Oleh: Sujit Das
“Menghormati iman orang-orang percaya yang tulus seharusnya tidak menyebabkan investigasi yang dilakukan para ahli sejarah dilarang atau dibelokkan….Seseorang harus mempertahankan hak-hak metodologi dasar sejarah.”
- Maxime Rodhinson, 1981; p. 57
(Photo Source: Wikipedia, 2009)
Foto salah satu perkamen Sana’a Qur’an dari Gerd R Puin’s, memperlihatkan lapisan revisi yang dilakukan terhadap Quran
Seringkali orang-orang Muslim mengatakan bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru telah dikorupsi dan diubah secara serius. Mereka katakan, supaya sebuah Kitab Suci bisa dikatakan sebagai otoritatif, maka ia harus dipelihara tetap tanpa perubahan sama sekali, dan menunjuk pada Qur’an mereka sebagai kitab suci yang diwahyukan kata demi kata dan surat demi surat kepada Muhamamad oleh Allah. Quran mengklaim, “Tidak boleh ada perubahan dalam firman-firman Allah” (10:64), dan ”Tidak ada yang bisa merubah kata-kata (dan peraturan) Allah” (6:34).
Tetapi betapa anehnya ‘doktrin pembatalan’ ini, dimana wahyu-wahyu yang datang kemudian membatalkan wahyu-wahyu terdahulu, sebagaimana Quran (2:106) menegaskan, ”Wahyu-wahyu…..Kami membatalkan/mencabut atau menyebabkan untuk dilupakan.” Juga, sebuah Hadis (6:558) dari Sahih Bukhari menegaskan bahwa Muhammad melupakan banyak ayat. Disamping itu, Sunaan ibn Majah (3: 1944) mencatat bahwa setelah kematian Muhammad, sejumlah wahyu dimakan oleh seekor kambing. Bagaimana kata-kata Ilahi bisa dimakan, diubah, dibatalkan atau dihapuskan, meskipun ada klaim dari Allah dalam Sura 10:64 dan 6:43?
Tidakkah semua klaim-klaim dari Allah ini berkontradiksi dengan diriNya sendiri? Tetapi ajaibnya; kenyataan ini sama sekali tidak mengganggu pemikiran orang-orang Muslim. Barangkali, jika kita bisa menghadirkan Quran lain yang “otentik”, dan yang berbeda dengan bentuk standar Quran yang ada saat ini, maka Muslim akan mulai menggunakan logika mereka.
Kebenaran yang sangat menghancurkan adalah bahwa sejumlah besar naskah-naskah kuno, berasal dari abad pertama Hijrah ditemukan di Mesjid Agung di Sana’a (Yaman), yang secara signifikan berbeda dengan Quran standar yang ada sekarang. Sistem penanggalan dengan menggunakan Carbon meyakini bahwa naskah-naskah Quran ini tidak dibuat oleh lawan-lawan keagamaan. Disamping itu, naskah-naskah Quran ini ditemukan oleh orang-orang Muslim sendiri, bukan oleh orang-orang kafir.
Barangkali inilah peristiwa yang paling memalukan dalam sejarah Islam yang sudah berlangsung selama 14 Abad.
Mesjid Agung Sana’a adalah salah satu Mesjid tertua dalam sejarah Islam. Gedung ini dibangun pada tahun 6 Hijrah ketika Muhammad mempercayakan salah seorang dari teman-temannya untuk membangun sebuah Mesjid di Yaman, yang diperluas dan diperbesar oleh para pemimpin Islam dari masa ke masa.
Pada tahun 1972, ketika berlangsung restorasi Mesjid Agung ini (hujan deras menyebabkan dinding bagian Barat Mesjid ini rubuh), para tukang yang bekerja dalam sebuah ruangan mahkota diantara struktur bagian dalam dan atap bagian luar, menemukan sebuah kuburan yang menakjubkan, yang pada saat itu, karena ketidaktahuan mereka, mereka tidak menyadari apa yang ada di situ. Biasanya mesjid tidak mengakomodasi kuburan, dan situs ini juga tidak berisi batu nisan, tidak ada sisa-sisa tubuh/tulang manusia dan juga tidak ada barang-barang peninggalan dari pemakaman. Tak ada benda lain di dalamnya kecuali perkamen tua dan dokumen-dokumen surat yang jumlahnya sangat banyak. Juga di dalamnya ditemukan buku-buku yang sudah rusak dan halaman-halaman teks individual dalam bahasa Arab, yang sudah lebur menjadi satu oleh karena hujan dan kelembaban selama lebih dari seribu tahun.
(Sumber foto: Dreibholz, 1999, p. 23)

Sejumlah fragmen-fragmen perkamen Qur’anik dalam kondisi ketika mereka ditemukan
Para tukang yang tidak mengerti itu kemudian mengumpulkan naskah-naskah tersebut, memasukkannya dengan sembrono ke dalam 20 karung kentang, dan meletakkannya pada tangga di salah satu menara Mesjid, dimana naskah-naskah itu pun kemudian dikunci di situ. Naskah-naskah itu akan kembali dilupakan, jika bukan karena Qadhi Isma’il al-Akwa, Presiden Otoritas Barang-Barang Antik Yaman, yang di kemudian hari menyadari pentingnya penemuan itu. Al-Akwa mencari pertolongan dari dunia Internasional untuk menguji dan mengawetkan fragmen-fragmen itu, sebab tidak ada seorang pun sarjana di negaranya yang sanggup mengerjakan penemuan yang sangat kaya seperti ini. Pada tahun 1997, ia menerima kunjungan dari seorang sarjana Jerman non-Muslim. Orang ini lalu membujuk pemerintah Jerman untuk mengorganisir dan menjalankan sebuah proyek restorasi.
Segera setelah proyek itu dimulai, menjadi jelaslah bahwa “kuburan kertas” itu adalah sebuah tempat untuk menyimpan puluhan ribu fragmen-fragmen dari hampir seribu naskah-naskah kuno Quran, kitab suci Muslim. Otoritas Muslim pada masa-masa awal Islam menganjurkan agar kopian-kopian Quran yang telah rusak disingkirkan dari peredaran dan hanya mengijinkan edisi-edisi kitab suci yang masih baik untuk dipakai. Juga tempat yang aman seperti itu dibutuhkan untuk melindungi kitab-kitab itu dari kebakaran atau kehancuran jika para penyerang datang, dan di sinilah kemudian muncul ide untuk menyimpannya di sebuah ‘kuburan’ dalam Mesjid Agung di Sana’a, yang pada waktu itu merupakan tempat untuk mempelajari Quran. Hal ini sudah berlangsung sejak abad pertama Hijrah.
Restorasi naskah-naskah itu diorganisir dan diawasi oleh Gerd R. Puin dari Saarland University, di Jerman. Puin adalah seorang spesialis terkemuka dalam bidang kaligrafi Arabik (studi mengenai tulisan tangan indah dan artistik), dan merupakan seorang paleografi (studi mengenai dokumen-dokumen dan tulisan kuno) Qur’anik. Selama sepuluh tahun ia secara ekstensif menguji fragmen-fragmen perkamen yang berharga itu. Tahun 1985, rekannya H. C. Graf V. Bothmer bergabung dengannya.
Tes-tes Carbon-14 menunjukkan bahwa sejumlah perkamen itu berasal dari tahun 645-690 AD. Tahun pembuatan mereka yang sebenarnya bisa jadi lebih dini lagi, karena C-14 memperkirakan tahun kematian dari sebuah organisme (perkamen adalah kulit binatang), dan proses itu hingga penulisan akhir pada perkamen mencakup waktu yang tidak bisa diketahui. Tanggal penulisan kaligrafi menunjukkan tahun 710-715 AD. Beberapa perkamen kelihatannya berasal dari abad ke tujuh dan ke sembilan, dan karena itu bisa disebut sebagai Qur’an tertua yang ada saat ini.
Pada tahun 1984, Rumah Naskah (Dar al Makhtutat) didirikan di dekat Mesjid Agung, sebagai bagian dari proyek kerjasama antara otoritas Yaman dan Jerman. Sebuah usaha keras yang sangat besar dimulai untuk merestorasi fragmen-fragmen Qur’anik. Antara tahun 1983 dan 1996, kira-kira 15.000 dari 40.000 halaman telah selesai direstorasi, khususnya 12.000 fragmen-fragmen pada perkamen dan naskah-naskah yang berasal dari abad ke tujuh dan sembilan.
(Sumber Foto: Dreibholz, 1999. p. 22)

Perpustakaan Dar al-Makhtutat dimana disimpan Naskah-Naskah dan katalog yang baru ditemukan
Hingga saat ini, hanya ada tiga kopian kuno Qur’an yang ditemukan. Yang pertama disimpan di Perpustakaan Inggris di London, berasal dari akhir abad ke tujuh dan dianggap sebagai yang paling tua. Tetapi naskah-naskah Sana’a bahkan usianya lebih tua. Lebih dari itu, naskah-naskah ini ditulis dengan huruf yang aslinya berasal dari Hijaz – wilayah Arabia dimana Nabi Muhammad hidup, yang membuatnya tidak hanya sebagai naskah tertua yang berhasil selamat, tetapi kopian otentik Qur’an yang paling tua. Arabik Hijazi adalah tulisan (Mekkah atau Medinah), dan Qur’an mula-mula ditulis dengan huruf ini. Meskipun potongan-potongan ini berasal dari Qur’an paling awal yang pernah ada, mereka juga merupakan palimpsests (naskah-naskah dengan tulisan asli yang telah dipakai ulang).
Gaya tulisan tangan yang indah dan artistik dan jarang dipakai menjadi hal yang menarik perhatian Puin dan temannya Bothmer, tetapi hal yang lebih mengejutkan lagi menanti mereka. Ketika naskah Qur’an ini diperbandingkan dengan naskah Qur’an standard yang ada saat ini, kedua orang ini menjadi terheran-heran. Teks-teks kuno yang ditemukan ini sangat berbeda dengan naskah yang ada sekarang, dan hal ini benar-benar mengganggu. Di sini terdapat ayat-ayat yang disusun secara tidak konvensional, variasi-variasi tekstual yang sedikit namun signifikan, ortografi (pengejaan) yang berbeda dan perbedaan pada pembubuhan (dekorasi) artistik.
Hal ini benar-benar menghantam keyakinan orang-orang Muslim ortodoks bahwa Qur’an yang ada hari ini dapat dikatakan sebagai Firman Allah yang “sempurna, kekal sepanjang masa dan tidak berubah.” Dengan penemuan naskah ini berarti Qur’an telah didistorsi, dinodai, direvisi, dimodifikasi dan dikoreksi, dan perubahan tekstual secara murni telah terjadi selama bertahun-tahun oleh tangan-tangan manusia.
