KATA PENGANTAR

Kejadian 17:18-20 (NIV)

Dan Abraham berkata kepada Elohim: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” Tetapi Elohim berfirman: “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.”

Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberkati anaknya Ismael. Di sepanjang sejarah Alkitab, Tuhan senantiasa memegang janjiNya. Pertama, Tuhan memberkati Ismael secara fisik; Ia menjadi bapa dari dua belas anak laki-laki seperti yang Tuhan janjikan dan keturunannya menjadi makmur dan menjadi orang-orang perkasa yang hidup di seluruh tanah Arabia. Kemudian yang kedua, Tuhan memberkati keturunan Ismael secara spiritual; dalam kitab Yesaya dinubuatkan bahwa mereka akan datang ke Bait Suci Tuhan untuk menyembahNya. Hal ini sebagian digenapi pada masa Yesus, karena kita menemukan bahwa pada Hari Pentakosta yang datang setelah kenaikan Yesus ke Surga, orang-orang Arab turut hadir diantara mereka yang datang untuk menyembah Tuhan bersama-sama dengan orang-orang Yahudi. Pada hari itulah, banyak orang dari antara mereka yang datang untuk menyembah Tuhan dengan cara yang lebih baik dibandingkan dengan cara yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Karena mereka mendengar berita keselamatan dalam Yesus Kristus, percaya dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan.

Hari ini, kita mengenal banyak dari keturunan-keturunan Ismael yang telah datang kepada berkat yang sama, dan oleh sebab itu kita tahu bahwa Tuhan terus menggenapi janjiNya kepada Abraham. Tetapi sebaliknya, kita pun meyakini bahwa akan ada lebih banyak lagi orang yang akan datang; karena itu dengan keyakinan besar dan sukacita kita akan berkata,”Ismael akan diberkati!”

Sesungguhnya ini merupakan keinginan yang tulus dari penulis untuk melihat berkat keselamatan Yesus Kristus datang untuk keturunan-keturunan Ismael. Melalui pengalaman pribadinya, ia tahu bahwa adalah kehendak Tuhan untuk menerangi semua yang mencariNya dalam ketulusan. Untuk alasan inilah ia telah menulis sejumlah booklets pada masa lampau untuk menantang kaum Muslim untuk memikirkan ulang iman mereka. Tujuannya bukanlah untuk memenangkan argumentasi-argumentasi atau mencetak angka melawan mereka, tetapi secara sederhana untuk menunjukkan pada mereka anugerah keselamatan yang sama dan hidup yang kekal yang ia sendiri telah terima.

Sayangnya, sejumlah orang telah salah mengerti dan bahkan ada yang mencoba untuk melumpuhkannya dengan menganggapnya sebagai seorang musuh Muslim. Ini jauh dari kebenaran karena, sebaliknya, oleh sebab kasihnya yang dalam dan kepeduliannya kepada mereka maka ia mendedikasikan hidupnya demi kesejahteraan mereka.

Ia tidak memiliki penyesalan sama sekali sehingga ia berpaling dari seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Ia telah melalui banyak pencobaan namun semuanya itu mendatangkan sukacita dan damai seperti sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia menemukan penggenapan agung dan banyak berkat ketika ia melayani TuhanNya Yesus Kristus, hari lepas hari. Karena telah menemukan sesuatu yang sangan indah, ia rindu untuk membagikannya dengan orang lain!

Volume ini adalah sebuah kompilasi dari tulisan-tulisannya terdahulu yang sebagian besar ditulis ulang untuk membuat isi menjadi lebih jelas dan alasan yang diajukan lebih bisa dimengerti. Diharapkan bahwa ini akan menjadi sebuah alat yang bisa membantu orang-orang Kristen ketika mereka berdiskusi dengan teman-teman Muslim mereka.

Penulis meyakini bahwa Ismael akan diberkati dan ini adalah doanya yang tulus bahwa Tuhan akan memakai buku ini untuk tujuan tersebut.

Penulis mengucapkan terimakasih yang tulis atas bantuan Saudari Afua Asantewaa yang mengedit tulisan ini.

1  KEPADA SIAPAKAH ISLAM SEJATI BISA DITEMUKAN?

Introduksi

Kata “Islam” berakar dalam bahasa Arab SLM yang secara sederhana berarti “penundukan” kepada Allah. Kata ini menggambarkan sebuah keadaan penundukan total kepada kehendak Allah oleh seorang pengikut atau penyembah Allah. Dalam pengertian yang benar, semua yang dilakukan oleh seorang penyembah diharapkan bersifat absolut, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Dibawah keadaan-keadaan yang bagaimana penundukan yang benar kepada Allah bisa diraih? Apakah Islam adalah sebuah kebenaran yang eksklusif bagi setiap kelompok keagamaan tertentu?

