49:5-12).
Semua ini dipenuhi dalam Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus, dimana segala macam suku dan bahasa datang dan bergabung menjadi anggota Gereja.
March 15, 2011 at 1:25 am
INRI
Latin :
Iesos Nazarenus Rex Iudaerom bila disingkat INRI maka kata INRI tidak berarti apa-apa.
Yunani :
Yesus o Nazorayos o Basileus ton Yudaion bila disingkat YNBY dan singkatan YNBY tidak berarti apa-apa.
yang menjadi arti adalah tulisan dalam bahasa Ibrani :
Ibrani :
Yeshua Hanatszri Wamelekh Heyehudim bila disingkat menjadi YHWH tulisan Tetragramanton dari Yahweh….Tuhan yang Esa. Jadi Yesus Kristus adalah YHWH yang menjelma menjadi manusia bila diruntut dari njil Yohanes 8 :27-28.Pada Injil Yohanes 8:27-28 disitu tertulis percakapan antara Tuhan dengan Nikodemus dimana disitu Yesus berkata “Apabila kamu sudah meninggikan Anak Manusia, pada saat itulah kamu akan mengetahui bahwa Akulah Dia”. Berarti pada saat di salib tersebut akan terbuka identitas Yesus. Dan pada Yohanes 19:19-20 dikatakan bahwa Pilatus menulis yang artinya “Yesus Orang Nazaret, Raja orang Yahudi” dalam tiga bahasa yaitu Ibrani, Latin dan Yunani.
March 15, 2011 at 1:27 am
Sudah Dijawab bahwa Yesus Benar Benar TUHAN YANG ESA.
March 15, 2011 at 2:30 am
ESA itu apa sih?
March 15, 2011 at 12:03 pm
@someone
Kesalahan persepsi dan tentang Trinitas (Allah Tritunggal Maha Kudus).
Banyak orang yang mempertanyakan ajaran tentang Trinitas, bahkan banyak orang yang bukan Kristen mengatakan bahwa orang Kristen percaya akan tiga Tuhan. Tentu saja hal ini tidak benar, sebab iman Kristiani mengajarkan Allah yang Esa. Namun bagaimana mungkin Allah yang Esa ini mempunyai tiga Pribadi? Untuk memahami hal ini memang diperlukan keterbukaan hati untuk memandang Allah dari sudut pandang yang mengatasi pola berpikir manusia. Jika kita berkeras untuk membatasi kerangka berpikir kita, bahwa Allah harus dapat dijelaskan dengan logika manusia semata-mata, maka kita membatasi pandangan kita sendiri, sehingga kehilangan kesempatan untuk melihat gambaran yang lebih luas tentang Allah. Jika kita berpikir demikian, kita bagaikan, maaf, memakai ‘kacamata kuda’: Kita mencukupkan diri kita dengan pandangan Allah yang logis menurut pikiran kita dan tanpa kita sadari kita menolak tawaran Allah agar kita lebih dapat mengenal DiriNya yang sesungguhnya.
Dari mana kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah Tritunggal?
Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”.[1] Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.
Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.
Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari, segitiga, maupun kopi susu.
Dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Gereja
Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (lih. Yoh 17: 21). Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus (lih. Luk 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. Mat 17:5).
Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (lih. Yoh 17:5). Kristus adalah sang Sabda/ Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan (Yoh 1:1-3). Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri.
Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebutNya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lih. Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lih. Yoh 14:6). Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20).
Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus ini, contohnya, Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus Kristus), dan Roh Kudus adalah satu (lih 1 Yoh 5:7); demikian juga pengajaran Petrus (lih. 1 Pet:1-2; 2 Pet 1:2); dan Paulus (lih. 1Kor 8:6; Ef 1:3-14).
Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja
Para Rasul mengajarkan apa yang mereka terima dari Yesus, bahwa Ia adalah Sang Putera Allah, yang hidup dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Iman akan Allah Trinitas ini sangat nyata pada Tradisi umat Kristen pada abad-abad awal.
1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99): Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?[2]
2.St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus.[3]
3.St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.”[4]
4.St. Athenagoras (133-190), “Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, -Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.”[5]
5.St. Irenaeus (115-202), “Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.”[6]
6.St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi natur/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.”[7]
7.St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa memperanakkan Putera, dan Putera datang dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ”[8]
Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:
1) seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
2) trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
3) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.
Khusus untuk point yang ketiga ini kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut: jika kita mengingat sesuatu, misalnya menyanyikan lagu kesenangan, maka terdapat 3 hal yang terlibat, yaitu, kita mengingat lagu itu dan liriknya dalam memori/ ingatan kita, kita mengetahui atau memikirkan dahulu tentang lagu itu dan kita menginginkan untuk melakukan hal itu (mengingat, memikirkan-nya) karena kita menyukainya. Nah, ketiga hal ini berbeda satu sama lain, namun saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan ada dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa menyanyikan lagu itu, kalau kita tidak mengingatnya dalam memori; atau kalau kita tidak mengetahui lagu itu sama sekali, atau kalau kita tidak ingin mengingatnya, atau tidak ingin mengetahui dan menyanyikannya.
Pengajaran Gereja: Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus
Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama[9] yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi, tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325)[10], dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).
Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah, dalam topik Sejarah Gereja.
Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari jaman jemaat awal:
Tritunggal adalah Allah yang satu.[11] Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
Ketiga Pribadi ini berbeda secara real satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan.[12]
Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah.[13]
Jadi bagaimana kita menjelaskan Trinitas?
Kita akan mencoba memahaminya dengan bantuan filosofi. Dengan pendekatan filosofi, maka diharapkan kita akan dapat masuk ke dalam misteri iman, sejauh apa yang dapat kita jelaskan dengan filosofi. Dengan demikian, filosofi melayani teologi. Untuk menjelaskan Trinitas, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, yaitu apa yang disebut sebagai substansi/ hakekat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi/ hypostatis. Pengertian kedua istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Kedua, bagaimana menjelaskan prinsip Trinitas dengan argumentasi kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi atau “argument of fittingness.” Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.
Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’
Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.
Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut. Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya.[14]
Argument of fittingness untuk menjelaskan Trinitas
Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi.[15] Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.
Nah, intelek dan keinginan tersebut memampukan manusia melakukan dua perbuatan prinsip yang menjadi ciri khas manusia, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kemampuan mengetahui sesuatu tidaklah menunjukkan kesempurnaan manusia, karena kita menyadari bahwa komputer-pun dapat ‘mengetahui’ lebih banyak daripada kita, kalau dimasukkan program tertentu, seperti kamus atau ensiklopedia. Namun, yang membuat manusia istimewa adalah kerjasama antara intelek dan keinginan, jadi tidak sekedar mengetahui, tetapi dapat juga mengasihi. Jadi hal ‘mengasihi’ inilah yang menjadikannya sebagai mahluk yang tertinggi jika dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan, apalagi dengan benda-benda mati.
Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu. Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.” Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”. Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat menginginkan komputer.
Nah, berdasarkan dari prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu mempunyai”[16] maka Tuhan yang memberikan kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah memiliki kemampuan tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/ Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang Allah Putera.
Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara sekaligus dan ilahi,[17] yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda (“The Word“). Rasul Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).
Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural, maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.
Argumen dari definisi kasih.
Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.
Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini membuahkan Roh Kudus.[18] Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita,[19] agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.
Trinitas adalah suatu misteri, dan Tuhan menginginkan kita berpartisipasi di dalam-Nya agar dapat semakin memahami misteri tersebut
Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri[20], meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia. Namun demikian, kita dapat mulai memahaminya dengan mempelajari dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan Tradisi Suci yang ditetapkan oleh Magisterium (seperti hasil Konsili), juga dengan bantuan filosofi dan analogi seperti diuraikan di atas. Selanjutnya, pemahaman kita akan kehidupan Trinitas akan bertambah jika kita mengambil bagian di dalam kasih Trinitas itu, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.
Di sinilah pentingnya peran Sakramen dan doa: Sakramen Pembaptisan merupakan rahmat awal, ‘gerbang’ yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam kehidupan ilahi (lihat artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Kemudian, Sakramen Ekaristi mengambil peranan utama, karena di dalamnya kita menyambut Kristus sendiri, dan dengan demikian kita mengambil bagian di dalam kehidupan Allah Tritunggal melalui Yesus (baca artikel: Ekaristi: Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani). Di sinilah juga pentingnya peran penghayatan akan Sakramen Perkawinan, sebab di dalam Perkawinan, kita melihat bagaimana hubungan kasih antara suami dan istri yang direncanakan oleh Allah untuk menjadi gambaran akan kasih Allah Tritunggal (silakan baca: Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik). Demikian pula, kasih Allah Tritunggal pula yang mengilhami Sakramen Tahbisan Suci, karena melalui Tahbisan Suci, para imam dipanggil untuk meniru teladan hidup Yesus, terutama dalam hal mengasihi, yaitu dengan memberikan diri kepada Allah dan sesama secara total. Memang, pada dasarnya sakramen-sakramen adalah ‘sarana’ yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya (mohon dibaca: Sakramen: apa pentingnya dalam kehidupan kita?, terutama pada sub judul: Akibat utama penerimaan Sakramen). Akhirnya, kitapun perlu memeriksa kehidupan doa kita, apakah kita setia dalam menyediakan waktu untuk Tuhan dan menghayati kesatuan denganNya di dalam kehidupan rohani kita? Bagaimana sikap kita terhadap sakramen- sakramen yang dikaruniakan Allah? Adakah kita cukup menghargai dan merindukannya? Pertanyaan ini memang kembali kepada diri kita masing-masing.
Kesimpulan
Melihat begitu dalamnya kehidupan batin Allah, hati kita melimpah dengan ucapan syukur. Sebab kehidupan batin tersebut tidak hanya ‘tertutup’ bagi Allah sendiri, namun Ia ‘membuka’ kehidupan-Nya agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya. Ya, Allah sesungguhnya tidak ‘membutuhkan’ kita, sebab kasihNya telah sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Namun justru karena kasih yang sempurna itu, Ia merangkul kita semua, jika kita mau menanggapi panggilan-Nya. Mari bersama kita berjuang, agar lebih menghargai rahmat Allah yang terutama dinyatakan di dalam sakramen-sakramen, terutama sakramen Ekaristi, sehingga kita dapat semakin menghayati persatuan kita dengan Kristus, yang membawa kita kepada persatuan dengan Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dengan persatuan dengan Allah ini, kita mencapai puncak kehidupan spiritualitas, di mana kita dimampukan oleh Allah untuk mengasihi Dia dan sesama.
March 15, 2011 at 2:21 pm
@valentine
jika tafsir kidung agung seperti yang anda katakan, apakah anda berani mengirim surat ucapan selamat yang isinya dari kutipan kitab kidung agung kepada teman anda yang baru menikah?
apa pedoman dalam penafsiran al kitab anda?
misalnya masalah sunat, ada yang bilang hati yang disunat
March 15, 2011 at 7:02 pm
@Valentine
Sebenarnya sederhana saja mas. Berhentilah mengatakan YESUS atau ROH KUDUS ciptaan-Nya sebagai TUHAN, dan berhentilah melakukan perbuatan yang hanya selayaknya diberikan kepada TUHAN kepada YESUS. Jika bicara soal kehadiran TUHAN, maka dia hadir pada seluruh ciptaan-Nya, pada dirimu dan pada diriku. Ini yang disebut dalam Islam sebagai ayat kauniyah. Tetapi jangan menetapkan ciptaan tempat hadirnya TUHAN sebagai TUHAN itu sendiri, terlebih memberikan kepadanya sesuatu yang seharusnya diberikan kepada TUHAN. Inilah prinsip ESA, bukan sekedar satu, tapi tanpa sekutu. TUHAN bisa bikin anda melihat-Nya melalui ciptaan-Nya, tetapi jangan anda serahkan sesuatu yang merupakan hak-Nya kepada ciptaan tersebut.
Sadarlah … karena dia bukanlah DIA. Tataplah DIA melalui dia, tetapi berharaplah jangan kepada dia melainkan kepada DIA.
March 31, 2011 at 2:44 pm
Air mineral tidak sama dengan Uap Air dan juga tidak sama dengan Es Batu,namun mesemuanya mengandung unsur yg sama yaitu H20,Itulah hakekat Trinitas,sama juga seperti dalam diri manusi terdapat 3 hakekat yaitu Pikiran/Otak,Tubuh/Fisik,Dan Roh/Jiwa.Allah Bapa/Yahwe digambarkan sebagai otak/pikiran yg menggerakkan,namun tidak terlihat,karena memang tidak ada di dunia ini yg bisa membaca pikiran seseorang,kecuali dia sendiri dan Tuhan,dan dari pikiran inilah muncul perkataan dan perbuatan,Allah Putera/Yesus digambarkan sebagai tubuh/fisik,yg dapat terlihat oleh mata semua tingkah laku,perkataan dan perbuatannya,Allah Roh Kudus digambarkan sebagai jiwa/arwah,di tiap diri seseorang makhluk hidup,pasti terdapat roh/jiwa.Itulah hakekat sesungguhnya dari Trinitas,yg tidak dapat dipisahkan/terpisah satu dengan yang lain.
March 15, 2011 at 2:18 am
Sdr valentine…saya senang membaca postingan2 sdr, tapi ada yg perlu sy komentari 7an sy hanya akan meluruskan aja sdr pernah berkata “saya tetap meyakini bahwa Katolik lah agama yang benar”. Umat katolik sampai saat ini masih berpaling pada arwah (bunda maria/ para santo shg banyak bertebaran peziarahan2 gua maria) dan minta bantuan arwah2 tsb ada yg minta supaya sdr atau orang tuanya yg telah meninggal bisa segera keluar dari api penyucian, padahal Tuhan telah berfirman seperti yg tertulis dlm Imamat 19:31 “Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu”.
March 15, 2011 at 3:17 am
Sdr valentine…saya senang membaca postingan2 sdr yg menekankan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yg benar serta Juru selamat manusia/ sang penggenap nubuat para nabi, tapi ada yg perlu sy komentari 7an sy hanya akan meluruskan aja sdr pernah berkata “saya tetap meyakini bahwa Katolik lah agama yang benar”. Umat katolik sampai saat ini masih berpaling pada arwah (bunda maria/ para santo shg banyak bertebaran peziarahan2 gua maria) dan minta bantuan arwah2 tsb ada yg minta supaya sdr atau orang tuanya yg telah meninggal bisa segera keluar dari api penyucian, padahal Tuhan telah berfirman seperti yg tertulis dlm Imamat 19:31 “Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu”. dan dengan minta bantuan arwah tsb/ melalui doanya sendiri itu apa bukan sikap tidak percaya / masih meragukan atas karya Kristus.
March 15, 2011 at 5:35 am
Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan. (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 14)
March 15, 2011 at 11:23 am
@ pemirsa .Ajaran tentang Keperawanan Maria tidak berpengaruh kepada keselamatan?
Kebenaran artikel iman (article of faith) dalam iman Kristiani itu memang sifatnya berlapis- lapis. Kebenaran utama yang menjadi dasar dari iman Kristiani, adalah ajaran tentang Allah Trinitas, yang menyelamatkan kita manusia melalui Inkarnasi (yaitu penjelmaan Allah Putera menjadi manusia). Pengajaran inilah yang mendasari artikel- artikel iman selanjutnya, yaitu bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan pada saat penjelmaan-Nya Allah melibatkan manusia, yaitu Bunda Maria sebagai seorang wanita yang melahirkan-Nya.
Nah, maka memang hal keperawanan Maria tidak pernah berdiri sendiri sebagai artikel iman yang menentukan keselamatan manusia, namun pengajaran tersebut adalah ajaran yang penting dan tak terlepaskan dari kebenaran tentang mukjizat kelahiran Kristus. Sebab sewaktu penjelamaan-Nya di dunia, Kristus selain menjadi sungguh manusia, Ia juga sungguh Allah. Maka tentu ada keistimewaan- keistimewaan yang ada pada Diri Yesus, baik dalam proses konsepsi-Nya maupun kelahiran-Nya, yang berhubungan dengan kodrat-Nya sebagai Allah.
Hal konsepsi Tuhan Yesus, memang mungkin tak perlu diperdebatkan, sebab semua dari kita (baik Katolik maupun Kristen non- Katolik) percaya bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus, tidak melibatkan benih laki- laki. Sedangkan secara manusiawi, Yesus memperoleh kemanusiaan-Nya dari Bunda Maria (perkembangan sel- sel dan gen- gen-Nya secara manusiawi). Ini disebabkan karena Yesus benar- benar menjadi manusia. Namun jangan dilupakan bahwa pada saat penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesus tidak berhenti menjadi Tuhan (Allah Putera). Dan untuk melahirkan Tuhan inilah, maka Maria dikuduskan oelh Allah, sebab seperti telah dinubuatkan dalam Kitab Suci, bahwa seorang perempuan dan keturunannya akan melawan Iblis (lih. Keh 3:15). Perlawanan total antara sang perempuan dan keturunannya melawan Iblis ini mensyaratkan bahwa keduanya tidak berdosa. Hal ini sesuai dengan Sabda Allah yang disampaikan oleh malaikat, bahwa Maria dinyatakan sebagai “penuh rahmat/ full of grace/ kecharitomene” (lih. Luk 1: 28). Artinya, Maria sempurna dipenuhi rahmat Allah sejak awal mula kehidupannya, sehingga ia tidak berdosa; sebab hanya dengan keadaannya yang tanpa dosa inilah, Maria dapat ditempatkan dalam kesatuan dengan Kristus, untuk melawan Iblis.
Nah, keadaan Maria yang tanpa dosa inilah yang mengakibatkan ia melahirkan tanpa rasa sakit, karena rasa sakit melahirkan itu diberikan oleh Allah sebagai konsekuensi dari dosa (Kej 3:16). Maka jika Maria melahirkan tanpa kesakitan, itu disebabkan karena yang dilahirkannya adalah Allah yang tidak berdosa, yang telah membebaskan Maria ibu-Nya dari dosa dan dari pengaruh dosa.
St. Agustinus mengajarkan agar tidak mempertanyakan kesucian Bunda Maria demi hormat kita kepada Tuhan Yesus: “Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya [Maria] yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa.”[25] Selanjutnya, tentang keperawanan Maria, St. Agustinus mengajarkan:
“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).”[36] Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.
Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.”[37]
Berpegang kepada pengajaran St. Agustinus dan para Bapa Gereja lainnya, maka Gereja Katolik melalui Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengajarkan:
“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)
Ajaran sejalan dengan pengajaran Gereja Katolik lainnya tentang Bunda Maria, sebagai Hawa Baru dan Tabut Perjanjian Baru. Sebagai masukan, para pendiri gereja Protestan (Luther, Calvin, Zwingli dan Wesley) juga mengajarkan tentang keperawanan Maria, dan bahwa Maria tetap perawan. Jadi ajaran tentang keperawanan Maria sesungguhnya bukan monopoli ajaran Gereja Katolik. Lihat kutipannya di artikel ini, silakan klik, di bagian Appendix, sub judul B. Menjadi sesuatu pertanyaan yang patut direnungkan, mengapa sekarang para pengikut mereka, menolak ajaran para pendiri gereja mereka sendiri. Apakah itu mau mengatakan bahwa yang diajarkan oleh para pendiri tersebut salah, sedangkan pemahaman mereka sendiri lebih benar?
Agaknya, masalahnya di sini adalah bahwa mereka yang menolak ajaran tentang keperawanan Maria cenderung untuk menempatkan pemahaman pribadinya di atas pengajaran yang disampaikan oleh para Bapa Gereja [dan para pendiri gereja mereka]. Penempatan pemahaman pribadi di atas apa yang diwahyukan Allah kepada Gereja inilah yang berkaitan dengan hal keselamatan. Sebab keselamatan sesungguhnya mensyaratkan ketaatan iman yang total atas apa yang diwahyukan Allah (divine faith), dan bukannya atas iman yang didasari pemahaman pribadi semata (human faith).
2. Maria mempelai Allah Roh Kudus
Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa karena Maria melahirkan dari Roh Kudus, lalu artinya Maria “menikahi” Roh Kudus ataupun sebaliknya. Maria dipenuhi/ dinaungi oleh Roh Kudus (Luk 1: 35) seperti halnya tabut perjanjian yang ditutupi oleh awan kemuliaan Tuhan (Kel 40:34-38). Jadi konteksnya di sini adalah dipenuhinya Maria oleh Roh Kudus, sehingga Roh Kudus itu memampukan Maria untuk menaati kehendak Tuhan.
Dengan demikian, Allah yang menyuruh Yusuf untuk mengambil Maria sebagai istrinya, tidak untuk diartikan bahwa Allah menyuruh Maria untuk berzinah dengan Yusuf. Ini adalah pandangan yang keliru. Maria tidak ‘menikah’ dengan Roh Kudus seperti pengertian manusia. Fakta bahwa Maria dipenuhi Roh Kudus inilah yang menjadikan Maria ingin mempersembahkan hidupnya seutuhnya (termasuk keperawanannya) kepada Tuhan, sehingga ia bertanya kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku tidak bersuami?/”I know not man” (Luk 1: 34- Douay Rheims, terjemahan Vulgate). Perkataan Maria ini diartikan oleh para Bapa Gereja sebagai nazarnya untuk hidup tetap perawan. Hal ini tidaklah aneh, karena hal nazar perempuan ini diperbolehkan, seperti dituliskan dalam Bil 30:3-8.
Maka, St. Jerome (410) adalah Bapa Gereja yang tidak hanya mengajarkan keperawanan Maria tetapi juga keperawanan Yusuf. Hal ini dituliskan dalam suratnya kepada Helvidius yang mempertanyakan keperawanan Maria:
“Kamu mengatakan bahwa Maria tidak tetap perawan. Sebaliknya aku akan lebih jauh mengatakan, Yusuf, mengikuti jejak Maria adalah seorang perawan juga, sehingga Anak laki- lakinya dilahirkan dari sebuah perkawinan yang perawan (virginal marriage). Ini berarti bahwa jika pria kudus ini tidak dapat dicurigai mempunyai hubungan lain di luar pernikahannya, dan jika ia dinyatakan tidak mempunyai istri lainnya, jika ia benar- benar suami Maria, yang dianggap oleh orang- orang sebagai istrinya, [ia menjadi] seorang pelindung bagi Maria daripada menjadi pasangan Maria, sehingga seseorang hanya dapat menyimpulkan bahwa pria itu yang dikatakan sebagai bapa Tuhan [Yesus], telah hidup dalam kemurnian dengan Maria.”
“Kita percaya bahwa Tuhan telah lahir dari seorang perawan, karena kita membaca di Kitab Suci demikian; [tetapi] kita tidak percaya bahwa Maria setelah kelahiran Yesus melakukan hubungan suami istri, sebab kita tidak membaca demikian.”
“Dan dapatkah pria yang benar itu [Yusuf] dapat, … berpikir untuk menghampiri [berhubungan badan] dengan Maria, ketika ia mendengar bahwa Putera Allah adalah yang dikandung di dalam rahim Maria? …. Kita harus percaya bahwa orang ini yang menghargai apa yang disampaikan kepadanya lewat mimpi tidak berani menyentuh istrinya…. Setelah itu ketika ia mengetahui dari para gembala bahwa para malaikat telah datang dari surga dan berkata kepada mereka, “Jangan takut: sebab lihatlah, aku membawa kepadamu berita kesukaan besar …. Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus Tuhan, dan ketika bala tentara surgawi telah bersama- sama dengannya melambungkan pujian, “Kemuliaan kepada Tuhan di tempat yang Maha Tinggi, dan damai sejahtera di bumi….,” dan ketika ia [Yusuf] telah melihat Simeon memeluk sang bayi dan mengatakan, “…biarkanlah hamba-Mu ini pergi, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu”, dan ketika ia melihat nabi Hana, para majus, Raja Herodes, para malaikat; [maka] Helvidius, aku berkata, haruskah kita percaya bahwa Yusuf, meskipun telah melihat begitu banyak keajaiban ini, berani menyentuh tabut Tuhan, tempat kediaman Roh Kudus, ibu dari Tuhannya? Maria “menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya”. Kamu tidak dapat tanpa tahu malu mengatakan bahwa Yusuf tidak memahaminya, sebab Lukas mengatakan kepada kita, “Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala yang dikatakan tentang Dia” (Luk 2:33)….”
Selanjutnya St. Jerome mengajarkan bahwa nama saudara- saudara Yesus yang disebutkan dalam Kitab Suci adalah saudara- saudara sepupun Yesus, seperti yang juga pernah dibahas di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik, lihat di bagian Appendix.
3. Mengapa Yesus tidak menyerahkan Bunda Maria kepada kerabat-Nya?
Benar bahwa Yesus mempunyai kerabat, yaitu saudara- saudara sepupu Yesus itu, yang anak dari Maria istri Kleopas, dan Maria ini adalah saudara Bunda Maria (lih Yoh 19:25). Namun, sebelum wafat-Nya, Yesus tidak menitipkan Maria kepada mereka, namun kepada Yohanes. Mengapa?
a. Pada saat Tuhan Yesus disalibkan, semua murid Kristus (termasuk kaum kerabat-Nya) meninggalkan Yesus, kecuali Bunda Maria dan Yohanes. Maka adalah wajar jika sebelum wafat-Nya, saat Tuhan Yesus melihat tidak ada lagi orang lain yang bisa dititipkan ibu-Nya kecuali Yohanes murid yang dikasihi-Nya, maka Ia memberikan ibu-Nya kepada Yohanes.
b. Jika kita membaca Kitab Suci, yang diharuskan adalah anak- anak wajib menghormati orang tua, termasuk mengurus mereka di masa tuanya. Itulah sebabnya Yesus mengecam orang Farisi yang mempersembahkan korban, tetapi menelantarkan orang tua mereka (lih. Mat 15: 1-9). Namun tidak ada ketentuan bahwa seseorang juga harus menjaga paman dan bibinya pada masa tua mereka; walaupun tentu jika ini dilakukan, ini adalah sesuatu yang baik. Maka kalau Tuhan tidak memasrahkan Maria kepada saudara- saudari sepupu-Nya, maka sebenarnya Tuhan Yesus tidak menyalahi hukum.
c. Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes murid yang dikasihi-Nya itu dengan maksud agar kitapun sebagai murid- murid yang dikasihi-Nya menerima Maria sebagai ibu kita juga. Menarik untuk dilihat di sini bahwa sebelum Yesus memberikan Maria kepada Yohanes, Ia terlebih dahulu memberikan Yohanes, yang mewakili semua murid yang dikasihi-Nya, kepada Maria. Dengan demikian, Yesus menempatkan hubungan kasih oleh iman di atas hubungan darah. Ini sesuai dengan ajaran Yesus dalam Luk 8:19-21, di mana Yesus memuji sanak saudara-Nya bukan karena mereka mempunyai hubungan darah dengan Yesus, tetapi karena mereka adalah yang orang- orang yang “mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”
4. Apa hubungannya ajaran tentang keperawanan Bunda Maria dengan keselamatan?
Sebenarnya hubungannya adalah karena iman yang menyelamatkan adalah iman yang disertai oleh perbuatan kasih (lih. Gal 5:6; Yak 2:14-26), baik kepada Tuhan dan sesama. Kasih kepada Tuhan ini mensyaratkan ketaatan dan penyerahan total akal budi dan pikiran kepada Allah. Konsili Vatikan II mendefinisikan ketaatan iman tersebut demikian:
“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom 16:26; lih. Rom 1:5; 2 Kor 10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya.” (Dei Verbum 5)
Nah, Wahyu Allah tersebut telah diberikan kepada Gereja, melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, seperti yang diajarkan oleh Magisterium Gereja. Hal keperawanan Maria, termasuk salah satu kebenaran yang telah diajarkan oleh Magisterium. Maka jika kita sungguh mempunyai iman yang penuh kepada apa yang diwahyukan Allah, kita harus menerima pengajaran tentang hal ini dengan ketaatan iman. Iman yang sedemikian adalah iman yang ilahi (divine faith)- bersumber dari Allah yang mewahyukan, dan bukan bersifat manusiawi (human faith)- yang tergantung kepada pengertian pribadi- yang cenderung sulit mempercayai hal ini.
Maka walaupun kita tidak dapat memaksa semua orang untuk menerima ajaran ini (tentang keperawanan Maria), namun selayaknya kita memahami bahwa ajaran ini tidak terlepas dari kebenaran yang diwahyukan Tuhan tentang Diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya kepada Gereja. Ajaran tentang keperawanan Maria ini tidak terlepas dari ajaran tentang:
1) kesempurnaan rencana keselamatan Allah: Allah yang menjelma ke dunia untuk memulihkan kerusakan, pada awal kedatangan-Nya tidak merusak keutuhan Ibu-Nya.
2) teladan kesempurnaan/ kekudusan Maria agar menjadi teladan bagi kita: Kekudusan melibatkan komitmen untuk menjaga kemurnian jiwa dan tubuh.
3) teladan Maria menjadi gambaran akan kekudusan Gereja, sebagai Mempelai Kristus, yang hanya memberikan penghormatan dan ketaatannya kepada Kristus Sang Kepala.
Demikianlah Dela, yang dapat saya tuliskan menanggapi pertanyaan anda. Memang saya akui, tidak mudah untuk meyakinkan orang lain tentang ajaran ini, terutama jika mereka tidak mengakui Wewenang mengajar (Magisterium) Gereja atau jika ia mengutamakan logika berpikir manusia di atas segalanya. Namun berbahagialah mereka yang dapat menerima ajaran ini, karena sungguh ajaran ini memberkati, dan menunjukkan ke-Mahakuasaan Allah dan kesempurnaan rencana keselamatan-Nya, yang melibatkan ketaatan penuh manusia. Janganlah kita menuduh mereka yang tidak percaya akan ajaran ini, bahwa mereka ‘menghina Maria’. Dapat saja terjadi mereka tidak percaya, karena mereka belum pernah mendengar ajaran dari para Bapa Gereja [dan dari bapa pendiri gereja Protestan sendiri] tentang keperawanan Maria ini. Maka, mari kita berdialog dengan semangat kasih. Setelah kita menyampaikan apa yang kita ketahui, selebihnya kita serahkan kepada Roh Kudus, yang adalah Roh Kebenaran, untuk menyatakan hal ini di dalam hati mereka
March 15, 2011 at 11:26 am
@ pemirsa.Inilah jawaban buat saudara.
Dalam beberapa komentar anda, saya menangkap anda menyangka bahwa umat Katolik seolah menduakan Tuhan, dengan berdoa kepada ‘creature‘. Maaf, saya tadinya menyangka bahwa ‘creature‘ yang anda maksud adalah ‘patung’, karena ada banyak orang Kristen non- Katolik yang menyangka bahwa orang Katolik menyembah patung. Saya bersyukur anda tidak berpandangan demikian; sehingga dialog kita dapat berjalan dengan lebih baik, karena setidaknya berpijak pada prinsip pengertian yang sama.
2. Dari komentar anda di atas, rupanya anda berpandangan bahwa ‘creature‘ itu adalah para orang kudus termasuk Bunda Maria. Ini terlihat dari doa- doa yang sepertinya ditujukan kepada orang- orang kudus. Seperti kepada St. Antonius dari Padua, untuk mendoakan jika kita kehilangan sesuatu, ataupun kepada Bunda Maria, dengan doa Salam Maria, “doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati”.
Sebenarnya, istilah yang lebih tepat adalah berdoa ‘bersama’ orang kudus dan bukannya berdoa ‘kepada’ orang kudus dengan arti yang sama dengan berdoa ‘kepada’ Tuhan. Karena terdapat perbedaan makna di sini. Kita berdoa kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang menjadi tujuan dari semua doa, pujian dan penyembahan kita, dan kita meyakini bahwa Tuhanlah yang mengabulkan doa- doa kita. Namun jika kita dikatakan berdoa kepada orang kudus, itu artinya hanya memohon agar mereka mendoakan kita, ataupun berdoa bersama kita. Jadi kita tidak pernah mensejajarkan mereka dengan Allah, ataupun meyakini bahwa mereka dapat mengabulkan doa kita atas kuasa mereka sendiri. Kita meyakini bahwa mereka adalah orang- orang kudus pilihan Allah yang mempunyai kuasa doa yang besar, sebab mereka sendiri telah dibenarkan oleh Allah (lih. Yak 5:16); namun yang mengabulkan doa kita tetaplah Tuhan saja.
Maka jika dalam doa Salam Maria, kita mohon Bunda Maria mendoakan kita, perkataan itu memang ditujukan kepada Bunda Maria yang telah bersatu dengan Allah dalam hadirat- Nya, agar Bunda Maria mendoakan kita dan berdoa bersama- sama dengan kita, saat sekarang dan saat ajal menjemput kita. Hal pengabulan doa tersebut itu sepenuhnya menjadi hak Tuhan. Namun besarlah kuasa doa Bunda Maria, karena ia adalah Bunda Allah yang diberikan Kristus untuk menjadi Bunda kita untuk mendoakan kita anak- anak-Nya, yang adalah saudara/i angkat Yesus oleh rahmat Baptisan kita.
3. Kebanyakan umat Kristen non- Katolik menganggap bahwa hubungan antara umat beriman yang masih hidup di dunia ini sudah putus dengan mereka yang sudah beralih dari dunia ini. Sedangkan menurut Gereja Katolik tidak demikian, sebab mereka umat beriman yang meninggal dunia dalam Kristus itu hanya mati tubuhnya, namun jiwanya tetap hidup (lih. Rom 8:10). Kehidupan di dalam Kristus inilah yang mengikat para umat beriman, baik yang masih hidup di dunia maupun yang sudah beralih dari dunia ini. Selanjutnya tentang topik: Apakah memohon doa orang kudus di surga bertentangan dengan firman Tuhan, silakan klik di sini; Benarkah kita tidak bisa mohon para kudus mendoakan kita?, klik di sini dan apakah jemaat perdana percaya akan persekutuan orang kudus yang tak terputus oleh maut, silakan klik di sini.
4. St. Thomas Aquinas adalah salah seorang Bapa Gereja yang mengajarkan kita untuk memohon para orang kudus untuk mendoakan kita. Dalam bukunya Summa Theology, St. Thomas dengan jelas mengajarkan hal ini, karena dengan memohon doa dari orang kudus, maka kita akan menghantarkan doa kepada Allah dengan kerendahan hati. Mengakui bahwa ada orang- orang lain yang lebih kudus dari kita, yang kuasa doanya lebih besar dari kita. Karena itu kita memohon dukungan doa dari mereka, pada saat kita menghantarkan doa- doa kita kepada Allah. Ini sesungguhnya prinsipnya sama saja dengan pada saat kita memohon pada pastor/ pendeta kita untuk mendoakan kita. Kita mengakui bahwa mereka lebih ‘dekat dengan Tuhan’ atau ‘lebih kudus’ dari kita, dan dengan demikian kita memohon dukungan doa dari mereka.
Nah, demikian juga dengan permohonan kita kepada orang kudus itu. Orang kudus itu (contohnya Bunda Maria) bahkan lebih kudus dari pastor/ pendeta, sebab Bunda Maria telah bersatu dengan Allah di surga. Maka kuasa doanya tentu lebih besar daripada semua yang masih berziarah di bumi. Berikut ini saya terjemahkan perikop yang dimaksud, dari Summa Theology, Supplement, q.72, a.2. [Seperti biasa, St. Thomas menuliskan dahulu keberatan- keberatan umum tentang memohon doa orang kudus bagi kita, dan ia akan menjawab keberatan- keberatan tersebut]:
Pasal 2. Apakah kita harus memohon orang-orang kudus untuk berdoa bagi kita?
Keberatan 1. Tampaknya kita tidak seharusnya memohon para orang kudus untuk mendoakan kita. Karena tidak ada orang meminta teman-temannya untuk berdoa baginya, kecuali sejauh ia yakin bahwa ia akan lebih mudah menerima bantuan dari mereka. Tetapi Allah jauh lebih berbelas kasih daripada para orang kudus, dan karena itu Ia akan lebih mendengarkan kita, daripada seorang Santo/ Santa. Oleh karena itu tampaknya tidak perlu untuk menjadikan para orang kudus sebagai pengantara antara kita dan Allah, bahwa mereka mungkin dapat menjadi pengantara bagi kita.
Keberatan 2. Selanjutnya jika kita harus memohon mereka untuk berdoa bagi kita, ini hanya karena kita tahu bahwa mereka berdoa untuk dapat diterima oleh Allah. Sekarang, di antara para orang kudus, semakin ia lebih kudus, semakin doanya diterima Allah. Oleh karena itu kita selalu harus memohon agar orang- orang kudus yang ‘lebih besar’ untuk menjadi pengantara doa kita, dan bukan orang kudus yang ‘lebih rendah’ tingkatannya.
Keberatan 3. Selanjutnya Kristus, bahkan sebagai manusia, disebut sebagai “Ruang Mahakudus,” dan, sebagai manusia, adalah layak bagi-Nya untuk berdoa. Namun kita tidak pernah berseru kepada Kristus untuk berdoa bagi kita. Oleh karena itu, tidak perlu-lah bagi kita untuk meminta para orang kudus lainnya untuk berdoa bagi kita.
Keberatan 4. Selanjutnya setiap kali seseorang berdoa syafaat bagi orang lain atas permintaan orang tersebut, dia memohon permohonan kepada Seseorang yang kepadanya ia berdoa syafaat. Sekarang tidak perlulah untuk menyajikan apapun bagi Seseorang yang kepada-Nya segala sesuatu hadir/ diketahui. Oleh karena itu tidak perlu untuk menjadikan para orang kudus sebagai pendoa syafaat kepada Allah.
Keberatan 5. Selanjutnya, tidak perlu melakukan apapun jika, tanpa melakukan itu, tujuan hal itu dilakukan akan tercapai dengan cara yang sama, atau sebaliknya, tidak tercapai sama sekali. Sekarang sama saja, apakah para orang kudus akan berdoa bagi kita, atau mereka tidak akan mendoakan kita sama sekali; apakah kita mohon didoakan mereka atau tidak: karena jika kita layak mereka doakan, mereka akan mendoakan kita meskipun kita tidak memohon doa mereka, sedangkan jika kita tidak layak mereka doakan, mereka tidak akan mendoakan kita meskipun kita minta. Oleh karena itu tampaknya sama sekali tidak perlu untuk memohon mereka untuk mendoakan kita.
Sebaliknya, Ada tertulis (Ayub 5:1): “Berserulah–adakah orang yang menjawab engkau? Dan kepada siapa di antara orang-orang yang kudus engkau akan berpaling?” Sekarang seperti ajaran St. Gregorius (Moral. v, 30) pada bagian ini, “Kita memanggil Tuhan ketika kita memohon kepada-Nya di dalam doa yang penuh kerendahan hati.” Oleh karena itu, ketika kita ingin berdoa kepada-Nya, kita harus memohon kepada para orang kudus itu supaya mereka berdoa kepada Tuhan bagi kita.
Selanjutnya, para orang kudus yang di surga lebih diterima Allah daripada orang-orang yang masih dalam perjalanan [di dunia ini]. Sekarang kita yang masih dalam perjalanan, harus menjadikan para orang kudus sebagai pendoa syafaat kita kepada Tuhan, sesuai teladan Rasul Paulus yang mengatakan (Rom 15:30): “Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku.” Oleh karena itu, lebih lagi, kita harus meminta para kudus yang berada di surga untuk membantu kita dengan doa- doa mereka kepada Tuhan.
Selanjutnya, argumen tambahan diberikan oleh tradisi umum Gereja yang memohon doa- doa dari para orang kudus dalam Litani.
Aku menjawab bahwa, Menurut Dionisius (Pkh. hier. v) urutan yang ditetapkan oleh Allah di antara banyak hal adalah bahwa: “mereka yang berada di tempat terakhir harus dipimpin kepada Allah oleh orang-orang yang sudah berada di tengah- tengah”. Oleh karena itu, karena para orang kudus yang di surga adalah yang paling dekat dengan Allah, urutan hukum Ilahi mengharuskan kita, yang sementara hidup di dunia (di dalam tubuh) adalah para peziarah dari Tuhan, harus dibawa kembali kepada Allah oleh para orang kudus yang berada di antara kita dan Dia: dan ini terjadi ketika kebaikan Ilahi mengalirkan efeknya keluar kepada kita melalui mereka. Dan karena kembalinya kita kepada Allah harus sesuai dengan keluarnya anugerah-Nya atas kita, seperti halnya nikmat Ilahi sampai kepada kita dengan cara perantaraan doa syafaat para orang kudus, demikianlah kita, oleh cara mereka, akan dibawa kembali kepada Allah, sehingga kita dapat menerima berkat-Nya lagi. Oleh karena itu, kita membuat mereka sebagai pendoa syafaat bagi kita kepada Allah dan sebagai pengantara kita, ketika kita meminta mereka untuk berdoa bagi kita.
Jawaban atas Keberatan 1. Bukanlah karena adanya cacat dalam kuasa Tuhan, sehingga Dia bekerja dengan cara melibatkan pengantara, tetapi itu adalah demi kesempurnaan pengaturan alam semesta dan bermacam-macam pencurahan kebaikan-Nya secara lebih lagi dari-Nya dalam segala hal, melalui pencurahan-Nya kepada mereka, tidak hanya kebaikan yang layak bagi mereka, tetapi juga kemampuan untuk menyebabkan kebaikan kepada orang lain. Bahkan juga bukan karena adanya cacat pada rahmat-Nya, bahwa kita perlu memohon pengampunan-Nya melalui doa- doa para orang kudus, tetapi sampai akhir nanti pengaturan seperti di atas harusnya ditaati.
Jawaban atas Keberatan 2. Meskipun para orang kudus yang lebih besar lebih diterima oleh Allah daripada yang lebih rendah, kadang-kadang menguntungkan untuk berdoa kepada yang lebih rendah, dan ini untuk lima alasan. Pertama, karena kadang-kadang seseorang mempunyai devosi yang lebih besar kepada orang kudus yang lebih rendah daripada kepada orang kudus yang lebih tinggi dan pengaruh doa sangat tergantung pada devosi seseorang. Kedua, untuk menghindari kejenuhan, sebab perhatian terus-menerus untuk satu hal membuat orang lelah; sedangkan dengan berdoa memohon kepada para orang kudus yang berbeda- beda, semangat devosi kita menyala lagi seperti sebelumnya. Ketiga, karena diberikan kepada beberapa orang kudus untuk memberikan perlindungan di dalam kasus- kasus tertentu, contohnya, Santo Antonius terhadap api neraka. Keempat, agar penghormatan yang layak diberikan kepada kita semua. Kelima, karena doa dari beberapa orang kadang-kadang mendapatkan apa yang tidak akan diperoleh oleh doa dari hanya seorang.
Jawaban atas Keberatan 3. Doa adalah sebuah tindakan dan tindakan adalah menjadi milik seseorang tertentu [supposita]. Oleh karena itu, jika kita mengatakan: “Kristus, berdoalah bagi kami, “kecuali jika kita menambahkan sesuatu, ini akan tampaknya merujuk pada Kristus sebagai manusia, dan akibatnya setuju dengan ajaran sesat dari Nestorius yang membedakan di dalam Kristus: Kristus sebagai manusia dan Kristus sebagai Allah Putera, atau ajaran sesat Arius, yang mengajarkan bahwa Pribadi Allah Putera lebih rendah dari Allah Bapa. Oleh karena itu untuk mencegah kesalahan ini, Gereja mengatakan, bukan: “Kristus, doakanlah kami”, tetapi “Kristus, dengarkanlah kami,” atau “Kristus kasihanilah kami.”
Jawaban atas Keberatan 4. Seperti yang akan kita nyatakan selanjutnya di point (3) para orang kudus dikatakan mempersembahkan doa- doa kita kepada Tuhan, tidak seolah- olah sebagai sesuatu yang tidak diketahui-Nya, tetapi karena mereka memohon kepada Tuhan untuk mendengarkan doa- doa tersebut dengan pendengaran yang penuh kemurahan, atau karena mereka mencari kebenaran Ilahi tentangnya [permohonan tersebut], yaitu apakah yang harus dilakukan sesuai dengan penyelenggaraan-Nya.
Jawaban atas Keberatan 5. Seorang dinyatakan layak menerima doa- doa orang kudus oleh kenyataan bahwa di dalam kebutuhannya ia telah berlindung kepada orang kudus itu dengan kesetiaan/ devosi yang murni. Oleh karena itu bukannya tidak perlu untuk berdoa kepada para orang kudus.
Demikianlah Esther, Gereja Katolik memang menganjurkan agar umat Katolik memohon dukungan doa dari orang- orang kudus, karena dengan demikian kita dapat belajar menghantarkan doa dengan kerendahan hati. Doktrinnya berbunyi demikian:
“Adalah diijinkan dan menguntungkan untuk menghormati para orang kudus di Surga, dan untuk memohon doa syafaat mereka.” (Ludwig Ott, Fundamental Catholic Dogma, p. 318)
Dengan memohon dukungan doa para kudus, kita menjadi terdorong untuk mengikuti teladan hidup mereka, dan menyadari betapa sebagai anggota Tubuh Kristus kita membutuhkan dukungan dari para anggota yang lain, terutama mereka yang sudah terlebih dahulu bersatu dengan Kristus. Inilah yang diajarkan oleh St. Thomas Aquinas dan para Bapa Gereja; dan inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik sampai sekarang. Kalau anda tertarik mempelajari ajaran St. Thomas selanjutnya tentang peran doa syafaat para kudus di surga, silakan klik di link ini
Kami memang pernah merencanakan untuk menuliskan artikel khusus tentang Persekutuan orang kudus, namun karena banyaknya pertanyaan yang masuk, rencana ini belum terpenuhi. Mohon kesabarannya, ya.
5. Terakhir tentang adanya umat Katolik yang pindah ke gereja lain, itu memang suatu realita, seperti yang terjadi pada teman anda. Realita ini justru mendorong umat Katolik yang lain, untuk semakin mempelajari dan memahami imannya. Jika Tuhan berkenan, semoga dalam proses pembelajaran iman ini, umat Katolik dapat juga menghantar orang- orang lain yang secara tulus mencari kebenaran, untuk menemukan kepenuhannya di dalam Gereja Katolik.
March 15, 2011 at 11:31 am
@ pemirsa.
Bagaimana menginterpretasikan Kitab Suci menurut pengajaran Gereja Katolik?
I. Perkenalan dengan Kitab Suci
Orang mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Maka agar kita dapat mengasihi Tuhan, kita perlu mengenal Dia. Sekarang pertanyaannya, bagaimana caranya kita mengenal Allah? Agaknya Tuhan memahami bahwa manusia akan mempunyai pertanyaan semacam ini dalam hatinya, sehingga Allah-lah yang pertama- tama melakukan inisiatif: Ia mewahyukan Diri-Nya, melalui alam semesta, melalui suara hati nurani dan yang secara khusus, melalui Wahyu umum yang diberikan kepada Gereja.
1. Apakah Kitab Suci itu?
Kita sering mendengar bahwa Kitab Suci adalah “Wahyu Allah”. Wahyu atau pernyataan Allah tentang diri-Nya ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1: 26). Artinya kita adalah mahluk rohani yang diciptakan menurut gambaran Allah, yang dilengkapi oleh akal budi dan kehendak bebas, sehingga kita dapat mengetahui, memilih dan mengasihi. Dengan demikian, kita manusia dapat menyimpulkan bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada, dengan melihat segala ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita. Keberadaan Tuhan juga diketahui dengan memperhatikan suara hati nurani dalam setiap orang, di mana Tuhan menuliskan hukum-hukum-Nya untuk menyatakan hal yang benar dan yang salah; inilah wahyu yang universal. Selanjutnya, Tuhan juga secara khusus memberikan wahyu yang merupakan pernyataan akan diri-Nya dan kehendak-Nya bagi manusia untuk mencapai tujuan akhir yang direncanakan-Nya. Wahyu ini disampaikan kepada manusia sejak awal sejarah manusia sampai sekarang; yaitu melalui para nabi, yang mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus Putera-Nya, dan wahyu ini yang kemudian dilanjutkan oleh para rasul Kristus.
Wahyu umum ini adalah wahyu Allah yang khusus diberikan kepada umat manusia agar manusia dapat mengenal siapa diri-Nya dan rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia. Wahyu umum ini bermula dari wahyu yang diberikan kepada para nabi, dan berakhir dengan wafatnya rasul Kristus yang terakhir.[1] Wahyu umum ini terdiri dari dua jenis, yang tergantung dari cara penyampaiannya; yaitu Kitab Suci (tertulis) dan Tradisi Suci (lisan).[2] Maka kita ketahui ketiga hal ini:
1. Kitab Suci adalah Wahyu ilahi yang disampaikan secara tertulis di bawah inspirasi Roh Kudus.[3].
2. Tradisi Suci adalah Wahyu ilahi yang tidak tertulis, namun yang diturunkan oleh para rasul sejak awal oleh inspirasi Roh Kudus, sesuai dengan yang mereka terima dari Yesus dan yang kemudian diturunkan kepada para penerus mereka.[4]
3. Maka kita ketahui sekarang bahwa untuk menerima wahyu Allah secara lengkap, kita tidak hanya perlu Kitab Suci, namun juga Tradisi Suci, dan pihak wewenang mengajar Gereja (Magisterium) yang dapat secara benar mengartikan wahyu ilahi tersebut. Ketiga hal ini disebut sebagai pilar iman, yang ditujukan untuk menjaga dan mengartikan wahyu publik dari Allah ini di dalam kemurniannya.
2. Kitab Suci yang adalah Sabda Allah itu terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Pernahkah anda membaca novel, namun hanya membaca bagian akhirnya saja? Walaupun mungkin anda dapat menangkap bagian yang terpenting dari kisah tersebut, namun tentu, kisah tersebut akan lebih dapat dipahami, jika anda membaca buku tersebut mulai dari bagian awal. Demikianlah halnya dengan Kitab Suci yang merupakan Sabda Allah yang tertulis tentang rencana keselamatan Allah yang dimulai sejak awal mula penciptaan dunia, sampai penggenapannya di dalam diri Kristus.
Oleh karena itu, untuk mempelajari Kitab Suci, kita perlu melihat kaitan antara Perjanjian Lama (sebelum kedatangan Kristus) dan Perjanjian Baru (saat dan setelah kedatangan Kristus), dan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, untuk mendapat pengertian yang menyeluruh dan pemahaman yang benar akan Sabda Allah itu. Perjanjian Lama (PL) yang melatar-belakangi Perjanjian Baru (PB), merupakan satu kesatuan dengan Perjanjian Baru. Sebab “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru.”[5]. Sama seperti suatu kisah tidak akan lengkap jika hanya dibaca awalnya saja, atau akhirnya saja, tanpa memperhatikan kaitannya, demikian juga Kitab Suci hanya akan dapat kita pahami secara menyeluruh dalam kesatuan antara PL dan PB, dan dalam kaitan satu ayat dengan ayat yang lain.
3. Penulisan Kitab Suci melibatkan akal budi para penulisnya
Kitab Suci merupakan Sabda Allah yang disampaikan melalui tulisan penulis kitab yang ditunjuk oleh Allah untuk menuliskan hanya yang diinginkan oleh Tuhan.[6]. Namun demikian, ini melibatkan juga kemampuan sang penulis tersebut dalam hal gaya bahasa, cara penyusunan, latar belakang budayanya, dst. Maka jika kita ingin memahami Kitab Suci, kita perlu mengetahui makna yang disampaikan oleh para pengarang kitab dan apakah yang ingin disampaikan oleh Allah melalui tulisannya. Karena Kitab Suci bersumber pada Allah yang satu, maka kita harus melihat keseluruhan Kitab Suci, walaupun ditulis oleh orang yang berbeda- beda, sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Inilah yang menjadi dasar bagaimana kita memperoleh pengertian yang mendalam tentang Kitab Suci, dan dengan cara demikianlah jemaat awal mengartikan Kitab Suci.
4. Kitab Suci itu diberikan kepada Gereja sebagai pedoman
Rasul Paulus memberikan alasan kepada kita untuk mempelajari Kitab Suci yaitu, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16) agar kita yang menjadi umat-Nya diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Dengan demikian, Kitab Suci mendapatkan tempat yang begitu tinggi di dalam Gereja Katolik, yang dapat kita lihat dari dokumen-dokumen Gereja yang senantiasa mempunyai sumber dari Kitab Suci disamping Tradisi Suci, dan kita dapat melihat secara jelas dalam liturgi Gereja. Paus Benediktus XVI dalam pengajaran apostoliknya, Verbum Domini, mengajarkan bahwa Kitab Suci mendapatkan tempat di dalam sakramen-sakramen, liturgi, brevier, buku-buku doa dan pemberkatan, lagu-lagu, dll.[7]
II. Prinsip umum yang harus dipegang
1. Gereja ada terlebih dahulu sebelum Kitab Suci.
Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Demikian pula, Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Yesus tidak membentuk Kitab Suci, namun Yesus membentuk Gereja, yang Ia dirikan di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18). Gereja pulalah yang menentukan kanon seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab Perjanjian Baru adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama.
2. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan para rasul, sebab tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, berabad – abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan di akhir abad ke 4. Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga bahwa ‘ajaran yang diteruskan/ diberitakan melalui pembicaraan’ oleh para rasul inilah Tradisi suci -1 Kor 11:2, 23; 2 Yoh 12, 3 Yoh 13)
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25). Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35, di mana rasul Paulus meneruskan perkataan Yesus “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima”; yaitu perkataan Yesus yang tidak tertulis dalam Injil.
3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya
Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Kitab Suci yang memang sulit untuk dicerna (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16), dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Kitab Suci untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan.
4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya.
Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 18:18; 28:19-20; Luk 10:16; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ Wewenang mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya. Prinsip fungsi Magisterium ini hanya seperti wasit dalam pertandingan sepak bola: ia tidak mengatasi peraturan, namun hanya menjaga agar peraturan dijalankan semestinya.
Hal yang sama ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI dalam pengajaran Apostoliknya, Verbum Domini. Paus menegaskan bahwa apa yang tertulis di dalam Kitab Suci bukanlah sesuatu yang dapat diinterpretasikan oleh masing-masing individu dengan bebas tanpa melihat apa yang menjadi pandangan Gereja. Karena Sabda Allah yang bersumber pada Roh Kudus diberikan kepada Gereja. Oleh Roh Kudus menjadi jiwa dari Gereja, Gereja menentukan buku-buku yang masuk ke dalam kanon Kitab Suci. Dengan demikian, Gereja mempunyai otoritas untuk menginterpretasikan Kitab Suci sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan oleh Roh Kudus.[8] Hal yang sama juga ditegaskan oleh St. Agustinus yang mengatakan “I would not believe the Gospel, had not the authority of the Catholic Church led me to do so”[9]
Jika kita melihat sejarah, maka kita dapat melihat bahwa Kitab Suci yang ada pada kita sekarang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damasus pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthago (397) dan Kalsedon/ Chalcedon (451) yang kemudian diteguhkan oleh banyak konsili sampai Konsili Trente (1545- 1563). Maka Gerejalah, atas ilham Roh Kudus, yang menentukan kitab- kitab mana saja yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, sehingga dapat termasuk dalam Kitab Suci. Sebelum Kitab Suci ditulis, Gereja mengandalkan Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan para rasul. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15, yaitu bahwa Gereja-lah (bukan Kitab Suci) yang menjadi tiang penopang dan tonggak kebenaran. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Gereja, yang dipimpin oleh Magisterium.
5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat
Saat terjadinya krisis dalam jemaat di sekitar tahun 40-an, kitab Perjanjian Baru belum ada, dan Kristus sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci Perjanjian Lama yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel 12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh Kristus dalam Perjanjian Baru, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.
6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15)
Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.
7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan.
Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan pemberitaan Firman Allah (melalui pendengaran) yang disampaikan oleh para rasul adalah Tradisi Suci.
III. Prinsip untuk menginterpretasikan Kitab Suci
1. Cara umum:
Konsili Vatikan II mengajarkan tiga cara umum untuk menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan Roh Kudus yang mengilhaminya:[10]
1. Memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci.
2. Membaca Kitab Suci dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja.
3. Memperhatikan “analogi iman”.
a. Memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci
Kita harus mengartikan ayat tertentu dalam Kitab Suci dalam kaitannya dengan pesan Kitab Suci secara keseluruhan. Mengartikan satu paragraf atau bahkan satu kalimat saja namun tidak memperhatikan kaitannya dengan ayat yang lain, dapat berakibat fatal. Contohnya, seorang atheis mengutip Mzm 14:1, dan berkata “Tidak ada Allah”. Tetapi sebenarnya, keseluruhan kalimat itu berkata, “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah”. Maka arti yang disampaikan dalam Kitab Suci tentu sangat berbeda dengan pengertian orang atheis tersebut.
b. Membaca Kitab Suci dalam terang Tradisi hidup seluruh Gereja
Banyak ahli Kitab Suci di jaman modern yang tidak mengindahkan interpretasi yang berakar dari tradisi Gereja. Mereka berpikir seolah-olah baru pada saat mereka menginterpretasikan Kitab Suci, Roh Kudus memberikan pengertian yang paling “asli”, sedang interpretasi pada abad- abad yang lalu itu keliru. Sikap ini tentunya tidak mencerminkan kerendahan hati. Gereja mengajarkan bahwa kita harus menginterpretasikan Kitab Suci sesuai dengan Tradisi hidup seluruh Gereja, sebab “Kitab suci lebih dulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas pergamen (kertas dari kulit)”.[11] Di dalam Tradisi Suci inilah Roh Kudus menyatakan kenangan yang hidup tentang Sabda Allah dan interpretasi spiritual dari Kitab Suci. Tradisi Suci tercermin dari tulisan Para Bapa Gereja, dan ajaran- ajaran definitif yang ditetapkan oleh Magisterium, seperti yang dihasilkan dalam Konsili-konsili, Bapa Paus maupun yang dijabarkan dalam doktrin Gereja.
c. Memperhatikan “analogi iman”
Analogi iman maksudnya adalah bahwa wahyu Allah berisi kebenaran- kebenaran yang konsisten dan tidak bertentangan satu sama lain. Gereja Katolik percaya bahwa Roh Kudus yang meng-inspirasikan Kitab Suci adalah Roh Kudus yang sama, yang membimbing dan menjaga wewenang mengajar Gereja (Magisterium), yang juga bekerja dalam Tradisi Suci Gereja. Maka tidak mungkin ajaran Gereja Katolik bertentangan dengan Kitab Suci, karena Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Juga, karena Gereja menjaga kemurnian ajaran dalam Kitab Suci, maka untuk meng-interpretasikan Kitab Suci, kita harus melihat kaitannya dengan ajaran/ doktrin Gereja.
Analogi iman yang berdasarkan ajaran Gereja berperan sebagai “penjaga” yang membantu kita agar kita tidak sampai salah jalan dalam meng-interpretasikan Kitab Suci. Ibaratnya, seperti pagar yang membatasi rumah kita dengan dunia luar yang penuh dengan anjing galak. Di dalam halaman rumah, kita tetap dapat beraktivitas, anak-anak dapat bermain dengan bebas, namun aman dari bahaya. Maka dengan berpegang pada ajaran Gereja, kita tetap mempunyai kebebasan dalam menginterpretasikan ayat-ayat Kitab Suci, namun kita dapat yakin bahwa interpretasi kita tidak salah, ataupun tidak bertentangan dengan kebenaran yang diwahyukan. Keyakinan ini merupakan karunia yang diberikan kepada kita, jika kita setia berpegang pada pengajaran Gereja yang disampaikan oleh Magisterium (Wewenang mengajar Gereja). Magisterium inilah yang bertugas menginterpretasikan Sabda Allah dengan otentik, baik yang tertulis (Kitab Suci) maupun yang lisan (Tradisi Suci), dengan wewenang yang dilakukan dalam nama Tuhan Yesus[12] agar Sabda itu dapat diteruskan sesuai dengan yang diterima oleh para rasul.
2. Menghindari dualisme hermenetik sekular/ ‘secularized hermeneutic’ dan interpretasi fundamentalis/“fundamentalist interpretation”
Paus Benediktus XVI dalam ekshortasi apostoliknya, Verbum Domini menekankan dua kesalahan ekstrem yang tidak boleh dilakukan oleh umat Katolik dalam menginterpretasikan Kitab Suci. Dua kesalahan ini adalah hanya berdasarkan metoda sekular dan metoda fundamentalisme.
a. Metoda historical-criticism yang terpisah dari teologi
Metode sekular yang terpisah dari teologi ini menekankan sisi sejarah dari Kitab Suci, sehingga Kitab Suci hanya dilihat sebagai buku dari masa lampau yang tidak mempunyai kaitan dengan saat ini. Pendekatan yang ilmiah dengan mengesampingkan sisi-sisi Ilahi dari Kitab Suci membuat metode ini kehilangan apa yang menjadi dasar untuk mengerti Kitab Suci – yaitu iman – yang pada akhirnya menolak campur tangan Tuhan dalam sejarah manusia.[13] Inilah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II – dalam ensiklik Fides et Ratio – dan Paus Benediktus XVI menekankan harmoni antara iman dan akal budi. Menyandarkan metoda ilmiah dalam menginterpretasikan Kitab Suci tanpa dibarengi iman, mereduksi sisi Ilahi dari Kitab Suci menjadi buku sejarah atau hanya menjadi buku literatur biasa. Sebagai contoh: Ketika di Kitab Suci dikatakan bahwa Yesus memberi makan lima ribu orang (Mt 14:15-21; Mk 6:34-44), maka metoda ini cenderung untuk mereduksi sisi Ilahi dari Kristus dan kemudian menjelaskannya dengan sesuatu yang lebih ilmiah, seperti orang-orang yang ada berkumpul mengeluarkan bekal masing-masing dan kemudian saling berbagi.
b. Metode fundamentalisme
Metode fundamentalisme mengambil kata demi kata di Kitab Suci dan menganggap kata demi kata dalam Kitab Suci adalah didikte oleh Tuhan tanpa melihat bahwa penulisan Kitab Suci senantiasa di dalam konteks sejarah pada waktu tulisan tersebut dibuat. Penolakan akan sisi sejarah dan juga penolakan akan Gereja sebagai pemberi interpretasi Kitab Suci yang otentik membuat metode ini menjadi sangat subyektif[14] yang mengarah bahwa interpretasi pribadinya sendiri adalah yang paling benar. Metoda ini juga dapat menyebabkan kegagalan untuk melihat Sabda Allah dalam konteks keseluruhan. Sebagai contoh, ketika Yesus mengatakan “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mt 24:36), maka metoda ini mempunyai tendensi untuk mengatakan bahwa Yesus memang tidak mengetahui kapan akhir dunia terjadi, tanpa melihat kompleksitas dari kodrat Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Karena mereka juga tidak mau melihat komentar Kitab Suci dari Bapa Gereja dan Magisterium Gereja, maka mereka akan mengeraskan hati bahwa interpretasi merekalah yang paling benar.
3. Ke-4 Prinsip menginterpretasikan Kitab Suci
Secara umum, Kitab Suci mempunyai dua macam arti. Yang pertama disebut ‘literal/ harafiah’ sedangkan yang kedua disebut sebagai ‘spiritual/ rohaniah’. Kemudian arti rohaniah ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu: alegoris, moral dan anagogis.[15] Ke-empat macam arti ini secara jelas menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
a. Arti literal/ harafiah.
Arti harafiah adalah arti yang berdasarkan atas penuturan teks yang ada secara tepat. Mengikuti ajaran St. Thomas Aquinas, kita harus berpegang bahwa, “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harafiah.”[16] Jadi dalam membaca Kitab suci, kita harus mengerti akan arti kata-kata yang dimaksud secara harafiah yang ingin disampaikan oleh pengarangnya, baru kemudian kita melihat apakah ada maksud rohani yang lain. Arti rohani ini timbul berdasarkan arti harafiah.
b. Arti alegoris
Arti alegoris adalah arti yang lebih mendalam yang diperoleh dari suatu kejadian, jika kita menghubungkan peristiwa tersebut dengan Kristus. Contohnya:
1. Penyeberangan bangsa Israel melintasi Laut Merah adalah tanda kemenangan yang diperoleh umat beriman melalui Pembaptisan (lih.Kel14:13-31; 1Kor 10:2).
2. Kurban anak domba Paska di Perjanjian Lama merupakan gambaran kurban Yesus Sang Anak Domba Allah pada Perjanjian Baru (Kel 12: 21-28; 1 Kor 5:7).
3. Abraham yang rela mengurbankan anaknya Ishak adalah gambaran dari Allah Bapa yang rela mengurbankan Yesus Kristus Putera-Nya (Kej 22: 16; Rom 8:32).
4. Tabut Perjanjian Lama adalah gambaran dari Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru. Karena pada tabut Perjanjian Lama tersimpan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), roti manna (Kel 25:30), tongkat Harun sang imam(Ibr 9:4); sedangkan pada rahim Maria Sang Tabut Perjanjian Baru tersimpan Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Imam Agung (Ibr 8:1).
c. Arti moral
Arti moral adalah arti yang mengacu kepada hal-hal yang baik yang ingin disampaikan melalui kejadian-kejadian di dalam KItab Suci. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita …sebagai peringatan” (1 Kor 10:11).
1. Ajaran Yesus agar kita duduk di tempat yang paling rendah jika diundang ke pesta (Luk 14:10), maksudnya adalah agar kita berusaha menjadi rendah hati.
2. Peringatan Yesus yang mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita (Mrk 4: 24) maksudnya agar kita tidak lekas menghakimi orang lain.
3. Melalui mukjizat Yesus menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” (Mat 20: 29-34) Yesus mengajarkan agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita.
d. Arti anagogis
Arti anagogis adalah arti yang menunjuk kepada surga sebagai ‘tanah air abadi’. Contohnya adalah:
1. Gereja di dunia ini melambangkan Yerusalem surgawi (lih. Why 21:1-22:5).
2. Surga adalah tempat di mana Allah akan menghapuskan setiap titik air mata (Why 7:17).
e. Hubungan antara ke-empat arti Kitab Suci
Berikut ini adalah pepatah yang berasal dari Abad Pertengahan tentang arti ke-empat arti Kitab Suci. “Huruf [dari kata letter/ literal] mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori; moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi.”[17]
4. Contoh interpretasi Kitab Suci dengan menggunakan ke-4 prinsip
Maka semua kejadian di dalam Kitab Suci memiliki makna harafiah, walaupun dapat mengandung arti rohaniah juga. Contohnya adalah kisah Allah menurunkan roti manna di padang gurun (Kel 16).[18]
1. Secara harafiah, memang Allah memberi makan bangsa Israel dengan manna yang turun dari langit selama 40 tahun saat mereka mengembara di padang gurun.
2. Secara alegoris, roti manna menjadi gambaran Ekaristi, di mana Yesus sebagai Roti Hidup adalah Roti yang turun dari surga (Yoh 6:51), menjadi santapan rohani kita umat beriman yang masih berziarah di dunia ini.
3. Secara moral, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak cepat mengeluh dan bersungut-sungut (Kel 16:2-3) kepada Allah. Umat Israel yang bersungut-sungut akhirnya dihukum Allah sehingga tak ada dari generasi mereka yang dapat masuk ke tanah terjanji (selain Yoshua dan Kaleb).
4. Secara anagogis, kita diingatkan bahwa seperti roti manna yang berhenti diturunkan setelah bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, maka Ekaristipun akan berakhir pada saat kita masuk Surga, yaitu saat kita melihat Tuhan dalam keadaan yang sebenarnya (1 Yoh 3:2).
5. Peran Gaya Bahasa dalam Kitab Suci
Seperti halnya pada karya tulis pada umumnya, peran gaya bahasa adalah sangat penting. Demikian juga pada Kitab Suci, sebab Allah berbicara pada kita dengan menggunakan bahasa manusia. Maka kita perlu memahami gaya bahasa yang digunakan, agar dapat lebih memahami isinya. Secara umum, gaya bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci sebenarnya tidaklah rumit, sehingga orang kebanyakan dapat menangkap maksudnya. Dalam hampir semua perikop Kitab Suci, sebenarnya cukup jelas, apakah pengarang Injil sedang membicarakan hal yang harafiah atau yang rohaniah. Namun ada kekecualian pada perikop-perikop tertentu, sehingga kita perlu mengetahui beberapa prinsipnya:[19]
1. Simili: adalah perbandingan langsung antara kedua hal yang tidak serupa. Misalnya, pada kitab Dan 2:40, digambarkan kerajaan yang ke-empat ‘yang keras seperti besi’, maksudnya adalah kekuatan kerajaan tersebut, yang dapat menghancurkan kerajaan lainnya.
2. Metafor: adalah perbandingan tidak langsung dengan mengambil sumber sifat-sifat yang satu dan menerapkannya pada yang lain. Contohnya, “Jiwaku haus kepada Allah Yang hidup” (Mzm 42:3). Sesungguhnya, jiwa yang adalah rohani tidak mungkin bisa haus, seperti tubuh haus ingin minum. Jadi ungkapan ini merupakan metafor untuk menjelaskan kerinduan jiwa kepada Allah.
3. Bahasa perkiraan: adalah penggambaran perkiraan, seperti jika dikatakan pembulatan angka-angka perkiraan. Misalnya,“Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki” (Mat 14: 21; Mrk 6:44; Luk 9:14; Yoh 6:10) dapat berarti kurang lebih 5000 orang, dapat kurang atau lebih beberapa puluh.
4. Bahasa fenomenologi: adalah penggambaran sesuatu seperti yang nampak, dan bukannya seperti mereka adanya. Kita mengatakan ‘matahari terbit’ dan ‘matahari terbenam’, meskipun kita mengetahui bahwa kedua hal tersebut merupakan akibat dari perputaran bumi. Demikian juga dengan ucapan bahwa ‘matahari tidak bergerak’ (Yos 10: 13-14).
5. Personifikasi/ antropomorfis : adalah pemberian sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang bukan manusia. Contohnya adalah ungkapan ‘wajah Tuhan’ atau ‘tangan Tuhan’ (Kel 33: 20-23), meskipun kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah adalah Roh (Yoh 4:24) sehingga tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu.
6. Hyperbolisme: adalah pernyataan dengan penekanan efek yang besar, sehingga kekecualian tidak terucapkan. Contohnya adalah ucapan rasul Paulus, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23); di sini tidak termasuk Yesus, yang walaupun Tuhan juga sungguh-sungguh manusia dan juga tidak termasuk Bunda Maria yang walaupun manusia tetapi sudah dikuduskan Allah sejak dalam kandungan (tanpa dosa asal).
Selanjutnya, ada juga kekecualian juga terjadi pada kondisi berikut:
1. Jika Kitab Suci jelas mengatakannya bahwa yang disampaikan adalah perumpamaan, maka yang disampaikan tidak/ belum tentu terjadi. Contoh Yoh 10:6 “Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka…” yang kemudian dilanjutkan oleh Yesus, yang mengumpamakan Ia sebagai ‘pintu’ (Yoh 10:7). Demikian juga dengan Mat 13:33 yang mengatakan bahwa Yesus mengajar dengan perumpamaan. Di sini perumpamaan belum tentu terjadi secara nyata.
2. Interpretasi harafiah dilakukan sejalan dengan akal sehat, namun jika tidak masuk akal, maka tidak mungkin dimaksudkan secara harafiah. Jadi misalnya, pada saat Yesus mengatakan bahwa raja Herodes adalah ‘serigala’ (Luk 13:32), maka kita tidak akan mengartikan bahwa pada waktu itu pemerintah di jaman Yesus dikepalai oleh mahluk mamalia, berambut, berekor, berkuping lancip yang bernama Herodes.
3. Jika pengartian secara harafiah malah menujukkan kontradiksi pada Allah, maka gaya bahasa yang diucapkan tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harafiah. Dalam hal ini penting sekali kita melihat ayat-ayat lain untuk melihat gambaran yang lebih jelas akan makna ayat tersebut. Contoh: Dalam Mat 23:9, Yesus berkata “Jangan memanggil seorangpun sebagai bapa di bumi ini”, padahal baru sesaat sebelumnya Yesus mengulangi perintah ke-4 dari kesepuluh perintah Allah, “Hormatilah ibu bapa-mu” (Mat 19:19) dan Ia juga menyebut Abraham sebagai “bapa” (Mat 3:9). Selanjutnya kita melihat bagaimana Rasul Paulus kemudian menyebut dirinya sendiri sebagai “bapa” bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan kepada Onesimus (Flm 1:10). Maka ayat Mat 23:9 tidak mungkin diartikan secara harafiah. Dalam hal ini, Yesus menggunakan gaya bahasa hyperbolisme untuk menyatakan otoritas ilahi yang mengatasi otoritas duniawi.
IV. Contoh- contoh ayat dan interpretasinya.
1. Ayat- ayat yang menunjukkan tipologis Perjanjian Lama digenapi dalam Perjanjian Baru
Bukan menjadi kebetulan bahwa lebih dari dua per tiga bagian dari Kitab Suci adalah Perjanjian Lama (Perjanjian Baru hanya sepertiga bagian). Ini menunjukkan bahwa Perjanjian Lama mengambil bagian yang cukup penting di dalam Kitab Suci, yang akhirnya dipenuhi di dalam Perjanjian Baru. Maka Perjanjian Baru (PB) perlu dibaca dalam terang Perjanjian Lama (PL) dan demikian pula sebaliknya.
Tipologi maksudnya adalah bahwa PL merupakan tanda/ tipe yang dipenuhi maknanya di dalam PB. Tipologi menerangkan bagaimana Kristus dan Gereja-Nya telah dinyatakan secara figuratif di dalam PL. Beberapa contoh yang cukup jelas adalah:
1. Dalam Yoh 3:14 Yesus sendiri mengajarkan bahwa “Ular [tembaga] yang ditinggikan di padang gurun” yang disebutkan dalam Bil 21:9 melambangkan penyaliban-Nya di gunung Golgota.
2. Dalam Mat 12:40, Yesus mengajarkan bahwa masa 3 hari Nabi Yunus berada di dalam perut ikan besar (Yun 1:17), merupakan gambaran dari 3 hari Yesus berada di dalam kubur, sebelum kebangkitan-Nya.
3. Dalam Luk 24:26-27, sewaktu Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus, Ia sendiri menghubungkan isi Kitab Suci [Perjanjian Lama] yang digenapi di dalam diriNya sebagai Mesias yang menderita, wafat dan bangkit dengan mulia [dalam Perjanjian Baru].
4. Dalam 1Pet 3:19-21, Rasul Petrus menyatakan bahwa air bah pada jaman Nabi Nuh merupakan gambaran/ kiasan Pembaptisan.
5. Dalam Rom 5:14, Rasul Paulus menyebutkan bahwa manusia pertama Adam adalah “gambaran” dari Kristus, [dengan Kristus sebagai manusia sempurna]; sebab dosa datang karena Adam, dan keselamatan datang karena Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia.
6. Wahyu 11:19- 12:1-2: Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru: Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! (Lihat pula bagaimana Allah menguduskan Tabut Perjanjian Lama dalam 2 Sam 6:6-7, 1 Taw 13:9-10, dan juga perbandingan ayat 2 Sam 6:9; dengan Luk 1:43; 2 Sam 6:11 dengan Luk 1:56). Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran, Samuel dan Tawarikh itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.
2. Contoh ayat- ayat yang harus dilihat kaitannya dengan ayat- ayat lainnya, Tradisi Suci dan pengajaran Magisterium Gereja
a. Ayat- ayat tentang keselamatan
Ayat Yoh 3:16 mengatakan bahwa siapa yang percaya pada Yesus akan memperoleh hidup kekal, atau “diselamatkan”; lalu pada ayat Ef 2:8 ada perkataan “diselamatkan oleh iman”, maka ada banyak orang Kristen non- Katolik mengatakan bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman saja (saved by faith alone). Padahal ayat-ayat Kitab Suci yang lain memberikan pengajaran yang lebih menyeluruh, misalnya pada ayat Ef 2:8 sendiri dikatakan: “Karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman”, sehingga di sini saja kita tahu bahwa bukan hanya iman yang menyelamatkan kita. Ayat yang lain mengajarkan iman yang menyelamatkan itu “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). Artinya kita harus melakukan perintah Tuhan agar dapat diselamatkan (Mat 19:17), dan perintah ini adalah hukum kasih kepada Tuhan dan sesama (Mat 22:37-40; Mrk 12:30-31). Kitab Suci juga mengajarkan bahwa -keselamatan dalam Kristus diperoleh dengan iman melalui pertobatan dan pembaptisan dalam nama-Nya, demi penebusan dosa (Kis 2:38-41). Rasul Yakobus, bahkan dengan jelas mengatakan bahwa kita dibenarkan karena perbuatan-perbuatan kita dan bukan hanya karena iman (Yak 2:24). Kristus sendiri menyatakan bahwa agar seseorang dapat masuk dalam Kerajaan Allah (diselamatkan), ia harus dilahirkan kembali dengan air dan Roh (Yoh 3:5). Dengan demikian, untuk mengetahui gambaran yang menyeluruh tentang keselamatan, maka kita harus melihat Kitab Suci secara keseluruhan.
Oleh karena itu, Magisterium Gereja Katolik mengajarkan demikian:
1. KGK 1257 Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Bdk. Yoh 3:5). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, …Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada sakramen-sakramen-Nya.
2. KGK 1815 Anugerah iman tinggal di dalam dia yang tidak berdosa terhadapnya (Bdk. Konsili Trente: DS 1545). Tetapi “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26) Iman tanpa harapan dan kasih tidak sepenuhnya mempersatukan orang beriman dengan Kristus dan tidak menjadikannya anggota yang hidup dalam Tubuh-Nya.
3. KGK 1816 Murid Kristus harus mempertahankan iman dan harus hidup darinya, harus mengakuinya, harus memberi kesaksian dengan berani dan melanjutkannya; Semua orang harus “siap-sedia mengakui Kristus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja ” (LG 42, Bdk. DH 14). Pengabdian dan kesaksian untuk iman sungguh perlu bagi keselamatan: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:32-33)
b. Ayat- ayat yang menyebutkan adanya ‘saudara- saudara’ Yesus.
Perikop Luk 8:19-21 atau juga Mat 12:46-50, Mrk 3:31-35, memang berjudul: Yesus dan sanak saudara-Nya. Bahkan dalam Mat 13:55 dan Mrk 6:3 disebutkan nama saudara- saudara-Nya itu yaitu: Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Oleh karena itu ada banyak orang menyangka bahwa Yesus mempunyai saudara- saudara kandung, atau artinya Bunda Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus. Namun tentu ini tidak benar!
Di dalam Kitab Suci, istilah “saudara” dipakai untuk menjelaskan banyak arti. Kata “saudara” (dari kata Yunani, ‘adelphos’ ) memang dapat berarti saudara kandung, namun dapat juga berarti saudara seiman (Kis 21:7), saudara sebangsa (Kis 22:1), ataupun kerabat, seperti pada kitab asli bahasa Ibrani yang mengatakan Lot sebagai saudara Abraham (Kej 14:14), padahal Lot adalah keponakan Abraham.
Jadi untuk memeriksa apakah Yakobus dan Yusuf itu adalah saudara Yesus, kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat Matius 27:56 dan Markus 15:40, yang menuliskan nama-nama perempuan yang ‘melihat dari jauh’ ketika Yesus disalibkan. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf/ Yoses, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56); atau Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Mrk 15:40). Maka di sini, Kitab Suci menunjukkan bahwa Maria ibu Yakobus ini tidak sama dengan Bunda Maria. Maria ibu Yakobus dan Yoses (Yusuf) dicatat dalam Kitab Suci sebagai salah satu wanita yang menyaksikan penyaliban Kristus (Mat 27:56; Mrk 15:40) dan kubur Yesus yang kosong/ kebangkitan Yesus (Mrk 16:1; Luk 24:10)
Mungkin yang paling jelas adalah kutipan dari Injil Yohanes, yang menyebutkan bahwa yang hadir dekat salib Yesus adalah, Bunda Maria, saudara Bunda Maria yang juga bernama Maria yang adalah istri Klopas, dan Maria Magdalena (Yoh 19:25). Jadi di sini jelaslah bahwa Maria (saudara Bunda Maria) ini adalah istri Klopas/ Kleopas, yang adalah juga ibu dari Yakobus dan Yusuf/Yoses. Kleopas adalah salah satu dari murid-murid Yesus yang berjalan ke Emmaus dan mengalami penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:18).