Aura kesakralan disekeliling Kitab Suci Islam ini, yang masih utuh selama lebih dari 14 abad lamanya, menjadi hilang dengan penemuan yang mencengangkan ini, dan keyakinan inti dari semilyar lebih orang-orang Muslim yang meyakini bahwa Qur’an itu kekal, firman Allah yang tidak bisa berubah sekarang tampak jelas hanya sebagai sebuah kebohongan besar. Bukan hanya itu; klaim Qur’anik bahwa tak ada orang yang bisa merubah firman-firman Allah juga merupakan sebuah kepalsuan. Qur’an seharusnya merupakan sebuah, jika kita meminjam kata-kata dari Guillaume (1978, p. 74), yang paling suci dari semua yang suci. Ia tidak boleh ada di bawah kitab yang lain, tetapi selalu berada di atasnya, orang tak boleh minum atau merokok ketika kitab ini dibacakan dengan keras, dan ia harus didengarkan di dalam keheningan. Ini adalah Kitab yang merupakan jimat melawan penyakit dan bencana.” Orang-orang Muslim menyebut Quran sebagai “Ibu dari semua Kitab” dan meyakini tak ada kitab atau wahyu lainnya yang bisa diperbandingkan dengan Qur’an (Caner & Caner, 2002. p.84). Tetapi sekarang, dengan penemuan ini, semua keyakinan itu menjadi lenyap. Hasil akhir dari seluruh perjuangan Islam selama empat belas abad sekarang menjadi nol besar.
Tidak hanya itu, banyak naskah memperlihatkan tanda-tanda dimana naskah-naskah itu menggunakan tulisan asli yang telah dipakai ulang. Misalnya, ayat-ayat yang sangat jelas ditulis di atas ayat-ayat lain yang sudah dihapus. Tentu saja ayat-ayat yang ada di bawah tulisan yang ada sekarang sulit untuk dibaca secara visual, tetapi peralatan-peralatan modern seperti fotografi ultraviolet dapat memperlihatkan dengan jelas tulisan-tulisan itu. Dipercaya bahwa naskah-naskah Sana’a bukan hanya satu-satunya varian, tetapi sebelum itu, teks Qur’anik telah dimodifikasikan dan ditulis ulang pada kertas yang sama. Hal ini berarti, klaim Allah (Sura 56: 77-78; 85:21-22) bahwa teks asli telah disimpan di surga pada lembaran-lembaran emas, yang tak bisa disentuh oleh siapa pun kecuali para malaikat, hanyalah sebuah cerita dongeng.
Setelah mempelajari dengan seksama naskah-naskah ini, Puin sampai pada kesimpulan bahwa teks ini sesungguhnya sebuah teks yang telah dikembangkan, dan bukannya firman Allah sebagaimana yang diwahyukan secara menyeluruh kepada Muhammad (Warraq, 2002, p. 109). Dengan perasaan tergetar ia berkata, ”Begitu banyak Muslim yang memiliki keyakinan ini, bahwa segala sesuatu diantara kedua penutup Qur’an adalah firman Allah yang tak bisa dirubah. Mereka senang mengutip karya tekstual yang memperlihatkan bahwa Alkitab memiliki sebuah sejarah dan bukan sesuatu yang diturunkan langsung dari langit, bahwa hingga saat ini Qur’an berada di luar perdebatan. Satu-satunya cara untuk meruntuhkan dinding ini adalah dengan membuktikan bahwa Qur’an pun memiliki catatan sejarah. Fragmen-fragmen Sana’a akan membantu kita melakukan hal ini.”
Puin bahkan menyimpulkan (mengutip Taher, 2000), ”Tak ada satu pun karya tunggal yang tetap tanpa perubahan selama berabad-abad. Termasuk kisah-kisah yang ditulis sebelum nabi Muhammad memulai pelayanannya dan yang kemudian setelah itu ditulis ulang.”
Selama melakukan riset mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Puin (Lester, 1999), ”Mereka (otoritas Yaman ingin agar hal ini tidak digembar-gemborkan, sebagaimana yang juga kami lakukan, meski dengan alasan yang berbeda. Mereka tak ingin menarik perhatian pada kenyataan bahwa ada orang-orang Jerman dan lainnya yang melakukan studi terhadap Qur’an. Mereka tidak mau mengumumkannya kepada publik, bahwa ada pekerjaan seperti ini yang sedang dilakukan, oleh karena posisi Islam adalah bahwa semua hal yang perlu dikatakan mengenai sejarah Qur’an telah dikatakan seribu tahun lalu.”
Pada kenyataannya, Puin dan rekannya Bothmer mengetahui untuk beberapa saat ketika mereka melakukan studi mereka, bahwa Qur’an sendiri adalah sebuah teks yang terus berkembang, namun dengan bijaksana mereka memahami implikasi yang mungkin dari penemuan-penemuan mereka dan karena itu mereka tetap berdiam diri. Jika otoritas Yaman mengetahui penemuan ini, sangat besar kemungkinan mereka akan menolak kedua orang ini untuk memperoleh akses lebih jauh. Inilah yang dimaksudkan oleh Puin sebagai “alasan-alasan lain.” Karena itu keduanya tetap diam, dan kedua sarjana ini dapat tetap meneruskan riset mereka.
Penemuan Puin juga mengkonfirmasi asumsi Wansbrough mengenai teks Qur’anik. Pada tahun 1970an, Wansbrough menyimpulkan bahwa Qur’an berkembang secara bertahap pada abad ketujuh dan kedelapan, setelah periode panjang dari transmisi oral, dan sekte-sekte yang berbeda biasanya berdebat dengan keras satu sama lain mengenai wahyu-wahyu mana yang asli. Alasan bahwa tidak ada sumber materi dari permulaan Islam yang pernah selamat adalah karena ia memang tidak pernah ada. Pada kenyataannya, Puin mengakui bahwa ia ‘membaca ulang karya Wansbrough ketika ia menganalisa fragmen-fragmen Yaman itu (Warraq, 2002. p. 122).
Teori Puin lainnya yang radikal adalah bahwa sumber-sumber pra-Islamik telah memasuki Qur’an. Argumentasinya adalah bahwa ada dua suku yang disebut, As-Sahab-ar-Rass (Para sahabat dari Sumur) dan As-Sahab-al-Aiqa (Para Sahabat dari Semak-semak Berduri) yang bukan merupakan bagian dari tradisi Arab, dan orang-orang pada masa Muhammad tentu saja tidak mengenal mereka. Ia juga tidak setuju pandangan yang mengatakan bahwa Qur’an ditulis dalam bahasa Arab yang paling murni. Kata “Qur’an” itu sendiri aslinya berasal dari luar Arab. Kontras dengan keyakinan populer Muslim, ia mengatakan bahwa arti dari “Qur’an” bukanlah pembacaan atau pengajian. Sebenarnya kata “Qur’an” menurutnya berasal dari bahasa Aramaik, “Qariyun”, artinya sebuah leksionari bagian-bagian kitab suci yang ditetapkan untuk dibaca dalam ibadah ilahi. Qur’an kebanyakan berisi cerita-cerita Alkitab tetapi dalam bentuk yang lebih pendek dan merupakan “sebuah ringkasan dari Alkitab untuk dibaca dalam ibadah.”
Bothmer secara seksama telah mengambil lebih dari tiga puluh lima ribu gambar-gambar mikro film dari fragmen-fragmen itu pada tahun 1997 dan membawa gambar-gambar itu ke Jerman (Warraq, 2002, p.109). Artinya bahwa saat ini Bothmer, Puin dan para sarjana lainnya pada akhirnya akan memiliki sebuah kesempatan untuk meneliti kembali dengan lebih cermat teks-teks itu dan mempublikasikan penemuan-penemuan mereka dengan bebas.
Puin tertarik untuk menulis sebuah buku mengenai hal ini pada masa depan, tetapi ia telah menulis beberapa tulisan-tulisan pendek mengenai penemuan mereka di berbagai macam majalah ilmiah, dimana ia memperlihatkan beberapa penyimpangan antara Qur’an kuno dan Qur’an standar sebagaimana yang ada saat ini (Mengutip Warraq, 2002, p.739-44)
Ketika membuktikan bahwa Qur’an sama sekali bukan kitab yang bisa dianggap suci, Puin menulis, ”Pendapat saya adalah bahwa Qur’an sejenis teks-teks gado-gado dimana tidak semuanya dimengerti pada masa Muhammad. Banyak dari teks-teks ini bahkan usianya seratus tahun lebih tua daripada Islam itu sendiri. Klaim-klaim Qur’an untuk dirinya sendiri adalah bahwa ia merupakan sesuatu yang jelas (mubeen). Tetapi (kontras dengan keyakinan populer) jika anda mengamatinya, anda akan menemukan bahwa seperlima dari kalimatnya sama sekali tidak mempunyai makna…faktanya adalah seperlima dari teks Qur’anik sama sekali tidak bersifat komprehensif. Jika Qur’an itu tidak komprehensif, bahkan jika ia sendiri tidak bisa dimengerti dalam bahasa Arab, maka ia juga tak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Itulah sebabnya mengapa Muslim merasa takut. Meskipun berulang-ulang Qur’an mengklaim bahwa ia adalah sesuatu yang jelas, tetapi nyatanya di situ terdapat banyak sekali kontradiksi yang sangat serius. Sesuatu pasti telah terjadi.
Penemuan yang luar biasa dari Puin sangat menarik perhatian Andrew Rippin, seorang Profesor bidang studi agama dan seorang ahli terkemuka dalam bidang studi Qur’an. Rippin (dikutip dari Warraq, 2002, p.110) menyimpulkan, ”Pengaruh dari naskah-naskah Yaman masih bisa dirasakan. Pembacaan-pembacaan mereka yang bervariasi dan susunan ayat-ayat semuanya sangat signifikan. Semua orang setuju dengan hal ini. Naskah-naskah ini memperlihatkan bahwa sejarah awal teks Qur’anik lebih dari sekedar sebuah pertanyaan terbuka sebagaimana yang diduga banyak orang. Teks itu kurang stabil dan karena itu otoritasnya sedikit, daripada yang selalu diklaim.”
Observasi Rippin benar-benar luar biasa. Selama periode Kalifah mula-mula, Islam bertumbuh sebagai gerakan politik dan bukan sebagai sebuah gerakan keagamaan. Sebuah buku seperti Qur’an dibutuhkan untuk menjaga agar orang-orang Muslim tetap bersatu. Qur’an seperti sebuah ‘simbol status’ dari Islam, yang jika bukan karena buku ini maka Islam akan mati bahkan pada masa Muhammad. Qur’an itu murni buatan manusia.
Beberapa hal yang bersifat ilahi dilekatkan pada Qur’an supaya ia bisa memberikan perintah yang bisa dihormati, sebab ia tidak memiliki kuasa dari dirinya sendiri. Inilah caranya, bagaimana ketika mengakui klaim-klaim dari Qur’an sebagai ungkapan langsung dari Yang Ilahi, para manipulator mula-mula telah menyingkirkan semua kritik, yang kemungkinan akan mengeksposnya. Dalam Sura 5:101 dan 5:102 Qur’an sendiri melarang kritik. Kita tidak tahu saat kebutaan religius secara perlahan muncul, tetapi tanpa ragu, Muslim mula-mula setelah Muhammad sebenarnya lebih liberal dibandingkan dengan generasi yang kita lihat saat ini. Otentisitas dari banyak ayat telah dipertanyakan sendiri oleh orang-orang Muslim mula-mula. Banyak Kharijit, yang merupakan pengikut-pengikut Ali dalam sejarah Islam mula-mula, menemukan Sura yang menceritakan cerita yang tidak sopan mengenai Yusuf, sebuah kisah erotis yang tidak mungkin merupakan bagian dari Qur’an (dikutip dari Warraq, 1998, p.17)
Warraq (1998, p. 14) memiliki pandangan yang sama dengan Rippin, ”Para sarjana Muslim pada tahun-tahun awal Islam jauh lebih fleksibel dengan posisi mereka, menyadari bahwa bagian-bagian Qur’an telah hilang, diselewengkan dan bahwa ada ribuan perbedaan yang menyebabkan tidak mungkin bisa berbicara mengenai Qur’an.”