Kita sering mendengar orang-orang Muslim atau para pengikut dari jalan yang diletakkan oleh Muhammad menggolongkan diri mereka sendiri secara eksklusif sebagai Muslim. Semua agama yang lain digolongkan sebagai “Kafir” atau sebagai pengajaran dari orang kafir atau orang tidak percaya. Di mata mereka yang mengklaim diri mereka sebagai Muslim, semua orang tidak percaya akan dilemparkan ke dalam neraka karena mereka telah menyimpang dari jalan yang benar.

Apakah Qur’an menegaskan posisi ini? Siapakah orang Islam yang sejati? Pertanyaan ini merupakan tema sentral dalam pasal ini, sementara penulis mencoba untuk menyediakan jawaban-jawaban dari Qur’an dan Alkitab.

Siapakah seorang Muslim itu?

Sangat kuat dipercaya dalam lingkaran Muslim bahwa semua nabi-nabi Allah adalah orang-orang Muslim dan banyak juga yang meyakini bahwa Islam telah dimulai sejak zaman Adam. Mereka beragumentasi bahwa Islam tidak dimulai oleh Muhammad tetapi disempurnakan pada masa Muhammad. Kutipan popular untuk mendukung anggapan ini adalah:

Surah 5:4

… Pada hari ini telah kusempurnakan agamamu untukmu, dan telah kugenapi karuniaku bagimu, dan telah kupilih Islam sebagai agamamu…

Anggaplah semua nabi adalah Muslim, (termasuk Yesus Kristus, yang datang sebelum Muhammad), dan juga bahwa Islam telah ada bahkan sejak zaman Adam. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, “Siapakah yang mendirikan Islam?” Bisakah kita mengklaim bahwa Muhammad sebagai orang pertama yang mendirikan Islam? Paling ia mungkin hanya bisa diklaim sebagai yang menyempurnakan. Bagi Muhammad, untuk menjadi seorang yang menyempurnakan atau sebagai model dari Islam yang telah disempurnakan, kita berharap bahwa Islam yang diajarkannya adalah Islam yang sempurna (penundukan total) tanpa ada sedikit pun kekurangan dalam segala hal. Kita akan menginvestigasi hal ini pada kesempatan lain.

Islam Disalahartikan

Apakah seseorang melihat dirinya sebagai seorang Muslim hanya berdasarkan sekumpulan ritual-ritual yang ia jalankan, nama tertentu yang ia kenakan, atau berdasarkan cara ia berpakaian? Tanpa ragu, jawaban atas pertanyaan ini adalah “TIDAK”! Kita perlu mencatat dari fakta bahwa Musa dan semua nabi-nabi terdahulu tidak pernah mengakui Muhammad dengan mengucapkan Kalimat Shahadat, (“Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah rasul Allah”). Jika demikian, bagaimana kita merekonsiliasikan sebuah klaim bahwa mereka (para nabi sebelum Muhammad itu) adalah orang-orang Muslim oleh karena mengucapkan Kalimat Syahadat adalah sebuah prasyarat dalam Islam?

Hal ini menimbulkan pertanyaan berikut yang dianggap sebagai hal yang penting yaitu, Islam yang mana yang dipraktekkan oleh para nabi ini? Apakah ini adalah Islam yang dalam pemandangan Tuhan sebagai penundukan total atau Islam yang dipraktekkan sebagai sebuah agama oleh para pengikut Muhammad? Tentu saja, apa yang dituntut oleh Tuhan dari para nabi, yang dikenal sebagai orang-orang Muslim, adalah penundukan total kepada kehendakNya. Mereka bukanlah orang-orang Muslim karena mereka ditetapkan sebagai nabi-nabi, tetapi lebih karena kesanggupan dan kerelaan mereka untuk tunduk kepada Allah.

Memahami Islam dengan cara seperti ini membuat kita menghargai apa yang Tuhan inginkan dari kita ketika kita mengklaim untuk menjadi orang-orang Muslim. Pandangan ini benar dalam kaitan dengan ayat Qur’an yang mengatakan”

Surah 3:85

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Apakah statement ini berarti bahwa kita dituntut untuk mengadopsi nama-nama Arab, mengambil sikap badan dan menghadap arah tertentu untuk berdoa kepada Allah sebelum ia menerima kita sebagai Muslim? Jika ini adalah pendapat kita mengenai Islam, maka bagaimana kita merekonsiliasikan pandangan tersebut dengan kata-kata dibawah ini?

Surah 2:72

“Mereka yang percaya (kepada Qur’an), dan mereka yang mengikuti kitab suci Yahudi, dan Kristen dan Sabean; setiap orang yang percaya kepada Allah dan kepada Hari Kiamat dan pekerjaan kebenaran, mereka akan mendapatkan upah dari Tuhan mereka, dan mereka tidak perlu lagi takut atau berdukacita.”

Statement di atas dengan jelas menunjukkan bahwa menjadi seorang Muslim mengandung makna lebih dari sekedar mengikuti praktek-praktek budaya dan keagamaan yang dianjurkan. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak memaksudkan Islam sebagai sebuah agama yang eksklusif sebab, jika demikian, orang-orang Kristen harus meninggalkan iman mereka, merubah nama mereka, mengucapkan Kalimat Syahadat dan menghadap ke arah tertentu untuk berdoa.