Kesimpulannya, Yakobus dan Yoses ini bukanlah saudara kandung Yesus.
Selanjutnya, kita juga melihat bahwa Tradisi Suci mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Perawan selamanya, sehingga dengan demikian Yesus tidak mempunyai saudara- saudari kandung:
1. St. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan St.Gregorius Nissa (m. 394), mengajarkan tentang keperawanan Bunda Maria.[20]
2. Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.”[21]
3. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin.[22]
4. St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….”[23]
5. St. Hieronimus/ Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf.[24]
6. St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya.[25]
“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).”[26] Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.
Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.”[27]
7. St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan.”[28] Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.”[29]. St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: “Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ’sulung’…. arti kata ’sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.”
Atas dasar Tradisi Suci tersebut, maka Magisterium Gereja Katolik mengajarkan demikian tentang keperawanan Maria:
1. Maria adalah Perawan, sebelum, pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide).[30]
Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.[31]
2. Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting sehubungan dengan ajaran bahwa Yesus, adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah ajaran tentang keperawanan Maria; karena kelahiran Yesus dari seorang Perawan adalah salah satu bukti keilahian-Nya. Selanjutnya, pemahaman tentang Maria dikuduskan Allah diperoleh dengan memahami perbandingannya dengan Tabut Perjanjian di Perjanjian Lama. Jika Tabut Perjanjian Lama saja begitu dikuduskan Allah, betapa Allah akan lebih lagi secara istimewa menguduskan Maria, Tabut Perjanjian Baru, yang mengandung dan melahirkan Kristus, Sang Sabda yang telah menjadi daging, Sang Roti Hidup dan Sang Imam Agung. Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:
“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)
Maka keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria.[32]
Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)
Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “Qui conceptus est de Spiritu Sancto.” (D 86, 256,993)
Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya (De fide)
Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum (Ep 28,2), disetujui oleh Konsili di Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus (Enchiridion 34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.
Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan (De fide).
Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran (649) menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34) (Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.
V. Lectio Divina
Walaupun pendekatan pengetahuan akan Tradisi Suci adalah sangat penting, namun pendekatan penghayatan Sabda dalam relasi pribadi dengan Tuhan juga tak kalah penting. Oleh karena itu, Bapa Gereja dan konsili-konsili Gereja mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa dalam membaca Kitab Suci. Lebih lanjut, Verbum Domini menekankan untuk membaca Kitab Suci dalam dialog dengan Tuhan[33]. St. Agustinus mengatakan “Your prayer is the word you speak to God. When you read the Bible, God speaks to you; when you pray, you speak to God”[34] Dengan demikian, orang yang membawa Sabda Allah dan merenungkannya di dalam doa, maka menjadi suatu percakapan yang begitu intim dan personal antara seseorang dengan Tuhan, yang pada akhirnya akan membaca seseorang pada kesempurnaan kehidupan Kristiani. Namun, dokumen yang sama mengingatkan agar kita tidak boleh terjebak pada interpretasi pribadi, namun harus teks-teks di dalam Kitab Suci harus senantiasa dimengerti dalam kesatuan dengan Gereja.
1. Pengertian
Tradisi Gereja Katolik mengenal apa yang disebut sebagai “lectio divina” untuk membantu kita umat beriman untuk sampai kepada persahabatan yang mendalam dengan Tuhan. Caranya ialah dengan mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. “Lectio” sendiri adalah kata Latin yang artinya “bacaan”.[35] Maka “lectio divina” berarti bacaan ilahi atau bacaan rohani. Bacaan ilahi/ rohani ini terutama diperoleh dari Kitab Suci. Maka, lectio divina adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci untuk mencapai persatuan dengan Tuhan Allah Tritunggal. Di samping itu, dengan berdoa sambil merenungkan Sabda-Nya, kita dapat semakin memahami dan meresapkan Sabda Tuhan dan misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui Kristus Putera-Nya. Melalui lectio divina, kita diajak untuk membaca, merenungkan, mendengarkan, dan akhirnya berdoa ataupun menyanyikan pujian yang berdasarkan sabda Tuhan, di dalam hati kita. Penghayatan sabda Tuhan ini akan membawa kita kepada kesadaran akan kehadiran Allah yang membimbing kita dalam segala kegiatan kita sepanjang hari. Jika kita rajin dan tekun melaksanakannya, kita akan mengalami eratnya persahabatan kita dengan Allah. Suatu pengalaman yang begitu indah tak terlukiskan!
2. Empat hal dalam proses lectio divina
Meskipun terjemahan bebas dari kata lectio adalah bacaan, proses yang terjadi dalam lectio divina bukan hanya sekedar membaca. Proses lectio divina ini menyangkut empat hal, yaitu: lectio, meditatio, oratio dan contemplatio.[36]
a. Lectio
Membaca di sini bukan sekedar membaca tulisan, melainkan juga membuka keseluruhan diri kita terhadap Sabda yang menyelamatkan. Kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, untuk berbicara kepada kita, dan menguatkan kita, sebab maksud kita membaca bukan sekedar untuk pengetahuan tetapi untuk perubahan dan perbaikan diri kita. Maka saat kita sudah menentukan bacaan yang akan kita renungkan (misalnya bacaan Injil hari itu, atau bacaan dari Ibadat Harian), kita dapat membacanya dengan kesadaran bahwa ayat-ayat tersebut sungguh ditujukan oleh Tuhan kepada kita.
b. Meditatio
Meditatio adalah pengulangan dari kata-kata ataupun frasa dari perikop yang kita baca, yang menarik perhatian kita. Ini bukan pelatihan pemikiran intelektual di mana kita menelaah teksnya, tetapi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Allah, pada saat kita mengulangi dan merenungkan kata-kata atau frasa tersebut di dalam hati. Dengan pengulangan tersebut, Sabda itu akan menembus batin kita sampai kita dapat menjadi satu dengan teks itu. Kita mengingatnya sebagai sapaan Allah kepada kita.
c. Oratio
Doa adalah tanggapan hati kita terhadap sapaan Tuhan. Setelah dipenuhi oleh Sabda yang menyelamatkan, maka kita memberi tanggapan. Maka seperti kata St. Cyprian, “Melalui Kitab Suci, Tuhan berbicara kepada kita, dan melalui doa kita berbicara kepada Tuhan.” Maka dalam lectio divina ini, kita mengalami komunikasi dua arah, sebab kita berdoa dengan merenungkan Sabda-Nya, dan kemudian kita menanggapinya, baik dengan ungkapan syukur, jika kita menemukan pertolongan dan peneguhan; pertobatan, jika kita menemukan teguran; ataupun pujian kepada Tuhan, jika kita menemukan pernyataan kebaikan dan kebesaran-Nya.
d. Contemplatio
Saat kita dengan setia melakukan tahapan-tahapan ini, akan ada saatnya kita mengalami kedekatan dengan Allah, di mana kita berada dalam hadirat Allah yang memang selalu hadir dalam hidup kita. Kesadaran kontemplatif akan kehadiran Allah yang tak terputus ini adalah sebuah karunia dari Tuhan. Ini bukan hasil dari usaha kita ataupun penghargaan atas usaha kita. St. Teresa menggambarkan keadaan ini sebagai doa persatuan dengan Allah/ prayer of union di mana kita “memberikan diri kita secara total kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya kehendak kita kepada kehendak-Nya.”[37]
Ke-empat fase ini membuat kelengkapan lectio divina. Jika lectio diumpamakan sebagai fase perkenalan, maka meditatio adalah pertemanan, oratio persahabatan dan contemplatio sebagai persatuan.
3. Bagaimana caranya memulai lectio divina
Karena maksud dari lectio divina adalah untuk menerapkan Sabda Allah dalam kehidupan kita, dan dengan demikian hidup kita diubah dan dipimpin olehnya, maka langkah-langkah lectio divina adalah sebagai berikut:
1. Ambillah sikap doa, bawalah diri kita dalam hadirat Allah. Resapkanlah kehadiran Tuhan di dalam hati kita. Mohonlah agar Tuhan sendiri memimpin dan mengubah hidup kita melalui bacaan Kitab Suci hari itu.
2. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami perikop itu dengan pengertian yang benar.
3. Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama, jika mungkin ulangi lagi sampai beberapa kali.
4. Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang disampaikan dalam perikop tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepadaku?”
5. Tutuplah doa dengan satu atau lebih resolusi/keputusan praktis yang akan kita lakukan, dengan menerapkan pokok-pokok ajaran yang disampaikan dalam perikop tersebut di dalam hidup dan keadaan kita sekarang ini.
6. Resapkanlah kehadiran Tuhan di sepanjang aktivitas kita sehari itu. Dengan kesadaran ini kita dapat selalu mengarahkan dan mempersembahkan segala sesuatu yang kita lakukan hari itu demi kemuliaan nama-Nya.
4. Contoh merenungkan Kitab Suci dengan lectio divina
Mari kita melihat bacaan Injil dari Mat 18:21-19:2. Di dalam perikop tersebut diceritakan perumpamaan tentang pengampunan. Pada saat kita merenungkan perikop ini, maka kita dapat bertanya pada diri sendiri, apakah yang Tuhan inginkan agar kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari?
Maka kita bisa membayangkan salah satu tokoh dalam perikop itu, misalnya, kita menjadi hamba itu yang berhutang sepuluh ribu talenta. Namun oleh belas kasihan raja [yaitu Tuhan], maka hutang hamba itu dihapuskan. Namun kemudian kita berjumpa dengan orang yang telah menyakiti hati kita, dan kita merasa sulit untuk mengampuni. Dengan demikian, kita bersikap seperti hamba itu, yang walaupun sudah diampuni dan dihapuskan hutangnya, namun tidak dapat/ sukar mengampuni orang lain. Mari dengan jujur melihat, apakah kita pun pernah atau sering bersikap seperti hamba yang tidak berbelas kasihan ini? Siapakah kiranya orang yang Tuhan inginkan agar kita ampuni? Tanyakanlah kepada Tuhan dalam hati, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku, adakah aku pernah bersikap demikian? Siapakah yang harus kuampuni…?
Sambil terus merenungkan ayat demi ayat dalam perikop tersebut, bercakap-cakaplah dengan Tuhan dalam keheningan batin. Mungkin Tuhan ingin mengingatkan kita akan ayat ini, “Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti Aku telah mengasihani engkau?” (Mat 18:33). Jika ayat itu yang sungguh berbicara pada kita hari ini, maka kita mengingatnya dan mengulanginya kembali dalam hati, sebagai perkataan Tuhan yang ditujukan kepada kita. Dan semakin kita merenungkannya, semakin hiduplah perkataan itu di batin kita, dan bahkan kita dapat mendapat dorongan untuk menerapkannya.
Atau jika pada saat ini kita masih terluka atas perlakuan seseorang kepada kita, maka, kitapun dapat membawanya ke hadapan Kristus. Kita dapat pula menyatakan kepada-Nya, betapa kita ingin mengampuni, namun rasa sakit masih begitu mendalam dan nyata dalam hati kita. Maka, mungkin ayat yang berbicara adalah beberapa ayat sesudahnya yang berkata, “Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana.” (Mat 19:2). Kita dapat membayangkan bahwa kita berada di antara orang yang berbondong-bondong itu, dan memohon agar Ia menyembuhkan luka-luka batin kita. Biarlah ayat Mat 19:2 meresap dalam hati kita, dan kita ulangi berkali-kali sepanjang hari, “…. dan Tuhan Yesus-pun menyembuhkan luka-luka batinku di sana.” Biarkan jamahan Tuhan yang menyembuhkan banyak orang pada 2000 tahun yang lalu menyembuhkan kita juga pada saat ini. Dengan kita mengalami kesembuhan batin, maka sedikit demi sedikit Tuhan membantu kita untuk mengampuni, sebab kekuatan kasih-Nya memampukan kita melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita sebagai manusia.
Memang, pada akhirnya, lectio divina ini tidak akan banyak berguna jika kita berhenti pada meditatio/ permenungan, tapi tanpa langkah selanjutnya. Kita harus menanggapi apa yang Tuhan sampaikan lewat sabda-Nya, dan membuat keputusan tentang apakah yang akan kita lakukan selanjutnya, setelah menerima pengajaran-Nya. Maka langkah berikut, kita dapat mengadakan percakapan/ oratio yang akrab dengan Tuhan Yesus, entah berupa ucapan syukur, pertobatan, atau permohonan, yang semua dilakukan atas dasar kesadaran kita akan besarnya kasih Tuhan kepada kita. Kesadaran akan kasih Kristus inilah yang sedikit demi sedikit mengubah kita, dan mendorong kita untuk memperbaiki diri, supaya dapat mengikuti teladan-Nya, untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita, terutama anggota keluarga kita sendiri: suami, istri, orang tua, dan anak-anak. Kasih-Nya ini pula yang membangkitkan di dalam hati kita rasa syukur, atas pengampunan dan pertolongan-Nya pada kita. Dengan memandang kepada Yesus, kita dapat melihat dengan jujur ke dalam diri kita sendiri, untuk menemukan hal-hal yang masih harus kita perbaiki, agar kita dapat hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid- murid-Nya.
Jika melalui lectio divina akhirnya kita mampu mengalahkan kehendak diri sendiri untuk mengikuti kehendak Allah, maka kita perlu sungguh bersyukur. Sebab sesungguhnya, ini adalah karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup kita. Perubahan hati, atau pertobatan terus menerus yang menghantar kita lebih dekat kepada Tuhan dengan sendirinya mempersiapkan kita untuk bersatu dengan-Nya dalam contemplatio. Dalam contemplatio ini, hanya ada Allah saja di dalam hati dan pikiran kita. Kerajaan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kehendak-Nya sepenuhnya menjadi kehendak kita. “Jadilah padaku ya Tuhan, menurut kehendak-Mu….” Dan dalam keheningan dan kedalaman batin kita masuk dalam persatuan dengan Dia.
Jika arti doa yang sesungguhnya adalah “turun dengan pikiran kita menuju ke dalam hati, dan di sana kita berdiri di hadapan wajah Tuhan, yang selalu hadir, selalu memandang kita, di dalam diri kita,”[38]. Pandangan kepada Yesus ini adalah suatu bentuk penyangkalan diri, di mana kita tidak lagi menghendaki sesuatu yang lain daripada kehendak Allah. Dengan pandangan ini kita mempercayakan seluruh diri kita ke dalam tangan-Nya, dan kita semakin terdorong untuk mengasihi dan mengikuti Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita.
5. Apa buah-buah dari lectio divina?
Buah-buah dari lectio divina adalah compassio dan operatio[39]. Dengan persatuan kita dengan Tuhan, maka kita membuka diri juga untuk lebih memperhatikan dan mengasihi sesama dan ciptaan Tuhan yang lain. Kita juga didorong untuk melakukan tindakan nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan, ataupun untuk selalu mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Dengan demikian perbuatan kita menjadi kesatuan dengan doa kita, atau dengan perkataan lain kita memiliki perpaduan sikap Maria dan Martha (lih. Luk 10:38-42).
6. Mari, memulai perjalanan iman dengan lectio divina
Jika kita membaca pengalaman para orang kudus, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka menerapkan lectio divina dalam kehidupan rohani mereka. Diakui bahwa perjalanan menuju contemplatio bukan sesuatu yang mudah, karena memerlukan disiplin dan kesetiaan kita untuk menyediakan waktu untuk berdoa. Namun demikian, sesungguhnya setiap orang dapat mulai menerapkan lectio divina ini dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang keliru jika berpikir bahwa membaca dan merenungkan Kitab Suci secara pribadi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang tingkat pendidikan yang tinggi tentang Kitab Suci. Kenyataannya, sebagian besar perikop Kitab Suci tidak sulit di-interpretasikan. Bahkan perikop yang mengandung ayat yang sulit sekalipun, akan tetap berguna untuk direnungkan. Maka sesungguhnya, tidak ada alasan bagi kita untuk malas membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kita dapat menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk berdoa dan untuk menjadi penuntun sikap kita sehari-hari. Membaca atau menghafalkan ayat- ayat Kitab Suci adalah sesuatu yang baik, tetapi alangkah lebih baik jika kita meresapkannya dan membiarkan hidup kita terus menerus diubah olehnya. Tentu, ke arah yang lebih baik, agar kita semakin dapat mengikuti teladan Kristus Tuhan kita.
VI. Kesimpulan
Untuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Karena wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci dan keduanya berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan hormat yang sama[40].
Dengan demikian, Kitab Suci harus dibaca dalam terang Tradisi Suci, dengan memperhatikan analogi iman; dan interpretasi suatu ayat dalam Kitab Suci harus memperhatikan artinya dalam kesatuan seluruh Kitab Suci. Selanjutnya, di dalam hal iman dan moral, kita harus menginterpretasikan Kitab Suci dengan menempatkan pemahaman Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada ”pengenalan yang mulia akan Kristus” (Flp 3:8).[41] Ini adalah suatu tantangan buat kita semua yang mengatakan bahwa kita mengenal dan mengasihi Yesus.
Dengan menyadari bahwa penulisan Kitab Suci melibatkan Roh Kudus sebagai Penyebab (auctor) dan sang penulis Kitab, maka tidak dapatlah dikesampingkan faktor- faktor keilahian dalam Kitab Suci, maupun faktor latar belakang penulisnya. Dengan demikian harus dihindari kedua cara interpretasi ini: 1) yang meniadakan faktor keilahian dalam Kitab Suci, dan hanya menganggapnya sebagai buku sejarah (hermenetik sekular); dan 2) yang menganggap ketiadaan faktor latar belakang sejarah, dengan menganggap Kitab Suci sebagai hasil ‘dikte’ dari Roh Kudus tanpa ada keterlibatan sang manusia penulis (fundamentalisme). Dengan melihat adanya kerjasama antara ilham Roh Kudus dan manusia penulisnya, Kitab Suci diartikan dengan menggunakan empat prinsip; yaitu bahwa setiap ayat mempunyai makna literal (apa kejadiannya), allegoris (apa yang harus dipercaya), moral (apa yang harus dilakukan) dan anagogis (apa tujuan akhirnya). Di samping itu, untuk mengetahui keempat arti tersebut, peran gaya bahasa penulis Kitab sangatlah penting untuk dipahami.
Akhirnya, permenungan akan makna Sabda Tuhan dapat dilakukan dengan cara lectio divina, yang terdiri dari empat tahapan yaitu membaca Kitab Suci (lectio), merenungkannya (meditatio), berdoa (oratio), menghayati persatuan dengan Allah (contemplatio). Selanjutnya, buah yang ditunjukkannya adalah belas kasihan dan perbuatan baik (compassio dan operatio) yang membawa kepada pertumbuhan hidup rohani menuju kekudusan dalam persahabatan yang erat dengan Allah dan sesama.
March 15, 2011 at 11:34 am
@ pemirsa.
Apakah Sola Scriptura/ “Kitab Suci saja” cukup?
Dalam diskusi antara umat Katolik dan non- Katolik perihal Kitab Suci, sering timbul perkataan demikian, “Mari setuju dulu bahwa Kitab Suci adalah pegangan satu-satunya dalam iman kita”. Seharusnya, jika kita mendengar pernyataan sedemikian, kita harus menjawab, “Tidak̶1;. Sebab Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Pandangan yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja̶1; (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran Kristus dan para rasul.
Apa itu Sola Scriptura?
Sola Scriptura adalah doktrin Protestan yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah “sumber otoritas yang terutama dan absolut, keputusan akhir dalam menentukan, untuk semua doktrin dan praktek (iman dan moral)” dan bahwa “Kitab suci, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada lagi yang lain- yang diperlukan untuk iman dan moral.̶1;[1]
Apakah yang ajaran Gereja Katolik dalam hal ini?
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul.((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri.[2].
Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:
KGK 82 Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.̶1; (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).
Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan̶1; Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.
Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci
Jika “Sola Scriptura̶1; adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:
1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.̶1; (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)
2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.
3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan.
4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.
5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat, contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan Kristus sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh Kristus dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.
6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.̶1; (1 Tim 3:15) Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.
7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.
Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja
Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.
Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damaskus pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451) seperti yang pernah ditulis di artikel ini, silakan klik. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya̶1; sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.
Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja
Sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli mempunyai banyak perbedaan pandangan dalam hal Ekaristi Kudus dalam menginterpretasikan perikop Yoh 6, hal Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari para pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab? Belum lagi dalam hal- hal lain seperti apakah Pembaptisan itu perlu atau hanya simbol saja, hal Pembaptisan bayi, Pembaptisan dalam nama Allah Trinitas atau dalam nama Yesus saja, dan seterusnya. Tiap-tiap kelompok yang bertentangan mengklaim bahwa Alkitab saja cukup jelas untuk menentukannya, namun terjadi bermacam- macam interpretasi. Maka secara fakta harus diakui bahwa Alkitab saja tidak cukup jelas mengajarkannya, dan diperlukan peran otoritas Magisterium untuk menginterpretasikannya.
Hal ini mirip dengan yang terjadi di setiap negara, yang mempunyai konstitusi, namun juga mempunyai kekuasaan yudikatif untuk menginterpretasikannya dengan benar. Jika setiap warga dapat mengartikan sendiri konstitusi ini, tanpa adanya kuasa otoritas yang menjaga dan melestarikannya, maka dapat terjadi kekacauan. Tuhan pastilah lebih bijaksana daripada para bapa pendiri negara dalam hal ini. Ia tidak mungkin hanya meninggalkan dokumen tertulis sebagai pedoman tanpa otoritas untuk menjaga dan menginterpretasikannya dengan benar.
Kalau memang “hanya Alkitab” saja cukup, dan dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, yang dapat dilihat dari dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio).
Tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja
Jika kita telah mengetahui bahwa Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri, maka kita dapat melihat pula bahwa sebenarnya Kristus telah menentukan tiga pilar kebenaran yang tidak terpisahkan yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, bagian 3, silakan klik.
Ayat yang umumnya digunakan untuk menyatakan pandangan Sola Scriptura
Sekarang mari kita melihat kepada ayat-ayat yang sering digunakan sebagai dasar Sola Scriptura[3]:
1. 2 Tim 3:16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.̶1;
Ada banyak orang menginterpretasikan bahwa karena ayat ini, maka mereka hanya membutuhkan Kitab suci untuk menjadi umat Kristen yang baik. Padahal pada saat surat kepada Timotius ini ditulis, kanon Kitab Suci belum ada. Jadi di kalangan jemaat masih beredar berbagai tulisan, dan jemaat tidak dapat tahu dengan pasti, mana tulisan yang “diilhami oleh Allah̶1;, dan mana yang tidak.
Lihatlah juga bahwa “sesuatu yang bermanfaat̶1; itu bukan berarti hanya satu-satunya yang kita perlukan, atau segalanya yang kita butuhkan. Sesuatu dapat bermanfaat, tetapi tidak menjadi satu-satunya yang kita butuhkan. Misalnya, cahaya matahari diperlukan untuk tanaman agar tumbuh, tetapi tanaman juga memerlukan air dan tanah agar dapat bertumbuh dengan baik.
Juga perkataan “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik̶1; juga tidak dapat dijadikan dasar bahwa Kitab Suci secara total mencukupi semuanya. Rasul Paulus pada 2 Tim 2:19-21 juga menggunakan frasa yang sama, pada waktu mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.̶1; (pan ergon agathon- dalam bahasa Yunani). Jika logika yang sama dipakai untuk mengartikan ayat ini, maka pandangan tersebut mengatakan bahwa perbuatan menyucikan diri adalah “cukup̶1;, tanpa kasih karunia, iman dan pertobatan, dan ini adalah kesimpulan yang keliru.
2. Ul 4:2 “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya….̶1;
Ada orang yang berpendapat, dengan adanya ayat ini maka Kitab Suci sudah cukup, dan segala “tambahan” di luar Kitab Suci berarti tidak diilhami Tuhan. Namun jika logika ini yang dipakai, maka semua kitab dalam Kitab Suci selain kitab Ulangan dianggap sebagai “tambahan̶1; Wahyu Allah yang hanya sampai pada kitab Ulangan. Dan tentu ini tidak benar, karena Inkarnasi Kristus, yaitu panggenapan Wahyu Allah tersebut, malah ada berabad- abad setelah kitab Ulangan ditulis.
3. Mat 4:1-11 Tiga kali Yesus menanggapi pencobaan Iblis dengan Kitab Suci, “Ada tertulis….̶1;
Ada yang berpendapat, bahwa dari ayat ini Kristus mengacu hanya kepada Kitab Suci, dan tidak kepada Tradisi Suci atau Gereja. Namun sebenarnya Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (ay.4) Namun Kitab Suci juga mengatakan bahwa tidak semua perkataan Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, sebab banyak di antaranya juga sampai kepada kita lewat pengajaran lisan (lih. Yoh 21:25; Kis 20:27; 1 Tes 2:14-15, 3:6; 2 Tim 2:2). Dan jangan kita lupa, bahwa Kristus sendiri adalah Sabda Allah (Yoh 1:1, 14) yang tidak dapat dibatasi oleh tulisan dan lembaran-lembaran Kitab Suci.
Maka di sini Yesus tidak sedang mengajarkan Sola Scriptura, tetapi sedang mengajarkan kita untuk berpegang pada semua pengajaran yang dikatakan-Nya, tidak hanya yang tertulis di Kitab Suci. Lagipula jangan lupa, Iblispun mengutip Kitab Suci untuk maksud yang tentu saja keliru dan jahat. Jadi kita harus memahami Kitab Suci dan menginterpretasikannya dengan benar. Ingatlah pesan Rasul Petrus pada saat mengomentari surat Rasul Paulus, “Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.̶1; (2 Pet 3:16)
4. Mat 15:3 “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?̶1; (lih. Mrk 7:7-9, Kol 2:8)
Di sini kita melihat tradisi yang dikecam oleh Yesus dan Rasul Paulus adalah tradisi manusia yang bertentangan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Mereka tidak sedang mengecam semua tradisi, sebab Rasul Paulus mengatakan juga demikian,
“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran [tradisi] yang kuteruskan kepadamu.” (1 Kor 11:2)
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. (2 Tes 2:15)
5. Why 22: 18-19: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.̶1;
Ada pula yang mengartikan ayat ini dengan mengatakan bahwa Gereja Katolik menambahkan Tradisi Suci kepada Kitab Suci, sehingga ini tidak benar. Namun pada ayat ini yang dimaksud dengan “kitab ini” adalah kitab Wahyu itu sendiri, dan bukan Kitab Suci secara keseluruhan. “Kitab ini̶1; juga mengacu kepada “scroll“/ gulungan naskah di mana kitab dituliskan. Maka perintah ini mengacu kepada larangan agar jangan mengadakan perubahan pada salinan teks kitab Wahyu ini, dan ini juga berlaku pada kitab-kitab lainnya.
Kesimpulan
“Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan, yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik. Kristus mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak Kristus (lih. Luk 10:16). Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Selain itu, Sola Scriptura juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan kitab-kitab mana yang tidak. Akhirnya, Sola Scriptura juga bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga, menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang berbeda. Dan ini sungguh telah terbukti dengan adanya sekitar 28.000 jumlah denominasi gereja Protestan. Jika kita memakai prinsip yang diajarkan Kristus untuk menilai apakah pohon itu baik atau tidak dari buahnya (Mat 12:33, Luk 6:44), maka kita akan mengetahui apakah ajaran Sola Scriptura itu baik atau tidak.
Semoga Roh Kudus sendiri menerangi kita untuk mengetahui kebenaran ini, bahwa memang Kitab Suci adalah sangat perlu dan sangat penting untuk menuntun dan menumbuhkan iman kita, namun Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman kita. Sebab Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita Magisterium Gereja yang menyampaikan juga ajaran lisan dari-Nya dan para rasul -yaitu Tradisi Suci, dan Magisterium ini dengan setia menginterpretasikan semua ajaran itu dalam terang Roh Kudus sesuai dengan ajaran Kristus dan para rasul.
March 15, 2011 at 11:55 am
@ pemirsa
Sekilas ajaran Gereja tentang Bunda Maria
Menuju Yesus melalui Bunda Maria
“Ad Jesum per Mariam” (Menuju Yesus melalui Bunda Maria) adalah istilah yang sering kita dengar. Namun sudahkah kita menghayati pepatah ini, dan menjadikannya sebagai semboyan hidup sendiri? Barangkali proses pemahaman tentang hal ini akan memakan waktu sepanjang hidup kita, dan semoga hari demi hari Tuhan menambahkan kepada kita pemahaman yang semakin mendalam.
Pemahaman tentang ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria tidak terlepas dari apa yang dipaparkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang juga diteruskan dalam Tradisi Suci, yang dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Peran Bunda Maria telah digambarkan secara samar- samar dalam Kitab Perjanjian Lama. Jadi, dengan melihat tipologi, kita dapat melihat kaitan antara penggambarannya di Perjanjian Lama dan penggenapannya di Perjanjian Baru.
2. Peran Bunda Maria disampaikan secara eksplisit dalam Kitab Suci terutama dalam Injil.
3. Peran Bunda Maria kemudian banyak disampaikan oleh Tradisi Suci, yaitu dari ajaran yang disampaikan oleh para Bapa Gereja, dan yang dilestarikan juga dalam liturgi suci dan oleh pengajaran Magisterium, yang menunjukkan bahwa Bunda Maria selalu menjadi bagian dalam sejarah kehidupan Gereja di sepanjang jaman.
“Ad Jesum per Mariam“, pepatah ini berguna bagi pemahaman akan inti penghormatan kita kepada Bunda Maria. Mengapa? Karena penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak terlepas dari penghormatan kita kepada Yesus. Kita menuju Yesus melalui Bunda Maria. Maka, secara prinsip, dapat dikatakan demikian:
1. Seluruh gelar dan kehormatan Maria yang diberikan Allah kepadanya adalah demi kehormatan Yesus Kristus Putera-Nya, dan penghormatan ini selalu berada di bawah penghormatan kepada Kristus.
2. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah.
3. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam keseluruhan rencana keselamatan Allah.
a. Untuk itu Maria dipersiapkan Allah, dengan dibebaskan dari dosa asal sejak terbentuknya di dalam kandungan (Immaculate Conception). Pemahaman akan kaitan makna penggambaran Perjanjian Lama dalam penggenapannya dengan Perjanjian Baru menjelaskan kekudusan Maria ini sebagai: i) Sang Hawa Baru yang bekerjasama dengan Kristus Sang Adam yang baru; dan ii) Sang Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, yang adalah Tanda Perjanjian Baru.
b. Bunda Maria menjalankan perannya sebagai Bunda Allah dan bekerjasama dalam rencana keselamatan Allah. Kerjasama Maria ini terlihat dari ketaatan-Nya dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Oleh sebab itu, kerjasama Bunda Maria ini tidak hanya terbatas oleh kesediaannya untuk mengandung dan melahirkan Yesus; namun juga kesetiaannya dalam membesarkan dan mendampingi Yesus dalam menjalankan misi keselamatan Allah. Maria juga menjadi mediatrix/ pengantara yang menghantar orang- orang kepada Kristus, [dan ini dilakukannya tidak saja selama hidupnya di dunia, tetapi juga saat ia telah kembali ke surga].
c. Kerjasama Bunda Maria dengan rahmat Allah yang diterimanya, menghasilkan: i) persatuannya dengan Kristus, baik saat ia hidup di dunia ini, maupun pada saat ia beralih dari dunia ini dan sesudahnya dalam kehidupan kekal; ii) Oleh jasa pengorbanan Kristus, Bunda Maria diangkat ke surga; iii) Maria menjadi bunda semua umat beriman, karena Kristus telah memberikannya kepada kita sebagai ibu kita juga; iv) Setelah ia diangkat ke surga, Bunda Maria tetap menjadi pengantara kita kepada Kristus dengan doa- doa syafaatnya; v) Bunda Maria diangkat oleh Allah menjadi Ratu Surga.
4. Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman.
a. Ketaatan dan kekudusa Bunda Maria adalah bagi kita umat beriman.
b. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman.
c. Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah ibu dan perawan.
d. Pengangkatan Bunda Maria ke surga adalah gambaran akhir bagi kita kelak.
II. Seluruh gelar dan kehormatan Maria adalah demi Putera-Nya Yesus dan selalu berada di bawah penghormatan kepada Yesus.
Cardinal Newman mengatakan “the Glories of Mary are for the sake of her Son”[1]. Ini berarti bahwa apapun gelar dan penghormatan kepada Maria selalu “secondary” (berada di bawah) setelah Puteranya, Yesus Kristus. Ini juga berarti bahwa semua penghormatan dan gelar yang diberikan kepada Maria, senantiasa berakar pada hubungannya yang begitu istimewa dengan Tritunggal Maha Kudus. Ia menjadi puteri Allah Bapa, Bunda Allah Putera dan mempelai Roh Kudus. Sebagai puteri Allah Bapa, Bunda Maria senantiasa taat dan senantiasa melaksanakan kehendak Allah Bapa di sepanjang langkah hidupnya. Sebagai puteri Allah Bapa, Maria menunjukkan ketaatannya untuk bekerjasama dengan Allah dalam karya keselamatan. Sebagai bunda Allah Putera, Maria berpartisipasi dalam karya penyelamatan manusia dan senantiasa membawa seluruh umat Allah kepada Puteranya. Sebagai mempelai Allah Roh Kudus, Maria menjadi sosok yang kudus dan tak bercela.
Konsili Vatikan II mengajarkan tentang hal ini demikian:
“Karena pahala putera-Nya ia ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan. Ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi….” (Lumen Gentium, 53)
Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus, bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium 60)
Sebab tiada makluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber. Adapun Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah Kristus seperti itu. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat.” (Lumen Gentium 62)
III. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah (Theotokos)
Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh gelar tentang Maria bersumber pada kenyataan bahwa Maria adalah Bunda Allah, bunda Sang Penebus. Oleh karena itu, semua gelar Maria senantiasa bersumber pada misteri Inkarnasi Kristus. Jadi, seluruh gelar Maria adalah untuk semakin memperkuat pengajaran tentang Inkarnasi Kristus.
III.1. Dasar Kitab Suci: Theotokos:
1. Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Janji ini tentang ‘perempuan itu (the woman) dan keturunannya’ mengacu kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, ibu yang melahirkan-Nya.
2. Lukas 1:42-43, Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” Elisabeth juga menyebutkan Maria sebagai seseorang yang terberkati di antara wanita, oleh karena ia mengandung Yesus.
3. Yesaya 7:14; Matius 1:23, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.”
4. Lukas 1:35: Kata malaikat itu, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.”
5. Matius 2:11. “Maka masuklah mereka … dan melihat Anak itu bersama dengan ibu-Nya.”
6. Galatia 4:4: “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”
III.2. Dasar Tradisi Suci: Theotokos
Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan bahwa Maria adalah sungguh Bunda Allah:
1. St. Irenaeus (189): “Perawan Maria, yang taat kepada Sabda-Nya menerima dari kabar gembira malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan.”[2].
2. St. Petrus dari Alexandria (260-311): “Kami mengakui kebangkitan orang mati, di mana Yesus kristus Tuhan kita menjadi yang pertama; Ia mempunyai tubuh yang sungguh, bukan hanya kelihatan sebagai tubuh, tetapi tubuh yang diperoleh dari Maria Bunda Allah.[3]
3. St. Cyril dari Jerusalem (350): “Banyaklah saksi sejati tentang Kristus. Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya dari Surga, Roh Kudus turun dengan mengambil rupa seperti burung merpati: Penghulu malaikat memberikan kabar gembira kepada Maria: Perawan Bunda Allah memberikan kesaksian …..”[4]
4. St. Athanasius (365): “Sabda Allah Bapa di tempat yang Maha tinggi, …. adalah Ia yang dilahirkan di bawah ini, oleh Perawan Maria, Bunda Allah.[5]
5. St. Epifanus (374): Ia [Kristus] membentuk manusia menjadi sempurna di dalam Diri-Nya sendiri, dari Maria Bunda Allah, melalui Roh Kudus.”[6]
6. St. Ambrosius (378): “Biarkan hidup Maria …. memancar seperti penampakan kemurnian dan cermin bentuk kebajikan…. Hal utama yang mendorong semangat dalam proses belajar adalah kebesaran sang guru. Apakah yang lebih besar daripada Bunda Tuhan?[7]
7. St. Jeromus/ Jerome (384): “Jadikan teladanmu, Maria yang terberkati, yang karena kemurniannya yang tak tertandingi menjadikannya Bunda Allah.”[8]
8. St. Gregorius Naziansa (382) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga secara manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia).[9]
9. St. Yohanes Cassian (430): “….Kami akan membuktikan oleh kesaksian Ilahi bahwa Kristus adalah Allah dan bahwa Maria adalah Bunda Allah.”[10].
10. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?”[11].
11. St. Vincent dari Lerins (450): “Semoga Tuhan melarang siapapun yang berusaha merampas dari Maria yang kudus, hak- hak istimewanya yaitu rahmat ilahi dan kemuliaannya. Sebab dengan keistimewaannya yang unik dari Tuhan, ia disebut sebagai Bunda Allah [Theotokos] yang sungguh dan yang sangat terberkati. Santa Maria adalah Bunda Allah, sebab di dalam rahimnya yang kudus digenapilah misteri yang karena kesatuan Pribadi yang unik dan satu- satunya, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, sehingga manusia itu adalah Tuhan dan di dalam Tuhan.[12]
12. St. Yohanes Damaskinus (749): “Biarkanlah Nestorius menjadi malu dan menutup mulutnya. Anak ini adalah Allah. Bagaimana mungkin ia yang melahirkan-Nya bukan Bunda Allah?”[13].
III.3. Pengajaran Magisterium Gereja: Theotokos
Gereja Katolik mengajarkan:
“Maria adalah sungguh- sungguh Bunda Allah” (De fide)[14].
Doktrin Maria sebagai Bunda Allah/ “Theotokos” ……. dinyatakan Gereja melalui Konsili di Efesus (431) dan Konsili keempat di Chalcedon (451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua Konsili tersebut, namun bukan berarti bahwa sebelum tahun 431, Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah. Kepercayaan Gereja akan peran Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan “Theotokos” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia. Konsili Efesus mengajarkan:
“Jika seseorang tidak mengakui bahwa Emmanuel adalah Tuhan sendiri dan oleh karena itu Perawan Suci Maria adalah Bunda Tuhan (Theotokos); dalam arti di dalam dagingnya ia [Maria] mengandung Sabda Allah yang menjelma menjadi daging [seperti tertulis bahwa "Sabda sudah menjadi daging", terkutuklah ia." (D113)
Bahwa Maria adalah Bunda Allah adalah pengajaran Gereja sepanjang sejarah dan ini ditegaskan kembali dalam Konsili Vatikan II:
"Sebab perawan Maria, yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan [Bunda] penebus yang sesungguhnya.” (Lumen Gentium 53)
IV. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam rencana keselamatan Allah.
Karena peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah ini maka ia dipersiapkan dan dikuduskan oleh Allah. Peran sebagai Bunda Allah dalam rencana keselamatan ini menjadikan Maria sebagai Hawa yang baru, yang bekerja sama dengan Kristus sang Adam yang baru, untuk menyelamatkan manusia. Hal- hal yang berkaitan dengan keistimewaan Bunda Maria sebagai Bunda Allah, dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok: a) persiapan Allah untuk menjadikan Maria sebagai Bunda-Nya b) kerja sama Bunda Maria dalam rencana keselamatan Allah c) buah/hasil yang diterima Maria dari perannya sebagai Bunda Allah.
IV.1 Persiapan Bunda Maria sebagai Bunda Allah
Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru, dan Tabut Perjanjian Baru. Keberadaan Bunda Maria telah dinubuatkan sejak awal mula, yaitu setelah kejatuhan Adam dan Hawa. Jika melalui Hawa, manusia memperoleh maut, maka melalui Maria, manusia memperoleh hidup kekal di dalam Kristus Tuhan yang dilahirkannya. Untuk misi utamanya sebagai Hawa Baru dan Ibu Tuhan, maka Maria dikuduskan Allah. Dikuduskan di sini artinya dibebaskan dari noda dosa asal, dan karenanya Maria tidak berdosa dan tetap perawan sepanjang hidupnya.
IV.1.a Dasar Kitab Suci: Maria telah dipersiapkan Allah
1. Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” ‘Perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan ular (Iblis) ini adalah Bunda Maria. Karena perannya sebagai sang perempuan yang mengalahkan Iblis ini, maka Maria oleh Allah dibebaskan dari noda dosa; sebab jika ia berdosa/ tercemar oleh Iblis, bagaimana mungkin ia mengalahkan Iblis, seperti disebut dalam Kej 3:15.
Yohanes 2:4; 19:26, juga menyebutkan Maria sebagai ‘perempuan’, dan dengan demikian mengacu pada ‘perempuan’ yang dijanjikan Allah yang akan melahirkan keturunan yang akan meremukkan kepala Iblis, seperti disebutkan pada Kej 3:15.
2. Wahyu 11:19- 12:1-2: Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru
Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.
Selanjutnya, berikut ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan perbandingan antara tabut perjanjian lama dengan Maria
2 Sam 6:7; 1 Taw 13:9-10; Tabut Allah adalah sesuatu yang kudus. Pada PL, ketika Uza karena keteledorannya menyentuh tabut itu, Allah menghukumnya dan Uza wafat seketika.
2 Sam 6:16 dengan Luk 1:41: Seperti halnya Raja Daud, Yohanes Pembaptis melompat kegirangan di hadapan Tabut Allah (Bunda Maria).
2 Sam 6:9: “Bagaimana tabut Tuhan itu dapat sampai kepadaku?” dengan Luk 1:43: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”
2 Sam 6:11, 1 Taw 13:14 dengan Luk 1:56: Bunda Maria tetap tinggal di rumah persinggahannya selama tiga bulan.
3. Lukas 1:28: Bunda Maria dikatakan sebagai ‘full of grace/ penuh rahmat’ [kecharitomene -bahasa Yunani] pada saat menerima Kabar Gembira dari Malaikat. Di dalam Kitab Suci, kata ‘penuh rahmat/ penuh kasih karunia’ hanya digunakan untuk satu orang yang lain, yaitu Yesus, pada Yoh 1:14. Kecharitomene sendiri artinya adalah diubahkan seluruhnya oleh rahmat Tuhan, jadi artinya Maria telah disucikan seluruhnya oleh Tuhan sendiri. Dengan demikian Maria dikuduskan bukan baru pada saat menerima kabar gembira (sebab jika demikian ia tidak seluruhnya diubah/ dipenuhi oleh rahmat Allah) melainkan sejak awal mula konsepsinya di dalam rahim ibunya, Allah telah menguduskan dan membebaskannya dari segala noda dosa.
Hal ini diperoleh Maria oleh karena jasa pengorbanan Kristus, hanya saja ia memperoleh lebih dahulu, sebelum orang- orang yang lain, dan bahkan sebelum korban salib Kristus terjadi. Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu berhak memberikan rahmat-Nya menurut kebijaksanaan-Nya.
4. Lukas 1:34: Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami (“I know not man“)?” (Douay Rheims Bible- terjemahan Vulgate)
5. Keluaran 13:2,12; 34:12 dan Lukas 2:7: Anak sulung artinya adalah anak pertama yang lahir dari rahim ibu. Sulung tidak berarti anak pertama dari banyak anak yang lain.
6. Yehezkiel 44:2 “Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab Tuhan Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup.” Nabi Yehezkiel bernubuat bahwa tak seorangpun boleh melalui gerbang yang olehnya Tuhan masuk ke dunia.
7. Markus 6:3: Yesus selalu dikenal sebagai “the son of Mary”/ anak Maria satu- satunya (“the“/ ’sang’ anak Maria) bukan sekedar “a son of Mary” (anak Maria). Sayangnya perkataan ‘the‘ ini tidak diterjemahkan dalam Kitab Suci terjemahan LAI
8. Lukas 2:41-51: Pada saat Yesus diketemukan di Bait Allah, tidak disebut adanya saudara- saudara Yesus yang lain.
9. Yohanes 19:26-27: Tidak mungkin Yesus menitipkan Ibu-Nya kepada sahabat-Nya (murid yang dikasihi-Nya) jika Ia masih mempunyai saudara kandung.
Yoh 19:25, “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria istri Klopas dan Maria Magdalena.” Ayat ini menjelaskan bahwa karena Maria istri Kleopas adalah saudara Bunda Maria, maka anak Maria istri Kleopas, yang bernama Yakobus dan Yusuf (Mat 27:56 dan Mrk 15:47) adalah saudara sepupu Yesus. Mat 27:61, 28:1 menyebutkan bahwa Maria istri Kleopas sebagai ‘Maria yang lain’/ the other Mary.
IV.1.b. Dasar Tradisi Suci: Maria telah dipersiapkan Allah – Tanpa dosa dan perawan
Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan Bunda Maria sebagai seorang yang dipenuhi rahmat Tuhan, Tabut Perjanjian Baru, dan karena itu tidak berdosa. Para Bapa Gereja mengajarkan demikian:
1. St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa] mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa] mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”[15]
2. St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.”[16]
3. Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu- satunya”[17].
4. St. Gregorius (213-270): “Mari menyanyikan melodi yang diajarkan kepada kita oleh inspirasi harpa Raja Daud dan berkata, “Bangunlah, O Tuhan, kepada peristirahatanmu; Engkau, dan tabut tempat kudus-Mu.” Sebab sesungguhnya Sang Perawan Suci adalah sebuah tabut, yang dilapisi emas dari dalam dan luar, yang telah menerima keseluruhan harta dari tempat kudus.”[18]
5. St. Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu…[19] “Biarkan para wanita memuji-Nya, Maria yang murni.”[20]
6. St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan, O Tabut Perjanjian, yang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.”[21]
7. St. Epifanius (376): “Barangsiapa yang menghormati Tuhan, menghormati juga bejana kudus-Nya; mereka yang tidak menghormati bejana kudus itu, juga tidak menghormati Pemiliknya. Maria itulah adalah Perawan yang kudus, yaitu sang bejana kudus itu.”[22]
8. St. Ambrose (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa[23]”.
9. St. Gregorius Nazianza (390): “Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh Roh Kudus di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti seseorang yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar.”[24]
10. St. Agustinus (415): “Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa.”[25]
11. Theodotus (446): “Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri.”[26].
12. Proclus dari Konstantinopel (446): “Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda.[27]
13. St. Severus (538): “Ia [Maria] …sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda.”[28].
14. St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.”[29]
Para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa selain Maria tidak berdosa, ia juga tetap perawan seumur hidupnya, baik sebelum, pada saat, dan setelah melahirkan Kristus. Demikian tulisan mereka:
1. St. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan St.Gregorius Nissa (m. 394), mengajarkan tentang keperawanan Bunda Maria.[30]
2. Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.”[31]
3. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin.[32]
4. St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….”[33]
5. St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf.[34]
6. St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya.[35]
“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).”[36] Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.
Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.”[37]
7. St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan”[38]. Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.”[39]. St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: “Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ’sulung’…. arti kata ’sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.”
IV.1.c Pengajaran Magisterium Gereja: Maria disucikan dan tetap perawan seumur hidupnya
Atas perannya sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru, Bunda Maria dipersiapkan Allah, sebagai berikut:
1. Maria dikandung tanpa noda, dibebaskan dari dosa asal (De fide) ((lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, ed. James Canon Bastible, D.D, (Rockford, Illinois: TAN books and publishers, Inc. 1974) p.203)).
Pembebasan dari dosa ini adalah persyaratan yang layak bagi seorang perempuan dan keturunannya, yang akan melawan Iblis (lih. Kej 2:15). Bagaimanakah sang perempuan itu dapat melawan Iblis, jika ia sendiri telah jatuh ke dalam perangkap Iblis itu?
Maka pada tanggal 8 Desember 1954, Paus Pius IX dalam Bulla, “Ineffabilis Deus” mengajarkan doktrin untuk diimani oleh semua umat beriman:
“Dengan rahmat yang unik dan hak istimewa yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh jasa Yesus Kristus Sang Penebus umat manusia, Perawan Maria yang tersuci pada saat konsepsinya, dibebaskan dari segala noda dosa asal.” (D 1641)
2. Sejak di kandungan, Maria dibebaskan dari concupiscence /kecenderungan berbuat dosa (Sententia communis).
Walaupun hal ini bukan merupakan pengajaran de fide, namun para teolog secara umum mengajarkan demikian berdasarkan ajaran St. Thomas Aquinas dalam ST III q. 27, a.3.
3. Akibat dari rahmat yang istimewa dari Tuhan, Maria dibebaskan dari setiap dosa sepanjang hidupnya (Sententia fidei proxima). Konsili Trente (1545-1563) mengajarkan:
“Tidak ada orang yang benar dapat untuk sepanjang hidupnya menghindari semua dosa, bahkan dosa- dosa ringan, kecuali atas dasar hak istimewa dari Tuhan, yang diyakini Gereja diberikan kepada Perawan Maria yang terberkati.” (D 833)
Paus Pius XII dalam surat ensikliknya, Mystici Corporis, tentang Perawan dan Bunda Tuhan, bahwa: “Ia tidak berdosa, baik dosa pribadi maupun dosa asal yang diturunkan.”
4. Maria adalah Perawan, sebelum pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide).
Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.[40]
Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting sehubungan dengan ajaran bahwa Yesus, adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah tentang keperawanan Maria.
Selanjutnya, pemahaman tentang Maria dikuduskan Allah diperoleh dengan memahami perbandingannya dengan Tabut Perjanjian di PL. Jika Tabut Perjanjian Lama saja begitu dikuduskan Allah, betapa Allah akan lebih lagi secara istimewa menguduskan Maria, Tabut Perjanjian Baru, yang mengandung dan melahirkan Kristus, Sang Sabda yang telah menjadi daging, Sang Roti Hidup dan Sang Imam Agung. Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:
“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)
Keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria.[41]
5. Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)
Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “Qui conceptus est de Spiritu Sancto.” (D 86, 256,993)
6. Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya (De fide)
Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum (Ep 28,2), disetujui oleh Konsili di Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus (Enchiridion 34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.
7. Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan (De fide).
Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34) (Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.
8. Konsili Vatikan II mengajarkan demikian:
“Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas … Dalam terang itu ia [Maria] sudah dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur pertama [Adam dan Hawa] yang jatuh berdosa. Ia adalah Perawan yang mengandung dan melahirkan seorang Anak laki- laki, yang akan diberi nama Imanuel (lih. Yes 7:14; bdk. Mi 5:2-3; Mat 1:22-23).” (Lumen Gentium 55)
Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dahulu seorang wanita mendatangkan maut, maka kini seorang wanitalah yang mendatangkan kehidupan. Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus, yang telah melimpahkan kepada dunia Hidup sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah danugerahkan kurnia-kurnia yang layak bagi tugas seluhur itu. Maka mengherankan juga, bahwa di antara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus…” (Lumen Gentium 56)
IV.2 Bunda Maria menjalankan perannya sebagai Bunda Allah dan bekerjasama dalam rencana keselamatan Allah.
Dengan menyatakan kesediaannya untuk mengandung dan melahirkan Anak Allah, Bunda Maria bekerjasama dengan Allah dalam rencana keselamatan-Nya. Namun sebelum mengandung Kristus, sesungguhnya ia telah terlebih dahulu mengandung Dia di dalam hatinya. Selanjutnya, Bunda Maria tidak hanya mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus, namun ia juga membesarkan-Nya, menghantar orang lain kepada-Nya, dan dengan setia menyertai-Nya sampai di bawah kaki salib-Nya.
IV.2.a. Dasar Kitab Suci: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah
1. Lukas 1:38: Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Ayat ini menunjukkan kesediaan Maria untuk bekerjasama dengan rencana keselamatan Allah.
2. Lukas 2:51: Lalu Ia [Yesus] pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
Ayat ini menunjukkan tentang keterlibatan Maria [dan Yusuf] dalam mengasuh dan membesarkan Tuhan Yesus.
3. Yohanes 2:3,5: Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”…. Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
Ayat ini menunjukkan kepedulian Maria akan kebutuhan sesama dan membawa kebutuhan tersebut agar menjadi perhatian Yesus. Selanjutnya Maria menunjukkan agar manusia taat kepada Kristus Puteranya.
4. Markus 3:33-35; Matius 12:46-50; Lukas 8:19-21: Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” …. “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus memuja Maria, pertama- tama sebagai orang yang melakukan kehendak Allah, maka ia dipilih Allah untuk menjadi ibu-Nya.
5. Yohanes 19:25: Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ayat ini menunjukkan kesetiaan Maria menyertai Yesus sampai di kaki salib-Nya.
6. Kejadian 18:22-26, membicarakan tentang perantaraan/ kerja sama Abraham Keluaran 32:30-32, membicarakan tentang perantaraan Nabi Musa yang memohon atas nama bangsa Israel. Jika para nabi ini dapat dipakai Allah untuk menjadi pengantara, maka tidak terkecuali Bunda Maria, yang adalah Ibu Tuhan Yesus sendiri.
7. 1 Korintus 3:9: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Jika para rasul adalah kawan sekerja Allah, apalagi Maria ibu Yesus sendiri.
8. 1 Timotius 2:5;Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Kristus Yesus; Kolose 1:24: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Ayat- ayat ini menunjukkan bahwa Pengantaraan Kristus yang satu- satunya itu melibatkan juga pengantaraan anggota- anggota tubuh-Nya yang lain (secara khusus adalah ibu-Nya sendiri), demi menghantar keseluruhan tubuh kepada keselamatan kekal.
IV.2.b Dasar Tradisi Suci: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah
Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru, yang bekerjasama dengan Kristus sebagai Adam yang baru, untuk mendatangkan keselamatan bagi dunia. Maria bekerjasama dengan Kristus, dan mendukung Pengantaraan Kristus dengan doa- doa syafaatnya bagi umat beriman:
1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. “Sebab Hawa yang perawan tak bernoda, percaya kepada perkataan sang ular, [sehingga] membawa ketidaktaatan dan maut. Sedangkan Perawan Maria menerima dengan iman dan suka cita ketika malaikat Gabriel memberikan kabar gembira bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dan kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi dia, dan karena itu Putera yang dilahirkannya adalah Putera Allah…[42]
2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”[43]
“Sebab seperti Hawa telah terpedaya oleh perkataan malaikat [fallen angel] untuk melarikan diri dari Tuhan, maka Maria dengan perkataan malaikat menerima kabar gembira bahwa ia akan melahirkan Tuhan dengan menaati Sabda-Nya. [Perempuan] yang pertama terpedaya untuk tidak menaati Tuhan, tetapi [perempuan] yang kemudian terdorong untuk menaati Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi perawan Hawa. Seperti umat manusia ditundukkan kepada kematian melalui [tindakan] seorang perawan, demikianlah umat manusia diselamatkan oleh seorang perawan.”[44]
3. Tertullian (212): “Sebab ketika Hawa masih perawan, perkataan yang sesat merasuki telinganya sehingga membangun kematian. Dengan cara serupa, ke dalam jiwa seorang perawan, haruslah diperkenalkan Sabda Allah yang membangkitkan kehidupan; sehingga apa yang telah dihancurkan oleh jenis kelamin ini, dapat, oleh jenis kelamin yang sama, dipulihkan menuju keselamatan…[45].
4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib Yesus), sebab Kristus tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…” [46].
5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.”[47].
6. St. Germanus dari Konstantinopel (733): “Tak seorangpun mencapai keselamatan tanpa melalui engkau, …O yang terkudus. Tak seorangpun menerima karunia rahmat tanpa melalui engkau …O yang termurni.[48]
“Maria, yang tetap Perawan… mediatrix/ pengantara pertama- tama melalui kelahiran yang ilahi [inkarnasi Yesus] dan kini karena doa syafaat bantuan keibuannya– dimahkotai dengan berkat yang tidak pernah berakhir ….[49]
7. St. Yohanes Damaskinus (749): “Hari ini kami tetap di dekatmu, O Bunda Allah dan Perawan. Kami mengikatkan jiwa kami kepada pengharapanmu, seperti kepada jangkar yang paling teguh dan tak terpatahkan, menyerahkan kepadamu, pikiran, jiwa, tubuh dan keseluruhan diri kami dan menghormatimu, sebanyak mungkin, dengan mazmur, lagu pujian dan lagu rohani.”[50]
8. St. Ambrose Autpert (778): “Mari mempercayakan diri kita dengan segala kasih jiwa kita kepada perantaraan Bunda Maria: mari kita, dengan seluruh kekuatan kita memohon perlindungannya, agar, ketika di dunia kita mengelilinginya dengan penghormatan, ia di surga akan berkenan mendukung kita dengan doa- doanya yang khusuk…”[51]
IV.2.c Pengajaran Magisterium Gereja: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah
1. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan kerjasamanya di dalam Inkarnasi/ Mediatio in universali (Sententia certa).
Gelar Maria sebagai Co-redemptrix seperti yang muncul di dalam dokumen Gereja di bawah pimpinan Paus Pius X tidak untuk diartikan bahwa tindakan Maria setara dengan tindakan Kristus untuk menebus dunia, sebab hanya Kristus satu- satunya Pengantara (1 Tim 2:5). Bunda Maria sendiri membutuhkan Penebusan Kristus, sebab oleh jasa Kristuslah ia dibebaskan dari noda dosa. Kerjasamanya dalam penebusan Kristus adalah secara tidak langsung, yaitu dengan mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani Sang Penebus, dan di bawah salib Kristus, Maria turut menderita, dan berkorban bersama Kristus.
Konsili Vatikan II (1965) mengajarkan:
“Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia [Maria] memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh S. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia”. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati meyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya” Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria” (Lumen Gentium 56).
“Berdasarkan rencana penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi Hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita bengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.” (Lumen Gentium 61).
Selain mengajarkan bahwa Maria adalah Hawa Baru, para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa Maria adalah pengantara segala rahmat:
St. Bernardus seperti dikutip oleh St. Pius X (1903-1914): “Kristus adalah Sang sumber…. Namun demikian, seperti diajarkan oleh St. Bernard, Maria adalah salurannya, atau ia adalah leher yang menghubungkan Tubuh dengan Kepalanya dan yang menyalurkan kuasa dan kekuatan dari Kepala kepada Tubuh. Sebab ia [Maria] adalah leher dari Kepala kita, yang melaluinya semua karunia- karunia rohani diteruskan dari KepalaNya.”[52].
2. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan doa syafaatnya di Surga/ Mediatio in speciali (Sententia pia et probabilis).
Walaupun belum didefinisikan secara de fide, namun Maria sebagai pengantara segala rahmat telah diajarkan oleh banyak Paus:
Paus Leo XIII (1891), “Dari semua harta rahmat yang telah diberikan Allah, tak ada yang menurut kehendak Tuhan, datang kepada kita kecuali melalui Maria…” (Octobri mense)- D 1940
Paus Pius X (1903): Maria adalah “pembagi (dispenser) semua rahmat, yang telah diperoleh dari Kristus bagi kita oleh kematian dan darah-Nya (D 1978).
Paus Benedict XV (1919), “Semua karunia … diberikan melalui tangan Bunda Maria” (AAS 9, 1917, 266), Maria adalah, “mediatrix semua rahmat.” (AAS 11, 1919, 227)
Paus Pius XI (1937), mengutip St. Bernard, “Adalah kehendak Tuhan bahwa kita menerima segala sesuatu melalui Bunda Maria.” (Ingravescentibus malis, AAS 29, 1937, 373)
Konsili Vatikan II mengajarkan:
“Keibuan Maria dalam tatanan rahmat ini dimulai dengan persetujuannya yang ia berikan di dalam iman pada saat anunsiasi (saat menerima kabar gembira dari malaikat) dan yang dipertahankannya tanpa goyah di kaki salib-Nya, dan berakhir sampai penggenapan kekal dari semua orang terpilih. Setelah diangkat ke surga , ia tidak mengesampingkan tugas penyelamatan, tetapi dengan dosa syafaatnya yang tak terputus, terus menerus membawa bagi kita karunia- karunia keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air surgawi yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu dalam Gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Perantara. Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara.” (Lumen Gentium 62)
IV.3. Buah yang diterima Bunda Maria setelah menunaikan tugasnya sebagai Bunda Allah
Peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah memberikan buah yang membahagiakan, walaupun tak lepas juga dari penderitaan yang harus ditempuhnya demi kesatuannya dengan Kristus Putera-Nya. Persekutuan yang sempurna antara Bunda Maria dengan Kristus inilah yang membuatnya menjadi kudus, yang paling berbahagia di antara segala yang diciptakan, dan hal ini sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci. Bunda Maria yang dikandung tanpa noda, dan hidup tanpa dosa, kemudian diangkat ke surga oleh Kristus di akhir hidupnya, dan kini dimuliakan di Surga bersama Kristus. Namun bagi kita umat Katolik, hal penghargaan kepada Bunda Maria ini sesungguhnya bukan semata berpusat kepada Maria. Sebab, segala yang terjadi di dalam kehidupan Maria oleh karena rahmat kasih karunia Tuhan merupakan penggenapan janji Allah, yang bukan hanya diperuntukkan bagi Bunda Maria saja, tetapi juga bagi kita semua sebagai anggota Gereja-Nya, pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
Dengan demikian secara garis besar, buah yang diterima oleh Bunda Maria dari perannya sebagai Bunda Allah adalah: a) persatuannya yang sempurna dengan Kristus, yang membuahkan kemiripannya dengan Kristus; b) Maria dimuliakan oleh Kristus, diangkat ke surga dan menjadi ratu Surga; c) Maria menjadi Bunda Gereja, ibu bagi para orang percaya.
IV.3.a. Dasar dari Kitab Suci: hal- hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya
1. Mazmur 132:8: “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!”. Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus akan selalu bersama-Nya. Jika Henokh dan nabi Elia dapat diangkat ke surga (lih. Kej 5:24, Ibr 11:5. 2 Raj 1:11-12, 1 Mak 2:58) maka terlebih lagi Kristus dapat melakukan hal itu terhadap Ibu-Nya.
2. Lukas 1:48-49: “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” Peran Maria sebagai Bunda Allah akan menjadikannya dihormati oleh semua orang sepanjang jaman.
3. Lukas 2: 35: Lalu Simeon berkata kepada Maria….” dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Namun Sebagai Bunda Allah, suka citanya tidak terlepas juga dari persatuannya dengan Kristus dalam perderitaan-Nya.
4. Yohanes 19:25-27: Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Tuhan Yesus memberikan Ibu-Nya kepada kita murid- murid yang dikasihi-Nya agar menjadi ibu mereka juga.
5. Yakobus 1:12: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Mahkota kehidupan ini juga disebutkan oleh Rasul Petrus dan Yohanes (1 Pet 5:4; Why 2:10). Mahkota kehidupan inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus kepada umat beriman yang setia sampai mati (Why 2:10). Maria yang telah membuktikan ketaatan imannya sampai akhir, telah menerima mahkota kehidupan itu.
6. Wahyu 12:1: Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.
“Perempuan” yang disebutkan di sini mengacu kepada “perempuan” yang disebutkan pada Kej 3:15 dan Yoh 2:4; 19:26. Seperti halnya Hawa adalah ibu dari segala yang ciptaan yang lama, Maria adalah ibu dari segala mahluk ciptaan yang baru.
Wahyu 12:17: Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.
7. 1 Raja-raja 2: 17-20; Mazmur 45:9, Ratu pada jaman Kerajaan Salomo (anak Daud) bukanlah istri Raja, namun ibunya, yaitu Batsyeba. Ratu Batsyeba mempunyai kedudukan yang penting dalam Kerajaan Salomo, dan ia duduk di sebelah kanan Raja. Bunda Maria adalah Ibu Yesus, Sang Raja keturunan Daud yang dijanjikan Allah. Maka Bunda Maria juga menempati kedudukan istimewa di samping Kristus sang Raja (lih. Neh 2:6).
IV.4.b Dasar Tradisi Suci: hal-hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya
1. Persatuan Maria dengan Kristus
a. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan demikian[53]:
“Maria menjaga kesatuannya dengan Putera-Nya bahkan sampai di kayu salib-Nya dengan iman yang sama saat ia menerima kabar gembira dari malaikat. Pada saat itu ia juga mendengar perkataan: “Ia akan menjadi besar …. dan akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja… sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33).
Dan kini, berdiri di kaki salib itu, Maria menjadi saksi, dari sisi pandangan manusia, penyangkalan total dari perkataan ini. Betapa besar, betapa heroik, ketaatan iman yang ditunjukkan Maria dalam menghadapi kebijaksanaan Tuhan yang tak terselidiki! Betapa totalnya ia “memasrahkan dirinya kepada Tuhan” tanpa ada yang ditahan, mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya” kepada Allah yang “jalan- jalan-Nya tak terselidiki” (Rom 11:33)!…
Dengan iman ini Maria bersatu secara sempurna dengan Kristus dalam pengosongan diri-Nya. Sebab Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia,” dan tepatnya di Golgota, “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (lih. Flp 2:5-8). Pada kaki salib itu, Maria mengambil bagian melalui iman, misteri pengosongan diri yang mencengangkan ini. Ini mungkin merupakan “kenosis” iman yang terdalam di dalam sejarah manusia. Melalui iman, Bunda mengambil bagian di dalam kematian Putera-nya yang menyelamatkan; tetapi berbeda dengan iman para rasul yang melarikan diri, imannya jauh lebih terang. Di Golgota, Yesus melalui Salib-Nya jelas meneguhkan bahwa ia menjadi “tanda yang menimbulkan perbantahan” seperti yang dinubuatkan oleh Simeon. Pada saat yang sama, juga di Golgota tergenapi nubuat Simeon atas Maria, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri juga”.[54]
b. Persatuan Yesus dan Bunda Maria terjadi tidak saja pada saat mereka hidup di dunia, namun juga dalam kematiannya, dan seterusnya dalam kehidupan kekal. Origen[55], St. Ephrem[56], St. Jerome[57], St. Agustinus[58] menyebutkan tentang kenyataan tentang kematian Bunda Maria secara sekilas. Namun St. Epiphanus yang menyelidiki tentang kehidupan Bunda Maria mengatakan demikian, “Tidak ada yang tahu bagaimana ia berangkat pergi dari dunia ini.” Namun pada umumnya para Bapa Gereja dan Teolog menerima bahwa Maria, sepertihalnya Tuhan Yesus, juga mengalami kematian; dan hal ini juga ditegaskan dalam liturgi Gereja.
2. Maria diangkat ke surga
a. Pseudo- St. Melito (300): Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasaMu, adalah nampak benar bagi kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bundamu dan membawanya dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]: “Jadilah seperti perkataanmu”.[59]
b. Timotius dari Yerusalem (400)
Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke tempat pengangkatannya.[60]
c. Yohanes Sang Theolog (400)
Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dan dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan ke surga[61]
d. St. Gregorius dari Tours (575)
Para Rasul mengambil tubuhnya [jenazah Maria] dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan ke surga: di mana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan …[62]
e. Theoteknos dari Livias (600)
Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surga dengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan.[63]
f. Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya.[64]
g. St. Germanus dari Konstantinopel (683)
Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu. Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam kehidupan yang sempurna.[65]
h. St. Yohanes Damaskinus (697)
Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan[66].
i. Gregorian Sacramentary (795)
“Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu, namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya.”[67]
j. Gallican Sacramentary (abad ke-8)
“Sebuah misteri yang tak terlukiskan yang paling layak untuk dipuji seperti diangkatnya Perawan Maria ke surga, adalah sesuatu yang unik di antara umat manusia.”[68]
k. Liturgi Byzantin (abad ke-8)
“Tuhan, Raja semesta alam, telah memberikan rahmat yang melampaui kodrat. Seperti Ia telah memelihara keperawananmu pada saat kelahiran-Nya, Ia menjaga tubuhmu agar tidak rusak di kubur dan telah memuliakannya dengan perbuatan-Nya yang ilahi dengan memindahkannya dari kubur.”[69]
3. Maria menjadi ibu Gereja
a. Origen (244)
Putera Maria hanya Yesus sendiri; dan ketika Yesus berkata kepada Ibu-Nya, “Lihatlah, anakmu,” seolah Ia berkata, “Lihatlah orang ini adalah Yesus sendiri, yang engkau lahirkan.” Sebab setiap orang yang dibaptis, hidup tidak lagi dirinya sendiri, tetapi Kristus hidup di dalamnya. Dan karena Kristus hidup di dalamnya, perkataan kepada Maria ini berlaku baginya, “Lihatlah anakmu- Kristus yang diurapi.”[70]
b. St. Ephrem dari Syria (306- 373)
“Kelahiran-Mu yang ilahi, O Tuhan, melahirkan semua ciptaan;
Umat menusia dilahirkan kembali darinya [Maria], yang melahirkan Engkau.
Manusia melahirkan Engkau di dalam tubuh; Engkau melahirkan manusia di dalam roh…”[71]
c. St. Agustinus (416)
“Maria adalah sungguh ibu dari anggota- anggota Kristus, yaitu kita semua. Sebab oleh karya kasihnya umat manusia telah dilahirkan di Gereja, [yaitu] para umat beriman yang adalah Tubuh dari Sang Kepala, yang telah dilahirkannya ketika Ia menjelma menjadi manusia.”[72]
d. Paus Pius X (1903- 1914)
“Bukankah Maria adalah Bunda Yesus? Oleh karena itu ia adalah bunda kita juga…. Maria yang mengandung Sang Juruselamat dalam rahimnya, dapat dikatakan juga mengandung mereka yang hidupnya terkadung di dalam hidup Sang Juruselamat. Karenanya, kita semua … telah dilahirkan dari rahim Maria sebagai tubuh yang bersatu dengan kepalanya. Oleh karena itu, dalam pengertian rohani dan mistik, kita disebut sebagai anak- anak Maria, dan ia adalah Bunda kita semua.[73]
4. Maria menjadi Mediatrix (perantara) dengan doa syafaatnya di Surga
1. St. Irenaeus (180):
“Sebab Hawa terpedaya oleh perkataan malaikat [Iblis = fallen angel] untuk lari dari Tuhan, memberontak melawan Sabda-Nya, namun Maria menerima dengan gembira perkataan malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan, dengan menaati Sabda-Nya. Yang pertama terpedaya untuk tidak taat kepada Tuhan, sedangkan yang kedua terpengaruh untuk menaati Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi perawan Hawa. Seperti umat manusia tunduk kepada kematian melalui tindakan seorang perawan maka ia diselamatkan oleh seorang perawan.[74]
2. Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, (abad ke 3):
“Di bawah belas kasihanmu kami berlindung, O bunda Allah. Jangan menolak permohonan kami di dalam kekurangan, tetapi bebaskan kami dari bahaya, (o engkau) satu- satunya yang murni dan terberkati.”[75]
3. St. Gregory Nazianza (379)
“Ingatlah akan hal- hal ini dan kesempatan- kesempatan yang lain dan mohonlah kepada Perawan Maria untuk memberikan bantuan, sebab ia juga, adalah seorang perawan dan pernah berada di dalam bahaya ….”[76]
4. St. Cyril dari Alexandria (380)
“Salam kepadamu Maria, Bunda Allah, kepadamu dibangun gereja- gereja jemaat sejati, di desa- desa dan pulau- pulau.”[77]
5. St. Basil dari Seleucia (459)
O Perawan yang kudus …. Lihatlah kepada kami dan berbaik hatilah kepada kami. Pimpinlah kami di dalam kedamaian … ke sisi kanan Putera-Mu…[78]
6. Theoteknos dari Livias (560)
“Diangkat ke surga, ia tetap menjadi tempat pertahanan yang tak tergoyahkan bagi umat manusia, [sebagai] pendoa syafaat bagi kita di hadapan Allah Putera.”[79]
7. St. Germanus dari Konstantinopel (733)
“Maria tetap Perawan — pertama- tama sebagai mediatrix (pengantara) melalui peristiwa melahirkan [Kristus] yang supernatural, dan sekarang sebagai mediatrix karena bantuan keibuannya melalui doa syafaat—[80]
8. St. Yohanes Damaskinus (749)
“Kini kami tetap di dekatmu, … O Bunda Allah dan Perawan. Kami mengikatkan jiwa kami kepada pengharapanmu, seperti kepada jangkar yang teguh dan tak terpatahkan, menyerahkan kepadamu akal budi, jiwa, tubuh dan segalanya, untuk menghormatimu…[81].
9. Ambrosius Autpert (778)
Marilah kita mempercayakan diri kita dengan kasih jiwa kita kepada doa syafaat Perawan yang terberkati: dengan segenap kekuatan kita, memohon perlindungannya agar, ketika di dunia kita mengelilinginya dengan penghormatan, ia sendiri di surga dapat berkenan mendukung kita dengan doa- doanya….[82]
IV.4.c Pengajaran Magisterium Gereja: hal-hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya[83]
1. Maria meninggal dunia sementara/ a temporal death (Sententia. communior).
Walaupun pengajaran ini tidak bersifat de fide, namun banyak teolog memperkirakan bahwa ia wafat sementara sebelum diangkat ke surga. (St. Augustine, in Ioan tr.8, 9) Bagi Maria yang tidak berdosa, kematian yang dialaminya bukan karena akibat dosa asal ataupun dosa pribadi. Namun adalah layak bagi tubuh Maria, yang secara kodrati bersifat mortal/ tidak abadi, harus sesuai dengan yang terjadi pada tubuh Putera-Nya, yang juga tunduk kepada kematian. Dengan demikian Bunda Maria mengalami apa yang juga dialami oleh Kristus.
2. Maria diangkat tubuh dan jiwanya ke Surga (De fide)
Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostoliknya yaitu Munificentissimus Deus (dipromulgasikan 1 November 1950) mengajarkan:
“Maria, Bunda yang tak bernoda dan tetap Perawan Bunda Allah, setelah selesai hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.”
Di sini memang tidak disebutkan apakah Bunda Maria wafat terlebih dahulu sebelum diangkat ke surga atau ia diangkat tanpa mengalami kematian.
3. Maria, Bunda Allah, dihormati secara khusus, dengan istilah Hyperdulia (Sententia certa).
Penghormatan kepada Maria disebabkan karena perannya sebagai Bunda Allah. Hal ini diajarkan oleh St. Cyril dari Alexandria pada Konsili Efesus (431). Namun tentu saja penghormatan ini harus dibedakan dengan penyembahan. St. Epiphanus (403) mengajarkan, “Maria harus dihormati, tetapi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus harus disembah. Tak seorangpun boleh menyembah Maria.”[84].
Konsili Vatikan II mengajarkan:
“Berkat rahmat Allah Maria diangkat di bawah Puteranya, di atas semua malaikat dan manusia, sebagai Bunda Allah yang tersuci, yang hadir pada misteri-misteri Kristus; dan tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan penghormatan yang istimewa. Memang sejak zaman kuno Santa Perawan dihormati dengan gelar “Bunda Allah”; dan dalam perlindungannya umat beriman memperoleh perlindungan dari bahaya serta kebutuhan mereka.” (Lumen Gentium 66)
4. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan doa syafaatnya di Surga (Mediatio in speciali). Ini diperolehnya karena persatuannya yang sempurna dengan Kristus.
Konsili Vatikan II mengajarkan:
Setelah diangkat ke surga , ia tidak mengesampingkan tugas penyelamatan, tetapi dengan doa syafaatnya yang tak terputus, terus menerus membawa bagi kita karunia- karunia keselamatan kekal…” (Lumen Gentium 62).
“Karena kurnia serta peran keibuannya yang ilahi, yang menyatukannya dengan Puteranya Sang Penebus, pun pula karena segala rahmat serta tugas-tugasnya, Santa Perawan juga erat berhubungan dengan Gereja. Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus.” (Lumen Gentium 63)
5. Maria dihormati di surga sebagai Ratu alam semesta
Konsili Vatikan II mengajarkan:
“Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (Lumen Gentium 59)
6. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda umat beriman. Konsili Vatikan II mengajarkan:
“Ia [Maria] dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi. Namun sebagai keturunan Adam, ia termasuk golongan semua orang yang harus diselamatkan. Bahkan “ia [Maria] memang Bunda para anggota (Kristus). Karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu”. Oleh karena itu ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam im
March 15, 2011 at 11:19 am
Benarkah semua manusia termasuk nabi-nabi berdosa?
Dari Perjanjian Baru secara jelas dapat kita ketahui bahwa hamba-hamba Tuhan itu terbagi ke dalam dua macam yang jahat dan ada yang baik. Orang yang mengatakan semua manusia itu berdosa, berarti dia mendustakan keterangan-keterangan Perjanjian Baru yang jelas tersebut. Injil mengatakan:
1. “Sebab aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Matius 13:17).
2. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45).
3. “Seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabiNya yang kudus” (Lukas 1:70).
4. “Sebab tidak pernah nubuwat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah” (Surat Petrus Yang Kedua 1:21).
5. “Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar” (Lukas 13:28).
6. “Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya” (Surat Yohanes Yang Pertama 5:18).
7. “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga ………. Sebab demikian juga yang teraniaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).
Pertama:
Ayat-ayat di atas secara gamblang mengungkapkan bahwa para nabi itu suci, tak berdosa. Mereka telah diciptakan oleh Allah dan adalah penghuni KerajaanNya. Syaitan tidak pernah menyentuh mereka. Mereka dianiaya demi mempertahankan ketakwaan mereka. Adalah jelas, orang yang mencapai martabat rohani seperti itu tidak mungkin berbuat dosa. Syaitan juga tak pernah mampu mengungguli mereka. Bagaimanapun juga, orang yang suka bertengkar sekalipun, dengan adanya keterangan ayat-ayat ini, akan mengakui bahwa di kalangan Bani Adam (manusia keturunan Adam) terdapat orang-orang yang berdosa dan jahat dan ada pula orang-orang yang saleh. Tidak seluruhnya jahat dan berbuat dosa. Sekalinya kita menerima kebenaran ini, maka akidah Kristen menjadi batal dan bangunan anggun Penebusan Dosa menjadi berantakan.
Kedua:
Allah Swt. menjadikan dan mengutuskan para nabi sebagai teladan dan panutan yang terbaik. Mereka datang memberi pelajaran kepada manusia lewat imbauan. Dikatakan;….Namun bertahun-tahun lamanya Engkau melanjutkan sabarMu terhadap mereka. Dengan RohMu Engkau memperingatkan mereka” (Nehemia 9:30).
Sekarang, sekiranya nabi sendiri terlibat dalam perbuatan jahat, bagaimana mungkin mereka dapat menjadi teladan dan contoh untuk orang-orang lain dan menjadi pengawas mereka? Jelas, apabila para nabi dikatakan berdosa, hal demikian berarti nubuwatan-nubuwatan mereka dusta; dan ini jelas tidak benar dan akidah bahwa semua nabi berdosa juga batal (gugur).
Ketiga:
Kitab Suci Bibel menjadi saksi bahwa banyak sekali orang saleh dan suci telah berlalu. Mereka sepanjang hidupnya tunduk kepada Allah dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Mereka tidak pernah membangkang. Saya akan menyebutkan beberapa di antara orang-orang suci itu:
1. Yohanes (Yahya) Pembaptis dikatakan oleh Bibel sebagai orang suci dan berakhlak yang tak bernoda. Coba baca ayat-ayat berikut:
1. “Sebelum ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya” (Lukas 1:15).
2. “Tangan Tuhan menyertai dia” (Lukas 1:66).
3. “Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel” (Lukas 1: 80).
4. “Sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melingunginya” (Markus 6:20).
5. “Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis’” (Markus1:4).
6. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripadanya’” ( Matius 11:11)
7. “Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: ‘Ia kerasukan setan’. Kemudian anak mereka berkata: ‘Manusia datang. Ia makan dan minum, dan mereka berkata: ‘Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum. Sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya’” (Matius 11: 18).