Ada bukti lainnya bahwa pesan-pesan Qur’anik telah diubah pada masa-masa awal Islam dan tidak ada lagi yang eksis yang disebut “Qur’an”. Tulisan dari beberapa ayat Qur’anik menghiasi Mesjid Dome of Rock di Yerusalem, yang barangkali merupakan monumen Islamik pertama dam merupakan sebuah pencapaian artistik mayor, dibangun tahun 691 AD (Whelan, 1998, pp 1-14). Tulisan-tulisan ini secara signifikan berbeda dari teks standar yang ada saat ini (Warraq, 2000, p. 34)
Mingana (mengutip Warraq, 1998. p.80) mengeluhkan, ”Pertanyaan paling penting dalam mempelajari Qur’an adalah otoritasnya yang tidak boleh ditantang.” Inilah satu-satunya alasan; investigasi kritikal mengenai teks Qur’an adalah sebuah studi yang masih belum dewasa. Sebagaimana dikatakan oleh Rippin (1991, p. ix) yang mengeluhkan, ”Seringkali saya menemukan individu-individu yang mempelajari Islam dengan latar belakang studi sejarah Alkitab Ibrani atau Kekristenan mula-mula, dan yang mengekspresikan keterkejutan pada kurangnya pemikiran kritis yang muncul dalam teksbook-teksbook pendahuluan Islam. Gagasan bahwa “Islam dilahirkan dalam terang sejarah yang jelas” kelihatannya masih merupakan anggapan dari banyak penulis besar mengenai teks-teks seperti itu.” Cook dan Crone (1977, p. 18) menyimpulkan,”[Qur’an] sangat kurang dalam keseluruhan struktur, seringkali tidak jelas dan tidak merupakan sebuah rangkaian; sementara isinya asal-asalan dan materi-materi yang dibahas berbeda, serta melakukan pengulangan-pengulangan di seluruh pasal dengan versi yang berbeda-beda. Dengan dasar ini, bisa diperdebatkan bahwa kitab ini adalah produk dari sebuah keterlambatan dan pengeditan materi yang tidak sempurna dari sebuah tradisi-tradisi yang bersifat plural.” Crone (mengutip Warraq, 1998, p. 33) juga menuliskan, ”Qur’an telah menurunkan banyak sekali informasi palsu.”
Tetapi dalam kaitan dengan Alkitab, kita menemukan perbedaan, sebagaimana yang diobservasi oleh Rodinson (1980, p. viii),”[Untuk Alkitab] sikap ilmiah dimulai dengan keputusan untuk menerima sesuatu sebagai fakta hanya jika sumber itu telah dibuktikan sebagai sesuatu yang dapat dipercaya.” Orang-orang Muslim secara salah mengintepretasikan kejujuran orang-orang Kristen yang memperlihatkan sejumlah pembacaan Alkitab yang bervariasi sebagai kelemahan (Ali & Spencer; 2003. p. 76-9).
Orang-orang Kristen, seperti halnya orang-orang Hindu, ingin melihat Kitab Suci mereka melalui sudut pandang ilmiah dan sejarah. Ketika naskah-naskah tua Alkitab, perkamen-perkamen atau naskah-naskah Hindu ditemukan, para sarjana Kristen dan Hindu hampir-hampir saling memanjat bahu masing-masing agar bisa terlebih dahulu mendapatkan akses kepada teks-teks itu. Penemuan-penemuan seperti ini membuat mereka merasa sangat tertarik. Tetapi sayangnya, tidak ada hasrat seperti itu dalam Islam. Kristen dan Hindu sangat berkeinginan untuk melihat lebih banyak lagi hal-hal yang bisa disingkapkan mengenai kitab suci mereka, sementara Muslim menolaknya, bahkan seringkali dengan determinasi yang kuat. Kontras ini benar-benar sebuah pukulan. Sementara baik iman Hindu dan Kristen secara kuat didukung oleh bukti-bukti arkeologis dan historis, sejauh ini tidak ada satu pun eksplorasi arkeologis yang diijinkan untuk dilakukan di Mekkah dan Medinah, dan tidak ada kemungkinan untuk melakukannya di masa yang akan datang (Peters, 1986. p. 72-4).
Kritikan Muslim terhadap Qur’an sangat jarang dan hampir-hampir tidak pernah ada sebagaimana yang dikeluhkan oleh Sina (2008, p. 6), ”Orang-orang Muslim pada dasarnya tidak punya kapabilitas untuk mempertanyakan Islam.” Baru-baru ini saja website-website para mantan Muslim yang melakukan sejumlah karya yang luar biasa mengenai hal ini. Tentu saja, orang-orang yang telah mengalami pencerahan seperti mereka akan berhasil membebaskan saudara-saudari Muslim mereka dari penjara Islamik. Jika tidak, apa pun kritikan yang dilakukan terhadap Qur’an, semuanya akan dilakukan oleh para sarjana Kristen. Tetapi orang-orang Muslim seharusnya tidak menganggap kritik dari orang Kristen sebagai sebuah tanda oposisi religius. Para sarjana Kristen telah melakukan lebih banyak lagi kritikan terhadap agama mereka sendiri daripada terhadap Islam (Sproul & Saleeb, 2003. p. 17; Spencer, 2007, p. 1).
Tetapi sekali penemuan-penemuan Sana’a dipublikasikan secara detil, Islam tidak akan pernah sama lagi sebagaimana ia ada selama empat belas abad ini. Islam pasti akan mengambil sebuah posisi yang asing. Banyak Muslim akan menunjukkan keraguan terhadap kesakralan Qur’anik dan konsep yang sangat “romantis” dari Qur’an secara perlahan akan lenyap dan sebuah perkembangan yang sangat menarik akan bisa diobservasi. Pertanyaan pertama yang akan muncul di pikiran mereka adalah – versi yang mana yang paling superior. Tetapi kemudian, tidak mungkin memilih sebuah versi Qur’an dan menolak versi yang lain berdasarkan pilihan. Sebab keyakinan Muslim juga menegaskan bahwa siapa saja yang menolak bahkan satu ayat pun dari Qur’an, sebenarnya mereka telah menolak seluruh pewahyuan. Ini adalah sebuah kemustahilan logis dan karena riset ilmiah telah meneriakkan kebenaran; banyak Muslim akan mencari jalan keluar dari hal yang tidak masuk akal ini dan akan mencoba membebaskan diri mereka dari penindasan tirani yang hidup di sebuah agama yang palsu.
Ketika mendiskusikan apatisme Muslim terhadap sains, hukum logika dan hukum alam, Jaki (mengutip Spencer, 2002, p. 127) menulis, ”Apa yang terjadi dalam dunia Muslim hari ini adalah sebuah konfrontasi, bukan antara Tuhan dan Iblis…tetapi antara satu Tuhan yang sangat spesifik dan ilmu pengetahuan yang merupakan sebuah antagonis yang sangat spesifik dari Tuhan itu, yaitu Allah dari Qur’an, yang merupakan oknum yang sepenuhnya mendominasi intelektual.” Penemuan Sana’a hanya akan menambahkan bahan bakar untuk api itu. Hari ini dunia Muslim dikelilingi dengan frustasi. Islam seharusnya menjadi wahyu terakhir dan orang-orang Muslim seharusnya menjadi “Manusia terbaik”, tetapi kenyataannya benar-benar bertentangan. Bangsa-bangsa Muslim adalah bangsa-bangsa yang paling miskin di dunia (Ohmyrus, 2006, p. 128). Saatnya akan tiba ketika otoritas keagamaan akan ditanya oleh orang-orang Muslim kebanyakan, dan mereka akan dituntut untuk menyangkali kritikan-kritikan secara logis, ilmiah dan masuk akal, bukan dengan kekuatan brutal atau melalui Fatwa. Sebagaimana yang ditulis oleh Parvez Manzoor, ”Cepat atau lambat [kami orang-orang Muslim] harus mendekati Qur’an dari asumsi-asumsi metodologikal dan parameter-parameter yang secara radikal merupakan hal yang asing dengan hal-hal yang telah disucikan oleh tradisi kami” (Warraq, 2002, p. 123).
Tetapi naskah-naskah Sana’a juga akan memprovokasi pertanyaan lainnya. Jika Qur’an adalah sebuah kebohongan, bagaimana kebohongan ini bisa bertahan selama berabad-abad? Alasannya adalah bahwa Keilahian yang ditempelkan pada Qur’an bukan hanya sebuah “Kebohongan Yang Kecil”, tetapi “Sebuah Kebohongan Yang Besar.” Kebohongan-kebohongan yang besar adalah sesuatu yang sangat ampuh, dan ia selalu memiliki sebuah efek psikologis terhadap para pendengar. Semakin besar kebohongan, semakin ia bisa dipercayai. Adolf Hitler menulis dalam Mein Kamph (1925), ”Massa yang besar dari sebuah bangsa akan menjadi korban oleh sebuah kebohongan besar daripada oleh sebuah kebohongan kecil.” Kebohongan besar sangat meyakinkan karena ia akan menutupi pikiran sehat pendengar, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sina (2008, p. 179), orang-orang biasa tidak akan berani untuk menceritakan sebuah kebohongan besar sebab ia berpikir bahwa hal itu tidak akan dipercayai dan ia akan menjadi bahan olok-olok. Karena tidak ada seorang pun yang pernah menceritakan sebuah kebohongan dalam hidupnya, kebohongan-kebohongan kecil seringkali cepat atau lambat akan bisa dideteksi. Tetapi kebohongan-kebohongan besar benar-benar aneh karena ia seringkali membuat para pendengar menjadi kehilangan akal. Ketika kebohongan itu sangat besar (seumpama raksasa), orang-orang kebanyakan akan bertanya-tanya bagaimana seseorang memiliki keberanian, yaitu dengan lancang mengatakan hal seperti itu.
Kebohongan besar selalu mengejakan keajaiban dalam politik. George Orwill (mengutip Sina, 2008, p. 179) berkata, ”Bahasa politik….didisain untuk membuat kebohongan terdengar sebagai sesuatu yang jujur dan pembunuhan dapat dihargai dan membuat angin terlihat sebagai sesuatu yang padat.” Hari ini, ketika sifat keilahian Qur’an disebarkan oleh naskah-naskah Sana’a, maka natur spiritual Islam juga diekspos. Islam tak lebih dari sebuah gerakan politik Arab. Sifat keilahian ditempelkan pada Qur’an, ketika orang-orang Arab mulai menduduki bangsa-bangsa di sekeliling mereka dan Islam dipaksakan oleh mereka dengan kekerasan. Orang-orang Arab tidak hanya memaksakan Islam pada bangsa-bangsa lain tetapi juga memaksakan keyakinan irasional dari keilahian Qur’anik ini kepada pemikiran-pemikiran para korban mereka, sehingga ketika orang-orang Arab telah pergi, orang-orang yang telah ditaklukkan tidak bisa keluar dari mental perbudakan ini dan kembali kepada iman mereka yang asli. Ini adalah sebuah keahlian politik yang langka. Banyak sahabat-sahabat Muhammad dengan jelas mengetahui bahwa Qur’an adalah sebuah kepalsuan, tetapi mereka tetap tinggal bersama dengan nabi mereka untuk bisa memperoleh barang rampasan dan menikmati para wanita. Kita semua tahu, setelah kematian Muhammad, beberapa suku Arab kembali kepada keyakinan mereka sebelumnya dan penyembahan berhala pun kembali mekar.