Sejumlah orang berpikir mereka mencapai Islam hanya dengan menghadap ke arah tertentu ketika berdoa dan menganggapnya sebagai kebenaran. Apa yang dikatakan Qur’an mengenai hal ini?

Surah 2:177

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur atau Barat sebagai sebuah kebajikan

Surah 2:115

Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat, maka kemana pun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

Ada orang-orang yang juga mengira bahwa mereka adalah Muslim karena mereka mencuci bagian-bagian tubuh mereka sebelum mereka berdoa kepada Allah dan kebenaran itu datang melalui pembersihan yang dilakukan secara seremonial. Qur’an 5:7 adalah sebuah kutipan yang biasa dipakai untuk membenarkan klaim bahwa inilah bentuk kemurnian yang dituntut oleh Tuhan:

Surah 5:6

“Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki…”

Jaminan pengampunan dari dosa-dosa melalui pembasuhan dengan air diklarifikasikan lebih lanjut dalam Islam. Abu Hurairah mengkaitkannya dengan kenyataan bahwa Nabi Muhammad telah mengatakan bahwa ketika seorang Muslim membasuh wajahnya, maka air akan melenyapkan semua dosa-dosa yang dilakukan oleh matanya; ketika ia membasuh tangannya, air itu akan melenyapkan semua dosa-dosa yang dilakukan oleh tangannya; dan ketika ia mencuci kakinya, maka air itu akan melenyapkan semua dosa yang ia perbuat kemana ia pergi dengan kakinya; dan ia akan muncul sebagai orang yang bersih dari semua dosa-dosanya (Dikutip dari Riyadh Salihin hal. 93)

Inilah seluruh hal yang dimengerti oleh semua orang Muslim saat mereka membasuh diri mereka sebelum berdoa. Tetapi, bisakah dosa ditemukan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh? Bisakah dosa itu dibasuh dengan air? Dalam bentuk yang bagaimana dosa itu eksis? Dosa apa yang ditemukan dalam hati manusia sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus Sang Mesias.

Matius 15:18-20

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”

Karena hati, meskipun ia adalah tempat bagi semua perbuatan-perbuatan jahat tidak termasuk bagian tubuh yang dibasuh, maka pembasuhan muka, tangan, hidung, mulut, telinga dan kaki tidak cukup untuk menjadikan seseorang menjadi seorang Muslim. Lagipula, ketika apabila anda buang angin, ritual pembasuhan itu dilanggar dan Allah tidak dapat mendengar (doa) anda kecuali anda membasuh diri lagi. Nampaknya kentut memisahkan kita dari Tuhan. Bukankah itu adalah dosa bahwa Tuhan jijik terhadap hidup kita karena kita mengklaim diri kita sebagai seorang Muslim? Inilah yang sesungguhnya disampaikan oleh Alkitab kepada kita:

Habakuk 1:13

Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman.

Yesaya 59:1-2

Sesungguhnya, tangan YAHWEH tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;

2 tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Tuhanmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

Jika demikian, siapakah yang bisa dianggap sebagai seorang Muslim dihadapan Tuhan? Apakah pemahaman anda mengenai seorang Muslim berkaitan dengan seseorang yang memiliki janggut, mengenakan jubah panjang dan menyentuh tanah dengan dahinya sebagai sebuah tanda penundukan? Adalah sebuah kegilaan bagi Muslim ketika mereka mengatakan bahwa Yesus adalah seorang Muslim, dari fakta bahwa ia memiliki janggut, mengenakan jubah yang panjang, melakukan wudhu, dan berdoa dengan dahinya menyentuh tanah. Jika hal ini menjadikan seseorang menjadi Muslim, maka merek Muslim yang bagaimana yang orang harapkan? Apakah Yesus hanya berdoa dengan satu arah, selalu dengan wajahnya menghadap tanah? Apakah Yesus pun membasuh kakinya sebelum ia membasuh kaki murid-muridnya? Hanya jika seseorang benar-benar ingin mengetahuinya, maka mereka akan menyadari bahwa Yesus pun berdoa dengan berlutut.

Lukas 22:41

Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:

Pada saat yang lain, Ia berdoa sambil berdiri dengan menatap ke langit.

Yohanes 11:41

“Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku…”

Yohanes 17:1

“Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata…”

Hal yang diutamakan oleh Yesus adalah bahwa penyembahan kepada Tuhan harus dilakukan dalam roh dan kebenaran. Mood dan prosedurnya sendiri bukan hal yang tidak penting, dan tidak bisa menjadikan seseorang menjadi seorang Muslim dari dirinya sendiri. Tidak ada bukti bahwa Yesus pernah mempraktekkan ritual-ritual sebagaimana yang dilakukan oleh orang Muslim. Ia tidak pernah mengunjungi sebuah kota suci tertentu dimana ia akan berlari-lari mengelilingi batu dan mensakralkan batu itu agar bisa menjadi seorang Muslim.