8. “Pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakaria, di padang gurun” (Lukas 3:2).
Dari ayat-ayat ini terbukti bahwa Yohanes (Yahya) adalah seorang suci dan bersih dari dosa. Ia seorang yang menerima wahyu Tuhan. Tangan Tuhan di atas tangannya dan dia sejak di dalam rahim ibunya sudah dipenuhi oleh Roh Kudus. Lagi pula dia pembaptis orang-orang yang berdosa untuk bertobat dan untuk menyelamatkan manusia yang penuh dosa. Dia terbesar dari antara orang-orang yang dilahirkan dari rahim perempuan. Mungkinkah insan seperti ini orang berdosa? Saya berpendapat tak akan ada orang Kristen yang berakal akan menetapkan Yohanes atau Yahya orang berdosa, terutama setelah terbukti bahwa Isa Almasih dibaptis secara khusus oleh Yohanes sendiri. Saya menyampaikan tantangan kepada semua orang Kristen untuk membuktikan berdasarkan Bibel bahwa Yohanes itu berdosa.
2. Habel anak Adam. Habel juga seorang suci dan benar dalam tiap perbuatannya. Tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Dalam Perjanjian Baru dikatakan:
1. “Supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakaria anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah” (Matius 23:55).
2. “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik itu dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibrani 11:4).
3. “Bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya dia membunuh? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar” (Yohanes 3:12).
3. Daniel a.s.: Menurut Bibel Nabi Daniel juga tidak berdosa. Malahan, sebaliknya dari itu, kebersihannya dari dosa didiukung oleh adanya kesaksian-kesaksian. Di dalam Bibel dikatakan tentang Daniel:
1. a. “Pada akhirnya Daniel datang menghadapku, yakni Daniel yang dinamai Beltsazar menurut nama dewaku, dan yang penuh dengan roh para dewa yang kudus” (Daniel 4:8).
2. b. “Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya” (Daniel 6:4).
Di mana ada kristian di sana ada pembohongan.Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka yang sangat panas jika mati tanpa sempat bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.
March 15, 2011 at 11:36 am
Pergulatan Yakub dengan Allah menggambarkan Pentakosta
Perjanjian Lama harus dimengerti dalam terang Perjanjian Baru
Berapa banyak dari kita yang mengalami kesulitan dalam membaca Perjanjian Lama atau mungkin ada dari antara kita yang menganggap bahwa Perjanjian Lama tidak penting? Padahal Perjanjian Lama memuat pengajaran yang sangat penting sebagai dasar iman kita, karena kitab Perjanjian Lama adalah 2/3 bagian dari keseluruhan Alkitab yang diilhami oleh Allah sendiri, yang secara umum memuat nubuat tentang Yesus Kristus dan mempersiapkan umat Allah akan kedatangan Putera Tunggal Allah itu. Maka, dalam mempelajari Perjanjian Lama, kita harus selalu melihatnya dalam terang Perjanjian Baru. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
KGK, 121: Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya (Bdk. DV 14.) karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.
KGK, 122: “Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia.” Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama “juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati. … Kitab-kitab itu mencantum ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang peri hidup manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan, akhirnya secara terselubung [mereka] mengemban rahasia keselamatan kita” (DV 15).
KGK, 123: Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].
Dari dokumen tersebut, kita melihat pentingnya Perjanjian Lama, terutama kita dapat melihat rancangan keselamatan Allah. Kalau kita menghilangkan Perjanjian Lama, maka sama saja dengan kita membaca suatu novel, tidak mengerti cerita awalnya, dan hanya membaca 1/3 bagian akhir dari novel tersebut. Yang menjadi tantangan dalam membaca Perjanjian Lama memang adalah, kita harus mengerti kaitannya dengan ayat-ayat lain, dan juga budaya pada waktu kitab itu dituliskan, yang memang sulit dimengerti karena kita terpisah begitu jauh dari masa itu. Namun, kita tidak boleh berputus ada kalau kita tidak mengerti, karena kita dapat melihat dokumen-dokumen Gereja maupun apa yang dikatakan oleh Bapa Gereja. Dan tentu saja mohon agar Roh Kudus memberikan pengertian kepada kita.
Sebagai contoh adalah bagaimana kita mengartikan Tuhan yang kalah bergulat dengan Yakub. Dikatakan di Kitab Kejadian 32:24-28
24. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.
25 Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
26 Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.
27. Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”
28. Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.“
Yakub, sang pembohong
Yakub adalah anak kedua dari Ishak, dan adik dari Esau. Yakub mengambil keutungan dari Esau, sehingga Esau menukar haknya sebagai putera sulung dengan makanan yang dibuat oleh Yakub (lih. Kej 25:29-34). Dan kemudian Yakub menipu Esau, sehingga akhirnya Yakublah yang mendapatkan berkat dari Ishak (lih. Kej 27:1-33). Kemudian Yakub melarikan diri karena ketakutan, dan bekerja pada pamannya, Laban. Namun, Laban kemudian juga menipu Yakub dengan memberikan Lea kepada Yakub dan bukan Rahel (lih. Kej 29:23-27), meskipun akhirnya Yakub berhasil memperistri Rahel setelah bekerja kepada Laban tujuh tahun lagi (lih. Kej. 29:30). Namun, kemudian Yakub menipu Laban dengan memberi tanda kepada kambing-kambing domba yang kuat, sehingga menjadi milik Yakub (lih. Kej 30:32-43). Dan kemudian Yakub beserta dengan istri-istri dan anak-anak, dan segala pelayan dan hartanya pergi meninggalkan Laban dan pulang ke negeri asalnya.
Yakub, yang ketakutan
Nah, dalam perjalanan pulang di bab 32 dari Kitab Kejadian, diceritakan bagaimana Yakub ketakutan ketika mendengar bahwa Esau, kakaknya beserta dengan 400 orang datang untuk menemuinya. Dan apa yang dilakukannya? Karena dia terbiasa untuk berbohong, maka dia dengan cepat memutar otaknya. Dengan kecerdikannya, dia mencoba memberikan persembahan kepada Esau (lih. Kej 32:14-20), agar Esau tidak membunuhnya. Dia mengirim pelayan-pelayannya beserta dengan ternak-ternaknya. Dan Dia juga mengirim dua istrinya, dua budak perempuannya dan ke sebelas anak-anaknya untuk menyeberangi sungai Yabok. Namun, Yakub sendiri tinggal seorang diri di perkemahan.
Yakub, yang bergulat dengan malaikat Tuhan
Di dalam kesendiriannya, di tepi sungai Yabok, Yakub bergulat dengan malaikat Tuhan sampai fajar menyingsing. Kalau kita merenungkan, apakah bergulat dapat digambarkan sebagai suatu pergulatan fisik dengan malaikat Tuhan? Mungkin saja hal ini terjadi. Namun secara fisik, sebenarnya manusia tidak mungkin mengalahkan malaikat Tuhan, kecuali malaikat Tuhan tersebut mengalah kepada Yakub.
Namun makna yang lebih dalam dari hal ini adalah makna spiritual. Yakub, mungkin dalam kesendiriannya telah membayangkan akan kemarahan dari Esau yang telah ditipunya dan ada kemungkinan Esau akan membunuhnya. Dia teringat akan segala tipu muslihatnya, sehingga ia berhasil membohongi Ishak, yang menyebabkan Esau kehilangan berkat sebagai anak pertama. Dan Yakub pasti ketakutan akan resiko yang akan dialaminya kalau dia bertemu dengan kakaknya. Dia mengungkapkan ketakutannya dengan doa “Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya.” (Kej 32:11)
Dalam situasi seperti inilah, Yakub tidak mempunyai pegangan apapun selain kepada janji yang telah diterimanya dari Allah, yang mengatakan “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.” (Kej 31:3) Dan Yakub juga berpegang pada berkat yang diterimanya dari ayahnya, sehingga dia mengatakan “Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung.” (Kej 32:12; lih. juga Kej 28:3-4). Namun, janji Tuhan ini tidaklah cukup bagi Yakub. Dia menginginkan suatu pengalaman yang dapat dirasakannya, pengalaman yang benar-benar dapat merubahnya. Dan di sinilah terjadi suatu drama pergulatan antara Yakub dengan malaikat Tuhan.
Yakub, yang memenangkan pergulatan doa
Pergulatan ini melambangkan suatu pergumulan doa. Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Doa Abraham dan Yakub itu bagaikan satu perjuangan iman yang dilakukan dalam kepercayaan kepada kesetiaan Allah, dalam kepastian, kemenangan yang dijanjikan kepada orang yang tabah.” (KGK, 2592) Yakub yang tahu bahwa harapan satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya hanyalah Tuhan dan janji setia-Nya yang akan mendampingi dan menjadikan keturunannya sebanyak pasir di laut, yang tak terhitung banyaknya. Oleh karena itu, Yakub terus-menurus memohon dan bergulat dengan Tuhan di dalam doa sampai fajar menyingsing (lih. Kej 32:24). Dia terus berjuang di dalam doa, percaya akan janji Allah yang pasti akan ditepati-Nya. Dia terus berjuang dan tidak mengijinkan malaikat Tuhan untuk pergi sebelum dia memberkatinya. Percaya akan janji Tuhan dan dengan penuh perjuangan dan keyakinan, Yakub mengatakan “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” (Kej 32:26)
Dan menarik sekali apa yang ditanyakan oleh malaikat Tuhan. Berkat yang diminta oleh Yakub dipenuhi dalam pertanyaan dan pernyataan dari malaikat Tuhan. Malaikat Tuhan bertanya “siapakah namamu?” Pada saat seseorang menanyakan nama, maka yang ditanyakan adalah keseluruhan dari diri orang tersebut. Dan Yakub mengatakan bahwa namanya adalah Yakub. Nama, dimana Esau berkata “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” (Kej 27:36). Nama, Yakub seolah-olah menjadi identik dengan penipu. Dan memang tepatlah konotasi penipu pada diri Yakub, mengingat ada banyak penipuan yang dilakukannya selama dalam hidupnya.
Dalam perjuangan doa, maka Tuhan akan bertanya kepada diri kita masing-masing, “Siapakah namamu”, yang berarti: Bagaimanakah kehidupanmu? Bagaimana relasimu dengan-Ku? Apakah engkau telah berdosa hari ini? Apakah engkau tetap menjadi anak-anak Allah? Dan pada saat seseorang menyadari pertanyaan-pertanyaan ini, yang berarti seseorang memeriksa batinnya secara teliti, maka janganlah terkejut kalau Tuhan akan merubah kehidupannya, merubah namanya.
Malaikat tersebut mengatakan “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” (Kej 32:28) Nama Yakub yang berkonotasi penipu, yang berarti mengandalkan segala cara untuk kepentingannya sendiri, sekarang menjadi Israel, yang berarti “yang bergumul dengan Allah” atau “Tuhan menang” (God prevails, lih. Brown Driver Briggs’ Hebrew definitions). Namun dikatakan di ayat tersebut bahwa dalam pergumulan tersebut, Yakub menang. Dengan demikian kemenangan Yakub terletak pada kemenangan Allah. Kita dapat menang dalam pergumulan doa, kalau Allah menang dan kita mengikuti jalan-Nya dan kita mau merubah kehidupan kita yang kelam untuk dapat semakin dekat dengan Tuhan, sehingga Tuhan senantiasa meraja dalam kehidupan kita. Kemenangan seseorang di dalam doa, bukanlah Tuhan yang mengikuti keinginan kita, namun kitalah yang mengikuti keinginan Tuhan. Kemenangan Tuhan ditandai dengan terpukulnya sendi pangkal paha Yakub (lih. Kej 32:25), sehingga dia harus berjalan pincang seumur hidupnya (lih. Kej 32:31). Orang yang telah diubah oleh Tuhan, memang seharusnya mempunyai suatu perubahan yang terjadi di dalam kehidupannya. Dan perubahan ini memang dapat terlihat sebagai suatu pengorbanan, namun pengorbanan yang membawa kebahagiaan.
Yakub, yang menjadi manusia baru (Israel)
Yakub telah manusia baru, yang diubah oleh Tuhan dalam pergulatan doa. Sebelum pergulatan tersebut, Yakub ketakutan, ingin berjalan paling belakang, setelah hewan-hewan dan pelayan-pelayannya, dan juga istri dan anak-anaknya, sehingga setiap saat, mungkin dia dapat melarikan dirinya kalau ternyata Esau ingin membunuhnya. Namun, apakah yang terjadi setelah pergumulan tersebut? Dia bukan lagi menjadi seorang penipu yang pengecut. Namun, “ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.” (Kej 33:3). Dia tidak takut lagi kalau kakaknya membunuhnya. Yakub yang ketakutan menjadi begitu berani dan mengemban tugas sebagai kepala keluarga dengan baik, yang nantinya menjadi bangsa Israel. Dia berjalan di depan, memimpin istri-istri dan anak-anaknya, serta seluruh hewan-hewan beserta dengan pelayan-pelayannya dalam menghadapi setiap kesulitan. Dan keberanian dan kejujuran ini membawa perdamaian dengan Esau, orang yang ditipunya. Ketakutan berganti menjadi kedamaian. Dan inilah kemenangan yang dimaksudkan dengan kemenangannya dalam bergulat melawan Allah. Kemenangan inilah yang melahirkan Israel, bangsa yang dipersiapkan Allah untuk menjadi umat pilihan-Nya.
Gereja adalah Israel yang baru
Israel adalah suatu gambaran dari Gereja, sehingga Gereja disebut Israel yang baru (Lumen Gentium, 9). Sama seperti Yakub melahirkan dua belas suku Israel, maka di dalam Perjanjian Baru, Kristus memulai karyanya dengan dua belas rasul. Setelah kematian Yesus, kita tahu bahwa bahwa para murid ketakutan dan tidak berani bersaksi apapun. Mereka berpencar dan bersembunyi dalam ketakutan. Sama seperti Yakub yang bergumul dengan Tuhan sampai fajar menyingsing, para murid juga bergumul dengan Tuhan. Kalau Yakub bergumul dengan Tuhan sendirian, maka para murid bergumul dengan Tuhan bersama-sama dengan Bunda Maria. Mereka tidak berhenti bergumul dengan Tuhan, sampai berkat yang dijanjikan oleh Yesus datang (lih. Yoh 14:26) Berkat ini adalah berupa lidah-lidah api, yaitu Roh Kudus, yang mengajarkan segala sesuatu kepada para murid tentang apa yang telah dikatakan oleh Yesus.
Dan dalam pergulatan ini, para murid telah menang seperti Yakub. Para murid yang tadinya penakut, kemudian mendapatkan gelar yang baru, yaitu “Israel yang baru” atau “Gereja“. Gereja inilah yang dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta, dengan manifestasi Roh Kudus, yang memberikan keberaniaan kepada para murid untuk bersaksi tentang Kristus. Petrus yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, pada hari Pentakosta menjadi manusia yang baru, yang berani mewartakan Kristus dan berkata “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38) Inilah kemenangan yang baru, dimana Gereja menjalankan misinya seperti yang diperintahkan oleh Kristus “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).
Kesimpulan
Kita melihat, bahwa Perjanjian Lama kalau dimengerti dalam terang Perjanjian Baru mempunyai pesan yang begitu indah dan penuh makna. Oleh karena itu, kita harus mencoba mendalami Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dari beberapa interpretasi di atas, kita dapat melihat tipologi, yaitu menarik benang merah antara apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Yakub yang ketakutan akan kemungkinan dibunuh Esau, mempunyai kesamaan dengan para murid di Perjanjian Baru yang ketakutan dari pembunuhan kaum Farisi. Yakub dan para murid menyadari bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat menyelesaikan permasalah mereka, sehingga Yakub bergelut dengan Tuhan di dalam doa di tepi sungai Yabok, sedangkan para murid berserta dengan Maria bergelut dengan Tuhan di “upper room“.
Kalau Yakub bergelut dengan malaikat Tuhan dan menang, sehingga namanya diubah menjadi Israel, maka di dalam Perjanjian Baru, pada peristiwa Pentakosta, kemenangan para murid ditandai dengan lahirnya Gereja, Israel yang baru. Yakub yang berjalan timpang setelah bergelut dengan malaikat Tuhan, juga dialami oleh para murid, di mana mereka menanggung begitu banyak penganiayaan, bahkan rela menjadi martir. Namun mereka semua mengalami perubahan dari dalam: Yakub yang takut dan berjalan di belakang menjadi pemimpin dan berjalan di muka, para murid yang takut dan bersembunyi, menjadi pewarta dan memberitakan Kristus tanpa takut dihukum. Dan itulah efek kemenangan dalam bergulat melawan Tuhan di dalam doa. Kemenangan ini terletak bukan pada terpenuhinya keinginan kita, namun pada merajanya keinginan Tuhan dalam kehidupan kita dan kekuatan yang diberikan Tuhan untuk mengemban misi yang diberikan oleh Tuhan dalam kehidupan kita.
Marilah, kita bersama-sama bergulat dengan Tuhan, dengan terus bertekun di dalam doa, seperti yang dilakukan oleh Yakub dan para murid. Kita terus bertekun dalam doa, sampai kita mendapatkan Pentakosta yang baru, sehingga hati kita dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya, sehingga kita senantiasa mempunyai kekuatan untuk senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita. Dan mungkin Tuhan akan memberikan nama yang baru kepada kita masing-masing, untuk mengemban misi khusus yang diberikan kepada Tuhan kepada kita masing-masing.
March 15, 2011 at 11:38 am
Mengapa Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun?
Pendahuluan:
Sungguh menjadi suatu tantangan tersendiri untuk mengajak keponakan-keponakan yang masih kecil untuk ke tempat perbelanjaan. Bagi anak-anak kecil toko serba ada merupakan tempat yang menyenangkan dan sekaligus menggoda, karena terlalu banyak mainan yang ditawarkan. Terlebih lagi, toko serba ada tersebut tahu cara menata mainan, sehingga dapat menggoda anak-anak, sehingga mengakibatkan mereka merengek untuk dibelikan mainan.
Pernahkan terfikir oleh kita, bahwa Iblis juga sama seperti pemilik toko serba ada yang tahu cara memberikan iming-iming kepada manusia, sehingga manusia dapat tergoda? Sang penggoda tahu kelemahan-kelemahan manusia, sehingga kalau tidak berhati-hati manusia dapat tergoda dengan mudah. Rasul Yohanes menyadari hal ini sehingga dia mengingatkan godaan dari Iblis yang terdiri dari: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16). Dan lebih lanjut, Yesus telah membiarkan Diri-Nya dicobai oleh Iblis, sehingga Yesus dapat menyingkapkan perangkap Iblis dan menunjukkan kepada manusia bagaimana untuk bertahan dari godaan Iblis.
Yesus menyingkapkan strategi iblis dalam mencobai manusia dan memberikan solusi untuk menghadapinya
Kisah tentang Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun diceritakan di Mt 4:1-11; Lk 4:1-13 dan Mk 1:12-13. Mari sekarang kita melihat dan membahas apa yang dituliskan oleh Lk 4:1-13.
1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.
2 Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”
4 Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”
5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.
6 Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.
7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.”
8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”
9 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah,
10 sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau,
11 dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”
12 Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”
13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.
Pernahkan terfikir oleh kita, mengapa Yesus memberikan Diri-Nya dicobai oleh Iblis? Bukankah Yesus adalah Allah? Mengapa Allah membiarkan Diri-Nya dicobai oleh Iblis? Bukankah sebagai Allah, Yesus tahu bahwa Dia pasti menang melawan godaan Iblis? Namun, semua hal ini dilakukan oleh Yesus bukan untuk Diri-Nya sendiri, namun dilakukannya untuk kepentingan manusia, makhluk yang dikasihi-Nya. Yesus membiarkan Diri-Nya dicobai untuk menunjukkan strategi Iblis dalam menggoda manusia dan pada saat yang bersamaan, Yesus menunjukkan jalan bagaimana untuk menghadapi godaan tersebut. Semua yang Yesus lakukan merupakan suatu pelajaran bagi kita manusia, sehingga kita dapat mengikuti apa yang dilakukan-Nya, sehingga kita dapat mencapai keselamatan kekal.
Yesus adalah hukum yang baru
Puasa selama 40 hari yang dilakukan oleh Yesus, mengingatkan kita akan apa yang dilakukan oleh Musa, seperti yang dikatakan di kitab Keluaran: “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman” (Kel 24:28). Dengan demikian, Yesus ingin menunjukkan bahwa Dia adalah hukum yang baru. Hukum yang sebelumnya dituliskan dalam dua loh batu sekarang menjadi daging; yang dulu merupakan hukum Taurat (law), sekarang menjadi rahmat (grace). Sama seperti Musa membawa dua loh batu kepada bangsa Israel dan menyatakan hukum Allah, maka Yesus membawa Diri-Nya sendiri dan menyatakan hukum yang baru dalam kotbah di bukit (lih. Mt 5), yang ditutup dengan suatu tuntutan yang terlihat tidak mungkin, yaitu “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mt 5:48). Dan tuntutan akan kesempurnaan hanya mungkin terjadi dengan rahmat Allah, yang tercurah dari pengorbanan Yesus sendiri di kayu salib.
Baptisan adalah suatu genderang perang terhadap iblis
Kita juga melihat bahwa pencobaan Yesus ini terjadi setelah Yesus dibaptis. Kita tahu bahwa baptisan bukan hanya sekedar simbol, namun merupakan suatu tindakan untuk mati terhadap dosa dan hidup di dalam Kristus (lih. Rm 6:1-6). Dengan Sakramen Baptis, maka kita menjadi anak-anak terang dan bukan lagi menjadi anak-anak gelap; meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru, yang berarti mengikuti jalan Tuhan dan meninggalkan jalan Iblis. Oleh karena itu, secara tidak langsung, orang-orang yang telah dibaptis telah membunyikan genderang perang terhadap Iblis. Jadi, pencobaan Yesus setelah baptisan, mengajarkan kepada kita semua yang telah dibaptis untuk senantiasa bertumbuh di dalam kehidupan spiritualitas kita, karena kita pasti akan mengalami percobaan-percobaan hidup. Kita tidak dapat lulus dalam ujian tanpa bergantung pada rahmat Allah. Dengan demikian, kita harus mengikuti Kristus dalam menghadapi percobaan. Mari kita menganalisa satu-persatu percobaan yang dialami oleh Yesus.
Pencobaan 1 – Merubah batu menjadi roti vs Firman Allah
Kita tahu bahwa dosa asal membawa “concupiscence” atau kecenderungan berbuat dosa. Dan ini diterangkan oleh rasul Yohanes “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yoh 2:16) Agar manusia dapat menghadapi tiga hal ini, maka Yesus menunjukkan bagaimana untuk bertahan dari keinginan daging, mata dan keangkuhan hidup. Dan hal ini terungkap dalam tiga macam percobaan yang dialami oleh Yesus.
Kalau kita menghubungkan dengan 1 Yoh 2:16, maka percobaan pertama ini berhubungan dengan keinginan daging. Yesus mengingatkan kita bahwa manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa, mempunyai kebutuhan jasmani dan rohani. Dan kita harus mengingat bahwa kebutuhan jiwa mempunyai tempat yang lebih tinggi dari kebutuhan jasmani, karena jiwa bersifat selamanya sedangkan badan bersifat sementara. Dengan demikian, Iblis senantiasa mengingatkan kita akan kebutuhan jasmani, dan Yesus mengingatkan bahwa kita harus memperhatikan keadaan jiwa kita dengan bergantung pada Firman yang keluar dari mulut Allah. Dan jika Firman itu telah menjadi daging, maka untuk bertahan dari percobaan kedagingan kita harus bergantung pada Sang Firman, yaitu Yesus sendiri, yang adalah Firman (lih. Yoh 1:1).
Pencobaan 2 – Kerajaan dunia dengan sujud menyembah Iblis vs menyembah Allah
Disinilah Iblis memberikan percobaan keinginan mata atau kekuasaan, uang, kerajaan duniawi, yang pada akhirnya menjadi satu paket dengan sujud menyembah si iblis. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mt 6:24) Dan pada percobaan ini, Yesus menegaskan “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mt 4:10) Dan inilah yang menjadi perintah pertama dari 10 perintah Allah, dimana Gereja Katolik mengambil dari Kel. 20:2-5, yang diformulasikan oleh St. Agustinus “Akulah Tuhan, Allahmu: Jangan ada allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit dan di bumi, dan jangan sujud menyembah kepadanya” Dengan demikian, di bagian terakhir ini, Yesus memberikan perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, hati dan segenap akal budi (lih. Mt 22:37).
Pencobaan 3 – Jatuhkanlah Dirimu ke bawah vs Jangan mencobai Allah:
Pencobaan terakhir yang diberikan oleh Iblis kepada Yesus adalah pencobaan yang paling berbahaya, yang telah menjatuhkan Adam dan Hawa. Inilah pencobaan yang digambarkan oleh rasul Yohanes sebagai “keangkuhan hidup“. Keangkuhan atau kesombongan adalah ibu dari segala dosa. Untuk menangkal pencobaan ini, maka Yesus menjawab dengan “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”” (Mt 4:7). Kesombongan menggoda kita dengan mengatakan bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri, termasuk hidup tanpa Allah. Kesombongan membuat kita salah dalam menilai diri kita sendiri. Kesombongan membuat kita yang sebenarnya tidak dapat hidup tanpa Tuhan, berfikir bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri dan tidak perlu melibatkan Tuhan. Di dalam konteks inilah, kita diingatkan oleh Yesus untuk tidak mencobai Tuhan Allah-Mu, yaitu untuk tidak menganggap diri kita sama seperti Tuhan, yang dapat menentukan segala sesuatu sendiri. Kesombongan menghalangi rahmat Tuhan untuk dapat mengalir secara bebas kepada manusia, sehingga manusia yang pada dasarnya lemah akan semakin tidak berdaya tanpa rahmat Allah. Kesombongan ini hanya dapat ditangani dengan kerendahan hati, kebajikan yang menjadi dasar dari semua kebajikan. Kerendahan hati adalah mengakui bahwa kita bukanlah apa-apa dan Tuhan adalah segalanya. Lebih lanjut tentang kerendahan hati, silakan klik di sini. Bagi umat Katolik, salah satu manifestasi dari kerendahan hati adalah pada saat kita menerima Sakramen Tobat, dimana kita mengakui dosa-dosa kita secara terbuka, dengan penyesalan, dan dengan pertolongan rahmat Tuhan berjanji untuk tidak berbuat dosa lagi.
Penutup
Dari pemaparan di atas, kita melihat bahwa Yesus memang datang untuk membawa manusia kepada keselamatan, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (lih. Yoh 14:6). Agar manusia dapat terus berada di jalan Allah, maka Yesus memberikan rahmat yang bersumber pada misteri Paskah. Namun, karena tahu kelemahan manusia dan pencobaan yang akan diberikan oleh Iblis, maka Yesus sendiri memberikan Diri-Nya untuk dicobai, sehingga manusia tahu cara untuk menghadapi cobaan dari Iblis. Tiga kelemahan manusia, seperti yang dituturkan oleh rasul Yohanes, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup harus dihadapi dengan Firman Allah, fokus akan tujuan akhir – yaitu Kerajaan Allah, serta dengan kebajikan kerendahan hati. Kita juga perlu merenungkan bahwa inilah yang dilakukan oleh kaum religius, dimana keinginan daging dilawan dengan kaul kemurnian, keinginan mata dilawan dengan kaul kemiskinan, dan keangkuhan hidup dilawan dengan kaul ketaatan. Mari, dalam kapasitas dan kondisi kita masing-masing, kita bersama-sama berjuang untuk bertahan melawan godaan Iblis, dan bertumbuh dalam kekudusan, sehingga kita terus mengejar kesempurnaan, sama seperti Bapa adalah sempurna (lih. Mt 5:48).
March 15, 2011 at 11:39 am
Kidung Agung 8:1-3 menceritakan Inkarnasi Kristus
Kitab Kidung Agung, suatu ungkapan kasih antara Kristus – sebagai mempelai pria dan Israel/Gereja/Jiwa -sebagai mempelai wanita
Ada berapa banyak orang yang membaca Kitab Kidung Agung dan terperangah serta menggaruk-garuk kepala, karena isinya yang dirasakan terlalu “berani” untuk menjadi bagian dari Kitab Suci. Namun kalau kita percaya bahwa Kitab Kidung Agung adalah menjadi bagian dari Sabda Allah, dan Gereja Katolik dengan inspirasi Roh Kudus, memasukkan Kitab ini menjadi bagian dari Kitab Suci, maka Kitab ini juga akan memberikan begitu banyak hikmat, yang menuntun manusia pada kepenuhan Wahyu Ilahi. Kalau kita mempelajari lebih dalam, sungguh kitab Kidung Agung adalah suatu puisi, jeritan hati yang terdalam, ungkapan hati dari sepasang kekasih.
Memang tidak mudah untuk mengerti Kitab Kidung Agung. Namun, kalau kita melihat ke belakang, melihat sejarah Gereja, begitu banyak Bapa Gereja yang menuliskan komentar tentang Kitab Kidung Agung. Mereka melihat bahwa sepasang kekasih yang saling bersahut-sahutan ini mewakili hubungan antara Allah dengan Israel, atau Kristus dengan Gereja, atau Kristus dengan jiwa kita masing-masing. Dan untuk mengungkapkan hubungan yang tak terpisahkan, maka digunakan bahasa puisi sehingga terlihat ekspresi kedekatan dan kemesraan antara keduanya. Dalam tatanan kodrat (natural order), hubungan apakah yang lebih intim daripada hubungan sepasang suami-istri? Bahkan, Gereja Katolik melihat hubungan seksual antara suami-istri sebagai sesuatu yang agung dan suci, karena menggambarkan Trinitas. Kalau dalam Trinitas pertukaran kasih Allah Bapa dan Allah Putera menghembuskan Roh Kudus, maka dalam hubungan suami istri, pertukaran kasih antara suami dan istri menghasilkan keturunan. Begitu sucinya hubungan ini, sehingga membuat sebuah perkawinan tidak terceraikan. Di dalam konteks kesucian perkawinan (tatanan kodrat) inilah dan dalam hubungannya antara Kristus dan Israel, Gereja, dan jiwa kita (tatanan adi-kodrati), maka kita dapat menginterpretasikannya dengan baik dan menangkap esensi dari Kitab Kidung Agung. Mari sekarang kita melihat Kidung Agung 8:1-3.
1. O, seandainya engkau saudaraku laki-laki, yang menyusu pada buah dada ibuku, akan kucium engkau bila kujumpai di luar, karena tak ada orang yang akan menghina aku!
2. Akan kubimbing engkau dan kubawa ke rumah ibuku, supaya engkau mengajar aku. Akan kuberi kepadamu anggur yang harum untuk diminum, air buah delimaku.
3. Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.
8:1, Harapan akan kedatangan Mesias
8:1. O, seandainya engkau saudaraku laki-laki:
Kita akan terperangah membaca hal ini. Mengapa mempelai wanita malah mengharapkan mempelai prianya adalah saudara laki-lakinya, saudara sekandung yang menyusu pada buah dada ibu yang sama? Apakah dengan demikian mempelai wanita ingin bercinta dengan saudara sepupuan? Sebenarnya tidaklah seperti itu, kita mengartikan ayat ini. Berikut ini adalah beberapa interpretasi tentang hal ini:[1]
a) Father Buzy, seorang ahli Alkitab menginterpretasikan bahwa pada jaman tersebut (oriental tradition), seorang mempelai wanita tidak dapat untuk mengekpresikan kasihnya kepada mempelai pria di depan umum. Hal ini sama seperti kalau kita melihat beberapa tradisi upacara pengantin Jawa, atau daerah lain, yang sama sekali tidak ada saling mencium atau memeluk di depan umum. Atau kalau kita melihat sepasang kekasih di pedesaan, di mana tradisi masih dipegang sangat kuat, maka mereka tidak dapat menunjukkan kasih mereka di depan umum, tidak seperti orang pacaran jaman sekarang di kota-kota yang bebas mengekpresikan perasaan mereka.
Dalam konteks inilah, mempelai wanita mengharapkan agar mempelai prianya adalah saudara laki-lakinya, sehingga dengan demikian dia dapat mengekspresikan kasihnya secara bebas. Ekspresi kasih di sini jangan diartikan sebagai hubungan seksual, namun sebagai ekspresi kasih yang suci. Hal ini diungkapkan juga oleh Rasul Paulus, dengan mengatakan “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.” (Rom 16:16).
b) Analisa yang lain adalah, mempelai wanita menginginkan hubungan yang lebih murni dan seimbang dengan mempelai prianya, seperti hubungan kasih antara sesama saudara.
c) Pengertian yang lain, yang kita dapat tarik adalah mempelai wanita menginginkan agar mempelai prianya, bukan hanya menjadi suaminya, namun juga sebagai saudara laki-lakinya. Kita melihat bagaimana mempelai pria di ayat-ayat sebelumnya, memanggil mempelai wanita sebagai “dinda (ITB) / sister (RSV)” (lih. Kid 4:9,10,12; 5:1,2)
8:1. yang menyusu pada buah dada ibuku
Dalam beberapa kesempatan, sang mempelai pria memanggil sang kekasih bukan saja dengan mempelai wanita, namun juga dinda atau sister (RSV), seperti:
“9. Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu. 10 Betapa nikmat kasihmu, dinda, pengantinku! Jauh lebih nikmat cintamu dari pada anggur, dan lebih harum bau minyakmu dari pada segala macam rempah. 12 Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai.” (Kid 4:9-10, 12)
“1. Aku datang ke kebunku, dinda, pengantinku, kukumpulkan mur dan rempah-rempahku, kumakan sambangku dan maduku, kuminum anggurku dan susuku. Makanlah, teman-teman, minumlah, minumlah sampai mabuk cinta! 2. Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. “Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!” (Kid 5:1-2)
Memang perkataan dinda, sister (RSV), (Ibrani H269 = achoth ), dapat diartikan secara luas, baik untuk saudara perempuan dari orang tua yang sama, dari ibu atau ayah yang sama, atau dapat juga untuk menyebutkan mempelai wanita. Namun, semuanya menyatakan akan keintiman hubungan antara pria dan wanita yang diikat oleh kasih, baik kasih dalam ikatan darah maupun antara sepasang kekasih.
Kita juga tahu bahwa pada jaman dahulu, seorang suami mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada seorang istri. Dalam beberapa ayat di atas, mempelai pria begitu menghargai dan mengasihi mempelai wanitanya, sehingga dia bukan hanya ingin menjadikan mempelai wanita sebagai istri, namun juga sebagai saudara wanita, yang mempunyai derajat yang sama. Dia ingin mengangkat mempelainya, sehingga mempelai pria dan mempelai wanita dapat mengasihi dengan kasih yang seimbang.
Namun, mempelai wanita yang menyadari kodratnya sebagai seorang istri yang mempunyai kekudukan lebih rendah daripada suami tidak berani untuk menyebutkan mempelai pria sebagai saudara laki-lakinya, sampai pada bab 8. Kepercayaan ini timbul, karena mempelai prialah terlebih dahulu menyebutnya sebagai dinda atau sister. Dan dengan ungkapan yang sama, maka mempelai wanita mengharapkan bahwa mempelai laki-lakinya juga dapat menjadi saudara laki-lakinya.
“Yang menyusu pada buah dada ibuku” adalah suatu ungkapan harapan dari sang mempelai wanita – jiwa manusia, atau Israel, atau Gereja -, yang mengharapkan bahwa mempelai prianya adalah dari ras yang sama, sehingga mempunyai kodrat yang sama.[2]. Di sinilah terjadi suatu gambaran dari Inkarnasi. Dengan mempelai pria (Kristus) menyebutkan mempelai wanita sebagai saudara perempuan, maka Kristus ingin mengangkat umat Israel, Gereja, umat Allah, untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah, diangkat menjadi anak-anak Allah. Dengan mempelai wanita mengharapkan mempelai Pria adalah saudaranya laki-laki, maka Gereja mengharapkan agar Kristus dapat turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat melihat dan mengalami kasih dari Allah secara teraba, dan manusia dapat mengungkapkan kasihnya kepada Kristus secara lebih nyata. Dan dua harapan ini, hanya dapat tercapai dengan Inkarnasi, dimana Yesus, Sang Putera Allah, merendahkan diri-Nya sebagai manusia, sehingga Yesus dapat mengangkat harkat seluruh umat manusia ke tempat yang tinggi. Manusia yang diciptakan sebagai gambaran Allah dan Kristus yang turun ke dunia sebagai gambaran manusia, yang mempunyai kodrat sebagai manusia, membuat Kristus dapat mengajar dan menuntun manusia kepada kepenuhan kebenaran.
8:1. akan kucium engkau bila kujumpai di luar, karena tak ada orang yang akan menghina aku!
Dengan pengertian di atas, maka kita melihat bahwa Gereja mengharapkan agar Allah sendiri datang ke dunia, sehingga Gereja dapat menunjukkan kepada dunia, siapakah Tuhannya. Pada saat orang lain, yang mempunyai tuhan yang berhala, yang terbuat dari batu, kayu, dan gambaran lain, maka dengan bangganya, sang mempelai wanita akan mengatakan “akan kucium engkau bila kujumpai di luar” atau akan kutunjukkan kepada dunia siapakah Tuhanku.
Dengan bangga, Gereja akan menunjukkan kepada dunia, tubuh yang mati di kayu salib, adalah Tuhannya yaitu Yesus yang maha kasih dan maha adil, serta layak untuk mendapatkan penghormatan dan penyembahan melebihi apapun juga. Tidak ada yang menghina mempelai wanita, ketika dia menyatakan kemesraannya kepada mempelai pria. Mungkin lebih tepatnya, mempelai wanita tidak terlalu perduli akan sebagian orang-orang yang menghinanya. Iman Gereja tidak akan goyah mendengar orang-orang yang menghina Yesus, karena Gereja mengimani bahwa Yesus Kristus, kekasihnya adalah Tuhan. Bahkan Gereja akan menunjukkan kemesraan hubungan ini kepada seluruh dunia dengan cara mengikuti pesan mempelai pria yang berkata “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).
8.2. Mesias yang datang ke tengah-tengah umat-Nya
8:2. Akan kubimbing engkau dan kubawa ke rumah ibuku
Mempelai pria diceritakan senantiasa membimbing mempelai wanita di bab-bab sebelumnya. Namun, di ayat ini, diceritakan bagaimana mempelai wanita membimbing mempelai pria dan membawanya ke rumah ibunya. Dan lebih lagi, kita tidak melihat adanya keberatan dari mempelai pria, bahkan dia membiarkan dirinya dibimbing dan masuk ke rumah ibu dari mempelai wanita. Dia membiarkan dirinya menjadi kecil untuk masuk ke rumah ibunya.
Dan hari itulah yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Israel, seluruh Gereja, seluruh umat manusia, bahwa semuanya akan menyambut kedatangan Kristus ke dunia dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. “Ke rumah ibuku” adalah rumah dari mempelai wanita yang menggambarkan kedatangan Kristus ke tengah-tengah umat Israel, ke tengah-tengah Gereja dan ke tengah-tengah umat manusia seluruhnya. Inilah gambaran Inkarnasi, Allah yang mengunjungi umat-Nya, bukan hanya dengan perintah-perintah-Nya melalui perantaraan para nabi, namun Firman itu sendiri menjadi daging (lih. Yoh 1:14) dan hadir di tengah-tengah umat-Nya.
8.2. supaya engkau mengajar aku.
Kehadiran-Nya di dunia ini, menjadikan Sang Mesias dapat mengajar sang mempelai wanita, bukan hanya dengan kata-kata, namun Yesus menunjukkannya dengan perbuatan-Nya; bukan hanya dengan perintah untuk mengasihi, namun Dia menunjukkannya dengan pengorbanan-Nya di kayu salib, untuk keselamatan mempelai wanita-Nya (lih. Ef 5:25-26). Yesus menunjukkan jalan keselamatan kepada umat manusia, karena Dia sendiri adalah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup (lih. Yoh 14:6).
“Supaya engkau mengajar aku” adalah suatu kerinduan manusia untuk mendengarkan Allah mengajar umat-Nya. Kita melihat Mzm 25:4-5 mengatakan “4. Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 5. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” Nabi Yeremia mengatakan bahwa semua orang tidak perlu mengajar satu sama lain, karena mereka sendiri akan melihat Sang Penyelamat yang datang ke dunia (lih. Yer 31:34). Penyelamat inilah yang dinubuatkan para nabi, dimana perkataaan-Nya adalah kebenaran, yang harus didengarkan oleh manusia (lih. Ul 18:15-18). Dan inilah yang dilakukan oleh Yesus, yaitu berbicara dan mengajar manusia (Mt 5:2), dan menuntun mereka kepada jalan kebenaran dan keselamatan. Origen, seorang ahli Alkitab, terutama dalam menginterpretasikan buku Kidung Agung mengatakan “Mempelai wanita – Gereja diajar oleh Firman Allah [Yesus], mempelai laki-lakinya, tentang segala sesuatu yang disimpan dan tersembunyi di dalam istana kerajaan, dalam ruang Sang Raja.”[3]
Pengajaran Yesus bukan hanya dengan perkataan, namun dengan perbuatan. Dan perbuatan-Nya dan pengajaran-Nya yang terbesar adalah dengan menderita dan mati di kayu salib. Inilah sebabnya, Bunda Maria, yang mewakili Gereja, berdiri di kayu salib, mendengarkan Sang Sabda, yang bersabda bukan dengan kata-kata namun dengan bilur-bilur-Nya, luka-luka-Nya, dan dengan setiap tetesan darah-Nya. Inilah sebabnya, Bunda Maria, secara lebih dalam mengerti dan mengasihi Sang Sabda dan terus berkata “FIAT / YA” terhadap setiap kehendak Bapa yang terjadi di dalam kehidupannya, termasuk dalam setiap penderitaan yang dialaminya. Dengan FIAT-nya, Bunda Maria terus melangkah maju dalam peziarahan iman.[4]
8:2. Akan kuberi kepadamu anggur yang harum untuk diminum, air buah delimaku.
Mempelai Pria, yang telah membuktikan kasih-Nya kepada mempelai wanita dengan mati di kayu salib dan telah mengajarkan Firman yang hidup, membuat sang mempelai wanita berani untuk menawarkan dirinya, yaitu dengan menawarkan kepada mempelai pria “anggur yang harum untuk diminum“. Namun, setelah diajar oleh Sang Mempelai Pria, maka mempelai wanita menyadari bahwa apa yang dia tawarkan bukanlah keseluruhan dirinya.
Manusia hanya dapat mengerti dirinya sendiri dalam terang Kristus. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II, dalam Ensiklik “Redemptor Hominis” atau Penebus manusia, paragraf 8 mengatakan bahwa Kristus, sebagai Adam yang baru, yang memberikan wahyu tentang misteri Allah Bapa dan kasih-Nya, telah membuka manusia akan dirinya sendiri dan membawa panggilan kudusnya ke dalam terang. Di dalam penebusan Kristus, maka manusia menyadari akan bahaya dosa yang dapat menyeretnya kepada neraka, dan di satu sisi, manusia dapat menyadari bahwa dia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Gen 1:27), yang telah ditebus oleh Putera Allah, sehingga manusia dapat menjadi anak-anak angkat Allah. Dan pada saat manusia yang telah ditebus menyadari hakekat dirinya sendiri sebagai anak Allah, yang harus bertindak dan bersikap sebagai anak Allah, maka dia dapat menawarkan kepada Kristus, “air buah delima“, yaitu hati dari hatinya, yaitu hatinya yang terdalam.
8:3. Hubungan antara Kristus dan Gereja, yang diikat oleh kasih
8:3. Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.
Setelah mengerti kedalaman hati masing-masing dan kedalam kasih dari Sang Mempelai Pria, maka yang dilakukan oleh mempelai wanita adalah bersatu dalam hubungan yang mesra dan akrab bersama dengan Mempelai Pria. Persatuan antara manusia dan Kristus hanyalah mungkin di dalam kasih, karena Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Di dalam persatuan kasih inilah, maka manusia dapat bersikap seperti rasul Yohanes, yang menyandarkan kepalanya kepada Yesus dalam Perjamuan Suci (lih. Yoh 13:23). Dan dalam kesempurnaan kasih inilah, Yohanes, Sang Murid yang dikasihi Yesus mengambil Bunda Maria sebagai bundanya, karena orang yang mengasihi mempunyai sesuatu yang sama, yang saling berbagi. Persatuan antara Mempelai Pria (Kristus) dan mempelai wanita (Gereja) yaitu dengan kita semua sebagai anggota Gereja diwujudkan dengan Ekaristi/ Misa Kudus. Melalui Ekaristi, kita mengalami persatuan dengan Kristus sendiri yang telah menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya demi kasih-Nya kepada kita.
Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, maka terlihat jelas, bahwa Kitab Kidung Agung, kalau dimengerti dengan benar, akan memberikan pemahaman yang begitu dalam akan hubungan antara Tuhan dengan Israel, dengan Gereja dan dengan seluruh umat manusia. Di sinilah terlihat hubungan yang dalam antara Kristus – sebagai mempelai pria – dengan Gereja – sebagai mempelai wanita (lih. Ef 5) Kemesraan yang ditunjukkan di dalam Kidung Agung, yang dibuat dalam bentu puisi, tidak boleh hanya dimengerti sebagai kemesraan antara pria dan wanita, namun secara lebih dalam harus dimengerti sebagai ungkapan hubungan kasih antara Kristus dengan Gereja dan diri kita masing-masing. Dengan pengertian ini, maka sungguh layaklah bahwa Kitab Kidung Agung menjadi bagian dari Alkitab. Mari kita bersama-sama mendalami Kitab ini bersama dengan Gereja, sehingga kita dapat memperoleh pengertian yang benar dan dapat membantu pertumbuhan kehidupan spiritual kita masing-masing.
March 15, 2011 at 2:27 pm
“memasukkan Kitab ini menjadi bagian dari Kitab Suci, maka Kitab ini juga akan memberikan begitu banyak hikmat, yang menuntun manusia pada kepenuhan Wahyu Ilahi”
Ya, hikmatnya adalah tercampurinya hati yang sakral dengan uap syahwat yang mengotori lentera hati … Uap inilah barangkali yang dimaksud anda dengan kepenuhan Wahyu Illahi.
March 15, 2011 at 3:41 pm
Yehezkiel
Yehezkiel 23:1 Datanglah firman TUHAN kepadaku:
23:3 …di sana susunya dijamah-jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang.
23:8 …sebab pada masa mudanya orang sudah menidurinya, dan mereka memegang-megang dada keperawanannya dan mencurahkan persundalan mereka kepadanya.
23:9 Oleh sebab itu Aku menyerahkan dia ke dalam tangan kekasih-kekasihnya, dalam tangan orang Asyur, kepada siapa ia berahi.
23:10 Mereka menyingkapkan auratnya, …
23:11 Walaupun hal itu dilihat oleh adiknya, Oholiba, ia lebih berahi lagi dan persundalannya melebihi lagi dari kakaknya.
23:12 Ia berahi kepada orang Asyur, kepada bupati-bupati dan penguasa-penguasanya, kepada pahlawan-pahlawan perang yang pakaiannya sangat sempurna, kepada pasukan kuda, semuanya pemuda yang ganteng.
…
23:16 Segera sesudah kelihatan oleh matanya ia berahi kepada mereka dan mengirim suruhan kepada mereka ke tanah Kasdim.
23:17 Maka orang Babel datang kepadanya menikmati tempat tidur percintaan dan menajiskan dia dengan persundalan mereka; sesudah ia menjadi najis oleh mereka, ia meronta dari mereka.
23:18 Oleh karena ia melakukan persundalannya dengan terang-terangan dan memperlihatkan sendiri auratnya, maka Aku menjauhkan diri karena jijik dari padanya, seperti Aku menjauhkan diri dari adiknya.
23:19 Ia melakukan lebih banyak lagi persundalannya sambil teringat kepada masa mudanya, waktu ia bersundal di tanah Mesir.
23:20 Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda.
23:21 Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah susu kegadisanmu.
Sememangnya ayat2 di atas menceritakan tentang dosa2 yang dilakukan. Tetapi kaedah penceritaan itu amat TIDAK SESUAI terutama apabila dibaca oleh kanak2. Ianya amat TIDAK SESUAI jika dikatakan ianya adalah kandungan sebuah KITAB SUCI kerana mengandungi ayat2 yang dapat merangsangkan nafsu syahwat apabila membacanya. Mengapa perlu diceritakan secara satu persatu aksi2 porno itu? Sedangkan cukup sahaja jika dikatakan Berzina itu haram.
Yehezkiel 16:22 Dalam segala perbuatan-perbuatanmu yang keji dan persundalanmu itu engkau tidak teringat lagi kepada masa mudamu, waktu engkau telanjang bugil sambil menendang-nendang dengan kakimu dalam lumuran darahmu.
16:25 Pada setiap persimpangan jalan engkau membangun bukit pengorbanan dan menjual kecantikanmu menjadi kekejian dengan merenggangkan kedua pahamu bagi setiap orang yang lewat, sehingga persundalanmu bertambah-tambah.
16:26 Engkau bersundal dengan orang Mesir, tetanggamu, si aurat besar itu, sehingga persundalanmu bertambah-tambah, yang menimbulkan sakit hati-Ku.
16:27 Lihat, Aku telah melawan engkau dan telah mengurangi bagianmu dan menyerahkan engkau kepada kesewenang-wenangan orang-orang yang membenci engkau, yaitu perempuan-perempuan Filistin, yang merasa malu melihat tingkah lakumu yang mesum itu.
16:28 Engkau bersundal juga dengan orang Asyur, oleh karena engkau belum merasa puas; ya, engkau bersundal dengan mereka, tetapi masih belum merasa puas.
16:29 Engkau memperbanyak lagi persundalanmu dengan negeri perdagangan Kasdim, tetapi dengan itu juga engkau belum merasa puas.
16:30 Betapa besar hawa nafsumu itu, demikianlah firman Tuhan ALLAH, engkau yang melakukan segala-galanya ini, yaitu perbuatan seorang perempuan sundal jahanam,
Ulangan
Ulangan 23:1 “Orang yang hancur buah pelirnya atau yang terpotong kemaluannya, janganlah masuk jemaah TUHAN.
23:2 Seorang anak haram janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang kesepuluhpun tidak boleh masuk jemaah TUHAN.
Kidung Agung
Kidung Agung 1:12 –Sementara sang raja duduk pada mejanya, semerbak bau narwastuku.
1:13 Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku.
Kidung Agung 4:1 Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead.
4:2 Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur, yang keluar dari tempat pembasuhan, yang beranak kembar semuanya, yang tak beranak tak ada.
4:3 Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu, dan elok mulutmu. Bagaikan belahan buah delima pelipismu di balik telekungmu.
4:4 Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya.
4:5 Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung.
4:6 Sebelum angin senja berembus dan bayang-bayang menghilang, aku ingin pergi ke gunung mur dan ke bukit kemenyan.
Kidung Agung 7:6 Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.
7:7 Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.
7:8 Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.
Amsal
Amsal 7:18 Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara.
7:19 Karena suamiku tidak di rumah, ia sedang dalam perjalanan jauh,
Dan macam2 lagi ayat2 porno di dalam AlKitab. Itu antara bukti bahawa tulisan2 tersebut bukannya firman2 Allah tetapi karangan manusia yang cuba merosakkan dan membangkitkan nafsu syahwat manusia apabila membacanya.
Bible sememangnya terkenal dengan banyak ajaran2 agar melakukan kebaikan, tetapi sayang, ianya diselit dengan RACUN2 BERBISA secara halus tanpa disedari.
March 15, 2011 at 11:48 am
Sekali selamat tetap selamat?
Apakah kamu yakin sudah selamat?
Ketika saya tinggal di Filipina sekitar tahun 1998, saya pernah ditanya oleh seorang teman saya yang adalah anggota Bible study dari kelompok Protestan, “Apakah kamu yakin sudah selamat?” Dia mengatakan keheranannya mengapa umat Katolik sepertinya tidak yakin akan keselamatannya sedangkan kalau umat Protestan yakin dengan seyakin- yakinnya kalau pasti selamat. Mendengar hal ini mungkin kita bertanya- tanya kepada diri sendiri, sikap manakah yang benar? Mari kita melihat jawabannya dari Kitab Suci, yang menjadi pegangan kita bersama sebagai murid- murid Kristus.
Beberapa ayat yang digunakan untuk mengatakan ’sekali selamat tetap selamat’
Seringkali saudara- saudari kita yang Protestan mengutip ayat- ayat berikut ini untuk mendukung pemahaman mereka bahwa sekali selamat mereka tetap selamat (once saved, always saved):
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16)
“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal (1 Yoh 5:13)”
Lalu umumnya mereka mengatakan, jadi yang perlu dilakukan sederhana saja, tinggal mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, dan kita pasti diselamatkan, seperti yang tertulis dalam surat Rasul Paulus,
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan (Rom 10:9-10).
Tanggapan kita umat Katolik
1. Terhadap Yoh 3:16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Menurut Rm Pidyarto, O Carm, yang adalah seorang pakar Kitab Suci yang menguasai bahasa Yunani, kata “beroleh” di sini berasal dari kata ἔχω/ echō, echein, yang memang dapat diterjemahkan sebagai ‘beroleh’ (have), tetapi sebenarnya lebih tepat jika diterjemahkan sebagai ‘dapat beroleh’ (may have’), seperti yang terdapat dalam Kitab Suci edisi Douay Rheims/ Vulgate. Ini disebabkan karena digunakannya kata ‘me‘ (dalam bahasa Inggris terjemahannya adalah “lest)”, pada kata ‘tidak binasa’ (should not perish) sehingga kata sambung ini menuntut / lebih tepat untuk diikuti oleh kata ‘may have‘. Kita mengetahui bahwa dalam bahasa Inggris sendiri kata ‘have‘ dan ‘may have‘ artinya tidak sama persis.
Namun demikian, jika diterjemahkan sebagai “beroleh”, kalimat ini tidak bermaksud mengatakan bahwa hanya dengan percaya/ beriman kepada Anak Allah saja maka seseorang pasti memperoleh hidup yang kekal. Maka kata kunci yang perlu dilihat adalah bagaimana memaknai kata “percaya” / beriman tersebut, sebab iman ini juga mensyaratkan penghayatan. Jadi kata ‘percaya’ di sini tidak boleh hanya diartikan pengakuan dengan mulut saja atau baptisan saja. Kita tidak dapat mengartikan satu ayat dalam Kitab Suci dan melepaskannya dengan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci. Hidup yang kekal atau keselamatan ini diberikan oleh Allah karena kasih karunia, oleh iman/ kepercayaan yang bekerja oleh kasih (Ef 2:8; Gal 5:6); dan ini diberikan melalui Pembaptisan (Yoh 3:5, Mat 28:19-20) yang melibatkan pertobatan untuk melaksanakan perintah Tuhan (lih. Mat 7:21-23; Ibr 11;39; Yak 2:14.). Maka Gereja Katolik tidak pernah memisahkan kasih karunia, iman, perbuatan kasih, Pembaptisan dan pertobatan dalam ajaran Keselamatan ini. Silakan membaca diskusi mengenai hal ini, lebih lanjut di sini, silakan klik.
2. Terhadap 1 Yoh 5:13
“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”
Kata “tahu” di sini berasal dari kata eidete (dari kata oida); sebenarnya berarti “kamu dapat tahu”/ you may know, yang tidak mengacu kepada sesuatu pengetahuan absolut yang pasti. Ini seperti jika kita mengatakan bahwa kita tahu kalau kita dapat nilai A dalam ujian, atas dasar kita sudah belajar dengan rajin dan saya merasa menguasai topiknya. Tetapi kenyataannya apakah pasti kita dapat nilai A atau tidak itu harus dibuktikan kemudian. Jadi “tahu” di sini tidak bersifat absolut, tetapi memang ada pengharapan besar bagi kita untuk mencapainya.
Untuk memahami arti kata eidete maka kita melihat pada ayat sesudahnya yaitu ayat 1Yoh 5: 14-15, yang berbunyi:
“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu (oidamen- dari kata oida), bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.”
Di sini kita harus mengakui bahwa kita tidak dapat mempunyai kepastian yang absolut bahwa Tuhan akan menjawab setiap permintaan kita secara persis. Sebab Tuhan adalah Maha Baik dan Maha Kuasa dan Ia akan menjawab doa kita dengan cara yang dipandang-Nya baik bagi kita, yang sering kali tidak sama dengan yang kita minta/ yang kita pikirkan. Maka di sini kita harus menerima bahwa cara kita “mengetahui” dalam hal ini adalah bersifat kondisional dan bukan sesuatu yang pasti secara absolut.
Dengan pengertian yang sama kita mengartikan ayat 1 Yoh 3:21-22 yang mengatakan,
“Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”
Maka kita sebagai umat Katolik ‘mempunyai keberanian percaya‘ untuk menerima apa yang kita doakan, namun kita tidak dapat mengatakannya sebagai jaminan yang sudah pasti secara absolut. Sebab hal keselamatan kita ini juga melibatkan partisipasi kita dalam menyatakan iman kita dalam perbuatan, agar iman yang demikian dapat menjadi iman yang ‘hidup’ (Yak 2: 24, 26) dan menyelamatkan. Kenyataannya bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa pada akhir jaman akan ada orang- orang yang terkejut untuk mendapatkan bahwa sikap mereka yang tidak menujukkan perbuatan kasih dapat menghantar mereka kepada penghukuman (Mat 25:41-46).
3. Maka hal keselamatan tidak semata tergantung dari “pengakuan dengan mulut” untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi. Sebab yang tak kalah pentingnya adalah kita harus bertobat, seperti yang diajarkan oleh Rasul Yohanes kepada semua murid Kristus yang sudah menerima Yesus (lihat 1 Yoh 2:12-14). Ia mengatakan,
“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yoh 1:8-9)
Perhatikanlah bahwa Rasul Yohanes menggunakan kata “kita”, sebab dirinya sendiri juga termasuk di dalamnya. Silakan bertanya kepada orang yang berpandangan “sekali selamat tetap selamat”, apakah mereka masih perlu bertobat atau tidak? Jika mereka menjawab ya, berarti pandangan mereka sebenarnya bukan “sekali selamat tetap selamat”. Tetapi jika mereka mengatakan “tidak perlu bertobat, sebab sudah pasti diampuni dan pasti masuk surga”, maka pandangan mereka ini bertentangan dengan ayat- ayat Kitab Suci lainnya yang mengatakan bahwa dosa/ kejahatan yang tidak disesali tidak akan diampuni dan tidak ada sesuatupun yang berdosa dan najis dapat masuk Kerajaan Surga (lih. Hab 1:13; Why 21:8-9, 27)
Rasul Yohanes kemudian mengklasifikasikan dosa, yaitu dosa yang mematikan (dosa berat) dan dosa yang tidak mematikan (dosa ringan) lih. 1 Yoh 5:16-17. Seseorang yang berdosa berat melepaskan diri dari Tubuh Kristus. Dalam hal ini bukan berarti Yesus kurang kuasa untuk menyelamatkannya, tetapi orang itu sendiri dengan kehendak bebasnya memilih untuk melepaskan diri dari Yesus dengan perbuatan dosanya yang berat. Dan jika ia tidak bertobat, maka ia sendiri menolak rahmat keselamatan yang sudah pernah diterimanya dari Allah.
Selanjutnya, pengakuan dengan mulut juga tidak ada artinya, jika tidak dibarengi dengan ketaatan melaksanakan perintah- perintah Tuhan. Oleh sebab itu Rasul Paulus mengajarkan ketaatan iman (Rom 1:5, 16:26). Yesus berkata,
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21, lih. Mat. 10:33, 18:35).
4. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita akan kedua sifat Tuhan yang tidak bisa dipisahkan yaitu kemurahan-Nya namun juga kekerasan-Nya;
“Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” (Rom 11:22)
Maka di sini jelas dikatakan bahwa oleh kemurahan Tuhan kita diselamatkan, namun kita harus mengusahakan untuk selalu tinggal di dalam kemurahan-Nya. Kita harus bertahan untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus, sampai dengan kesudahannya, baru kita dapat selamat (lih. Mat 10:22). Kita harus berjaga- jaga dan tetap melaksanakan tugas- tugas dan pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita dengan baik sampai pada akhirnya (lih. Luk 12:41-46, Why 2:25-26). Sebab memang benar oleh Injil kita diselamatkan tetapi kita harus tetap teguh berpegang kepadanya (1 Kor 15:1-2). Kita harus hidup kudus dan tidak bercela, dan tekun dalam iman dan tidak bergoncang (Kol 1:22-23); teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan kita (Ibr 3:6). Kita harus setia sampai mati (Why 2:10).
5. Rasul Petrus malah memperingatkan agar kita yang sudah percaya jangan sampai jatuh ke dalam dosa seperti pada waktu belum percaya, sebab akibatnya malah akan lebih parah:
“Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” (2 Pet 2:20-22)
Kondisi melepaskan diri dari kecemaran dunia ini adalah makna dari kelahiran kembali dalam Kristus yang kita alami pada waktu Pembaptisan. Maka di sini Rasul Petrus mengingatkan agar setiap umat yang sudah dibaptis tidak kembali lagi kepada kehidupan yang lama yang penuh dosa.
6. Yesus juga mengingatkan Dalam Mat 6:15, bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sebab jika tidak, maka Allah Bapa tidak akan mengampuni kesalahan kita. Di sini Yesus tidak memperhitungkan apakah kita sudah ‘lahir baru/ born again‘ atau belum; namun kalau kita tidak mengampuni maka kita akan kehilangan keselamatan kita.
7. Kitab Suci memperingatkan kita bahwa kita dapat ‘lepas dari Kristus, dan hidup di luar kasih karunia‘ jika hidup dalam kuk perhambaan dosa (Gal 5:1-5), agar jangan bermegah supaya tidak dipatahkan (lih. Rom 11:18-22), dicoret namanya dari buku kehidupan (Why 3:5; Mzm 69:28), karena melakukan dosa dan tidak bertobat (lih. Ef 5:3-5; 1 kor 6:9; Gal 5:19; Why 21:6-8).
Tak mengherankan bahwa Rasul Paulus kemudian mengajarkan demikian:
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Kor 9:27)
Jika Rasul Paulus yang sudah demikian kudus saja semasa hidupnya terus berjuang untuk melatih tubuhnya menghindari dosa, dan mengusahakan agar hidup sesuai dengan Injil agar tidak ditolak oleh Tuhan; apalagi kita- kita ini. Kalau Rasul Paulus sudah yakin “pasti” selamat, tentunya dia tidak perlu menuliskan ayat ini, sebab ia sudah yakin tidak akan ditolak Allah. Ayat ini membuktikan kerendahan hati Rasul Paulus yang selain berpengharapan teguh akan keselamatan yang dijanjikan Allah, namun juga menyadari bahwa ada bagian yang harus dilakukannya yaitu untuk berjuang hidup kudus sesuai dengan Injil yang diberitakannya.
8. Maka ayat Rom 10:9 tentang pengakuan iman akan Kristus yang menghantar kita kepada keselamatan itu tidak hanya untuk dilakukan sekali saja, tetapi harus terus menerus sepanjang hidup kita. Dalam Mat 10:22, 32-33, Tuhan Yesus mengajarkan,
“Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat…. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”
Maka konteksnya di sini adalah berpegang pada pengakuan akan Kristus sepanjang hidup kita (lih. Ibr 4:14, 10:23-26 dan 2 Tim 2:12). Kita mengetahui dari Kitab Suci, bahwa pengakuan akan iman kita tidak dilakukan hanya dengan perkataan tetapi terlebih dengan perbuatan. Demikian pula, penyangkalan akan Kristus juga dilakukan dengan perbuatan.
Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. (1 Tim 5:8)
Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Kor 6:9-10, lihat juga Ef 5:3-5; Gal 5:19; Why 21:8-9, 27)
Perbedaan kunci antara ajaran Gereja Katolik dan Protestan
Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa secara garis besar terdapat perbedaan ajaran antara pandangan Protestan dan Gereja Katolik. Bagi umat Protestan keselamatan adalah sesuatu yang sudah pasti, yang diterima pada saat mereka mengakui Yesus sebagai Juru Selamat, berpegang terutama pada Rom 10:9. Sedangkan Gereja Katolik, berpegang kepada keseluruhan ajaran Kitab Suci, percaya bahwa keselamatan adalah sesuatu proses: yang telah, sedang dan akan datang, yang diterima oleh umat beriman karena kasih karunia Allah, oleh iman yang bekerja oleh kasih:
Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5)
Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9)
Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).
Oleh karena itu, Gereja Katolik tidak dapat menerima pandangan Martin Luther yang mengajarkan bahwa manusia diselamatkan oleh iman saja, yang dipisahkan dari perbuatan. Sebab menurut Luther, setelah orang menerima Yesus, maka tak peduli apapun yang dilakukannya, entah ia membunuh atau berzinah beribu-ribu kali sehari, pasti akan tetap masuk surga. Dalam suratnya kepada muridnya, Melancthon, tanggal 1 Agustus, 1521, (translated by Erika Bullmann Flores for Project Wittenberg); online at http://www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/letsinsbe.txt , lihat nomor 13, Luther mengatakan, “…Be a sinner, and let your sins be strong, but let your trust in Christ be stronger…. No sin can separate us from Him, even if we were to kill or commit adultery thousands of times each day…”
Semoga kita semua dapat melihat bahwa ajaran Luther ini tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Maka Gereja Katolik, berpegang pada Kitab Suci, mengajarkan bahwa keselamatan diberikan karena kasih karunia Allah dalam Pembatisan, namun juga mensyaratkan iman dan pertobatan, hidup dalam Kristus, dan melaksanakan perbuatan kasih sebagai bukti dari iman yang hidup. Sebab jika sungguh mengimani Kristus dan mengasihi-Nya, pasti kita akan berusaha menghindari dosa, dan akan rajin berbuat kasih. Iman seperti inilah yang menyelamatkan, seperti yang diajarkan oleh Paus Benedictus tentang Sola Fide menurut ajaran Gereja Katolik, silakan klik di sini.
Ajaran Calvin “sekali selamat tetap selamat” vs. ajaran Bapa Gereja
Ajaran “sekali selamat tetap selamat” ini pertama kali diajarkan oleh John Calvin di pertengahan abad ke 16. Sebelum Calvin, jemaat Kristiani umumnya mengetahui bahwa seseorang dapat kehilangan keselamatannya, jika melakukan dosa berat, seperti yang diajarkan dalam 1 Yoh 5:16-17.
1. Di abad pertama, Didache, yang dikenal sebagai Pengajaran dari ke- dua belas Rasul mengatakan,
“Berjaga- jagalah demi hidupmu. Jangan biarkan terangmu padam, ikat pinggangmu longgar; tetapi selalu siap sedialah; sebab kamu tidak tahu saatnya kapan Tuhan datang. Tetapi seringlah bersekutu, carilah hal- hal yang sesuai dengan jiwamu: sebab imanmu sepanjang waktu tidak akan mendatangkan kebaikan bagimu, jika kamu tidak menjadi sempurna di waktu terakhir.”[1].
2. St. Ignatius dari Antiokia (35- 98)
“Jangan salah, saudara-saudaraku: orang- orang yang menyimpang tidak akan masuk dalam Kerajaan Surga. Jika, lalu, mereka yang hidupnya melakukan perbuatan- perbuatan daging akan binasa, maka terlebih lagi mereka yang dengan ajaran- ajaran sesat menyimpangkan iman akan Tuhan yang karenanya Yesus Kristus telah disalibkan…[2]
3. St. Irenaeus (189) menulis,
“Kepada Kristus Yesus, Tuhan dan Allah kami, sesuai dengan kehendak Bapa yang tidak kelihatan, ’setiap lutut bertelut dan segala sesuatu di bumi dan di bawah bumi, dan setiap lidah mengaku’ (Flp 2:10-11) kepadanya, dan Ia akan memutuskan penghakiman yang adil kepada semua orang…. Seseorang yang tidak baik dan tidak benar, jahat dan profan akan pergi kepada api abadi, tetapi Ia [Kristus] dapat, memberikan rahmat-Nya, memberikan kekekalan kepada mereka yang benar, kudus, dan mereka yang melakukan perintah- perintah-Nya, dan bertahan dalam kasih karunia-Nya; beberapa dari mereka sejak awal mula [dalam kehidupan Kristianinya], dan yang lain, sejak saat pertobatan mereka, dan Ia dapat mengelilingi mereka dengan kemuliaan kekal.”[3].
Dosa berat memisahkan manusia dari Allah dan keselamatan yang dijanjikan-Nya
Maka pengajaran Gereja Katolik sangatlah konsisten dalam hal ini, bahwa walau janji keselamatan yang diberikan Tuhan Yesus adalah sesuatu yang tetap dan pasti, namun pemenuhannya tergantung dari manusia itu sendiri. Sebab dosa berat memisahkan manusia dari Allah, memerampasnya dari kehidupan kekal.
KGK 1472 Supaya mengerti ajaran dan praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini dinamakan “siksa dosa abadi”… [4]
Dengan demikian kita harus berjuang dalam hidup ini agar jangan sampai jatuh ke dalam dosa berat yang memisahkan kita dari Allah, sehingga kita tetap dapat menerima janji keselamatan Allah. Atau, jika sampai jatuh sekalipun, lekas- lekaslah bertobat, agar dapat kembali dalam persatuan dengan Kristus. Selanjutnya, kita harus berjuang untuk taat melaksanakan perintah- perintah-Nya dan setia sampai akhir.
Kesimpulan
Maka di manapun di dalam Kitab Suci tidak ada yang mengajarkan bahwa umat Kristen yang telah mengakui Kristus dapat melakukan dosa apapun, wafat dalam keadaan tidak bertobat, namun akan tetap dapat masuk surga juga. Prinsip ’sekali selamat tetap selamat’ ini sesungguhnya tidak diajarkan dalam Kitab Suci. Selayaknya kita mempunyai kerendahan hati seperti Rasul Paulus yang mengajarkan demikian,
“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir… ” (Flp 2:12)
Sebab memang kita harus berusaha untuk tetap taat dan setia mengerjakan keselamatan kita sebagai murid- murid Kristus, bukan karena Kristus kurang berkuasa menyelamatkan kita atau karena Ia tidak menepati janji-Nya; namun justru karena memang ada bagian yang harus kita lakukan jika kita benar- benar mengimani dan mengasihi Dia. Maka sebagai umat Katolik, kita mempunyai keberanian untuk berharap bahwa kita akan diselamatkan, namun mari dengan rendah hati kita serahkan kepada Tuhan yang telah berjanji menyelamatkan kita, sambil juga melatih diri agar tidak jatuh dalam dosa yang memisahkan kita dengan Allah. Dengan kerendahan hati ini kita berpengharapan, dan kita percaya bahwa pengharapan ini tidak mengecewakan oleh karena Roh Kudus telah dicurahkan kepada kita!
March 15, 2011 at 11:50 am
Maria, Bunda Allah
Pendahuluan
Mungkin anda pernah mendengar komentar yang berkata, “Bunda Maria itu hanya manusia biasa seperti kita… Tuhan hanya ‘meminjam’ tubuhnya saja untuk melahirkan Yesus.” Benarkah? Sesungguhnya, tidak sesederhana itu. Sebab, semakin kita membaca dan merenungkan Kitab Suci dan tulisan dari para Bapa Gereja, kita akan semakin menyadari, bahwa meskipun Bunda Maria itu manusia ‘biasa’ sesungguhnya ia sangat istimewa. Ia tidak mungkin sama dengan kita, justru karena perannya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui, bahwa seberapapun dekatnya seseorang dengan Yesus, tidak ada yang melebihi kedekatan Bunda Maria dengan Yesus. Kenyataannya, semua gen sifat-sifat Yesus sebagai manusia diperoleh dari Bunda Maria. Maria mengandung Yesus, menyusui-Nya, membesarkan-Nya. Selama 30 tahun Maria hidup bersama Yesus yang menghormatinya sebagai Ibu-Nya. Bunda Maria mendampingi Yesus dengan setia sampai wafat-Nya di kayu salib. Di tengah derita-Nya di salib, Tuhan Yesus memikirkan nasib Bunda Maria yang akan ditinggalkan-Nya, sehingga Ia memasrahkan ibu-Nya itu kepada murid yang dikasihiNya. Selanjutnya, setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, Maria menyertai Gereja; sampai saat ia-pun diangkat ke surga hingga saat ini, ia menyertai kita semua. Tulisan berikut ini merupakan sekilas renungan tentang Maria sebagai Bunda Allah, yang mengambil sumber utama dari surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater (Bunda Penyelamat) dan tulisan para Bapa Gereja.
Bunda Maria, Bunda Allah
Santo William pernah berkata, “Maria, dengan melahirkan Yesus Sang Penyelamat dan Kehidupan kita, membawa banyak orang kepada Keselamatan; dan dengan melahirkan Sang Hidup itu sendiri, ia memberikan kehidupan untuk banyak orang”.[1] Maka, Bunda Maria sebagai Bunda Penyelamat menjalankankan peran yang istimewa di dalam rencana Keselamatan Allah. Memang benar jika dikatakan bahwa rencana keselamatan Allah merangkul semua orang (lih. I Tim 2:4), namun secara khusus Allah menyediakan tempat bagi Bunda Maria, yaitu seorang “perempuan” yang dijadikanNya sebagai Ibu Yesus Sang Putera Allah dan Sang Juru Selamat.[2] Rencana Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi,“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.” (Mat 1:23). Hanya karena ketaatan Bunda Maria, maka kelahiran Yesus yang dinubuatkan oleh para nabi selama sekitar 2000 tahun terpenuhi. Hanya karena kesediaan Maria, maka Allah Putera menjelma menjadi manusia, dan Bunda Maria adalah ibu dari Sang Immanuel, “Allah yang beserta kita” tersebut. Dalam diri Maria digenapi rencana keselamatan Allah, “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” (Gal 4:4). Dan, sungguh Allah Putera itulah yang dikandung oleh Bunda Maria, sesuai dengan Kabar Gembira dari malaikat, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.” (Luk 1:35) Oleh karena itu, Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” (Luk 1:1-43) dan karena itu kita juga memanggil Maria sebagai Bunda Allah.
Tuhan, sebagai Allah Bapa yang Maha Pengasih mengiginkan agar setiap orang menjadi anak-Nya di dalam Kristus Putera-Nya, yang di dalam Roh Kudus-Nya dapat memanggil-Nya sebagai “Abba! Bapa!” (lih. Gal 4:6). Oleh karena itu, saat genaplah waktunya, Allah mengirimkan Putera-Nya, Yesus Kristus, melalui Bunda Maria yang diurapi oleh Roh Kudus. Pada saat Maria menjawab, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu (Luk 1:38), terwujudlah karya Tuhan yang sangat ajaib: Allah yang tak terbatas oleh waktu, masuk ke dalam ruang waktu dan menjadi bagian dari sejarah umat manusia. Dengan demikian, sejarah manusia dikuduskan dan diisi dengan misteri Kristus. Penggenapan janji Allah ini menandai permulaan dari perjalanan Gereja, di mana Maria sebagai anggota pertamanya menjadi teladan bagi Gereja sebagai mempelai dan ibu, dengan menyatakan “ya” pada pemenuhan Perjanjian Baru.[3]
Bunda Maria merupakan teladan kekudusan, ketaatan dan pengabdian
Alkitab mengatakan, “Sebab di dalam Dia (Kristus) Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Ef 1:4). Bunda Maria adalah seseorang yang secara sempurna memenuhi ayat ini; sebab ia telah ditentukan Allah sejak semula menjadi Ibu Sang Putera Allah. Dan untuk mempersiapkannya sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Sabda yang menjadi manusia, Allah membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, oleh karena jasa Yesus yang menyelamatkan dunia. (lihat artikel: Bunda Maria dikandung tanpa noda, apa maksudnya?) Jadi, penghormatan kepada Bunda Maria bukanlah ‘rekayasa’ Gereja Katolik, sebab yang pertama-tama menghormati Maria adalah Tuhan sendiri. Kita menghormati Bunda Maria sebab kita mengikuti teladan Allah sendiri, sebab Tuhanlah yang terlebih dulu mempercayakan Diri-Nya kepada Bunda Maria. Karena itu Bunda Maria disebut sebagai “penuh rahmat” seperti yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel. Di dalam Bunda Maria, Putera Allah yang mengatasi segalanya mengambil rupa tubuh sebagai manusia. Maria menanggapi rahmat ini dengan iman tak bersyarat, dan karenanya ia dikatakan sebagai yang terberkati. Ia menerima rahmat dan tugas mulia ini dengan memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan.[4]
Dengan mempercayakan diri kepada Tuhan, baik pada saat menerima kabar gembira maupun seterusnya sepanjang hidupnya, Bunda Maria menyatakan ketaatan iman. Dengan mengatakan, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38) ia mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh Yesus kepada Allah Bapa, “Aku datang; …untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibr 10:7). Imannya mengingatkan kita pada iman Bapa Abraham. Sebab Perjanjian Lama dimulai oleh iman Abraham, dan Perjanjian Baru dimulai oleh iman Bunda Maria.
Ketaatan Maria tetap teguh sepanjang hidupnya: di dalam menjalani kehidupan yang sangat miskin pada saat kelahiran Yesus; di saat menjalani pengungsian ke Mesir, di sepanjang tahun-tahun kehidupan Yesus yang tersembunyi di Nazareth, sampai menyertai Yesus di bawah kaki salib-Nya, dan ikut menganggung sengsara Yesus Puteranya (lih. Yoh 19:25). Bunda Maria adalah seseorang yang ‘miskin di hadapan Allah’ dan karenanya ia memiliki Kerajaan Sorga (lih. Mat 5:3). Ia hidup sedemikian miskin, (sebab bahkan orang termiskin sekalipun umumnya tidak melahirkan di kandang hewan) namun ia menjalaninya dengan iman dan ketaatan. Ia mempersembahkan Yesus di Bait Allah dan kemudian membesarkan dan mendidik Yesus hingga dewasa. Karena ketaatannya dalam mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah, Bunda Maria dipuji oleh Yesus, ketika ia dan saudara-saudari Yesus datang menghampiri Yesus. Yesus berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mrk 3:34-35).[5]
Ketaatan Maria membawanya sampai ke gunung Golgotha. Di kaki salib inilah, Maria mengalami bagaimana kabar gembira malaikat Gabriel seolah ‘dijungkirbalikkan’: …bahwa anakNya akan menjadi besar…, dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir (lih. Luk 1:32-33). Sedangkan yang terpampang di hadapan matanya adalah sebaliknya: Sang Putera dihina, disiksa sampai mati, seolah segalanya telah berakhir…. Namun demikian kita melihat, tidak ada ‘protes’ dan perlawanan keluar dari mulutnya. Di dalam iman Bunda Maria ‘menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya’. Oleh karena itu, ia sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus dan misteri suci-Nya yang menyangkut ‘pengosongan diri dan penghinaan diri’. Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa penderitaan Bunda Maria di kaki salib ini merupakan pengosongan ‘kenosis’ iman yang terdalam yang pernah terjadi di dalam sejarah manusia. Di kaki salib Kristus itulah, dipenuhi nubuat Simeon, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” (Luk 2:35).[6] Adakah derita ibu yang lebih hebat daripada melihat anak satu-satunya disiksa dan dibunuh di depan matanya?