Menyebabkan banyak Muslim menjadi syok; studi modern dalam bidang Psikologi telah memperlihatkan kebenaran bahwa Muhammad adalah seorang yang suka memaksa, seorang pria gila yang menderita Kelainan Personalitas Narsisistik (Narcissistic Personality Disorder). Narsisistik adalah orang-orang yang diserap oleh dirinya sendiri dan secara patologis merupakan para pembohong. Artinya, apakah mereka tidak menyadari kebohongan mereka atau merasa sepenuhnya benar dan merasa mudah berbohong pada orang lain. Kondisi mental mereka sedemikian rupa sehingga jarang ada orang yang bahkan memiliki kapasitas untuk mempercayai kebohongan mereka sendiri (Vaknin, 1999, p. 24).
Dan ya, Adolf Hitler, yang mengetahui kekuatan dari sebuah kebohongan besar dan telah menyesatkan jutaan orang Jerman, juga dikenal sebagai seorang Narsisis. Hari ini Hitler adalah figur sejarah yang paling dibenci di Jerman. Seperti sebuah ilmu matematika, pastilah Muhammad juga akan memperoleh nasib yang sama. Tetapi kita benar-benar tidak tahu, berapa juta orang akan mati sebelum kita bisa menaruh Muhammad di keranjang sampah dengan Allahnya, Quran dan Islam bersama-sama. Bagi Hitler, ini adalah Sosialisme Nasionalis (nama lain untuk Naziisme), dan bagi Muhammad ini adalah Islam. Tetapi pada dasarnya, keduanya adalah dua sisi koin yang sama-seorang manipulator yang sukses.
Sina (2008, p. iv, 260) memberikan komentar, ”Islam seumpama sebuah rumah kartu, dipelihara oleh kebohongan-kebohongan. Yang diperlukan adalah menghancurkannya dengan memberikan tantangan kepada salah satu dari kebohongan-kebohongan yang membuatnya tetap berdiri seperti sekarang. Islam adalah sebuah bangunan yang tinggi, didirikan di atas pasir; satu kali saja anda mengekspos pondasinya, maka pasir itu akan tergerus dan gedung besar ini akan jatuh karena berat yang ditanggungnya” dan lagi ”Islam berdiri di atas tanah yang rapuh. Ia hanya berisi kebohongan. Kita hanya perlu mengekspos kebohongan-kebohongan dan bangunan raksasa dari teror dan penipuan ini untuk meruntuhkannya.”
Mari kita lihat, sekali aura kesakralan Qur’an lenyap, kebohongan-kebohongan lain apa yang akan diekspos?
Pertama; jika ada dua atau lebih dari dua versi Qur’an, maka akan ada jumlah Allah yang sama. Jadi, jika hanya ada dua Qur’an yang otentik, apakah Islam masih bisa dianggap sebagai agama monoteisme? Bagaimana memastikannya, Allah mana yang memberikan sebuah versi Qur’an? Jika hanya ada satu Allah, maka Qur’an mana yang otentik?
Kedua; jika kita masih percaya bahwa sebuah Qur’an adalah otentik, maka bagaimana Allah mengijinkan Qur’an lainnya tetap ada?
Ketiga, apakah masih bisa dianggap benar bahwa Qur’an (Sura 10:64) yang berkata bahwa firman-firman Allah tidak akan berubah-ini benar-benar pencapaian yang sangat hebat? Jika ya, sekarang apa lagi yang akan dilakukan oleh lebih dari sebuah Qur’an? Jika tidak, bagaimana wahyu palsu seperti ini dicatat dalam Qur’an? Apakah Setan yang menaruhnya?
Terakhir, Bukhari (4.52.233) mencatat ”Orang-orang tidak beriman tidak akan pernah memahami tanda-tanda dan wahyu-wahyu kami.” Tetapi kita bisa saksikan, untuk memahami Qur’an Sana’a, otoritas Yaman mengundang para sarjana Jerman karena tak ada seorang pun di Yaman yang sanggup mengungkapkan penemuan besar seperti ini.
Tidak heran jika Sina (2008) menyimpulkan, ”Tak peduli bagaimana anda memandang Islam, ia tetap akan terlihat sebagai sebuah agama kebodohan.”
Orang-orang Muslim telah menjual jiwa mereka kepada Muhammad, tetapi bisakah mereka secara logis membersihkan keraguan-keraguan di atas? Episode Sana’a telah menempatkan mereka pada sebuah posisi yang canggung, bahwa bahkan alasan yang berputar-putar atau absurditas logika tak akan bisa menolong mereka. Bukankah inilah saatnya bagi orang-orang Muslim yang bijaksana untuk memikirkan ulang iman mereka? Daripada berusaha keras untuk memberikan alasan terhadap keraguan-keraguan di atas, bukankah lebih bijaksana untuk setuju bahwa satu milyar lebih orang-orang Muslim telah dibodohi oleh seorang pemaksa vulgar yang bernama Nabi Muhammad? Bukankah ini saatnya bagi orang-orang Muslim untuk mencari kebenaran? Sebagaimana penulis puisi Thomas Gray (dikutip dari Sagan, 1997, p. 12) menulis,”….kapankah ketidaktahuan merupakan sebuah kebahagiaan, yaitu ketika kebodohan dianggap sebagai hikmat.”
Untuk melindungi Qur’an dari penghinaan lebih jauh, otoritas Yaman telah menghalangi Puin dan Bothmer mengkaji lebih jauh naskah-naskah itu. Kenyataannya, saat ini mereka tidak mengijinkan siapa pun melihat naskah-naskah itu kecuali fragmen-fragmen non-Qur’anik yang dengan sangat hati-hati telah diseleksi terlebih dahulu, yang bisa dilihat di lantai dasar Perpustakaan Dar al-Makhtutat. Tetapi hal ini sia-sia. Burung sudah keluar dari sangkarnya dan tak ada gunanya menutup pintu sekarang. Lebih dari 35.000 mikrofilm saat ini sudah ada di luar Yaman sebelum otoritas Yaman mengetahuinya dan beberapa duplikat juga sudah dibuat. Pihak otoritas Yaman yakin bahwa saat ini, di beberapa lokasi yang tidak diketahui di Jerman, sekelompok ahli tanpa henti meneliti mikrofilm-mikrofilm itu, dan Puin membakar cukup minyak untuk penerangan malam dalam usaha menyelesaikan bukunya, yang, sekali dipublikasikan, akan memalu paku lainnya pada peti jenazah Islam. Islam hari ini benar-benar dalam bahaya.
Tentu saja, dengan menyadari runtuhnya keilahian di depan mata mereka, banyak orang-orang Muslim merasa terganggu dan merasa diserang. Para fundamentalis tidak akan menerima karya Puin dan Bothmer yang sebenarnya mereka kerjakan dengan obyektifitas akademik, tetapi mereka akan melihatnya sebagai sebuah serangan yang disengaja terhadap integritas teks Qur’anik (Taher, 2000). Secara natural, kedua sarjana Jerman ini akan berada di garis depan menghadapi kemarahan mereka. Puin takut dengan kekerasan yang akan dilakukan oleh orang-orang Muslim ortodoks karena teorinya yang mereka anggap sebagai “hujatan”, yang ia katakan bahwa hal itu tidak bisa ia anggap sebagai hal yang enteng. Dengan mengingat apa yang terjadi pada Salman Rushdie, ia menulis, ”Kesimpulan-kesimpulan saya telah menyebabkan reaksi kemarahan dari orang-orang Muslim ortodoks. Mereka katakan bahwa saya bukan sarjana yang bisa membuat sebuah pernyataan mengenai naskah-naskah ini.” Jika pandangan Puin diambil dan diserukan melalui media, dan jika tidak banyak Muslim yang menanggapinya secara rasional, maka semua neraka akan terlepas. Akan ada sejumlah respon permusuhan dan kerusuhan dan akan menyebabkan banyak kematian dan kehancuran, mungkin akan ada fatwa lainnya dari Khomeini dan tentu saja sejumlah ancaman dari Bin Laden kita yang sangat suka dengan kamera, serta dari saudara-saudara ideologisnya. Tetapi bisakah mereka menghentikan tersebarnya kebenaran?
UNESCO telah menunjukkan ketertarikan yang murni terhadap naskah-naskah Sana’a sejak program the Memory of the World dimulai. Pada tahun 1995, Organisasi ini juga memproduksi sebuah CD-ROM dalam bahasa Arabik, Inggris dan Perancis yang mengilustrasikan sejarah dari pengoleksian materi Qur’anik dan non-Qur’anik. CD-ROM berisi 651 gambar dari 302 fragmen-fragmen Qur’anik, indeks dengan tulisan, bingkai, dan sebagainya, juga sebuah introduksi umum untuk koleksi-koleksi naskah-naskah Yaman dan sebuah deskripsi singkat mengenai perkembangan kaligrafi Arabik (Abid, 1997).
Ursula Dreibholz, seorang ahli pemeliharaan (pengawetan) yang bekerja untuk proyek Sana’a selama delapan tahun sebagai kepala konservator merasa sangat frustasi melihat kekurang perdulian otoritas Yaman untuk melindungi naskah-naskah itu dengan menggunakan teknologi modern (1983, pp. 30-8). Apakah perlengkapan keamanan sudah benar, dan apakah perhatian yang diberikan terhadap naskah-naskah itu sudah memadai untuk mencegah kerusakan lebih jauh (1996, pp 131-45). Kenyataannya, Dreibholz (1999, pp 21-5) mengatakan, bahwa ia sangat peduli untuk menciptakan sebuah sistem penyimpanan permanen yang aman dan dapat dipercaya untuk menyimpan naskah-naskah ini. Juga, penyimpanan yang buruk akan sulit melindungi naskah-naskah itu dari serangga dan air. Yang paling penting lagi, masalah utama adalah kurangnya pencegahan dari kebakaran atau sistem deteksi, dengan mengingat bahwa dalam sejarah banyak perpustakaan-perpustakaan penting yang hancur oleh karena kebakaran. Otoritas Yaman mengatakan bahwa mereka tidak memiliki uang untuk memasang sistem perlindungan dari kebakaran. Ia benar-benar tidak mengerti alasan sebenarnya dibelakang sikap apatis otoritas Yaman.