Daniel tidak berdoa dengan wajahnya menyentuh tanah; ia berdoa dengan lututnya tetapi doanya tetap dijawab oleh Tuhan. Tuhan kita seharusnya tidak dianggap sebagai Tuhan satu –arah saja.

Daniel 6:10

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Tuhannya, seperti yang biasa dilakukannya.

Ingat bahwa Muhammad juga pernah berdoa dengan wajahnya menghadap ke Yerusalem, bukan ke Mekkah, ketika ia tinggal di Medinah. Apa yang menyebabkan sehingga ia merubah arah doa dari Yerusalem ke Mekkah?

Rasul Petrus juga berdoa dengan berlutut bagi Dorkas supaya ia bisa dibawa dihidupkan kembali.

Kis 9:40

“Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.”

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa untuk mengalami kuasa Tuhan tidak ditentukan dari bagaimana cara seseorang berdoa tetapi sepenuhnya bergantung dari imannya kepada Tuhan. Orang-orang Kristen di Kisah Para Rasul 21:5 berdoa kepada Tuhan mereka dengan lutut mereka, wajah mereka tidak menyentuh tanah namun Tuhan tetap mendengarkan mereka.

Apakah kelahiran secara biologis menjadikan seseorang menjadi Muslim? Ini yang terjadi pada banyak orang dimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai Muslim tanpa pernah menanyakan mengapa mereka menjadi Muslim.

Dalam terang semua pengamatan ini, kita juga perlu menguji klaim yang mengatakan bahwa semua nabi adalah orang Muslim. Jika seorang Muslim adalah orang yang telah menyerahkan atau menundukkan keinginannya kepada Tuhan, maka kita pun menganggap bahwa Abraham, Nuh, Ishak, Yesus dan nabi-nabi lainnya telah melakukannya.

Islam Sejati dan Bagaimana Para Nabi Berpaling

Marilah kita mengingatkan diri kitabahwa penundukan kepada Tuhan (Allah), dan hanya kepada Tuhan (Allah), yang mendasari Islam. Semua yang berbeda dengan hal ini dianggap sebagai hal yang lain. Seseorang bisa disebut sebagai seorang Muslim hanya ketika ia sanggup untuk menundukkan keinginannya secara sempurna kepada Allah dan bukan kepada Setan. Seseorang harus mengikuti suara Allah, dan hanya suara Allah. Ketika ia berpaling dan mulai mendengarkan suara Setan, maka ia pun didiskualifikasikan sebagai seorang Muslim berdasarkan standard Allah, kendati orang tersebut masih mempraktekkan ritual wudhu, bersujud, dan lain-lain.

Nabi Adam

Berdasarkan definisi, Islam dimulai dengan Adam dan Muslim menganggap bahwa ia adalah seorang Muslim. Adam tetap menjadi Muslim selama ia tunduk kepada Allah. Bagaimana ia berpaling? Kita perlu menguji kehidupannya. Adam tetap menjadi seorang Muslim di Taman Eden, dimana ia hanya mendengarkan suara Allah hingga Setan menghampirinya. Kemudian apa yang terjadi? Qur’an menyatakan sebuah kebenaran yang mengejutkan yang akan menolong kita untuk melihat hal-hal menjadi jelas:

Surah 2:36

“Lalu keduanya (Adam dan Hawa) digelincirkan oleh Setan dari Surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula…”

Allah berfirman kepada Adam dan isterinya dan memberikan mereka sebuah perintah untuk mereka lakukan:

Surah 7:19.

“Adam bertempat tinggallah kamu di Surga serta makanlah kamu berdua (biah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim.”

Sebagai seorang Muslim, Adam seharusnya mendengarkan Allah dan bukan mendengarkan yang lain. Kehendaknya seharusnya dengan sepenuhnya ditundukkan kepada Allah. Inilah yang kita artikan sebagai Muslim, dan inilah yang dituntut oleh Allah dari Muslim. Kendati demikian, bukannya tunduk kepada Allah, Adam dan isterinya lebih suka mendengarkan kata-kata dari suara yang lain:

Surah 7:20-21

“Maka Setan mulai membisikkan pikiran jahat kepada keduanya….Dan Setan bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.”

Karena Adam telah gagal untuk hanya mendengarkan Allah dan sebaliknya berpaling dan tunduk kepada Setan, maka bencana datang kepadanya dan kepada isterinya:

Surah 7:22

Maka Setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya..