Ketaatan Bunda Maria yang sedemikian inilah yang dianggap sebagai ‘obat’ dari ketidaktaatan Hawa, seperti yang dikatakan oleh para Bapa Gereja, terutama Santo Irenaeus. Lumen Gentium mengutipnya dengan mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh Hawa telah dilepaskan oleh ketaatan Bunda Maria…”[7] Sehingga dikatakan, “Kematian oleh Hawa, namun kehidupan oleh Maria.”[8] Karena itu, Maria ditempatkan pada pusat pertentangan antara Iblis dan ‘keturunan perempuan ini’ (lih. Kej 3:15)[9] sebab ia adalah sang ‘perempuan’ yang telah dibuat kudus tak bernoda oleh Allah; ia bebas dari dosa asal, sehingga bersama dengan Putera-Nya dapat diletakkan di dalam pertentangan total melawan dosa dan Iblis. Pertentangan ini mencapai puncaknya seperti yang tertulis dalam kitab Wahyu, “Seorang perempuan berselubungkan matahari…..melahirkan Anaknya laki-laki… yang akan menggembalakan semua bangsa…” (Why 12:1,5). Sang Putera akan mengalahkan naga itu, yaitu Iblis. Maka kita mengetahui, bahwa sang Putera adalah Yesus, dan sang Ibu adalah Bunda Maria.[10]
Bunda Maria, Bunda kita
Hubungan yang erat antara Maria dan Yesus Puteranya juga dapat kita lihat dengan jelas pada kisah mukjizat pada pesta perkawinan di Kana, yaitu pada saat Bunda Maria mengambil peranan penting dalam perwujudan mukjizat Yesus yang pertama ini. Dengan berkata pada Yesus, “Mereka kehabisan anggur”, dan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”, Bunda Maria menempatkan diri sebagai pengantara, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai ibu. Pengantaraan Maria sama sekali tidak menghalangi atau mengurangi pengantaraan Yesus yang esa dan satu-satunya kepada Allah Bapa (lih. 1 Tim 2:5) melainkan semakin menunjukkan kuasa pengantaraan Yesus itu. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa pengantaraan Bunda Maria merupakan bagian dari pengantaraan Yesus yang unik dan satu-satunya itu, sebab pengantaraan Maria ada di bawah kuasa pengantaraan Yesus.[11]
Dengan mengandung Yesus yang adalah Kepala dari Tubuh mistik Gereja, Bunda Maria juga mengandung kita umat beriman, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus/ Gereja. Oleh karena itu St. Bernardus mengatakan bahwa Bunda Maria adalah “Leher dari Tubuh Mistik Kristus”[12] yang menghubungkan Yesus Sang Kepala dengan semua anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya. Inilah sebabnya mengapa Bunda Maria yang hadir di dalam misteri Kristus sebagai ibu, juga menjadi ibu rohani bagi semua orang percaya.
Bunda Maria merupakan pemenuhan janji Tuhan yang telah disebutkan pada awal mula (lih. Kej 3:15) dan pada akhir jaman (Why 12:1-5). Ia hadir pada awal misi keselamatan Yesus (lih. Yoh 2:1-12) sampai pada akhirnya, saat ia berdiri di bawah kaki salib Yesus (lih. Yoh 19:25). Ia ada pada saat Sang Sabda menjelma menjadi manusia di dalam rahimnya, dan ia hadir pada saat kelahiran Gereja di hari Pentakosta. Dengan demikian ia telah menjadi contoh dalam perjalanan iman. Bunda Maria adalah seseorang yang pertama kali percaya akan janji Keselamatan, dan dengan imannya, ia menjadi teladan pertama sebagai saksi apostolik Gereja.[13] Karena itu, Bunda Maria adalah juga Bunda Gereja.
Sejak awal Bunda Maria telah memberikan dirinya tanpa batas kepada Yesus Puteranya, dan ia berbuat yang sama terhadap Gereja, yang adalah ‘anak angkat’-nya. Setelah Kristus bangkit dan naik ke surga, Bunda Maria tetap memberikan dirinya sebagai pengantara semua anak-anak-nya kepada Tuhan.[14] St. Alphonsus Liguori mengatakannya dengan begitu indah, dengan mengutip kisah dari kitab 2 Sam 14:4-11. Seorang perempuan bijak dari Tekoa menghadap Raja Daud, “Tuanku, hambamu ini mempunyai dua orang anak laki-laki, dan malangnya hamba ini, salah seorang dari puteraku itu membunuh yang lain, sehingga hamba kehilangan seorang putera, dan keadilan menghendaki agar anakku yang lain itupun mendapat hukuman mati karena perbuatannya..…; kasihanilah hamba, dan janganlah hamba sampai kehilangan kedua puteraku.” Bunda Maria dapat berkata yang serupa, “Tuhanku, hamba mempunyai dua putera, Yesus dan manusia; manusia membunuh Puteraku Yesus di salib, dan kini, keadilanMu menuntut puteraku yang bersalah. O, Tuhan, Yesusku sudah wafat, kasihanilah hamba, sebab hamba sudah kehilangan seorang, mohon jangan biarkan hamba juga kehilangan anakku yang lain.”[15] Dan seperti Raja Daud akhirnya berbelas kasihan kepada ibu dari Tekoa itu dan mengabulkan permohonannya, maka Tuhan-pun berbelas kasihan dan tidak menghukum para pendosa yang didoakan oleh Bunda Maria. Oleh pengantaraannya ini, maka Bunda Maria dikatakan sebagai Mediatrix.
Bunda Maria Teladan Gereja
Bunda Maria adalah teladan Gereja dalam hal iman, kasih dan persatuan yang sempurna dengan Kristus. Bunda Maria adalah contoh sempurna yang mencerminkan Kristus. Ia adalah contoh tetap bagi Gereja, sebab Gereja juga dipanggil untuk menjadi Ibu dan perawan, sebagai mempelai Kristus. (lihat artikel: Bunda Maria tetap perawan, mungkinkah?) Bunda Maria bekerjasama dalam kelahiran Gereja dan perkembangannya. Sekarang ini, pada saat digalakkannya gerakan Ekumenism di mana semua orang Kristen berjuang untuk mencapai persatuan, ketaatan Maria menjadi contoh yang paling sempurna. Dengan mempelajari dan merenungkan peran Bunda Maria dalam Gereja, semua umat Kristen akan dapat melakukan perkataan Yesus -seperti yang menjadi pesan Bunda Maria pada mukjizat di Kana. Dengan demikian, perkataan Yesus, “supaya mereka semua (umat Kristen) menjadi satu…”(Yoh 17:21), dapat terlaksana dengan dipimpin oleh Bunda Maria, yang menjadi ibu bagi semua pengikut Kristus. Sungguh benar, bahwa keibuan Maria adalah rahmat yang diberikan kepada setiap orang. Kristus Penyelamat kita mempercayakan Ibu-Nya sendiri kepada murid yang dikasihiNya. Murid itu mewakili semua umat manusia. Jadi artinya Kristus memberikan Ibu-Nya untuk menjadi ibu bagi kita semua[16] (lih. Yoh 19:26-27).
Mari kita renungkan, sudahkah kita ‘menerima’ Maria sebagai Ibu kita sendiri? Jika kita mau sungguh mengasihi Tuhan Yesus seperti Rasul Yohanes, bukankah kitapun perlu meniru teladannya untuk menerima Maria di dalam ‘rumah’ hati kita dan di dalam kehidupan kita?
Bunda Maria, Bunda Allah menurut Bapa Gereja
Para Bapa Gereja menghubungkan peran Maria sebagai Bunda Allah dengan perannya sebagai Hawa yang baru (the new Eve). Bunda Maria melahirkan Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia dari dosa yang diturunkan dari dosa Hawa. Karena dalam Pribadi Yesus, ke-Allahan dan kemanusiaan-Nya bersatu dengan sempurna, maka Bunda Maria dikatakan sebagai Bunda Yesus dan Bunda Allah, sebab, Yesus itu Allah.
1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. Hawa, manusia perempuan pertama terperdaya oleh Iblis yang kemudian membawa maut; sedangkan Maria percaya kepada pemberitaan malaikat Gabriel, dan karena itu ia mengandung Putera Allah yang membawa hidup.[17]
2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”[18]
3. St. Gregorius Naziansa (390) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia).[19]
4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib Yesus), sebab Kristus tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…”[20]
5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.”[21]
6. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?”[22]
7. Doktrin Maria sebagai Bunda Allah/ “Theotokos” dinyatakan Gereja melalui Konsili di Efesus (431) dan Konsili keempat di Chalcedon (451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua Konsili tersebut, namun bukan berarti bahwa sebelum tahun 431, Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah, dan Gereja ‘baru’ menobatkan Maria sebagai Bunda Allah pada tahun 431. Kepercayaan Gereja akan peran Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan “Theotokos” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia.[23]
Jelaslah bahwa doktrin Maria Bunda Allah bukan untuk semata-mata menghormati Maria, tetapi terutama untuk menghormati Yesus, yang walaupun sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah. Gereja selalu mengimani Pribadi Yesus yang tunggal, yang merupakan persatuan sempurna antara keilahian dan kemanusiaan-Nya. Namun demikian, kita tidak mempercayai bahwa Maria memiliki keilahian seperti dewi. Pendapat yang demikian juga sesat. Jadi yang tepat adalah: Pribadi Ilahi Yesus yang telah ada di sepanjang segala waktu mempersatukan Diri-Nya dengan tubuh kemanusiaanNya di dalam rahim Maria. Untuk ini, Bunda Maria disebut sebagai Bunda Allah. Sama seperti kita mengatakan ibu Siti Habibah bukan saja sebagai ibunda Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi juga sekaligus ibunda Bapak Presiden RI, sebab Bapak SBY adalah Bapak Presiden RI. Dengan analogi ini, maka Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan Bunda Tuhan sebab Yesus adalah Tuhan kita.
Kesimpulan
Bunda Maria berdiri di pusat misteri Keselamatan, seperti dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II, “sebab menjadi keajaiban alam yang luar biasa, ia mengandung Pencipta-nya” -for to the wonderment of nature, she bore her Creator. Betapa istimewanya peran Bunda Maria dalam perwujudan rencana Keselamatan Allah kepada umat manusia, sebab ia dipercaya untuk mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendampingi Kristus Sang Putera sampai kesudahan-Nya di salib Golgotha. Selanjutnya Bunda Maria hadir di sepanjang segala abad untuk membantu Gereja, dan semua umat Kristen, di dalam pergumulan antara kebaikan dan kejahatan, untuk memastikan agar mereka tidak terjatuh, dan jika mereka terjatuh, ia membantu mereka untuk bangkit kembali.[24]
March 15, 2011 at 2:16 pm
Dalam bacaan Minggu ke-dua masa Prapaskah, Gereja menyodorkan satu perikop yang sungguh indah, yang tertulis di Mt 17:1-9, Mrk 9:2-13, Luk 9:28-36. Berikut ini adalah perikop yang tertulis di Injil Matius:
1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
4 Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”
5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!”
8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.
Mari kita bersama-sama menelaah perikop ini, dengan harapan dapat berguna dalam masa Prapaskah ini.
III. Menempatkan peristiwa Transfigurasi pada konteksnya
1. Dari Pengakuan Petrus ke Transfigurasi
Kalau kita memperhatikan, peristiwa Transfigurasi terjadi setelah pengakuan Petrus di Kaesarea Filipi, yang terekam dalam ketiga Injil (lih. Mt 16:13-20; Mk 8:27-30; Lk 9:18-21). Ketika Yesus bertanya “Menurut kamu, siapakah Aku ini?“, maka Petrus dengan lantang menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (lih. Mt 16:16) atau Mesias (lih. Mk 8:29), atau Mesias dari Allah (lih. Lk 9:20). Yesus memuji jawaban Petrus dan bahkan mengatakan bahwa jawaban tersebut sebenarnya dinyatakan sendiri oleh Allah Bapa. Dan kemudian, dalam perikop yang sama, Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus, dan berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Janji yang begitu indah, besar, dan tidak terbatas ini sayangnya masih belum dapat dimengerti oleh para rasul, termasuk Petrus.
Ketika Yesus menyatakan bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dan akhirnya akan dibunuh, dan akan bangkit, Petrus tidak dapat menerima hal ini. Saya juga membayangkan bahwa para rasul yang lain juga terlalu terkejut atau sedih dengan pernyataan Yesus. Petrus, yang sangat reaktif dan menggebu-gebu, mengatakan kepada Yesus agar hal tersebut tidak terjadi pada Yesus (lih. Mt 16:22; Mk 8:32), yang mengakibatkan hardikan Yesus kepada Petrus di ayat berikutnya. Dalam kondisi bingung, tidak mengerti, sedih, maka para murid meneruskan perjalanan bersama Yesus, dan kemudian pada hari ke-enam, Petrus, Yohanes dan Yakobus, di bawa oleh Yesus untuk naik ke gunung Tabor untuk berdoa.
2. Yom Kippur, Sukkoth dan pengakuan Petrus, Transfigurasi
Dalam bukunya “Jesus of Nazareth“, Paus Benediktus XVI memberikan argumentasi bahwa pengakuan Petrus (lih. Mt 16:16-19) sepertinya terjadi pada pesta Yom Kippur dan Transfigurasi terjadi pada hari raya Pondok Daun.[1]. Pesta Pondok Daun ini terjadi setelah hari keenam dari Pesta Yom Kippur. Yom Kippur menjadi pesta yang begitu istimewa, karena saat itulah (hanya setahun sekali) nama Yahweh boleh/ dapat diucapkan oleh imam agung di tempat maha kudus di bait Allah. Pada perayaan Yom Kippur itulah Rasul Petrus menyebutkan pengakuan-Nya akan Kristus yang adalah Sang Mesias, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup“. Dengan demikian Petrus, mengakui Kristus sebagai Allah Putera; dan pengakuan ini diterima oleh Kristus, dengan mengatakan bahwa pernyataan itu berasal dari Allah Bapa sendiri. (lih. Mat 16:18)
Pesta Pondok Daun adalah memperingati leluhur bangsa Israel yang berkemah di padang gurun. Imamat 23:43 menuliskan “ Supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah TUHAN, Allahmu.” Tuhan yang menuntun bangsa Israel melalui tiang awan (lih. Kel 13:21), seoleh-olah ingin menyatakan kembali pimpinan-Nya kepada bangsa Israel dengan peristiwa Transfigurasi. Tidak saja hanya dalam tiang awan seperti yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, melainkan Tuhan juga memperdengarkan suara-Nya. Bahkan di Perjanjian Baru ini, Allah memberikan Putera-Nya sendiri untuk memimpin umat Allah ke Tanah Terjanji, yaitu surga.
IV. Tipologi peristiwa Transfigurasi dengan Musa yang naik ke puncak gunung
Dikatakan “Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.” (Mt 17:1). Paus Benediktus melihat tipologi antara apa yang terjadi dalam Kel 24 dengan Transfigurasi. Dalam kitab Keluaran dikatakan “Kemuliaan TUHAN diam di atas gunung Sinai, dan awan itu menutupinya enam hari lamanya; pada hari ketujuh dipanggil-Nyalah Musa dari tengah-tengah awan itu.” (Kel 24:16) Sama seperti Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes, maka patut diingat juga bahwa Tuhan berfirman kepada Musa untuk naik menghadap Tuhan dengan mengajak Harun, Nadab dan Abihu, walaupun juga disertai dengan tujuh puluh para tua-tua Israel (lih. Kel 24:1). Di kitab Keluaran 24 dikatakan bahwa setelah Musa menerima perintah dari Tuhan, maka dia membacakannya kepada bangsa Israel, dan kemudian bangsa Israel menjawab “Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan.” (Kel 24:3). Dan kemudian berakhir dengan tanda perjanjian dan dikatakan “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.” (Kel. 24:8)
Jika dalam Kel 24 Musa naik bersama dengan Harun, Nadab dan Abihu, maka dalam Transfigurasi, Kristus naik ke gunung bersama dengan Petrus, Yohanes dan Yakobus. Musa naik ke gunung untuk menerima Firman Tuhan. Dalam peristiwa Transfigurasi, Kristus, yang adalah Firman menyatakan Diri-Nya dalam kemuliaan. Perkataan bangsa Israel yang menyatakan bahwa segala firman yang diucapkan Tuhan itu akan mereka lakukan, seolah-olah diberi bobot yang jauh lebih besar, karena pada peristiwa Transfigurasi Allah Bapa sendirilah yang mengatakan “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (ay. 5) Bukan Musa yang menyatakan perintah Allah kepada bangsa Israel, namun Allah Bapa sendiri yang menyatakannya kepada Petrus, Yohanes dan Yakobus yang mewakili seluruh umat beriman.
Dari sini, kita dapat melihat adanya tipologi, yang memberikan kedalaman makna perikop ini. Transfigurasi bukan hanya merupakan suatu kejadian, di mana Kristus dimuliakan di atas gunung. Namun, lebih daripada itu, Transfigurasi merupakan suatu pengulangan peristiwa dari bangsa Israel, yaitu resolusi ketaatan dari bangsa Israel yang berakhir dengan tanda perjanjian. Kalau dalam Perjanjian Lama, resolusi ketaatan adalah kepada Firman yang tertulis, namun di dalam Perjanjian Baru, resolusi ketaatan adalah kepada Kristus, yaitu Firman yang hidup, Firman yang telah menjadi manusia (lih. Yoh 1:1-5). Dan pada saat yang sama, Firman ini juga menjadi tanda perjanjian, yaitu ketika pada Perjamuan Terakhir, Kristus sendiri mengatakan “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mt 26:28)
V. Transfigurasi, perhentian yang memberikan kekuatan
1. Transfigurasi menjadi oasis di padang gurun kehidupan
Di atas telah disebutkan bahwa sebelum terjadinya peristiwa Transfigurasi, kemungkinan para murid berada dalam keadaan sedih dan tak bisa menerima kenyataan bahwa Yesus – yang adalah Guru dan Tuhan- harus menderita dan wafat. Dalam kekalutan inilah, mereka menemani Yesus naik ke atas gunung. Untuk apa? Injil Lukas mencatat, bahwa mereka naik ke atas gunung untuk berdoa (lih. Lk 9:28). Ini adalah pelajaran yang begitu indah, bagaimana dalam kekalutan, kita harus naik ke gunung untuk berdoa, sehingga kita akan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi gelombang kehidupan. Kita harus menemukan tempat yang sunyi untuk berdoa (lih. Mt 6:6), sehingga kita dapat bertemu dengan Allah.
Kekalutan dan ketakutan para murid akan kematian Kristus seolah-olah sirna, ketika mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, wajah Yesus menjadi bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi seperti putih bersinar seperti terang (ay. 2). Inilah yang terjadi di dalam doa, bahwa kekalutan dan kegelapan sebenarnya sirna ditelan oleh Yesus, Sang Terang dunia, yang menjanjikan bahwa barangsiapa mengikuti Dia, tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan (lih. Yoh 8:12). Di dalam Kristus, kekalutan dan keletihan hidup digantikan dengan kelegaan (lih. Mt 11:28), kegelapan digantikan dengan terang, dan ketidakpastiaan digantikan dengan harapan yang kuat, karena Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6).
Pengalaman spiritual yang begitu mengesankan ini, sungguh membekas di hati Petrus. Inilah sebabnya dalam suratnya rasul Petrus mengatakan “16 Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. 17 Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” 18 Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.” (2Pet 1:16-18) Pengalaman bersama dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya seharusnya terpatri dalam hati seluruh umat beriman, sehingga dapat menjadi oasis yang menyegarkan dan menguatkan kita, ketika kita sedang menghadapi percobaan-percobaan kehidupan.
2. Kristus adalah Tuhan dari Elia dan Musa
St. Ephraem, salah satu dari pujangga Gereja menghubungkan peristiwa Pengakuan Petrus dengan Transfigurasi.[2] Dalam perikop pengakuan Petrus, Yesus bertanya kepada para murid “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mt 16:13) Dan kemudian di ayat berikutnya, para murid menjawab “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Di dalam Transfigurasi inilah, Kristus menunjukkan bahwa perkataan Petrus bahwa Kristus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, sungguh benar. Dalam kemuliaan-Nya, Kristus menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan dari Elia dan para nabi lainnya. Kristus adalah pemenuhan dari semua hukum di dalam Perjanjian Lama (diwakili Musa) dan pemenuhan nubuat para nabi (diwakili Elia). Kristus menunjukkan bahwa Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Dengan menengadah ke atas/ ke langit, Kristus memanggil Elia (yang sebelumnya terangkat ke Sorga – lih. 2Raj 2:11) dan Ia memanggil Musa dari bawah/ bumi (dari kuburnya). Dan kemudian mereka bercakap-cakap di awan.
Musa dan Elia bergembira karena menyaksikan Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi sungguh manusia, sedangkan Petrus, Yohanes dan Yakobus bersyukur, karena mereka telah menyaksikan Yesus, yang sungguh Allah. Kalau dalam Perjanjian Lama dibutuhkan minimal dua atau tiga saksi untuk mengkonfirmasi suatu kejadian adalah benar adanya (lih. Ul 19:15), maka dalam peristiwa Transfigurasi ini, dua orang dari Perjanjian Lama dan tiga orang dari Perjanjian Baru menjadi saksi peristiwa mulia ini. Dengan demikian, Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia adalah benar adanya, karena menjadi pemenuhan dari nubuat di dalam Perjanjian Lama dan disaksikan oleh saksi-saksi.
3. Transfigurasi memberikan gambaran akan Trinitas
Kesaksian yang diperlukan untuk membuat suatu kejadian menjadi benar, bukan hanya diberikan oleh manusia, namun juga diberikan oleh Tuhan. Allah Bapa memuliakan Sang Anak dan bersaksi tentang Yesus (lih. Yoh 5:37) dengan mengatakan “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (ay. 5) dan Allah Roh Kudus menaungi mereka. Hal yang sama digambarkan di dalam kitab Keluaran, ketika Musa mendaki gunung dan kemudian awan itu menutupinya. Dikatakan “Kemuliaan TUHAN diam di atas gunung Sinai.” (Kel 24:16). Roh Allah tidak lagi datang dalam awan gelap (lih. Kel 20:21), namun kini datang dalam rupa awan yang terang (Mt 17:5) Gambaran yang lebih jelas akan Trinitas, seharusnya membuat para rasul dan seluruh umat Allah untuk semakin menaruh iman kepercayaan kita kepada Yesus. Yesus telah dipermuliakan dan Dia akan datang dalam kemuliaan-Nya (lih. Mt 16:27), ketika genap waktunya.
4. Menuju kepada keselamatan dengan mendengarkan dan melakukan apa yang dikatakan Yesus
Gambaran dari Trinitas sebelumnya telah dinyatakan di dalam peristiwa baptisan Yesus, di mana Allah Bapa mengatakan “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mt 3:17), terdengar lagi dengan lebih jelas “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Allah Putera dinyatakan sebagai Anak Allah dan lebih daripada itu, dalam Diri Yesus terletak semua hukum dan pemenuhan dari semua nubuat para nabi. Inilah sebabnya, Allah Bapa mengatakan kepada para rasul untuk mendengarkan Yesus. Bahkan segala kuasa di Sorga dan di bumi telah diberikan kepada Yesus. (lih. Mt 28:18).
Allah Bapa memberikan penekanan, bahwa Kristus adalah Anak-Nya yang terkasih dan semua orang harus mendengarkan Kristus. Apanya yang perlu didengarkan? Semua yang diucapkan-Nya dan dilakukan-Nya (lih. Mt 28:20). Namun, mungkin terutama, apa yang sebelumnya dikatakan oleh Kristus sendiri – yang menjadi skandal bagi para murid dan yang juga menjadi batu sandungan bagi kaum Yahudi dan menjadi suatu kebodohan bagi bangsa Yunani (lih. 1Kor 1:23) – , yaitu tentang misteri penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. (lih. Mt 16:21-28; Mrk 8:31-9:1; Lk 9:22-27). Inilah sebabnya Rasul Paulus juga mengatkan bahwa dia memberitakan Kristus yang tersalib (lih. 1Kor 1:23) Salib memang merupakan sesuatu yang berharga, sebab melaluinya kita sampai kepada kemuliaan yang dijanjikan Yesus. Oleh sebab itu Yesus mengatakan “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mt 16:24) Inilah yang akan membawa manusia kepada keselamatan. Sebab tujuan akhir kita bukan berhenti kepada melihat Transfigurasi, namun kepada Transfigurasi yang sesungguhnya dan yang kekal, yaitu melihat Allah muka dengan muka di dalam Kerajaan Sorga (lih. 1 Yoh 3:2).
5. Kristus memampukan kita untuk memikul salib
Setelah kekecewaan Petrus terobati dengan kemuliaan Kristus yang dia saksikan, maka Dia mengatakan “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” (ay. 4) Petrus yang mendapatkan penghiburan dari apa yang dialaminya mau mendapatkan penghiburan untuk selamanya, atau paling tidak lebih lama. Petrus seolah-olah telah melupakan apa yang dikatakan oleh Yesus tentang penderitaan, kematian yang harus dialami oleh Yesus dan juga tentang penyangkalan diri, memikul salib dan mengikuti Yesus. Semua hal yang menjadi beban dan resiko untuk menjadi murid Kristus seolah-olah sirna dengan kemilau kemuliaan Kristus. Mungkin, kita juga pernah mengalami kebahagiaan bersama dengan Tuhan secara istimewa, entah melalui permenungan, rekoleksi, retret, dll. Kita seolah-olah ingin agar saat-saat itu tidak berakhir.
Namun, di tengah-tengah ekstasi inilah, Petrus dan kawan-kawan mendengar suara “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (ay. 5). Suara ini menyadarkan mereka bahwa mereka tidak mungkin mengalami manifestasi kemuliaan ini untuk selamanya dan tidak mungkin mereka hanya berdiam diri di atas gunung dan melupakan tugas mereka. Mereka disadarkan bahwa mereka harus mendengarkan Yesus, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup, yang sebelumnya pernah mengatakan kepada mereka tentang segala penderitaan yang harus dialami-Nya. Selain karena ketakutan akan manifestasi dari suara Tuhan, namun ketakutan ini adalah suatu ketakutan bahwa mereka harus kembali turun gunung, mereka harus menghadapi lagi suatu kenyataan bahwa mereka harus menjalankan tugas yang belum selesai.
Dalam ketakutan inilah, tiba-tiba terdengar suara “Berdirilah, jangan takut!” (Mt 17:7). Yesus ingin menyatakan bahwa ketakutan dalam menghadapi semua percobaan akan sirna jika dihadapi bersama dengan Yesus. Kunci dari menghadapi semua tantangan yang diberikan oleh Yesus – menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus – adalah Yesus sendiri, karena Yesus sendiri yang akan memberikan kekuatan. Kristus tidak mengatakan bahwa Dia akan mengambil salib dari diri kita, namun Kristus ingin mengatakan bangkitlah, berdirilah, dan berjalanlah bersama-Ku, maka engkau akan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi segalanya. Mari, ikutilah Aku….
VI. Ikutilah Aku ke Tanah Terjanji
Setelah reda dalam ketakutan-Nya, maka para murid mengikuti Yesus untuk turun gunung. Inilah saat ketika mereka harus menghadapi kenyataan hidup dan panggilan hidup untuk mengikuti Kristus. Namun, mereka yang telah mengalami Kristus yang dipermuliakan, telah mendapatkan kekuatan untuk menghadapi segalanya. Bagi kita, seluruh umat Katolik, sebenarnya kitapun mengalami pengalaman seperti para rasul itu yang menyaksikan Transfigurasi. Pengalaman ini kita peroleh setiap kali kita menerima Ekaristi. Dalam setiap perayaan Ekaristi, Kristus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga dihadirkan kembali dan bersatu dengan kita. Dalam persatuan kita dengan Kristus yang kita sambut dalam Ekaristi, kita menyaksikan kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam kesederhanaan dan kebersahajaan rupa sepotong roti. Allah yang begitu besar, memilih untuk menyatakan Diri-Nya dengan cara yang sangat sederhana, agar dapat menghampiri kita dan menyatu dengan kita. Ialah Roti Surga yang menjadi santapan rohani bagi kita, agar kita menerima rahmat kekuatan dan penghiburan. Rahmat Ekaristi inilah yang memampukan umat Allah untuk turun gunung dan melaksanakan tugas sebagai murid- murid Kristus, yaitu menyampaikan Kristus kepada orang lain dan membawa orang lain kepada Kristus.
March 15, 2011 at 2:16 pm
@valentine
jika sebesar itu peran maria kenapa jabatan paus dipegang laki terus nggak ada yang perempuan
March 15, 2011 at 2:38 pm
Karena sudah jelas,Yesus memilih murid dan rasulnya,kesemuanya laki laki,bukan perempuan.
March 15, 2011 at 2:40 pm
@ jack,ini jawaban lu.
Keutamaan Petrus dalam kitab Perjanjian Baru
1. Yesus memilih kedua belas rasul, yang dimulai dengan Simon Petrus. Banyak ayat dalam Kitab Suci yang selalu menyebutkan Petrus sebagai yang pertama dari semua rasul yang lain, dan Yudas di urutan terakhir (lih. Mat 10:1-4; Mrk 3:16-19; Luk 6:14-16; Acts 1:13). Kadang-kadang para rasul disebut sebagai Petrus dan teman-temannya (Luk 9:32). Petrus sering berbicara atas nama semua rasul (Mt 18:21; Mrk 8:29; Luk 12:41; Jn 6:69). Nama Petrus ditulis di dalam Alkitab sebanyak 191 kali (162 kali sebagai Petrus atau Simon Petrus, 23 kali sebagai Simon, and 6 kali sebagai Kephas). Sebagai perbandingan, Yohanes hanya disebut sebanyak 48 kali. Archbishop Fulton Sheen pernah menghitung bahwa semua nama rasul digabungkan hanya disebut 130 kali. Semua hal ini menunjukkan keutamaan Rasul Petrus jika dibandingkan dengan rasul-rasul yang lain.[1]
2. Rasul Petrus memegang peran sebagai yang “pertama” di banyak kesempatan. Di awal pemberitaan-Nya, Yesus memilih untuk mengajar orang banyak dari perahu Simon (Luk 5:3). Rasul Petruslah yang berinisiatif untuk berjalan di atas air (Mat 14: 28-31). Rasul Petruslah yang dipilih oleh Tuhan Yesus untuk mengambil koin dari mulut ikan untuk membayar pajak bagiNya dan bagi Petrus sendiri (Mat 17: 24-27). Petruslah yang menerima wahyu dari Allah Bapa sehingga dapat mengenali identitas Yesus sebagai Putera Allah (Mat 16:16).
Yesus mengubah nama Petrus, yang semula bernama Simon, menjadi Kepha/ Petrus yang artinya, “Batu Karang” untuk menunjukkan penugasan yang baru yang diberikan oleh Kristus kepadanya (Mat 16:13- 20)
Walaupun demikian, Petrus juga ditegur oleh Yesus atas pengertiannya yang keliru tentang Mesias (Mat 16:23). Maka kita mengenal sifat dasar Petrus yang pemberani namun sering terlalu cepat bertindak, tanpa berpikir terlalu jauh, seperti terlalu cepat menjanjikan kesetiaan sebagai seorang martir namun kemudian malah menyangkal Yesus tiga kali; walaupun ia akhirnya bertobat (Mat 26:35; Luk 22:57-62). Di lain kesempatan ia terlalu cepat menggunakan pedang untuk memotong telinga Malkus (Yoh 18:10). Namun demikian, sesungguhnya Petrus mempunyai hati yang lembut, dan peka terhadap dosa dan kelemahannya (Luk 5:8; 22:61-62).
Kelemahan Petrus ini tidak mengubah kenyataan bahwa ia tetaplah terhitung sebagai “yang pertama” di antara para rasul. Petrus selalu disebut pertama kali di antara para rasul yang dipilih Yesus, untuk melihat-Nya dimuliakan di atas gunung Tabor (Mrk 9:2-9, 2 Pet 1:18); untuk mempersiapkan Perjamuan Terakhir (Luk 22:8); dan untuk melihat Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:34; 1 Kor 15:5). Petruslah yang secara khusus didoakan oleh Yesus dan diberi tugas untuk menguatkan saudara-saudaranya yang lain (lih. Luk 22:32; Yoh 21:15-17). Segera setelah Yesus naik ke surga, Petrus mengambil alih kepemimpinan para rasul dengan mengambil inisiatif untuk memilih pengganti Yudas yang mengkhianati Yesus (Kis 1:15-26). Setelah Pentakosta, Petrus tampil mewakili para rasul mengkhotbahkan pesan Injil (Kis 1:14-40) yang mengkibatkan 3000 orang untuk dibaptis pada hari itu.
3. Setelah Pentakosta, peran kepemimpinan Petrus-pun jelas terlihat: Petrus mengubah kebiasaan Gereja yang hanya membaptis umat Yahudi, dengan membaptis Kornelius, umat non- Yahudi, beserta seisi rumahnya (Kis 10 dan 11). Paulus pun menemui Petrus (Kepha) dan tinggal bersamanya selama 15 hari (Gal 1:18), selanjutnya Paulus mendatangi Petrus lagi di Yerusalem dengan menjabarkan Injil yang diberitakannya (Gal 2:2) agar usahanya tidak percuma. Rasul Petrus juga membuat keputusan otoritatif di Konsili Yerusalem mengenai sunat (Kis 15). Sesudah Konsili Yerusalem, Rasul Petrus mengadakan perjalanan ke banyak daerah untuk mendirikan gereja-gereja pada daerah kekuasaan Kaisar Roma, untuk menyebarkan Injil ke ujung bumi, sesuai dengan pesan Kristus (lih. Kis 1:8). Akhirnya, ia menuju Roma (yang disebut Babilon 1 Pet 5:12-13) yang dianggap sebagai pusat dunia pada saat itu, untuk juga mendirikan gereja di sana, dan akhirnya wafat sebagai martir, bersama dengan Rasul Paulus.
Dari siapa saja kita mengetahui keutamaan Petrus?
1. Rasul Yohanes.
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus) (Yoh 1: 40-42).
Di Injilnya yang ditulis sekitar tahun 90-100 (60 tahun setelah kejadian), Rasul Yohanes masih mengingat kejadian tersebut, di mana Yesus memberi nama “Batu Karang” kepada Petrus. Perjanjian Lama mengajarkan kepada kita bahwa perubahan nama sejalan dengan panggilan/ penugasan yang baru dari Allah (lih. Kej 17:5; 32:28; 41:45), dengan demikian Rasul Yohanes mengakui misi Simon yang baru sebagai “Batu Karang.”
2. Rasul Matius
Matius selalu menuliskan Petrus dalam urutan pertama dari keduabelas rasul. Secara khusus, ia menuliskan Pengakuan Petrus (Mat 16: 13-20) yang menunjukkan keutamaan Rasul Petrus.
3. Lukas
Demikian pula dengan Lukas, yang menuliskan Petrus di urutan pertama, misalnya saat menuliskan kisah Yesus dimuliakan di atas gunung (Luk 8: 45: 9: 28, 32), dan para murid mengakui bahwa Kristus telah menampakkan diri kepada Simon (Petrus) (Luk 24:33-34) sesaat setelah kebangkitan-Nya.
4. Markus
Demikian pula Markus, dengan menuliskan bahwa malaikatpun saat memberitakan kebangkitan Yesus menyebutkan nama Petrus secara terpisah, sedangkan para rasul yang lain tergabung dalam “murid- murid-Nya” (Mrk 16:6-7).
5. Rasul Paulus
Dengan mengakui bahwa kepada Petruslah pertama Kristus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya (1 Kor 15:3-6). Kepada umat di Galatia, Paulus mengatakan bahwa ketika akhirnya ia “berhubungan dengan Gereja” setelah tiga tahun mewartakan Injil, ia menghubungi Rasul Petrus yang disebutnya sebagai ‘Kepha’ (Gal 1:17-18), dan dengan demikian ia mengakui keutamaan Petrus yang adalah “Batu Karang” yang ditunjuk oleh Kristus.
6. Konsili Yerusalem (49-50)
Kis 15 menjabarkan Konsili Yerusalem dimana Rasul Petrus berbicara untuk menyelesaikan konflik yang dihadapi oleh jemaat pada saat itu, yaitu mengenai masalah sunat. Setelah Petrus membuat keputusan yang mengikat semua umat beriman, maka semua umat terdiam, dan menerima keputusan ini. Paulus dan Barnabas kemudian mengisahkan pengalaman mereka, dan Yakobus menjabarkan pelaksanaan praktis yang harus dilakukan sesuai dengan keputusan Petrus. [Maka jika Yakobus membuat khotbah penutup di Konsili Yerusalem, itu disebabkan karena Yakobus adalah uskup Yerusalem, dan bukan karena ia mempunyai keutamaan di atas Petrus. Sebab yang disampaikannya juga hanya mendukung keputusan Petrus, dan bukan ia yang pertama kali membuat keputusan untuk menyelesaikan konflik yang ada].
Kita mengetahui bahwa Konsili Yerusalem mempunyai ciri-ciri seperti Konsili-konsili lainnya dalam sejarah Gereja: a) pertemuan para pemimpin seluruh Gereja; b) penetapan aturan yang mengikat semua umat Kristen, c) bersangkutan dengan hal iman dan moral, d) keputusannya ditulis sebagai pernyataan Gereja, e) Petrus memimpin seluruh kongregasi.[2]
7. Rasul Petrus sendiri
Umat Protestan ada yang berpendapat bahwa Petrus bukan pemimpin Gereja, dengan mengutip surat 1 Pet 5:1, di mana Rasul Petrus menyebut dirinya sebagai “teman penatua” (a fellow elder). Namun jika kita membaca ayat- ayat berikutnya, kita melihat bahwa Rasul Petrus mengajar para penatua tersebut dengan otoritas seorang pemimpin. Maka jika Petrus mengatakan sebagai “teman penatua”, ia seperti layaknya presiden sewaktu menyebut rakyatnya sebagai ’saudara sebangsa dan setanah air’, tentu tidak berarti bahwa sang presiden tidak memiliki otoritas atas rakyatnya. Di sini Petrus menyatakan bahwa ia adalah ‘teman penatua’ untuk mengakui keberadaan mereka sebagai para pemimpin Gereja seperti dirinya, namun tentu Rasul Petrus menyadari atas kepemimpinannya atas mereka, oleh sebab itu ia mengarahkan/ menasihati mereka.
8. Tuhan Yesus Kristus
Dengan memberikan nama “Batu Karang” kepada Petrus dan mengatakan bahwa Ia akan mendirikan jemaat/ Gereja-Nya atasnya (Mat 16: 15-19). Ayatnya sebagai berikut:
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”
Jemaat/ Gereja ini akan disertai oleh Kristus sampai akhir jaman,
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Dengan demikian, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memilih Petrus dari antara para rasul-Nya yang lain untuk memimpin Gereja, yaitu dengan memberikan kunci Kerajaan-Nya dan kuasa untuk ‘mengikat dan melepaskan’ (ay. 19). Maka dari ayat ini, setidaknya terdapat empat hal penting, yaitu: a) Petrus sebagai “Batu Karang”; b) Petrus yang kepadanya diberikan kunci Kerajaan Sorga dan diberi kuasa untuk ‘mengikat dan melepaskan’; c) Karena Yesus menjanjikan bahwa Gereja-Nya tak akan dikuasai oleh maut sampai akhir jaman, maka kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ tersebut tidak dapat salah, dan berlaku juga pada para penerus Rasul Petrus. d) Yesus hanya mendirikan satu Gereja (bukan gereja-gereja) dalam pimpinan Petrus. Mari kita melihat satu- persatu point ini.
Petrus sebagai “Batu Karang”
“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)
RSV: And I tell you, you are Peter, and on this rock I will build my church, and the powers of death shall not prevail against it.
Gereja Katolik mengartikan “Batu Karang” ini sebagai Petrus, yang menerima nama barunya ini karena pengakuan imannya bahwa Kristus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Namun demikian, banyak umat Protestan yang tidak mengartikannya demikian.
Kalangan Protestan banyak yang mengartikan bahwa dalam bahasa Yunani, dikatakan bahwa Petrus adalah “Petros” dan batu karang adalah “petra“. Dan ini berarti bahwa Petros dan petra tidak sama, karena petros artinya batu kecil dan petra artinya batu besar/ batu karang; sehingga tidak mungkin Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus (petros), melainkan di atas pengakuan Petrus (petra).
Dari tata bahasa Yunani: Penggunaan Petros dan petra adalah karena tata bahasa Yunani, yang mengenal masculin dan feminin, yang diterapkan bukan hanya terhadap manusia, namun juga terhadap benda-benda. Jadi, dalam hal ini diterjemahkan “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petros dan di atas petra ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”Padahal sebenarnya, perbedaan ini disebabkan karena kata Petra tidak dapat digunakan untuk menggantikan nama Petrus, karena kalau demikian sama saja dengan memakai nama Michelle untuk Michael atau Fransiska untuk Fransiskus.
Namun pada jaman Yesus, bahasa yang dipakai adalah bahasa Aram, sehingga sebenarnyanya Yesus mengatakan, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Kefas dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Yesus memberikan nama Kefas (Petrus) kepada Simon jauh sebelum pengakuan ini, yaitu pada waktu Yesus bertemu dengan Petrus, dimana Yesus berkata “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:42).
Selanjutnya, mari kita tinjau dari kelogisan kalimat: Kalau kita menafsirkan bahwa Petros adalah Petrus dan kemudian Petra adalah pengakuan Petrus, maka akan terlihat tidak logis, sebab bunyinya kira-kira menjadi seperti berikut ini:Yesus berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan di atas pengakuanmu Aku akan mendirikan Gereja-Ku…”Dua kalimat tersebut tidak berhubungan. Dan kalau kita melihat dari bahasa Greek, dikatakan “Engkau adalah Petrus, dan (memakai “kai“) di “taute” (this very) batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku”. Kai (dan) mengindikasikan bahwa kata benda yang dipakai harus merujuk kepada kata benda sebelumnya. Perhatikan, bahwa yang digunakan adalah kata dan, bukannya tapi. Jadi hal yang sedang dibicarakan adalah hal yang sama, yaitu Batu Karang (Kepha/ Petrus), yang sejak saat itu menjadi nama baru bagi Simon, sehingga ia tidak lagi dipanggil Simon, tetapi Petrus.
W.F. Albright, seorang ahli Kitab Suci Protestan yang dikenal secara internasional sebagai “the dean of biblical studies” menulis demikian, “… Tidak ada bukti bahwa Petrus atau Kepha adalah sebuah nama sebelum jaman Kristen…. Petrus sebagai Batu Karang akan menjadi pondasi dari komunitas di kemudian hari. Yesus… di sini memakai bahasa Aram, bukan Ibrani… Seseorang harus membuang interpretasi yang menyatakan bahwa ‘batu karang’ ini merupakan pengakuan iman Petrus atau pengakuannya akan kemesias-an Yesus. Untuk mengabaikan keutamaan Petrus di antara para murid pada jemaat perdana adalah sebuah pengingkaran suatu bukti…..”[3]
Albright tidak sendirian dalam mengungkapkan interpretasi ini, sebab banyak ahli kitab suci Protestan lainnya, yang juga mengakui bahwa Petruslah Batu Karang yang dimaksud dalam pernyataan Yesus ini. Silakan klik di sini untuk membaca pengajaran mereka, antara lain Oscar Cullmann (Lutheran), Eduard Schweizer, Francis W. Beare dan Thomas G. Long (Reformed), D.A Carson, Herman Ridderbos, Caig Blomberg, Craig Keener (Evangelis Protestan), R. T France (Anglikan).
Senada dengan Albright, Cullmann menuliskan, “Tapi apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika mengatakan: “Di atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku?” Ide para Reformer bahwa Ia [Yesus] mengacu kepada iman Petrus adalah sangat tidak terbayangkan (inconceivable)…. Sebab tidak ada referensi yang mengacu kepada iman Petrus. Yang ada, paralel/ perbandingan antara “Kamu adalah Batu Karang” dan “di atas Batu Karang ini Aku akan membangun” menunjukkan bahwa Batu Karang yang kedua adalah sama dengan Batu Karang yang pertama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Yesus mengacu kepada Petrus, yang kepadanya Ia telah memberi nama Batu Karang. Ia telah menunjuk Petrus… Dalam hal ini exegesis Gereja Katolik benar, dan semua usaha gereja Protestan untuk menghapuskan interpretasi ini harus ditolak.”[4]
Maka di sini kita melihat, bahwa dengan memberi nama “Batu Karang” kepada Simon, maka Ia memberikan kepada Petrus identifikasi yang sangat penting, yang bahkan mengacu kepada diri-Nya sendiri (lih. 1 Kor 10:4). Namun ini tidaklah aneh, sebab memang Yesus mengidentifikasikan Gereja-Nya sebagai Tubuh-Nya sendiri dan Ia adalah Kepalanya (lih. Ef 5:22-33).
Petrus sebagai pemegang Kunci Kerajaan Allah dan diberi kuasa “mengikat dan melepaskan”
1. “Kunci” yang diberikan di sini maksudnya adalah kuasa untuk memimpin dan mengatur Kerajaan Sorga. Dan karena Kerajaan Sorga yang ada di dunia ini adalah Gereja, maka Rasul Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa untuk memimpin Gereja. Karena Gereja direncanakan oleh Yesus untuk terus eksis sampai akhir jaman (Mat 16:18; 28:19-20), maka kuasa memimpin ini diberikan juga kepada para penerus Rasul Petrus.
Di Perjanjian Lama, tugas “pemegang kunci” ini telah digambarkan oleh Elyakim (Yes 22) yang diberi tanggungjawab untuk memegang kunci Rumah Raja Daud, sebagai pengatur rumah tangga, yang menjadi simbol kekuasaan Kerajaan Yehuda, “Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia: Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya; maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Yes 22:20-22)
Dengan diberikannya kuasa ini kepada Elyakim, tentu bukan berarti Elyakim menjadi “lebih tinggi daripada” Raja Daud. Pemberian kunci ini hanya dimaksudkan agar Elyakim menjadi pengurus, pengajar bagi kerajaan raja Daud tanpa ia menjadi lebih tinggi dari Raja Daud. Di PB, oleh Yesus, Sang Raja keturunan Daud, kerajaan Yehuda disempurnakan menjadi Gereja-Nya yang dibangun di atas Rasul Petrus (Mat 16:18-19). Dengan analogi yang sama, kuasa yang diberikan oleh Yesus kepada Rasul Petrus juga tidak membuat Petrus lebih tinggi daripada Yesus. Sebab biar bagaimanapun, Yesus tetaplah Sang Pemilik kunci yang menguasai kunci itu. Pada PL tugas mengatur rumah tangga kerajaan Daud diberikan kepada Elyakim, sedangkan pada PB, tugas mengatur Kerajaan Allah (yaitu Gereja) diberikan kepada Rasul Petrus dan para penerusnya.
Maka istilah ‘kunci’ ini adalah untuk menggambarkan pemberian kuasa yang penuh dan otoritas/ kuasa yang penuh, absolut dan tertinggi yang diberikan kepada Petrus -tentu setelah Kristus sendiri. Jadi “kunci” ini bukanlah hanya berarti kunci pintu masuk saja (pembuka pintu bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus untuk mengimani-Nya), tetapi seluruh kunci bagi semua pintu rumah/ Kerajaan Allah tersebut, yang menyangkut seluruh kepemimpinan umat beriman. Tugas ini kemudian dijalankan oleh Magisterium (Paus dan para uskup dalam persekutuan dengan Paus), yaitu tugas/ wewenang untuk mengikat atau melepaskan dalam hal pengajaran iman dan moral (Mat 16:19; 18:18).
2. Menurut ajaran para Bapa Gereja yang akan dibahas di artikel berikutnya, kuasa “mengikat dan melepaskan” adalah kuasa mengajar dan kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 16:19). Menurut Suarez, seorang Teolog Scholastik yang menggabungkan ajaran St. Gregorius dan St. Maximus, kuasa memegang kunci ini meliputi tiga hal, yaitu kuasa memberikan sakramen- sakramen, kuasa memimpin/ mengatur dan kuasa untuk mendefinisikan ajaran iman dan moral.[5] Jadi di sini “kunci” bukan sesuatu yang dibagi-bagikan sama rata kepada semua pengikut Kristus. Interpretasi “kunci” di PB harus dilihat dalam konteksnya seperti di PL, sebab di PL pemberian kunci kerajaan Yehuda hanya diberikan kepada Elyakim, maka di PB, juga hanya kepada Rasul Petrus. Sedangkan karena Yesus menginginkan agar Kerajaan-Nya/ Gereja-Nya terus bertahan sampai akhir jaman (Mat 28:19-20), maka pemberian “kunci”/ wewenang ini berlangsung terus sampai kepada para penerus Petrus. Dan karena secara prinsip: yang diberi wewenang selalu tidak pernah mengatasi Yang Memberi wewenang, maka Petrus (dan penerusnya) yang diberi wewenang tidak akan pernah menjadi lebih tinggi daripada Kristus Sang Pemberi wewenang. Sebab apapun yang ditetapkan oleh Petrus adalah yang menjadi ketetapan Kristus. Petrus hanya menjalankan tugas, sesuai dengan wewenang yang diberikan kepadanya.
Flavius Josephus, seorang ahli sejarah di abad ke -1 menuliskan bahwa umat Yahudi pada saat itu memahami istilah “mengikat dan melepaskan” sebagai otoritas untuk mengatur, yang mengikat atau melepaskan masyarakat dari suatu kewajiban, untuk menghukum atau untuk mengampuni, dan untuk menentukan sesuatu sebagai sesuatu yang sah atau tidak sah. Kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ ini diberikan oleh Ratu Alexandra (76-67 BC) kepada kaum Farisi. Kuasa inilah yang sering menjadi pertentangan antara para Rabi golongan Shamma dan Hillel, pada jaman Yesus, karena yang diikat oleh golongan yang satu dilepaskan oleh yang lain, demikian sebaliknya. Di sini Josephus tidak meragukan bahwa maksud ungkapan ‘mengikat dan melepaskan’ itu berkaitan dengan otoritas.[6] Maka Yesus mengakhiri kesimpangsiuran ini dengan memberikan otoritas yang benar kepada Petrus, yang dipercayakan untuk memimpin Gereja-Nya.
3. Sebenarnya pemberian “kunci” dan wewenang selama pemimpin pergi sejenak, merupakan sesuatu yang wajar. Kita di duniapun menerapkannya, jika seorang pemimpin perusahaan bepergian selama beberapa waktu, maka ia akan memberikan kuasa kepada wakilnya yang akan berkuasa mengatur selama ia pergi. Hal yang sama terjadi pada Mat 16:13-19. Yesus memberikan kuasa kepada Petrus (dan para penerusnya), karena Ia menyadari tak bisa selamanya berada di dunia secara fisik untuk memimpin umat-Nya.
Kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ yang bersifat tidak mungkin salah (infallible)
Kuasa infalibilitas yang diberikan Kristus kepada Petrus dan para penerusnya adalah berdasarkan perkataan Yesus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19) Karisma infalibilitas ini diberikan oleh Tuhan Yesus untuk melindungi Gereja dari kesalahan dan perpecahan, yang menghantar Gereja kepada “alam maut” (ay. 18). Tanpa kuasa wewenang mengajar yang dijamin tidak salah ini, maka Gereja tidak mempunyain patokan yang pasti dalam hal ajaran iman dan moral. Jika demikian halnya, maka kebenaran menjadi sesuatu yang relatif dan tiap pribadi dapat mengklaim pemahamannya yang paling benar, lalu memisahkan diri dari kesatuan Gereja, dan ini tidaklah dikehendaki oleh Kristus, sebab Ia menghendaki agar Gereja-Nya selalu bersatu (lih Yoh 17:20-23).
Maka yang dibicarakan dalam hal infalibilitas ini bukanlah mencakup segala sesuatu tentang diri Petrus dan para penerusnya; dan bahwa mereka tidak mungkin salah sebagai manusia. Ini adalah pandangan yang sangat keliru! Contoh yang sering diajukan untuk menyanggah infalibilitas Petrus adalah kisah Paulus yang pernah menentang Rasul Petrus karena kesalahannya (Gal 2: 11-14). Namun yang salah di sini bukanlah ajaran Petrus, tetapi sikapnya yang tidak konsisten dalam menerapkan keputusan Konsili Yerusalem perihal menyikapi kesamaan kedudukan umat yang bersunat dan tidak bersunat. Maka hal ini bukan bukti yang menentang infalibilitas. Sebab sebagai manusia Petrus (dan para penerusnya) bisa salah, namun yang tidak bisa salah di sini hanya ketika ia sedang menjalankan perannya sebagai Petrus, pemimpin Gereja, pada saat ia mengumumkan ajaran iman dan moral secara definitif yang berlaku untuk seluruh Gereja.
Karisma infalibilitas ini tidak berlaku dalam segala hal, namun hanya dalam hal iman dan moral, yaitu pada saat mereka mengajarkan dengan tindakan definitif, seperti yang tercantum dalam Dogma dan doktrin resmi Gereja Katolik. Maksud infalibilitas di sini adalah Yesus memberikan kuasa kepada Petrus dan para penerusnya untuk memberikan pengajaran yang tidak mungkin salah dalam hal iman dan moral, yang merupakan ketentuan yang ‘mengikat’ manusia di dunia dan kelak diperhitungkan di sorga.
Kepemimpinan dan Karisma infalibilitas ini diberikan juga kepada para penerus rasul Petrus
Mungkin ada umat Protestan yang beranggapan bahwa kuasa memimpin Gereja dan karisma infalibilitas ini hanya diberikan kepada Petrus saja, tetapi tidak kepada para penerusnya. Namun ini sungguh tidak masuk akal, karena Kristus berjanji akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman. Jika para rasul dan Gereja awal saja memerlukan pemimpin, apalagi Gereja-Nya di kemudian hari! Sebab, banyak dari jemaat awal mendengar pengajaran langsung dari Kristus sendiri dan para rasul-Nya namun, setelah para rasul wafat, maka Gereja bahkan semakin membutuhkan adanya otoritas kepemimpinan yang dapat menjaga kemurnian ajaran-ajaran mereka agar dapat diturunkan dengan baik tanpa ‘dikorupsi’.
Maka jika Yesus memberikan kuasa untuk “mengikat dan melepaskan” tersebut kepada para rasul (Mat 18:18), namun Rasul Petrus menerima karisma ini secara pribadi pada saat Tuhan Yesus memberikan kepadanya “kunci” kerajaan surga. Tuhan Yesus mengetahui pentingnya otoritas ini, dan karena itu, tidak mungkin Yesus memberikan kuasa ini kepada Petrus dan para penerusnya, tanpa jaminan bahwa Ia akan menghindarkan mereka dari mengajarkan ajaran yang sesat pada saat mereka menjalankan tugas mereka sebagai gembala Gereja.
Yesus hanya mendirikan satu Gereja, dan Gereja-Nya ini adalah yang dipimpin Petrus
Pada Mat 16:18, Yesus mengatakan akan mendirikan Gereja-Nya (bukan gereja- gereja), dan ini sejalan dengan pengajaran-Nya di ayat-ayat yang lain misalnya:
“Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yoh 10: 16)
“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” (Luk 22: 31-32)
“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”
Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: /”Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Sejak awal Yesus bermaksud mendirikan hanya satu Gereja, dan Ia telah memilih Petrus sebagai pemimpinnya. Ia sudah menyadari bahwa Petrus akan jatuh menyangkal Dia, namun Ia juga mengetahui bahwa sesudah itu, Petrus akan insaf. Yesus secara khusus mendoakan Petrus supaya ia dapat bangkit untuk menguatkan para murid yang lain. Di sini Yesus menugasi Petrus untuk menjadi pemimpin, yang menggembalakan kawanan murid-Nya yang lain. Maka Yesus tidak pernah bermaksud untuk mendirikan Gereja yang dikoyakkan oleh banyak perpecahan dan persaingan antar denominasi. Ia juga tidak mungkin menginginkan adanya “kesatuan yang tidak kelihatan”, sebab hanya kesatuan yang kelihatan-lah yang dapat dilihat oleh dunia. Jika di suatu komunitas Kristen yang terkecil sekalipun membutuhkan seorang pengajar, pemimpin dan pemersatu, seperti halnya peran ayah dalam keluarga, maka menjadi sangat nyata bahwa Gereja di seluruh dunia memerlukan seorang pemimpin. Kristus sepenuhnya mengetahui akan hal ini, sehingga Ia menunjuk Petrus sebagai pemimpin Gereja-Nya di dunia untuk menggembalakan kawanan umat pilihan-Nya (lih. Yoh 21:15-17).
Jika otoritas kepemimpinan di Gereja ini diabaikan, maka yang terjadi adalah perpecahan gereja, dan ini sudah terbukti sendiri dengan adanya banyak sekali denominasi Protestan (sekitar 28.000). Perpecahan ini umumnya dimulai dengan ketidaksesuaian pemahaman dalam hal doktrin baik iman maupun moral antara para pemimpin gereja Protestan, dan karena tidak ada otoritas yang mengaturnya, masing-masing bebas memisahkan diri dan mendirikan denominasi yang baru.
Gereja sebagai pilar kebenaran
Gereja yang dipimpin oleh Petrus dan para penerusnya yang mengajarkan ajaran yang tidak mungkin salah itulah yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus ketika mengatakan demikian, “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat [Gereja] dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15). Demikianlah, kita ketahui bahwa memang Gerejalah yang melanjutkan secara turun temurun ajaran Kristus dan para rasul, baik yang lisan (dalam Tradisi Suci) dan yang tertulis (dalam Kitab Suci). Kita tidak dapat menyangkal fakta bahwa Magisterium Gereja Katolik-lah yang menentukan kanon Kitab Suci di abad ke 4 melalui Tradisi Suci, sehingga umat Kristiani sekarang mempunyai Kitab Suci.
Sebagai umat Katolik, kita sudah selayaknya bersyukur kepada Tuhan, atas janji Tuhan yang telah dibuktikannya selama lebih dari 2000 tahun ini, bahwa Gereja-Nya yang dipimpin oleh Petrus dan para penerusnya, selalu mengajarkan Kebenaran, sehingga dapat terus bertahan dalam kesatuan, dengan Kristus sebagai Kepalanya.
March 15, 2011 at 2:55 pm
Yesus mendirikan GerejaNya di atas Rasul Petrus (Kepha, Petros) -yang artinya batu karang- (Mat 16:18) dan memberikan kuasa yang khusus kepadanya di atas para rasul yang lain, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:5-7). Walaupun Kristus juga memberikan kuasa kepada rasul-rasul yang lain (Mat 18:18), hanya kepada Petruslah Ia memberikan kunci- kunci Kerajaan Surga (Mat 16:19) yang melambangkan kuasa untuk memimpin GerejaNya di dunia.
Yesus sang Gembala yang Baik mempercayakan domba-dombaNya kepada Petrus dan mempercayakan tugas untuk meneguhkan iman para rasul yang lain, agar iman Gereja jangan sampai sesat (Luk 22:3-32). Petruslah yang kemudian menjadi pemimpin para rasul setelah hari Pentakosta, mengabarkan Injil, membuat keputusan dan pengarahan (Kis 2:1-41, 15:7-12). Para penerus Rasul Petrus ini dikenal sebagai uskup Roma, yang dipanggil sebagai ‘Paus’ yang artinya Papa/ Bapa.
Jelaslah bahwa secara struktural, Paus (penerus Rasul Petrus)
memegang kepemimpinan tertinggi, diikuti oleh para uskup (penerus para rasul lainnya) di dalam persekutuan dengan Paus. Para uskup ini dibantu oleh para imam dan diakon. Dalam hal ini, para Paus memegang kuasa Rasul Petrus, yang menerima perintah dari Yesus sendiri, dan karenanya tidak mungkin sesat. Perlu diketahui, bahwa kepemimpinan Paus -dan para uskup di dalam persekutuan dengannya- yang tidak mungkin sesat (‘infallible’) ini- hanya berlaku di dalam hal pengajaran iman dan moral.[7]
Hal ini sungguh membuktikan kemurnian pengajaran Gereja, karena ajarannya bukan merupakan hasil demokrasi manusia, melainkan diturunkan dari Yesus sendiri, dan Bapa Paus tidak punya kuasa untuk mengubahnya.
III. Kenapa Yesus menghardik Petrus dengan sebutan Setan (Mat 16:23)?
Perkataan Yesus di Mat 16:23 tidak merubah kenyataan bahwa Yesus mendirikan Gereja di atas Petrus (Mat 16:18). Sama seperti kita telah menjadi anak Allah melalui Sakramen Baptis, namun kemudian kita berbuat dosa lagi. Yang terpenting adalah Petrus berbalik kepada Allah, dan kemudian setelah Pentekosta, Petrus yang berbicara kepada banyak orang, sehingga banyak orang diselamatkan (Kis 2).
Kalau demikian apakah Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Iblis (karena Yesus berkata “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Mat 16:23)? Tentu saja tidak demikian, dengan beberapa alasan sebagai berikut:
Perhatikan ayat 22, dimana dikatakan “Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Mat 16:23).
Disini Petrus berbicara kepada Yesus secara pribadi dan sungguh berbeda dengan pernyataan Petrus yang dibuat secara terbuka di ayat 15-16 “Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
Mat 16:16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” .
Dan Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa semua yang dikatakan oleh Petrus dan penerusnya, para Paus tidak mungkin salah (infallible). Infallibility atau tidak mungkin salah bagi Paus harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1) Seorang Paus berbicara di atas kursi Petrus, atau dalam kapasitasnya sebagai seorang Paus. Jadi kalau seorang Paus berbicara dalam kapasitas pribadi, dia tidak berbicara ex cathedra. 2) Kalau Paus berbicara dalam masalah iman dan moral. Jadi seorang Paus dapat salah kalau dia berbicara tentang science, art, dll. 3) Kalau Paus memberikan doktrin yang berlaku universal atau untuk umat Katolik di seluruh dunia.
Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca jawaban ini (silakan klik).
Para rasul pada saat itu tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang dikatakan oleh Yesus tentang Kerajaan Kristus dan hubungannya dengan sengsara dan kematian Kristus. Dan para murid mulai mengerti pada waktu Yesus bangkit dan pada waktu Yesus sendiri mengirimkan Roh-Nya pada Pentekosta, dimana secara berani Petrus berbicara kepada orang banyak mengenai misteri Paskah.
Kalau Yesus menjanjikan sesuatu kepada Petrus untuk menjadi batu karang dimana Gereja didirikan, maka Dia akan memampukannya. Hal ini bukan karena Petrus yang paling kuat imamnya dari antara para rasul, namun kepercayaan ini adalah berdasarkan janji Kristus. Kristus yang menjanjikan untuk berdoa bagi Petrus, sehingga Petrus dapat memberi kekuatan bagi para rasul yang lain (Lk 22:31-32). Yesus juga yang memberikan kuasa kepada Petrus untuk menggembalakan kawanan domba-Nya (Yoh 21:15-17). Dan Yesus, melalui kuasa Roh Kudus, memilih Petrus untuk berkotbah tentang rencana keselamatan yang telah dirancang oleh Allah dan terpenuhi dalam diri Kristus (Kis 1:14-47). Dan dengan kuasa yang diberikan oleh Kristus, rasul Petrus berbicara dengan otoritas untuk menyelesaikan perselisihan di konsili Yerusalem (Kis 15:6-8). Dan Petrus akhirnya memenuhi nubuat Yesus yang dikatakannya di Yoh. 21:18-19, dengan meninggal di kayu salib secara terbalik di Roma.
Jadi, sama seperti kita yang dipilih oleh Allah menjadi anak-anak Allah, Petrus-pun dipilih Allah seturut dengan kebijaksanaan-Nya menjadi Paus yang pertama. Di dalam kelemahannya dan juga semua penggantinya, Kristus tetap setia untuk mendampingi Gereja sampai akhir jaman, sehingga alam maut tidak menguasainya. Cobalah pikirkan, dimana dan doktrin apa yang dikeluarkan oleh seorang Paus pada saat dia berbicara Ex-Cathedra (di tahta Petrus) yang tidak sesuai dengan Alkitab atau yang dulunya benar sekarang dianggap salah atau sebaliknya.
Demikian jawaban yang dapat saya berikan untuk point K. Semoga kita sama-sama belajar bahwa Kristus memilih orang-orang yang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Petrus memang lemah, namun dia dipilih oleh Kristus secara khusus untuk menjadi Paus pertama untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
March 15, 2011 at 2:26 pm
@valentine
4. Menuju kepada keselamatan dengan mendengarkan dan melakukan apa yang dikatakan Yesus
===============
bagaimana dengan sunat?
March 15, 2011 at 2:43 pm
Mengapa Yesus disunat, kita tidak?
Dari definisinya, sunat (circumcisio) mengacu kepada ‘pemotongan’, yaitu secara khusus pada pemotongan kulit penis. Jika kita mempelajari tulisan ahli sejarah Herodotus maka kita ketahui bahwa bukan hanya bangsa Yahudi saja yang mengenal tradisi sunat ini, melainkan juga bangsa Mesir, Kolkian dan Etiopian, dan kemudian kita ketahui bahwa tradisi ini menjadi bagian dari tradisi kaum muslim.
Namun bagi kita, umat Kristiani, kitapun perlu mengetahui makna “sunat” ini, agar kita semakin dapat menghayati iman kita:
1. Dalam Perjanjian Lama (PL), kita mengetahui sunat pertama kali disyaratkan oleh Allah kepada Abraham sebagai tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya, sehingga sunat dilakukan terhadap semua anak laki-laki pada saat anak tersebut berusia 8 hari (lih. Kej 17:11-12). Tradisi sunat ini dilanjutkan di jaman Nabi Musa (lih. Im 12:3, Kel 12:48), Yoshua (Yos 5:2) dan tradisi ini dilaksanakan seterusnya sampai pada jaman Yudas Makabe (167-160 BC) meskipun di tengah tekanan para penguasa (lih. 2 Mak 6:10); dan sampai juga ke jaman Yesus Kristus. Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus genap berumur 8 hari, Bunda Maria dan St. Yusuf membawa-Nya ke Bait Allah untuk disunat dan diberi nama Yesus (lih. Luk 2:21).
2. Maka kita melihat dengan obyektif di sini bahwa Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat, sehingga kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah. Ini dimungkinkan karena Allah telah mengirimkan Roh Kudus-Nya ke dalam hati kita sehingga kita dapat memanggil Allah sebagai “Bapa” (lih. Gal 4:4-6).
Diutusnya Roh Kudus ke dalam hati kita terjadi pada waktu Pembaptisan, di mana melaluinya kita “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5). Kelahiran kembali ini ditandai dengan “menanggalkan manusia lama berserta segala hawa nafsunya …dan mengenakan manusia baru di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ef 4:22-24). Maka inilah makna “sunat” yang baru, yang tidak lagi berupa penanggalan/ pemotongan kulit lahiriah, tetapi penanggalan hawa nafsu dan dosa dan mengenakan hidup yang baru di dalam Roh Kudus.
3. Jadi sebenarnya yang ingin ditekankan Yesus adalah dimensi spiritual dari “sunat” seperti yang sebelumnya telah diajarkan dalam PL, bahwa yang terlebih utama adalah sunat hati/ rohani (Ul 10:16 dan 30:6, Yer 4:4, 9:25-26). Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (lih. Mat 23:5, 23)
Maka Rasul Paulus mengajarkan:
“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Rom 2:29).
“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” (Kol 2:12)
Maka di sini “sunat lahiriah” tidak menjadi hukum utama bagi seseorang untuk menjadi anggota bangsa pilihan Allah, tetapi “sunat rohaniah” yang adalah Pembaptisan berdasarkan iman akan Allah Tritunggal yang telah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya untuk menyelamatkan manusia.
4. Para Rasul mengajarkan berdasarkan pengajaran Tuhan Yesus sendiri adalah: bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, dan bukanlah sunat badani. Oleh sunat rohani, yaitu iman akan Yesus Kristus inilah, maka seseorang diselamatkan, dan bukan karena memenuhi hukum sunat lahiriah menurut hukum Taurat. Rasul Paulus mengajarkan:
“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Gal 2:16)
5. Jadi bagaimana sekarang, apakah sunat itu mutlak dilakukan atau tidak? Untuk hal ini, jawaban dari para rasul adalah:
“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor 7:19). Dengan mengetahui bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, maka sekarang tidaklah menjadi penting, sunat atau tidak bersunat, asalkan kita melakukan hukum-hukum Allah terutama hukum kasih. Maka jika seseorang Katolik tidak disunat, itu disebabkan karena itu sudah bukan keharusan bagi kita sebagai pengikut Kristus, sebab keselamatan kita tidak diperoleh dari sunat/ hukum Taurat tetapi oleh iman akan Kristus Tuhan.
Dengan demikian, kita mengetahui bahwa “sunat” dalam Perjanjian Lama adalah persiapan/ gambaran dari Pembaptisan di Perjanjian Baru. Yesus memperbaharui dan menggenapi hukum Taurat dengan memberikan hukum yang baru; Yesus tidak membatalkannya, namun menyempurnakannya dan memberikan arti yang lebih penuh terhadap apa yang ditentukan dalam hukum Taurat Musa. Bahwa kekudusan tidak hanya sesuatu yang terlihat dari luar namun lebih kepada apa yang ada di dalam hati. Dan kekudusan yang sejati inilah yang menghantar kita kepada keselamatan kekal.
Di sinilah kita melihat kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. St. Thomas Aquinas pernah mengajarkan tentang 3 jenis hukum yang ada dalam Perjanjian Lama, dan bagaimana Yesus menggenapinya dalam Perjanjian Baru. Silakan klik di sini untuk membacanya, semoga anda dapat semakin melihat bahwa Yesus Kristus adalah penggenapan hukum Taurat; dan Ia menyempurnakan hukum itu di dalam Diri-Nya sendiri.
March 15, 2011 at 2:44 pm
@ jack,Yesus tidak mewajibkan para pengikutnya sunat,untuk lebih lengkap,baca artikel gwa.
March 15, 2011 at 2:53 pm
Yesus disunat pada usia delapan hari sesuai perintah Tuhan.
Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Lukas 2:21)
Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (Kejadian 17:10)
haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (Kejadian 17:11)
Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. (Kejadian 17:12)
Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. (Kejadian 17:13)
Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” (Kejadian 17:14)
Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya. (Kejadian 21:4)
bandingin dengan pernyataan paulus
Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. (Galatia 5:6)
Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (1 Korintus 7:19)
apa anda mau bilang sunat itu bukan makna sebenarnya?
kalau ya kenapa cuma laki2 saja yang disuruh sunat?
sebenarnya anda engikuti ajaran yesus/paulus?
March 15, 2011 at 2:59 pm
Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 59)
Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka. (AL A’RAAF (Tempat tertinggi) ayat 162)
Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka. (AL A’RAAF (Tempat tertinggi) ayat 162)
March 16, 2011 at 2:09 pm
@ jack,kalau anda bersunat,kenapa tidak dibaptis juga???? kan Yesus juga dibaptis,kalau di Kristen sudah pasti harus dibabtis,dan kalau Kristen keturunan yahudi,tentu harus disunat dan juga dibaptis.Jadi islamlah yang tidak benar mengikuti Tuhan
March 16, 2011 at 2:28 pm
kristen tidak sunat,islam tidak dibaptis kok bisa cuma islam yang salah
maaf saya kurang mengerti arti baptis
March 16, 2011 at 5:22 pm
@jack,sebenarnya itulah karena pandangan kita berbeda,orang Kristen tidak disunat karena memang Yesus tidak memerintahkan pengikutNya disunat,melainkan Yesus memerintahkan pengikutNya dibaptis seperti di dalam ayat ini”Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20).Dan mengenai perintah Tuhan dalam perjanjian lama,yang mengharuskan setiap laki laki disunat,itu hanya diperuntukkan bagi bangsa israel,lagipula itu perjanjian”lama” hanya berlaku untuk israel dan yahudi,dan sekarang sudah ada Perjanjian yang “baru” yang diperuntukkan bagi semua manusia yang percaya.Itulah makanya dinamakan kitab perjanjian “lama” dan perjanjian “baru”.Saya harap jack bisa mengerti sudut pandang kita berbeda.
March 15, 2011 at 2:30 pm
@valentine
bukannya yesus itu tuhan yang maha tahu, kenapa dia harus mencoba masuk perangkap iblis untuk memberi tahu manusia cara menghadapi perangkap iblis?
March 15, 2011 at 2:50 pm
Mengapa Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun?
Yesus menyingkapkan strategi iblis dalam mencobai manusia dan memberikan solusi untuk menghadapinya
Kisah tentang Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun diceritakan di Mt 4:1-11; Lk 4:1-13 dan Mk 1:12-13. Mari sekarang kita melihat dan membahas apa yang dituliskan oleh Lk 4:1-13.
1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.
2 Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”
4 Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”
5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.
6 Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.
7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.”
8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”
9 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah,
10 sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau,
11 dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”
12 Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”
13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.
Pernahkan terfikir oleh kita, mengapa Yesus memberikan Diri-Nya dicobai oleh Iblis? Bukankah Yesus adalah Allah? Mengapa Allah membiarkan Diri-Nya dicobai oleh Iblis? Bukankah sebagai Allah, Yesus tahu bahwa Dia pasti menang melawan godaan Iblis? Namun, semua hal ini dilakukan oleh Yesus bukan untuk Diri-Nya sendiri, namun dilakukannya untuk kepentingan manusia, makhluk yang dikasihi-Nya. Yesus membiarkan Diri-Nya dicobai untuk menunjukkan strategi Iblis dalam menggoda manusia dan pada saat yang bersamaan, Yesus menunjukkan jalan bagaimana untuk menghadapi godaan tersebut. Semua yang Yesus lakukan merupakan suatu pelajaran bagi kita manusia, sehingga kita dapat mengikuti apa yang dilakukan-Nya, sehingga kita dapat mencapai keselamatan kekal.
Yesus adalah hukum yang baru
Puasa selama 40 hari yang dilakukan oleh Yesus, mengingatkan kita akan apa yang dilakukan oleh Musa, seperti yang dikatakan di kitab Keluaran: “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman” (Kel 24:28). Dengan demikian, Yesus ingin menunjukkan bahwa Dia adalah hukum yang baru. Hukum yang sebelumnya dituliskan dalam dua loh batu sekarang menjadi daging; yang dulu merupakan hukum Taurat (law), sekarang menjadi rahmat (grace). Sama seperti Musa membawa dua loh batu kepada bangsa Israel dan menyatakan hukum Allah, maka Yesus membawa Diri-Nya sendiri dan menyatakan hukum yang baru dalam kotbah di bukit (lih. Mt 5), yang ditutup dengan suatu tuntutan yang terlihat tidak mungkin, yaitu “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mt 5:48). Dan tuntutan akan kesempurnaan hanya mungkin terjadi dengan rahmat Allah, yang tercurah dari pengorbanan Yesus sendiri di kayu salib.
Baptisan adalah suatu genderang perang terhadap iblis
Kita juga melihat bahwa pencobaan Yesus ini terjadi setelah Yesus dibaptis. Kita tahu bahwa baptisan bukan hanya sekedar simbol, namun merupakan suatu tindakan untuk mati terhadap dosa dan hidup di dalam Kristus (lih. Rm 6:1-6). Dengan Sakramen Baptis, maka kita menjadi anak-anak terang dan bukan lagi menjadi anak-anak gelap; meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru, yang berarti mengikuti jalan Tuhan dan meninggalkan jalan Iblis. Oleh karena itu, secara tidak langsung, orang-orang yang telah dibaptis telah membunyikan genderang perang terhadap Iblis. Jadi, pencobaan Yesus setelah baptisan, mengajarkan kepada kita semua yang telah dibaptis untuk senantiasa bertumbuh di dalam kehidupan spiritualitas kita, karena kita pasti akan mengalami percobaan-percobaan hidup. Kita tidak dapat lulus dalam ujian tanpa bergantung pada rahmat Allah. Dengan demikian, kita harus mengikuti Kristus dalam menghadapi percobaan. Mari kita menganalisa satu-persatu percobaan yang dialami oleh Yesus.
Pencobaan 1 – Merubah batu menjadi roti vs Firman Allah
Kita tahu bahwa dosa asal membawa “concupiscence” atau kecenderungan berbuat dosa. Dan ini diterangkan oleh rasul Yohanes “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yoh 2:16) Agar manusia dapat menghadapi tiga hal ini, maka Yesus menunjukkan bagaimana untuk bertahan dari keinginan daging, mata dan keangkuhan hidup. Dan hal ini terungkap dalam tiga macam percobaan yang dialami oleh Yesus.
Kalau kita menghubungkan dengan 1 Yoh 2:16, maka percobaan pertama ini berhubungan dengan keinginan daging. Yesus mengingatkan kita bahwa manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa, mempunyai kebutuhan jasmani dan rohani. Dan kita harus mengingat bahwa kebutuhan jiwa mempunyai tempat yang lebih tinggi dari kebutuhan jasmani, karena jiwa bersifat selamanya sedangkan badan bersifat sementara. Dengan demikian, Iblis senantiasa mengingatkan kita akan kebutuhan jasmani, dan Yesus mengingatkan bahwa kita harus memperhatikan keadaan jiwa kita dengan bergantung pada Firman yang keluar dari mulut Allah. Dan jika Firman itu telah menjadi daging, maka untuk bertahan dari percobaan kedagingan kita harus bergantung pada Sang Firman, yaitu Yesus sendiri, yang adalah Firman (lih. Yoh 1:1).
Pencobaan 2 – Kerajaan dunia dengan sujud menyembah Iblis vs menyembah Allah
Disinilah Iblis memberikan percobaan keinginan mata atau kekuasaan, uang, kerajaan duniawi, yang pada akhirnya menjadi satu paket dengan sujud menyembah si iblis. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mt 6:24) Dan pada percobaan ini, Yesus menegaskan “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mt 4:10) Dan inilah yang menjadi perintah pertama dari 10 perintah Allah, dimana Gereja Katolik mengambil dari Kel. 20:2-5, yang diformulasikan oleh St. Agustinus “Akulah Tuhan, Allahmu: Jangan ada allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit dan di bumi, dan jangan sujud menyembah kepadanya” Dengan demikian, di bagian terakhir ini, Yesus memberikan perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, hati dan segenap akal budi (lih. Mt 22:37).
Pencobaan 3 – Jatuhkanlah Dirimu ke bawah vs Jangan mencobai Allah:
Pencobaan terakhir yang diberikan oleh Iblis kepada Yesus adalah pencobaan yang paling berbahaya, yang telah menjatuhkan Adam dan Hawa. Inilah pencobaan yang digambarkan oleh rasul Yohanes sebagai “keangkuhan hidup“. Keangkuhan atau kesombongan adalah ibu dari segala dosa. Untuk menangkal pencobaan ini, maka Yesus menjawab dengan “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”” (Mt 4:7). Kesombongan menggoda kita dengan mengatakan bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri, termasuk hidup tanpa Allah. Kesombongan membuat kita salah dalam menilai diri kita sendiri. Kesombongan membuat kita yang sebenarnya tidak dapat hidup tanpa Tuhan, berfikir bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri dan tidak perlu melibatkan Tuhan. Di dalam konteks inilah, kita diingatkan oleh Yesus untuk tidak mencobai Tuhan Allah-Mu, yaitu untuk tidak menganggap diri kita sama seperti Tuhan, yang dapat menentukan segala sesuatu sendiri. Kesombongan menghalangi rahmat Tuhan untuk dapat mengalir secara bebas kepada manusia, sehingga manusia yang pada dasarnya lemah akan semakin tidak berdaya tanpa rahmat Allah. Kesombongan ini hanya dapat ditangani dengan kerendahan hati, kebajikan yang menjadi dasar dari semua kebajikan. Kerendahan hati adalah mengakui bahwa kita bukanlah apa-apa dan Tuhan adalah segalanya. Lebih lanjut tentang kerendahan hati, silakan klik di sini. Bagi umat Katolik, salah satu manifestasi dari kerendahan hati adalah pada saat kita menerima Sakramen Tobat, dimana kita mengakui dosa-dosa kita secara terbuka, dengan penyesalan, dan dengan pertolongan rahmat Tuhan berjanji untuk tidak berbuat dosa lagi.