Di sini, para fundamentalis Muslim bisa melihat sebuah tali perak di awan-awan. Tak seorang pun tahu kapan sebuah kebakaran yang menghancurkan akan terjadi secara ‘insidentil’ dan menghancurkan semua naskah-naskah Qur’anik itu, yang akan menyebabkan naskah-naskah itu terbakar. Di balik semuanya, untuk menyelamatkan Islam, Qur’an harus diselamatkan, dan untuk itu orang-orang Muslim akan melangkah lebih jauh lagi. Jika perlu, mereka sendiri akan membakar Qur’an untuk menyelamatkannya dari analisa-analisa logis. Kesetiaan mereka kepada kebodohan sedemikian tinggi. Barangkali, otoritas Yaman tidak mau memasang sistem pencegah kebakaran adalah sebuah persiapan awal untuk sebuah tindakan seperti itu di masa depan. Jangan pernah menganggap remeh kapasitas destruktif dari orang-orang fanatik tak berotak.
Referensi
Jurnal:
- Abid, Abdelaziz (1997); “Memory of the World”: Preserving Our Documentary Heritage. Museum International, Vol. 49, No. 1, January 1997 issue. Blackwell Publishers, Oxford.
- Dreibholz, Ursula (1983); A treasure of early Islamic manuscripts on parchment. Significance of the find and its conservation treatment. AIC Preprints of papers presented at the 11th annual meeting in Baltimore, Maryland, 25-29 May 1983. Washington, DC.
- Dreibholz, Ursula (1996); The Treatment of Early Islamic Manuscript Fragments on Parchment in The Conservation and Preservation of Islamic Manuscripts, Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, London
- Dreibholz, Ursula (1999); Preserving a treasure: the Sana’a manuscripts. Museum International. Islamic collections. Vol. LI, No. 3, July 1999 issue. Blackwell Publishers. Oxford.
- Whelan, Estelle (1998); Forgotten Witness: Evidence for the Early Codification of the Qur’an. Published in The Journal of America Oriental Society. January to March Issue, 1998. University of Michigan. USA.
Bibliografi:
- Ali, Daniel & Spencer, Robert (2003); Inside Islam: A guide for Catholics. Ascension Press. Pennsylvania.
- Caner E. M; Caner E.F (2002); Unveiling Islam. Kregel Publications. Grand Rapids. U.S.A
- Cook, Michael; Crone, Patricia (1977); Hagarism: The making of the Islamic world. Cambridge.
- (Dr) Vaknin, Sam (1999); Malignant Self Love: Narcissism Revisited. Narcissus Publications, Skopje. Czech Republic.
- (Ed.) Warraq, Ibn (1998); The origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s holy book. Prometheus Books. NY.
- (Ed.) Warraq, Ibn (2000); The Quest for Historical Muhammad. Prometheus books. NY.
- (Ed.) Warraq, Ibn (2002); What the Koran really says – Language, Text and Commentary. Prometheus books. NY.
- Guillaume, Alfred (1978); Islam. Harmondsworth.
- Mein Kampf; a 1939 English translation by Houghton Mifflin and edited of verbosity. Reynal & Hitchcock
- Ohmyrus (2006); The Left and Islam: Tweedledum and Tweedledee in Beyond Jihad: Critical voices from the inside by Shienbaum, Kim and Hasan, Jamal. Academia Press, LLC, Bethesda.
- Peters, F.E (1986); Jerusalem and Mecca: The topology of the Holy City in the near east. NY
- Rippin, Andrew (1991): Muslims: their religious beliefs and practices. London.
- Rodhinson, Maxime (1980); Muhammad (Original in French, translated to English by Anne Carter). The New Press. NY
- Rodhinson, Maxime (1981); A Critical Survey of Modern Studies on Muhammad in Studies on Islam ed. M. Swartz. Oxford University Press, USA
- Sagan, Karl (1997); The Demon-Haunted World. Science as a Candle in the Dark. Ballantine Books. The Random House Publishing group. NY.
- Sina, Ali (2008); Understanding Muhammad, A Psychobiography. Felibri.com
- Spencer, Robert (2002); Islam Unveiled: Disturbing questions about the world’s fastest growing faith. Encounter Books. San Francisco.
- Spencer, Robert (2007); Religion of Peace? Why Christianity is and Islam isn’t. Regnery Publishing, Inc. Washington DC.
- Sproul R. C & Saleeb, Abdul (2003); The dark side of Islam. Crossway Books (a division of Good News Publishers). Wheaton. Illinois.
Sumber Internet:
- Taher, Abul (2000): Querying the Koran. The Guardian. Guardian News and Media Limited. Published on 8th August, 2000. URL: http://www.guardian.co.uk/Archive/Article/0,4273,4048586,00.html (Last accessed 3rd June / 2009)
- Sina, Ali (2008): Probing Islam. An internet based debate between J. A Ghamidi, K. Zaheer and Ali Sina, FFI. URL: http://www.news.faithfreedom.org/downloads/probing-islam.pdf (Last accessed 7th February / 2008).
- Lester, Toby (1999); What Is the Koran? Atlantic Monthly January 1999 issue. URL: http://www.theatlantic.com/doc/199901/koran (Last accessed 3rd June / 2009).
- Wikipedia (2009); Gerd R. Puin, URL: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Special:Cite&page=Gerd_R._Puin&id=287605376

November 24, 2009 at 6:14 am
Bukanlah hal baru, kalau sejarah Al Quran diusik untuk menimbulkan keraguan terhadap keorisinalan Al Quran sebagai teks Ilahi. Begitu juga penemuan yg diklaim sebagai naskah asli Al Quran karena adanya perbedaan dengan Al Quran yg dipakai ummat Islam sekarang ini bertujuan yg sama, walau dikemas sebagai karya ilmiah. Statemen yg mengatakan bahwa naskah ditemukan adalah Al Quran yg asli, hal itu menunjukan ketidak mengertinya tentang sejarah Al Quran. Padahal sejarah Al Quran sudah final, seluruhnya telah ditulis secara detail oleh sejarawan2 muslim sejak jaman dahulu dan telah banyak ditulis ulang oleh sejarawan muslin di era kini. Kalau mereka membaca tentang sejarah Al Quran, maka tidak akan ada pendapat bahwa penemuan naskah Al Quran dianggab sebagai Al Quran yg asli
Kalimat yg anda tulis yg berbunyi:
“Hal ini berarti, klaim Allah (Sura 56: 77-78; 85:21-22) bahwa teks asli telah disimpan di surga pada lembaran-lembaran emas, yang tak bisa disentuh oleh siapa pun kecuali para malaikat, hanyalah sebuah cerita dongeng.”
adalah kebohongan terhadap suatu ayat khas orientalis dalam menyerang islam sejak jaman dahulu. Padahal surah yg anda maksud berbunyi,
“Sesungguhnya ini adalah Quran yg mulia. Dalam Kitab yg dipelihara baik.” [56: 77-78]
“Bahkan itu adalah Quran yang mulia. Dalam batu tulis yang terpelihara baik.” [85: 21-22]
Maksud dari ayat di atas adalah Al Quran terpelihara dari kepalsuan yang hendak dimasukkan ke dalamnya.
Kembali kepokok permasalahan tentang sejarah Al Quran.
Al Quran adalah teks Ilahi. Ia datang dengan jalan wahyu turun secara berangsur-angsur. Al Quran ditransformasikan secara mutawatir. Artinya, sekelompok sahabat menerima semuanya dari Rosululloh SAW dengan metode lisan ataupun tulisan, lalu ditransformasikan dari suatu generasi ke generasi berikutnya, tanpa ada perubahan atau yg berkurang walau satu huruf, hingga kita menerima secara mutawatir dan akan terus berlangsung hingga akhir zaman.
Pengujian bacaan Al Quran yg dilakukan Nabi Muhammad SAW setiap tahun dihadapan Malaikat Jibril merupakan jaminan kuat atas terpeliharanya teks Al Quran dari pengurangan, penambahan, dan penyelewengan hingga akhir hayat beliau.
Fatima berkata, “Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan Al-Qur’an padaku dan saya membacakannya sekali setahun. Hanya tahun ini la membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur’an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.” (Al-Bukhari, Sahih, Fada’il Al-Qur’an : 7)
Ibn ‘Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad berjumpa dengan Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan hingga akhir bulan, masing-masing membaca Al-Qur’an silih berganti.( Al-Bukhari, Sahih, Saum: 7)
Abu Huraira berkata bahwa Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril membaca Al-Qur’an bergantian tiap tahun, hanya pada tahun kematiannya mereka membaca bergantian dua kali. (AlBukhari, Sahih, Fada’il Al-Qur’an : 7)
Untuk memelihara Al Quran dari perubahan apapun yg timbul karena perbedaan sistem penulisan arab, diberikan tanda2 tambahan bertujuan untuk menjelaskan perbedaan huruf2 yg bentuknya sama, seperti pemberian tanda titik pada huruf ba, ta, tsa, nun, jim, dzal, ra, dan masih banyak lagi.
Juga ada penambahan dalam tanda baca, tanda henti, tanda sambung, tanda mulai, dan tanda akhir ayat. Semua penambahan ini dianggap dapat membantu benar dan baiknya bacaan Al Quran. Tatkala ide penambahan tanda2 ini digulirkan, para ulama pada saat itu mengatakan, “Tidak mengapa karena hal itu merupakan cahaya bagi Al Quran.”
Sebagaian diantara sahabat yg tergolong ahli baca Al Quran saat itu seperrti Ibnu Mas’ud, Ubai bin Ka’ab, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan para sahabat yg lain. masing2 memiliki mushaf tertulis yg mereka pelajari dari Rosululloh SAW. Dalam mushaf2 mereka itu terdapat beberapa perbedaan dengan mushaf imam yg ditulis Ustman (Al Quran sekarang). Perbedaan tersebut disebabkan karena 2 faktor:
* Pertama : Perbedaan itu bersumber dari segi2 bacaan yg diajarkan oleh Rosululloh SAW kepada mereka. Dan beliau membolehkan dan menyetujui segi2 bacaan tersebut bagi mereka.
Rosullulloh memberikan keringanan atau kemudahan untuk memahami Al Quran sesuai dengan kemampuan bahasa yg mereka pakai, disamping bahasa Arab Quran sebagai bahasa induk Al Quran. Karena kebanyakan para sahabat pada waktu itu banyak tidak fasih dalam bahasa Arab Quran.
* Kedua : Perbedaan timbul karena asumsi dari orang2 yg mempelajari Al Quran dari mushaf2 tsb. Ada sebagian di antara para sahabat yg menambahkan catatan pada mushaf mereka. Catatan tesebut berupa penafsiran2 yg dapat membantu untuk memahami suatu ayat. Sebenarnya, para sahabat membedakan dalam musaf2 mereka, mana yg ayat mana yg penafsiran. Tapi seiring dengan berputarnya waktu, mushaf2 tsb beredar ke berbagai penjuru negeri2 islam, dan sebagian di antara orang yg mempelajari mushaf tersebut menganggap bahwa semua mushaf itu adalah teks Al Quran. Dan mereka mengira bahwasannya penafsiran dan penjelasan dari para sahabat itu termasuk bagian dari ayat-ayat Al Quran. Dan mushaf2 inilah yg banyak ditemukan kemudian hari diberbagai negeri, sebagian orang yg tidak mengerti dianggap sebagai teks Al Quran.