Apakah kita berargumentasi bahwa Adam tidak mengetahui kehendak Allah sebelum ia dan isterinya jatuh ke dalam dosa? Jawabannya adalah “Tidak”! Mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui kehendak Allah pastilah salah sebab Allah telah memberikan kepada mereka sebuah perintah yang jelas untuk mereka ikuti. Penghakiman Tuhan adalah:

Surah 20:121

“Dan durhakalah Adam kepada Tuhan, dan sesatlah dia…”

Kata-kata penundukan dan ketidaktaatan tidak pernah sinonim, dan karena itu, ketidaktaatan kepada Allah tidak bisa dilihat sebagai Islam dan orang yang tidak bisa taat tidak akan pernah layak untuk menyandang gelar “Muslim”. Adam nyata-nyata tidak mentaati Allah. Ia menolak untuk hanya mendengar dan tunduk kepada Allah, sebaliknya ia mendengar dan tunduk kepada Setan. Dengan apa yang ia buat, bisakah kita menganggap Adam sebagai seorang Muslim dalam pengertian yang sesungguhnya? Saya mengenal seseorang yang berkata, “Adam dikemudian hari berpaling kepada Allah dan Allah mengampuninya.” Tetapi tetap saja faktanya bahwa Adam telah tunduk kepada Setan dan karena itu mendiskualifikasikan dirinya dari menjadi seorang Muslim dihadapan Allah. Dan ia pun terusir dari hadapan hadirat Allah.

Surah 7:24

(Allah) berkata: “Turunlah kamu sekalian…”.

Kita telah memahami bahwa, meskipun Adam sebelumnya adalah seorang Muslim, ia tidak sanggup menundukkan dirinya secara sempurna dan dengan segenap hati kepada Allah. Setan berhasil menguasainya dengan nasehat dan ide-idenya. Kemudian Adam berteriak kepada Allah dan ini adalah sebuah tanda bahwa ia telah gagal mencapai standard Allah; dan ia memohon pengampunan dari Allah.

Surah 7:23

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”

“Muslim” dalam diri Adam menjadi ternoda karena ia gagal untuk sepenuhnya mentaati Allah. Disini Setan berhasil meraih kemenangan dalam hidup Adam sesuai dengan janjinya bahwa ia akan melaksanakan balas dendam kepada Allah.

Surah 7:16, 17

Iblis menjawab: “Karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya akan benar-benar menghalangi mereka dari Jalan Yang Lurus, kemudian aku akan mendatangi merkea dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur.”

Nabi Musa

Mari kita menguji Musa berdasarkan klaim yang mengatakan bahwa ia adalah seorang Muslim. Bagaimana ia menjadi seorang Muslim? Apakah ia sanggup tunduk secara sempurna kepada Allah tanpa pernah dipengaruhi oleh Setan dalam hidupnya? Tentu saja tidak, sebab Setan pun mengelabuhinya dan berhasil membuatnya melakukan hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena Musa telah mentaati Setan maka ia pun harus menerima konsekwensi yang cukup menyakitkan.

Surah 28:15

Musa berkata: “Ini adalah perbuatan Setan, sesungguhnya Setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).”

Dengan tragis, Musa juga telah dijatuhkan oleh Setan dan sebagai hasilnya, ia pun telah berseru supaya Tuhan mengampuninya:

Surah 28:16

Musa berdoa: “Oh Tuhanku! Aku sudah berdosa di dalam jiwaku! Maka ampunilah Aku!”

Musa sangat dihormati sebagai seorang nabi dan sebagai seorang Muslim. Namun ia tidak sanggup mentaati Allah dengan sepenuhnya di sepanjang kehidupannya, tanpa pernah menyerah kepada Setan. Setan berhasil meraih tujuannya untuk menyebabkan semua keturuhan Adam, termasuk Adam sendiri untuk jatuh ke dalam dosa. Musa karena itu bergabung dengan barisan Adam sebagai salah seorang yang harus memohonkan pengampunan atas dosa-dosanya. Ya, Musa telah berdosa kepada Allah sesuai dengan rencana Setan. (Surah 7:16-17).

Nabi-Nabi Lainnya

Kita perlu mengingatkan diri kita bahwa Islam artinya tunduk total. Jika demikian, bagaimana kita bisa memperdamaikan antara ketidaktaatan pada satu waktu yang terjadi dalam hidup para nabi? Allah tidak menemukan seorang pun Muslim sejati diantara nabi-nabi seperti Nuh, Daud, Salomo dan yang lainnya, yang sudah berhasil tunduk kepada Allah dengan sempurna di sepanjang kehidupan mereka. Berlawanan dengan kehendak Allah, semua nabi-nabi ini, pada satu waktu dari hidup mereka telah tunduk kepada Setan dan berdosa terhadap Allah. Mereka semua, oleh sebab itu harus memohonkan pengampunan dari Tuhan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Qur’an ini:

Setelah berdosa terhadap Allah, Nuh mengekspresikan kesalahannya sebagai berikut:

Surah 11:47

“…Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.”

Daud juga:

Surah 38:24

Daud memohonkan pengamunan dari Tuhannya.

Dan Salomo/Sulaiman:

Surah 38:35

“Oh Tuhanku! Ampunilah aku..”