Penutup
Dari pemaparan di atas, kita melihat bahwa Yesus memang datang untuk membawa manusia kepada keselamatan, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (lih. Yoh 14:6). Agar manusia dapat terus berada di jalan Allah, maka Yesus memberikan rahmat yang bersumber pada misteri Paskah. Namun, karena tahu kelemahan manusia dan pencobaan yang akan diberikan oleh Iblis, maka Yesus sendiri memberikan Diri-Nya untuk dicobai, sehingga manusia tahu cara untuk menghadapi cobaan dari Iblis. Tiga kelemahan manusia, seperti yang dituturkan oleh rasul Yohanes, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup harus dihadapi dengan Firman Allah, fokus akan tujuan akhir – yaitu Kerajaan Allah, serta dengan kebajikan kerendahan hati. Kita juga perlu merenungkan bahwa inilah yang dilakukan oleh kaum religius, dimana keinginan daging dilawan dengan kaul kemurnian, keinginan mata dilawan dengan kaul kemiskinan, dan keangkuhan hidup dilawan dengan kaul ketaatan. Mari, dalam kapasitas dan kondisi kita masing-masing, kita bersama-sama berjuang untuk bertahan melawan godaan Iblis, dan bertumbuh dalam kekudusan, sehingga kita terus mengejar kesempurnaan, sama seperti Bapa adalah sempurna (lih. Mt 5:48).
March 15, 2011 at 2:59 pm
inti penjelasan anda kok mirip ajaran budha ya yang harus menjauhi kehidupan duniawai
jika yesus=firman tuhan dan alkitab juga firman tuhan, apa bedanya yesus dengan alkitab?
March 15, 2011 at 3:18 pm
Yesus itu yang melisankan Firman TUHAN, alKitab itu katanya di dalamnya ada tulisan Firman Tuhan, Roh Kudus menurut sebagian dari mereka itu yang membawa Firman Tuhan dari Tuhan ke YESUS, pokoknya semua yang membawakan Firman TUHAN disebut TUHAN. Nah, valientine ini klo dia baca firman TUHAN, diapun dianggap TUHAN
.
March 16, 2011 at 1:54 pm
Yesus=Firman Tuhan yang hidup,Alkitab-Firman Tuhan melalui perantara Roh Kudus,dan ditulis oleh manusia.
March 16, 2011 at 8:36 am
Sdr Valentine
trima kasih atas uraiannya yang panjang lebar, sampai mata sy capek jg didepan layar, sy komentari lagi ya..pandang saja kita saling bertukar pikiran:
1.memang orang yg percaya pd Allah disebut orang kudus dlm arti dipandang benar dihadapan Allah, itu bukan berarti mereka tidak pernah berbuat dosa/ salah. demikian juga Maria memang wanita pilihan Allah, yg dipakai Tuhan untuk kehadiran sang Mesias. meskipun demikian Maria bukan berarti pribadi suci tanpa dosa seperti yg tertulis dlm Galatia 4:4,5 demikian juga dlm kitab masmur ada tertulis bahwa semua manusia telah berbuat dosa (berarti termasuk Maria).
2.dalam perumpamaan yg dipakai oleh Tuhan Yesus tentg lazarus dan orang kaya, disitu jelas terlihat bahwa orang yg telah meninggal secara jasmani tidak bisa lagi berkomunikasi dgn orang2 yg masih hidup didunia.
3.saat raja saul mendatangi wanita yg dipandang sanggup memanggil arwah, memang ada arwah yg dtng menemui saul, menurut sdr itu arwah nabi samuel atau bukan!
March 16, 2011 at 2:04 pm
@pemirsa, Iya saya juga berterima kasih, tapi sebelumnya mohon maaf, saya mau menjawab dan mau memberikan komentar semua pertanyaan dan pernyataan,namun karen keterbatasan waktu,say rasa cukup sekian bagi saya dalam forum ini, seperti komentar saya di bawah, Kita masing masing berbeda keyakinan dan berbeda agama(di Indonesia mengakui ada agama Protestan dan juga Katolik), jadi bagaimanapun kita punya sudut pandang masing masing yang berbeda,Satu rel kereta tidak bisa dilalui oleh 2 atau 3 kereta dalam waktu yang bersamaan, harus ada yang di depan dan yang di belakang.Dan kalau pemirsa masih tertarik dengan Katolik,masuklah ke situs http://www.katolisitas.org disana semua pertanyaan anda pasti akan terjawab,disana juga ada sesi tanya jawab dan artikel,saya banyak mengutip artikel dari situs http://www.katolisitas.org
March 16, 2011 at 9:43 am
@ Valentine
Berkata:
“Kesombongan membuat kita yang sebenarnya tidak dapat hidup tanpa Tuhan, berfikir bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri dan tidak perlu melibatkan Tuhan. ”
Pertanyaan:
Apabila seorang penjahat melakukan kejahatan semisal katalah membunuh orang.Adakah perbuatannya melibatkan Tuhan?”
March 16, 2011 at 1:51 pm
Terima Kasih buat para muslim yang telah mau berdebat panjang lebar dengan saya.pada dasarnya muslim dan Kristen adalah agama yang berbeda,jadi tetap pada pendiriannya masing masing.Satu pesan terakhir dari saya,yang berbeda janganlah disama samakan,dan yang sama jangalah di beda bedakan.Satu rel kereta tidak mungkin bisa dilalui oleh 2 atau 3 kereta secara bersamaan,pasti harus ada yang lebih dahulu/di depan,dan harus ada yang menyusul/di belakang,cukup sekian dari saya.Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
March 16, 2011 at 2:23 pm
@valentine
saya setuju dengan anda, dan hendaknya perbedaan antara islam dan kristen tidak menghancurkan persaudaraan tapi hendaknya perbedaan itu dianggap sebagai sesuatu yang baik agar kita saling kenal
saya mohon maaf jika ada kata yang salah
March 16, 2011 at 4:50 pm
@ jack,saya juga mohon maaf klo selama ini ada kata kata yang kurang berkenan bagi para muslim dan muslimah sekalian,tapi semua itu hanya kata kata,dalam hati saya tidak bermaksud demikian,biarlah perbedaan di antara kita tetap terpelihara,karena kita semua pun sama sebagai manusia biasa.
March 16, 2011 at 4:47 pm
Muslim tidak menganggap ada persamaan antara Islam dengan Kristen yang anda imani sekarang. Karenanya keyakinan Islam tidak disama-samakan dengan keimanan Kritsen yang anda ikuti.
Kewajiban kita bukan untuk memperkeruh perbedaan, melainkan berdialog untuk menemukan kebenaran. Bertemu untuk mengasihi, menyampaikan berita dari Tuhan untuk mengevaluasi pengetahuan, dan meluruskan kesalahfahaman untuk membebaskan diri dari kebodohan, untuk kemudian membiarkan Tuhan yang menentukan bagaimana pada akhirnya.
Keimanan itu pemberian dari Tuhan, perbedaan di antara kita cukup di sisi Tuhan saja, sementara di sisi kita, semuanya sama anak cucu ADAM, yang harus saling mengenal untuk mengenal-Nya.
Segala puji bagi ALLAH, yang dengan menyebut nama-Nya kami menerangkan kebenaran, dan kepada-Nya saja kami berserah diri.
March 16, 2011 at 4:58 pm
@ someone,saya sangat setuju pada anda,karena samapai kapan pun kita berdebat,tidak ada yang bisa membenarkan kita/menilai mana yang salah dan yang benar,karena ibarat sebuah pertandingan,harus ada hakim yang memutuskan.Namun yang jelas samapi saat ini saya juga percaya bahwa muslim ada memang karena rencana Tuhan,seperti yang Ia telah janjikan kepad Hagar dan Ismael,bahwa Ia juga akan memberkati Ismael dan menjadikan keturunan Ismael bangsa yang besar.Terima kasih para muslim sekalian,telah berbagi pendapat dengan saya.
March 16, 2011 at 9:44 pm
Sdr Va;entine… terimalah salam dari saya, kehadiran sdr sangat berarti dlm forum ini.Tuhan Allah punya rencana yg indah bagi kita semua yaitu rencana damai sejahtera, seperti yg tertulis dlm Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
March 17, 2011 at 4:31 pm
@pemirsa,dengan senang hati sya terima salamnya,dan kalau anda masih ada pertanyaan yang mengganjal,seperti saya sarankan,anda kunjungi situs http://www.katolisitas.org dan kalau mau bertanya langsung dgn saya di valentineoctaviano@ymail.com ,karena buat saya di forum ini bukan tempatnya berargumentasi antara Protestan dan Katolik ,di forum ini kan ditujukan buat Islam dan Kristen saling mengutarakan pendapatnya.
March 21, 2011 at 12:32 pm
INFO NABI PALSU
Semasa Yesus hidup di dunia sebagai nabi Allah, maka ia
pernah memberikan suatu informasi kepada murid-muridnya,
suatu keterangan penting, yaitu bahwa akan datangnya
beberapa Kristus palsu dan Nabi palsu. Berkatalah Yesus
didalam Injil Markus 13: 5, 6, 21, yang bunyinya: Ingatlah
baik-baik jangan kamu disesatkan orang, karena banyak orang
yang datang dengan namaku, katanya: Aku ini Kristus, maka
mereka itu akan menyesatkan banyak orang, dan jikalau pada
waktu itu seorang berkata: “Tengok, inilah Kristus, atau
itulah Kristus” janganlah kamu percaya. Karena beberapa
Kristus palsu akan terbit serta mengadakan pekerjaan yang
ganjih-ganjil dan perbuatan heran yang menyesatkan manusia,
jikalau boleh, daripada orang yang terpilih pula. Dan lagi
Yesus berkata: “Hai, bagi orang yang mendatangkan kesalahan
kepada anak-anak ini, alangkah baiknya kalau batu kisaran
diikatkan dilehernya, dan dicampakkannya kedalam laut.
Tetapi akan hal ini, tak dapat tiada akan berlaku. (Bacalah
Matius 18:6-7 dan Matius 24:1-21)
PAULUSLAH NABI PALSU ITU
Didalam kitab Ulangan 18:18-22 disebutkan tentang ciri-ciri
nabi palsu itu. Berdasarkan kitab Ulangan tadi masa
tanda-tanda nabi palsu itu ada dua ialah:
1. Dengan sombong mengatakan firman yang tiada
disuruhkan oleh Allah.
2. Barang yang dikatakannya tiada akan terjadi.
Cobalah kita proyeksi Paulus dengan proyektor ini. Maka akan
kita dapati:
1. Paulus dalam hal ini telah, bahkan beberapa kali dengan
bangganya mengatakan dirinya rasul, rasul yang dipanggil
oleh Allah, bahkan Paulus itu hakekatnya Kristus. Kita baca
misalnya dalam tulisan atau pengakuannya pada:
a. I Korintus 1:1 bunyinya: dari Paulus, yang dengan
kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus.
Paulus disini mengatakan bahwa dirinya ialah rasul.
b. Galatia 1:1 bunyinya: Daripada Paulus, seorang rasul
(bukannya daripada manusia, dan bukannya dengan jalan
seorang manusia, melainkan yang ditetapkan oleh Allah
serta Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara
orang mati. Suatu kebanggaan yang tiada taranya,
namun herannya, tentang kerasulan Paulus ini tiada
seorang nabi yang terdahulu daripadanya yang pernah
memberitakannya.
c. Galatia 1:12 bunyinya: Karena bukannya aku ini sudah
menerima dia daripada manusia, dan bukannya pula ia
kupelajari, melainkan oleh wahyu daripada Yesus Kristus.
Sekali lagi ia menjelaskan bahwa dirinya telah menerima
wahyu dari Yesus.
d. Galatia 2: 20 Paulus berkata: Adapun aku ini, bukannya
aku lagi tetapi … Kristus.
(Wahai Tuhan kami, ampunilah kiranya dosa orang ini )
e. Galatia 2:2 Paulus berkata pula: Adapun aku ini naik
dengan ilham Rokh.
Kesimpulan seluruhnya ialah bahwa Paulus mendakwakan
dirinya rasul Allah, yang dipilih oleh Yesus sendiri, bahkan
denqan sombongnya ia membedakan dirinya dengan rasul-rasul
yang lain, yang bukan ditunjuk langsung oleh Kristus Yesus.
2. Barang yang dikatakan atau dibawakan atau diajarkan oleh
Paulus tidak pernah benar ataupun kejadian. Ia mengajarkan
bahwa seluruh umat manusia telah jatuh dalam dosa (Rum:
5:18) tersebab oleh seorang manusia, yang dimaksud disini
ialah Adam. Adam berdosa, memakan buah apel, yang telah
diharamkan oleh Allah kepadanya. Maka akibatnya Allah
menghukum dia, beserta anak-cucunya dan seluruh ummat
manusia, yang cantik-cantik dan molek-molek, termasuk para
pastoor dan pendeta-pendeta. Bertanyalah akal kita: Adam
tidak merampok, menodong, ataupun berzina. Ia tidak pula
menentang kekuasaan Allah, misalnya menghojat dllnya. Tetapi
dari suatu pelanggarannya yang kecil itu, seluruh ummat
manusia dikenai hukuman. Adilkah Allah itu? Dan mengapakah
kami yang tiada tahu-menahu tentang Adam ini disuruh pula
menanggung dosanya? Lebih tidak adil lagi, menurut kita,
bila Paulus kemudian mengajarkan, bahwa untuk menebus sekian
tunmpukan dosa-dosa itu Allah kemudian menyalibkan anakNya
yang tunggal. Dengan kata lain maka Yesus si putera Allah
itu disalibkan karena gara-gara sebuah apel. Berhubung Yesus
ialah juga Allah yang mutlak, maka kesimpulannya ialah Allah
disalibkan oleh Allah lantaran sebuah apel. Alangkah
memalukan, tetapi juga menggelisahkan bilamana seorang
presiden terpaksa harus digantung dimuka umum karena ada
seorang diantara rakyatnya yang mencuri. Presiden itu harus
mati, karena seorang rakyatnya yang mencuri.
Sarjana-sarjana sekarang ini, terutama di dunia barat
sendiri tidak habis-habis mengerti bagaimana prosedurnya,
bila kita mencintai Tuhan Yesus dengan bhakti yang luar
biasa, tetapi kenyataannya setiap hari pula kita memakani
dan meminumi tubuh dan darah Tuhan Yesus itu dalam missa
yang kudus. Mereka, sarjana-sarjana barat (tidak termasuk
Kreamer, Van der Plass, Rifai Burhanuddin), merasa kasihan
dan malu, mendengar Yesus putera Allah disalib, diludahi dan
dicemeti 40 kali banyaknya, masih pula dimahkotai dengan
duri. Dan Yesus (baca: Allah) disiksa begini adalah karena
Adam tanpa sengaja mengikuti bujukan Hawa isterinya untuk
memakan apel. Allah yang maha suci menerima korban darah
anakNya.
Allah yang maha suci kini ternyata lebih dan jauh lebih
kejam dari pada seekor singa. Bukankah seekor singa tidak
akan memakan anaknya? Dan bukankah kemurkaan Allah hanya
bisa dipadamkan oleh darah anaknya? Andailkan Yesus tidak
mau disalib, bukankah sampai saat ini Allah masih
meronta-ronta dalam kehangatan kemurkaannya? Maukah saudara
memakan daging anaknya sendiri dan meminum darah anak
saudara? Nah disitulah jawabnya. Insyaflah saya jadinya
bahwa bukannya kemuliaan sebenarnya yang diberikan Paulus
kepada Allahnya, tetapi suatu penghinaan yang tiada taranya
dimuka bumi ini. Paulus lebih berdosa daripada Lucifer si
malaikat korek api yang telah terkutuk itu. Bayangkanlah,
Lucifer hanya menganggap dirinya sama dengan Allah. Paulus
didalam hal ini bahkan menghina Allah. Itulah mungkin
makanya Yesus mengatakan: “Alangkah baiknya bila orang yang
mendatangkan kesalahan kepada anak-anakKu ini dibuang saja
kedalam laut dengan bandul batu dilehernya.” Seseorang yang
menyamakan dirinya dengan Presiden, mungkin dianggap gila,
dus tidak ditangkap. Tetapi percayalah, bila seseorang
berani menghina seorang presiden, hukuman apakah kira-kira
sang bakal diterimanya …
Di mana ada kristian di sanalah ada penipuan.Di mana ada kristian di sanalah ada pembodohan.Wahai orang-orang kafir!Kalaian akan masuk neraka utk selama-lamanya jika mati tanpa sempat bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah supaya kalian berjaya.
March 21, 2011 at 1:10 pm
Mesjid Al Aqsa: Kesalahan Muhammad
Posted by admin On March 10th, 2011 / Comments (4)
Diposkan oleh Ali Sina, tanggal 8 Desember 2010
Ada sebuah hadis yang melaporkan bahwa pada suatu malam, Muhammad mengendarai seekor kuda yang mempunyai sayap, yang mana kuda tersebut membawanya dari Masjidil Haram (Mesjid yang ada Ka’bah) ke Mesjid Al Aqsa (yang ada di Yerusalem), dan dari sana kemudian membawanya ke langit ke-7 dimana diperlihatkan padanya neraka dan firdaus, lalu kemudian ia dibawa ke hadapan hadirat Allah. Kisah ini – yang umumnya dipercayai oleh semua orang Muslim dan dikenal sebagai Mi’raj – juga dikonfirmasi oleh Al Qur’an.
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (Quran 17:1)
Di sini kita tidak akan membahas mengenai (about) kemustahilan dari perjalanan tersebut. Jika Tuhan itu Maha hadir (omnipresent), mengapa seseorang perlu pergi ke suatu tempat untuk bertemu dengannya? Jika Muhammad bisa melakukan perjalanan dari Mekah ke istana Allah, mengendarai seekor kuda yang bersayap, dan kemudian kembali dalam satu malam, maka tahta Allah tak mungkin berada jauh dari Mekah. Saya heran, mengapa tak seorang pun telah menemukannya?
Apakah Tuhan itu berada di dalam jagat raya atau di luar jagat raya? Jika Dia ada di dalamnya, maka ia diisi dengan jagat raya itu dan karenanya tak mungkin Ia bersifat tak terbatas. Jika Dia ada di luar jagat raya, maka ia pastilah sejauh milyaran tahun cahaya dari kita dan karena itu tak ada seekor kuda bersayap manapun bisa mencapai tahtaNya dalam satu malam dan kemudian kembali pada malam itu juga. Kisah ini secara sederhana bisa kita katakan sebagai sebuah dongeng belaka.
Kita juga tidak akan bertanya, mengapa Muhammad harus berhenti di Yerusalem terlebih dahulu sebelum pergi ke Surga. Apakah ada sebuah pintu gerbang surga di Yerusalem?
Masalah yang ingin kita diskusikan adalah bahwa Mesjid Al Aqsa, sebagai “Mesjid Terjauh”, belum eksis pada masa Muhammad hidup.
Bait Suci Pertama di situs tersebut dibangun pada tahun 960 BC, yang menurut kesaksian Alkitab didirikan oleh Salomo untuk menaruh Tabut Perjanjian yang sudah dibawa oleh Daud ayahnya, ke Yerusalem. Bait Suci itu dimusnahkan sama sekali oleh orang-orang Babilonia pada tahun 586 BC.
Bait Suci Kedua dibangun oleh Herodes pada tahun 20 BC
Bait Suci Kedua dibangun kembali pada tahun 515 BC, kemudian dibangun ulang oleh Herodes pada tahun 20 BC dan dihancurkan oleh Jenderal Titus (Roma) pada tahun 70 AD.
Ketika Kalifah Omar Ibn al-Khattab menaklukkan Yerusalem pada tahun 638 AD, ia melaksanakan sholat di situs dimana Bait Suci Salomo dulunya berdiri. Kemudian Kalifah ‘Abd al-Malik ibn Marwan membangun sebuah mesjid di sekitar situs tersebut pada sekitar tahun 691 AD.
Menurut dugaan orang, Muhammad melaksanakan Mi’raj di sekitar tahun 621 AD. Ada jurang waktu selama 70 tahun antara peristiwa Mi’raj dengan pembangunan Mesjid Al Aqsa. [Hal ini dilaporkan dalam The Concise Encyclopedia of Islam Harper & Row, 1989, p. 46 and 102.]
Bagaimana bisa, Muhammad menyebutkan Mesjid Al Aqsa, ketika mesjid tersebut belum ada? Apakah Muhammad tidak tahu bahwa Bait Suci orang Yahudi sudah dihancurkan pada tahun 70 AD atau isi Qur’an sendiri dimanipulasi dan ‘semakin diperkaya dengan informasi tambahan’ bertahun-tahun setelah kematian penulisnya, yaitu dengan mengijinkan dongeng-dongeng yang dibangun di sekitar Muhammad semakin berkembang setelah kematiannya?
Dalam pendapat saya, alasannya ada pada yang terakhir. Muhammad adalah seorang pria yang buta huruf. Pengetahuannya terbatas hanya pada apa yang ia dengar dari orang lain – pembaca cerita dan para imam. Referensinya terhadap kisah-kisah historis dan Alkitab sangat tidak lengkap. Seringkali ia menyebutkan sebuah nama yang ia dengar kemudian menyebutkan sebuah peristiwa yang berkaitan dengan nama tersebut, namun yang terjadi adalah – oleh karena pengetahuannya sangat terbatas – acapkali ia melakukan kesalahan-kesalahan. Hanya inilah yang bisa kita harapkan dari seorang pria yang tidak diperlengkapi dengan buku-buku dan yang sumber pengetahuannya hanya didasarkan pada apa kata orang.
Boleh jadi orang-orang Muslim berargumen bahwa “Mesjid” artinya semua tempat ibadah (sojda), itulah sebabnya mengapa rasul mengkaitkan bait suci Salomo sebagai Mesjid. Dengan demikian, semua gereja, sinagoga dan Ateshkadehs Zoroastrian adalah mesjid-mesjid. Pada masa Muhammad, ada sangat banyak “mesjid” yang dibangun di kota-kota yang lebih jauh dari Yerusalem (misalnya lebih jauh dari Mekah dan Medina), dan bahwa Mesjid Aqsa sebenarnya bukanlah mesjid terjauh.
Ini adalah sebuah blunder (kesalahan fatal) yang sangat kasat mata yang dilakukan oleh Muhammad, sehingga banyak dari sarjana Islam, termasuk Yusuf Ali mempunyai pendapat bahwa Mesjid Aqsa yang dimaksudkan oleh Qur’an, dimaksudkan sebagai TEMPAT dimana mesjid akan dibangun, dan bukan sebuah bangunan yang aktual.
Apologetika seperti ini bisa menjadi jalan keluar dari dilema yang harus dihadapi Muslim, jika tidak ada hadis berikut yang menjelaskan bahwa Mesjid Al Aqsa sesungguhnya adalah bangunan aktual yang dikatakan sudah ada pada masa Muhammad masih hidup.
Sahih Bukhari, Volume 4, Buku 55, Nomor 636:
Diriwayatkan oleh Abu Dhaar:
Aku berkata,”Oh Rasul Allah! Mesjid yang mana yang dibangun pertama kali?” Ia menjawab,” Al-Masjid-ul-Haram.” “Aku bertanya,”Yang mana yang (akan dibangun) setelah itu?” Ia menjawab “Al-Masjid-ul-Aqsa (yang ada di Yerusalem).” “Berapa lama periode di antara kedua mesjid tersebut?” Ia menjawab,”Empat puluh (tahun).” Kemudian ia menambahkan,”ketika waktunya sholat datang padamu, laksanakanlah sholat, sebab seluruh bumi adalah tempat untuk kamu beribadah.”
Tetapi hadis ini pun masih menghadirkan masalah lain. Menurut orang-orang Muslim, Masjidil Haram (Ka’bah) dibangun oleh Abraham yang hidup tahun 2000 BC dan Bait Suci Salomo (situs dimana Mesjid Al Aqsa terletak), dibangun pada tahun 958-951 BC. Di sini ada jurang waktu selama lebih dari 1040 tahun antara tahun pembangunan kedua bangunan tersebut.
Sumber: http://indonesian.alisina.org/?p=163
March 31, 2011 at 2:22 pm
“Seperti yang telah kamu dengar, seorang Antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus…” (1 Yoh 2:18)
“Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan berbagai cara…Sebab sebelum Hari itu, haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa…. Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mikjizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat…” (2 Tes 2:3-10)
Antikris adalah seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai Kristus, dan dengan bantuan Iblis akan melakukan banyak mukjizat untuk menarik banyak orang (lih. 2Tes 2:9-10) dan ia akan menganiaya Gereja (lih. KGK 675). Antikristus ini juga disebut oleh Rasul Paulus sebagai “manusia durhaka” atau yang disebut dalam kitab Wahyu sebagai “binatang yang keluar dari dalam laut” yang disembah sebagai nabi palsu.
April 1, 2011 at 1:09 am
Umat Islam dan Kristiani sama- sama menghormati Bapa Abraham, namun keduanya berbeda pandangan tentang siapa anak yang dikurbankan oleh Abraham. Umat Islam menganggap bahwa yang dikurbankan adalah Ismael, sedangkan umat Kristiani menganggap Ishak-lah anak yang dikorbankan.
Umat Islam umumnya mendasari pandangan mereka atas ayat Kej 22:2; Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Mereka beranggapan karena Ismael adalah anak tunggal Abraham selama 13 tahun sebelum Ishak lahir, maka anak yang disebut dalam Kej 22:2 ini adalah Ismael. Namun sebenarnya, ayat- ayat Al Qur’an sendiri tidak ada yang menyebutkan secara eksplisit siapakah nama anak Abraham yang dikorbankan ini.
Sedangkan Kitab Suci jelas menyebutkan secara eksplisit bahwa anak yang dikorbankan ini adalah Ishak, demikian:
“Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal…” (Ibr 11:17)
“Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” (Yak 2:21)
Kita ketahui bahwa umat muslim beranggapan bahwa Kitab Suci telah ‘diselewengkan’ (terutama oleh Rasul Paulus) sehingga yang harusnya Ismael, kemudian dituliskan sebagai Ishak. Namun anggapan ini tidak benar, sebab jika kita membaca Kitab Suci, bahkan dari Perjanjian Lama itu sendiri kita ketahui bahwa anak perjanjian itu adalah Ishak:
1. Ishaklah yang menjadi anak satu- satunya yang dijanjikan Allah, sebab Allah berjanji bahwa anak perjanjian itu akan lahir dari Sarah- bukan wanita yang lain (lih. Kej 17:15-21). Hal ini juga tercantum dalam Qur’an (Surah 11:69-73, 37:112-113, 51:24-30). Ismael tidak pernah disebut sebagai anak perjanjian.
2. Ishak dikandung secara mukjizat atas ibu yang sudah tua dan mandul dan ayah yang juga sudah tua, dan inipun disebut dalam kitab Qur’an (lih. Kej 17:15-17, 18:9-15, 21:1-7; Gal 4:28-29; Surah 11:69-73, 51:24-30). Ismael dikandung tanpa melibatkan mukjizat dari Tuhan.
3. Tuhan berjanji bahwa keturunan Ishaklah yang akan mewarisi tanah yang dijanjikan kepada Abraham (Kej 13:14-18; 15:18-21; 28:13-14). Ismael tidak mempunyai bagian di dalam tanah perjanjian yang dijanjikan kepada Abraham.
Untuk alasan- alasan inilah Ishak disebut sebagai anak tunggal Abraham sebab Allah menganggap Ishak sebagai anak satu- satunya yang dijanjikan Allah kepada Abraham.
Selanjutnya silakan anda membaca langsung di artikel karangan San Shamoun tersebut, bagaimana beberapa scholar dari kalangan muslim sendiri mempunyai pandangan berbeda- beda tentang hal ini. Muhammad H. Haykal dalam bukunya The Life of Muhammad, menulis dalam perikop, Siapakah anak yang dikorbankan? [tentang Ishak dan Ismail], demikian, “Qur’an sendiri tidak menyebut nama anak yang dikorbankan, sehingga para ahli sejarah di kalangan muslim berbeda pendapat dalam hal ini….” (Muhammad H. Haykal, The Life of Muhammad, trans. Isma’il Raji al-Faruqi [Islamic Book Trust Kuala Lumpur/American Trust Publishers, 1976], pp. 24-25; cf. online edition)
Atau seorang Muslim scholar bernama, Shaykh Hamza Yusuf dari Zaytuna Istitute, menyatakan:
“Ini adalah anak yang diberikan kepada Abraham, dan terdapat perbedaan pendapat tentang siapakah anak ini. Mayoritas scholar di abad- abad terakhir mengatakan bahwa ia adalah Ismail, namun banyak dari scholar di abad- abad terdahulu mengatakan ia adalah Ishak…. Hal ini seharusnya tidak menjadi bahan perdebatan antara umat beriman, itu bukan inti dari ceritanya. Keduanya adalah pendapat yang valid/ sah. (Shaykh Yusuf, There is No Calamity if there is Certainty; audio source)
Menarik untuk disimak adalah hasil studi dari salah seorang ahli sejarah Muslim yang bernama Al-Tabari, yang mengumpulkan data tentang siapakah anak yang dikorbankan ini menurut para ahli sejarah. Ia mengutip pandangan banyak ahli sejarah dari kalangan muslim yang juga menyebutkan bahwa anak tersebut adalah Ishak (silakan membaca selengkapnya di link artikel karangan Sam Shamoun tersebut). Akhirnya Tabari mengambil kesimpulan demikian:
“As for the above-mentioned proof from the Quran that it really was Isaac, it is God’s word which informs us about the prayer of His friend Abraham when he left his people to migrate to Syria with Sarah. Abraham prayed, ‘I am going to my Lord who will guide me. My Lord! Grant me a righteous child.’ This was before he knew Hagar, who was to be the mother of Ishmael. After mentioning this prayer, God goes on to describe the prayer and mentions that he foretold to Abraham that he would have a gentle son. God also mentions Abraham’s vision of himself sacrificing that son when he was old enough to walk with him. The Book does not mention any tidings of a male child given to Abraham except in the instance where it refers to Isaac, in which God said, ‘And his wife, standing by laughed when we gave her tidings of Isaac, and after Isaac, Jacob’, and ‘Then he became fearful of them’. They said. ‘Fear not!’ and gave him tidings of a wise son. Then his wife approached, moaning, and smote her face, and cried, ‘A barren old woman’. Thus, wherever the Quran mentions God giving tidings of the birth of a son to Abraham, it refers to Sarah (and thus to Isaac) and the same must be true of God’s words ‘So we gave him tidings of a gentle son’, as it is true of all such references in the Quran.” (Al-Tabari, The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and Patriarchs (trans. William M. Brenner), ( State University of New York Press, Albany 1987), p. 89).
Melihat adanya fakta tersebut di atas, maka tepatlah jika kita meyakini kebenaran yang tertulis dalam Kitab Suci bahwa anak perjanjian yang dikurbankan oleh Abraham adalah Ishak. Memang umat muslim mempunyai alasan tersendiri mengapa mereka beranggapan bahwa akan yang dikurbankan adalah Ismail. Namun kita umat Kristiani percaya bahwa yang dikurbankan adalah Ishak karena memang itulah yang secara eksplisit tertulis dalam Kitab Suci. Selanjutnya, memang banyak ahli berpendapat bahwa keturunan Ismael melahirkan bangsa Arab; dan Ishak menurunkan bangsa Israel. Tetapi apakah agama Islam lahir dari Ismael itu sebenarnya membutuhkan studi lebih lanjut, mengingat bahwa agama Islam sendiri baru lahir pada sekitar abad ke-7.
April 1, 2011 at 3:59 am
#
@berakhlaq DAN KLONENGANNYA
KERAJAAN ALLAH BUKAN MILIK YAHUDI DAN KRISTEN KHATOL TAPI MILIK ISLAM.INI BUKTI NYATA
MAKANYA KRISTEN KHATOL BANYAK JADI MUALAF,BUKAN DENGAN PEDANG TAPI DENGAN BUKTI NYATA.DARI AL KITAB MEREKA SENDIRI.
MAKANYA NABI MUSA DAN NABI ISA SUDAH NUBUATKAN NABI AKAN DIBANGKITKAN DIKALANGAN SAUDARANYA.YAITU NABI MUHAMMAD SAUDARA SATU MOYANG.NABI ISHAQ DAN NABI ISMAIL’
S A U D A R A N Y A.
BUKAN
K E T U R U N A N NYA.
KETURUNAN LAIN DENGAN SAUDARA.PAHAMKAN.?
YAITU SAUDARA DARI MOYANGNYA NABI YA’KUB YAITU NABI ISMAIL KETURUNNYA YAITU NABI AKHIR ZAMAN NABI MUHAMMAD.
YESUS BERKATA KERAJAAN AKAN DIBERIKAN KEPADA BANGSA LAIN YAITU BANGSA ARAB(SAUDARANYA).
SABDA NABI MUSA:ULANGAN 18:15-18
18:15. Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.
18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati.
18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik;
18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti
SABDA YESUS MATIUS 21
21:42 Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
21:43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.
NABI ISMAIL ADALAH NABI YANG DIBUANG DENGAN HARAPAN TIDAK MEWARISI KELUARGA NABI YA’KUB.TETAPI ANAK KETURUNANNYA YAITU NABI MUHAMMAD TELAH MENJADI BATU PENJURU..
NABI BERSABDA:”AKU DIBANDINGKAN DENGAN NABI2 SEBELUMKU DALAM MENDA’WAHKAN AGAMA ALLAH ADALAH SEPERTI SEBUAH BANGUNAN DIMANA DISUDUTNYA ADA SATU BATU BATA YANG KOSONG MAKA AKULAH YANG MENGGENAPINYA.”
KEHEBATAN ISLAM ZAMAN NABI MUHAMMAD
21:44 (Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.)” MAKANYA JAJAHAN2 ROMAWI LEPAS JADI ISLAM
21:45 Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya
TERMASUK PERSIA (IRAN)YANG DULU NYEMBAH API JADI NEGARA ISLAM,PERSIA PAKISTAN,PERSIA AFGHANISTAN DAN PERSIS HINDUSTAN DAN KHASMIR
NUBUATAN TENTANG NABI MUHAMMAD DARI SABDA HABAKKUK
3:3. Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya.
3:4 Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung kekuatan-Nya.
3:5 Mendahului-Nya berjalan penyakit sampar dan demam mengikuti jejak-Nya.
3:6 Ia berdiri, maka bumi dibuat-Nya bergoyang; Ia melihat berkeliling, maka bangsa-bangsa dibuat-Nya melompat terkejut, hancur gunung-gunung yang ada sejak purba, merendah bukit-bukit yang berabad-abad; itulah perjalanan-Nya berabad-abad.
3:7 Aku melihat kemah-kemah orang Kusyan tertekan, kain-kain tenda tanah Midian menggetar.
ORANG KUSYAN ADALAH ARABIA.PENAFSIRAN AHLI BIBLE.
NABI HABAKKUK TELAH MENUBUATKAN TENTANG KEDATANGAN NABI MUHAMMAD SAW KETURUNAN NABI ISMAIL DARI PEGUNUNGAN PARAN NEGERI ARAB DEMIKIAN PENDAPAT AHLI TAFSIR BIBLE
NUBUATAN NABI MUHAMMAD DARI NABI YESAYA
21:1. Ucapan ilahi terhadap “padang gurun di tepi laut”. Seperti puting beliung mendesing lewat di Tanah Negeb, demikianlah datangnya dari padang gurun, dari negeri yang dahsyat.
21:11. Ucapan ilahi terhadap Duma. Ada seorang berseru kepadaku dari Seir: “Hai pengawal, masih lama malam ini? Hai pengawal, masih lama malam ini?”
DUMA ANAK ISMAIL(KEJADIAN 25:14)
21:12 Pengawal itu berkata: “Pagi akan datang, tetapi malam juga. Jika kamu mau bertanya, datanglah bertanya sekali lagi!”
21:13. Ucapan ilahi terhadap Arabia. Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan!
21:14 Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! (TEMA ANAK ISMAIL KEJADIAN 25:15)
21:15 Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. (BUKTI NABI MUHAMMAD LARI KE MADINAH DIKEJAR SENJATA KARENA DA’WAH)
21:16 Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: “Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis.
SETELAH HIJRAHNYA NABI 1 TAHUN KEMUDIAN TIMBUL PERANG BADAR YANG DIMENANGKAN KAUM MUSLIMIN.
21:17 Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab TUHAN, Allah Israel, telah mengatakannya.”
42:10 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.
(ALLAH TURUNKAN AL QURAN BERBEDA DENGAN INJIL,ZABUR DAN TAURAT. BAHASA ARAB )
42:11 Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! (KEDAR KETURUNAN NABI ISMAIL KEJADIAN 25:13.)
( TALBIYAH KETIKA BERHAJI ORANG MEMUJI ALLAH)TERBUKTI SAMPAI SEKARANG.)
42:12 Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.
42:13. TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya.
42:14 Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap.
42:15 Aku mau membuat tandus gunung-gunung dan bukit-bukit, dan mau membuat layu segala tumbuh-tumbuhannya; Aku mau membuat sungai-sungai menjadi tanah kering dan mau membuat kering telaga-telaga.
42:16 Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan.
42:17 Orang-orang yang percaya kepada patung pahatan akan berpaling ke belakang dan mendapat malu, yaitu orang-orang yang berkata kepada patung tuangan: “Kamulah allah kami!” 360 PATUNG BESAR KECIL DALAM KA’BAH) DIHANCURKAN SENDIRI OLEH ORANG 2 YANG TELAH KEMBALI KE ISLAM.
AN NASR
110:1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
110:2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
110:3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
ORANG2 BERHAJI SEMUA MEMUJI ALLAH.NUBUATAN HABAKKUK TERGENAPI UNTUK NABI MUHAMMAD.
KEMBALILAH KE ISLAM ANDA AKAN SELAMAT.UCAPKANLAH LAILAHAILLALLAH.TIADA TUHAN SELAIN ALLAH.
SEDANGKAN YESUS AJARANNYA TIDAK TERBUKTI.SEPERTI SUNAT, LARANGAN MAKAN BABI, PAKE TELEKUNG(JILBAB),KAWIN DUA NGGA SATUPUN KRISTEN KHATOL YANG PATUH.JADI YANG DISALIB TUH YESUS (YUDAS)ATAU NABI ISA AS.PIKIR TUH…
Reply
#
CIKK Says:
April 1, 2011 at 3:52 am
YAH YAHUDI BANI ISRAIL MEMANG BEBAL AKHIR ZAMAN DIHANCURKAN ALLAH.SEDANGKAN KRISTEN KHATOL LEBIH MUDAH DAPET HIDAYAH.KARENA MEMANG YAHUDI BANI ISRAIL YANG NYESATKAN MEREKA.NUBUATAN NABI HABAKKUK,NABI YESAYA, MUSA, YESUS SEMUA ADA DI ALKITAB MENJELASKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD.ANDA BERIMAN PADA KITAB MANA LAGI????
PARA NABI SATU KELUARGA.PESANNYA SAMA MENGAJAK HANYAMENYEMBAH ALLAH.MAKANYA DALAM QURAN PARA NABI BANI ISRAIL DIMULIAKAN, NABI ISA JUGA IBUNYA.KARENA MEMANG SEMUA PESAN DARI ALLAH.KLO BUATAN NABI MUHAMMAD UNTUK APA MEMULIAKAN MUSUHNYA BANGSA ISRAIL.NABI MUHAMMAD TAK PERNAH BERMUSUHAN. SINI BUKTI SEMUA AJARAN AGAMA SATU YAITU DARI ALLAH
April 1, 2011 at 5:28 pm
(Surat Maryam 19:33) – “Wa salaamu ‘alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma ub’atsu hayaa.” – Artinya: “Dan sejahtera atasNya pada hari Dia dilahirkan, pada hari Dia wafat, dan pada hari Dia dibangkitkan hidup kembali.”
(Surat Al Imran 3:55) – “Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafiika, wa raafi’uka ilayya, wa muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa’ilul ladzina tabauka fauqal ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati.” – Artinya: “Ingatlah tatkala Allah berfirman; Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanMu, dan mengangkatMu kepadaKu, dan akan menyucikan Engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMu di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat.”
Dalam ayat tersebut JELAS JELAS Yesus dibilang WAFAT,yang jadi pertanyaan saya Kapan dan Bagaimana Yesus wafat? apakah ada dlm quran? tidak kan? jadi sudah jelas bahwa Yesus WAFAT DI KAYU SALIB dan DIBANGKITKAN pada hari KETIGA,itu membuktikan bahwa Alkitab adalah kitab yang sempurna dan terakhir.Dan alquran adalah kitab sesat yg cuma mengutip sebagian dari Alkitab.Sadar dong,malu ah….
April 1, 2011 at 4:14 am
KONSPIRASI YAHUDI BANI ISRAIL TELAH MENGHASILKAN KEHANCURAN BAGI BANI ISRAIL SENDIRI DI AKHIR ZAMAN.
BUAH ANGGUR YANG ASAN ITU TAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI MAKA AKAN DITUAI OLEH NABI ISA AS.
KEJAHATAN BAI ISRAIL ADALAH
1.”MEMBUNUH” NABI ISA AS
2.MENJADIKANNYA ANAK TUHAN.
3.MENYEMBAH ALLAH LAIN.
4.MEMBUAT AGAMA TANDINGAN (KRISTEN KHATOL)AJARAN NABI ISA
5.MEMBUAT RASUL BARU PAULUS YANG LEBIH DITAATI DARI ISA AS.
6.MENGUBAH ISI KITAB AJARAN NABI ISA.
AKIBAT PERBUATANNYA SANG ANGGUR ASAM(BANI ISRAIL) AKAN DITUAI NABI ISA AS.
MENYEMBAH ALLAH LAIN.
31:16 TUHAN berfirman kepada Musa: “Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka.
31:17 Pada waktu itu murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, sehingga mereka termakan habis dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. Maka pada waktu itu mereka akan berkata: Bukankah malapetaka itu menimpa kita, oleh sebab Allah kita tidak ada di tengah-tengah kita?
31:18 Tetapi Aku akan menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala kejahatan yang telah dilakukan mereka: yakni mereka telah berpaling kepada allah lain.
DIMASUKKAN KE KILANGAN MURKA ALLAH.
BUAH ANGGUR ASAM (BANI ISRAIL)YANG DIMUSNAHKAN.
YESAYA
5:1. Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.
5:2 Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.
5:3 Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu.
5:4 Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?
5:5 Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;
5:6 Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya
BAHKAN SANG ANGGUR 2 YANG ASAM ITU AKAN DISIKAT HABIS SAMA BURUNG2 NAZAR
YESAYA
WAHYU (19:15-21)
TURUNNYA NABI ISA AS KEPADA KAUM MUSLIMIN PIMPINAN IMAM MAHDI KALIFAH ALLAH.TURUN KEPADA KAUM YANG BERSUNAT, TIDAK MAKAN BABI DAAN HANYA MENYEMBAH ALLAH.NABI ISA AKAN MEMBUNUH DAJJAL RAJA YAHUDI.
14:14 Dan aku melihat: sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya.
14:15 Maka keluarlah seorang malaikat lain dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu: “Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.”
14:16 Dan Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumipun dituailah.
14:17 Dan seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci yang di sorga; juga padanya ada sebilah sabit tajam.
14:18 Dan seorang malaikat lain datang dari mezbah; ia berkuasa atas api dan ia berseru dengan suara nyaring kepada malaikat yang memegang sabit tajam itu, katanya: “Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak.”
14:19 Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah.
14:20 Dan buah-buah anggur itu dikilang di luar kota dan dari kilangan itu mengalir darah, tingginya sampai ke kekang kuda dan jauhnya dua ratus mil.
BAKKAN BATU2 AKAN BERBICARA MEMBERITAHU TEMPAT PERSEMBUNYIAN YAHUDI.
SEHARUSNYA NUBUAH PARA NABI BAIK ITU NABI BARNABAS,YOHANES,HABAKKUK,YESAYA, MUSA,ISA DI ALKITAB MAUPUN SABDA NABI MUHAMMAD TENTANG AKHIR ZAMAN YANG TELAH TERJADI DAN YANG AKAN PASTI TERJADI, HENDAKNYA MENJADI PERINGATAN BAGI MANUSIA YANG TAKUT PADA ALLAH DAN BERSEGERA KEMBALI KEPADA ALLAH.
UCAPKANLAH LAILAHAILLALLAH TIADA TUHAN SELAIN ALLAH.TIADA YANG PATUT DISEMBAH SELAIN ALLAH.
JANGAN DITUNDA TUNDA ENTAR KEBURU DITANDU
JANGAN DINANTI NANTI ENTAR KEBURU MATI
JANGAN KAPAN KAPAN ENTAR KEBURU DIKAFANI.
April 1, 2011 at 5:25 pm
lagian maklum aja sekarang banyak yg mualaf,itu karena mereka mau mendapat surga duniawi,yang sudah pasti matinya masuk neraka,maklum aja surga itu hanya buat orang Katolik,justru orang Katolik senang klo ada yg menjadi mualaf,jadi di surganya ga bnyk orang,karena sudah pasti sih orang yang percaya pada al quran sudah pasti akan masuk neraka,kasihan deh lu pada….
April 1, 2011 at 5:20 pm
Kalau memang nabi muhammad nabi isa/Yesus,kenapa para muslim tidak percaya bahwa Yesus telah wafat di kayu salib? dalam alquran tertulis bahwa nabi isa/Yesus wafat dan akan dibangkitkan,tapi para muslim tidak bisa menjelaskan kapan dan bagaimanakah Yesus wafat,jadi bukankah itu aneh dan sesat?
April 2, 2011 at 3:01 am
Nubuat Daniel 8 tentang Pembangunan Bait Kudus Bait Suci oleh Khalifah Umar bin Khattab
Maka ia menjawab: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.”
Kitab Daniel adalah salah satu kitab yang Nebiim yang memuat kisah tentang salah satu manusia yang sholeh bernama Danial. Dalam bagian lain telah dikisahkan bagaimana Nubuatan beliau di Pasal yang lain. Kali ini penulis tertarik untuk mengupas Daniel pasal 8 yang menurut analisa penulis merupakan nubuatan pembangunan kembali Bait Kudus di abad ke 7 M. Nubuatan Nabi Daniel ini tampaknya terjadi setelah nubuatan yang terdahulu telah dibahas dan nubuatan pada pasal 2 ini dibuka dengan penglihatan beliau tentang seekor binatang domba jantan
“Nampaklah kepadaku, Daniel, suatu penglihatan sesudah yang tampak kepadaku dahulu itu. Aku melihat dalam penglihatan itu, dan sementara aku melihat, aku berada di puri Susan, yang ada di wilayah Elam, dan aku melihat dalam penglihatan itu, bahwa aku sedang di tepi sungai Ulai. Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir. Aku melihat domba jantan itu menanduk ke barat, ke utara dan ke selatan, dan tidak ada seekor binatangpun yang tahan menghadapi dia, dan tidak ada yang dapat membebaskan dari kuasanya; ia berbuat sekehendak hatinya dan membesarkan diri.”
Domba jantan ini dijelaskan dalam takwil oleh Malaikat Jibril di ujung pasal 2 sebagai kerajaan Persia yang menguasai Yerusalem.
Daniel 8:20 Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia.
Kemudian pasal berlanjut mengisahkan datangnya sosok kedua.
“Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya. Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat. Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.”
Kambing jantan yang mengalahkan domba jantan itu adalah perumpamaan Kerajaan Yunani di bawah pimpinan sang Penakluk Alexander the Great yang mengalahkan Kerajaan Persia tadi dan menguasai Yerusalem. Demikian takwil oleh Jibril kepada Daniel
Daniel 8:21 Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.
Kemudian dikisahkan tentang akhir hidup dari Alexander Agung yang meninggal dipuncak kekuasaannya di usia muda dan meninggalkan kerajaan yang rentan akan perebutan kekuasaan.
“Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit”
Empat tanduk patah itu ditakwilkan nubuat kerajaan Yunani sepeninggal Alexander terpecah menjadi empat kerajaan kecil
Daniel 8:22 Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu.
http://en.wikipedia.org/wiki/Alexander_the_Great#Division_of_the_empire
Kerajaan Yunani sepeninggal Alexander Agung terpecah menjadi 4 kerajaan kecil yakni
1.Kerajaan Ptolemaic di Mesir
2.Kerajaan Seleucid di timur
3.Kerajaan Pergamon di Asia Minor
4.Dan terakhir adalah kerajaan Macedonia sendiri
Demikian dikatakan dalam sumber wikipedia bahwa
“the Hellenistic world settled into four stable power blocks: the Ptolemaic Kingdom of Egypt, the Seleucid Empire in the east, the Kingdom of Pergamon in Asia Minor, and Macedon.”
(Terjemahan :” Dunia Hellenisme Yunani terpecah menjadi empat blok yang berkuasa ,yakni kerajaan Ptolemeus di Mesir, Kerajaan Seleucid di timur, Kerajaan Pergamon di Asia Minor, dan terakhir adalah kerajaan Macedonia sendiri)
http://en.wikipedia.org/wiki/Alexander_the_Great#Division_of_the_empire
Karena itulah dikatakan kerajaan Yunani sepeninggal Alexander terpecah menjadi empat
Daniel 8:8 Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.
Setelah Alexander the Great wafat tepat pada puncak kekuasaannya maka diantara empat kerajaan tersebut Kerajaan Seleucidlah yang sukses dan mewarisi penguasaan atas Yerusalem khususnya Baitul Maqdis Bait Kudus tersebut. Diketahui bahwa kerajaan ini mempunayi daerah kekuasaan warisan Alexander sampai ke arah timur yakni Pakistan Afghanistan dimana dikatakan
“The Seleucid empire’s geographic span, from the Aegean Sea to what is now Afghanistan and Pakistan”
(Terjemahan :” Kerajaan Seleucid terbentang dari laut Aegean sampai daerah dimana hari ini disebut Afghanistan dan Pakistan)
http://en.wikipedia.org/wiki/Seleucid_Empire#Cultural_exchanges
Dan inilah yang dimaksud kekuasaannya melebar ke arah timur
Daniel 8:9 Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai.
Sosok tanduk kecil (little horn) inilah dikatakan oleh sejarawan sebagai Sosok Raja Seleucid yang dikenal bengis bernama Antiochus Epiphanes. Dia dikenal sebagai Raja Seleusid bekerjasama dengan Yahudi Hellenis membantai Yahudi yang sholeh dan mamaksa mereka untuk menyembah Zeus
“Antiochus decided to side with the Hellenized Jews by outlawing Jewish religious rites and traditions kept by observant Jews and by ordering the worship of Zeus as the supreme god”
http://en.wikipedia.org/wiki/Antiochus_IV_Epiphanes#Sacking_of_Jerusalem_and_Persecution_of_Jews
Dan interpretasi ini juga merupakan interpretasi para sejarawan semaca Flavius Josephus sampai Thomas Aquinas
http://en.wikipedia.org/wiki/Antiochus_IV_Epiphanes#Book_of_Daniel
Komentator Alkitab Barnes mengatakan
“Nothing could better express the conduct of Antiochus toward the Jews”
(Terj : Tidak ada yang sosok yang lebih tepat dalam kitab Daniel 8:10 ini selain Antiochus ketika menyiksa kaum Yahudi )
http://bible.cc/daniel/8-10.htm
Kerajaan Seleucid dimana dibawah kepemimpinin Antiochus Epiphanes(Epi phanes= Manifestasi Tuhan) dikatakan :
Daniel 8:10 Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.
Kekejian Kerajaan Seleucid terhadap keyakinan Monotheis umat Bani Israel ini semakin berani dengan mengumumkan status ketuhanan Antiochus sebagai “Epiphanes” atau” Manifestasi Zeus” dan berlanjut ketika kerajaan Romawi menggantikan kekuasaan Seleucid
http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/History/Romans.html
Pemberontakan kaum Yahudi atas pemaksaan ajaran Hellenisme Romawi ini terus berlangsung dan menimbulkan beberapa pertempuran besar karena pemberontakan Yahudi. Tercatat ada tiga perang besar yang melibatkan pemberontakan Yahudi.
http://en.wikipedia.org/wiki/First_Jewish–Roman_War
Pada tahun 70 M inlah terjadi Revolusi Yahudi yang pertama dimana Kaisar Romawi yang nyentrik Nero memerintahkan penghancuran Bait Kudus dibawah bendera Jenderal Titus yang kemudian menyita seluruh peralatan Baitul Maqdis dan merobohkan bangunan Bait.
Daniel 8:11 Bahkan terhadap Panglima bala tentara itupun ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari, dan tempat-Nya yang kudus dirobohkannya.
Apakah yang terjadi setelah kehancuran Baitul Maqdis yang kedua ini? Agaknya kita semua paham bahwa sejak saat itu berhentilah peribadatan di Baitul Maqdis. Kaum Yahudi diusir dari Yerusalem oleh Romawi dan memulai diaspora ke seluruh dunia.
http://en.wikipedia.org/wiki/Jewish_diaspora
Termasuk Yahudi yang percaya dengan kenabian Isa Al Masih yang masih keukeuh dengan ajaran Monotheisme dan aturan Tauratnya pun tidak luput dari pengusiran ini.
Daniel 8:12 Suatu kebaktian diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari, kebenaran dihempaskannya ke bumi, dan apapun yang dibuatnya, semuanya berhasil.
Ketika itulah muncul pertanyaan dari satu sosok kepada sosok yang lain tentang lama terhentinya ibadah di Baitul Maqdis Bait Kudus akibat penghancuran Baitul Maqdis Bait Suci itu berlangsung? Dalam penglihatan Nabi Danial dikatakan percakapan dua sosok ..
Daniel 8:13 Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: “Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?”
Dikatakan bahwa masa itu berlangsung selama 2300 hari. Jika kita mengambil sistem penanggalan kalender Yahudi dimana 1 tahun sebanyak 360 hari maka kita mendapatkan angka 6,38 tahun sebagai waktu yang setara dengan 2300 hari.
http://www.360calendar.com/
Dalam penentuan angka 2300 ini, para ahli tafsir atau komentator Alkitab mengalami kesulitan dalam menginterpretasi makna 2300 petang dan pagi ini. Sangat terlihat sisi subjektifitas mereka ketika mereka enggan menyebutkan kaum musliminlah yang membangun Bait suci ini pada tahun 638 M.
Barnes mengatakan
“Much difficulty has been felt by expositors in reconciling this statement with the other designations of time in the book of Daniel”
(Terjemahan: “Beberapa penakwil nubuat mengalami kesulitan dalam memahami hal ini dikaitkan dengan penyebutan analogi waktu dengan Kitab Daniel di bab yang lain)”
http://bible.cc/daniel/8-14.htm
Jika kita menggunakan pengertian 6,38 tahun ini maka dalam sejarah Baitul Maqdis, tidak pernah dibangun 6 tahun setelah kehancurannya yang kedua pada tahun 70 M tadi..
Lain halnya jika 6,38 tahun itu merupakan permisalah 638 tahun, maka tepatlah yang terjadi pada tahun tersebut Khalifah Umar Bin Khattab memasuki kota Yerusalem tanpa darah setetespun tertumpah. Kaum muslimin Arab saat itu disambut oleh pendeta Kristen Orthodox Severinus/Sophronius dan menyerahkan kunci Yerusalem kepada beliau
Khalifah kemudian meminta pendeta tersebut untuk menunjukkan tempat reruntuhan Baitul Maqdis dan beliau mendapati reruntuhan Bait itu telah menjadi tempat pembuatang sampah oleh umat Nasrani yang memang tidak pernah merasa memiliki Bait itu bahkan dipertahankan demikian sebagai monumen penggenapan nubuat Yesus atas nasib Bait Suci
Lukas 13:35 Sesungguhnya Baitmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.
Mungkin inilah maksud dari Nubuat Yesaya tentang kedatangan pasukan Bani Ismael dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab yang membangun kembali Bait Suci dari reruntuhan berabad-abad.
Yesaya 58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan.
Dan ini jugalah yang kemungkinan dimaksud ketika pasukan Islam dibawah kepemimpinan para sahabat Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wassalam saat menaklukkan kota demi kota, membangun kota-kota yang telah mati dan membangun kota-kota yang baru seperti Bashra dan Kufah di pesisir sungai dan laut.
Yesaya 61:4. Mereka akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan mendirikan kembali tempat-tempat yang sejak dahulu menjadi sunyi; mereka akan membaharui kota-kota yang runtuh, tempat-tempat yang telah turun-temurun menjadi sunyi.
Dan mungkin sekali ini yang dirujuk oleh salahseorang Hawariyyin murid Nabi Isa bernama Simon Kefa yang mengatakan dalam
Kisah 15:14 “Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis:Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan”
Dan sepertinya yang dimaksud oleh beliau adalah Kitab Nabiuallah Ams dalam:
Amos 9:11. “Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,
2300 hari dibagi 360 lunar = 6,38.Tahun 638 M adalah tahun dimana Khalifah Umar Bin Khattab
memasuki kompleks reruntuhan Bait Suci dan memulai kembali pembangunan Bait Kudus Baitul Maqdis…
Wallahu a’lam bish shawab….hanya Allah yang tahu kebenaran dari semua ini..
=====================
Berikut kutipan Daniel 8
8:1. Pada tahun yang ketiga pemerintahan raja Belsyazar, nampaklah kepadaku, Daniel, suatu penglihatan sesudah yang tampak kepadaku dahulu itu.
8:2 Aku melihat dalam penglihatan itu, dan sementara aku melihat, aku berada di puri Susan, yang ada di wilayah Elam, dan aku melihat dalam penglihatan itu, bahwa aku sedang di tepi sungai Ulai.
8:3 Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.
8:4 Aku melihat domba jantan itu menanduk ke barat, ke utara dan ke selatan, dan tidak ada seekor binatangpun yang tahan menghadapi dia, dan tidak ada yang dapat membebaskan dari kuasanya; ia berbuat sekehendak hatinya dan membesarkan diri.
8:5 Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya.
8:6 Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat.
8:7 Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.
8:8 Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.
8:9 Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai.
8:10 Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.
8:11 Bahkan terhadap Panglima bala tentara itupun ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari, dan tempat-Nya yang kudus dirobohkannya.
8:12 Suatu kebaktian diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari, kebenaran dihempaskannya ke bumi, dan apapun yang dibuatnya, semuanya berhasil.
8:13 Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: “Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?”
8:14 Maka ia menjawab: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.”
8:15. Sedang aku, Daniel, melihat penglihatan itu dan berusaha memahaminya, maka tampaklah seorang berdiri di depanku, yang rupanya seperti seorang laki-laki;
8:16 dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: “Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!”
8:17 Lalu datanglah ia ke tempat aku berdiri, dan ketika ia datang, terkejutlah aku dan jatuh tertelungkup, lalu ia berkata kepadaku: “Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!”
8:18 Sementara ia berbicara dengan aku, jatuh pingsanlah aku tertelungkup ke tanah; tetapi ia menyentuh aku dan membuat aku berdiri kembali.
8:19 Lalu berkatalah ia: “Kuberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi pada akhir murka ini, sebab hal itu mengenai akhir zaman.
8:20 Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia.
8:21 Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.
8:22 Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu.
8:23 Dan pada akhir kerajaan mereka, apabila orang-orang fasik telah penuh kejahatannya, maka akan muncul seorang raja dengan muka yang garang dan yang pandai menipu.
8:24 Kekuatannya akan menjadi hebat, tetapi tidak sekuat yang terdahulu, dan ia akan mendatangkan kebinasaan yang mengerikan, dan apa yang dilakukannya akan berhasil; orang-orang berkuasa akan dibinasakannya, juga umat orang kudus.
8:25 Dan oleh karena akalnya, penipuan yang dilakukannya akan berhasil; ia akan membesarkan dirinya dalam hatinya, dan dengan tak disangka-sangka banyak orang akan dibinasakannya; juga ia akan bangkit melawan Raja segala raja. Tetapi tanpa perbuatan tangan manusia, ia akan dihancurkan.
8:26 Adapun penglihatan tentang petang dan pagi itu, apa yang dikatakan tentang itu adalah benar. Tetapi engkau, sembunyikanlah penglihatan itu, sebab hal itu mengenai masa depan yang masih jauh.”
8:27 Maka aku, Daniel, lelah dan jatuh sakit beberapa hari lamanya; kemudian bangunlah aku dan melakukan pula urusan raja. Dan aku tercengang-cengang tentang penglihatan itu, tetapi tidak memahaminya.
April 2, 2011 at 3:03 am
Wahai orang -orang kafir kalian akan masuk neraka yang sangat panas jika mati tidak sempat tobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah supaya kalian mendapat kejayaan.
April 2, 2011 at 7:36 pm
bukannya kebalik??? udah jelaslah orang yang percaya quran itulah yang masuk neraka,ha ha ha…..kasihan deh agama lu ilham,cuma bisa berargumen dan berpendapat,tapi tidak bisa menjawab.
April 2, 2011 at 6:15 am
Valentine Says:
April 1, 2011 at 5:20 pm
Kalau memang nabi muhammad nabi isa/Yesus,kenapa para muslim tidak percaya bahwa Yesus telah wafat di kayu salib? dalam alquran tertulis bahwa nabi isa/Yesus wafat dan akan dibangkitkan,tapi para muslim tidak bisa menjelaskan kapan dan bagaimanakah Yesus wafat,jadi bukankah itu aneh dan sesat?
ANDA SUDAH TAHU PURA2 TIDAK TAHU.MUNAFIK.
ILMU ANDA DI AKAL TAPI ANDA TIDAK PUNYA HATI.SEDANGKAN HATI ANDA TERTUTUP JADI TIDAK BISA MENERIMA KEBESARAN ALLAH.AYAT DI ALQURAN SUDAH JELAS, NUBUATAN PARA NABI SUDAH JELAS.DIDALAM HATI ANDA ADA PENYAKIT LALU ALLAH TAMBAH PENYAKIT ITU.
BUKANKAH IBLIS TELAH MELIHAT KEBESARAN ALLAH.TETAPI KETIKA ALLAH PERINTAHKAN UNTUK SUJUD KEPADA ADAM IA SOMBONG DAN TAKABUR KARENA IA TERBUAT DARI API SEDANGKAN ADAM DARI TANAH.MAKANYA ALLAH MELAKNAT IBLIS,DIUSIR DARI SURGA.
IBLIS TIDAK MELIHAT PERINTAH SIAPA YANG MEMERINTAHNYA.TAPI IA MEMANDANG ADAM YANG HINA TERBUAT DARI TANAH,MAKANYA IA TIDAK MAU SUJUD.
DEMIKIAN JUGA BANI ISRAIL MEREKA TAHU DAN MENGENAL NABI MUHAMMAD SEPERTI ANAKNYA TAPI MEREKA SOMBONG.KETIKA ALLAH MEMBERIKAN KERAJAAN ALLAH(NUBUWAH LEBIH BESAR DARI KERAJAAN DUNIA)SEBAGAIMANA SABDA YESUS(NABI ISA)MATIUS 21
21:42 Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
21:43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.
MEREKA TAK HABIS PIKIR KENAPA ALLAH BERIKAN KERAJAAN ALLAH KEPADA BANGSA YANG BUTA.TAPI ALLAH TEGASKAN ALLAH LAH YANG AKAN MEMBIMBING ORANG YANG BUTA SEHINGGA KERAJAAN ALLAH MENJADI BESAR PADA MASA NABI MUHAMMAD DAN KHALIFAH 2/3 DUNIA DIKUASAI ISLAM.ASIA,AFRIKA,EROPA.
SEHARUSNYA BANI ISRAIL LAH YANG MENJADI PELOPOR MENERIMA ISLAM DAN MEMBANTU MENDA’WAHKAN AGAMA ALLAH.KARENA MEREKA TAHU NABI MUHAMMAD SAUDARA MEREKA. SABDA MUSA ULANGAN 18:15-18
18:15. Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.
TAPI KARENA MEREKA TELAH MENJADI ORANG YANG SOMBONG MERASA MENJADI ANAK ALLAH, KETURUNAN PARA NABI.AKAN TETAPI MELIHAT SIKAP DAN TINGKAH MEREKA JAUH PANGGANG DARI API.LIHATLAH TERTULIS DI ALKITAB MEREKA MEMBUNUH PARA NABI, NABI ZAKARIA,YAHYA “NABI ISA”.
KETIKA WTC DI HANCURKAN ADAKAH KORBAN DARI PIHAK MEREKA???TIDAK ADA.
KNAPA?KARENA MEREKA TAHU ITU BAKAL DIHANCURKAN, TAPI SEBAGAI MANUSIA YANG MENGANGGAP DIRINYA MULIA KENAPA MEREKA TIDAK MENGINGATKAN WARGA KRISTEN AMIRIKA.KNAPA MEREKA HANYA MENGINGATKAN KESELAMATAN DIKALANGAN MEREKA SENDIRI?
APAKAH BANGSA SEPERTI INI MASIH BISA DIPERCAYA UNTUK MENDA’WAHKAN AGAMA KESELURUH MANUSIA.TENTU TIDAK. SEDANGKAN NABI ISA SENDIRI DIUTUS HANYA UNTUK KALANGAN BANI ISRAIL.
KRISTEN KHATOL HANYA DAPAT AGAMA BUATAN DARI MEREKA YANG MEREKA SENDIRI ENGGAN UNTUK MENGIKUTINYA.TERUS TERANG ITU ADALAH AGAMA DAGANGAN MEREKA UNTUK MELAWAN ISLAM.JADI MEREKA PUNYA SEKUTU UNTUK MEMUSUHI ISLAM.
YAHUDI SENDIRIPUN SUNAT.
INGATLAH ANDA AKAN DIENYAHKAN SAMA NABI ISA DIAKHIRAT.DAN LANGSUNG DILEMPARKAN KE NERAKA YANG KEKAL ABADI SIKSANYA TIADA HENTI DAN TIDAK KENAL ISTIRAHAT.BERSAMA2 ORANG YANG ANDA JERUMUSKAN,IBU BAPAK ANDA ANAK2 ISTRI.MEREKA SEMUA AKAN MENCERCA ANDA DIAKHIRAT.
IKUTLAH JEJAK ORANG2 PINTAR DR.YAHYA WALONI,DR.IRENE HANDONO MANTAN PENDETA DAN INTELEKTUAL KRISTEN YANG KEMBALI KE ISLAM ANDA AKAN SELAMAT.
April 2, 2011 at 7:33 pm
@ bilal :
yang ditanya apa,yang dijawab apa,ga nyambung lu ah,itu tandanya islam cuma bisa berargumen dan memberikan pendapat,tapi tidak bisa MENJAWAB,bahwa muslim aakn masuk neraka,ha ha…..itu semua sudah tertulis dalam quran yang kalian percayai itu.
April 2, 2011 at 7:42 pm
@ bilal: gwa nanya kapan dan bagaimana Yesus wafat,ga ada kan dalam al quran?? gitu aja kok pake argumen yang lain,ga nyambung lu ah…….sama kayak nabi palsu lu si mamad,ga nyambung mad,orang buta huruf,pedagang pula lagi,justru islam yang agama berdagang,islam masuk ke indonesia aja lwt perdagangan,ga kebalik lu??? ha ha……nabi lu aja pedagang…Kalau Tuhan gwa udah jelas tukang kayu,menciptakan dari yang hanya kayu,menjadi barang yang berguna.
April 2, 2011 at 7:49 pm
@ bilal: Ulangan 18:15 ,udah ga kepake buat nabi palsu lu,uadah jelas seorang nabi akan dibangkitkan,emang nabi mamad dibangkitkan ya??? baru dgr gwa??? HA HA HA….jangan mimpi lu,nabi lu masih ada di kuburnya tuh.Orang Islam katanya hebat bisa nemuin benda2 para nabi terdahulu,seperti tongkat nabi Musa,kapal nabi Nuh,janggut nabi mamad,tapi kok ga bisa membuktikan kalau Yesus itu tidak disalib??? ha ha….agama islam itu agama karangan si mamad doang,kasihan deh lu pada yang pasti masuk neraka,itu semua sudah tertulis dalam quran kalian,HA HA HA……..
April 2, 2011 at 8:09 pm
Sini deh gwe tuntasin pertanyaan kamu.Sebenarnya pertanyaan kamu udah dijawab tapi karena kamu goblok kamu tidak memahami.Sekarang biar saya bicara sesuai utk tingkat kanak-kanak:
Firman Allah SWT dalam surah an-Nisaa’ ayat 157-158,
“Dan Karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya kami Telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah “, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (157) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (158).
Benarkah Nabi Isa a.s belum wafat ?
Jawapan, Ya berdasarkan ayat ini orang-orang Islam percaya bahawa Nabi Isa a.s belum lagi wafat, kerana baginda tidak disalib tetapi diselamatkan oleh Allah SWT dengan cara mengangkat baginda ke sisi –Nya. Dalam ayat ini juga Allah SWT menyatakan bahawa mereka yang membunuh Nabi Isa a.s itu sebenarnya tidak yakin siapakah yang di bunuh itu.
Apa kata Bible tentang kematian Nabi Isa a.s ?
Jawapan, kalau dirujuk dalam Bible juga terdapat beberapa keraguan untuk mengesahkan orang yang di salib itu ialah Nabi Isa a.s. Sebagai contoh ketika di kayu salib, orang yang di salib mengeluh dan merayu-rayu kepada Tuhan agar melepaskannya dari kayu salib itu,
“Eloi Eloi Lama sabachtani – which means, “My God, My God, why have you forsaken me ” (Mark 15 : 34 )
Kata-kata rintihan ini tidak sesuai diucapkan oleh seorang Rasul kerana mereka merupakan individu yang kuat menghadapi cabaran ketika berdakwah walaupun nyawanya di ancam. Contoh, Nabi Ibrahim a.s ketika dicampak ke dalam api, baginda tidak pernah merintih dan merayu kepada Tuhan untuk menyelamatkannya.
Hujah kedua ialah semasa penangkapan dilakukan, semua anak-anak murid Nabi Isa a.s melarikan diri.
Then everyone deserted him and fled . (Mark 14 : 50 )
Dengan kata lain tidak seorang pun yang boleh mengesahkan yang ditangkap itu ialah Nabi Isa a.s kerana masing-masing tidak ada di sisi baginda ketika itu.
Setelah ditangkap, orang itu dipukul, ditinju dan dipakaikan mahkota berduri. Justeru, sukar untuk melihat wajahnya yang asal.
The Pilate took Jesus and had him flogged. The soldiers twisted together a crown of thorns and put it on his head. (John: 19 1-3)
Nabi Isa a.s sendiri ada membayangkan kepada muridnya yang baginda akan pergi ke sisi Tuhan,
“I am with you for only a short time and then I go to the one who sent me. You will look for me, but you will not find me, where I am, you cannot come ” ( John 7 : 33)
Kalau benarlah Nabi Isa a.s belum wafat mengapa dalam surah Maryam ayat 33 ada menyebut tentang kematian baginda ?
Firman Allah SWT,
“Dan segala keselamatan serta kesejahteraan dilimpahkan kepadaku pada hari aku diperanakkan dan pada hari aku mati serta pada hari aku dibangkitkan hidup semula (pada hari Qiamat)”. (Surah Maryam : 33)
Jawapan, adapun maksud mati dalam ayat ini bukanlah mati di kayu salib kerana Allah SWT telah menafikannya dalam surah an-Nisaa ayat 157-158 tadi, tetapi maksud mati di sini ialah merujuk kepada kematiannya sebelum berlakunya hari Qiamat.
Adakah dalil dalam al-Quran yang menunjukkan bahawa Nabi Isa a.s akan turun menjelang Hari Qiamat ?
Dalilnya ialah surah Ali Imran ayat 46,
“ Dan dia akan berkata-kata kepada orang ramai semasa ia masih kecil dalam buaian dan semasa ia dewasa dan ia adalah dari orang-orang soleh.”
Perkataan ‘dewasa’ dalam ayat diatas kalau merujuk kalimah aslinya dalam bahasa Arab ialah “kahlan” yang bermaksud tua renta yaitu 70 tahun ke atas.Jelas nabi Isa belum mencapai usia kahlan semasa diangkat ke langit karena Baginda baru 30an yang dalam Bahasa Arab disebut syabab/syabb.
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahawa Nabi Isa a.s dikurniakan dua mukjizat. Mukjizat yang pertama ialah baginda boleh bercakap dengan manusia sewaktu bayi dan mukjizat yang kedua baginda boleh bercakap kepada manusia sewaktu dewasa. Mukjizat kedua ini merujuk kepada kepulangannya ke dunia kali kedua iaitu menyeru manusia di dunia untuk kembali mengamalkan ajaran Islam.
Satu lagi ialah ayat 59 surah Ali Imran,
“Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Nabi Isa di sisi Allah adalah sama seperti (kejadian) Nabi Adam. Allah telah menciptakan Adam dari tanah lalu berfirman kepadanya ; “Jadilah engkau!”, maka jadilah ia (seorang manusia)”.(Surah Ali ‘Imran : ayat 59)
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan persamaan antara kejadian Nabi Adam dan Nabi Isa ‘alaihimassalam. Masing-masing dicipta daripada kalimah-Nya Kun Fayakun. Persamaan lain ialah :
1. Jika Nabi Adam dicipta tanpa bapa, maka Nabi isa juga dicipta tanpa bapa.
2. Jika Nabi Adam diturunkan dari Syurga, maka Nabi Isa juga akan turun dari Syurga.
3. Jika Nabi Adam turun ke dunia tidak mempunyai saudara mara maka Nabi Isa juga akan turun ke dunia tanpa mempunyai saudara mara.
Adakah dalil daripada hadis Rasulullah saw yang memberitahu bahawa Nabi Isa a.s akan turun menjelang hari Qiamat ?
Jawapan, Ya memang ada. Satu daripadanya Rasulullah saw pernah bersabda : ,
إنى لأرجو أن طال بي عمر أن ألقى عيسى بن مريم. فإن عجل بي موت فمن لقيه فليقرئه منى السلام
Maksudnya : Sesungguhnya aku berharap umurku panjang agar dapat berjumpa dengan Nabi Isa Ibnu Maryam. Tetapi jika maut lebih dahulu menjemputku, maka barangsiapa di kalangan kamu yang berjumpa dengan baginda sampaikanlah salamku kepadanya. (HR Imam Ahmad)
Adakah turunnya nanti membawa gelaran Nabi dan adakah ini bermaksud baginda adalah Nabi yang terakhir ?
Jawapan, baginda akan turun sebagai Nabi yang meneruskan syariat Nabi Muhammad saw. Hal ini di sebut oleh Rasulullah saw,
ينزل عيسى بن مريم مصدقا بمحمد على ملته فيقتل الدجال
ثم إنما هو قيام الساعة
Maksudnya : Nabi Isa bin Maryam akan turun (pada akhir zaman ) dengan membenarkan syariat aku (Nabi Muhammad saw), baginda akan membunuh Dajjal. Dan sesungguhnya turunnya baginda adalah menjadi tanda dekatnya hari Qiamat. (HR Ahmad)
Penurunannya juga sama sekali tidak mengubah kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai Nabi yang bongsu (penyudah) bagi segala Rasul. Logik akal, kalau kita mempunyai lima orang anak dan anak yang kelima meninggal dunia, adakah anak yang keempat akan menjadi anak yang bongsu ? Sudah tentu tidak ! Anak kelima tetap anak kelima, dialah yang bongsu cuma dia sudah meninggal dunia.
Bagaimana Nabi Isa a.s faham syariat Nabi Muhammad saw sedangkan baginda tidak pernah berada di zaman Rasulullah ?
Jawapan, Nabi Isa a.s akan di ajar oleh Allah SWT. Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 48,
“Dan Allah mengajarkan Kitab kepadanya, Hikmah, Taurat dan Injil” (Al-Imran 048)
Al- Kitab dalam ayat di atas ialah merujuk kepada al-Quran dan al-Hikmah pula ialah hadis Rasulullah saw.
Apakah yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s semasa turun ke dunia ?
Jawapan, Nabi Isa a.s akan turun kedunia untuk membunuh Dajjal sebagaimana yang diterangkan dalam hadis sebelum ini. Sabda Rasulullah saw,
“Nabi Isa bin Maryam akan turun (pada akhir zaman ) dengan membenarkan syariat aku (Nabi Muhammad saw), baginda akan membunuh Dajjal…”
Siapakah Dajjal ?
Jawapan, Dajjal ialah ibu segala kejahatan, kerosakan, keganasan, kesesatan dan pembohongan. Ada yang berpendapat Dajjal itu sudah pun muncul sekarang iaitu kuasa besar dunia – AMERIKA ?
Dajjal akhirnya mati dibunuh oleh Nabi Isa a.s di satu tempat yang bernama Babul Ludi. Hal ini diceritakan oleh Mujammi’ bin Jariah al-Ansari dalam sebuah hadis,
يقتل عيسى بن مريم الدجال بباب لد
“Ibnu Maryam akan membunuh Dajjal di (satu tempat namanya) Babul Luddi”. (HR Tirmidzi)
Dimanakah Babul Ludi itu ?
Babul Ludi ialah satu daerah yang berhampiran dengan Baitul Maqdis,Palestine. Apabila Dajjal berjaya dimusnahkan oleh Nabi Isa a.s, kehidupan di dunia akan kembali aman, tiada lagi pembunuhan, tiada lagi peperangan, tiada lagi pembohongan, tiada lagi kesesatan dan tiada lagi penindasan antara satu sama lain.
Baginda akan memerintah dunia dengan adil dan saksama. Di bawah pemerintahannya manusia akan menjadi kaya raya sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi peminta sedekah kerana hasil bumi telah digunakan ke jalan yang betul pogram makanan, kesihatan, kebajikan dan perkara-perkara yang membawa kebahagiaan kepada manusia keseluruhannya. Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw,
ويفيض المال حتى لا يقبله أحد
Maksudnya : menjadi suburlah negeri dan mengalirlah harta kekayaan yang banyak sehingga ada orang yang bersedekah namun tidak orang yang mahu menerimanya. (HR Bukhari dan Muslim)
Tujuan lain Nabi Isa a.s diturunkan ?
Jawapan, Imam at-Tirmizi meriwayatkan sebuah lagi hadis mengenai penurunan Nabi Isa a.s,
والذي نفسى بيده ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكما مقسطا فيكسر الصليب ويقتل الخنزير ويضع الجزية ويفيض المال حتى لا يقبله أحد
Maksudnya : Demi Zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya. Tidak diragukan lagi bahawa Nabi Isa akan turun kepada kamu, lalu menjadi Hakim yang adil, memecahkan kayu salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah dan pada waktu itu mengalirlah harta kekayaan yang banyak sehingga ada orang yang bersedekah namun tidak orang yang mahu menerimanya. (HR Tirmizi)
Berdasarkan hadis ini, Nabi Isa a.s akan turun ke dunia untuk menjadi Hakim yang adil untuk bagi memutuskan ajaran siapakah yang benar, Islam atau Kristian. Baginda juga akan memecahkan salib yakni menghancurkan doktrin Kristian yang mempertuhankan baginda. Nabi Isa a.s akan mengembalikan penganut Kristian ke ajarannya yang sebenar iaitu menyembah Allah SWT sebagaimana yang terdapat dalam Bible,
“Hear, O Israeil, the Lord our God, the Lord is One ” (Mark 12 : 29) ms 1519
“You are right in saying that God is one and there is no other but Him”. (Mark 12 : 32)
Selain itu baginda akan menghapuskan ajaran Kristian yang selama ini menganggap babi halal dimakan sedangkan Bible sendiri melarang memakan babi.
“And the pig ….. you must not eat their meat or touch their carcasses (Bangkai) , they are unclean for you”. ( Leviticus 11 : 7-8)
Menurut Imam an-Nawawi rhm, setelah Nabi Isa a.s membunuh Dajjal, baginda akan menghapuskan jizyah (cukai keselamatan) yang selama ini telah diberikan kepada orang kafir di zaman Rasulullah saw. Dengan kata lain Nabi Isa a.s tidak akan berkompromi dengan orang-orang kafir. Mereka hanya diberi dua pilihan sama ada mahu masuk Islam atau di perangi.