Mushaf imam yang ditulis Ustman tidak pernah mengalami penambahan atau pengurang walau satu huruf pun sesuai dengan teks Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini terwujud berkat usaha Ustman yang telah menyatukan ummat dalam satu mushaf. Ketika itu Ustman membentuk semacam panitia penulis Al Quran untuk menyalin mushaf yg telah dikumpulkan Abu Bakar as-Shiddig bersama-sama para sahabat yg hafal teks Al Quran diluar kepala. Tulisan mushaf yg dikumpulkan pada masa Abu Bakar tersebut sama dengan tulisan Al Quran yg ditulis para juru tulis wahyu pada masa Nabi Muhammad SAW. Penulisan mushaf Ustman ini dipercayakan kepada Zaid bin Tsabit, orang yg telah mengumpulkan Al Quran lewat hafalan pada masa Rosulullah SAW dan menuliskannya untuk Nabi SAW di dikte oleh Nabi SAW sendiri. Dan mushaf Usmant inilah yang dipakai ummat islam hingga sekarang ini
Jadi bagaimana mungkin terjadi pengubahan atas Al Qur’an sementara ada sekian banyak orang yang menghafal dan mempelajarinya di berbagai tempat yang berbeda?. Artinya, pengubahan terhadap Al Qur’an hanya mungkin terjadi ketika seluruh orang yang menghafal Al Qur’an yang hidup di berbagai tempat yang berbeda itu sama-sama sepakat untuk melakukan perubahan terhadap Al Qur’an. Dan itu mustahil, karena umat islam tidak akan mungkin sepakat dalam kekufuran. Maka, jika benar Umar atau Utsman telah mengubah Al Qur’an, niscaya para hufadz di kalangan sahabat yang jumlahnya sangat banyak, akan menyadari penyelewengan itu. Jika mereka semua diam atas penyelewengan itu, maka itu mustahil, karena mereka lebih suka mati dalam mempertahankan kemurnian Al Qur’an dari pada hidup dengan membiarkan adanya penyelewengan terhadap Al Qur’an. Maka, penambahan, pengurangan, dan pengubahan terhadap Al Qur’an adalah mustahil, baik untuk masa lalu maupun masa sekarang
Allah berfirman. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)
February 4, 2010 at 10:05 am
bung, cara anda mengomentari sangat salah! artikel di atas menunjukan “pertarungan antara Qur’an dan penemuan arkeologis”. jadi anda seharusnya membantah dengan bukti arkeologis pula, atau sesuatu yang bersifat ilmiah yang dapat diterima semua orang. alih-alih memberi bukti ilmiah, anda justru menjelaskan dari segi keimanan anda, seperti Nabi Muhammad mambacakan Qur’an di depan malaikat. anda harus “keluar” dari Qur’an. jabarkan secara mendetail sumbernya berdasarkan catatan2 sejarah yang ada di luar islam. itu baru hebat!
March 4, 2010 at 1:24 am
@ Mas sgt_pepper
Bagaimana saya hendak mempertaruhkan keimanan saya hanya bersandar terhadap penemuan manuskrip yg belum pasti nilai kebenarannya. Hanya karena ditemukan manuskrip yg berbeda dg Quran (baca kembali tulisan saya di atas tentang mushaf sahabat), maka hendak menggugurkan sejarah Quran yg telah diturunkan dari generasi ke generasi ummat Islam. Tidak perlu menjelaskan secara ilmiah untuk menolak penemuan manuskrip itu yg dianggap sebagai Quran asli. Karena dg logika yg sederhana saja ummat islam dapat mematahkan anggapan itu. Bagaimana Quran yg tidak hanya dicatat, tapi juga dihafal oleh ummat Islam sejak zaman Rosulullah, tiba2 ada Quran yg berbeda karena sebuah penemuan ? Metode hafalan Quran yg dilakukan para Hufadz inilah yg menjaga Quran dari perubahan2 ataupun penyisipan tulisan dalam Quran. Kalau ada Quran yg berbeda, tentu dari sekian banyak ummat islam dipenjuru dunia ini dari zaman Rosulullah hingga kini tentu ada yg membaca & menghafal Quran yg berbeda pula. Namun kenyataannya ummat Islam zaman dahulu hingga kini yg dibaca ataupun dihafal adalah Quran yg sama.
March 4, 2010 at 9:51 am
Daniel kagak tahu apa Quran ada 21 Versi lebih????? Nah lho…..Pergi ke Maroko dech, beli Quran versi yg jelas tdk akan dijual diIndonesia, beli juga ntar Versi Quran SANA’A, dan Quran2 lainnya Syiah, Syuni, dll.
November 26, 2009 at 1:51 pm
Coba apa arti ayat2 di bawah ini:
Qs. 69:44-47
(44) Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,
[45] Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.
[46] Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
[47] Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.
Hadis Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 713:
Dikisahkan oleh Aisha:
Pada waktu sakitnya sebelum dia mati, sang Nabi sering mengatakan, “Wahai Aisha! Aku masih merasa kesakitan karena daging yang kumakan di Khaybar, dan sekarang aku merasa urat nadiku dipotong oleh racun itu.”
November 29, 2009 at 4:02 pm
Saudara pemirsa,
Maksud dari ayat itu adalah Allah menjelaskan bahwa Al Quran merupakan wahyu Allah yg diturunkan kepada Muhammad melalui Malaikat Jibril. Bukanlah Muhammad yg membuatnya, melainkan betul-betul dari Allah swt datangnya.
Mungkin maksud anda hendak mengaitkan kematian Nabi Muhammad karena telah berbuat dusta dalam menulis Al Quran
Memang betul kalau Nabi Muhammad atelah di racun setelah perang khaibar. Hal itu telah diterangkan dalam hadist, Rosululloh bersabda
“Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan?” Jawab mereka : “Ya, hai Abu Qasim!” Beliau bertanya : “Adakah kamu isikan racun dalam daging kambing ini?” Jawab mereka :”Ya”. Tanya beliau : “ Apakah yang mendorong kamu berbuat demikian?” Jawab mereka :” Maksud kami ialah, kalau sekiranya tuan seorang pendusta, kami akan senang. Dan kalau sekiranya tuan seorang Nabi, racun itu tidak akan membahayakan tuan.” (HR. Bukhari 1412)
Namun Nabi Muhammad bukan meninggal karena diracun. Kejadian itu bisa dilihat pada bukti-bukti sejarah setelah perang khaibar. Jadi ayat dalam Quran itu tidak ada kaitannya dengan meninggalnya Nabi Muhammad.
- Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 M /tahun ke 7 H dan pada bulan February 629 M / Zul Qa’dah 7 H, Nabi dan kaum Muslimin melaksanakan Umratul Qadha’.
- Setelah perang Khaibar dapat ditaklukkan, Rasulullah menikah dengan Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab. Pada tahun yang sama.
- Bulan January 630 M (Ramadhan 8 H) Nabi Muhammad pun masih SEHAT WAL ‘AFIAT. Beliau membuka kota Makkah dan menghancurkan semua berhala-berhala yang ada disekitar Ka’bah. Peristiwa ini dikenal dengan “FATHUL MAKKAH”.
- Empat tahun dari peristiwa Khaibar Rasulullah masih sehat walafiat. Dan pada bulan maret 632 M, atau tepatnya 10 Dzulhijjah Rasulullah melaksanakan Haji Wada’ bersama-sama dengan kira-kira 114.000,- orang kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.
- Pada bulan Mei 632M, atau bulan safar 11 H, Rasulullah menyiapakan Tentara Usamah untuk pergi ke Negri Syam.
Sebelum beliau wafat, Rasulullah tetap melaksanakan Dakwah :
Dari Aisyah ra., katanya :” Ketika sakit Nabi bertambah berat, beliau meminta kepada semua istri beliau, supaya ia diizinkan selama sakit ia dirawat dirumahku, dan mereka semua mengizinkannya. Lalu Nabi pergi ke rumah Aisyah dipapah oleh dua orang laki-laki, sedangkan kedua belah kaki beliau tercecah menggaris tanah dinatara kedua orang laki-laki itu, yaitu Abbas dan seorang lagi.”
Kata Ubaidillah, “Cerita Aisyah itu kuceritakan kepada Abbas, lalu dia menanyakan kepadaku, tahukah engkau siapa laki-laki yang seorang lagi itu?”
Jawabku, “Tidak!”
Katanya, “Dia adalah Ali”.
Selanjutnya Aisyah menceritakan juga, bahwa setelah nabi saw. berada dirumahnya, sedangkan sakit nabi bertambah keras juga, maka beliau bersabda, “Siramkanlah kepadaku tujuh girbag air yang masih utuh, mudah-mudahan aku segera dapat melaksanakan da’wah kembali kepada orang banyak.”
Lalu Nabi didudukkan kedalam sebuah bak mandi terbuat dari kuningan, kepunyaan hafshah, istri nabi saw, kemudian beliau kami sirami dengan air yang disuruhkan Nabi, sampai beliau memberi isyarat kepada kami, ‘Sudah cukup.” Sesudah itu beliau pergi ke Mesjid menemui jamaah” (HR Bukhari 135)
- Pada tgl 7 Juni 632 M atau pada hari senin12 Rabi’ul awal (bertepatan dengan hari kelahiran beliau) Nabi Muhammad wafat. Dan Nabi Muhammad wafat di pangkuan Siti Aisyah.
Dari hadits Abdullah bin Aun dari Ibrahim at-Taimi dari al-Aswad, dia berkata, Ditanyakan kepada Aisyah, mengenai perkataan orang-orang yang menerangkan bahwa Rasulullah saw telah memberikan wasiat kepada Ali maka ia berkata, “Apa yang diwasiatkan Rasulullah kepada Ali ?” Aisyah menjawab, “Beliau (Rasulullah) menyuruh agar bejana tempat buang air kecil dibawakan, kemudian ia bersandar dan akulah yang menjadi tempat sandarannya, tak lama kepala beliau terkulai jatuh dan ternyata beliau telah wafat tanpa aku ketahui. Jadi bagaimana mungkin orang-orang itu mengatakan bahwa Rasulullah saw memberikan wasiat kepada Ali ?” [Shahih al-Bukhari, kitab al-Wasaya 5/356 dari Fathul Baari, dan Muslim, kitab al-Wasiyah hadits no.1637].
Kalau hendak mengaitkan kedustaan ucapan seseorang dengan kematian tragis yg dialaminya, justru dialami oleh tokoh-tokoh kristen.
Ams 19:5. Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.
Paulus dari tarsus yang dianggap sebagai ‘rasul’ mengalami kematian yg tragis dengan dipenggal kepalanya.
Paulus dipenjarakan selama dua tahun di kota Roma, setelah sebelumnya ditangkap di Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:30) dan dipenjarakan di Kaisarea (Kisah Para Rasul 23:23-24).
Setelah dua tahun, Paulus dibebaskan dari penjara Roma kemudian melakukan perjalanan ke Spanyol, kembali ke Timur, dan kembali lagi ke Roma. Dimana untuk kedua kalinya Paulus dipenjarakan. Akhirnya tewas di Roma dengan cara dipenggal, di luar tembok kota pada tahun 67 M selama penindasan Kaisar Nero.
Seorang penulis sejarah yang bisa dipertanggung jawabkan tulisan-tulisannya berdasarkan bukti nyata adalah Eusebius, yang menulis bahwa :
1. Matius tewas disika dan dibunuh dengan pedang di Eithopia.
2.Markus tewas setelah badannya diseret hidup2 dengan kuda melalui jalan yang penuh batu hingga akhir ajalnya.
3.Lukas mati digantung di Yunani.