Bagaimana Setan bisa menggoda semua nabi-nabi ini dan menyebabkan mereka tunduk kepadanya, sehingga mendiskualifikasikan diri mereka sebagai Muslim? Bisakah salah seorang diantara mereka membagakan diri bahwa mereka adalah seorang Muslim? Setan hanya perlu mengingatkan mereka, “Sudah lupakah kamu bahwa aku menyebabkanmu berdosa dengan mentaati keinginanku?” Patut untuk dicatat bahwa semua nabi adalah “keturunan Adam,” Rusullum-min-kum (Surah 7:35).

Sama seperti Adam ditundukkan oleh Setan, demikian juga seluruh keturunannya berada dibawah kontrol dan pengaruh Setan. Karena itu kita dikonfrontasikan dengan pertanyaan yang tidak terhindarkan sebagai berikut” “Siapakah diantara para nabi sanggup menundukkan keinginannya dengan sempurna kepada Allah, dan dengan sepenuhnya menundukkan Setan?”

Apakah anda berpikir bahwa kita tidak perlu mempercayai atau menghormati nabi-nabi Allah. Mereka benar-benar nabi Allah. Meskipun begitu, hal ini tidak menghentikan kita dari menguji kehidupan mereka untuk melihat apakah mereka tetap tinggal sebagai Muslim atau apakah Setan pernah menuduh mereka atas dosa yang mereka perbuat.

Apakah ada dari nabi-nabi yang pernah sukses hidup tanpa dosa? Ya, ada seseorang diantara para nabi itu, yang tetap menjadi seorang Muslim tanpa pernah sama sekali berdosa. Mari kita membaca apa yang dilaporkan Abu Huraira kepada Muhammad, Sang Utusan Allah, sebagai berikut:

“Ada diantara anak-anak Adam yang dilahirkan tanpa pernah disentuh Setan pada saat kelahirannya. Yang lainnya menangis dengan keras karena mereka disentuh oleh Setan, tetapi tidak demikian dengan Maria dan Puteranya.”

Hadis diatas mendukung pewahyuan dalam Qur’an mengenai ketidakberdosaan Yesus bahkan sebelum kelahirannya. Sebab malaikat mengumumkan kelahiran itu dengan berkata kepada Maria:

Surah 19:19

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”

Bahkan sebelum kelahiran Yesus, para malaikat mengetahui bahwa ia adalah seorang yang kudus, murni, tidak berdosa dan tidak memiliki kesalahan.

Berdasarkan klaim di atas, Yesus berdiri sebagai seorang nabi yang unik diantara nabi-nabi lainnya yang adalah keturunan Adam. Semua nabi-nabi lainnya mati dan menjadi debu sesuai dengan hukum Ilahi, (Annaso kuluhum banuu Adam. Wa Adam min turaabin).

Superioritas Yesus diatas nabi-nabi yang lain digarisbawahi dalam ayat berikut:

Surah 4:171

“…Sesungguhnya Almasih, Isa Putera Maryam itu adalah utusan Allah dan yang diciptakan dengan kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam, dan dengan tiupan Roh dariNya….”

Semua nabi, dari Adam hingga Yesus, dapat digolongkan sebagai para rasul atau utusan-utusan Allah. Tetapi tidak ada diantara mereka yang diberi gelar Firman Allah atau RohNya kecuali Yesus sendiri. Yesus Kristus tidak pernah berdosa sebab Ia adalah Roh Allah (Ruhu’llah) sebab Roh Allah adalah kudus, maka Yesus pun pastilah kudus sebagaimana yang ditegaskan oleh Qur’an dan dengan banyak bukti ketidakberdosaannya sebagaimana yang ada di dalam Alkitab.

Yesus sendiri yang telah mengalahkan Setan. Bagaimana Ia melakukannya? Ia menang atas Setan melalui salib. Iblis telah mengalahkan semua nabi-nabi, dan hal itu tidak perlu diragukan lagi. Iblislah yang telah menggoda para nabi untuk tidak taat dan berdosa melawan Allah – dan bahwa mereka tidak dapat tunduk sepenuhnya kepada Allah. Sebagai konsekwensinya, semua nabi memohonkan pengampunan dari Tuhan mereka atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Sebagai kontras, baik Quran maupun Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Yesus pernah memohonkan pengampunan. Sebaliknya, ada catatan bagaimana Muhammad kadang-kadang harus memohonkan pengampunan dari Allah bahkan sampai tujuh puluh kali dalam sehari. Mungkin hal ini kedengarannya mustahil, tetapi bisa dibuktikan dari “Riyadh Salihin” (hal.16), dimana Abu Hurairah mendengar Nabi berkata:

“Allah adalah saksiku, bahwa Aku memohonkan pengampunan dari Allah dan berpaling kepadaNya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (Bukhari)

Kebutuhan Muhammad untuk memohonkan pengampunan, sebagaimana yang dilaporkan dalam Hadis di atas, didukung oleh ayat-ayat berikut dari Qur’an:

Surah 4:105-106

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang orang yang tidak bersalah, karena membela orang-orang yang khianat, dan mohonlah pengampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Surah 40:55 (Pickthall)

Maka bersabarlah kamu (O Muhammad). Karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu…”

Surah 47:19 (Pickthall)

Maka ketahuilah (O Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan mintalah pengampunan untuk dosa-dosamu…”

Surah 48:2 (Pickthall)

Bahwa Allah akan mengampunimu dari dosamu yang telah terjadi di masa lampau dan yang akan datang

Hal ini kembali menegaskan fakta bahwa nabi-nabi tidak sanggup mempraktekkan Islam (menyerahkan keinginan mereka dengan sepenuhnya kepada Allah) tanpa pernah melakukan dosa dalam hidup mereka.

Sesuai dengan yang dikatakan oleh Quran, semua nabi adalah Muslim, tetapi ada satu masa dalam hidup mereka dimana mereka memilih untuk mentaati Setan dan berdosa kepada Tuhan.

Dalam usaha untuk membenarkan status bahwa semua nabi adalah Muslim, seseorang berkata, “nabi-nabi Allah tidak berdosa, tetapi mereka hanyalah melakukan kesalahan.” Tetapi di sisi lain, Qur’an sendiri yang mencatat bahwa mereka telah berdosa dan karena itu memohonkan pengampunan dari Tuhan mereka. Apa perbedaan antara dosa dan kesalahan? Ketika seseorang berdosa melawan Allah, doa seperti apa yang biasanya kita ucapkan? Siapa yang mengajarkan doa pengampunan ini kepada kita? “Astagfirul-llaha Rabbi min kulizambin wa atubu ilayhi.” Apa makna kata “zambin”? Tidakkah Nabi pun biasanya mengucapkan doa yang sama? Bagaimana bisa dalam kasusnya dan dalam kasus nabi-nabi yang lain, kata itu mengandung makna “kesalahan”, tetapi dalam kasus kita, kata itu berarti “dosa”? Renungkanlah hal itu!

Kenyataan bahwa Yesus adalah satu-satunya yang tidak berdosa diantara semua nabi-nabi yang lain menjelaskan dengan terang bahwa Ia sendiri adalah Mesias. Karena itu sangatlah beralasan bahwa Ia sendiri telah ditentukan untuk datang kembali ke bumi sebagai hakim sebelum dunia mengalami kesudahannya.

Bacalah dengan saya dari Qur’an:

Surah 43:61

“Dan Dia (Yesus) akan menjadi tanda (untuk datangnya) Hari Penghakiman.”

Jika Musa, Daud, Salomo, Muhammad dan nabi-nabi selebihnya akan datang untuk menghakimi dunia, maka Setan akan mengingatkan mereka akan dosa-dosa mereka. Mereka gagal untuk mempraktekkan Islam dengan sempurna karena pada ada masa dalam hidup mereka dimana Setan telah berhasil menundukkan mereka. Karena itu mereka telah gagal menjadi Muslim dalam pengertian kata yang sesungguhnya.

Sebagai kontras, Yesus sendiri sebenarnya mempraktekkan Islam (tunduk secara total), tanpa pernah berdosa. Inilah Islam sejati yang Allah cari dan karena itu, Yesus adalah seorang Muslim sejati. Tetapi setujukah anda dengan saya bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengakui Muhammad untuk bisa menjadi seorang Muslim, dan Ia pun tidak pernah berhaji ke Mekkah untuk memperkuat imanNya dan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan sebagaimana yang dituntut oleh agama Islam? Tidak! Yesus adalah seorang Muslim sebab Ia tidak pernah berdosa terhadap Allah, dan itulah sebabnya hanya Ia sendiri yang seharusnya kita ikuti.

Tak seorang pun yang setuju jika ia dianggap sebagai seorang Muhammadan, sebab kata itu mengandung pengertian “seorang pengikut dari Muhammad.” Orang Muslim ingin dikenal sebagai seseorang yang hanya menyembah Allah dan bahwa Muhammad hanyalah seorang yang membuat agama Islam menjadi terkenal. Ya, mereka benar. Demikian halnya, seseorang tidak boleh mengikuti Musa atau Daud atau nabi-nabi yang lain. Satu-satunya yang boleh diikuti adalah Yesus.

Ketidakberdosaan Yesus Kristus di dalam Alkitab

Keberdosaan secara sederhana berarti tidak sanggup menjalankan kehendak Tuhan; dimana sebagai lawannya, keberdosaan artinya, secara menyeluruh tunduk pada kehendak Tuhan. Inilah yang secara mendasar dicari oleh orang-orang Islam dan Muslim. Meski demikian, segera seseorang mengikuti jalan dosa, maka ia tidak lagi bisa digambarkan sebagai seorang Muslim atau diidentifikasikan sebagai seseorang yang mempraktekkan Islam. Menjalankan kehendak seseorang dan bukannya kehendak Allah hanya bisa digambarkan sebagai sesuatu yang lain, dan itu bukanlah Islam.