Dengan penghapusan jizyah ini, tiada cara lain bagi orang kafir untuk selamat melainkan mesti beriman dengan Allah SWT. Kesannya, semua ahli kitab memeluk Islam sbagaimana firman allah SWT,
“ Tidak ada seorang pun ahli kitab kecuali akan beriman kepadanya debelum kematiannya. Dan di hari Qiamat nanti Isa akan menjadi saksi terhadap mereka”. ( surah an-Nisaa : 159)
Adakah penghapusan Jizyah ini bermakna Nabi Isa merombak syariat Nabi Muhammad saw ?
Jawapan, Tidak kerana penghapusan jizyah ini juga termasuk sebahagian daripada syariat Nabi Muhammad saw yang telah dimaklumkan oleh baginda melalui hadis-hadisnya.
Tujuan seterusnya ?
Jawapan, penurunan Nabi Isa a.s ke dunia juga adalah untuk memberitahu manusia tentang dekatnya hari Qiamat. Firman Allah SWT,
“Dan sesungguhnya Nabi Isa menjadi tanda kedatangan hari Qiamat, maka janganlah kamu ragu-ragu tentang hari (Qiamat) itu, dan turutilah (pertunju) Ku ; inilah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf 061)
Berapa lama Nabi Isa a.s akan berada di bumi ?
Jawapan, Nabi Isa a.s akan berada di bumi selama 40 tahun. Hal ini diterangkan dalam hadis Rasulullah saw,
Isa Ibnu Maryam akan turun memerintah selama 40 tahun dengan Kitabullah dan sunnahku kemudian baginda wafat. (Al-Muttaqi alHindi, al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhiruz zaman)
Bila Nabi Isa a.s wafat ?
Jawapan, Baginda wafat setelah tujuh tahun membunuh Dajjal. Kata sahabat Nabi saw yang bernama Abdullah bin Amru,
“Allah mengutus Nabi Isa iibnu Maryam untuk membunuh Dajjal. Setelah itu baginda akan tinggal bersama-sama umat Islam selama tujuh tahun”.
Di manakah Nabi Isa a.s di makamkan ?
Seperti yang disebut oleh hadis-hadis Nabi saw, jenazah Nabi Isa a.s akan di sembahyangkan oleh umat Islam kemudian dikebumikan di sebelah makam Rasulullah saw. Hal ini berdasarkan keterangan Abdullah bin Salam,
“ Telah tersurat di dalam kitab Taurat tentang sifat Nabi Muhammad saw dan Isa ibnu Maryam akan dikebumikan di samping baginda. ” (Riwayat Tirmizi)
Apa terjadi selepas kewafatan Nabi Isa a.s ?
Jawapan, Selepas kewafatan Nabi Isa a.s, manusia akan kembali sesat Mereka disesatkan dengan kemewahan harta yang melimpah ruah. Akan berlaku perselisihan dan konflik sesama manusia. Golongan yang engkar dan menolak agama Allah SWT akan muncul kembali. Dunia akan kembali bergolak, rosak sehingga tidak ada lagi kebaikan padanya. Pada waktu itulah hari Qiamat akan terjadi yang mana hanya Allah SWT sahaja yang Maha Mengetahuinya. Sabda Rasulullah saw,
“Selepas baginda (Nabi Isa a.s wafat) Hari Pengadilan (Qiamat) akan berlaku dalam jangka waktu yang pendek” ( Ahmad Diya’addin al-Kamushkhanawi, Rumuz al-Hadith)
Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka jika tidak bertobat sebelum mati.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah agar kalian mendapat kejayaan.
April 2, 2011 at 9:02 pm
@ilham: berarti buat saya sudah sangat jelas,bahwa al quran tidak bisa menjelaskan ayat itu,kembali lagi yg anda pakai adalah ayat dalam Alkitab,ha ha ha….katanya Alkitab telah dipalsukan? oh jadi sekarang nabi isa belum mati? lagipula yang saya tanya apa ada dalam alquran tentang kapan dan bagaimana Yesus wafat??? anda malah pakai Alkitab dan hadits,bukannya quran,sekarang gwa atau lu yg goblok/ga nyambung,ha ha….jadi sekarang hadits sama Alkitab juga termasuk dalam quran ya??? hebat ya???
April 2, 2011 at 9:05 pm
gwa nanya kapan dan bagaimana Yesus wafat,ga ada kan dalam al quran?? gitu aja kok pake argumen yang lain,ga nyambung lu ah…….sama kayak nabi palsu lu si mamad,ga nyambung mad,orang buta huruf,pedagang pula lagi,justru islam yang agama berdagang,islam masuk ke indonesia aja lwt perdagangan,ga kebalik lu??? ha ha……nabi lu aja pedagang…Kalau Tuhan gwa udah jelas tukang kayu,menciptakan dari yang hanya kayu,menjadi barang yang berguna.
April 2, 2011 at 9:09 pm
@ ilham:makanya simak baik2 pertanyaan gwa,orang nanya kemana jawabnya apa,gwa nanya dalam quran,bukan dalam hadits atau Alkitab,kalau lu pake hadits,berarti lu ga menyimk baik2 pertanyaan gwa,dan itu membuktikan bahwa lu yg GOBLOK,lagipula kalau pake hadits,di Gereja Katolik juga banyak tulisan2 dari Santo dan Santa,juga ada Kitab Hukum Kanonik,dan Katekismus Gereja Katolik,semua jelas tertulis hukum2 dalam ajaran Katolik. Jadi sekali lagi islam tidak bisa menjawab,ha ha ha…..
April 2, 2011 at 10:39 pm
@ilham: satu lagi,menurut Gereja Katolik,Tuhan Yesus pada saat mengatakan Eloi Eloi lama sabachtani,bukan berarti Yesus itu mengeluh dan merayu untuk dilepaskan,namun Dia bertanya kenapa Dia belum juga wafat di kayu salib? seperti yang dinubuatkan dalam kitab Mazmur 22:1 ,Yesus hanya membuktikan bahwa Dialah yang dimaksud itu,dialah Tuhan.Dan oleh karena itu, umat Katolik percaya bahwa Yesus menyatakan Mazmur 22 secara keseluruhan, yang merupakan suatu pernyataan akan kemenangan Tuhan terhadap segala penderitaan dan juga termasuk kematian. Hal ini dapat dilihat bahwa Yesus mengutip Mazmur, dimana pada permulaan Mazmur dikatakan “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Karena Berikut kutipan kitab Mazmur 22:1
1) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
2) Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.
3) Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.
4) Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka.
5) Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu.
6) Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.
7) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:
(8) “Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”
9) Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.
10) Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.
11) Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.
12) Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku;
13) mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum.
14) Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku;
15) kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.
16) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.
17) Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.
18) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
19) Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!
20) Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing.
21) Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku!
22) Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah:
23) kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!
24) Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
25) Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia.
26) Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!
27) Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.
28) Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa.
29) Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi, di hadapan-Nya akan berlutut semua orang yang turun ke dalam debu, dan orang yang tidak dapat menyambung hidup.
30) Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang.
31) Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya.
Pada beberapa kata-kata di atas (yang saya garis bawah) dari Mazmur yang tertulis dari abad 14-8 SM, terpenuhi dalam drama penyaliban Yesus. Inilah salah satu yang menyebabkan umat Katolik percaya akan Yesus sebagai Tuhan, karena Dia telah dinubuatkan sebelumnya, termasuk kelahiran, karya publik, mukjijat, penderitaan, kematian, kebangkitan, dll. Nubuat ini begitu penting agar manusia tidak salah mengenali Orang yang telah dijanjikan oleh Allah dari awal mula. Kalau ini bukan dari Tuhan sungguh sangat sulit untuk menerangkan bagaimana suatu nubuat yang dinyatakan ratusan bahkan seribu tahun lebih sebelum masehi terpenuhi dalam diri Yesus.
Semuanya dapat dibaca di dalam rangkaian artikel Kristologi.
April 2, 2011 at 10:44 pm
Yesus berdoa untuk kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, namun Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sebagai manusia kita berdoa, yaitu bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah Bapa, meskipun di dalam situasi yang paling sulit sekalipun.
Yesus berdoa tanpa henti, untuk mengajar manusia senantiasa berdoa di dalam segala kesempatan tanpa henti (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1).
Yesus mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam doa yang terpenting adalah untuk mengikuti kehendak Tuhan, seperti yang dikatakan-Nya dalam doa-Nya di Taman Getsemani, dimana Dia berkata “”Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mt 26:36; Mk 14:32-36).
Yesus mengajarkan doa yang sempurna, yaitu doa Bapa Kami, yang terdiri dari tujuh petisi (lih. Mt 6:9-13).
Yesus menunjukkan bahwa di dalam setiap percobaan, maka Tuhanlah yang menjadi kekuatan dalam doa, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus di dalam drama penyaliban (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46).
Yesus juga mengajarkan pentingnya untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dengan berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Lk 23:34).
Dan masih begitu banyak contoh yang lain, yang menyebabkan pengikut Kristus tahu bagaimana untuk berdoa, karena Tuhan sendiri – melalui Kristus – yang menunjukkan kepada manusia bagaimana seharusnya berdoa.
Jadi dari keterangan di atas, Yesus berdoa karena 1) kodratnya sebagai Tuhan dan juga sebagai manusia yang mempunyai dua keinginan, 2) untuk kepentingan manusia, sehingga manusia dapat meniru apa yang telah dilakukan-Nya. Mungkin akan sulit untuk menerima argumentasi di atas tanpa percaya terlebih dahulu bahwa Yesus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, karena apapun yang dilakukan oleh Yesus senantiasa bersumber pada kodrat-Nya sebagai persatuan (hypostatic union) antara kodrat Tuhan dan kodrat manusia.
April 2, 2011 at 11:00 pm
Saya menangkap ayat itu sebagai berikut sesungguhnya Allah Putra benar-benar mengalami penderitaan, saat disalib, bukan saja secara fisik tetapi jg secara rohaniah, batin. Bahwa Allah pernah hadir dalam sejarah manusia dan juga ikut merasakan penderitaan sebagaimana manusia rasakan, ikut merasa kesepian dan ditinggalkan itu adalah FAKTA. Salib Yesus adalah tanda itu!
Dulu ketika sedang sedih, kecewa terhadap TUHAN karena berkali2 gagal, saya pernah berpikir jika suatu saat saya mati, saya akan menantang dan menggugat TUHAN di Takhta-Nya yg Kudus saya akan katakan demikian: ” Engkau hanya tahu minta disembah, dan tidak mengerti bagaimana rasayanya menderita seperti aku di dunia, Engkau kira enak jadi manusia? Gampang apa? !”
Tiba2 saya menjadi tersadar, seperti ada suara yg berkata dalam diri saya sendiri ” BUKANKAH AKU TELAH MENJADI MANUSIA DAN MENJALANI SEMUA PENDERITAAN DEMI ENGKAU?” Kalu dalam islam kita bisa menggugat begitu kepada allah,karena allha mereka tidak pernah tau apa yang dirasakan dan dialami manusia,dan hanya Tuhan Yesus lah Yang Maha Segalanya,Maha Tahu.tidak seperti allh nya orang islam,dibilang maha,maha apanya? buktinya dia ga pernah tahu jadi manusia?.Tuhan Yesus adalah segalanya ,Tuhan Yesus juga adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi,Tuhan Yesus juga lah yang memusnahkan hampir semua umat manusi melalui air Bah,Tuahn Yesus jugalah yang menjadi manusia dan mati di kayu salib,dan Tuhan Yesu juga lah yang bangkit dan menebus dosa manusia.Tuhan Yesus adala Maha dan Segalanya,tidak seperti allh dalam islam,yang cuma taunya di sembah aja,tidak pernah turun ke dunia,allah takut kali ya keemu manusia? takut juga kali dicobai sama Iblis di padang gurun,itu membuktikan allh dalam islam itu pengecut.HA HA HA……
April 2, 2011 at 11:30 pm
buat para muslim telah terbukti tidak bisa menjawab pertanyaan saya mengenai kapan dan bagaimana Yesus wafat,apakah ada dlm quran?,dan juga mengenai Siapakah yang akan masuk neraka?
itu membutikan bahwa islam tidak bisa menjawab dan tidak bisa berdiri sendiri,Islam membutuhkan Alkitab dan hadits dan buku2 yang lain,sangat disayangkan berarti Islam itu hanya agama yang berdasarkan kitab/buku saja.
Sangat Berbeda dengan Katholik yang adalah Gereja Kristus sejati,yang menempatkan Alkitab ataupun tulisan2 orang2 kudus dibawah otoritas Gereja,karena sejatinya Gereja lahir terlebih dahulu daripada Alkitab.Gereja Katolik sama seperti Negara milik Allah,dan Alkitab adalah UUDnya,dan tulisan2 orang kudus yang lain adalah undang undangnya,Apakh ada UUD yang terbentuk tanpa sebuah negara? tidak kan? yang ada adalah negara dulu lahir/merdeka,barulah kemudian negara itu menyusun dan membentuk UUD dan kemudian menjadi dasar membuat undang2,jadi hanya Gereja Katolik lah yang berhak menjelaskan/menafsirkan Alkitab,karena Alkitab itu adalah UUDnya Gereja Katolik.Dan satu lagi Negara/Kerajaan Allah bisa tetap berdiri tanpa UUD dan undang2,sama saja negara tanpa UUD,bisa tetap berdiri dan menyusun UUD yang baru/mengamandemen UUD yang lama,namun sebuah UUD/Alkitab,tidak bisa berdiri sendiri tanpa sebuah negara,iya kan? contoh di negara Indonesia,UUD 45,kalau negara Indonesia tidaka ada,apa gunanya UUD 45? tapi kalau negara Indonesia dapat berdiri tanpa UUD 45,orang tinggal menyusun UUD yang baru kok,atau mengamandemennya,iya kan?
Itulah hakekat Gereja Katolik dan Alkitab,Gereja Katolik=Negara/Kerajaan Allah,dan Alkitab=UUDnya.
April 2, 2011 at 9:35 pm
Buat para muslim telah terbukti tidak bisa menjawab pertanyaan saya mengenai kapan dan bagaimana Yesus wafat,apakah ada dlm quran,dan juga mengenai Siapakah yang akan masuk neraka?
itu membutikan bahwa islam tidak bisa menjawab dan tidak bisa berdiri sendiri,Islam membutuhkan Alkitab dan hadits dan buku2 yang lain,sangat disayangkan berarti Islam itu hanya agama yang berdasarkan kitab/buku saja.
Sangat Berbeda dengan Katholik yang adalah Gereja Kristus sejati,yang menempatkan Alkitab ataupun tulisan2 orang2 kudus dibawah otoritas Gereja,karena sejatinya Gereja lahir terlebih dahulu daripada Alkitab.Gereja Katolik sama seperti Negara milik Allah,dan Alkitab adalah UUDnya,dan tulisan2 orang kudus yang lain adalah undang undangnya,Apakh ada UUD yang terbentuk tanpa sebuah negara? tidak kan? yang ada adalah negara dulu lahir/merdeka,barulah kemudian negara itu menyusun dan membentuk UUD dan kemudian menjadi dasar membuat undang2,jadi hanya Gereja Katolik lah yang berhak menjelaskan/menafsirkan Alkitab,karena Alkitab itu adalah UUDnya Gereja Katolik.Dan satu lagi Negara/Kerajaan Allah bisa tetap berdiri tanpa UUD dan undang2,sama saja negara tanpa UUD,bisa tetap berdiri dan menyusun UUD yang baru/mengamandemen UUD yang lama,namun sebuah UUD/Alkitab,tidak bisa berdiri sendiri tanpa sebuah negara,iya kan? contoh di negara Indonesia,UUD 45,kalau negara Indonesia tidaka ada,apa gunanya UUD 45? tapi kalau negara Indonesia dapat berdiri tanpa UUD 45,orang tinggal menyusun UUD yang baru kok,atau mengamandemennya,iya kan?
Itulah hakekat Gereja Katolik dan Alkitab,Gereja Katolik=Negara/Kerajaan Allah,dan Alkitab=UUDnya.
April 2, 2011 at 9:44 pm
Dan mengenai Gereja2 Kristen selain Katolik,atau gereja2 protestan,adalah sama seperti negara baru merdeka dan memisahkan diri dari Negara Allah,jadi tentunya mereka punya UUD dan UU nya sendiri,sama seperti timor leste yang memisahkann diri dari Indonesia,mereka tentu punya UUD yang berbeda dgn Indonesia,masa mereka tetap pakai UUD 45,tidak kan? begitu juga dgn gereja2 Kristen yang lain,mereka adalah anak domba yang hilang,yang mudah diterkam oleh serigala berbulu domba/islam,namun kalau Katolik adalah anak domba Allah yang senantiasa dijaga oleh Allah hingga akhir jaman.
April 2, 2011 at 11:01 pm
Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah menurut Gereja Katolik
Keselamatan adalah suatu tujuan
Dokrin tentang keselamatan adalah salah satu hal yang paling penting dalam setiap agama, karena keselamatan adalah tujuan akhir hidup manusia atau “END“. Tujuan akan menentukan langkah hidup seseorang. Jika seseorang mempunyai tujuan hidup untuk menjadi kaya, maka orang tersebut akan terus berusaha untuk menjadi kaya dengan tidak melewatkan peluang-peluang yang ada atau bahkan membuat peluang-peluang yang baru. Seseorang yang tujuan hidupnya menjadi seorang pemain bulutangkis yang terkenal akan berlatih secara teratur, baik latihan fisik maupun teknik bermain bulutangkis dengan baik. Dari sini kita melihat bahwa setiap usaha senantiasa dipengaruhi oleh tujuan akhir. Bahkan dapat dikatakan, bahwa seseorang yang tidak mempunyai tujuan akhir, tidak dapat mengambil keputusan dengan baik dan tidak akan mempunyai prinsip yang teguh.
Setiap agama mempunyai konsep keselamatan, baik tujuan akhir atau keselamatan itu sendiri maupun cara untuk mencapainya. Konsep ini dapat merupakan permenungan dari pemikiran manusia maupun dari wahyu Allah, seperti yang ditunjukkan oleh agama-agama yang mempercayai satu Tuhan. Untuk mengkaji konsep keselamatan tersebut, maka satu hal yang dapat menjadi tolak ukur adalah keharmonisan antara akal budi dan wahyu, karena keduanya bersumber dari Tuhan yang sama, sehingga tidak mungkin bertentangan. Jadi pada saat seseorang memaparkan konsep keselamatan, namun menyimpang dari akal sehat, maka konsep keselamatan tersebut perlu diragukan. Menyimpang dari akal sehat, misalnya adalah meragukan keadilan, kebaikan, dan kasih Tuhan. Hal yang lain adalah kalau konsep keselamatan tersebut bertentangan dengan hukum kodrat, misalkan: melakukan kekerasan, membunuh sesama, dll.
Bagi orang Katolik dan juga agama yang percaya akan satu Tuhan, maka tujuan akhir dari keselamatan adalah bersatu dengan Tuhan, walaupun konsep persatuan dalam tiap-tiap agama itu berbeda satu sama lain. Bagi umat Katolik, wujud persatuan dengan Tuhan adalah “beatific vision“, dimana seseorang dapat melihat Allah muka dengan muka, dapat mengetahui dan mengasihi Tuhan. Ini adalah perwujudan kasih yang sempurna, di mana dalam kehidupan kekal, manusia dapat memberi dan menerima kasih secara sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Tujuan akhir ini adalah tujuan yang bersifat adi kodrati atau “supernatural“, yang melebihi tujuan akhir dari manusia yang sesuai dengan kodrat manusia. Hal ini disebabkan karena, melalui Pembaptisan, Tuhan mengangkat derajat manusia, sehingga manusia dapat menikmati kebahagiaan kekal bersama dengan Tuhan.
Artikel ini akan membahas tentang beberapa aspek dalam keselamatan dan hubungannya antara satu dengan yang lainnya, seperti 1) penciptaan, 2) dosa asal, 3) Inkarnasi, 4) Gereja, dan 5) Sakramen Pembaptisan.
1) Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.
Karena Tuhan adalah maha baik dan maha bijaksana, maka segala rancangan dan ciptaan-Nya adalah baik dan sempurna sesuai dengan kodrat yang diberikan. Di dalam kitab Kejadian, dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah (Kej 1:26-27). Kemudian Tuhan mengatakan bahwa itu adalah sangat baik (Kej 1:31). Pada saat Tuhan menciptakan segala yang ada di bumi, maka Tuhan hanya bersabda, dan semuanya terjadi. Namun pada saat Tuhan menciptakan manusia, Dia melakukan suatu aktifitas yang tidak hanya bersabda, yaitu membentuk manusia dari tanah, dan kemudian Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia (Lih. Kej 2:7). Dari sini kita dapat melihat bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan lebih sempurna dibandingkan dengan semua yang ada di alam semesta, walaupun hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan malaikat (Lih. Ibr 2:7).
Pada saat Tuhan mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, ini berarti bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk spiritual, dan di dalam kondisi yang berkenan di hadapan Allah. Hal ini dikarenakan manusia diberikan suatu berkat yang dinamakan “rahmat kekudusan” dan juga “preternatural gifts“. Manusia juga dikaruniai akal budi, yang terdiri dari akal (intellect) dan keinginan (will). Dan akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kodrat untuk mengenal dan mengasihi pencipta-Nya. Dan sesuai dengan prinsip bahwa “segala sesuatu bergerak menuju tujuan akhir“, maka Tuhan telah memateraikan dalam diri manusia, yaitu keinginan untuk mencapai tujuan akhir untuk bersatu dengan Penciptanya, yaitu Tuhan.
2) Dosa membuat manusia terpisah dari Allah.
Akal budi yang menjadi kodrat manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah adalah merupakan suatu berkat yang begitu indah. Dengan karunia akal budi, manusia mempunyai keinginan bebas, termasuk kebebasan untuk berkata “tidak” atau “ya” terhadap Penciptanya. Ini adalah suatu bentuk kasih Tuhan kepada manusia. Pada saat seseorang mengasihi, maka ia ingin memberikan kebebasan kepada orang yang dikasihi untuk mengasihi dengan bebas tanpa paksaan. Namun kebebasan yang disalahgunakan inilah yang menjadi sumber dosa pertama.
Adam dan Hawa berdosa pada saat mereka berkata “ya” terhadap godaan setan dan berkata “tidak” terhadap perintah Tuhan (Lih. Kej 3:1-7), atau pada saat manusia pertama menempatkan ciptaan lebih tinggi dari pada Sang Pencipta. Pada saat mereka menempatkan baik dan buruk dengan parameter mereka sendiri, dan bukan dari Tuhan, maka mereka tidak berada di dalam kasih Tuhan dan kebenaran. Atau dengan kata lain, mereka menjadi sombong dan lupa akan hakekat mereka yang sesungguhnya sebagai ciptaan yang tidak mungkin menjadi pencipta. Manusia seharusnya bergantung kepada Penciptanya terutama dalam menentukan yang benar dan yang salah. Jika kita berontak dari Allah dan ingin menentukan sendiri akan apa yang benar dan salah, maka kita menjadi seperti Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa asal.
Karena Tuhan adalah kudus (Maz 99:9) dan kasih (1 Yoh 4:8), maka dosa – yang berlawanan dengan kekudusan Tuhan dan merupakan penolakan akan kasih Allah – secara otomatis memisahkan manusia dengan Tuhan. Di dalam kitab kKejadian digambarkan manusia diusir dari Taman Firdaus (lih. Kej 3:22-24). Karena manusia pertama gagal untuk meneruskan “rahmat kekudusan atau sanctifying grace” dan “preternatural gifts“ yang telah diberikan Allah secara cuma-cuma, maka seluruh umat manusia kehilangan berkat-berkat ini.
Terlepas dari Tuhan dan terbelenggu oleh dosa, maka manusia tidak dapat berbuat apa-apa, seperti yang dikatakan oleh Yesus bahwa di luar Allah, manusia tidak dapat berbuat apa-apa (lih. Yoh 14:5). Karena dosa adalah penolakan manusia akan kasih Allah, maka dosa adalah ketidakadaan kasih. Oleh karena itu, dosa hanya dapat digagalkan dengan mengisinya dengan kasih. Namun terpisah dari Allah, maka manusia menjadi semakin tidak berdaya, karena ketiadaan kasih menjadi semakin dalam. Atau dengan kata lain, kasih adalah suatu pemberian, dan oleh karena manusia yang berdosa tidak punya kasih, maka ia tidak dapat memberikan kasih itu. Sebab seseorang tak dapat memberikan kasih kalau ia tidak terlebih dahulu mempunyai kasih itu. Oleh karena itu, manusia tidak dapat melepaskan diri dari belenggu dosa, tanpa bantuan Tuhan, Sang Kasih. Dan semakin manusia menjauh dari Allah atau Kasih itu sendiri (lih. 1 Yoh 4:8), maka manusia semakin tidak memiliki kasih dan semakin tidak berdaya untuk melepaskan diri dari belenggu dosa.
Karena dosa adalah suatu perlawanan dari hukum Tuhan, maka secara kodrat, dosa mempunyai suatu konsekuensi. Sebagai contoh, Kalau kita melanggar peraturan lalu lintas, maka kita juga menanggung akibat dari pelanggaran kita. Semakin yang dilanggar mempunyai derajat yang lebih tinggi, maka akibatnya akan semakin besar.
Karena manusia berdosa terhadap Tuhan yang mempunyai martabat yang begitu tinggi, maka manusia menjadi begitu berdosa dan tidak dapat menebusnya sendiri. Bayangkanlah, apakah ada bedanya kalau kita menghina teman kita dengan kalau kita menghina seorang presiden? Tentu saja ada suatu perbedaan yang besar, karena seorang presiden mempunyai martabat lebih tinggi dibandingkan dengan teman kita dan seorang presiden adalah suatu simbol dari suatu negara. Dan menghina presiden mempunyai implikasi menghina suatu negara. Tentu saja suatu negara mempunyai derajat lebih tinggi daripada seseorang atau beberapa individu. Oleh karena itu penghinaan terhadap suatu negara tidak cukup diselesaikan dengan permintaan maaf dari satu atau beberapa individu, namun harus diselesaikan antara perwakilan negara yang satu dengan perwakilan negara yang lain. Dengan alasan yang sama, maka manusia tidak dapat melepaskan diri dari dosa tanpa adanya campur tangan dari Tuhan sendiri.
3) Kristus adalah satu-satunya jalan untuk menyambung kembali hubungan manusia dengan Tuhan.
Di tengah-tengah ketidakberdayaan manusia, maka Tuhan yang begitu mengasihi umat-Nya tidaklah membiarkan manusia tidak berdaya dibelenggu dosa. Oleh karena itu, Tuhan sejak awal telah mempunyai rencana untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk keselamatan manusia dalam misteri Inkarnasi. Hal ini dinyatakan setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa, dimana Tuhan berkata kepada setan ” Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini [the woman], antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15). Perhatikan juga di ayat 21 ” Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” – yang dapat mengacu kepada kurban Kristus sebagai Anak Domba yang menghapus dosa. Dia yang melingkupi manusia dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. Dan rencana Tuhan telah dipersiapkan dari awal mula dan Tuhan juga berbicara dengan perantaraan para nabi untuk mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus ke dunia atau misteri Inkarnasi.
Misteri Inkarnasi ini menjadi begitu sempurna, karena Yesus sebagai Putera Allah, yang mempunyai derajat yang sama dengan Tuhan, menjadi manusia. Sama seperti contoh di atas, bahwa perwakilan suatu negara menyelesaikan permasalahan dengan perwakilan negara yang lain, maka Yesus, yang sungguh adalah Tuhan dan manusia dapat menyelesaikan permasalahan antara keduanya. Yesus mempunyai derajat yang sama dengan Allah Bapa dan pada saat yang bersamaan, Yesus – yang sungguh adalah manusia – menjadi perwakilan seluruh manusia yang telah berdosa. Maka, Yesus memberikan suatu korban yang berkenan kepada Allah Bapa demi tersambungnya kembali hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Dan betapa besar harga yang dibayar oleh Kristus untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia! Ia menyerahkan diri-Nya, untuk disalibkan. Rasul Paulus menegaskan bahwa pengorbanan Kristus bukan hanya cukup untuk menanggung dan menebus dosa seluruh umat manusia, namun dipenuhi secara berlimpah (superabundant) karena dilakukan dengan kasih-Nya yang sempurna (lih. Rm 5:15-20). Kasih yang sempurna ini adalah jawaban yang sempurna atas kasih Tuhan yang telah dilanggar oleh manusia pertama, sehingga keselamatan atau kesatuan manusia dengan Tuhan menjadi sesuatu yang mungkin. Kasih inilah yang membuka pintu surga untuk seluruh umat manusia. Inkarnasi adalah jawaban yang sempurna untuk karya keselamatan Allah, karena Yesus turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat naik untuk bersatu dengan Tuhan.
4) Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus
Dari kayu salib inilah, Kristus melahirkan Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus. Sama seperti Hawa dibentuk dari tulang rusuk Adam, maka Gereja terbentuk dari darah dan air yang mengalir dari luka di lambung Kristus. Dan lahirnya Gereja dimanifestasikan secara penuh pada saat Pentekosta, dimana Roh Kristus sendiri turun dan berkarya atas para rasul. Di kayu salib inilah, kasih Kristus yang sehabis-habisnya dicurahkan kepada Allah Bapa dan manusia untuk menebus dosa-dosa manusia.
Di kayu salib, saat darah dan air mengalir dari sisi Kristus, Gereja dilahirkan. Inilah pemenuhan dari janji Kristus ketika Dia mengatakan kepada rasul Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mt 16:18) Namun kenapa Yesus melahirkan Gereja-Nya pada saat kematian-Nya di kayu Salib? Karena ini adalah puncak ketaatan dari Adam terakhir atau Kristus. Ketidaktaatan dan dosa Adam pertama ditebus dengan ketaatan dan kasih dari Adam yang baru (lih. Rm 5:15). Dan kemudian, pada saat hari Pentakosta – hari pemenuhan janji kristus, yang mengatakan akan mengirimkan Roh Penghibur, Roh Kebenaran (Yoh 15:26; 16:13) – Gereja dimanifestasikan secara penuh di hadapan berbagai macam bangsa dan bahasa. Dan Gereja ini adalah Gereja yang sama yang dikatakan oleh rasul Paulus sebagai Tubuh Mistik Kristus (Ef 5:23), dan juga Gereja yang bertahan terus sampai saat ini di bawah kepemimpinan rasul Petrus dan penerusnya (Mt 16:18). Gereja ini adalah Gereja Katolik.
Kalau kita percaya bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus yang didirikan oleh Kristus, dan keselamatan mengalir dari Kristus, Sang Kepala Gereja, maka akibat logis dari hal ini adalah keselamatan manusia mengalir dari Gereja. Mengapa keselamatan harus melalui mediasi Gereja? Hal ini adalah sesuai dengan prinsip “mediation“/ pengantaraan. Adalah menjadi kebijaksanaan Tuhan untuk memilih prinsip pengantaraan ini untuk melaksanakan rencana keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, prinsip ini menjadi “fitting” dan paling tepat. Dan rasul Paulus menegaskan bahwa sama seperti dosa turun ke dunia melalui satu orang (Adam), maka melalui satu orang juga, Adam yang baru (Kristus), maka belenggu dosa dipatahkan dan berkat-berkat mengalir (Rm 5:15). Dengan konsep “mediation” yang sama, maka pada masa Perjanjian Lama Allah mengutus para nabi untuk menjadi perantara antara Dia dan umat pilihan-Nya. Pada masa Perjanjian Baru, Kristus menjadi Pengantara yang sempurna antara Allah dan manusia, dan peran ini kemudian diteruskan oleh Gereja sampai akhir jaman. Oleh kuasa Roh Kudus, Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus juga menjadi perantara untuk membagikan berkat-berkat dari Kristus Sang Pengantara satu-satunya, melalui sakramen-sakramen.
Maka, kita melihat bagaimana Adam sesungguhnya dipilih Allah untuk menjadi suatu pengantara/ saluran “rahmat kekudusan (sanctifying grace)” yang dari Allah kepada segenap umat manusia, namun Adam gagal untuk melaksanakan tugas ini. Namun Allah terus menerus mengusahakan pulihnya hubungan kasih-Nya dengan manusia dengan mengutus para nabi. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan berbicara kepada manusia dengan menggunakan perantaraan para nabi. Ia juga menggunakan perantaraan para imam untuk mempersembahkan kurban bakaran, baik berupa kurban syukur ataupun kurban penebus dosa. Sampai akhirnya Tuhan mengutus Putera-Nya sendiri, untuk menjadi Perantara yang sejati, yang menjadi Korban sekaligus Imam, untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak oleh dosa. Kristuslah tanda Perjanjian Baru dan kekal; dan karena bersifat kekal, maka artinya, karya-Nya masih berlangsung sampai sekarang. Hal ini dimungkinkan karena karya Roh Kudus yang terus bekerja melalui Gereja-Nya.
Namun demikian, mungkin ada keberatan yang menyatakan bahwa Yesus adalah Perantara satu-satunya antara manusia dan Tuhan dan tidak ada yang lain (lih. 1 Tim 2:5), sehingga manusia tidak membutuhkan Gereja. Keberatan ini sesungguhnya tidak mendasar, dengan beberapa alasan. Pertama, Kristus adalah Kepala Gereja, dan Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus (1 Kor 12:27). Oleh karena itu ada kesatuan yang terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Tanpa Kristus sebagai Kepala Gereja, maka Gereja tidak mungkin menjadi perantara. Oleh karena itu, kalau Kristus menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia dan Tuhan, maka Gereja juga menjadi perantara antara manusia dan Tuhan.
Kedua, kalau Kristus menjadi Pengantara satu-satunya, itu berarti tidak menghalangi yang lain menjadi perantara, sejauh perantara yang lain tetap berhubungan dengan satu-satunya Pengantara sejati, yaitu Kristus. Kalau Kristus yang melahirkan Gereja, maka tidaklah mungkin Gereja bertentangan dengan Kristus, sama seperti tubuh tidak mungkin bertentangan dengan kepala. Kita dapat melihat contoh sehari-hari, bahwa Kristus sebagai satu-satunya Pengantara tidak menghalangi umat Kristen untuk meminta doa dari sesama anggota dalam satu iman. Apakah umat yang lain kemudian kita anggap sebagai penghalang? Tentu saja tidak, karena doa dari umat yang lain adalah merupakan partisipasi di dalam Kristus dan bahkan Kristus sendiri yang memerintahkan kita untuk turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus.
Ketiga, karena Roh Kristus adalah sebagai Roh yang menuntun seseorang kepada pertobatan dan keselamatan dan Roh Kristus ini sendiri yang terus berkarya di dalam Gereja, maka Gereja menjadi sakramen keselamatan bagi manusia. Bagaimana kita tahu bahwa Roh Kudus bekerja secara terus-menerus, memberikan inspirasi, dan melindungi Gereja sampai akhir jaman? Hal ini terjadi karena hakekat Gereja itu sendiri, sebagai Tubuh Mistik Kristus, yang senantiasa bersatu dengan Kepala Gereja, yaitu Kristus. Oleh sebab itu, Roh Kristus sendirilah yang menjadi jiwa dari Gereja.
5) Baptisan adalah pertemuan antara pengorbanan Kristus dan jawaban “ya” dari manusia
Kita melihat bahwa jalan sudah dibukakan oleh Kristus agar manusia dapat mencapai tujuan akhir, yaitu Surga: persatuan abadi dengan Tuhan. Kristus, melalui penderitaan-Nya di kayu salib telah melahirkan Gereja Katolik, yang dimanifestasikan secara nyata di hari Pentakosta. Kristus juga telah memberikan Roh Kudus-Nya untuk berkarya secara terus-menerus di dalam Gereja. Juga, Kristus telah memberikan ketujuh sakramen untuk menyalurkan berkat-berkat-Nya kepada setiap anggota Gereja. Dan lebih lagi, Tuhan juga terus memberikan dorongan di dalam diri setiap anggota-Nya agar dapat mengalami pertobatan dan mempunyai hubungan yang pribadi dengan-Nya. Dapat dikatakan bahwa Tuhan telah melakukan segala sesuatu untuk membawa manusia kepada-Nya.
Yang menjadi pertanyaan, apakah manusia benar-benar mau untuk menjawab panggilan Tuhan? Tindakan yang nyata dari manusia untuk menjawab tawaran kasih Kristus adalah dengan melalui Sakramen Pembaptisan, karena dengan Pembaptisan, seseorang mendapatkan “rahmat kekudusan atau sanctifying grace“, karunia Roh Kudus, “supernatural virtue atau kebajikan Ilahi”, yang mengalir dari Gereja dan bersumber pada Kristus. Dan melalui Sakramen Pembaptisan, seseorang menjadi anggota dari Gereja Katolik secara penuh. “Rahmat kekudusan” inilah yang membuat orang yang dibaptis menjadi berkenan di hadapan Allah, sama seperti keadaan Adam dan Hawa sebelum mereka berdosa. Itulah sebabnya Sakramen Pembaptisan menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan keselamatan, karena melalui Sakramen ini, seseorang menjadi anak Allah melalui Kristus, Sang Putera Allah.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, maka terlihat jelas, bahwa keselamatan adalah adalah suatu anugerah dari Allah, di mana manusia sebenarnya tidak berhak untuk mendapatkannya karena terpisah oleh dosa, karena upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Namun karena Tuhan begitu mengasihi manusia, Dia tidak membiarkan manusia untuk terpisah dari Tuhan untuk selamanya. Inkarnasi adalah jawaban dari Tuhan terhadap hukuman dosa, karena Yesus telah membayar semua dosa dengan penderitaan-Nya di kayu salib. Karya keselamatan ini diteruskan oleh Gereja Katolik, sebagai Tubuh Mistik Kristus, dengan sakramen-sakramen yang didirikan oleh Kristus, terutama adalah Sakramen Pembaptisan yang menjadi pintu gerbang keselamatan untuk menerima sakramen-sakramen yang lain.
Dari sini kita melihat adanya suatu hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara penciptaan, dosa, Inkarnasi, Gereja Katolik, dan Sakramen Pembaptisan. Namun kelima hal tersebut mengacu kepada Yesus Kristus, di mana 1) Tuhan menciptakan segalanya baik adanya, namun 2) dosa memisahkan manusia dari Tuhan, dan 3) Inkarnasi adalah jawaban dari Allah sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, 4) Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik Kristus, yang menjadi sakramen keselamatan bagi umat manusia, dan 5) Sakramen Baptis menjadi sarana untuk keselamatan manusia, karena manusia menerima kembali harkatnya sebagai gambaran Allah untuk bersatu kembali dengan Allah. Dalam beberapa tulisan mendatang tentang keselamatan, akan dibahas secara lebih mendalam mengapa keselamatan hanya ada di dalam Kristus dan hanya ada di dalam Gereja Katolik.
April 2, 2011 at 11:03 pm
Orang berkata “banyak jalan menuju Roma”. Kita sering mendengar pepatah tersebut, dan orang-orang sering menerapkannya di dalam konteks agama, seolah-olah semua agama adalah sama karena mengajarkan tentang Tuhan dan perbuatan baik. Toh akhirnya, semua itu akan membawa seseorang kepada keselamatan. Namun, kenyataannya dibutuhkan peta yang baik untuk sampai ke Roma. Tanpa peta dan rencana yang baik, maka sangat sulit seseorang untuk sampai ke Roma dengan selamat. Dalam tulisan ini, maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan peta dan rencana keselamatan manusia yang memuncak pada kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Dan dari misteri Paska inilah Gereja dilahirkan untuk menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa untuk memenuhi pesan Yesus yang terakhir, yaitu “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).
April 2, 2011 at 11:13 pm
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK
I. Kristus – Satu-satunya Sabda Kitab Suci
101 Untuk mewahyukan Diri kepada manusia, Allah berbicara dalam kebaikan-Nya kepada manusia dengan bahasa manusiawi: “Sabda Allah yang diungkapkan dengan bahasa manusia, telah menyerupai pembicaraan manusiawi, seperti dahulu Sabda Bapa yang kekal, dengan mengenakan daging kelemahan manusiawi, telah menjadi serupa dengan manusia” (DV 13).
102 Melalui kata-kata Kitab Suci, Allah hanya mengatakan satu kata: Sabda-Nya yang tunggal, dan di dalam Dia Ia mengungkapkan Diri seutuhnya:
“Sabda Allah yang satu dan sama berada dalam semua Kitab; Sabda Allah yang satu dan sama bergaung dalam mulut semua penulis Kitab yang suci. Dan karena sejak awal Ia adalah Allah pada Allah, Ia tidak membutuhkan suku-suku kata, karena Ia tidak bergantung pada waktu” (Agustinus, Psal. 103,4,1).
103 Dari sebab itu Gereja selalu menghormati Kitab-Kitab Suci sama seperti Tubuh Kristus sendiri. Gereja tak putus-putusnya menyajikan kepada umat beriman roti kehidupan yang Gereja terima baik dari meja Sabda Allah, maupun dari meja Tubuh Kristus.
104 Di dalam Kitab Suci, Gereja selalu mendapatkan makanannya dan kekuatannya karena di dalamnya ia tidak hanya menerima kata-kata manusiawi, tetapi apa yang sebenarnya Kitab Suci itu: Sabda Allah. “Karena di dalam kitab-kitab suci Bapa yang ada di surga penuh cinta kasih menjumpai para putera-Nya, dan berwawancara dengan mereka” (DV 21).
II. Inspirasi dan Kebenaran Kitab Suci
105 Allah adalah penyebab [auctor] Kitab Suci. “Yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus”.
“Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31; 2Tim 3:16; 2Ptr 1:19-21; 3:15-16), dan dengan Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja” (DV 11).
106 Allah memberi inspirasi kepada manusia penulis [auclor] Kitab Suci. “Tetapi dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang, yang digunakan-Nya sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri, supaya – sementara Dia berkarya dalam dan melalui mereka – semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya sendiri dituliskan oleh mereka sebagai pengarang yang sungguh-sungguh” (DV 11).
107 Kitab-kitab yang diinspirasi mengajarkan kebenaran. “Oleh sebab itu, karena segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita” (DV 11).
108 Tetapi iman Kristen bukanlah satu “agama buku”. Agama Kristen adalah agama “Sabda” Allah, “bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, hom. miss. 4,11). Kristus, Sabda abadi dari Allah yang hidup, harus membuka pikiran kita dengan penerangan Roh Kudus, “untuk mengerti maksud Alkitab” (Luk 24:45), supaya ia tidak tinggal huruf mati.
III. Roh Kudus Adalah Penafsir Kitab Suci
109 Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka.
110 Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (DV 12,2).
111 Oleh karena Kitab Suci diilhami, maka masih ada satu prinsip lain yang tidak kurang pentingnya guna penafsiran yang tepat karena tanpa itu Kitab Suci akan tinggal huruf mati saja: “Akan tetapi Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga” (DV 12,3).
Untuk penafsiran Kitab Suci sesuai dengan Roh, yang telah mengilhaminya, Konsili Vatikan II memberikan tiga kriteria:
112 1. Memperhatikan dengan saksama “isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci”. Sebab bagaimanapun bedanya kitab-kitab itu, yang membentuk Kitab Suci, namun Kitab Suci adalah satu kesatuan atas dasar kesatuan rencana Allah yang pusat dan hatinya adalah Yesus Kristus. Sejak Paska hati itu sudah dibuka:
“Ungkapan `hati Kristus harus diartikan menurut Kitab Suci yang memperkenalkan hati Kristus. Hati ini tertutup sebelum kesengsaraan, karena Kitab Suci masih gelap. Tetapi sesudah sengsara-Nya Kitab Suci terbuka, agar mereka yang sekarang memahaminya, dapat mempertimbangkan dan membeda-bedakan, bagaimana nubuat-nubuat harus ditafsirkan” (Tomas Aqu., Psal. 21,11).
113 2. Membaca Kitab Suci “dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja”. Menurut satu semboyan para bapa “Kitab Suci lebih dahulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas pergamen [kertas dari kulit]“. Gereja menyimpan dalam tradisinya kenangan yang hidup akan Sabda Allah, dan Roh Kudus memberi kepadanya penafsiran rohani mengenai Kitab Suci … “menurut arti rohani yang dikaruniakan Roh kepada Gereja” (Origenes, hom. in Lev. 5,5).
114 3. Memperhatikan “analogi iman”. Dengan “analogi iman” dimaksudkan hubungan kebenaran-kebenaran iman satu sama lain dan dalam rencana keseluruhan wahyu.
Arti Ganda Kitab Suci
115 Sesuai dengan tradisi tua, arti Kitab Suci itu bersifat ganda: arti harfiah dan arti rohani. Yang terakhir ini dapat saja bersifat alegoris, moralis, atau anagogis. Kesamaan yang mendalam dari keempat arti ini menjamin kekayaan besar bagi pembacaan Kitab Suci yang hidup di dalam Gereja.
116 Arti harfiah adalah arti yang dicantumkan oleh kata-kata Kitab Suci dan ditemukan oleh eksegese, yang berpegang pada peraturan penafsiran teks secara tepat. “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harfiah” (Tomas Aqu., s.th. 1,1,10 ad 1).
117 Arti rohani. Berkat kesatuan rencana Allah, maka bukan hanya teks Kitab Suci, melainkan juga kenyataan dan kejadian yang dibicarakan teks itu dapat merupakan tanda.
1. Arti alegoris. Kita dapat memperoleh satu pengertian yang lebih dalam mengenai kejadian-kejadian, apabila kita mengetahui arti yang diperoleh peristiwa itu dalam Kristus. Umpamanya penyeberangan Laut Merah adalah tanda kemenangan Kristus dan dengan demikian tanda Pembaptisan.
2. Arti moral. Kejadian-kejadian yang dibicarakan dalam Kitab Suci harus mengajak kita untuk melakukan yang baik. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita … sebagai peringatan” (1 Kor 10:11).
3. Arti anagogis. Kita dapat melihat kenyataan dan kejadian dalam artinya yang abadi, yang menghantar kita ke atas, ke tanah air abadi (Yunani: “anagoge”). Misalnya, Gereja di bumi ini adalah lambang Yerusalem surgawi.
118 Sam distikhon dari Abad Pertengahan menyimpulkan keempat arti itu sebagai berikut:
“Littera gesta docet, quid credas allegoria Moralis quid agas, quo tendas anagogia”
(Huruf mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori; moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi).
119 “Merupakan kewajiban para ahli Kitab Suci: berusaha menurut norma-norma itu untuk semakin mendalam memahami dan menerangkan arti Kitab Suci, supaya seolah-olah berkat penyelidikan yang disiapkan, keputusan Gereja menjadi lebih masak. Sebab akhirnya semua yang menyangkut cara menafsirkan Kitab Suci itu berada di bawah keputusan Gereja, yang menunaikan tugas serta pelayanan memelihara dan menafsirkan Sabda Allah” (DV 12,3).
“Saya tidak akan percaya kepada Injil sekalipun, seandainya bukan otoritas Gereja Katolik mendorong saya ke arah itu” (Agustinus, fund. 5,6).
IV. Kanon Kitab Suci
120 Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Lagu-lagu Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.
Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, suratsurat Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus, surat kepada Filemon, surat kepada orang lbrani, surat Yakobus, surat pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes.
Perjanjian Lama
121 Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.
122 “Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia.” Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama Juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati . … Kitab-kitab itu mencantum ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang peri hidup manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan, akhirnya secara terselubung [mereka] mengemban rahasia keselamatan kita” (DV 15).
123 Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].
124 “Sabda Allah, yang merupakan kekuatan Allah demi keselamatan semua orang yang beriman (lih. Rm 1:16), dalam kitab-kitab Perjanjian Baru disajikan secara istimewa dan memperlihatkan daya kekuatannya” (DV 17). Tulisan-tulisan tersebut memberi kepada kita kebenaran definitif wahyu ilahi. Tema sentralnya ialah Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, karya-Nya, ajaran-Nya, kesengsaraan-Nya, dan pemuliaan-Nya begitu pula awal mula Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus.
Perjanjian Baru
125 Injil-injil merupakan jantung hati semua tulisan sebagai “kesaksian utama tentang hidup dan ajaran Sabda Yang Menjadi Daging, Penyelamat kita” (DV 18).
126 Dalam penyusunan Injil-injil dapat kita bedakan tiga tahap:
1. Kehidupan dan kegiatan mengajar Yesus. Bunda Gereja kudus tetap mempertahankan dengan teguh dan sangat kokoh, bahwa keempat Injil “yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidup-Nya di antara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis 1:1-2)” (DV 19).
2. Tradisi lisan. “Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran” (DV 19).
3. Penulisan Injil-Injil. “Adapun penulis suci mengarang keempat Injil dengan memilih berbagai dari sekian banyak hal yang telah diturunkan secara lisan atau tertulis; beberapa hal mereka susun secara agak sintetis, atau mereka uraikan dengan memperhatikan keadaan Gereja-Gereja; akhirnya dengan tetap mempertahankan bentuk pewartaan, namun sedemikian rupa, sehingga mereka selalu menyampaikan kepada kita kebenaran yang murni tentang Yesus” (DV 19).
127 Injil berganda empat itu menduduki tempat istimewa di dalam Gereja. Ini dibuktikan oleh penghormatan terhadapnya di dalam liturgi dan daya tarik yang tidak ada bandingnya, yang mempengaruhi orang kudus dari setiap zaman.
“Tidak ada satu ajaran yang lebih baik, lebih bernilai dan lebih indah daripada teks Injil. Lihatlah dan peganglah teguh, apa yang tuan dan guru kita Kristus ajarkan dalam kata-kata-Nya dan lakukan dalam karya-karya-Nya” (Sesaria Muda).
“Terutama Injil sangat mengesankan bagi saya sewaktu saya melakukan doa batin; di dalamnya saya menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwa saya yang lemah ini. Di dalamnya saya selalu menemukan pandangan baru, dan makna yang tersembunyi dan penuh rahasia” (Teresia dari Anak Yesus. ms autob. A 83v).
Kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
128 Sudah sejak zaman para Rasul dan juga dalam seluruh tradisi, kesatuan rencana ilahi dalam kedua Perjanjian itu dijelaskan oleh Gereja melalui tipologi. Penafsiran macam ini menemukan dalam karya Tuhan dalam Perjanjian Lama “Prabentuk” (tipologi) dari apa yang dilaksanakan Tuhan dalam kepenuhan waktu dalam pribadi Sabda-Nya yang menjadi manusia.
129 Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya. Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama. Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet” (Agustinus, Hept. 2,73).
130 Tipologi berarti adanya perkembangan rencana ilahi ke arah pemenuhannya, sampai akhirnya “Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor 15:28). Umpamanya panggilan para bapa bangsa dan keluaran dari Mesir tidak kehilangan nilai sendiri dalam rencana Allah, karena mereka juga merupakan tahap-tahap sementara di dalam rencana itu.
V Kitab Suci dalam Kehidupan Gereja
131 “Adapun sedemikian besarlah daya dan kekuatan Sabda Allah, sehingga bagi Gereja merupakan tumpuan serta kekuatan, dan bagi putera-putera Gereja menjadi kekuatan iman, santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani” (DV 21). “Bagi kaum beriman kristiani jalan menuju Kitab Suci harus terbuka lebar-lebar” (DV 22).
132 “Maka dari itu pelajaran Kitab Suci hendaklah bagaikan jiwa teologi suci. Namun dengan sabda Kitab Suci juga pelayanan sabda, yakni pewartaan pastoral, katekese, dan semua pelajaran kristiani – di antaranya homili liturgis harus sungguh diistimewakan – mendapat bahan yang sehat dan berkembang dengan suci” (DV 24).
133 Gereja “menasihati seluruh umat Kristen dengan sangat, agar melalui pembacaan buku-buku ilahi sampai kepada `pengenalan Yesus Kristus secara menonjol (Flp 3:8). `Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus (Hieronimus, Is. prol.)” (DV 25).
TEKS-TEKS SINGKAT
134 “Seluruh Kitab Suci adalah satu buku saja dan buku yang satu ini adalah Kristus, karena seluruh Kitab ilahi ini berbicara tentang Kristus, dan seluruh Kitab ilahi terpenuhi dalam Kristus. ” (Hugo dari San Victor Noe 2,8).
135 “Kitab Suci mengemban Sabda Allah, dan karena diilhami, memang sungguh-sungguh Sabda Allah” (D V 24).
136 Allah adalah penyebab Kitab Suci Ia mengilhami pengarang-pengarang manusia: Ia bekerja dalam mereka dan melalui mereka. Dengan demikian la menjamin, bahwa buku-buku mereka mengajarkan kebenaran keselamatan tanpa kekeliruan.
137 Penafsiran buku-buku yang diilhami terutama harus memperhatikan, apa yang hendak dikatakan Tuhan melalui penulis-penulis kudus demi keselamatan kita. “Apa yang berasal dari Roh, hanya dapat dimengerti sepenuhnya oleh karya Roh” (Origenes, hom.in Ex. 4,5).
138 Ke-46 buku Perjanjian Lama dan ke-27 buku Perjanjian Baru diakui dan dihormati oleh Gereja sebagai diilhami.
139 Keempat Injil menduduki tempat sentral, karena Yesus Kristus adalah pusatnya.
140 Kesatuan kedua Perjanjian mengalir dari kesatuan rencana dan wahyu Allah. Perjanjian Lama mempersiapkan yang Baru, sedangkan yang Baru menyempurnakan yang Lama. Kedua-duanya saling menjelaskan. Kedua duanya adalah Sabda Allah yang benar
141 “Kitab-kitab ilahi seperti juga Tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja” (DV 21). Kedua-duanya memelihara dan mengarahkan seluruh kehidupan Kristen. “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, terang untuk menerangi jalanku” (Mzm 119:105).
April 2, 2011 at 11:20 pm
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK
AKU PERCAYA AKAN ALLAH BAPA
198 Pengakuan iman kita mulai dengan Allah, karma Allah adalah “Yang Pertama” dan “Yang Terakhir” (Yes 44:6), Awal dan Akhir segala sesuatu. Syahadat mulai dengan Allah Bapa, karena Bapa adalah Pribadi pertama Tritunggal Mahakudus; ia mulai dengan penciptaan langit dan bumi karena penciptaan adalah awal dan dasar segala karya Allah.
ARTIKEL 1
AKU PERCAYAAKAN ALLAH, BAPA YANG MAHAKUASA, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI
Pasal 1 “Aku Percaya Akan Allah”
199 “Aku percaya akan Allah”, pernyataan pertama dari pengakuan iman ini juga yang paling mendasar. Seluruh pengakuan berbicara tentang Allah, dan kalaupun ia berbicara juga tentang manusia dan tentang dunia, maka itu dilakukan dalam hubungan dengan Allah. Artikel-artikel Kredo semuanya bergantung dari yang pertama, sama seperti perintah-perintah dekalog selanjutnya mengembangkan perintah yang pertama. Artikel-artikel berikutnya membuat kita mengenal Allah lebih baik, seperti Ia mewahyukan Diri kepada manusia, langkah demi langkah. “Sepantasnya umat beriman lebih dahulu mengakui bahwa mereka percaya akan Allah” (Catech. R.1,2,6).
I. “Kami Percaya akan Satu Allah”
200 Kredo Nisea-Konstantinopel mulai dengan kata-kata ini. Pengakuan akan keesaan Allah, yang berakar dalam wahyu ilahi Perjanjian Lama, tidak dapat dipisahkan dari pengakuan tentang adanya Allah dan dengan demikian sangat mendasar. Allah adalah Esa; ada hanya satu Allah. “Kepercayaan Kristen memegang teguh dan mengakui … bahwa Allah adalah Esa menurut kodrat, substansi, dan hakikat” (Catech.R. 1,2,2).
201 Tuhan sebagai Yang Esa mewahyukan Dia kepada Israel, bangsa yang dipilih-Nya: “Dengarlah, hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:4-5). Dengan perantaraan para nabi, Allah mengajak Israel dan semua bangsa supaya berpaling kepada-Nya, Allah yang satu-satunya: “Berpalinglah kepada-Ku, dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi. Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain … semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam Tuhan” (Yes 45:22-24)1.
202 Yesus sendiri menegaskan bahwa Allah “adalah satu-satunya Tuhan” dan bahwa orang harus mencintai-Nya dengan sepenuh hatinya, dengan segenap jiwanya, dengan seluruh akalnya, dan dengan segala kekuatannya. Pada waktu yang sama Ia juga menyatakan bahwa Ia sendiri adalah “Tuhan”. Memang pengakuan bahwa “Yesus itu Tuhan” adalah kekhasan iman Kristen. Namun ia tidak bertentangan dengan iman akan Allah yang Esa. Juga iman akan Roh Kudus “yang adalah Tuhan dan membuat hidup”, tidak membawa perpecahan dalam Allah yang Esa: .
“Kami percaya dengan teguh dan mengakui dengan jujur bahwa ada hanya satu Allah yang benar, kekal, tidak terbatas, dan tidak berubah, tidak dapat dimengerti, mahakuasa, dan tidak terkatakan yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus: meskipun tiga Pribadi, tetap satu hakikat, substansi atau kodrat yang sama sekali tak tersusun [dari bagian-bagian]” (Konsili Lateran IV: DS 800).
II. Allah Mewahyukan Nama-Nya
203 Allah mewahyukan Diri kepada bangsa-Nya Israel dengan memberitahukan nama-Nya. Nama mengungkapkan hakikat seseorang, identitas pribadi dan arti kehidupannya. Allah mempunyai nama. Ia bukanlah kekuatan tanpa nama. Menyatakan nama berarti memperkenalkan diri kepada orang lain; berarti seakan-akan menyerahkan diri sendiri, membuka diri, supaya dapat dikenal lebih dalam dan dapat dipanggil secara pribadi.
204 Allah menyatakan Diri kepada bangsa-Nya langkah demi langkah dan dengan berbagai nama. Namun wahyu pokok untuk Perjanjian Lama dan Baru adalah wahyu nama Allah kepada Musa pada penampakan dalam semak duri bernyala sebelum keluar dari Mesir dan sebelum perjanjian Sinai.
Allah yang Hidup
205 Allah menyapa Musa dari tengah semak duri yang menyala tanpa terbakar. Ia berkata kepada Musa: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:6). Allah adalah Allah para bapa, yang memanggil bapa-bapa bangsa dan membimbing mereka dalam perjalanan mereka. Ia adalah Allah yang setia dan turut merasakan, yang ingat akan para bapa dan akan perjanjian-Nya. Ia datang untuk membebaskan keturunannya dari perbudakan. Ia adalah Allah yang dapat dan mau melakukan ini tanpa bergantung pada waktu dan tempat. Ia melaksanakan rencana-Nya melalui kemahakuasaan-Nya.
“Aku Adalah AKU ADA”
“Musa berkata kepada Allah: `Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang namanya? – apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: `AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya: `Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu… itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun” (Kel 3:13-15).
206 Dengan mewahyukan nama-Nya yang penuh rahasia, YHWH: “Aku adalah Dia yang ada” atau “Aku adalah AKU ADA”, Allah menyatakan siapa Dia dan dengan nama apa orang harus menyapa-Nya. Nama Allah ini penuh rahasia, sebagaimana Allah sendiri juga penuh rahasia. Ia adalah nama yang diwahyukan dan pada waktu yang sama boleh dikatakan sebuah penolakan untuk menyatakan suatu nama. Tetapi justru karena itu ia menegaskan dengan cara yang paling baik, Siapa sebenarnya Allah: Yang mengatasi segala sesuatu, yang tidak dapat kita mengerti atau katakan, Yang Mulia tak terbatas. Ia adalah “Allah yang tersembunyi” (Yes 45:15), nama-Nya tidak terkatakan dan bersama itu pula Ia adalah Allah yang menghadiahkan kehadiran-Nya kepada manusia.
207 Bersama dengan nama-Nya Allah mewahyukan sekaligus kesetiaan-Nya yang ada sejak dulu dan akan tinggal selama-lamanya: Ia setia, “Aku ini Allah nenek moyangmu” (Kel 3:6) dan akan tetap setia, “Aku ada beserta kamu” (Kel 3:12). Allah, yang menamakan Diri “AKU ADA”, mewahyukan Diri sebagai Allah yang selalu hadir, selalu menyertai bangsa-Nya untuk meluputkannya.
208 Mengingat kehadiran Allah yang penuh rahasia dan pesona, manusia menyadari kehinaannya. Di depan semak berduri yang menyala, Musa membuka sandalnya dan menutup mukanya sebab takut memandang Allah. Di depan kemuliaan Allah yang tiga kali kudus, Yesaya berseru: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir” (Yes 6:5). Melihat tanda-tanda ilahi yang Yesus lakukan, Petrus berseru: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa” (Luk 5:8). Tetapi karena Allah itu kudus, Ia dapat mengampuni manusia yang mengakui diri sebagai orang berdosa di hadapan-Nya: “Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu… sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu” (Hos 11:9). Demikian juga Rasul Yohanes berkata: “Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu” (1 Yoh 3:19-20).
209 Karena hormat kepada kekudusan Allah, bangsa Israel tidak mengucapkan nama Allah. Waktu membaca Kitab Suci, nama yang diwahyukan diganti dengan gelar martabat ilahi “Tuhan” (“Adonai”, dalam bahasa Yunani “Kurios”). Dengan gelar ini ke-Allah-an Yesus diakui secara meriah: “Yesus adalah Tuhan”.
“Tuhan yang Rahim dan Berbelaskasihan”
210 Setelah Israel berdosa dan berbalik dari Allah, dengan menyembah anak lembu emas, Allah mendengarkan permohonan Musa dan bersedia berjalan bersama bangsa-Nya yang tidak setia itu. Dengan demikian Ia menunjukkan cinta-Nya. Ketika Musa meminta supaya boleh melihat kemuliaan-Nya, Allah menjawabnya: “Aku akan melewatkan segala kegemilangan-Ku di depanmu dan menyerukan nama YHWH di depanmu” (Kel 33:18-19). Dan Tuhan berjalan lewat di depan Musa dan berseru: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Lalu Musa mengakui bahwa Tuhan adalah Allah yang mengampuni.
211 Nama Allah “AKU ADA” atau “IA ADA” menyatakan kesetiaan Allah. Kendati ketidaksetiaan yang terdapat dalam dosa manusia, dan kendati siksa atasnya, Allah “mengasihi beribu-ribu keturunan” (Kel 34:7). Allah mewahyukan bahwa Ia “murah hati” (Ef 2:4) dan Ia berlangkah begitu jauh sampai Ia menyerahkan Putera-Nya sendiri. Yesus mengurbankan kehidupan-Nya supaya membebaskan kita dari dosa, dan dengan demikian mewahyukan bahwa Ia sendiri menyandang nama ilahi itu: “Apa bila kamu sudah meninggikan Anak Manusia, kamu akan tahu, bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:28).
Hanya Allah yang Ada
212 Dalam jangka waktu berabad-abad iman Israel dapat mengembangkan kekayaan, yang terungkap dalam wahyu nama Allah, dan dapat menyelaminya. Allah itu Esa; di samping Dia tidak ada Allah lain. Ia agung melebihi dunia dan sejarah. Ia menciptakan langit dan bumi: “Semuanya akan musnah, tetapi Engkau tetap sama, hidup-Mu tak akan berakhir” (Mzm 102:27-28). Padanya “tidak ada perubahan dan tidak ada kegelapan” (Yak 1:17). Dialah “YANG ADA” dari dahulu dan untuk selama-lamanya dan dengan demikian Ia tetap setia kepada Diri sendiri dan kepada perjanjian-Nya.
213 Dengan demikian wahyu mengenai nama yang tak terucapkan “AKU adalah AKU ADA” mengandung kebenaran bahwa hanya Allah yang ADA. Terjemahan Septuaginta dan tradisi Gereja memahami nama Allah dalam arti: Allah adalah kepenuhan keberadaan dan kesempurnaan, tanpa awal dan akhir. Sementara segala makhluk ciptaan menerima segala-galanya, keberadaan dan milik mereka dari Dia, hanya Ia sendiri merupakan Keberadaan-Nya dan memilikinya dari diri-Nya sendiri.
III. Allah, ” Ia yang Ada”, Adalah Kebenaran dan Cinta
214 Allah, “la yang ada”, telah mewahyukan Diri kepada Israel sebagai “yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan” (Kej 34:6). Kedua pengertian ini menegaskan inti kekayaan nama ilahi itu. Dalam segala karya-Nya Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya, kebaikan-Nya, rahmat-Nya, cinta-Nya, tetapi juga sifat-Nya yang layak dipercaya, ketabahan hati-Nya, kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya. “Aku mau memuji nama-Mu, sebab Engkau setia dan selalu mengasihi” (Mzm 138:2). Ia adalah kebenaran, karena “Allah itu terang, dan padaNya tidak ada kegelapan sama sekali” (1 Yoh 1:5); Ia adalah “cinta”, seperti yang diajarkan Rasul Yohanes (1 Yoh 4:8).
Allah Adalah Kebenaran
215 “Semua sabda-Mu benar, segala hukum-Mu yang adil tetap selama-lamanya” (Mzm 119:160). “Ya, Tuhanku dan Allahku, Engkau Allah yang Esa, semua janji-Mu Kau tepati” (2 Sam 7:28). Karena itu, Allah selalu memenuhi janji-Nya. Allah adalah kebenaran itu sendiri; Sabda-sabda-Nya tidak bisa menipu. Karena itu, dengan penuh kepercayaan orang dapat menyerahkan diri dalam segala hal kepada kebenaran-Nya dan kepada kepastian Sabda-Nya. Dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya.
216 Kebenaran Allah adalah juga kebijaksanaan-Nya, yang menetapkan tata tertib seluruh ciptaan dan peredaran dunia. Allah, yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, adalah juga satu-satunya yang dapat menganugerahkan pengertian yang benar tentang segala ciptaan dalam hubungannya dengan Dia.
217 Allah juga benar, apabila Ia mewahyukan Diri: Ajaran yang datang dari Tuhan, adalah “ajaran yang benar” (Mal 2:6). Ia mengutus Putera-Nya ke dunia, supaya Ia “memberikan kesaksian tentang kebenaran” (Yoh 18:37). “Anak Allah telah dating dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal [Allah] Yang Benar” (1 Yoh 5:20).
Allah Adalah Cinta
218 Dalam peredaran sejarah, Israel dapat mengerti bahwa Allah hanya mempunyai satu alasan untuk mewahyukan Diri kepadanya dan memilihnya dari antara segala bangsa, supaya menjadi milik-Nya: cinta-Nya yang berbelaskasihan. Berkat nabi-nabinya Israel mengerti bahwa Allah karena cinta-Nya selalu saja meluputkannya dan mengampuni ketidaksetiaannya dan dosa-dosanya.
219 Cinta Tuhan kepada Israel dibandingkan dengan cinta seorang bapa kepada puteranya. Cinta itu lebih besar daripada cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Allah mencintai bangsa-Nya lebih dari seorang pengantin pria mencintai pengantin wanita. Cinta ini malahan akan mengalahkan ketidaksetiaan yang paling buruk. Ia akan berlangkah sekian jauh, sampai Ia menyerahkan juga yang paling dicintai-Nya: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16).
220 Cinta Allah itu “abadi” (Yes 54:8): “Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu” (Yes 54:10). “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer 31: 3).
221 Santo Yohanes berlangkah lebih jauh lagi dan berkata: “Allah adalah kasih” (1 733 Yoh 4:8-16): Cinta adalah kodrat Allah. Dengan mengutus Putera-Nya yang tunggal dan Roh cinta pada kepenuhan waktu, Allah mewahyukan rahasia-Nya yang paling dalam; Ia sendiri adalah pertukaran cinta abadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dan Ia telah menentukan supaya kita mengambil bagian dalam pertukaran itu.
IV Arti Iman akan Allah yang Esa
222 Beriman akan Allah yang Esa dan mencintai-Nya dengan seluruh kepribadian kita, mempunyai akibat-akibat yang tidak dapat diduga untuk seluruh kehidupan kita:
223 Kita mengetahui keagungan dan kemuliaan Allah. “Sesungguhnya, Allah itu agung, tidak tercapai oleh pengetahuan kita” (Ayb 36:26). Karena itu, “kita harus menempatkan Allah pada tempat yang pertama sekali” (Jeanne dArc).
224 Kita hidup dengan ucapan terima kasih: Kalau Allah itu Esa, maka segala sesuatu yang ada pada kita dan yang kita miliki, berasal dari Dia: “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Kor 4:7). “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?” (Mzm 116:12).
225 Kita mengetahui kesatuan dan martabat yang benar semua manusia: Mereka 4 semua diciptakan menurut citra Allah, sesuai dengan-Nya.
226 Kita mempergunakan benda tercipta secara wajar: Iman akan Allah yang Esa mengajar kita mempergunakan segala sesuatu yang bukan Allah, sejauh hal itu mendekatkan kita kepada Allah, dan melepaskannya, sejauh ia menjauhkan kita dari Dia.
“Tuhanku dan Allahku, ambillah dari diriku segala sesuatu yang menghalang-halangi aku untuk datang kepada-Mu.
Tuhanku dan Allahku, berilah aku segala sesuatu yang mendekatkan aku kepada-Mu.
Tuhanku dan Allahku, ambillah aku dari diriku dan jadikanlah aku sepenuhnya milik-Mu”.
(Nikolaus dari Flue, Doa).
227 Kita percaya kepada Allah dalam setiap keadaan, juga dalam hal-hal yang mengganggu. Doa Santa Teresia dari Yesus mengungkapkan ini dengan sangat mengesankan:
Semoga tidak ada hal yang membingungkan engkau, Semoga tidak ada hal yang menakutkan engkau.
Segala sesuatu akan berlalu, Allah tidak berubah. Kesabaran memperoleh segala sesuatu.
Siapa yang memiliki Allah tidak kekurangan sesuatu pun.
Allah sendiri mencukupi. (poes. 30)
TEKS-TEKS SINGKAT
228 “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa ” (UI 6.:4, menurut Mrk 12:29). “Apa yang mau dipandang sebagai yang terbesar harus esa sifatnya dan tidak boleh mempunyai tandingannya … Sebab kalau Allah tidak esa, maka Ia bukan Allah” (Tertulianus, Marc, 1,3).
229 Iman akan Allah mendorong kita, supaya berpaling hanya kepada Dia sebagai awal mula kita yang pertama dan sebagai tujuan akhir kita dan tidak boleh ada sesuatu pun yang mendahului-Nya atau mengganti-Nya.
230 Walaupun Allah mewahyukan Diri, namun Ia tetap tinggal rahasia yang tidak terucapkan: “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah ” (Agustinus, serm. 52, 6,16).
231 Allah yang kita imani telah mewahyukan Diri sebagai YANG ADA: la menyatakan Diri sebagai “yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan ” (Kel 34:6). Kebenaran dan cinta adalah kodrat-Nya.
April 2, 2011 at 11:23 pm
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK
BAB II
AKU PERCAYA AKAN YESUS KRISTUS PUTERA ALLAH YANG TUNGGAL
Berita Gembira: Allah Mengutus Putera-Nya
422 “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal 4:4-5). Inilah “kabar gembira Yesus Kristus, Putera Allah” (Mrk 1:1): Allah mengunjungi bangsa-Nya; Ia memenuhi janji, yang Ia berikan kepada Abraham dan keturunannya; Ia membuat jauh lebih banyak daripada yang dapat diharapkan orang: Ia telah mengutus “Putera-Nya terkasih” (Mrk 1:11).
423 Kita percaya dan mengakui: Yesus dari Nasaret, seorang Yahudi, pada waktu kekuasaan Raja Herodes Agung dan Kaisar Agustus, dilahirkan oleh seorang puteri Israel di Betlehem, bekerja sebagai tukang kayu, dan pada waktu kekuasaan Kaisar Tiberius, di bawah Wali Negeri Pontius Pilatus, dihukum mati pada kayu salib di Yerusalem, adalah Putera Allah yang abadi yang telah menjadi manusia. “Ia datang dari Allah” (Yoh 13:3), “turun dari surga” (Yoh 3:13; 6:33), “Ia datang sebagai manusia” (1 Yoh 4:2). Karena “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya, sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran … Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh 1:14.16).
424 Digerakkan oleh rahmat Roh Kudus dan ditarik oleh Bapa, kita percaya dan mengakui tentang Yesus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Atas wadas iman ini, yang diakui santo Petrus, Kristus membangun Gereja-Nya.
“Mewartakan Kekayaan Kristus yang Tidak Terduga” (Ef 3:8)
425 Pentradisian iman Kristen pada tempat pertama terjadi oleh pewartaan tentang Yesus Kristus: Ia harus menghantar orang kepada iman terhadap-Nya. Sejak awal para murid pertama menyala-nyala karena kerinduan untuk mewartakan Kristus: “Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis 4:20). Dan mereka mengundang manusia dari segala zaman supaya mereka masuk ke dalam kegembiraan persatuan dengan Kristus:
“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan, dan yang telah kami raba dengan tangan kaki tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya Yesus Kristus. Dan semuanya itu kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna” (1 Yoh 1:1-4).
Kristus Adalah Pusat Katekese
426 “Dalam jantung katekese kita jumpai seorang pribadi yaitu pribadi Yesus dari Nazaret, Putera tunggal Bapa … yang menderita sengsara dan wafat demi kita dan yang sekarang, sesudah bangkit mulia, hidup beserta kita … Memberi katekese berarti menampilkan dalam pribadi Kristus seluruh rencana kekal Allah yang mencapai kepenuhannya dalam pribadi itu. Katekese mendalami arti kegiatan dan kata-kata Kristus, begitu pula tanda-tanda yang dikerjakan-Nya” (CT 5). Tujuan katekese “ialah menghubungkan manusia dengan Yesus Kristus; hanya Dialah yang dapat membimbing kita kepada cinta kasih Bapa dalam Roh, dan mengajak kita ikut serta menghayati hidup Tritunggal kudus” (CT 5).
427 “Yang diajarkan dalam katekese hanyalah Kristus, Sabda yang menjadi manusia, Putera Allah; segala sesuatu yang lain diajarkan dengan mengacu kepada-Nya. Dan hanya Kristus yang mengajar; setiap orang yang lain hanya sejauh ia melanjutkan kata-kata Kristus dan dengan demikian memungkinkan Kristus mengajar melalui mulutnya … setiap katekis wajib berusaha, supaya melalui pengajaran serta tingkah lakunya menyampaikan ajaran dan kehidupan Yesus: `Ajaran-Ku tidak berasal dari Diri-Ku sendiri, melainkan dari Dia, yang telah mengutus Aku (Yoh 7:16)” (CT 6).
428 Yang mendapat tugas untuk “mengajar Kristus” harus lebih dahulu mencari “pengetahuan yang mengatasi segala sesuatu mengenai Yesus Kristus”; ia harus bersedia “melepaskan semuanya untuk memperoleh Kristus dan berada dalam Dia”, untuk “mengenal Dia dan kekuasaan kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya”, menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya “akhirnya sampai kepada kebangkitan dari antara orang mati” (Flp 3:8-11).
429 Pengetahuan penuh cinta terhadap Kristus ini membangkitkan kerinduan untuk mewartakan, untuk “mengevangelisasikan”, dan untuk membimbing orang lain kepada iman kepada Yesus Kristus. Pada waktu yang sama dirasakan perlu untuk mengenal iman ini semakin baik. Dengan maksud ini dijelaskan seturut kerangka pengakuan iman lebih dahulu gelar kebesaran Yesus: Kristus, Putera Allah, Tuhan (artikel 2). Sesudah itu syahadat mengakui misteri pokok kehidupan Kristus: penjelmaan-Nya menjadi manusia (artikel 3), Paska-Nya (artikel 4 dan 5) dan akhirnya kemuliaan-Nya (artikel 6 dan 7).
April 2, 2011 at 11:26 pm
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK
BAB III
AKU PERCAYA AKAN ROH KUDUS
ARTIKEL 8
” AKU PERCAYA AKAN ROH KUDUS ”
687 “Tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah” (1 Kor 2:11). Roh yang mewahyukan Allah itu, membuat kita mengenal Kristus, Sabda-Nya yang hidup; tetapi ia tidak berbicara tentang diri-Nya sendiri. la, yang “bersabda melalui para nabi”, membuat kita mendengarkan Sabda Bapa. Tetapi kita tidak mendengarkan Dia sendiri. Kita hanya mendengarkan Dia secara tidak langsung, bila ia mewahyukan Sabda kepada kita dan mempersiapkan kita, menerima-Nya dalam iman. Roh kebenaran, yang “mengungkapkan” Kristus bagi kita, tidak berbicara “dari diri-Nya sendiri” (Yoh 16:13). Sikap rendah hati yang ilahi ini menjelaskan, mengapa “dunia tidak dapat menerima-Nya, karena ia tidak melihat-Nya dan tidak mengenal-Nya”, sedangkan mereka yang percaya kepada Kristus mengenal-Nya, karena Ia menyertai mereka (Yoh 14:17).
688 Sebagai persekutuan iman yang hidup, yang meneruskan iman para Rasul, Gereja adalah tempat kita mengenal Roh Kudus:
- dalam Kitab-Kitab yang diilhami oleh-Nya;
- dalam tradisi, dengan para bapa Gereja sebagai saksi-saksi yang tetap aktual;
- dalam Wewenang Mengajar Gereja, yang Ia dampingi;
- dalam liturgi sakramental: oleh perkataan dan lambang-lambang yang dengannya Roh menghubungkan kita dengan Kristus;
- dalam doa, di mana Ia membela kita;
- dalam karisma dan tugas-tugas pelayanan, yang olehnya Gereja dibangun; – dalam kehidupan apostolik dan misionaris;
- dalam kesaksian para kudus, di mana Ia menyatakan kekudusan-Nya dan melanjutkan karya keselamatan.
I. Perutusan Bersama Putera dan Roh Kudus
689 Roh Putera, yang Bapa utus ke dalam hati kita, adalah sungguh-sungguh Allah. Sehakikat dengan Bapa dan Putera, Ia tidak dapat dipisahkan dari mereka, baik dalam kehidupan batin Tritunggal, maupun sebagai anugerah cinta untuk dunia. Gereja menyembah Tritunggal Mahakudus yang menghidupkan, yang sehakikat dan yang tidak terpisahkan; tetapi imannya juga mengakui bahwa Pribadi-pribadi itu berbeda satu dari yang lain. Kalau Bapa mengutus Sabda-Nya, maka Ia selalu juga mengutus Napas-Nya, karena itu adalah perutusan bersama, di mana Putera dan Roh Kudus berbeda satu dari yang lain, tetapi tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Kristus nampak sebagai rupa yang kelihatan dari Allah yang tidak kelihatan, tetapi Roh Kuduslah yang mewahyukan-Nya.
690 Yesus adalah Kristus, “yang terurapi”, karena Roh adalah urapan-Nya, dan karena segala sesuatu yang terjadi sejak penjelmaan menjadi manusia, mengalir dari kepenuhan ini. Dan kalau pada akhirnya Kristus dimuliakan, Ia akan mengirim Roh Kudus dari Bapa kepada mereka yang percaya kepada-Nya: Putera menyampaikan kemuliaan-Nya kepada mereka, artinya Ia memberikan Roh Kudus yang memuliakan Dia. Sejak waktu itu perutusan bersama dinyatakan dalam anak-anak, yang telah diangkat oleh Bapa dalam Tubuh Mistik Putera-Nya. Roh keputeraan bertugas untuk mempersatukan mereka dengan Kristus dan membuat mereka hidup di dalam Dia.
“Istilah “urapan” mengingatkan kita … bahwa antara Putera dan Roh, tidak ada jarak. Sama seperti akal budi maupun pancaindera tidak melihat sesuatu antara permukaan badan dan minyak yang dioles di atasnya, demikian pula kontak antara Putera dan Roh itu sifatnya langsung, sehingga siapa pun yang hendak berkontak dengan Putera melalui iman, lebih dahulu berkontak dengan minyak. Pada hakikatnya tidak ada satu bagian pun yang tidak ditutupi oleh Roh Kudus. Itulah sebabnya, mengapa pengakuan ke-Tuhan-an Putera dibuat di dalam Roh Kudus, karena bagaimanapun juga untuk menghampiri Putera dalam iman lebih dahulu harus bertemu dengan Roh” (Gregorius dari Nisa, Spir. 16).