4.Yohanes direbus/ lebih tepatnya digoreng dengan minyak goreng mendidih di roma.
5.Thomas mati ditusuk oleh tombak di India.
Dan tulisan dari Eusebius ini telah diteliti dan diselidiki ulang oleh Penulis Sejarah Gereja terkenal Mr. Scumacher.
Namun menurut saya tidaklah bijak menilai suatu ajaran dg melihat sebab–sebab kematian yg membawanya, karena kita tidak akan dapat memetik manfaat apa-apa dengan pendekatan seperti itu. Seharusnya kita gali kebenaran ajaran suatu agama melalui kitab sucinya. Barulah kita tahu sejauh mana kebenaran suatu agama dapat kita lihat untuk kita pikirkan dan renungkan.
November 30, 2009 at 11:03 am
Oh..gitu menurut mas Daniel, tanya lagi mas
apa ada hubungan antara kitab Yerimia dgn hadits dibawah ini:
Yeremia 23:21
“Aku tidak mengutus para nabi itu, namun mereka giat; Aku tidak berfirman kepada mereka, namun mereka bernubuat.
Yeremia 23:15
Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam mengenai para nabi itu: “Sesungguhnya, Aku akan memberi mereka makan ipuh dan minum racun, sebab dari para nabi Yerusalem telah meluas kefasikan ke seluruh negeri.”
Dari Ibn Sa’d halaman 251, 252
…. Ketika Rasul Allah mengalahkan Khaibar dan dia merasa lapar, Zaynab Bint al-Harith
(Bint al-Harith adalah saudara laki Marhab), yang merupakan istri dari Sallam Ibn Mishkam bertanya,
“Bagian kambing manakah yang disukai Muhammad?” Mereka berkata,”Kaki depan.” Maka dia pun memotong
satu dari kambing2nya dan memasak (dagingnya). Lalu dia membubuhi racun yang sangat kuat …
Rasul Allah mengambil kaki depan kambing, dia memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
Bishr mengambil sepotong tulang dan memasukannya ke dalam mulutnya. Ketika Rasul Allah memakan sepotong daging,
Bishr memakan daging kambingnya dan orang2 lain pun makan daging kambing itu. Lalu Rasul Allah berkata,
”Tahan tangan2 kalian! Karena kaki depan kambing ini … memberitahuku bahwa ia diracuni.
Mendengar itu Bishr berkata,”Demi Dia yang membuatmu besar! Aku ketahui akan hal itu dari daging yang kumakan.
Tiada yang mencegahku untuk memuntahkannya, karena aku tidak mau membuat makananmu tampak tidak enak.
Ketika kau memakan daging yang tadi ada di mulutmu, aku tidak mau hidup jika kau tidak selamat,
dan kukira kau tidak akan memakannya jika memang ada sesuatu yang salah.”
Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi “taylsan” (warna kain hijau) …
Rasul Allah menyuruh memanggil Zaynab dan berkata padanya, “Apa yang membuatmu melakukan apa yang kau telah lakukan?”
Dia menjawab, “Kau telah lakukan pada masyarakatku apa yang telah kau lakukan. Kau telah membunuh ayahku, pamanku,
suamiku, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Jika kau adalah seorang nabi, kaki depan itu akan memberitahumu,
dan yang telah berkata, ‘Jika kau seorang raja, kami akan mengenyahkanmu.’”
Rasul Allah hidup sampai tiga tahu setelah itu sampai racun itu menyebabkan rasa sakit sehingga ia wafat.
Selama sakitnya dia biasa berkata, “Aku tidak pernah berhenti mengamati akibat dari daging (beracun)
yang kumakan di Khaibar dan aku menderita beberapa kali (dari akibat racun itu) tapi sekarang kurasa
tiba saatnya batang nadiku terputus.”
December 2, 2009 at 10:17 am
Kitab Yerimia menurut saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan hadist peristiwa Khaibar. Walaupun perang Khaibar ada hubungannya dengan Yahudi, namun Nabi Muhammad bukanlah Nabi yg berasal dari Yerusalem.
Adapun sebab kematian Rosulullah adalah karena sakit biasa, bukan karena racun. Hal itu berdasarkan rentang yg sangat lama antara meninggalnya Rosulullah dg peristiwa Khaibar dimana Rosulullah diracun, yaitu sekitar 4 tahun, adalah tidak logis seseorang mampu bertahan selama itu hanya dengan sekali minum/makan racun. Kecuali seseorang meminum racun berulangkali hingga racun itu terakumulasi di dalam tubuhnya sampai racun itu sanggup membunuhnya. Dan dalam rentang itupulah Rosulullah beraktifitas seperti biasa, tidak ada keterangan bahwa Rosulullah mengalami gangguan fisik atau sakit-sakitan dan tidak mampu beraktifitas setelah peristiwa Khaibar hingga mencapai empat tahun.
Adapun hadist yg anda cantumkan bahwa Rosulullah menderita sakit karena akibat diracun pada peristiwa Khaibar adalah anggapan atau perkiraan beliau saja yg menghubungkan sakitnya beliau dg peristiwa Khaibar. Karena Nabi Muhammad saw bukanlah seorang ahli pengobatan yg bisa mengetahui bahwa rasa sakit yg dideritanya disebabkan karena racun yg dimakannya 4 tahun yg lalu.
December 2, 2009 at 2:04 pm
Tepat sekali saudarku daniel, karena nubuat dlm yeremia itu diperuntukan buat nabi2 yerusalem atau orang2 yg mengaku nabi seperti paulus, jadi yesus memang sdh menubuatkan akan ada orang2 dari yerusalem yg mengaku nabi atau rasul setelah beliau tdk ada, yaitu paulus dan kepausan sekarang yg mengangkat dirinya menjadi rasul. Tapi anehnya rasul kok dipilih lewat voting di vatikan eh eh eh
kristen selalu menggunakan senjata tentang Nabi mati diracun.
Betapa hebatnya seorang Nabi seperti Muhammad yg diracun hari ini dan mati 4 tahun kemudian, tiada manusia yg lebih super dari beliau yg mampu bertahan dari racun selama 4 tahun.
Kristen selalu rancu dlm menggunakan fitnahnya, menurut penelitian tiada orang yg akan mati walau disalib seharian, jadi pertanyaannya Yesus sebenarnya mati disalib atau mati ditusuk lambungnya?
kalau Yesus mati karena ditusuk lambungnya apakah patut yesus dikatakan mati karena disalib?
Ibarat orang hari ini divonis kanker tapi 2 bulan kemudia mati tertabrak mobil, apakah masih bisa dianggap dia mati karena kangker?
Sebenarnya senjata2 yg digunakan kristen amatlah tumpul dan rancu.
December 31, 2009 at 3:31 am
Rasul Allah menyuruh memanggil Zaynab dan berkata padanya, “Apa yang membuatmu melakukan apa yang kau telah lakukan?”
Dia menjawab, “Kau telah lakukan pada masyarakatku apa yang telah kau lakukan. Kau telah membunuh ayahku, pamanku,
suamiku. Pada hadis ini tampak bhw muhammad tdk menyangkal kejahatan yg dilakukan kpd keluarga Zaynab.jd tepatlah pembalasan yg dilakukan Zaynab. bgmn muslim akan membela nabinya?
Rasul Allah hidup sampai tiga tahun setelah itu sampai racun itu menyebabkan rasa sakit sehingga ia wafat.
Selama sakitnya dia biasa berkata, “Aku tidak pernah berhenti mengamati akibat dari daging (beracun)
yang kumakan di Khaibar dan aku menderita beberapa kali (dari akibat racun itu) tapi sekarang kurasa
tiba saatnya batang nadiku terputus.”hemm muhamad sendiri mengakui akibat dari racun itu tp pengikutnya aja yg menolak hal itu. piye dong? kebiasaan muslim dlm membantah atau membela diri adalah mengambil teks dari alkitab yg sdh dituduh palsu. Yg palsu masih laku ternyata so bisa dianggap seperti barang palsu lainnya. kaki palsu, gigi palsu, etc. barangkali nama daniel palsu juga ya? kok senang memakai? tahu ceritanya nggak kalo namamu dari kitab palsu. senang ya pakai nama itu?
January 14, 2010 at 9:48 am
Mass bloont99
Peristiwa Zaynab meracuni Nabi Muhammad SAW setelah terjadi perang Khaibar yg memakan banyak korban. Dalam peperangan cuma ada dua pilihan dibunuh atau membunuh. Dan Nabi mendiamkannya perkataan Zaynab tentang terbunuhnya keluarganya, karena Nabi Muhammad SAW menganggap keluarganya mati dalam peperangan yg telah dipimpin oleh beliau. Tidak ada motif pribadi terhadap terbunuhnya keluarga Zaynab, karena tidak ada keterangan kalau Nabi Muhammad SAW mengenal keluarga Zaynab yg Yahudi itu sebelumnya.
Apakah menurut mas bloont masuk akal, apabila seseorang sekali diracun kemudian meninggal setelah berselang 3-4 tahun ? Sedangkan dalam rentang 4 tahun itu Nabi SAW melakukan aktivitas yg membutuhkan fisik prima, seperti memimpin peperangan dan melakukan ibadah Haji.
Seperti yg pernah dijelaskan sebelumnya bahwa perkataan beliau tentang penyakitnya dihubungkan dg racun yg telah dimakannya di perang kahibar, hanyalah anggapan beliau, karena beliau bukan ahli racun ataupun ahli obat2an, jadi wajar Nabi Muhammad SAW bereaksi seperti itu terhadap penyakitnya.
Berikut ini saya ketengahkan aktivitas beliau yg tidak mungkin akan dilakukan oleh orang yg sakit
- Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 M (tahun ke 7 H), pada saat itu Nabi Muhammad di racun oleh wanita Yahudi.
- Dan satu tahun kemudian pada bulan February 629 M , Nabi Muhammad dan kaum Muslimin melaksanakan Umratul Qadha’.
- Setelah perang Khaibar dapat ditaklukkan, Rasulullah menikah dengan Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab. Pada tahun yang sama.
- Bulan January 630 M (Ramadhan 8 H), Nabi Muhammad membuka kota Makkah dan menghancurkan semua berhala-berhala yang ada disekitar Ka’bah. Peristiwa ini dikenal dengan “Fathul Mekkah”.
- Pada bulan Syawal tahun 8 H, setelah pembebasan kota Mekah sebuah berita sampai kepada Nabi saw. bahwa kabilah Hawazin dan Tsaqif telah berkumpul di lembah Hunain untuk memerangi kaum Muslimin. Nabi lalu memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap menghadapi mereka.
- Pada bulan Rajab tahun 9 H, Rosulullah menghadapi kerajaan Romawi yg akan menyerang kota Madinah, dan dikenal dg perang Tabuk. Dalam perang Tabuk ini Rosulullah ikut berperang untuk yg terakhir kalinya.
- Empat tahun dari peristiwa Khaibar Rasulullah masih beraktivitas seperti biasa. Dan pada bulan maret 632 M, atau tepatnya 10 Dzulhijjah Rasulullah melaksanakan Haji Wada’ bersama-sama dengan kira-kira 114 ribu orang kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.
- Pada bulan Mei 632M (bulan safar 11 H), Rasulullah menyiapkan Tentara Usamah untuk pergi ke Negri Syam.
