Kita semua tahu bahwa Muhammad datang dengan meng-KLAIM dirinya sebagai NABI. Pengangkatan ini didasarkan pada KLAIM  bahwa ia didatangi dan diberi wahyu-kebenaran oleh sesosok Ruh. Dan Ruh yang misterius ini (tanpa bawa nama, jatidiri dan mujizat) di-KLAIM datang dari Allah. Dan Allah yang tidak pernah berbicara dengan Muhammad ini di-KLAIM  sebagai Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Benar yang menurunkan Quran. Dan Quran ini di-KLAIM sama kebenarannya seperti Kitab Tuhan yang diturunkan sebelumnya.

Maka kehadiran Quran menjadi rancu tatkala ditanya “Siapakah engkau?”  Apakah engkau suara Allah, atau Jibril, atau Muhammad? Atau bahkan suara-suara ikutan dari sahabat-sahabatnya yang menyalin dan membukukannya?

Ini adalah isu rasional terbuka yang tak terselesaikan hingga saat inipun. Maka TUHAN Yang Maha-Benar datang, dan merasa perlu untuk mengklarifikasikannya dengan cara menginterview Quran.

Tuhan: “Bagaimana Quran, apa Anda punya referensi atas apa-apa yang kau klaim?”

Quran: “Ya ada, Taurat dan Injil, silahkan datangkan mereka”

Tuhan pun memanggil Taurat.

Taurat menjawab: “Saya tak pernah kenal Quran. Tak ada yang saya cantumkan dan maksudkan”.

Tuhan pun memanggil Injil.

Injil menjawab: “Ya, saya kenal dia. Saya ada paparkan dalam Injil kitab Yahya pasal 8 tentang siapa jati dirinya. Dia-lah pendusta, pencuri, dan sesungguhnya berasal dari Satan, bapa segala dusta. Jangan percayai dia”.

Tuhan pun melirik kepada Quran.

Quran membela: “Kedua mereka inilah yang berdusta. Mereka telah menggantikan ayat-ayatnya”.

Tuhan: Jikalau begitu kenapa kau jadikan mereka sebagai referensi, kecuali kalau kau sendiri gila?”

Quran berseru: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu Rasul Allah!”