II. Nama, Gelar, dan Lambang Roh Kudus
Nama Roh Kudus
691 “Roh Kudus” adalah nama Dia, yang kita sembah dan kita muliakan bersama Bapa dan Putera. Gereja menerima nama ini dari Tuhan dan mengucapkan-Nya waktu Pembaptisan anak-anaknya yang baru.
Ungkapan “Roh” sepadan dengan kata Ibrani “Ruakh” yang berarti, napas, udara, angin. Yesus memakai lambang yang mengesankan ialah angin, supaya membuat Nikodemus merasakan kenyataan baru, ialah napas Allah, Roh ilahi sebagai Pribadi. Di pihak lain “roh” dan “kudus” adalah sifat ilahi, yang sama-sama berlaku untuk ketiga Pribadi ilahi. Kitab Suci, liturgi, dan bahasa teologi, menggabungkan kedua istilah itu, untuk dapat menyebut Pribadi Roh Kudus – yang tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata itu – tanpa terjadi pencampuran dengan penggunaan yang lain dari kata “roh” dan “Kudus”.
Gelar-gelar Roh Kudus
692 Kalau Yesus mengumumkan dan menjanjikan kedatangan Roh Kudus, Ia menamakan-Nya “Parakletos”, secara harfiah: “ad-vocatus”, yang “dipanggil mendampingi seseorang”. “Parakletos” biasanya diterjemahkan dengan “penghibur” atau “pembantu”, tetapi tidak boleh dilupakan bahwa Yesus adalah pembantu yang pertama. Tuhan sendiri menamakan Roh Kudus “Roh kebenaran” (Yoh 16:13).
693 Di samping nama yang paling banyak dipergunakan dalam Kisah Para Rasul dan dalam surat-surat, terdapat pada santo Paulus nama-nama seperti: “Roh yang dijanjikan” (Gal 3:14; Ef 1:13); “Roh yang menjadikan kamu anak Allah” (Rm 8:15; Gal 4:6); “Roh Kristus” (Rm 8:11); “Roh Tuhan” (2 Kor 3:17); “Roh Allah”, dan pada santo Petrus “Roh kemuliaan” (1 Ptr 4:14).
Lambang-lambang Roh Kudus
694 Air. Dalam upacara Pembaptisan air adalah lambang tindakan Roh Kudus, karena sesudah menyerukan Roh Kudus, air menjadi tanda sakramental yang berdaya guna bagi kelahiran kembali. Seperti pada kelahiran kita yang pertama kita tumbuh dalam air ketuban, maka air Pembaptisan adalah tanda bahwa kelahiran kita untuk kehidupan ilahi, dianugerahkan kepada kita dalam Roh Kudus. “Dibaptis dalam satu Roh”, kita juga “diberi minum dari satu Roh” (1 Kor 12:13). Jadi Roh dalam pribadi-Nya adalah air yang menghidupkan, yang mengalit, dari Kristus yang disalibkan dan yang memberi kita kehidupan abadi.
695 Urapan. Salah satu lambang Roh Kudus adalah juga urapan dengan minyak, malahan sampai ia menjadi sinonim dengan-Nya. Dalam inisiasi Kristen, urapan adalah tanda sakramental dalam Sakramen Penguatan, yang karenanya dinamakan “Khrismation” dalam Gereja-gereja Timur. Tetapi untuk mengerti sepenuhnya bobot nilai dari lambang ini, orang harus kembali ke urapan pertama, yang Roh Kudus kerjakan: Urapan Yesus. “Khristos” (terjemahan dari perkataan Ibrani “Messias”) berarti yang “diurapi dengan Roh Allah”. Dalam Perjanjian Lama sudah ada orang yang “diurapi” Tuhan; terutama Daud adalah seorang yang diurapi. Tetapi Yesus secara khusus adalah Dia yang diurapi Allah: kodrat manusiawi yang Putera terima, diurapi sepenuhnya oleh “Roh Kudus”. Oleh Roh Kudus, Yesus menjadi “Kristus”. Perawan Maria mengandung Kristus dengan perantaraan Roh Kudus, yang mengumumkan-Nya melalui malaikat pada kelahiran-Nya sebagai Kristus, dan yang membawa Simeon ke dalam kanisah, supaya ia dapat melihat yang diurapi Tuhan. Ialah yang memenuhi Kristus,b dan kekuatan-Nya keluar dari Kristus, waktu Ia melakukan penyembuhan dan karya-karya keselamatan. Pada akhirnya Ia jualah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dalam kodrat manusiawi-Nya, yang adalah pemenang atas kematian, setelah sepenuhnya dan seutuhnya menjadi “Kristus”, Yesus memberikan Roh Kudus secara berlimpah ruah, sampai “orang-orang kudus” dalam persatuan-Nya dengan kodrat manusiawi Putera Allah menjadi “manusia sempurna” dan “menampilkan Kristus dalam kepenuhan-Nya” (Ef 4:13): “Kristus paripurna”, seperti yang dikatakan santo Agustinus.
696 Api. Sementara air melambangkan kelahiran dan kesuburan kehidupan yang dianugerahkan dalam Roh Kudus, api melambangkan daya transformasi perbuatan Roh Kudus. Nabi Elia, yang “tampil bagaikan api dan perkataannya bagaikan obor yang menyala” (Sir 48:1), dengan perantaraan doanya menarik api turun alas kurban di gunung Karmel – lambang api Roh Kudus yang mengubah spa yang Ia sentuh. Yohanes Pembaptis, yang mendahului Tuhan “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) mengumumkan Kristus sebagai Dia, yang “akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk 3:16). Mengenai Roh ini Yesus berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala” (Luk 12:49). Dalam “lidah-lidah seperti api” Roh Kudus turun alas para Rasul pada pagi hari Pentekosta dan memenuhi mereka (Kis 2:3-4). Dalam tradisi rohani, lambang api ini dikenal sebagai salah satu lambang yang paling berkesan mengenai karya Roh Kudus”. “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes 5:19).
697 Awan dan sinar. Kedua lambang ini selalu berkaitan satu sama lain, kalau Roh Kudus menampakkan Diri. Sejak masa teofani Perjanjian Lama, awan – baik yang gelap maupun yang cerah – menyatakan Allah yang hidup dan menyelamatkan, dengan menyelubungi kemuliaan-Nya yang adikodrati. Demikian juga dengan Musa di gunung Sinai”, dalam kemah wahyu” dan selama perjalanan di padang gurun”; pada Salomo waktu pemberkatan kanisah”. Semua gambaran ini telah dipenuhi dalam Roh Kudus oleh Kristus. Roh turun alas Perawan Maria dan “menaunginya”, supaya ia mengandung dan melahirkan Yesus (Luk 1:35). Di alas gunung transfigurasi Ia datang dalam awan, “yang menaungi” Yesus, Musa, Elia, Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan “satu suara kedengaran dari dalam awan: Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:34-35). “Awan” yang sama itu akhirnya menyembunyikan Yesus pada hari kenaikan-Nya ke surga dari pandangan para murid (Kis 1:9); pada hari kedatangan-Nya awan itu akan menyatakan Dia sebagai Putera Allah dalam segala kemuliaan-Nya.
698 Meterai adalah sebuah lambang, yang erat berkaitan dengan pengurapan. Kristus telah disahkan oleh “Bapa dengan meterai-Nya” (Yoh 6:27) dan di dalam Dia, Bapa juga memeteraikan tanda milik-Nya alas kita. Karena gambaran meterai [bahasa Yunani "sphragis"] menandaskan akibat pengurapan Roh Kudus yang tidak terhapuskan dalam penerimaan Sakramen Pembaptisan, Penguatan, dan Tahbisan, maka ia dipakai dalam beberapa tradisi teologis untuk mengungkapkan “karakter”, yang tidak terhapuskan, tanda yang ditanamkan oleh ketiga Sakramen yang tidak dapat diulangi itu.
699 Tangan. Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberkati anak-anak kecil, dengan meletakkan tangan ke alas mereka. Atas nama-Nya para Rasul melakukan yang sama. Melalui peletakkan tangan para Rasul, Roh Kudus diberikan. Surat kepada umat Ibrani memasukkan peletakkan tangan dalam “unsur-unsur pokok” ajarannya. Dalam epiklese sakramentalnya, Gereja mempertahankan tanda pencurahan Roh Kudus ini yang mampu mengerjakan segala sesuatu.
700 Jari. “Dengan jari Allah” Yesus mengusir setan (Luk 11:20). Sementara perintah Allah ditulis dengan “jari Allah” alas loh-loh batu (Kel 31:18), “surat Kristus” yang ditulis oleh para Rasul, “ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging yaitu di dalam hati manusia” (2 Kor 3:3). Madah “Veni, Creator Spiritus” berseru kepada Roh Kudus sebagai “jari tangan kanan Bapa”.
701 Merpati. Pada akhir air bah (yang adalah lambang Pembaptisan), merpati, – yang diterbangkan oleh Nuh dari dalam bahtera, – kembali dengan sehelai daun zaitun segar di paruhnya sebagai tanda bahwa bumi sudah dapat didiami lagi. Waktu Kristus naik dari air Pembaptisan-Nya, Roh Kudus – dalam rupa merpati – turun alas-Nya dan berhenti di alas-Nya. Roh turun ke dalam hati mereka yang sudah dimurnikan oleh Pembaptisan dan tinggal di dalamnya. Di beberapa gereja, Ekaristi suci disimpan dalam satu bejana logam yang berbentuk merpati [columbarium] dan digantung di alas altar. Merpati dalam ikonografi Kristen sejak. dahulu adalah lambang Roh Kudus.
III. Roh dan Sabda Allah pada Zaman Janji-janji
702 Sejak awal sampai “genap waktunya” (Gal 4:4) kedua utusan Bapa, yakni Sabda dan Roh tinggal tersembunyi, tetapi bekerja. Roh Allah mempersiapkan Mesias. Tanpa diwahyukan secara penuh, kedua-duanya sudah dijanjikan, supaya mereka dinantikan dan diterima pada waktu penampakan-Nya. Karma itu, kalau Gereja membaca Perjanjian Lama ia mencari di dalamnya spa yang Roh, “yang bersabda melalui para nabi”, hendak mengatakan kepada kita mengenai Kristus.
Iman Gereja mengartikan “para nabi” di sini sebagai semua mereka yang Roh Kudus ilhami dalam penyusunan buku suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tradisi Yahudi membedakan hukum (lima buku pertama, yang dinamakan Pentateukh), para nabi (buku-buku yang kita namakan buku sejarah dan profetis) dan kitab-kitab (terutama buku-buku kebijaksanaan dan teristimewa mazmur).
Dalam Ciptaan
703 Oleh firman dan napas Allah muncullah keberadaan dan kehidupan setiap makhluk:
“Pantaslah bagi Roh Kudus untuk memerintah, menyucikan, dan menjiwai ciptaan, karena Ia adalah Allah yang sama hakikat-Nya dengan Bapa dan Putera … Pantaslah Ia berkuasa alas kehidupan, karena Ia Allah, maka Ia mempertahankan ciptaan oleh Putera dalam Bapa” (Liturgi Bisantin, Tropar dalam Ibadah Malam pada hari-hari Minggu nada kedua).
704 “Allah membentuk manusia dengan tangan-Nya sendiri (artinya dengan Putera dan Roh Kudus) … dan Ia memeteraikan rupa-Nya sendiri pada daging yang sudah dibentuk, sehingga yang kelihatan itu pun membawa rupa ilahi” (Ireneus, dem. 11).
Roh yang Dijanjikan
705 Walaupun dirusakkan oleh dosa dan kematian, namun manusia tetap diciptakan “menurut citra Allah”, menurut citra Putera, tetapi ia sudah kehilangan “kemuliaan Allah” (Rm 3:23), dan “keserupaan” dengan Dia sudah dirampas. Dengan janji yang diberikan kepada Abraham, dimulailah tata keselamatan, yang pada akhirnya Putera sendiri menerima “citra” itu dan memperbaiki-Nya lagi dalam “keserupaan-Nya” dengan Bapa, dengan mengembalikan kepadanya kemuliaan, yakni Roh, “yang memberi kehidupan”.
706 Berlawanan dengan segala harapan manusiawi, Allah menjanjikan keturunan kepada Abraham sebagai buah iman dan kekuasaan Roh Kudus. Di dalamnya segala bangsa di bumi akan diberkati. Keturunan ini adalah Kristus, dan di dalam-Nya pencurahan Roh Kudus menghimpun kembali anak-anak Allah yang tercerai berai. Dengan sumpah Allah mewajibkan Diri, menganugerahkan Putera kekasih-Nya dan “Roh yang dijanjikan”, yang merupakan bagian pertama dari warisan yang akan kita peroleh, “yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah” (Ef 1:13-14).
Teofani dan Hukum
707 Teofani-teofani [penampakan Allah] menerangi jalan perjanjian, dari para bapa bangsa melalui Musa dan Yosua sampai kepada penglihatan-penglihatan yang membuka perutusan nabi-nabi besar. Tradisi Kristen selalu berpendapat bahwa di dalam teofani-teofani ini, Sabda Allah dapat didengar dan dilihat sekaligus secara terbuka dan tersembunyi di dalam awan Roh Kudus.
708 Pedagogi ilahi ini terutama terlihat dalam pemberian hukum. Huruf hukum itu diberikan sebagai “pengawal penjara” untuk menghantar bangsa menuju Kristus (Gal 3:24). Tetapi karena hukum itu tidak dapat menyelamatkan manusia yang telah kehilangan “keserupaannya” dengan Allah dan hanya dapat memperlihatkan dosa dengan lebih jelas lagi, maka kerinduan akan Roh Kudus dibangkitkan, seperti yang disaksikan oleh mazmur-mazmur keluhan.
Pada Zaman Raja-raja dan dalam Pembuangan
709 Sebagai tanda janji dan perjanjian, hukum seharusnya mengatur hati dan lembaga-lembaga umat yang berasal dari iman Abraham. “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku … kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Kel 19:5-6). Tetapi sesudah Daud, bangsa itu jatuh ke dalam percobaan untuk mendirikan satu kerajaan seperti bangsa-bangsa lain. Akan tetapi kerajaan yang dijanjikan kepada Daud, akan dikerjakan oleh Roh Kudus; kerajaan itu akan menjadi milik mereka yang miskin dalam Roh.
710 Pelanggaran terhadap hukum dan ketidaksetiaan terhadap perjanjian membawa kematian. Tibalah masa pembuangan; janji-janji rupa-rupanya ditiadakan. Namun sebenarnya dalam peristiwa itu tampak kesetiaan Allah Penyelamat yang penuh rahasia, dan bersama itu mulailah pula pemulihan yang terjanji – tetapi sesuai dengan Roh. Memang perlu bahwa bangsa Allah mengalami pembersihan ini. Sesuai dengan rencana Allah, pembuangan ini sudah ada dalam bayangan salib, dan “sisa kudus” yang kembali adalah satu dari gambar-gambar Gereja yang paling jelas.
Penantian Mesias dan Roh-Nya
711 “Lihatlah, Aku hendak membuat sesuatu yang baru” (Yes 43:19). Tampak kelihatan dua garis profetis: yang satu menuju ke harapan Mesias, yang lain menuju janji tentang roh yang bare. Kedua-duanya menuju ke sisa kecil, kaum miskin, yang dengan penuh harapan menantikan “hiburan Israel” dan “pembebasan Yerusalem”.
Di atas telah disampaikan, bagaimana Yesus memenuhi ramalan-ramalan menyangkut diri-Nya. Di sini kita membataskan diri pada ramalan, di mana hubungan antara Mesias dan Roh-Nya tampak dengan lebih jelas.
712 Ciri-ciri Mesias yang dinantikan mulai tampak dalam bab-bab tentang Emanuel “ketika [Yesaya] melihat kemuliaan [Yesus]” (Yoh. 12:41). Khususnya dalam Yesaya 11:1-2:
“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai,
dan tanduk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.
Roh Tuhan akan ada pada-Nya,
roh hikmat dan pengertian,
roh nasihat dan keperkasaan,
roh pengenalan dan takut akan Tuhan.”
713 Ciri-ciri Mesias terutama ditampilkan dalam nyanyian hamba Allah. Nyanyian ini telah memperlihatkan arti kesengsaraan Yesus dan dengan demikian menunjukkan bagaimana Ia akan memberikan Roh Kudus untuk menghidupkan orang banyak: bukan dengan bertindak dari luar, melainkan dengan menerima “rupa hamba” kita (Flp 2:7). Karena Ia memikul kematian kita, Ia dapat mengkomunikasikan kehidupan-Nya kepada kita.
714 Karena itu Kristus membuka pewartaan kabar gembira dengan mengenakan kepada diri-Nya sendiri (Luk 4:18-19) ayat-ayat Yesaya 61:1-2:
“Roh Tuhan Allah ada pada-Ku,
oleh karena Tuhan telah mengurapi Aku.
Ia telah mengutus Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang sengsara,
untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan
dan penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,
untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
715 Teks-teks nabi yang langsung menyangkut perutusan Roh Kudus adalah ramalan-ramalan, di mana Tuhan – dalam bahasa janji – berbicara kepada hati bangsa-Nya dalam nada “cinta dan kesetiaan”. Menurut janji-janji ini, Roh Tuhan akan membaharui hati manusia pada “saat-saat terakhir”, dengan menyampaikan kepada mereka satu hukum baru. Ia akan mengumpulkan bangsa-bangsa yang terpisah dan tercerai-berai dan mendamaikan mereka satu sama lain; Ia akan membaharui ciptaan pertama dan di dalam ciptaan baru itu Allah akan hidup bersama manusia dalam suasana damai.
716 Dalam diri kaum miskin – orang yang rendah hati dan lemah lembut, yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada rencana Allahnya yang penuh rahasia, dan yang menantikan keadilan bukan dari manusia, melainkan dari Mesias – Roh Kudus berkarya selama masa janji-janji dalam perutusan-Nya yang tersembunyi untuk mempersiapkan kedatangan Kristus. Hati mereka yang dimurnikan dan diterangi oleh Roh, mengungkapkan diri dalam mazmur-mazmur Dalam diri orang-orang miskin ini, Roh tengah mempersiapkan bagi Tuhan suatu “bangsa yang taat”.
IV. Roh Kristus dalam Kepenuhan Waktu
Yohanes – Perintis, Nabi, dan Pembaptis
717 “Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes” (Yoh 1:6). Yohanes “dipenuhi dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya” (Luk 1:15), yaitu oleh Kristus sendiri, yang sebelumnya telah diterima Perawan Maria dari Roh Kudus. Maka “kunjungan” Maria kepada Elisabet menjadi kunjungan Tuhan sendiri kepada umat-Nya (Luk 1:68).
718 Yohanes adalah “Elia” yang harus datang. Api Roh Kudus menyala di dalamnya, dan mendorongnya menjadi “perintis” yang berjalan mendahului Dia, yang sedang datang. Dalam Yohanes, sang perintis, Roh Kudus menyelesaikan karya-Nya, “menyiapkan bagi Tuhan satu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:17).
719 Yohanes itu “lebih daripada nabi” (Luk 7:26). Di dalam dia, Roh Kudus menyelesaikan “tutur sapa-Nya melalui para nabi”. Yohanes adalah yang terakhir dari mata rantai para nabi yang dimulai dengan Elia. Ia mengumumkan bahwa penghibur Israel sudah dekat; ia adalah “suara” penghibur yang akan datang (Yoh 1:23). Sebagaimana kemudian Roh kebenaran, ia pun datang sebagai “saksi untuk memberi kesaksian tentang terang” (Yoh 1:7). Dengan demikian di depan mata Yohanes, Roh memenuhi apa yang dicari para nabi dan dirindukan para malaikat: “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah … Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:33-36).
720 Dalam diri Yohanes Pembaptis, Roh Kudus memulai dan mempratandai karya yang akan Ia selesaikan bersama dan dalam Kristus yakni pemulihan sifat “serupa dengan Allah” dalam diri manusia. Pembaptisan Yohanes adalah pembaptisan untuk pertobatan; Pembaptisan dalam air dan dalam Roh Kudus akan menghasilkan satu kelahiran baru.
“Bergembiralah, Engkau yang Penuh Rahmat”
721 Ketika tiba waktunya, Maria, Bunda Allah yang suci murni dan tetap perawan, adalah mahkota perutusan Putera dan Roh Kudus. Karena Roh mempersiapkannya, Bapa dalam keputusan keselamatan-Nya menemukan untuk pertama kalinya tempat tinggal, di mana Putera-Nya dan Roh-Nya dapat tinggal di antara manusia. Dalam arti ini tradisi Gereja mengenakan teks-teks terindah tentang kebijaksanaan pada Maria. Maria dipuji dan ditampilkan di dalam liturgi sebagai “takhta kebijaksanaan”.
Di dalam dia mulailah “karya-karya agung” Allah, yang akan diselesaikan Roh, dalam Kristus dan dalam Gereja:
722 Roh Kudus menyiapkan Maria dengan rahmat-Nya. Sungguh pantas ibu dari Dia yang dalam-Nya “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol 2:9), adalah “penuh rahmat”. Semata-mata karena rahmat, sebagai makhluk yang paling rendah hati, yang paling sanggup untuk menerima karunia yang tidak terucapkan dari Yang Mahakuasa, ia dikandung tanpa dosa. Benarlah bahwa malaikat Gabriel menyalami dia – “puteri Sion” – dengan “bergembiralah”. Ketika ia mengandung Puteranya yang abadi, ia melagukan dalam Roh Kudus madah syukur dari seluruh Umat Allah dan dengan demikian juga seluruh Gereja, dalam lagu pujiannya kepada Bapa.
723 Dalam Maria, Roh Kudus melaksanakan keputusan Bapa yang maharahim. Bersama dan oleh Roh Kudus, Perawan Maria mengandung dan melahirkan Putera Allah. Dengan kekuatan Roh Kudus dan dengan kekuatan iman, keperawanannya menjadi subur secara luar biasa.
724 Dalam Maria, Roh Kudus menyatakan Putera Bapa, yang sekarang juga menjadi Putera perawan. Maria adalah semak berduri yang menyala-nyala dari teofani yang definitif. Dipenuhi oleh Roh Kudus, ia menunjukkan Sabda dalam kehinaan daging dan menyatakannya kepada orang-orang miskin dan kepada wakil-wakil bangsa-bangsa kafir yang pertama.
725 Akhirnya melalui Maria, Roh Kudus mulai mengumpulkan ke dalam persekutuan dengan Kristus, manusia-manusia, bagi siapa “cinta Allah yang berbelaskasihan” disediakan. Manusia-manusia yang rendah hati selalu merupakan orang-orang pertama yang menerimanya: para gembala, para majus, Simeon dan Anna, para pengantin di Kana dan murid-murid pertama.
726 Pada akhir perutusan Roh, Maria menjadi “wanita”; Hawa baru, “bunda orang-orang hidup”, bunda “Kristus paripurna”. Dalam kedudukan itu ia bersama dengan keduabelasan “sehati bertekun dalam doa” (Kis 1:14), ketika Roh Kudus pada pagi hari Pentekosta menyatakan awal “zaman terakhir” dengan memunculkan Gereja.
Yesus Sang Kristus
727 Seluruh perutusan Putera dan Roh Kudus pada saat pemenuhan terdapat 438 dalam kenyataan bahwa Putera sejak inkarnasi-Nya adalah Dia, yang terurapi dengan Roh Bapa: Yesus adalah Kristus, Mesias.
Seluruh bab dua pengakuan iman harus dibaca dalam terang ini. Seluruh karya Kristus adalah perutusan bersama Putera dan Roh Kudus. Di sini hanya dicantumkan apa yang menyangkut janji Roh Kudus oleh Yesus dan pencurahan-Nya melalui Tuhan yang dimuliakan.
728 Selama Yesus sendiri belum dimuliakan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia belum mewahyukan Roh Kudus secara penuh dan utuh. Namun lama-kelamaan Ia menunjuk kepada-Nya, sebagaimana dalam ajaran-Nya kepada rakyat, ketika Ia menyatakan bahwa daging-Nya akan menjadi makanan demi kehidupan dunia. Ia menyatakan juga karya Roh kepada Nikodemus, wanita Samaria, dan mereka yang mengambil bagian dalam hari raya pondok daun. Dalam hubungan dengan doa dan kesaksian, yang harus mereka berikan, Ia berbicara kepada murid-murid-Nya secara terbuka mengenai Roh Kudus.
729 Baru setelah saat kemuliaan-Nya tiba, Yesus menjanjikan kedatangan Roh Kudus, karena dalam kematian dan kebangkitan-Nya akan terpenuhilah janji yang diberikan kepada para bapa: Roh kebenaran, paraklet [penghibur] yang lain, akan diberikan oleh Bapa karena doa Yesus; Ia akan dikirim oleh Bapa, karena Ia keluar dari Bapa. Roh Kudus akan datang; kita akan mengenal-Nya; Ia akan selalu hadir di tengah-tengah kita. Ia akan mengajar kita dan akan mengingatkan kita akan segala sesuatu yang telah dikatakan Kristus kepada kita, dan memberi kesaksian tentang Dia; Ia akan mengantar kita kepada seluruh kebenaran dan akan memuliakan Kristus. Ia akan membuktikan kepada dunia mengenai dosa, keadilan dan pengadilan.
730 Akhirnya saat Yesus tiba: Ia menyerahkan roh-Nya ke dalam tangan Bapa ketika Ia mengalahkan maut dengan kematian-Nya. Setelah Ia “dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa” (Rrn 6:4), Ia langsung memberikan Roh, dengan menghembusi murid-murid-Nya. Mulai saat itu perutusan Kristus dan Roh Kudus menjadi perutusan Gereja: “Sama seperti Bapa mengutus Aku demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21)”.
V Roh dan Gereja pada Zaman Terakhir
Pentekosta
731 Pada hari Pentekosta (pada hari terakhir dari ketujuh minggu Paska) selesailah Paska Kristus dalam curahan Roh Kudus. Sekarang Ia nyata sebagai Pribadi ilahi. Sekarang Ia diberikan dan diumumkan secara terbuka sebagai Pribadi ilahi. Kristus Tuhan memberi Roh dalam kelimpahan.
732 Pada hari itu Tritunggal Mahakudus dinyatakan secara penuh dan utuh. Sejak hari itu Kerajaan yang diumumkan Kristus telah dibuka bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Meskipun mereka manusia lemah, namun dalam iman mereka sudah ikut ambil bagian dalam persekutuan Tritunggal Mahakudus. Oleh kedatangan-Nya yang tidak terputus-putus, Roh Kudus membiarkan dunia masuk ke dalam “zaman terakhir”, zaman Gereja: Kerajaan Allah sudah diterima sebagai warisan, namun belum diselesaikan.
“Kami telah melihat terang yang benar, kami telah menerima Roh surgawi, kami telah mendapat iman yang benar. Kami menyembah Tritunggal yang fdak terbagi karena Ia telah menyelamatkan kita” (Liturgi Bisantin; Tropar dalam Ibadat Sore Pentekosta; diambil sebagai nyanyian sesudah komuni dalam perayaan Ekaristi).
Roh Kudus – Karunia Allah
733 “Allah adalah kasih” ( 1 Yoh 4:8.16), dan cinta adalah karunia pertama; ia mengandung segala karunia yang lain. Cinta ini “telah dicurahkan Allah di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5).
734 Karena oleh dosa kita mati, atau paling kurang terluka, maka karya cinta yang pertama adalah pengampunan dosa kita. “Persekutuan Roh Kudus” (2 Kor 13:13) di dalam Gereja mengembalikan kepada orang yang dibaptis, keserupaan dengan Allah yang sudah hilang akibat dosa.
735 Allah memberi kita “uang jaminan”, “uang muka” untuk warisan kita: kehidupan Tritunggal Mahakudus, ialah mencintai, sebagaimana Ia telah mencintai kita. Cinta ini merupakan prinsip kehidupan baru dalam Kristus, yang sudah menjadi mungkin, karena kita “telah menerima kuasa Roh Kudus” (Kis 1:8).
736 Berkat kekuasaan Roh ini anak-anak Allah dapat menghasilkan buah. la, yang telah mencangkokkan kita pada pokok anggur yang benar, membuat kita menghasilkan “buah Roh”, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Roh adalah kehidupan kita; semakin banyak kita kehilangan kehidupan kita sendiri, semakin banyak pula kita “akan mengikuti Roh” (Gal 5:25).
“Roh Kudus membawa kita kembali ke firdaus; menghantar kita ke dalam Kerajaan surga dan kepada pengangkatan sebagai anak; mengajarkan kita untuk penuh kepercayaan menyebut Allah itu Bapa dan mengambil bagian dalam rahmat Kristus, menjadikan kita anak terang dan turut memiliki kemuliaan abadi (Basilius, spir. 15,36).
Roh Kudus dan Gereja
737 Perutusan Kristus dan Roh Kudus terlaksana di dalam Gereja, Tubuh Kristus dan kanisah Roh Kudus. Perutusan bersama ini membuat umat beriman masuk ke dalam persekutuan Kristus bersama Bapa-Nya dalam Roh Kudus. Roh menyiapkan manusia dan mendahului mereka dengan rahmat-Nya, supaya menarik mereka kepada Kristus. Ia mewahyukan kepada mereka tentang Tuhan yang telah bangkit, mengingatkan mereka akan perkataan-Nya dan membuka bagi roh mereka arti kematian dan kebangkitan-Nya. Ia menghadirkan bagi mereka misteri Kristus, terutama dalam Ekaristi, supaya mendamaikan mereka dengan Allah, mempersatukan mereka dengan Dia dan dengan demikian menyanggupkan mereka untuk “berbuah banyak” (Yoh 15:5.8).
738 Jadi perutusan Gereja tidak ditambah pada perutusan Kristus dan Roh Kudus, tetapi adalah sakramen mereka. Sesuai dengan seluruh hakikatnya dan dalam semua anggotanya, Gereja itu diutus untuk mewartakan misteri persekutuan dengan Tritunggal Mahakudus untuk memberi kesaksian, untuk menghadirkan dan semakin menyebarluaskannya (itulah tema dalam artikel berikut).
“Kita semua yang telah menerima Roh yang satu dan sama, yakni Roh Kudus, dihubungkan antara satu sama lain dan bersama dengan Kristus. Walaupun kita banyak pribadi, Kristus membiarkan Roh-Nya dan Roh Bapa-Nya tinggal di dalam setiap kita, namun Roh yang satu dan tidak terbagi ini, mengantar yang berbeda satu sama lain itu melalui diri-Nya menuju kesatuan … dan mengupayakan agar di dalam Dia semuanya menjadi satu dan sama. Dan seperti kekuasaan kodrat manusiawi Kristus yang kudus mengakibatkan bahwa semua, yang di dalamnya Ia ada, membentuk satu tubuh tunggal, demikian menurut pendapat saya, Roh Allah yang satu dan tidak terbagi, yang tinggal di dalam semua orang, mengantar semua orang menuju kesatuan rohani” (Sirilus dari Aleksandria, Jo. 11,11).
739 Karena Roh Kudus adalah urapan Kristus, maka Kristus, Kepala Tubuh, memberikan-Nya kepada anggota-anggota-Nya, untuk memelihara mereka, menyembuhkan mereka, menyelaraskan mereka dalam fungsinya yang berbeda-beda, menggairahkan mereka, mendorong mereka untuk memberikan kesaksian, dan mengikutsertakan mereka dalam penyerahan-Nya kepada Bapa dan dalam doa permohonan-Nya untuk seluruh dunia. Oleh Sakramen-sakramen Gereja, Kristus membagi-bagikan kepada anggota Tubuh-Nya Roh Kudus-Nya yang menguduskan (tema bagian kedua katekismus ini).
740 “Karya-karya agung Allah” ini, yang diberikan kepada umat beriman dalam Sakramen-sakramen Gereja, menghasilkan buahnya dalam kehidupan baru dalam Kristus menurut Roh (tema bagian ketiga katekismus ini).
741 “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm 8:26). Roh Kudus yang melaksanakan karya Allah adalah pelatih doa (tema bagian keempat katekismus ini).
TEKS-TEKS SINGKAT
742 “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: Ya Abba, ya Bapa ” (Gal 4: 6).
743 Kalau Allah mengutus Putera-Nya, Ia selalu mengutus juga Roh-Nya, sejak awal sampai akhir zaman; perutusan mereka berhubungan erat, mereka tidak dapat dipisahkan.
744 Ketika “kepenuhan waktu ” telah tiba, Roh Kudus menyelesaikan dalam diri Maria segala persiapan untuk kedatangan Kristus, yang Ia lakukan dalam Umat Allah. Oleh pengaruh Roh Kudus, Bapa memberi dalam Maria kepada dunia, Emanuel yang berarti “Allah menyertai kita ” (Mat l: 23).
745 Putera Allah ditahbiskan pada saat inkarnasi-Nya oleh urapan dengan Roh Kudus menjadi Kristus /Mesiasj.
746 Oleh kematian dan kebangkitan-Nya Yesus menjadi “Tuhan dan Mesias ” dalam kemuliaan (Kis 2:36). Dari kepenuhan-Nya Ia mencurahkan Roh Kudus atas para Rasul dan atas Gereja.
747 Roh Kudus yang dialirkan Kristus, Kepala, ke dalam anggota-anggotaNya, membangun, menjiwai, dan menguduskan Gereja. Gereja merupakan sakramen persekutuan antara Tritunggal Mahakudus dan manusia.
April 3, 2011 at 4:33 am
@Valentine
Saya kutip pernyataan anda:
“Saya menangkap ayat itu sebagai berikut sesungguhnya Allah Putra benar-benar mengalami penderitaan, saat disalib, bukan saja secara fisik tetapi jg secara rohaniah, batin. Bahwa Allah pernah hadir dalam sejarah manusia dan juga ikut merasakan penderitaan sebagaimana manusia rasakan, ikut merasa kesepian dan ditinggalkan itu adalah FAKTA. Salib Yesus adalah tanda itu!”
Ha ha ha..benar-benar kepercayaan pagan.Allah sepi dan menderita?Makin ngawur aja.Tau gak Tuhan yang disentuh kelemahan adalah Tuhan yang tidak layak disembah(baca:dipertuhankan/ditaati).Tegasnya berarti dia bukan Tuhan.Itu hanyalah Tuhan rekayasa paulus antichrist kecil yang melencengkan ajaran para nabi.Alangkah baiknya kalau anda bertobat dan mengucapkan dua kalimah syahadah.Kepercayaan yang anda pegang ini tidak akan memberi keuntungan kepada anda melainkan sengsara abadi.Semoga Tuhan melindungi!
April 3, 2011 at 4:47 am
@valentine
Nih saya kasih tau Allah yang sebenar.Inilah Tuhan yang semestinya diimani oleh setiap makhluk seperti yang diajarkan dalam Islam.
Mukhaalafatuhuu Ta’aala lil hawaadith
Sifat Allah yang keempat yang wajib kita tahu satu persatu secara tafsil itu ialah sifat mukhaalafatuhuu ta’aala lil hawaadith.Mukhalafatuhu ta’ala lil hadith itu ertinya ialah tidak serupa Allah itu daripada segala yang baharu.Hakikatnya ibarat daripada menafikan bahawa Allah itu bersamaan dengan yang baharu samada dari segi zat,sifat dan af’al(perbuatan).Tidak serupa Allah itu dengan segala yang baharu dari segi zat itu adalah terhimpun di dalam 10 perkara di bawah:
1)Zat Allah itu bukan jirim.Jirim ertinya sesuatu yang memenuhi ruang.
2)Zat Allah itu bukan aradh.Aradh ertinya sifat bagi jirim seperti berwarna berbentuk dan sebagainya.
3)Zat Allah tiada baginya pihak seperti kiri,kanan ,hadapan,belakang,atas, bawah tengah dan lain-lain.
4)Zat Allah itu tiada pada pihak jirim.Seperti di kiri sesuatu,di kanan sesuatu,di belakang sesuatu,di hadapan sesuatu di atas sesuatu dan di bawah sesuatu.
5)Zat Allah itu tiada baginya tempat.Tidak boleh dikatakan Allah itu di sana atau di sini,di luar sesuatu atau di dalam sesuatu,jauh atau dekat.
6)Zat Allah itu tidak di dalam masa.Masa itu tiga perkara iaitu masa yang telah lalu,masa sekarang dan masa yang akan datang.Zat Allah itu tidak ia dahulu ,tidak Ia sekarang dan tidak Ia akan datang.
7)Zat Allah itu tidak bersifat dengan sifat -sifat yang baharu seperti qudrat yang baharu,iradat yang baharu,ilmu yang baharu dan seterusnya.
8)Zat Allah itu tidak bersifat besar.
9)Zat Allah itu tidak bersifat kecil.
10)Zat Allah itu tidak mengambil faedah daripada sebarang perbuatan dan hukumnya.Tetapi perbuatan dan hukumnya tidak sunyi daripada mengandungi hikmah yang maha tinggi yang kembali kepada makhluk.
Adalah bersalahan Allah itu dengan segala yang baharu itu dari segi sifat adalah seperti berikut:
1)Sifat Allah itu qadim sedangkan sifat baharu itu tidak qadim.
2)Sifat Allah itu luas ta’luknya sedangkan sifat baharu itu sedikit ta’luknya.
Adapun bersalahan Allah dengan yang baharu itu dari segi perbuatan pula seperti berikut:
1)Perbuatan Allah itu memberi bekas pada mengadakan sesuatu atau mentiadakan sesuatu sedangkan perbuatan yang baharu itu tidak memberi bekas hanya sekedar kasab dan usaha semata-mata.
2)Perbuatan Allah itu tidak ada yang sia-sia sedangkan perbuatan makhluk itu sia-sia.
3)Allah tidak mengambil faedah dari sebarang perbuatan dan hukumnya sedangkan makluk itu mengambil faedah.Namun demikian perbuatan Allah itu mengandungi hikmah yang maha tinggi kerana jika tidak mengandungi hikmah,nescaya perbuatannya sia-sia dan adalah sia-sia bagi Allah itu hukumnya mustahil.
Jika seseorang bertanya jika demikian bagaimanakah keadaan zat Allah itu?Bagaimanakah dapat diketahui keadaannya yang tidak berjirim,tidak beraradh,tidak berpihak,tidak bertempat dan lain-lain?
Maka kita katakan bahawa kesepuluh perkara di atas menunjukkan bahawa Zat Allah itu adalah di luar dari jangkauan manusia dan sesungguhnya zat Allah itu memang tidak dapat difikirkan.Sayidina Abu Bakar Assiddik berkata “al ‘ajzu ‘anil idraak , idraak” yang bererti apabila lemah kefahaman itulah tanda kefahaman.Yakni apabila telah kita ketahui bahawa zat Allah itu merupakan suatu perkara yang tidak mampu untuk diketahui itulah tandanya kita telah mengetahui.Kita diperintah untuk mengenal Allah sehinggalah kita mengetahui bahawa zatNya memang tidak boleh dikenal.’Ain ilmu kita tentang Allah itulah jahil kita tentang Allah dan jahil kita tentang Allah itulah ‘ain ilmu kita tentangnya.Ini kerana zat Allah itu terlalu hebat sedangkan kemampuan akal adalah sangat terbatas.Rasulullah saw bersabda “tafakkaruu fii khalqillah walaa tafakkaruu fillah fa innahuu lan tuhiitho bihil fikrah” yang bererti berfikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan kamu fikir tentang zat Allah kerana sesungguhnya zat Allah itu tidak sekali-kali dapat diliputi oleh fikiran.
Lawan kepada sifat mukhaalafatuhuu ta’aala lil hawadith itu ialah mumaathalatuhu lil hawadith yakni bersamaan Allah itu dengan segala yang baharu.Mustahil Allah itu bersamaan dengan yang baharu wajib kita iktikadkan Allah itu tidak bersamaan dengan segala yang baharu.
Adalah dalil naqli bahawa Allah itu tidak serupa dengan segala yang baharu ialah firman Allah yang berbunyi “laisa kamithlihii syai un”yang bererti tidak serupa Allah itu dengan segala yang baharu.Dan firmannya lagi di dalam surah Al Ikhlas “walam yakullahuu kufuan ahad”yang bererti tidak ada sesuatu pun yang setara denganNya”.Adalah dalil ‘aqlinya iaitu kalaulah Allah itu serupa dengan yang baharu nescaya Allah itu baharu.Sekiranya Dia itu baharu nescaya menafikan sifat qidam padahal telah sabitlah Allah itu sedia ada sebagaimana yang telah kita ketahui pada pembahasan sifat qidam yang dahulu itu.Oleh itu wajiblah bagi Allah itu tidak serupa dengan segala yang baharu.Jika dibantah dalil ini dengan dikatakan tidak semestinya keserupaan Allah dengan yang baharu itu melazimkan dirinya itu baharu.Maka kita jawab adalah yang dimaksudkan dengan serupa itu ialah pada sepuluh perkara yang telah disebutkan dahulu seperti berjirim,beraradh,berpihak,bertempat,bermasa dan seterusnya hingga akhir sepuluh perkara kerana tidak syak lagi sesiapayang bersifat dengan sifat-sifat tersebut maka mewajibkan dirinya itu baharu.Contohnya ,mengapa kita bertempat?Jawabnya kerana Allahlah yang menjadikan kita dan meletakkan kita pada satu-satu tempat.Adapun Allah sendiri tidak dijadikan oleh sesiapa oleh itu tidaklah Dia bertempat.Bahkan tempat itu sendiri dijadikan oleh Allah dan Allah telah ada sebelum adanya tempat.Oleh itu tidaklah layak bagi zatNya yang maha tinggi daripada mengambil tempat.Kiaskanlah dengan sifat-sifat baharu yang lain.
Masalah was-was.
Sekiranya seseorang itu dihantui oleh was-was sehingga ia terbayang zat Allah itu begitu dan begini hendaklah dia jangan menghiraukan kerana was-was itu datangnya daripada syaitan dan hendaklah dia jangan menghiraukan dan dia tidak berdosa dengan kedatangan was-was tersebut kerana kedatangan was-was itulah adalah di luar kemahuan dirinya.Sebaliknya hendaklah dia membaca doa perlindungan daripada syaitan dengan menyebut a’uuzubillaahiminassyaitaanirrajiim.Di dalam sepotong hadis hendaklah dia membaca aamantubillaahi warasuulih yang bererti aku beriman dengan Allah dan rasulnya.Menurut Abu Sulaiman Addarani sekiranya seseorang itu di datangi oleh was-was seumpama itu hendaklah dia bergembira kerana tujuan syaitan mendatangkan was-was itu ke dalam diri orang-orang yang beriman ialah supaya orang yang beriman itu susah hati.Sebaliknya jika seseorang itu bergembira dengan kedatangan was-was yang tersebut nescaya pergi syaitan itu dengan berputus asa.
Masalah melihat Allah
Menurut iktikad ahli sunnah wal jamaah melihat Allah itu harus samada di dunia dan di akhirat.Sebahagian ulama mempercayai bahawa peristiwa melihat Allah telah berlaku ke atas nabi kita Muhammad saw pada malam mi’raj sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah ibnu Abbas dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Imam Annawawi di dalam kitab Syarah Muslimnya.Adapun tentang melihat Allah diakhirat sesungguhnya telah sabit dengan janji Allah.Ahli sunnah telah berhujjah dengan dalil ‘aqli dan dalil naqli di dalam masalah ini.Adapun dalil ‘aqlinya ialah, adalah Allah itu maujud dan tiap-tiap yang maujud nescaya dapat dilihat.Adalah dalil naqlinya firman Allah Taala yang berbunyi “wujuuhun yauma izin naadhirah ilaa rabbihaa naazhirah”yang bererti wajah-wajah(orang-orang yang beriman)pada hari ini berseri-seri.Dan kepada Tuhan mereka melihat.Mereka juga berhujjah dengan hadis nabi saw ketika baginda menceritakan tipu daya Dajjal yang mengaku dirinya sebagai tuhan yang mana baginda bersabda yang bunyinya “alaa lan tarau rabbakum hattaa tamuutuu”yang ertinya ingatlah kamu tidak sekali-kali akan melihat Tuhan kamu sehinggalah kamu mati.Ini bererti seorang mukmin akan melihat Tuhannya setelah dia meninggal dunia.
Daripada ayat-ayat Al Quran dan hadis nabi itu serta hujjah ‘aqliah tetaplah Allah itu akan di lihat pada hari qiamat.Namun kaifiat(cara)melihat itu tidak seorang pun yang mengetahuinya dan kita serahkan sahaja perkara tersebut kepada Allah ‘azzawajalla.Sekian wallahu a’lam.
April 3, 2011 at 5:14 am
@ilham,anda bilang Tuhan tidak merasa sepi dan ditinggalkan,sekarang kalau memang allah anda itu hanya sebuah zat,mengapa ia menciptakan manusia,langit dan bumi?? udah aja dia sendiri,ngapain dia ciptain manusia??? coba jawab,klo gwa udah punya jwbnnya,tp gwa mau liat jwbn lu dulu,Apa alasannya Tuhan menciptakan manusia???
April 3, 2011 at 5:27 am
Karena itu adalah pilihanNya.Firman Allah:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
23. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.
(Surah Al Anbiya’:23)
April 3, 2011 at 6:05 am
@ilham: cuma segitu doang jawaban lu? itulah makanya allah lu ga bisa dibilang MAHA,kalau dalam Katolik sudah jelas kalau Tuhan Yesus adalah Maha Segalanya,selain Maha Kejam,Maha Besar,Maha Kecil,dan juga Maha Kasih,Tuhan Yesus menciptakan manusia karena ingin berbagi Kasih yang dimilikinya,Tuhan Yesus menciptakan manusia yang berdasarkan citra dan gambarNYA,karena ingin berbagi,makanya manusia ada berbagai macam karakter dan sifat,ada yg jahat dan yg baik.Intinya tujuan penciptaan adalah Tuhan ingin berbagi Kasih/mengasihi,Bagaimana Tuhan bisa mengasihi,kalau DIA hanya seorang diri? Maka dari itu Tuhan menciptakan manusia,agar supaya DIA bisa mengasihi dan menyayangi,dalam islam kan dibilan Allah Maha Penyayang,bagaimana DIA bisa dibilang Maha Penyayang,kalau tidak ada manusia??? itu membuktikan Tuhan juga mempunyai sifat seperti manusia.Nmun sifatNYA ini melebihi dari apa yang manusia miliki,sama seperti yg saya bilang,kalau ada manusia baik ,tentu Tuhan Yesuslah yang paling dan Maha Baik,dan sebaliknya jika ada manusia yg kejam,tentu Tuhan Yesus bisa lebih kejam daripada manusia itu sendiri,dan juga kalau ada manusia yang menderita di bumi ini,tentu lebih menderita Yesus,krena Yesu juga Maha Menderita,dan ini pernah DIA rasakan,waktu DIA menjadi manusia.Itulah jawabannya bahwa Yesus adalah Tuhan yang Maha Segalanya,tidak seperti allah dlm islam yg hanya berupa zat.
April 3, 2011 at 6:08 am
Oleh karena itu, satu-satunya yang memungkinkan dari semua alternatif tentang penciptaan manusia adalah karena kasih Allah yang ingin membagikan kebaikan-Nya kepada semua ciptaan-Nya. Pada akhirnya semua ciptaan akan memuliakan Tuhan. Namun demikian, perlu diingat bahwa kemuliaan Tuhan tidaklah berkurang dengan manusia turut serta memuliakan atau menolak untuk memuja Tuhan, karena kesempurnaan Tuhan adalah mutlak dan tidak tergantung dari apapun.
II. TIDAK MUNGKIN MENGASIHI SESUATU YANG TIDAK/ BELUM ADA
1) Dalam argumentasinya, orang ini berpendapat bahwa seseorang, termasuk Tuhan tidak mungkin mengasihi seseorang kalau orang tersebut belum ada. Prinsip ini ada benarnya dalam ukuran manusia, karena “seseorang tidak mungkin mengasihi sesuatu yang tidak diketahuinya“. Dalam contoh yang dikemukakan, seorang ibu tidak mungkin mengasihi anaknya kalau dia belum mengandung atau melahirkan anaknya. Namun kalau kita mundur sedikit, dan kita tanya kepada ibu tersebut: “Apakah, kalau dia mengandung dan melahirkan dari buah kasih dari suami tercinta, dia akan mengasihi anaknya?” Jawabannya pasti “Ya”. Hanya dengan memaparkan ide tentang kemungkinan untuk mempunyai anak, buah dari kasih antara dia dan sang suami mendatangkan perasaan yang penuh kasih dan hangat.
2) Nah, di dalam contoh di atas, untuk manusia yang mengalami sesuatu dalam urutan waktu, seperti yang dialami oleh ibu tersebut, mulai dari pernikahan, saling mengasihi dengan suami, mengandung, dan melahirkan, maka proses dari ide untuk mempunyai anak sampai kepada realitas, terikat oleh dimensi waktu. Namun kita tidak dapat menerapkan hal ini pada Tuhan, karena Tuhan tidak terikat oleh dimensi waktu. Di dalam Tuhan, sebuah ide atau pemikiran adalah sebuah kenyataan ’saat ini‘. Jadi, pada waktu Dia menciptakan manusia pertama, semua manusia dari Adam sampai manusia terakhir terbentang di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan dapat mengasihi manusia sebelum manusia, seperti kita, dilahirkan di dunia ini. Oleh karena itu Tuhan menciptakan manusia dengan didasari kasih, karena seluruh kehidupan manusia terbentang di hadapan-Nya dengan jelas. Ini artinya, Tuhan dapat mengasihi kita secara pribadi – termasuk orang yang bertanya tentang hal ini, bukan hanya semua umat manusia.
April 3, 2011 at 6:43 am
@ilham: jawaban lu cuma begini doang?
Karena itu adalah pilihanNya.Firman Allah:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
23. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.
(Surah Al Anbiya’:23)
itu sama saja dengan doktrin Trinitas yang anda tidak percayai dgn logika,kalau begitu terima saja,ga usah tanya,begitu??? katanya agama islam,agama yg berdasarkan logika,ditanya tentang tujuan penciptaan,tapi jawabannya begitu,berarti agama islam terbukti agama Orang Goblok,yg cuma bisa terima aja,ga boleh nanya,Kasihan deh islam……
April 3, 2011 at 6:50 am
Ha ha ha..agama Pagan!Allah itu maha Tidak berhajat kepada apa pun termasuk kepada ciptaanNya.Dia maha kasih pada DiriNya sendiri.Dia mencipta makhluk adalah karena kasihNya kepada DiriNya sendiri.Kalau Dia tidak menciptakan makhluk pun toh Dia tetap kasih kepada diriNya sendiri.Sama saja di sisi Allah samda makhluk itu ada atau tiada.Allah itu bersendirian tapi Dia tidak kekurangan.Setelah makhluknya ada Dia tetap bersendirian dan tidak kekurangan dan tidak bertambah kemuliaannya karena adanya makhluk.Allah maha kaya dan maha besar dulu,kini dan selama-lamanya.Dialah azali.Dialah abadi.Dan Dia maha bebas memperbuat sekehendaknya.Perbuatannya itu tidak sia-sia dan hukumannya itu tidak ada kezaliman.Bedakan dengan teliti Tuhan orang Islam dan orang kristian.
April 3, 2011 at 7:04 am
@ilham: ga kebalik lu? masa allah lu ciptain manusia,ga ada tujuannya? allah lu mah ga jelas asal usulnya,mirip dgn ciri2 Iblis,Iblis kan tidak boleh ditanya.
April 3, 2011 at 7:10 am
@ ilham;yg agama pagan itu islam,ngapain satu benda dianggap suci? itu yg namanya pagan,Kabah dianggap suci,diputer2in lagi,Klo dalam Katolik biarpun bnyk patung,tapi tidak ada patung yg dianggap suci,karena patung hanya buatan manusia,kalau dihancurkan,tinggal bikin lagi,tapi coba kalau islam,dihancuri Kabahnya,atau alquran dibakar,pasti pada ngamuk semua,itu karena islam telah menempatkan Kabah dan quran sebagai benda suci/pusaka yg harus disembah.Sekarang siapa yg pagan?? satu benda dianggap suci itu yg namanya pagan.
April 3, 2011 at 7:15 am
@ilham:Paganisme adalah sebuah kepercayaan/praktik spiritual penyembahan terhadap berhala yang pengikutnya disebut Pagan. Pagan pada zaman kuno percaya bahwa terdapat lebih dari satu dewa dan dewi dan untuk menyembahnya mereka menyembah patung, contoh Mesir Kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan lain-lain. Istilah ini telah meluas, meliputi semua Agama Abrahamik, Yahudi, Kristen, dan Islam.
Pada zaman sekarang, Pagan percaya bahwa semua di sekitar mereka suci karena merupakan bagian dari dewa dan dewi. Contohnya, mereka percaya bahwa batu dan pohon adalah bagian dari dewa dan dewi, sehingga keramat. Sumber Wikipedia,apa ga sama tuh dalam islam.
April 3, 2011 at 9:39 am
wakaka..jawapan kamu makin ngawur.Berarti kristian yang menganggap Holy Bible itu suci sebagai paganisme.Lihat bagaimana kristian memuliakan,mengucup salib-salib dan sampai-sampai ada yang sujud kepada patung-patung dan menganggap memuliakan itu semua adalah manefestasi daripada memuliakan Allah.Anda gak tau sejarah.Kaabah pernah runtuh dan terbakar pada zaman Abdul Malik Bin Marwan pemerintah Umayyah yang keempat.Tapi toh,orang Islam tetap sembahyang mengahadap arah kaabah karena perintah Allah sembahyang mengadap arah kaabah bukan kaabah.Itu hanyalah simbol persatuan dan kesatuan.Memuliakan apa yang dimuliakan Allah bukan pagan seperti kita memuliakan kitab suci,nabi-nabi dan lain-lain yang berkaitan.Memuliakan bukan menyembah.Tentang tujuan Allah mencipta memang ada tujuan.Dan tujuan itu dipanggil hikmah.Hikmah artinya kebijaksanaan dalam keadaan tidak ada kepentingan yang diperolehi dan tidak ada sesuatu kekurangan utk dihindarkan.Allah menciptakan alam bukan utk dijadikan teman dan bukan utk menolak kesepiannya.Lemah banget Allah itu kalau gitu.Tapi Dia menciptakan alam atas dasar hikmah.Artinya tidak ada yang sia-sia dalam penciptaanNya.Mengapa?Karena dengan menciptakan manuia dan alam semesta,manusia dapat mengenaliNya.Jadi faedahnya kembali kepada makhluk bukan kepada diriNya.Bandingkan dengan ketuhanan kristian.Tuhan itu sepi lalu Dia menciptakan makhluk.Wakaka…Ini bukan sifat Tuhan.Ini sifat makhluk yang lemah yang dipertuhankan dan inilah yang dikatakan paganisme.
April 3, 2011 at 12:26 pm
@ilham;berarti anda memvonis bahwa semua bangsa di dunia ini pagan dong,itu bendera pakai dihormati kalau lg upacara,kalau dlm olah raga termasuk sepak bola,mesti nyanyi lagu kebangsaan dulu,trus klo ngegolin,cium lambamg negara di bajunya,atau cium cincin di tangannya,sadar dong,lu juga pernah ikut upacara bendera kalau 17an kan? berarti lu juga pagan dong? ha ha ha…..makanya kalau ga ngerti tentang Kristen ,jgn omong.orang Kristen itu menghormati kitab suci,sama seperti semua bangsa menghormati bender negaranya.Kalau semua bangsa ini memang jadi pagan,ini berarti tidak bertentangan oleh apa yg Yesus perintahkan “Pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridKU, dan baptiskanlah dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”.Termasuk pra muslim di seluruh dunia telah terpengaruh paganisme,buktinya kalian semua hormat pada benera negara,dan kalian merayakan hari Minggu,kalian hari Minggu,libur kan?? dan merayakan Yahun Baru Masehi.TERBUKTI TAHUN BARU atau Kalender yg kalian pakai sekarng itu adalah prodik dari Katolik,dari Santo Gregorius,makanya disebut kalender Gregorian,HA HA HA ……muslim cuma bisa ikut Kristen di belakang.
April 3, 2011 at 12:27 pm
Kalender Gregorian adalah kalender yang sekarang paling banyak dipakai di Dunia Barat. Ini merupakan modifikasi Kalender Julian. Yang pertama kali mengusulkannya ialah Dr. Aloysius Lilius dari Napoli-Italia, dan disetujui oleh Paus Gregorius XIII pada tanggal 24 Februari 1582. Penanggalan tahun kalender ini, berdasarkan tahun Masehi.
Kalender ini diciptakan karena Kalender Julian dinilai kurang akurat, sebab permulaan musim semi (21 Maret) semakin maju sehingga perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325 tidak tepat lagi.
Lalu pada tahun 1582, Kamis-4 Oktober diikuti Jumat-15 Oktober.
Daftar isi [sembunyikan]
1 Perbedaan dengan Kalender Julian
1.1 Masalah
2 Lain-lain
3 Bulan
4 referensi
5 Lihat pula
6 Pranala luar
[sunting]Perbedaan dengan Kalender Julian
Satu tahun dalam Kalender Julian berlangsung selama 365 hari 6 jam. Tetapi karena revolusi Bumi hanya berlangsung selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik, maka setiap 1 milenium, Kalender Julian kelebihan 7 sampai 8 hari (11 menit 14 detik per tahun). Masalah ini dipecahkan dengan hari-hari kabisat yang agak berbeda pada kalender baru ini. Pada kalender Julian, setiap tahun yang bisa dibagi dengan 4 merupakan tahun kabisat. Tetapi pada kalender baru ini, tahun yang bisa dibagi dengan 100 hanya dianggap sebagai tahun kabisat jika tahun ini juga bisa dibagi dengan 400. Misalkan tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan tahun kabisat. Tetapi tahun 1600 dan 2000 merupakan tahun kabisat.
[sunting]Masalah
Setelah Kalender Gregorian dicanangkan, tidak semua negara mau memakainya. Baru beberapa abad setelah ini, hampir semua negara barat mau mengimplementasikannya. Rusia baru mengimplementasikannya pada tahun 1918. Dengan demikian Revolusi Komunis Rusia yang sekarang diperingati setiap tanggal 7 November, disebut sebagai Revolusi Oktober.
Gereja Ortodoks sampai saat ini masih memakai Kalender Julian.
[sunting]Lain-lain
Pada tanggal 1 Januari 1622, 1 Januari ditetapkan sebagai permulaan tahun. Sebelumnya hal ini setiap negara Eropa berbeda-beda.
[sunting]Bulan
The knuckle mnemonic.
Setiap tahun dibagi menjadi 12 bulan:
Penanggalan Gregorian Lama Hari Asal usul nama bulan
Januari 31 Janus (Dewa permulaan dan akhir bangsa Romawi)
Februari 28/29 Februus (Dewa kematian dan pemurnian Romawi, yang juga menjadi dewa bangsa Etruskan). Bulan ini menjadi bulan perayaan ritual pemurnian di Romawi yang dirayakan setiap tanggal 15 bulan ini.[1][2][3]
Maret 31 Mars (Dewa perang Romawi)
April 30 bahasa Latin:aperire yang artinya membuka. Bulan April (Aprilis) dalam kalender Romawi merupakan penghormatan untuk dewi Venus. Kata April diambil dari nama Venus dalam bahasa Yunani yaitu Aphrodite (Aphros).
Mei 31 Maia Maiestas (Dewi Romawi)
Juni 30 Juno (Dewi Romawi, istri Jupiter (mitologi))
Juli 31 Julius Caesar (Roman dictator) (bulan ini sebelumnya disebut Quintilis, bulan ke-6 kalender Romawi)
Agustus Augustus (Kaisar Romawi pertama) (bulan ini sebelumnya disebut Sextilis, bulan ke-6 kalender Romawi)
September 30 Septem (bahasa Latin untuk tujuh, bulan ke-7 kalender Romawi)
Oktober 31 Octo (bahasa Latin untuk delapan, bulan ke-8 kalender Romawi)
November 30 Novem (bahasa Latin untuk sembilan, bulan ke-9 kalender Romawi)
Desember 31 Decem (bahasa Latin untuk sepuluh, bulan ke-10 kalender Romawi)
Total 365/366
April 3, 2011 at 12:32 pm
@ilham:gwa makin kasihan sama lu,lu bilang Kristen agama pagan,tapi kenyataannya lu juga mengikuti ajaran pagan itu,kayak upacara bendera,dan juga kalender,jgn bilang lu pake kalender hijriyah,soalnya kalau lu bilang begitu,lu berarti cuma sendirian yg pake,ha ha ha….. MUSLIM GOBLOK,BISANYA HAMYA MENGIKUTI PAUS KATOLIK,HA HAH HA……
April 3, 2011 at 12:12 pm
PENGUMUMAN,ada ga yg nabinya dilahirkan dari bangsa yg doyan ngentot kayak gini
http://longporntube.com/vs/niches/arab1.php
Pasti ada,tuh si nabi mamad.
April 3, 2011 at 12:59 pm
Buat para muslim jangan mimpi,kalian masih hidup di bawah pengaruh Kristen dan juga Gereja Katolik,terbukti kalender yg kalian/kita semua pakai adalah produk dari Kristen,yang melalui Gereja Katolik.
http://en.wikipedia.org/wiki/Gregorian_calendar
April 3, 2011 at 1:02 pm
The Gregorian calendar, also known as the Western calendar, or Christian calendar, is the internationally accepted civil calendar.[1][2][3] It was introduced by Pope Gregory XIII, after whom the calendar was named, by a decree signed on 24 February 1582, a papal bull known by its opening words Inter gravissimas.[4] The reformed calendar was adopted later that year by a handful of countries, with other countries adopting it over the following centuries. The motivation for the Gregorian reform was that the Julian calendar assumes that the time between vernal equinoxes is 365.25 days, when in fact it is about 11 minutes less. The error between these values was about 10 days, accumulated at the rate of about three days every four centuries, resulting in the equinox occurring on March 11 and moving steadily earlier in the calendar, by the time of the reform. Since the equinox was tied to the celebration of Easter, the Roman Catholic Church considered that this steady movement was undesirable.
The Gregorian calendar reform contained two parts, a reform of the Julian calendar as used up to Pope Gregory’s time, together with a reform of the lunar cycle used by the Church along with the Julian calendar for calculating dates of Easter. The reform was a modification of a proposal made by the Calabrian doctor Aloysius Lilius (or Lilio).[5] Lilius’ proposal included reducing the number of leap years in four centuries from 100 to 97, by making 3 out of 4 centurial years common instead of leap years: this part of the proposal had been suggested before by, among others, Pietro Pitati. Lilio also produced an original and practical scheme for adjusting the epacts of the moon for completing the calculation of Easter dates, solving a long-standing difficulty that had faced proposers of calendar reform.
The Gregorian calendar continued the previous year-numbering system (Anno Domini), which counts years from the traditional Incarnation of Jesus, and which had spread throughout Europe during the Middle Ages. This year-numbering system is the predominant international standard today.[6]
The Gregorian calendar modified the Julian calendar’s regular cycle of leap years, years exactly divisible by four,[7] including all centurial years, as follows:
Every year that is exactly divisible by four is a leap year, except for years that are exactly divisible by 100; the centurial years that are exactly divisible by 400 are still leap years. For example, the year 1900 is not a leap year; the year 2000 is a leap year.[8]
In addition to the change in the mean length of the calendar year from 365.25 days to 365.2425 days (a difference of 10.8 minutes per year), the Gregorian calendar also dealt with the past accumulated difference between these lengths. Due mostly to this discrepancy,[9] between AD 325 (when the Roman Catholic Church thought the First Council of Nicaea had fixed the vernal equinox on 21 March), and the time of Gregory’s edict in 1582, the vernal equinox had moved backward in the calendar, until it was occurring on about 11 March, 10 days earlier. The Gregorian calendar therefore began by dropping 10 calendar days, to revert to the previous date of the vernal equinox.
Because of the Protestant Reformation, however, many Western European countries did not initially follow the Gregorian reform, and maintained their old-style systems. Eventually other countries followed the reform for the sake of consistency, but by the time the last adherents of the Julian calendar in Eastern Europe (Russia and Greece) changed to the Gregorian system in the 20th century, they had to drop 13 days from their calendars, due to the additional accumulated difference between the two calendars since 1582.
April 6, 2011 at 12:29 am
WASPADA TIPU MUSLIHAT KRISTENISASI.BIBLE MENGAJARKAN BERBOHONG DEMI TEGAKNYA AGAMA KRISTEN.. INIKAH KITAB SUCI ITU???by STOP MISI KRISTENISASI on Sunday, January 2, 2011 at 5:18am
NOTA INI DIBUAT BUKAN MENGHINA ATAU MENGHUJAT.. TAPI MENGUNGKAP KEBENARAN & MENDOBRAK KEBATILAN KEJAHATAN KRISTENISASI…
Mengapa mayoritas pendeta-pendeta Kristen dan misionaris-misionaris Kristen sering menipu, gemar berbohong, suka mengedit Alkitab, dan memiliki watak sebagai pemalsu?
Orang Kristen menipu karena mereka percaya, mereka iman, bahwa menipu adalah halal demi tegaknya agama Kristus di muka bumi.
Jika Anda tidak percaya, simaklah dibawah ini.
Paulus berkata :
“Sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita. ” (Filipi 1:18 TB)
“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3:7 TB)
Tahukah Anda?
Lagi-lagi Pendeta-pendeta Kristen Pagan Trinitarian mengedit Alkitab. Mereka telah merevisi kebobrokan Roma 3:7 dalam Alkitab update-an terbaru yang diberi nama Contemporary English Version (CEV).
Pendeta Pagan Trinitarian telah merevisi “aku” (yaitu Paulus) menjadi “kamu” (yaitu orang lain).
Perhatikan hasil revisi Roma 3:7 dibawah ini
“Since your lies bring great honor to God by showing how truthful he is, you may ask why God still says you are a sinner. ” (Rome 3:7 CEV Bible)
Kepada jemaat kota Korintian Yunani, Paulus berkata:
“But be it so, I did not burden you: nevertheless, being crafty, I caught you with guile.” (2 Korintus 12:16 KJV)
“Saya tidak membebanimu: tetapi, dalam kelicikan, saya jerat kamu dengan tipu daya.” (2 Korintus 12:16 Terjemahan KJV)
Tahukah Anda?
Gereja telah mengedit 2 Korintus 12:16 dalam berbagai edisi Alkitab terbaru.
Bible edisi CEV, BIS, dan ESV sudah merevisi ayat ini.
(ESV) But granting that I myself did not burden you, I was crafty, you say, and got the better of you by deceit.
(BIS) Nah, kalian setuju bahwa saya tidak pernah menyusahkan kalian. Namun ada yang berkata bahwa saya ini licik; bahwa saya mendapat keuntungan dari kalian karena tipu daya saya.
(CEV) You agree that I wasn’t a burden to you. Maybe that’s because I was trying to catch you off guard and trick you.
Paulus adalah orang merasa dirinya bebas, berdasarkan pernyataannya sendiri!
1 Korintus 9:19-21 KJV
19 For though I be free from all men, yet have I made myself servant unto all, that I might gain the more.
20 And unto the Jews I became as a Jew, that I might gain the Jews; to them that are under the law, as under the law, that I might gain them that are under the law;
21 To them that are without law, as without law, (being not without law to God, but under the law to Christ,) that I might gain them that are without law.
Terjemahan 1 Korintus 9:19-21
(Note: Saya melepaskan kalimat sisipan yang ditandai tanda kurung yang dilakukan oleh pendeta Kristen)
19. Karena Aku menjadi bebas dari semua orang, namun aku membuat diriku sendiri melayani semua, sehingga memungkinkan saya untuk mendapatkan lebih banyak lagi.
20. Dan kepada orang-orang Yahudi Aku menjadi seperti orang Yahudi, sehingga Aku memenangkan orang-orang Yahudi; kepada mereka yang mengikuti hukum, seperti yang mengikuti hukum, sehingga saya memenangkan mereka yang adalah mengikuti hukum;
21. Kepada mereka yang tanpa hukum, seperti tanpa hukum, sehingga saya memenangkan mereka yang tanpa hukum.
Tahukah Anda?
Perhatikan bahwa pendeta Kristen dalam KJV 1 Korintus 9:19-21 merasa perlu untuk memberi kalimat “being not without law to God, but under the law to Christ” dengan tanda kurung.
Dalam Bible revisi terbaru bahkan kalimat tsb dilepaskan tanda kurungnya!
(CEV) And when I am with people who are not ruled by the Law, I forget about the Law to win them. Of course, I never really forget about the law of God. In fact, I am ruled by the law of Christ.
(BIS) Terhadap orang bukan Yahudi, saya berlaku seperti seorang bukan Yahudi, yang hidup di luar hukum Musa. Saya lakukan itu supaya saya bisa menarik mereka menjadi pengikut Kristus. Tetapi itu tidak berarti bahwa saya tidak taat kepada perintah-perintah Allah; saya justru dikuasai oleh perintah-perintah Kristus.
Paulus mengakui diri sebagai orang bodoh dan ajaran-ajarannya merupakan ajaran bodoh!
“Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah.” (2 Korintus 11:17 TB)
Berdasarkan pengakuannya sendiri, Paulus adalah seorang Farisi. Ia dilaporkan pernah berkata: “Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi.” (Kisah Para Rasul 23:6 TB)
Yesus mengecam kaum Farisi:
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik…” (Matius 23:13 TB)
Yohanes pun mengecam kaum Farisi :
“…Hai kamu keturunan ular beludak…” (Matius 3:7 TB)
Jadi kesimpulannya adalah karena Paulus adalah orang Farisi, maka ia termasuk golongan hipokrit (munafik) dan ular beludak!
Bapak Gereja bernama Eusebius dari Caesarea dilaporkan pernah berkata:
“It is an act of virtue to deceive and lie, when by such means the interests of the church might be promoted” (source)
(Adalah satu perbuatan baik untuk berbohong dan berdusta, dengan begitu kepentingan- kepentingan gereja dipromosikan. )
Bapak Gereja bernama Jerome berkata:
“Great is the force of deceit! provided it is not excited by a treacherous intention” (source)
(Kebesaran adalah kekuatan penipuan! asal tidak ditimbulkan oleh satu maksud cedera).
Lloyd Graham mengatakan pandangannya mengenai bapak-bapak gereja :
“Adalah umum diketahui bahwasanya bapak-bapak gereja adalah penipu; Katholik mengakui hal itu. Berdasarkan Catholic Encyclopedia, “Pada semua bagian-bagian penipuan dan interpolasi ini sebagaimana kebodohan telah dibuat pada sebuah skala besar.”
(Lloyd Graham, Deceptions and Myths of the Bible, hal.455–source)
Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka jika mati tidak sempat bertobat!Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah supaya kalian mendapat kejayaan.
Sumber:http://www.facebook.com/notes/stop-misi-kristenisasi/waspada-tipu-muslihat-kristenisasibible-mengajarkan-berbohong-demi-tegaknya-agam/157150500999218
April 6, 2011 at 2:14 am
Sejak awal pendiriannya, Islam dimaksudkan untuk menyatukan suku-suku Arab yang tercerai-berai, membangkitkan semangat nasionalisme Arab dan mendirikan kerajaan padang pasir yang berhaluan teokratis dan imperialis.
Sebelum kerajaan Islam didirikan oleh Khottam Halaby, jazirah Arab tidak memiliki pemerintahan. Setiap wilayah dipimpin oleh kepala-kepala suku, dan kerap kali antar suku terjadi peperangan untuk mendapatkan wilayah atau bentrok karena suatu perselisihan atau karena sebab-musabab lain.
Khottam Halaby, adalah orang Arab asli, dari suku Quraish, yang menyembah 360 berhala dengan ratunya bernama Allah.
Khottam Halaby, sejak berhubungan dengan Khadijah, dia sering bepergian ke Siria mengantarkan barang dagangan. Tentu saja dia sering mendengar cerita-cerita peperangan besar antar bangsa beserta kemenangannya yang luar biasa, seperti bangsa Goth (Jerman) melawan Romawi, bangsa Romawi melawan Persia, atau bangsa Hun yang ganas melawan bangsa Goth. Dia sangat ingin bangsa Arab bisa menjadi seperti bangsa-bangsa besar itu, yang menurutnya PERKASA dan PENUH KEJAYAAN itu dengan dipimpin oleh raja-rajanya. Arab tidak bisa maju dan berdiri menjadi sebuah bangsa yang besar, bila tidak mempunyai pemerintahan, dan antar suku-nya berperang melulu.
Khottam mulai berpikir, bagaimana caranya dia bisa menyatukan bangsa Arab.
Pada abad ke-6 dan ke-7 Masehi, suasana Timur Tengah diwarnai oleh fanatisme agama, terutama agama Katolik. Para Paus yang mendapat dukungan kekuasaan dari pemerintah yang sedang berkuasa, kerap melakukan pemaksaan dan penindasan terhadap kaum bidah. Acapkali perbedaan yang ada, selalu diselesaikan dengan jalan kekerasan, hal mana dalam ajaran aslinya, hal itu tidak pernah diajarkan. Pembantaian terjadi di sana-sini, dan pengejaran terhadap kaum bidah dilakukan oleh pihak penguasa atas perintah pemimpin gereja.
Orang-orang pada zaman itu, sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip relijius. Mereka sangat percaya pada mistik dan hal-hal yang berbau keagamaan. Mereka bahkan menjadikan patung-patung para santo/santa sebagai rujukan permohonan doa-doa mereka agar sampai kepada Sang Ilahi. Begitu relijiusnya kehidupan masyarakat kala itu, tentu cukup membawa pengaruh besar bagi Khottam Halaby.
Hal inipun terimbas ke Arab. Beberapa orang Arab bahkan ada yang mengaku nabi, di antaranya yang paling terkenal adalah Musailama, seorang nabi perempuan. Jadi, Khottam Halaby bukanlah yang satu-satunya.
Demi cita-cita yang luhur itu, menaikkan derajat bangsa Arab dan agar bangsa Arab tidak lagi dilecehkan oleh bangsa-bangsa lain, sebagai bangsa yang bodoh dan tidak memiliki sejarah, tidak punya nabi sendiri, dan tidak punya kitab suci sendiri, maka ia mengaku dirinya nabi di kota Mekkah.
Ia ingin semua orang Mekkah mau mengakuinya nabi, sebagaimana nabi Musa diakui oleh seluruh umat Yahudi. Untuk meyakinkan mereka bahwa dirinya benar-benar nabi, dia mengangkat isu “KEESAAN TUHAN”. Ia harus berani menentang keyakinan pagan orang-orang Quraish itu, dan ia harus berani mempromosikan “TAUHID” kepada kalayak, agar dia tidak dituduh macam-macam, hanya mempromosikan dirinya sendiri saja selaku nabi.
Ternyata, langkah yang diambilnya ini tidak bisa dibilang berhasil, karena walaupun ada puluhan orang yang bersedia menjadi pengikutnya, sebagian besar masyarakat Quraish menolaknya. Sampai dia hijrah, jumlah pengikutnya tidak lebih dari 80 orang. Kegagalan Khottam ini dapat dimaklumi, karena ia tidak bisa membuktikannya. Seorang nabi asli, akan dibekali BUKTI-BUKTI yang sifatnya ADIKODRATI oleh Tuhan. Tetapi, seorang yang ngaku-ngaku nabi, sudah barang tentu tidak ada sesuatu pun yang bisa dia tunjukkan. Ini di luar dugaannya, sebab semula, dia tidak menyangka bahwa dirinya bakal diminta menunjukkan bukti-bukti mujizat untuk membuktikan kenabiannya.
Akhirnya, dengan cara KEKERASAN-lah ia bisa sukses menggapai cita-citanya.
Setelah hijrah ke Medinah, Khottam mendapat dukungan dari gerombolan preman, para pengangguran, pencopet dan perampok yang selama ini mereka memang suka mengganggu para pedagang Yahudi di kota itu. Orang-orang Yahudi di kota Medinah tergolong orang-orang sukses, yang ulet dan rajin bekerja. Itulah sebabnya, orang Yahudi di Medinah kaya-kaya dan banyak hartanya, hal mana membuat orang-orang badui Arab Medinah merasa iri dan timbullah kesenjangan sosial.
Dengan jalan KEKERASAN, memaksakan kehendak, merampok, menjarah dan membunuh musuh-musuhnya secara kejam, hanya itu satu-satunya cara, agar Khottam dapat sukses menjadikan bangsa Arab menjadi sebuah KERAJAAN (NEGARA) yang PERKASA di antara bangsa-bangsa lain.
Setelah di Medinah itu, Khottam mengganti namanya sendiri dengan “YANG MULIA“, dalam bahasa Arabnya AHMAD atau MUHAMMAD.
Jadi, pada prinsipnya, ISLAM bukanlah AGAMA. Muhammad alias Khottam Halaby ini merasa perlu melapisi niat kebangsaannya itu dengan dalih AGAMA, sebab SUASANA KEAGAMAAN MASYARAKAT TIMUR TENGAH ketika itu yang mempengaruhinya.
Begitu kuatnya pengaruh reliji dalam kehidupan masyarakat kala itu, maka tidak ada cara lain yang lebih lihai kecuali memakai jurus reliji pula untuk mempengaruhi orang lain agar bersedia ikut dengannya.
Muhammad telah berhasil membuat bangsa Arab yang semula diasingkan dan disepelekan oleh bangsa-bangsa lain itu, merasa bangga, sebab kini Arab punya AGAMA SENDIRI, punya NABI SENDIRI, dan bahkan punya TUHAN SENDIRI.
Tidak hanya itu, nasionalisme Arab menjadi bangkit berkobar-kobar dengan penuh semangatnya sejak Muhammad sukses menguasai seluruh jazirah. Bahkan setelah ia mati pun, para pengikutnya tetap meneruskan ambisi dan cita-cita luhurnya itu, yaitu MENAKLUKKAN DUNIA di bawah kekuasaan Arab.
ISLAM bukan agama. Islam adalah NEGARA ARAB.
Jadi, setiap orang yang mengaku beragama Islam, berarti dia telah memilih menjadi WARGA NEGARA ARAB (dalam pengertian rohani).
Walau secara lahiriah, muslim adalah orang Indonesia, tapi secara jiwa, ia bukan lagi orang Indonesia, tapi orang Arab.
Dan untuk membuktikan kesetiaan “para warga negara Arab” itu, mereka diwajibkan untuk SUJUD MENYEMBAH ke arah NEGARA ARAB, dengan kota Mekkah sebagai pusatnya. SUJUD MENYEMBAH ke arah Negara Arab, sebagai tanda diri tunduk dan patuh pada PEMIMPIN MEREKA yang ada di Arab, dengan Muhammad sebagai simbolnya, walau Muhammad sudah digantikan oleh pemimpin Arab yang lain.
SUJUD TANDA KESETIAAN sebagai WARGA NEGARA ARAB ini dilakukan sesuai jadwal yang sudah ditentukan Muhammad, yaitu dimulai dari saat Subuh, saat Duhur, Azhar, Maghrib dan Isyak. Jadi, sebanyak 5 kali sehari (mulai pagi bangun tidur, hingga malam menjelang tidur) mereka harus melakukan SEMBAH SUJUD itu kepada NEGARA ARAB.
Kita memang tidak menyadarinya, karena Arab dengan cerdiknya, membungkus ritual sholat itu sebagai bentuk ritual relijius, AGAMA. Untuk AWLOH, kata mereka. Untuk tanda ketaatan kita kepada AWLOH, “tuhan sang pencipta”. Padahal, sebenarnya semua ritual itu adalah untuk TANDA KESETIAAN MUSLIM sebagai BUDAK MUHAMMAD kepada NEGARA ARAB.