- Pada tgl 7 Juni 632 M atau pada hari senin 12 Rabi’ul awal (bertepatan dengan hari kelahiran beliau) Nabi Muhammad wafat di pangkuan Siti Aisyah.
Menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW dipangkuan Siti Aisyah tidak ada keluhan Nabi SAW akan rasa sakitnya, bahkan Siti Aisyah tidak mengetahuinya kalau Nabi Muhammad SAW telah meninggal dipangkuannya.
Dari hadits Abdullah bin Aun dari Ibrahim at-Taimi dari al-Aswad, dia berkata, Ditanyakan kepada Aisyah, mengenai perkataan orang-orang yang menerangkan bahwa Rasulullah saw telah memberikan wasiat kepada Ali maka ia berkata, “Apa yang diwasiatkan Rasulullah kepada Ali ?” Aisyah menjawab, “Beliau (Rasulullah) menyuruh agar bejana tempat buang air kecil dibawakan, kemudian ia bersandar dan akulah yang menjadi tempat sandarannya, tak lama kepala beliau terkulai jatuh dan ternyata beliau telah wafat tanpa aku ketahui. Jadi bagaimana mungkin orang-orang itu mengatakan bahwa Rasulullah saw memberikan wasiat kepada Ali ?” [Shahih al-Bukhari, kitab al-Wasaya 5/356 dari Fathul Baari, dan Muslim, kitab al-Wasiyah hadits no.1637].
Mengenai nama saya mas bloont, jujur saja saya lebih senang kalau nama Islami. Tapi mas bloont, itu adalah nama pemberian kedua orang tua saya yg harus saya hargai, dan dalam Islam tidak ada larangan untuk memakai nama “Daniel”. Saya juga tidak tahu kenapa orang tua saya memberikan nama dari PL. Saya tidak sempat menanyakannya karena kedua orangtua saya telah tiada.
Tidak semua isi Alkitab itu palsu, menurut kalangan Kristen sendiri kan tersisa 18 % adalah sabda Yesus ( lihat Five Gospel ). Apa ukurunnya menurut Islam ? Sederhana saja mas bloont, asal tidak bertentangan dg Al Quran & Hadist.
January 14, 2010 at 7:26 pm
Mas Daniel, bacalah Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama, anda akan tahu siapa Daniel dan bagaimana karakter dan peran seorang Daniel, kiranya anda pun adalah Danni-El.
January 15, 2010 at 6:49 am
Mas Daniel walaupun nama anda berbau seorang kristen (Danni-el) tetapi saya bangga ternyata anda adalah seorng Muslim yg berilmu luas atau anda tadinya kristen yg mendapatkan hidayah dari Allah? Alhamdullilah, semoga yg menyembah selain Allah diberi hidayah juga..amin..
January 15, 2010 at 11:23 am
hebyattt…pada jago2 banget sih nulisnya…teruskan diskusinya…dengan hati dan kepala yg dingin tentunya, mari masing2 memperkaya wawasan, mudah2an manfa’at ya, bukan dgn maksud memecah belah kerukunan beragama.
January 16, 2010 at 5:45 am
Sip! Unggul, yup anda benar.
January 21, 2010 at 7:38 am
apakah kamu akan selalu mengingkari kekuasaan allah padahal kamu semua mengetahui dan melihatnya dengan jelas dengan mata kepalamu sendiri hai orang-orang yang amat tersesatkan
October 5, 2010 at 5:21 am
selama masing2 masih berpegang pada keyakinannya… kebenaran adalah 50:50
siapa yg dimaksud dgn mengingkari kekuasaan Allah?
apakah anda sudah mencoba mempelajari ttg muhamad? pribadinya? apakah dia orang yg jujur?
cobalah
January 21, 2010 at 7:41 am
diaaaancok keparat kamu haaaah !!!!!! apa matamu juling apa kurang jelas atau mungkin perlu bantuan kacamata kuda raksasa agar dapat melihat hhah!
!$S$S$#Q$%D$^
October 17, 2010 at 5:45 am
Biasa; ungkapan yang sangat islami.
January 21, 2010 at 7:45 am
sekarang saya sebagai sebagian dari umat ISLAM INGIN BERTANYA TENTANG “HARI NATAL 25 DESEMBER ” YANG MENURUT SEJARAHNYA YANG APABILA DIKETAHUI BAHWA 25 desember adalah hari kelahiran dewa matahari (dewa orang romawi kuno )akan terguncang iman mereka terhadap Kristen itu sendiri
March 2, 2010 at 8:58 am
ALLAHUAKBAR……
March 4, 2010 at 3:31 pm
@ Mas siapmurtad
Mayoritas Islam di Indonesia adalah Ahlussunnah waljma’ah atau lebih dikenal dg sebutan Syunni. Syi’ah adalah mayoritas Islam di Iran. Sebenarnya banyak sekte Syi’ah, tapi yg mayoritas di Iran adalah sekte Syi’ah Imamiah Its’na Asyariah atau yg lebih dikenal dg sebutan Syi’ah Imam dua belas. Yg membedakan antara Sunni dan Syi’ah adalah dalam hal periwayatan hadist. Kalau Qurannya sama mas. Kebetulan saya punya teman sejak kecil, dia lulusan Teheran. Jadi saya sedikit banyak mengetahui tentang ajaran Syi’ah dari dia.
Mengenai Quran yg katanya banyak versi, hal itu sudah saya bahas dalam blog ini juga saat berdialog dg nick “Ini Budi.” Silahkan mas llihat kembali.
March 8, 2010 at 2:22 pm
blog orang gila kok diladeni ……
March 9, 2010 at 1:14 am
Astagfirullah!!!!!!!!
Iman saya benar-benar tergoncang membaca isi blog ini.
Apa benar Nabi saya dan Islam seperti itu???????
October 5, 2010 at 5:23 am
salam,
sebagai manusia yg berakal budi, selama nyawa masih dikandung badan… silakan gali kebenarannya… dgn wawasan terbuka…
April 1, 2010 at 4:18 pm
tuhan orang² kristen mati di paku dan telanjang kok di sembah huakakakakak….
October 5, 2010 at 5:25 am
anda pasti muslim ya
bahasa menunjukkan bangsa
May 14, 2010 at 10:07 am
[...] juga QURAN SANA’A dan HANCURNYA SIFAT KEILAHIAN QURAN [...]
May 20, 2010 at 12:53 am
http://kesalahanquran.wordpress.com/2009/11/22/hancurnya-sifat-keilahian-qur’an/
May 20, 2010 at 12:59 am
Surat Maryam: 27-35
Tentang Isa anak Maryam, Isa adalah hamba Allah
ISA ( Yesus ) bknlah manusia biasa_krn dia adlh utusan Allah dn Muhammad meyakini kebesaran Nabi Isa.
Tp bnyk org2 tdk mmbaca dn mengetahui ini.
Knp tdk kamu jadikan saja ISA sebagai Imam mu.
May 20, 2010 at 10:58 am
susah lah nmnya 2 ajaran samawi tp rentan di rusak umat sendiri dan pihak luar (yahudi)…Al-Quran kitab smua makhluk..dan diturunkan gak hanya bwat umat islam aja itu hrus di catet….injil,taurat,dan zabur pun sama…tp blik ke umat td rasa fanatik dan saling memiliki yg kuat jd kek gini salah kaprah kitab suci umat islam Al-Quran..sedikit meluruskan aja sob…Al-Quran bwat smua manusia mo agama apapun keyakinan apapun Al-Quran berhak mreka baca,ketahuin,dan pelajarin…dr sisi al-kitab aja kita bisa liat lah..rasa fanatik bikin rusak suatu agama…agama itu sama membawa pd kebaikan..yg salah itu rata2 umatnya….cekidot aja smua agama sm kan ujung2nya bwat kebaikan…tp dinnul islam lah yg hakiki…better urus agama masing2 dah gak usah urusin org kek dah pd bner aja^^
July 13, 2010 at 7:56 pm
Orang kristen kenapa ya kok suka menjelekan islam. aneh, kayaknya mereka mencari pembenaran agamanya dengan fitnah yang penuh kebencian dan kedengkian. Padahal Islam sama sekali tidak memaksa orang mau masuk neraka jahanam selamanya atau masuk Islam yang penuh kesejukan dan kedamaian.
October 17, 2010 at 5:55 am
Setuju-stuju; lihat saja beberapa ayat-ayatnya yang penuh dengan kebencian kepada orang muslim (saya ambil dari injil) seperti di bawah ini:
1. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang2 muslim, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (QS 9:5).
2. Dan bunuhlah orang2 muslim di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. (QS 2:191).
3. Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah ialah orang2 muslim, karena mereka itu tidak beriman. (QS 8:55).
4. Hai orang2 non-muslim, perangilah orang2 muslim yang ada di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang2 non-muslim. (QS 9:123)
5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah para muslim itu di mana saja kamu jumpai mereka. (QS 9:5).
6. Apabila kamu bertemu dengan orang-orang muslim (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. (QS 47:4).
Nah, bagaimana perasaan anda sebagai Muslim?.
July 22, 2010 at 5:02 pm
sok pinter… kaya ilmuwan aja…
August 26, 2010 at 7:37 am
aneh “Kuburan Kertas” disana’a,..
apa iya jaman segitu dah ada kertas.wah mewah banget..
setelah itu akan ada lagi”kuburan Qur’an”di sini’i…hahahaha…
kurang gawean gan?.
August 27, 2010 at 6:49 pm
Datang dan saksikan sendiri Tress, naik hajilah ke Yaman sana, dan cari Naskah Quran SANA’A, kalo males, sudah ada bukunya kok dalam bhs inggris:)
September 9, 2010 at 8:06 pm
[...] Baca juga QURAN SANA’A dan HANCURNYA SIFAT KEILAHIAN QURAN [...]
March 29, 2011 at 2:45 pm
tentang adanya mushaf selain mushaf ustmani adalah hal yang sudah banyak diketahui oleh orang islam, hanya saja menjadikan ini sebagai dasar ketidakotentikan al-Qur’an juga merupakan hal yang sangat gegabah dan bodoh, karena walaupun berbeda akan tetapi pasti tidak terjadi kontradiksi dalam isi dan pokok ajaran yang dibawa. kalau masih kurang jelas mungkin bisa cari tentang sejarah pembukuan al-Qur’an oleh sayyidina Ustman.
May 7, 2011 at 11:35 am
ga usah bingung pade…..semua kan sudah pada ngakuin di kitab masing nanti kiamat yang datang siape…??? yang jemput siapa?… jadi kalau kalian2 sudah kenal sama yang jemput ya aman……kalau yang belum kenal mumpung masih hidup silahkan kenalan….sang Isa Almasih, JC!!!!!
December 26, 2011 at 3:43 am
Beberapa situs yg mencerahkan Islam di Tutup,Why……?
Takut ya ketahuan.
Banyak penghinaan terhadap kristen,tp orang kristen enjoy aj.Gk takut gitu loh……Why……?
Karena kristen benar,
December 26, 2011 at 4:42 am
benar2 salah
March 1, 2012 at 3:56 pm
Kitab sucimu yang ben ar-benar salah to Jack ? pantes beringas tenan
March 1, 2012 at 6:03 pm
Maksud lho 73 kitab katholik dan 66 kitab protestan dua-dua betul?