Sekali lagi, ISLAM bukan AGAMA. ISLAM adalah NEGARA ARAB.
Setiap orang yang mengaku Islam, berarti dia telah memilih untuk menjadi “singkek”, secara lahiriah ia orang Indonesia, tapi secara rohani, ia adalah WARGA NEGARA ARAB.
Seringkali sahabat-sahabat saya yang Tionghoa mengadu pada saya, “Pak, saya sering dikatain singkek oleh orang Islam. Sebenarnya apa sih maksudnya, kok orang Islam suka mengatai kami begitu? Bapak Duladi khan juga muslim, jangan-jangan bapak dalam hati mengejek kami singkek pula.”
Saya jawab, “Singkek itu artinya orang yang secara lahiriah bangsa A, tapi hatinya bangsa B. Nah, orang Islam itu menyadari kalau dirinya itu SINGKEK SEJATI, itulah sebabnya mereka suka MALING TERIAK MALING. Karena muslim itu SINGKEK. Kenapa mereka singkek sejati? Sebab secara lahiriah mereka orang Indonesia, tapi hatinya Arab. Jadi, mereka itu singkek. Itulah sebabnya, agar mereka tidak merasa singkek, mereka menuduh kalian lebih dulu sebagai singkek. Persis sama seperti yang diperbuat Muhammad dahulu. Dia ngarang-ngarang ayat dan bikin kitab suci sendiri, lalu mengklaimnya “INI DARI ALLAH”, tapi agar dia tidak dituduh, dia menuduh orang Yahudi lebih dulu. Ini bisa kalian baca di Surat Al-Baqoroh ayat 79 kalau kalian punya Alquran.”
Mereka heran lalu bertanya, “Lho, berarti singkek itu artinya negatif dong, Pak.”
Saya tertawa, “Singkek-nya Tionghoa itu baik. Sebab apa? Secara lahiriah orang Tionghoa itu khan berasal dari etnis bangsa Tiongkok. Tapi, orang Tionghoa yang lahir dan dibesarkan di bumi Nusantara ini, hatinya sudah tidak lagi tertuju pada daratan Tiongkok, tapi hatinya untuk bangsa Indonesia yang tercinta ini. Jadi, kalau kalian dijuluki singkek oleh orang muslim, kalian harusnya malah bangga. Ini khan berarti BAGUS dan BAIK untuk negara dan bangsa kita, bangsa Indonesia. Tidak seperti muslim, mereka lahiriahnya Indonesia, tapi hatinya Arab. Justru mereka itulah yang mesti dikeplaki kepalanya pakai sandal biar nyadar. Mereka itu goblok.”
Salah seorang dari mereka, bernama Pak Hui, menyela sambil tertawa, “Lho, sampeyan iki wong muslim kok njelek-jelekkan agama sendiri, wah, jangan-jangan sampeyan iki bunglon.”
Saya jawab singkat saja, “Memang saya muslim di KTP, tapi hati saya sudah bukan muslim. Tapi tolong jangan disiarkan ke mana-mana, lho, orang Islam itu berbahaya.”
Sudah hampir 30 tahun ini saya merasa Kristen, walau secara lahiriah saya kelihatan Islam tulen karena waktu sore hari sehabis mandi, saya suka sekali pakai sarung dan kopya (untuk menutupi rambut saya yang sudah banyak uban) sewaktu santai di rumah. Tapi dibilang Kristen pun tidak bisa, karena saya juga tidak pernah pergi ke gereja. Hahaha… Saya banyak mengenal Kristen dari teman-teman dan dari membaca buku-buku serta literatur di internet.
PEMAKSAAN MASUK ISLAM, sama dengan MEMAKSA ORANG AGAR MENJADI WARGA NEGARA ARAB, cinta pada Arab dengan segala budayanya, dan hidupnya diabdikan untuk Arab
Kita lihat Persia, sekarang jadi Arab.
Mesir, sudah kehilangan jati dirinya, kini menjadi Arab.
Turki, Pakistan, Afghanistan, Irak, Sudan semuanya sudah jadi Arab.
Masih ingat dengan GERAKAN WAHABI? GERAKAN WAHABI adalah CITA-CITA MUHAMMAD.
Sungguh bodoh, para ulama kita yang menampik hal itu dan menganggap WAHABISME bukanlah cita-cita Islam. Wahabisme memang cita-cita Muhammad.
Dengan mencintai Islam, berarti Anda mencintai Arab.
Karena Muhammad sendiri sudah berkata:
Hadits Mishkat Vol. 3, no. 5751
Melaporkan bahwa rasul berkata: “Cintailah Arab karena tiga alasan karena (1) Aku orang Arab (2) Quran dalam Bahasa Arab dan (3) lidah para penghuni surga akan juga berbahasa Arab.”
Islam, identik dengan PENGUASAAN ARAB atas dunia:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 1, Book 2, Number 24:
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar: Rasul Allah berkata, “Aku telah diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi orang2 sampai mereka mengaku bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, dan melakukan sembahyang dengan sempurna dan membayar zakat, sehingga jika mereka melakukan hal itu, maka selamatlah nyawa dan harta mereka dariku kecuali dari hukum2 Islam dan amal mereka akan dihitung oleh Allah.”
HR. Ibnu Abbas:
”Barang siapa menukar agamanya (murtad), maka bunuhlah dia!”
HR. Bukhari Muslim:
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Aku adalah utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga hal: [1] Seorang yang telah menikah namun berzina, [2] Membunuh nyawa dengan tidak hak dan [3] Orang yang meninggalkan agamanya (Islam) serta meninggalkan jamaah.
Muhammad mengklaim, kerajaan Islam Arab diprediksi muhammad akan menguasai seluruh dunia dengan 12 kalifah yang semuanya dari Arab! Lihat, betapa hebatnya Arab khan?
MUSLIM, Book 020, Number 4483:
Dinarasikan oleh Amir b. Sa’d b. Abu Waqqas yang berkata: Aku menulis (sebuah surat) untuk Jabir b. Samura dan mengirimkannya lewat perantaraan budakku Nafi’, memintanya untuk memberitahu aku tentang sesuatu yang dia dengar dari Rasulullah SAW. Dia menulis untukku (sebagai jawaban): Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda pada Jumat malam, hari di mana al-Aslami dirajam sampai mati (atas perbuatan zinah): “agama Islam akan terus berlanjut sampai waktu hari kiamat, atau kamu telah dipimpin secara penuh oleh 12 kalifah, mereka semua berasal dari bani Quraish (Arab)“.
MUSLIM, Book 020, Number 4480:
Dinarasikan oleh Jabir b. Samura yang berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Islam akan terus berlanjut untuk mencapai kejayaan hingga dipimpin 12 orang kalifah. Kemudian Rasulullah SAW mengatakan sesuatu di mana aku susah memahaminya. Aku bertanya pada ayahku: “Apa yang dia katakan?” Dia berkata: “Dia bersabda bahwa semua dari mereka (12 kalifah) akan berasal dari bani Quraish (Arab).”
Muhammad menegaskan kembali bahwa kekalifahan akan tetap di tangan Arab meski penduduk dunia tinggal 2 orang saja! Luar biasa sekali… Arab! semuanya pasti jatuh ke tangan Arab…!
MUSLIM, Book 020, Number 4476:
Dinarasikan oleh Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kalifah akan tetap ada di antara bani Quraisy sekalipun apabila tinggal 2 orang saja yang tersisa di bumi.”
Jadi jelaslah sudah, kalau menjadi Muslim berarti menjadi ANJING ARAB.
Salah satu bukti Islam bukan agama, tapi SEBUAH NEGARA, yaitu ARAB, sebuah NEGARA dengan pemerintahan otoriter dan diktator, serta berpaham IMPERIALIS, dapat dibaca dari pernyataan muslim sejati, Pembawa Pedang:
3 in 1 Versi Quran:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=14250
JIHAD demi MEMBELA ISLAM
Seringkali muslim bangga, bila mendengar kata JIHAD. Mereka berpikir, JIHAD adalah BERPERANG MEMBELA TUHAN. Atau, berperang membela agama.
Padahal, Jihad membela Islam artinya sama dengan JIHAD MEMBELA NEGARA ARAB.
JIHAD itu artinya BERPERANG.
Jadi, kalau ada orang muslim berkata, “Mari kita jihad, setiap orang yang mengaku muslim wajib membela agama Islam.”
Itu artinya sama dengan, “Mari kita berperang untuk membantu melanggengkan IMPERIALISME ARAB atas dunia.“
Kenapa saya suka sekali menyebut NEGARA ARAB dan bukan ARAB saja? Karena ajaran-ajaran Islam identik dengan aturan-aturan kenegaraan yang otoriter dan diktator, sama sekali tidak mirip sebagai sebuah ajaran agama, gak blass.
TUJUAN ISLAM jelas, ingin menguasai seluruh dunia.
Dengan jalan bagaimana? Dengan jalan memaksa, yaitu PERANG.
Mengislamkan seluruh dunia, berarti sama dengan meng-Arabisasi-kan seluruh dunia.
Mereka dipaksa untuk menjadi WARGA NEGARA ARAB (walau bukan warga kelas satu, tapi warga negara kelas dua, sebab mereka secara lahiriah bukan dari ras Arab berjenggot).
Bila Islam itu benar sebuah agama, tentu tidak seperti itu tujuannya, dan cara-cara yang ditempuhnya akan jauh dari cara-cara iblis.
Tapi rupanya orang sudah telanjur percaya, bahwa Islam itu agama, sehingga mereka dengan mudahnya ditipu dan diajak untuk BERBAKTI kepada NEGARA ARAB.
Nanti, bila seluruh negara di dunia sudah berhasil DI-ARABISASI semuanya, maksudnya sudah ISLAM TOTAL, maka tinggal KERAJAAN ARAB SAUDI menuai hasilnya. Negara non-Arab yang berani membangkang, akan ditusuk dari belakang seperti halnya Turki. Arab Saudi cuma menginginkan satu, yaitu NEGARA ISLAM yang benar-benar TUNDUK pada pimpinan 1 KILAFAH, yang berasal dari RAS ARAB asli, yaitu rasnya Muhammad, dari suku Quraish. Ingat hadist-hadist di atas!
Apakah yang disebut KEJAYAAN (ZAMAN KEEMASAN) ISLAM pada abad pertengahan itu dapat benar-benar disebut KEJAYAAN bagi umat manusia? TIDAK!
Kejayaan bagi NEGARA & BANGSA ARAB, iya! Tapi bagi orang yang non-Arab, adalah suatu penderitaan lahir batin. Sebab pada masa keemasan Islam itu, peperangan terjadi di mana-mana, pembantaian dan perbudakan merajalela.
Bayangkan, bila istrimu yang cantik dilirik oleh seorang EMIR ARAB, lalu ia memintanya secara paksa darimu. Atau karena kamu tidak sanggup membayar pajak, baik berupa zakat maupun jizyah, anak-anakmu yang perempuan mesti dikorbankan, diambil dan dijual sebagai budak. Mereka biasanya dijadikan pelacur atau gundik yang dihinakan.
Betapa malangnya dunia ini, bila ISLAM (NEGARA ARAB) kembali berkuasa.
ISLAM bukanlah agama, ingat itu! ISLAM adalah SEBUAH KERAJAAN, SEBUAH KERAJAAN ARAB.
Orang yang mengaku Islam, berarti ia sudah memilih untuk menjadi warga negara kerajaan Arab.
Dan ia mau tidak mau, secara sadar maupun tidak sadar, ia akan dipaksa atau pun sukarela, menjadi BABU-nya ARAB.
April 6, 2011 at 3:29 pm
Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”. Itulah judul sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG). Edisi bahasa Inggris buku ini ditulis oleh Brenda Ralph Lewis dengan judul Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican.
“Benediktus IX, salah satu paus abad ke-11 yang paling hebat berskandal, yang dideskripsikan sebagai seorang yang keji, curang, buruk dan digambarkan sebagai ‘iblis dari neraka yang menyamar sebagai pendeta’. (hal.9)
Itulah sebagian gambaran tentang kejahatan Paus Benediktus IX dalam buku ini. Riwayat hidup dan kisah kejahatan Paus ini digambarkan cukup terperinci. Benediktus IX lahir sekitar tahun 1012. Dua orang pamannya juga sudah menjadi Paus, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes XIX. Ayahnya, Alberic III, yang bergelar Count Tusculum, memiliki pengaruh kuat dan mampu mengamankan singgasana Santo Petrus bagi Benediktus, meskipun saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan.
Paus muda ini digambarkan sebagai seorang yang banyak melakukan perzinahan busuk dan pembunuhan-pembunuhan. Penggantinya, Paus Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan melakukan ‘pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji’. Kehidupan Benediktus, lanjut Viktor, ‘Begitu keji, curang dan buruk, sehingga memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus juga dituduh melakukan tindak homoseksual dan bestialitas.
Kejahatan Paus Benediktus IX memang sangat luar biasa. Bukan hanya soal kejahatan seksual, tetapi ia juga menjual tahta kepausannya dengan harga 680 kg emas kepada bapak baptisnya, John Gratian. Gara-gara itu, disebutkan, ia telah menguras kekayaan Vatikan.
Paus lain yang dicatat kejahatannya dalam buku ini adalah Paus Sergius III. Diduga, Paus Sergius telah memerintahkan pembunuhan terhadap Paus Leo V dan juga antipaus Kristofer yang dicekik dalam penjara tahun 904. Dengan cara itu, ia dapat menduduki tahta suci Vatikan. Tiga tahun kemudian, ia mendapatkan seorang pacar bernama Marozia yang baru berusia 15 tahun.
Sergius III sendiri lebih tua 30 tahun dibanding Marozia. Sergius dan Marozia kemudian memiliki anak yang kelak menjadi Paus Yohanes XI, sehingga Sergius merupakan satu-satunya Paus yang tercatat memiliki anak yang juga menjadi Paus.
Sebuah buku berjudul Antapodosis menggambarkan situasi kepausan dari tahun 886-950 Masehi:
“Mereka berburu dengan menunggang kuda yang berhiaskan emas, mengadakan pesta-pesta dengan berdansa bersama para gadis ketika perburuan usai dan beristirahat dengan para pelacur (mereka) di atas ranjang-ranjang berselubung kain sutera dan sulaman-sulaman emas di atasnya. Semua uskup Roma telah menikah dan istri-istri mereka membuat pakaian-pakaian sutera dari jubah-jubah suci.”
Banyak penulis sudah mengungkap sisi gelap kehidupan kepausan. Salah satunya Peter de Rosa, penulis buku Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy. Buku ini juga mengungkapkan bagaimana sisi-sisi gelap kehidupan dan kebijakan tahta Vatikan yang pernah melakukan berbagai tindakan kekejaman, terutama saat menerapkan Pengadilan Gereja (Inquisisi). Kekejaman Inquisisi sudah sangat masyhur dalam sejarah Eropa. Karen Armstrong, mantan biarawati dan penulis terkenal, menyebutkan, bahwa Inquisisi adalah salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat (one of the most evil of all Christian institutions). (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).
Inquisisi diterapkan terhadap berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan Gereja. Buku Brenda Ralph Lewis mengungkapkan dengan cukup terperinci bagaimana Gereja menindas ilmuwan seperti Galileo Galilei dan kawan-kawan yang mengajarkan teori heliosentris. Galileo (lahir 1564 M) melanjutkan teori yang dikemukakan oleh ahli astronomi asal Polandia, Nikolaus Copernicus. Tahun 1543, tepat saat kematiannya, buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium, diterbitkan.
Tahun 1616, buku De Revolutionibus dimasukkan ke dalam daftar buku terlarang. Ajaran heliosentris secara resmi dilarang Gereja. Tahun 1600, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup sampai mati, karena mengajarkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Lokasi pembakaran Bruno di Campo de Fiori, Roma, saat ini didirikan patung dirinya.
Melihat situasi seperti itu, Galileo yang saat itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, kemudian memilih sikap diam.
Pada 22 Juni 1633, setelah beberapa kali dihadirkan pada sidang Inquisisi, Galileo diputus bersalah. Pihak Inquisisi menyatakan bahwa Galileo bersalah atas tindak kejahatan yang sangat mengerikan. Galileo pun terpaksa mengaku, bahwa dia telah bersalah. Bukunya, Dialogo, telah dilarang dan tetap berada dalam indeks Buku-Buku Terlarang sampai hampei 200 tahun. Galileo sendiri dihukum penjara seumur hidup. Ia dijebloskan di penjara bawah tanah Tahta Suci Vatikan. Pada 8 Januari 1642, beberapa minggu sebelum ulang tahunnya ke-78, Galileo meninggal dunia. Tahun 1972, 330 tahun setelah kematian Galileo, Paus Yohanes Paulus II mengoreksi keputusan kepausan terdahulu dan membenarkan Galileo.
Kisah-kisah kehidupan gelap para Paus serta berbagai kebijakannya yang sangat keliru banyak terungkap dalam lembaran-lembaran sejarah Eropa. Peter de Rosa, misalnya, menceritakan, saat pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid.
Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila.
Pasukan Prancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakaan biara tersebut.
Kejahatan penguasa-penguasa agama ini akhirnya berdampak pada munculnya gerakan liberalisasi dan sekularisasi di Eropa. Masyarakat menolak campur tangan agama (Tuhan) dalam kehidupan mereka.
Sebagian lagi bahkan menganggap agama sebagai candu, yang harus dibuang, karena selama ini agama digunakan alat penindas rakyat. Penguasa agama dan politik bersekutu menindas rakyat, sementara mereka hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Salah satu contoh adalah Revolusi Perancis (1789), yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”.
Pada masa itu, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan. Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Prancis.
Dendam masyarakat Barat terhadap keistimewaan para tokoh agama yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat semacam itu juga berpengaruh besar terhadap sikap Barat dalam memandang agama. Tidak heran, jika pada era berikutnya, muncul sikap anti pemuka agama, yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Trauma terhadap Inquisisi Gereja dan berbagai penyimpangan kekuasaan agama sangatlah mendalam, sehingga muncul fenomena “anti-clericalism” tersebut di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu, ialah: “Berhati-hatilah, jika anda berada di depan wanita, hatilah-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a woman if you are in front of her, a mule if you are behind it and a priest whether you are in front or behind).” (Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, (New York: Cambridge University Press, 1975).
Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama (Kristen) itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan.
Trauma Barat terhadap sejarah keagamaan mereka berpengaruh besar terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Jika disebut kata “religion” maka yang teringat dalam benar mereka adalah sejarah agama Kristen, lengkap dengan doktrin, ritual, dan sejarahnya yang kelam yang diwarnai dengan inquisisi dan sejarah persekusi para ilmuwan.
Berbagai penyelewengan penguasa agama, dan pemberontakan tokoh-tokoh Kristen kepada kekuasaan Gereja yang mengklaim sebagai wakil Kristus menunjukkan bahwa konsep “infallible” (tidak dapat salah) dari Gereja sudah tergoyangkan.
Apa-apa agama atau apa-apa ajaran pun sekiranya apabila zamannya telah berjarak semakin jauh dari zaman nabinya, maka pegangan penganutnya akan menjadi semakin lemah dan semakin disesatkan dari ajaran yang orisinal.Islam begitu,juga kristian.Bedanya Islam maju sewaktu umatnya berpegang kuat kepada agama yang original.Sementara kristian,sewaktu berpegang kepada ajarannya yang awal,mereka mundur.Namun bila umatnya membuang agama kristian dan hanya menjadi kristian KTP,barulah mereka menjadi umat yang maju.
Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka yang pedih jika mati tidak sempat bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.
April 6, 2011 at 6:47 pm
@ilham: haha ha… kasihan sekali,kalu sudah kepepet,islam nyari sumbernya dari buku lain yg hanya karangan manusia belaka…..ha ha aha.itulah makanya islam sangat sesuai dgn pepatah Rumahku adalah punyaku dan Rumahmu adalah punyaku juga dong.Dasar islam maruk,buku karangan manusia dipakai buat menghujat kitab suci,itu tandany quran islam tidak suci/tidak sempurna….ha ha ha…
April 6, 2011 at 11:56 pm
Buanglah agama kristian supaya kamu maju.Ha ha ha…
April 6, 2011 at 6:54 pm
Hubungan Nazi dengan Terorisme Islam
Buku terkini Chuck Morse, “The Nazi Connection to Islamic Terrorism, Adolf Hitler and Haj Amin al-Husseini,” (Keterkaitan Nazi dengan Terorisme Islam, Hitler dan Haji Amin al-Husseini) memaparkan secara jelas dan sangat tajam sejarah bagaimana Islamo-Fasisme dan Terorisme Jihad telah menjadi filosofi politik ranah Arab. Hal ini adalah kisah tersembunyi tentang bagaimana Nazisme mengakar ke dalam dunia Islam lewat usaha-usaha tak kenal lelah dari Mufti Agung Yerusalem, dengan tujuan memusnahkan Yahudi di Palestina.
Morse menulis:
Holocaust Nazi telah memulai babaknya pada 25 November 1941, lewat sebuah petemuan di Berlin antara Mufti Agung Yerusalem, Haji Amin al-Husseini (1895-1974) dengan Fuhrer Nazi, Adolf Hitler. Dalam pertemuan yang terdokumentasi rapih tersebut, Hitler menjanjikan pada al-Husseini jabatan sebagai pemimpin Palestina pan-Arab, begitu Hitler mampu menguasai Eropa. Hitler akan mengirim The Wehrmacht, mesin perang Nazi, secara kilat (blitzkrieg) menyusuri Caucasia dan masuk jazirah Arab lewat misi samaran membebaskan Arab dari Inggris.
Perlu dicatat bahwa hanya dalam waktu dua bulan setelah pertemuan itu, diselenggarakanlah konferensi Wansee yang terkenal dengan keputusannya untuk mengenyahkan bangsa Yahudi di Eropa.
Meski selama perang al-Husseini tinggal di Eropa, dia dapat lolos dari Pasukan Sekutu dan melarikan diri ke Kairo. Saat para pucuk pimpinan Nazi disidangkan di Nuremberg, al-Husseini tak tersentuh dan karenanya ia menjadi “Dalang” pelestarian program Genosida Hitler diranah Arab.
Selama Perang Dunia II, ia merekrut Muslim-muslim Bosnia ke dalam Brigade Hanshar (SS Moslem Nazi) yang membantai Yahudi dan Kristen Serbia di Yugoslavia—yang saat itu dikuasai Nazi. Akibat memori penjagalan itulah, Serbia mengejar Muslim Bosnia 50 tahun kemudian.
Setelah perang, al-Husseini membangun jaringan antara pengikut Nazi dan Muslim di Arab, dan siapapun di tanah Arab yang menghalanginya, akan disingkirkannya. Itulah mengapa saat ini kaum moderat di dunia Arab sangat sedikit. Al-Husseini membunuh sebagian besar dari mereka.
Husseini merintis karirnya setelah Perang Dunia I, saat pemimpin Arab Moderat, Emir Faisal, menandatangani persetujuan dengan Chaim Weiszmann, mengenai pengakuan Deklarasi Balfour yang berisi fasilitasi pengembangan sebuah negara Yahudi Palestina.
Faisal percaya bahwa sebuah negara Yahudi Palestina akan membantu dunia Arab yang baru saja merdeka untuk menjadi negara-negara modern dengan keadaan ekonomi mapan. Tapi Husseini menentangnya, dia menghasut untuk melakukan POGROM—kerusuhan bersenjata terhadap suku etnis atau kelompok agama tertentu yg “direstui” oleh pemerintah; biasanya diikuti dengan penjarahan, perusakan harta benda pemerkosaan, dan pembunuhan massal.
[Kata POGROM adalah turunan dari bahasa Rusia POGROMIT (merusak); Rusia adalah tempat pertama terjadinya POGROM modern, yaitu terhadap minoritas Yahudi yg dimulai pada tahun 1881. Selama perang sipil Rusia (1918-1923), seluruh angkatan bersenjata melakukan pembasmian terhadap Yahudi, meski pemerintahan Lenin tercatat menentang kekerasan anti-semit. Bibliography: Laqueur, Walter. A History of Zionism. New York: Holt, Rinehart, 1972. http://www.answer.com –untuk memaksa pemukim Yahudi keluar. POGROM pertama terjadi pada 1920.]
Morse menulis:
Pada tahun 1921, tak lama setelah POGROM pertama pada tahun 1920, karena alasan misterius dan sampai sekarang tidak masuk akal, Komisaris Tinggi Inggris untuk Palestina, Sir Herbert Samuel, seorang Yahudi-Inggris, memerintahkan penunjukan al-Husseini sebagai Grand Mufti Jerusalem.
Meski mendapat tentangan keras, al-Husseini tetap meneruskan usaha penghasutannya untuk melakukan kekerasan terhadap Yahudi di Palestina dan menyuburkan kebencian Yahudi di seantero Arab. Ia juga dengan brutal menyingkirkan orang Arab yang menghalanginya. Pada th 1937, Husseini bertemu dengan Adolf Eichmann di Palestina dan setelahnya, ia diangkat menjadi agen bayaran Nazi. Pada tahu 1941, Husseini pindah ke Bagdad, dimana ia terlibat mengorganisir kudeta oleh para pejabat pro-Nazinya Rachid Ali, melawan pemerintahan Inggris di Irak. Saat kudeta gagal, Husseini lari ke Roma lalu ke Jerman.
Salah satu pelaku kudeta di Irak adalah Jendral Tufah Khariallah, paman, pelindung, mentor dan kelak mertua Saddam Hussein. Sang Mufti juga adalah mentor dan paman Yasser Arafat.
Buku-buku sejarah MENGABAIKAN fakta bahwa sekitar 100.000 Muslim Eropa bertempur mendukung Nazi dalam Perang Dunia II, termasuk Divisi Waffen SS Muslim Bosnia, 1 Divisi Waffen SS Albania di Kosovo dan di Macedonia Barat, Waffengruppe der-SS Krim, yang terdiri atas Muslim Chechen dari Chechnya dan Bosnia-Herzegovina.
Muslim Bosnia, dibawah rezim Kroasia pro-Nazi Ustasha, sangat brutal terhadap kaum Kristen Serbia. Pada tahun 1943, terdapat sebuah laporan mengenai kegiatan Ustasha:
Teror Ustasha dimulai di Mostar. Kaum Ustashi, yang mayoritasnya adalah penduduk Muslim setempat, melakukan penahanan, pencarian, dan memuat orang-orang Serbia kedalam kapal atau membunuh mereka dan melemparkan mayat-mayat mereka ke sungai Neretva. Mereka melempar orang-orang Serbia hidup-hidup ke jurang dan membakar seluruh keluarga didalam rumah. Diluar Zagreb, Ustasha menguasai Sarajevo, dimana para Muslim melakukan tindakan barbar dengan membunuh perempuan dan anak-anak, bahkan dengan gunting.
28 April 1941 (18 hari setelah dibentuknya “Negara Independen Kroasia” oleh Muslim Ustashi), Ustashi mengepung desa-desa Gudovac, Tuke Brezovac, Klokocevac dan Bolac, di distrik Bjelovar, dan menangkap petani Orthodox. Mereka diperintahkan menggali kuburan mereka sendiri. Setelah selesai, tangan mereka diikat dan mereka didorong hidup-hidup kedalam lobang-lobang tersebut.
Kelakuan barbar itu sampai membuat tidak enak tentara Nazi, sampai mereka membentuk komite untuk menggali mayat-mayat tersebut dan memfoto bukti-bukti peristiwa penguburan rakyat secara hidup-hidup itu. Proses ini dimuat dalam dokumen resmi Nazi berjudul, “Ustachenwerk bei Bjelovar” (Hasil Kerja Ustashi di Bjelovar).
Pihak Nazi begitu SHOCK dgn kekejaman Ustashi sampai mereka mendirikan komisi khusus utk menyidik kekejaman-kekejaman tersebut. Malah Gereja Orthodox Serbia memohon langsung kepada jendral Nazi, Dukelman, untuk memerintahkan dihentikannya kekejaman-kekejaman Ustashi.
Kaum Nazi Jerman dan fasis Italia berhasil mengekang kaum Ustashi di Kroasia, dan menempatkan mereka dibawah pengawasan. Tetapi begitu kaum Nazi meninggalkan Kroasia, kam Ustashi malah meningkatkan kekejaman mereka. Kebijakan mereka adalah ELIMINASI TOTAL penduduk Serbia lewat pemaksaan masuk Islam, pengusiran atau pembunuhan massal.
Para korban di-eksekusi di jembatan-jembatan dan lalu dilempar ke sungai. Mei 1941, Muslim-muslim Ustashi menguasai kota Glina. Mereka mengumpulkan lelaki-lelaki Orthodox usia 15 tahun keatas dari Karlovac, Sisak dan Petrinja, menggiring mereka keluar kota dan membunuh ke-600 lelaki dengan senapan, pisau dan palu.
Setelah membaca buku ini, anda akan mudah memahami akar dari Islamo-facism dan terorisme jihad. Pengarang menyertakan dalam buku ini dokumentasi terinci dan juga foto-foto yang menunjukan Husseini sedang memeriksa pasukan Muslim Nazi-nya. Morse memaparkan bagaimana warisan kebencian dan usaha pembunuhan Husseini, dan tujuannya untuk menghancurkan Israel, telah diteruskan oleh Arafat dan anak buahnya sampai sekarang ini.
Sumber http://beritamuslim.wordpress.com/2010/07/31/hubungan-nazi-dengan-terorisme-islam/
April 7, 2011 at 12:44 am
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang (Yahudi & Kristen) yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. 2:79)
Paulus, seorang dari Tarsus (di Turki), kaki tangan penjajah Romawi dan Yunani atas bangsa Palestina, adalah PEMBOHONG nomor wahid dalam ajaran Yesus, yang telah menyesatkan sebagian umat manusia. Ajarannya, kemudian dikenal dengan sebutan “Kristen”. Ajaran Kristen dan Gereja, sama sekali bukan dan tidak pernah diajarkan oleh Yesus! Seluruh surat2 Paulus yang berjumlah 14 kitab, yang tergabung dalam Perjanjian Baru, adalah BOHONG BESAR!
Agama Kristen, kelahirannya dibidani oleh Paulus dalam GALATIA:
2:16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, [b]supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.
Paulus, sama sekali bukan dan tidak pernah menjadi murid Yesus! Bahkan, Paulus pun tidak pernah bertemu dengan Yesus! Paulus adalah seorang penyesat ajaran Yesus demi kepentingan penjajah Romawi dan Yunani yang menguasai Palestina. Ia bukanlah orang dimana Yesus mengemban misinya. Namun demikian, setelah terangkatnya Yesus ke langit, ia mengaku2 sudah bertobat dan mengaku2 sebagai rasul. Padahal, Yesus tidak pernah menyebut, menunjuk, mengenal, mengangkat, dan melihat manusia yang bernama Paulus dari Tarsus! Bahkan, ciri2nya pun Yesus tidak pernah menyebutkannya! Kecuali namanya dipromosikan melalui kitab propaganda karangan pengarang “Lukas” yang diberi nama “Kisah Para Rasul” (nama versi Alkitab Indonesia).
Seluruh ajaran Paulus bertentangan dengan misi dan tugas kerasulan Yesus yang terbatas hanya untuk umat Israel. Jika kita bahas seluruh ajaran Paulus ini, rasanya terlalu membuang2 waktu, karena akan memakan tulisan yang sangat melelahkan untuk dibaca.
Di sini, kami hanya menyuguhkan beberapa ajaran Paulus saja yang kami rasa cukup mewakili atas semua kebohongan ajaran Paulus Tarsus. Berikut ini kami suguhkan kebohongan fundamental ajaran Paulus terhadap ajaran Yesus dalam GALATIA:
1:10. Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
1:11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.
1:12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.
1:13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.
1:14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.
1:15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,
1:16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;
1:17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik.
1:18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya.
1:19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus.
1:20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta.
1:21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia.
1:22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea.
1:23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya.
1:24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.
Dari tulisan tangan Paulus di atas, terdapat tiga fakta fundamental kebohongan Paulus:
1. Paulus mengaku menerima Injil bukan dari manusia, tetapi dari Yesus (ayat 12). Injil yang bagaimanakah yang diterima Paulus dari Yesus ini? Mengapakah Paulus tidak menunjukkannya kepada umat manusia? Jika injil yang dimaksud adalah keempat injil kanonik, bukankah keempat injil kanonik ini ditulis oleh masing2 pengarangnya jauh setelah terangkatnya Yesus ke langit? Pernyataan Paulus ini tidak lain hanyalah isapan jempol semata, tanpa bukti, dan mengada2!
2. Paulus mengaku2 menerima wahyu dari Yesus untuk memberitakan ajarannya kepada bangsa2 non Yahudi (ayat 16). Sebagaimana tersurat dalam injil2 kanonik, Yesus diutus Allah hanya untuk umat sesat Israel. Jadi, bagaimana mungkin Paulus menerima wahyu dari Yesus, sementara Yesus sendiri hanya seorang rasul utusan Allah? Pernyataan ini juga tidak lain hanyalah isapan jempol, tanpa bukti, dan mengada2!
3. Lebih jelas, Paulus sendiri mengakui kalau rupanya tidak dikenal oleh orang2 Kristen Yudea (ayat 22), yaitu sebuah wilayah di Palestina selatan yang dihuni oleh orang2 Israel keturunan Yehuda, tempat dimana Yesus mengemban misinya. Bagaimana mungkin seorang rasul utusan Yesus tidak dikenal oleh umat Israel dimana Yesus dibesarkan dan mengajarkan ajarannya? Lebih jauh, kecuali hanya sedikit, umat Israel tidak pernah mengakui Yesus sebagai nabi atau pun Tuhan! Bahkan, saking jengkelnya mereka, Yesus pun diburunya dan “dibantai” di tiang salib! Dari sini, kita bisa melihat bahwa umat Israel tidak mungkin menerima Paulus, oleh karena ia bukan dari golongan umat Israel, melainkan seseorang dari bangsa lain. Pernyataan Paulus ini membuktikan bahwa ia sama sekali bukan dan tidak pernah bahkan tidak mungkin menjadi murid Yesus! Lebih jauh lagi, sebenarnya Paulus telah mengada2kan sendiri kesaksiannya yang seolah2 orang2 Yudea tersebut beragama Kristen, padahal orang2 Yudea adalah orang2 Israel yang beragama Yahudi yang lantang menolak Yesus! Kalau begitu, siapakah yang mengajarkan Kristen kepada orang2 Yudea? Bukankah Paulus sendiri ditolak? Benar2 isapan jempol!
Terlalu jelas, bagaimana Paulus mengada2kan sendiri ajarannya dengan mengaku2 menjadi rasul yang diutus oleh Yesus. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa seluruh ajaran Paulus ini bertentangan dengan tugas kerasulan Yesus, yakni menegakkan hukum Taurat dengan menggenapinya dengan Kitab Suci Injil. Berikut pernyataan Yesus menurut MATIUS:
5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Menurut ayat2 di atas, Yesus datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat dan kitab para nabi, tetapi hanya untuk menggenapinya (melengkapinya). Bahkan, Yesus mengancam kepada umat Israel, jika kehidupan agama mereka tidak lebih baik dari ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, mereka tidak akan masuk kerajaan surga. Perlu dijelaskan, bahwa ahli2 Taurat dan orang2 Farisi adalah kelompok masyarakat Israel yang selalu menentang dan mencari2 kesalahan Yesus, karena mereka menolak kerasulan Yesus.
Untuk mempersingkat, berikut ini kami suguhkan beberapa kebohongan ajaran Paulus yang nyata2 bertentangan dengan tugas kerasulan Yesus:
1. KEBOHONGAN PAULUS 1: Yesus adalah Tuhan.
1 KORINTUS 8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
Menurut ayat karangan Paulus di atas, Yesus adalah Tuhan. Padahal, Yesus sama sekali bukan dan tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan! Kata2 Yesus dalam injil2 kanonik justru menunjukkan bahwa ia hanyalah seorang utusan Allah kepada umat Israel.
ULANGAN 4:35 Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.
MATIUS 15:24 Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”
MARKUS 12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
YOHANES 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
2. KEBOHONGAN PAULUS 2: Sunat tidak penting.
GALATIA 5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.
1 KORINTUS 7:19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.
Menurut ajaran Paulus di atas, sunat itu tidak penting dan tidak punya arti, yang penting adalah iman dan mentaati hukum2 Allah. Hukum2 Allah yang bagaimanakah yang dimaksud Paulus ini?
Menurut Kitab Kejadian berikut ini, sunat adalah salah satu hukum Allah yang paling penting bagi umat Israel, dan WAJIB dilaksanakan oleh umat Israel terhadap seluruh orang laki2. Jika menolak, maka orang itu harus dibunuh! Bahkan, Yesus pun disunat (LUKAS 2:21).
KEJADIAN 17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”
3. KEBOHONGAN PAULUS 3: Salib menebus dosa.
GALATIA 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
Menurut ajaran Paulus di atas, bahwa Yesus disalib adalah untuk menebus dosa2 manusia. Ajaran yang sangat sesat dan tak berdasar! Ajaran Paulus ini bertentangan dengan ajaran Taurat dan Yesus berikut ini:
YEHEZKIEL 18:20 Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.
MARKUS 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. (lihat juga MATIUS 19:14).
Menurut Yehezkiel, setiap orang akan menanggung akibat perbuatannya masing2. Bahkan menurut Yesus sendiri, anak2 adalah pemilik kerajaan surga, yang berarti keadaan mereka adalah suci tanpa dosa. Bagaimana mungkin anak2 yang suci tanpa dosa harus ditebus dosanya? Ini adalah ajaran Paulus yang paling ngawur!
4. KEBOHONGAN PAULUS 4: Segala sesuatu halal.
1 KORINTUS 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.
Pernyataan Paulus di ataslah yang menjadi dasar pola hidup freesex dan mabuk2an di negara2 Barat. Padahal, Tuhan mengharamkan zinah dan memerintahkan agar para pelakunya dilempari batu sampai mati (IMAMAT 20:1-27 dan ULANGAN 22:13-30); Tuhan mengharamkan anggur dan minuman keras (IMAMAT 10:9); Tuhan mengharamkan beberapa binatang termasuk babi (IMAMAT 11:1-47 dan ULANGAN 14:3-21); Tuhan mengharamkan darah (IMAMAT 17:12); Beberapa hal termasuk sperma adalah najis (IMAMAT 15:1-34); Laki2 yang keluar sperma atau campur dengan istri, keduanya harus mandi wajib (IMAMAT 15:16-18); Tuhan mengharamkan riba (ULANGAN 23:19-20); Yesus memerintahkan potong tangan/kaki bagi pencuri (MATIUS 5:30; 18:8 dan MARKUS 9:43,45); Yesus memerintahkan cungkil mata bagi laki2 yang yang mengingini perempuan bukan istrinya (MATIUS 5:29; 18:9 dan MARKUS 9:47); Yesus memerintahkan rajam bagi pelaku zinah (YOHANES 8:7); dan lain-lain.
Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka yang sangat panas jika mati tidak bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah supaya kalian mendapat kejayaan.
Sumber:http://kota-ilmu.blogspot.com/2009/11/kebohongan-paulus.html
April 7, 2011 at 12:53 am
Perjalanan Hidup Paulus
Menurut sejarah, tokoh Paulus alias Saulus ini muncul kira-kira tahun 38 M. Ada pula yang mengatakan tahun 80 M. tapi menurut saya Hidupnya bersamaan dengan Yesus lebih muda paulus sedikit, tapi dia tidak mengenal Yesus, dilahirkan di Tarsus, sebuah kota di Cilicia (kini Turki), beberapa tahun sebelum tiba era Kristen.
Paulus adalah anak didik Gamalied, seorang guru yang termasyhur, akhli Taurat dan Falsafah, dari Gamalied lah Paulus mulai mengenal Kaballah ilmu sihir mesir kuno. Dan Ibu Paulus adalah seorang Yunani (keberhalaan dewa-dewa Yunani), dan ayahnya orang Yahudi tapi tidak menyukai Paulus, sehingga pelajaran agama yang diperolehnya adalah gabungan daripada kepercayaan Yahudi (Keberhalaan Mesir Kuno) yang didapat dari seorang guru Gamalied dan Helenisme yang didapat dari Ibunya. Dari percampuran darah Yahudi dan Yunani atau Bapak dan Ibunya, yaitu darah Pandai dan licik dari Ayahnya dan darah Berpikir yang didapat dari Ibunya (Seperti Kita ketahui bahwa orang-orang Yahudi terkenal kepandaian dan kelicikan dan penemuan-penemuan ilmiahnya, dan Yunani kita kenal pula telah melahirkan tokoh-tokoh falsafah yang agung-agung seperti plato), maka Paulus memang luar biasa sekali. Otaknya cerdas luar biasa, dapat kita saksikan buktinya dalam persilatan lidahnya didalam kitab injil sehingga mampu membohongi jutaan manusia dibumi.
Ia bahkan dengan gemilang, sekalipun mendapatkan tantangan yang bukan sedikit berhasil menyatukan alam pikiran orang-orang Gerika, Alexandria, Gybelle dan Yahudi, yang kemudiannya merupakan suatu kekuatan yang luar biasa yaitu Kristen agama terbesar dunia. Terdorong oleh ibunyalah barangkali makanya ia berkeras hati ingin mengabarkan Kitab buatannya kepada orang-orang Gerika, dan terdorong oleh kebenciannya kepada sang ayah yang menurut penyelidikan sejarah tidak pernah mencintai Paulus, maka ia sangat memusuhi ayahnya, tidak hanya membenci sang Ayah, paulus juga terkenal seorang yang membenci orang-orang pengikut Yesus. Kitapun dapat membaca nanti dalam surat-surat kirimannya, betapa ia mencuci bersih-bersih orang- orang pengikut Yesus.
Paulus juga memperdalam bahasa Ibrani di masa muda dan memperoleh pendidikan mendalam perihal ke-Yahudian, dia juga belajar dagang dan bikin kemah. Selaku pria remaja dia berangkat ke Darussalam bekerja di bawah bimbingan pendeta Gamaliel, seorang guru Yahudi kenamaan saat itulah Gamaliel menjadi Gurunya dalam mempedalam Taurat. Walaupun Paul dan Isa berbarengan ada di Darussalam saat itu, tapi amat diragukan keduanya pernah bertemu muka.
Kehidupan Berumah Tangga
Semasa hidup Paulus pernah menikah, akhirnya paulus cerai dengan istrinya, saat itulah paulus memutuskan untuk tidak menikah, dia malu dengan penyakit yang dideritanya, yaitu tidak dapat memberikan keturunan, selama hidup berumah tangga Paulus tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada Istrinya, sehingga pernikahan mereka bubar, saya tidak tau penyakit yang diderita Paulus, tapi trauma yang dirasakan Paulus sehingga tidak mau menikah saya berpendapat barang kali Paulus terkena Impotensi serius. Karena itu Paulus lebih fokus kepada pendalaman ilmu sihir Kaballah.
Hingga dia mengaku bertobat, dia pun tidak menikah, padahal seperti kita ketahui bahwa pememinpin Gereja pertama setelah Yesus, yaitu Petrus adalah paus yang pernah menikah, tapi paulus tidak menikah hal ini bukan karena dia ingin menjadi suci dihadapan tuhan tapi justru sebagai alasan untuk menutupi malunya terhadap penyakit yang dideritanya.
Mempelajari Taurat
Karena kemampuan dia dalam Taurat maka dia diangkat sebagai penguasa bangsa Yahudi. Paul (Saul) sangat berperan penting dalam penulisan perjanjian baru Dari 27 buku Perjanjian Baru, tak kurang 14 dihubungkan dengan jasa Paul. Meskipun ilmuwan modern berpendapat 4 atau 5 buku dari 14 itu ditulis oleh orang lain, namun tak diragukan lagi bahwa Paullah orang terpenting secara pribadi menulis Perjanjian Baru.
Hal itulah yang penting dalam sejarah masuknya Ucapan Iblis kepada Perjanjian baru.
Ide Paulus Ide Cemerlang
Kebencian kepada pengikut Yesus, membuat paulus seperti kerasukan setan yang haus darah, dimanapun dia berjumpa orang yang mengakui bahwa Yesus adalah nabi yang benar maka pitam paulus naik dan membunuh nya, kemudian dalam perjalanan ke damsik untuk menemui teman sesama orang yahudi terkenal yaitu ananias timbullah ide cemerlang dalam benak paulus untuk merasuk kedalam ajaran kristus yang alsi dan menebar racun mematikan yang menyebabkan punahnya penyikut Yesus, dan bertukar kepada ajaran yang didapat dari Ibunya dan Ajaran yang didapat dari gurunya gamaliel.
Tujuan pembunuhan terhadap pengikut Yesus yang asli, dilakukan paulus untuk memperkecil penyikut yesus, dan membuat pengikut keberhalaan berkembang, tapi yang dilakukan Paulus dalam hal pembunuhan tidak membuahkan hasil yang sempurna, maka itu rencana pertobatan disusun rapi bersama teman-temannya, akhirnya seluruh ajaran keberhalaan yang didapat dari ibunya(Yunani kuno), dan dari gurunya Yahudi(Mesir Kuno) digodok menjadi satu yaitu Kristen.
Perjumpaan Dengan Roh Yang Mengaku Yesus
Tapi pada hal kebohongan yang sempurna, seperti apa kata pepatah, kejahatan yang ditutupi rapat pun pada akhirnya tercium juga, nah mari kita lihat bukti-bukti kebohongan paulus tartus ini
1. Dalam Kitab Kisah Para rasul : 9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. 9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” 9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun. Bertentangan dengan:
2. Kisah para rasul: 22:7 Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? 22:8 Jawabku: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu. 22:9 Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.
3. Kisah para rasul 26:14 Kami semua rebah ke tanah dan ….
Apabila ada seseorang yang bercerita dan dalam ceritanya ada beberapa versi cerita yang saling bertentangan maka orang yang bercerita tersebut bisa saja berbohong, nah tiga versi cerita diatas terdapat bukti kebohongan Paulus.
Cerita pertama mengatakan orang yang bersama paulus mendengan suara itu, tapi cerita kedua mengatakan orang yang bersama paulus tidak mendengarkannya. Ada cerita ketiga yang bertentangan dengan dengan cerita 1 dan 2
Cerita 1 dan 2 diatas, orang yang rebah atau paul saat itu menggunakan kata Aku dan Ia yang berarti tunggal. Tapi kitab kisah para rasul bab 26 ayat 14 menggunakan kata
kami, yang berarti jamak atau dilakukan oleh lebih dari satu orang. Dari cerita yang saling bertentangan ini, adakah orang yang percaya? Jangankan orang waras bahkan Orang gilapun ngak akan percaya.
Untuk hal ini Paulus sudah mempersiapkan dengan matang kebohongannya yaitu bukti para saksi, tapi yang anehnya cerita paulus terhadap lukas ini tidak menyebutkan nama-nama para saksi kecuali Ananias.
Siapakah Ananias?
Alkitab tidak bercerita banyak tentang ananias, dan buku sejarah yang bercerita tentang saksi Paulus itu pun tidak ada, nah hal satu-satunya untuk mengungkap siapa Ananias hanyalah dari Ucapan Paulus sendiri kepada lukas dalam Kitab Kisah Para Rasul.
Kita lihat pengakuan Paulus tentang siapa Ananias:
Dalam Kpr 9:10. Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!”
Pengakuan Paulus pada ayat ini ananias adalah murit tuhan yang berarti murid yesus, tapi diayat lain kita lihat lagi,
KPR 22:12 Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ.
Dan dalam kitab bahasa sehari-hari mengatakan:
Kpr 22:12 Di situ ada seorang bernama Ananias. Ia seorang yang saleh dan taat menjalankan hukum Musa. Semua orang Yahudi yang tinggal di Damsyik sangat menghormati dia.
Nah Ananias didalam kitab KPR 22:12 mengatakan seorang yang taat menjalankan hukum musa, dan seorang Yahudi, karena itu dia tidak dimusuhi orang Yahudi, tapi pada KPR 9:10 ananias dikatakan Paulus adalah seorang Murid Yesus, yang mana yang benar?
Baiklah cerita Paulus membuktikan bahwa Ananias bukan murid yesus tapi memang seorang Yahudi dan Imam Besar Kaum Yahudi yang terkenal taat mengikuti Hukum Taurat.
Ketika umat Yahudi mendengarkan kesaksian Paulus bahwa Ananias adalah murid Yesus, maka marahlah mereka dan membawa Paulus kehadapan Imam Besar Ananias, dan Ananias pun marah kepada Paulus dan menyuruh orang Yahudi yang didekat Paulus untuk menampar mulut Paulus
KPR 23:2 Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus.
Karena Paulus meu ditampar, Paulus pun menyinggung tentang ketaatan ananias akan Hukum Taurat
KPR 23:3 Maka Paulus berkata kepada imam agung itu, “Allah pasti menampar engkau, orang munafik yang pura-pura suci! Engkau duduk di situ menghakimi saya menurut hukum Musa, padahal engkau sendiri melanggar hukum itu dengan menyuruh orang menampar saya!”
Nah jadi Imam Besar Ananias yang menjadi saksi satu-satunya pertobatan paulus yang diceritakannya dihadapan orang Yahudi ternyata Bohong juga, Ananias yang terkenal Suci dan Pengikut Hukum Musa telah dijadikan Paulus sebagai pembenar kebohongannya, Hal ini dilakukan Paulus supaya Ananias bisa ikut bekerja sama dalam hal kebohongan karena mereka berdua terkenal diantara orang Yahudi, Tapi malah sebaliknya ternyata Ananias menyuruh pengikutnya menampar mulut Paulus karena telah berbohong, karena kebohongan adalah hal yang melanggar Hukum Musa.
Wahai orang-orang kafir!Lihatlah.Agama kalian bohong.Kitab kalian bohong.Periwayat agama kalian adalah pembohong sehingga ditampar mulutnya.Kalian akan masuk neraka jika mati tidak sempat bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah supaya kalian mendapat kejayaan.
April 7, 2011 at 2:41 am
AWLOH HARUS MEMPUNYAI ISTRI UNTUK BISA PUNYA ANAK
QS 6:101
Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.
Penjelasan: Ayat itu mengisyaratkan kepada kita bahwa awloh seperti manusia, dia butuh istri untuk bisa mempunyai anak.
AWLOH YANG MAHA PERKASA BUTUH PERTOLONGAN MANUSIA
QS 47:7
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
QS 57:25
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolongNya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
QS 22:40
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa
Penjelasan: Awloh itu lemah tak berdaya sehingga butuh pertolongan manusia, tapi masih berani sesumbar menyatakan diri MAHA KUAT & MAHA PERKASA.
KATANYA AWLOH MAHA TAHU, KOQ DIA BELUM TAHU?
QS 9:16
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS 7: 52
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
QS 60:7
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS 17:51
atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu.” Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.” Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”,
QS 9: 102
Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.
QS 5: 52
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
Penjelasan: Lihat QS 6:101, dinyatakan bahwa awloh mengetahui segala sesuatu. Tapi ayat-ayat di atas mengisyaratkan pada kita bahwa pengetahuan awloh sesungguhnya terbatas, seperti manusia.
TATA BAHASA YANG KACAU, BUKTI AWLOH LEBIH BODOH DARI ANAK SEKOLAH DASAR
QS 7:57
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
QS 6:99
Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
QS 7:143
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
QS 2:253
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
QS 5:64
Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.
QS 39:53
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS 17:1
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS 42:13
Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
QS 74:31
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.
Dan masih banyak lagi.
Penjelasan: Ayat-ayat itu berisi kata ganti yang amat kacau. Siapa sebenarnya yang berbicara? Awloh ataukah Muhammad? Dalam satu ayat, kata ganti Awloh bisa berubah-ubah dari Dia, Kami, Aku, dst.
AWLOH MENGAJARI PERBUATAN SYIRIK, SUATU PERBUATAN YANG JUSTRU PALING DIBENCINYA
QS 7:11
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.
QS 2:34
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir
Penjelasan: Perintah syirik itu sungguh bertolak belakang dengan ayat-ayat berikut:
QS 17:23
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
QS 29:56
Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.
QS 46:5
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?
QS 16:49
Dan kepada Allâh sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.
AWLOH BUTA SEJARAH
QS 2:61
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.
Penjelasan: Awloh tidak tahu, pembunuhan nabi-nabi terjadi pada masa raja-raja Israel, jauh sesudah masa Musa
QS 6:84
Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Penjelasan: Urut-urutan nama keturunan Nuh tidak sesuai dengan garis waktu.
QS 19:27-28
Maka Maryam membawa anak itu (Isa) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,
Penjelasan: Muhammad mengira, Isa adalah anak Maryam saudara perempuan Harun, hidup tak jauh dari era Musa, pamannya. Padahal ada rentang waktu cukup jauh, yaitu sekitar 1500 tahun antara Musa dan Isa, dan ibu Isa bukanlah Maryam saudara Harun.
BINTANG ADALAH MISIL UNTUK MERUDAL SETAN
QS 67:5
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
QS 37:6-8
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.
Versi Inggris:
QS 67:5
And certainly We have adorned this lower heaven with lamps and We have made these missiles for the Shaitans, and We have prepared for them the chastisement of burning.
QS 37:6-8
Surely We have adorned the nearest heaven with an adornment, the stars, And (there is) a safeguard against every rebellious Shaitan. They cannot listen to the exalted assembly and they are thrown at from every side,
KITAB TAURAT DAN KITAB INJIL ADALAH KITAB PEMBERIAN DEWA (KITAB DARI LANGIT)
QS 32:23
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil
QS 17:2
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,
QS 2:87
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?
QS 2:53
Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.
QS 21:48
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
QS 5:46
Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.
Penjelasan: Kitab Taurat dan Kitab Injil adalah Kitab Sejarah (Biografi, serupa Hadist), bukan Kitab Mantera, Kitab Sakti, Buku Keramat ataupun Kitab Dewa yang turun dari langit.
AWLOH PUNYA 2 TANGAN SEPERTI MANUSIA
QS 38:75
Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.”
Penjelasan: Menurut QS 112:4 dan QS 42:11, Awloh tidak serupa dengan apapun, tapi menurut QS 38:75, awloh punya 2 tangan sehingga dia seperti manusia.
April 7, 2011 at 1:18 pm
Meskipun hampir tidak ada catatan tentang jumlah orang yang terbunuh atau disiksa di seluruh dunia oleh Inkuisisi, beberapa catatan tentang Inkuisisi di Spanyol telah sampai kepada kami.
Ada tujuh belas pengadilan di Spanyol dan masing-masing membakar rata-rata 10 bidat setahun serta menyiksa dan memotong kaki atau tangan ribuan orang lain yang hampir tidak bisa pulih dari luka-lukanya. Selama masa Inkuisisi di Spanyol diperkirakan ada sekitar 32.000 orang, yang kesalahannya tidak lebih dari tidak sepaham dengan doktrin paus, atau yang te1ah dituduh melakukan kejahatan takhayul, yang disiksa di luar imajinasi kemudian dibakar hidup-hidup.
Sebagai tambahan, jumlah orang yang gambarnya dibakar atau dihukum untuk menebus dosa, yang biasanya berarti pengasingan, penyitaan seluruh harta benda, hukuman fisik sampai pencucuran darah dan perusakan total segala sesuatu dalam hidup mereka, berjumlah total 339.000. Namun, tidak ada catatan tentang berapa banyak orang yang mati di tahanan bawah tanah karena disiksa; karena dikurung di lubang yang kotor, penuh penyakit, yang penuh tikus, dan kutu; karena tubuh yang hancur atau hati yang hancur; atau jutaan orang yang tergantung hidupnya pada mereka untuk kelangsungan hidup mereka atau yang tergesa-gesa ke liang kubur karena kematian korbannya. Itu adalah catatan yang hanya diketahui di surga pada Hari Penghakiman.
Pada tahun 1479 karena desakan penguasa Gereja Roma di Spanyol, Ferdinand II dari Aragon, dan Isabella I dari Castile, Paus Sixtus IV membentuk Inkuisisi Spanyol yang independen yang dipimpin oleh dewan tinggi dan pelaksana Inkuisisi Agung.
Pad a 1487 Paus Innocentius VIII menunjuk rahib Dominikan Spanyol, Tomas de Torquemada, sebagai pelaksana Inkuisisi Agung. Di bawah kekuasaannya, ribuan orang Kristen, Yahudi, Muslim, penyihir yang dicurigai, dan orang-orang lainnya terbunuh dan disiksa. Orang-orang yang berada dalam bahaya terbesar karena Inkuisisi adalah kaum Protestan dan Alumbrados (penganut mistik di Spanyol).
Nama Torquemada menjadi sinonim dengan kekejaman, kefanatikan, sikap tidak toleran, dan kebencian. Ia adalah orang yang paling ditakuti di Spanyol; dan selama pemerintahan terornya dari 1487 sampai 1498l ia secara pribadi memerintahkan lebih dari 2.000 orang untuk dibakar di tiang. Ini berarti 181 orang setahun, sementara pengadilan Spanyol rata -rata hanya membakar 10 orang setahun.
Dengan dukungan penguasa Gereja Roma, pelaksana awal Inkuisisi Spanyol begitu sadis dalam cara penyiksaan dan teror mereka sehingga Paus Sixtus IV merasa ngeri mendengar laporan mereka, tetapi tidak mampu mengurangi kengerian yang telah dilepaskan di Spanyol. Ketika Torquemada dijadikan pe1aksana Inkuisisi Agung, akibatnya lebih parah dan ia melakukan Inkuisisi seolah-olah ia adalah dewa di Spanyol. Apa pun yang bisa ia kelompokkan sebagai pe1anggaran rohani diberi perhatian oleh pe1aksana Inkuisisi. Inkuisisi yang kejam di Spanyol belum mengenal kekejaman yang sebenarnya sampai Torquemada menjadi pemimpinnya.
Pada 1492 Inkuisisi digunakan untuk mengusir semua orang Yahudi dan bangsa Moors dari Spanyol atau untuk memaksakan pertobatan mereka kepada kekristenan Roma. Dengan desakan Torquemada, Ferdinand dan Isabella mengusir lebih dari 160.000 orang Yahudi yang tidak mau bertobat pada Gereja Roma.
Dari tujuan politis, pelaksana Inkuisisi juga melakukan penyelidikan yang kejam di antara penduduk baru dan orang-orang Indian yang bertobat di koloni Spanyol di Amerika.
Meskipun akhirnya ada penurunan dalam kekejamannya, Inkuisisi masih tetap bekerja dalam satu bentuk atau bentuk lainnya sampai awal abad ke-19 – 1834 di Spanyol, dan 1821 di Portugal – yaitu saat kelompok ini diganti namanya, tetapi tidak dihapuskan. Pada 1908, Inkuisisi direorganisir di bawah nama Congregation if the Holy Office dan didefinisikan ulang selama Konsili Vatikan II oleh Paus Paulus VI sebagai Congregation of the Doctrine if the Faith. Pada saat ini dikatakan, kelompok ini memiliki tugas yang lebih positif, yaitu memajukan doktrin yang benar daripada sekadar “menyensor” bidat.
Ketika pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempatitu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa diantaranya gila.
Pasukan Perancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakkan biara tersebut. [2]
Henry Charles Lea,seorang sejarawan Amerika, menulis kejahatan Inquisisi di Spanyol dalam empat volume bukunya: A History of theInquisition of Spain, (New York: AMS Press Inc., 1988). Dalam bukunya ini, Lea membantah bahwa Gereja tidak dapat dipersalahkan dalam kasus Inquisisi, sebagaimana misalnya dikatakan oleh seorang tokoh Kristen, Father Gam, yang menyatakan: “The inquisition is an institution for which the Church has no responsibility.” (Inquisisi adalahsatu institusi dimana Gereja tidak memiliki tanggung jawab untuk itu). Ini adalah salah satu bentuk apologi di kalangan pemimpin Kristen Katolik Roma.
Lea menunjuk bukti sebagai contoh bahwa dalam kasus bentuk hukuman terhadap korban inquisisi, otoritas gereja mengabaikan pendapat bahwa menghukum kaum “heretics” (kaum yang dicap menyimpang dari doktrin resmi gereja) dengan membakar hidup-hidup adalah bertentangan dengan semangat Kristus.Tapi, sikap gereja ketika itu menyatakan, bahwa membakar hidup-hidup kaum heretics adalah suatu tindakan yang mulia.
Ada Film bagus yang mengkisahkan Inkuisisi di Spanyol, diambil dari catatan seorang pelukis Francisco Goya (March 30, 1746 – April 16, 1828) yang ingin menyelamatkan seorang gadis model lukisannya dari jeratan pengadilan/hukuman inkuisisi. Upaya ini tak berhasil karena wewenang mutlak yang diberikan Kerajaan Spanyol bagi ‘Gereja’. Tuduhannya sepele saja karena didasarkan si gadis tidak memakan babi maka divonis gadis itu adalah pengikut Yudaisme, dalam penjara inkuisisi ia disiksa dengan kejam, mendapat perlakuan tak senonoh dari seorang rohaniawan sampai melahirkan anak, suatu hal yang ironis dimana Gereja menghalau segala macam “dosa” bidat/heresy tetapi mereka juga melakukan perbuatan asusila kepada pesakitannya.
http://www.imdb.com/title/tt0455957/
Film ini disutradarai oleh Milos Forman dan diproduseri oleh Saul Zaentz, 2 nama ini jaminan film-film berbobot, mereka menyajikan kisah pilu ini dengan baik sekali. Mungkin saja film ini akan membuat marah beberapa pihak, namun harus diakui bahwa memang sejarah mencatat, pernah ada kekejaman di kalangan Gereja. Ini terjadi ketika Gereja mendapat wewenang mutlak dan hak membunuh dan menyiksa atas orang-orang yang dianggap bidat dan diduga melawan doktrin-doktrin Gereja, akhirnya Gereja itu sendiri yang melakukan “penganiayaan” dan justru menjadi miskin kasih, suatu hal yang bertolak belakang dengan ajaran Kristus yang penuh kasih.
Dulu,kini dan selama-lamanya di mana ada kristian di sana ada darah.Lihatlah sejarah perang salib(300 tahun) perang dunia pertama dan kedua.Perang Vietnam,Palestina,Bosnia,Afghanistan dan Iraq,semuanya dilakukan oleh umat kristian.Tidak syak lagi,kristian adalah agama haus darah.Mereka hanya berkoar tentang kedamaian jika mereka tidak punya peluang.Begitu mereka dapat peluang segera mereka akan bertukar menjadi binatang yang sangat ganas.Mereka hanya baiknya di Jakarta.Tapi begitu di Ambon kita udah gak tau lagi siapa mereka manusia atau hewan.
Wahai orang-orang kafir!Kalian akan masuk neraka jika mati tidak sempat bertobat.Ucapkanlah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah supaya kalian mendapat kejayaan.
April 7, 2011 at 1:33 pm
April 7, 2011 at 1:36 pm
Ha ha ha..Kristian emang penuh dengan dongeng!
April 7, 2011 at 7:24 pm
@ilham:ISLAM tuh yg penuh dgn DONGENG
AWLOH HARUS MEMPUNYAI ISTRI UNTUK BISA PUNYA ANAK
QS 6:101
Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.
Penjelasan: Ayat itu mengisyaratkan kepada kita bahwa awloh seperti manusia, dia butuh istri untuk bisa mempunyai anak.
AWLOH YANG MAHA PERKASA BUTUH PERTOLONGAN MANUSIA
QS 47:7
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
QS 57:25
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolongNya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
QS 22:40
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa
Penjelasan: Awloh itu lemah tak berdaya sehingga butuh pertolongan manusia, tapi masih berani sesumbar menyatakan diri MAHA KUAT & MAHA PERKASA.
KATANYA AWLOH MAHA TAHU, KOQ DIA BELUM TAHU?
QS 9:16
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS 7: 52
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
QS 60:7
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS 17:51
atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu.” Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.” Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”,
QS 9: 102
Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.
QS 5: 52
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
Penjelasan: Lihat QS 6:101, dinyatakan bahwa awloh mengetahui segala sesuatu. Tapi ayat-ayat di atas mengisyaratkan pada kita bahwa pengetahuan awloh sesungguhnya terbatas, seperti manusia.
TATA BAHASA YANG KACAU, BUKTI AWLOH LEBIH BODOH DARI ANAK SEKOLAH DASAR
QS 7:57
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
QS 6:99
Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
QS 7:143
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
QS 2:253
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
QS 5:64
Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.
QS 39:53
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS 17:1
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS 42:13
Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
QS 74:31
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.
Dan masih banyak lagi.
Penjelasan: Ayat-ayat itu berisi kata ganti yang amat kacau. Siapa sebenarnya yang berbicara? Awloh ataukah Muhammad? Dalam satu ayat, kata ganti Awloh bisa berubah-ubah dari Dia, Kami, Aku, dst.
AWLOH MENGAJARI PERBUATAN SYIRIK, SUATU PERBUATAN YANG JUSTRU PALING DIBENCINYA
QS 7:11
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.
QS 2:34
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir
Penjelasan: Perintah syirik itu sungguh bertolak belakang dengan ayat-ayat berikut:
QS 17:23
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
QS 29:56
Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.
QS 46:5
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?
QS 16:49
Dan kepada Allâh sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.
AWLOH BUTA SEJARAH
QS 2:61
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.
Penjelasan: Awloh tidak tahu, pembunuhan nabi-nabi terjadi pada masa raja-raja Israel, jauh sesudah masa Musa
QS 6:84
Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Penjelasan: Urut-urutan nama keturunan Nuh tidak sesuai dengan garis waktu.
QS 19:27-28
Maka Maryam membawa anak itu (Isa) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,
Penjelasan: Muhammad mengira, Isa adalah anak Maryam saudara perempuan Harun, hidup tak jauh dari era Musa, pamannya. Padahal ada rentang waktu cukup jauh, yaitu sekitar 1500 tahun antara Musa dan Isa, dan ibu Isa bukanlah Maryam saudara Harun.
BINTANG ADALAH MISIL UNTUK MERUDAL SETAN
QS 67:5
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
QS 37:6-8
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.
Versi Inggris:
QS 67:5
And certainly We have adorned this lower heaven with lamps and We have made these missiles for the Shaitans, and We have prepared for them the chastisement of burning.
QS 37:6-8
Surely We have adorned the nearest heaven with an adornment, the stars, And (there is) a safeguard against every rebellious Shaitan. They cannot listen to the exalted assembly and they are thrown at from every side,
KITAB TAURAT DAN KITAB INJIL ADALAH KITAB PEMBERIAN DEWA (KITAB DARI LANGIT)
QS 32:23
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil
QS 17:2
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,
QS 2:87
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?
QS 2:53
Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.
QS 21:48
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
QS 5:46
Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.
Penjelasan: Kitab Taurat dan Kitab Injil adalah Kitab Sejarah (Biografi, serupa Hadist), bukan Kitab Mantera, Kitab Sakti, Buku Keramat ataupun Kitab Dewa yang turun dari langit.
AWLOH PUNYA 2 TANGAN SEPERTI MANUSIA
QS 38:75
Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.”
Penjelasan: Menurut QS 112:4 dan QS 42:11, Awloh tidak serupa dengan apapun, tapi menurut QS 38:75, awloh punya 2 tangan sehingga dia seperti manusia.
Coba lu jawab dulu pertanyaan gwa ini,atau ga lu bikin situs atau kasih link ke gwa,yg menjawab pertanyaan ini….HA HA HA….
April 7, 2011 at 7:33 pm
April 15, 2011 at 8:38 pm
bom lagiiii……bom lagiiiii….sekarang di cirebon…….capeee deeeeeh……siapakah pelakunya????????
May 3, 2011 at 11:44 am
Bagi yang beriman dalam Kristus, saya hanya ingin sedikit urun suara. Tidak usahlah kita menjadi emosi dengan komentar2 yang di tulis oleh kaum muslim. Sekalipun mereka mencaci maki iman kristen tanpa ada rasa tenggang rasa sama sekali, janganlah sekali2 kita menjadi emosi. Saya baru saja membaca satu ayat alkitab Yohanes 15 : 23 di situ di tulis Barangsaipa membenci Aku, ia membenci juga BapaKu. Dan Yohanes 16 : 2- 4a tertulis Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa SETIAP ORANG YANG MEMBUNUH KAMU AKAN MENYANGKA BAHWA IA BERBUAT BAKTI BAGI ALLAH. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku, Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.”
Disini jelas sekali bahwa Yesus Tuhan kita yang telah wafat dan bangkit, sudah memperingatkan kepada kita semua yang percaya kepadaNya, bahwa hal itu akan terjadi. Dan seperti sudah kita lihat dan baca baik di koran maupun televisi, beribu2 manusia dibunuh maupun dibantai oleh mereka yang mengatas namakan dirinya agama damai.Ribuan manusia di gantung karena mereka bertobat menjadi kristen, contohnya di Iran, Irak, Afganistan, India, Arab, dll. Sekali lagi, kita sudah diingatkan oleh Yesus Tuhan yang dinubuatkan sejak perjanjian lama, bahwa untuk mengikuti Yesus bukanlah hal yang gampang. Kita akan di tolak dan di benci oleh dunia. Jadi, untuk komentar dari kaum muslim yang sama sekali tidak ada dasarnya tidaklah perlu kita tanggapi. Bukankah kita justru harus berdoa untuk mereka yang menganiaya kita?! Ingatkah kalian (yang beriman kepada Kristus) bahwa hukum yang paling utama adalah Kasih!! Ya, Kasih adalah hukum yang paling unggul. Karena apabila kita memiliki KASIH di dalam hati kita, tentunya kita tak akan emosi atau sewot dengan mereka yang membenci kita. Kasih mengalahkan segalanya. Itulah hukum yang di ajarakan Tuhan Yesus. Untuk saudara/i kaum muslim yang masih kurang memahami tentang penyebutan Yesus sebagai Tuhan, marilah kita berdiskusi dengan kepala dingin, bukan dengan hujatan2 yang sama sekali tidak ada dasarnya, untuk menjelaskan sesuatu, kita harus menggunakan waktu dan pikiran yang jernih, hati yang bersih bukan dengan hati panas maupun emosi yang meluap2. Apa yang menjadi pertanyaan atau rasa penasaran lebih baik di diskusikan bukan dengan cara2 menghina satu sama lain. Kita semua adalah manusia cipataan Tuhan, jadi sudah sepantasnya kita tidak saling menyalahkan satu sama lain. Nah…saran dari saya klik di sini: http://katolisitas.org/
Semua pertanyaan, atau unek2 bisa anda tanyakan di website ini, untuk di ketahui pula, bahwa website ini, bukanlah ajang untuk berdebat maupun forum saling salah menyalahkan, website ini memberikan pengertian yang jelas akan ketidaktahuan seseorang tentang alkitab dan isinya.
October 7, 2011 at 10:09 am
Saya ada pengikut Tuhan Yesus. Iman saya adalah kepada Dia, Tuhan Yesus. Bagi saya, merupakan suatu berkat untuk saya bisa menjadi pengikut Tuhan yesus karena Dia adalah TUHAN YANG RELA BERKORBAN UNTUK MENEBUS DOSA KITA UMAT MANUSIA, BEGITU HEBATNYA CINTA TUHAN YESUS KEPADA KITA UMAT MANUSIA, SAMPAI DIA MENGORBANKAN NYAWANYA SENDIRI.
well….how about muhammad? yang saya tau hampir di setiap doa umat muslim, pasti banyak terselip doa2 atau kata2 yang mengagungkan atau mendoakan muhamad. Sedangka di kristen katolik, di setiap doanya kita memohon ampun dan berkat langsung dari Tuhan Yesus. dan menurut saya, knapa ya umat muslim selalu saja menyerang kami pengikut Yesus, kanapa juga umat muslim bisa dengan bangga nya dan arogan mengatakan mauapun bertingkah laku bahwa hanya agamanya saja yang paling benar??
Apakah kalian sadar kalo ternyata bagaimana??
hukum Yesus adalah CINTA KASIH, bagaimana dengan hukum kalian muslim??
menurut kalian muslim, adakah hukum yang lebihb sempurna daripada Cinta Kasih??
Menurut kalian muslim, apakah muhammad rela mengorbankan jiwanya untuk orang2 yang berdosa??
Tuhan Yesus memberkati kita semua.
October 8, 2011 at 12:18 pm
menebus dosa untuk umat manusia ape buat bani israil (termasuk yg bunuh yesus) coba belajar lagi hayo keprie iki.kudunya dikau terimakasih kepada “pembunuh yesus” karena tanpa mereka tak ada penebus dosa ,itu menurut ajaranmu. mereka paling berjasa daripada yesus itu sendiri dalam hal ini karena yesus butuh orang2 pembunuh dirinya sehingga terjadi yg namanya penebusan dosa
October 8, 2011 at 12:33 pm
Dan adakah tuhan mengorbankan manusia untuk menjadi pembunuh biadab sedangkan ajarannya yg bernama kristen so paling gencar menuduh orang2 suci sbg pembunuh tanpa sebab, padahal jelas sekali ajaran /kristen ini paling mendasar adalah “AJARAN PEMBUNUH BIADAB”
October 8, 2011 at 2:03 am
ANDA SALAH MUSLIM MENYADARKAN ANDA, SEMUA CERITA NABI ISA(JESUS) DI QURAN DARI ALLAH.NABI MUHAMMAD NGGA PANDAI BACA TULIS.BELIAU NGGA TAHU CERITA NABI2.SEMUA KISAH NABI DAN UMATNYA ALLAH BERI TAHU.ALLAH YANG HIDUP TERUS MENERUS NGGA PERNAH MATI.
HANYA ANDA KRISTEN KHATOL DAPAT AGAMA BUATAN DARI YAHUDI YANG UDAH DIOBOK OBOKSEHINGGA ALLAH LURUSKAN.MISALNYA KISAH NABI ISA YANG NGGA PERNAH DISALIB.SERTA DIA BUKAN ANAK TUHAN YANG PATUT DISEMBAH.BUKANKAH KITAB ANDA MENGATAKAN BAHWA NABI ISA(JESUS) MENERANGKAN TENTANG DATANGNYA NABI MUHAMMAD SERTA NABI MUHAMMAD MENCERITAKAN TENTANG NABI ISA.BUKA KITAB YOHANES.
ANGGAPAN ANDA TENTANG JESUS DAN AJARANNYA CINTA KASIH BETUL TAPI UNTUK BANI ISRAIL.SEDANGKAN AKHIR ZAMAN DIA AKAN TURUN MENYEMBELIH ANDA DAN KETURUNAN ANDA KARENA MENJADIKANNYA TUHAN SELAIN ALLAH.PADAHAL AJARAN ISLAM DARI ALLAH KEPADA PARA NABI ADALAH TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH.ITU BEDA YANG SANGAT BESAR.MENGERTI?MAKANYA KRISTEN KHATOL DISEMBELIHNYA.TIADA CINTA KASIH.KECUALI ANDA KEMBALI KE ISLAM.SEBAGAIMANA AJARANNYA SEMBAHLAH ALLAH SAJA DAN NABI ISA ADALAH UTUSAN ALLAH.BACA ALKITAB BAIK2
February 17, 2012 at 2:57 pm
Apaan wahyu dari Allah. Si Mamad yang ngarang wahyu dari Allah agar dia jadi nabi. Sadar bung, bacalah Quran dan Hadist dan engkau akan mendapatkan bahwa salah mengikuti si nabi. Perlilakunya menjijikkan.
Kalo Yesus dijamin suci, karena Alkitab dan Quran (palsu) mengatakan yang sama.
Hehe, Jesus itu adalah Allah (bukan Aulohnya Muslim). Kok si Mamad bisa membatalkan.
Tauhidnya Kristen itu adalah Trinitas, Yang Maha Esa. Pengertian Yang Maha Esa itu, dilukiskan dalam Kejadian 1:26, ketika Allah hendak menciptakan manusia, berfirmanlah Allah: “Marilah KITA menciptakan manusia SEGAMBAR dengan rupa KITA”.
Jadi kalau mau mengerti Trinitas, pelajarilah manusia. Manusia itu machluk ciptaan Allah yang sempurna. SEORANG manusia memiliki 3 unsur, yaitu : TUBUH, ROH DAN AKAL BUDI. Itulah pengertian Trinitas, walaupun manusia satu, tetapi dia terbentuk dari 3 unsur yang tidak dapat dipisahkan. Manusia tanpa Roh, bukan manusia, tetapi disebut MAYAT, manusia tanpa Akal Budi disebut Orang Gila, dan Roh tanpa Tubuh disebut Hantu.
Seperti Manusia Jesus berkata dalam John 10:30 “AKU DAN BAPA ADALAH SATU”. Itulah Tauhidnya Kristen. Mau percaya nggak terserah, soalnya tanggung jawab saya untuk memberitakan Injil Keselamatan sudah digenapi.
Allah TIDAK BERNAMA, dalam Kristen, Allah adalah sebutan bagi orang Indonesia, Melayu dan Arab, bukan nama. Sebutan Allah di Amerika, Inggris adalah God, di-Israel adalah Yahweh, di-Batak itu Debata, jadi seperti Kitab Keluaran, Allah bersabda :AKU ADALAH AKU, AKU ALLAHNYA ABRAHAM, ISHAK DAN YAKUB”. Ya, Allah dalam Kristen, TIDAK BERNAMA.
Shalom, Tuhan Yesus beserta kita!
February 17, 2012 at 4:49 pm
Nama Tuhan kalau disebut hati akan jadi tenang.Kalau nama itu bukan nama Tuhan disebut hati tidak bisa tenang.Coba lho sebut Allah…Allah…Allah pasti tenang.Coba sebut Yahweh…Yahweh..Yahweh..Tenang gak?
Al Quran menyebut..
Ingatlah, hanya dengan menyebut Allahlah hati menjadi tenteram”
(Ar-Ra`d:28)
May 16, 2012 at 5:11 am
@Bung Ilham :
Para Kristener tuh bingung kalo disuruh menyebut nama Tuhannya. Kan Tuhannya ada 3. Ada Tuhan Bapa, Tuhan Bunda, Tuhan Anak (Yesus). Padahal Bapa sama Bunda kan gak pernah nikah, bisa2nya punya Anak. Berarti Mereka kumpul kebo kan? Trus Tuhan Yesus tuh ANAK HARAM donk.
February 23, 2012 at 2:27 am
bung ilham tuhannya si edy palsu tuh yang suka menyan.
yah setan memang begitu, nafsu aja dihukum ribuan tahun ngga mau ngakui tuhannya Allah.kecuali kalo dikasih lapar baru dia mau beriman.nah iblis tuh udah kuat mencengram dirinya.
memang manusia bisa diibaratkan seperti tanah juga btu cadas.nah orang islam itu seperti tanah dicucuri hujan lalu tumbuh pohon yang memberi manfaat.si edy palsu seperti batu cadas.air hujan ngga beri manfaat padanya.belalu begitu saja.agama /ilmu Allah/periingatan muslim ngga beri manfaat pada dirinya, seperti juga csnya si atar si murtad dll.memberi manfaat untuk anak istrinya aja ngga bisa, apalagi unutk orang lain.
March 18, 2012 at 4:13 pm
untuk non muslim:
jika seorang pendeta (hindu, budha, kristen, katholik terserah) menyebut kata tuhan…. siapakah yang dimaksud? yesus kah, bapa kah, atau ruh kudus? atau apakah yang dimaksud itu ketiganya sekaligus? coba jawab.
May 31, 2012 at 1:42 pm
Ya ketiganya sekaligus.
Kan trinitas.
Tuhan Penguasa Semesta Alam
May 31, 2012 at 1:55 pm
Kau yakin Tuhan kau trinitas ?
Aku pastikan Tuhan kau akan kau akui hanya Allah , kalau kau mampu berdialog dengan Nalar , bukan dengan Dogma yang bodoh. Kau siap ?
Kalau kau seorang yang bodoh kau pasti tak sanggup dan tak siap.
Sanggup kau jawab kalau aku tanya ?