Diperlukan seseorang yang telah menjalani seluruh hidupnya tanpa pernah berdosa dan yang sanggup mengklaim bahwa ia adalah seorang Muslim, dan bahwa ia telah sepenuhnya menjalankan Islam. Hanya Yesus yang sanggup mengucapkan klaim seperti ini sebab hanya Ia sendiri yang sanggup hidup di sepanjang kehidupanNya di bumi tanpa dosa, bahkan hingga Ia akhirnya terangkat ke Surga (Surah 4:158)

1 Petrus 2:21, 22

Kristus…tidak berdosa, juga tidak ada kesalahan (tipu-daya) yang ditemukan di dalam mulutnya.

1 Yohanes 3:5

Dan engkau mengetahui bahwa hanya Ia sendirilah yang sanggup mengampuni dia; sebab di dalam Dia tidak ada dosa.

Kita telah bertemu dengan sejumlah orang yang mendiskreditkan kitab suci, dimana mereka berkata bahwa mereka hanya percaya “kata-kata yang ditulis dengan huruf merah” (kata-kata yang diucapkan oleh Yesus) di Alkitab. Syukur kepada Tuhan, Yohanes 8:48 adalah kata-kata yang ditulis dengan huruf merah, berbunyi: “Siapakah diantara kamu yang membuktikan bahwa Aku (Yesus) berdosa?”

Kristus adalah satu-satunya manusia dengan dua kaki, dua tangan, satu hidung, dan semua kualitas yang ada pada seluruh manusia yang dengan terus-terang sanggup mengucapkan klaim seperti di atas setelah kejatuhan Adam ke dalam dosa. Yesus tidak pernah mengakui satu pun kesalahan atau memohonkan pengampunan atas dosa-dosa.

“Bukankah Yesus dan murid-muridnya mencuri jagung sebagaimana yang dilaporkan dalam Matius 12:1-2”? Ini adalah pertanyaan yang biasa diajukan oleh mereka yang sulit menerimana bahwa Yesus itu tidak berdosa.

Bukankah Yesus mengutuk pohon ara? Ya benar, tetapi Ia masih berkata “Siapakah diantara kamu yang bisa membuktikan bahwa Aku berdosa?” Berhati-hatilah, pertanyaan itu datang dari Yesus sendiri, sebab itu pikirkan benar jawaban anda, sebab kelak anda harus berdiri dihadapanNya pada hari Terakhir.

Qur’an dengan jelas menegaskan kebenaran bahwa adalah tepat jika seseorang mengikut Yesus. Ia adalah pelatih terbaik untuk melatih anda dengan pengajaran-pengajarannya, dan memberikan anda kuasa untuk menjadi seorang Muslim. Ia sendiri adalah seorang Muslim sejati dalam pengertian yang benar sebagaimana yang dimaksudkan dari kata itu, dan berdasarkan standard Allah.

Apakah anda masih berpikir bahwa mengikut Yesus itu adalah salah? Mari kita baca ayat dalam Qur’an berikut ini:

Surah 3:55

…Aku akan menjadikan orang-orang yang mengikut Kamu/Isa di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat.”

Pada titik ini, telah terbukti tanpa ada satupun keraguan bahwa Yesus adalah satu-satunya yang sanggup mempraktekkan penundukan yang sesungguhnya kepada kehendak Allah. Siapa pun yang ingin mempraktekkan Islam yang benar terlebih dahulu harus menerima Yesus dan menjadi pengikutNya. Jika saat ini anda rindu untuk mengikut Yesus Kristus, untuk mempraktekkan Islam sebagaimana yang Ia anut, yaitu tunduk total kepada kehendak Allah, dan untuk menjadi Muslim sejati berdasarkan standard Allah, maka Saya mendorong anda untuk mengundang Yesus ke dalam hidup anda sekarang juga. Jika anda sudah melakukannya, maka Ia akan datang dan tinggal di dalam anda dengan kuasaNya dan hidup anda tidak akan pernah sama lagi.

Mari berdoa dengan saya sekarang:

Bapa Surgawi, Saya bersyukur sebab Engkau telah mengutus PuteraMu Yesus Kristus untuk datang dan mendemostrasikan Islam yang sejati kepada Saya. Saya saat ini menerima dan mau mengakui bahwa Yesus adalah satu-satunya manusia yang pernah hidup tanpa dosa di bumi, dan oleh sebab itu Ia adalah satu-satunya yang pernah menundukkan diriNya dengan sempurna kepada Allah. PuteraMu Yesus adalah kudus sebab Engkau sendiri adalah kudus.

Saat ini Saya mengundangNya manusia ke dalam hidup saya dan dengan segala kerendahan hati Saya memohon supaya Roh KudusNya memberikan kuasa kepada saya sehingga saya pun sanggup menundukkan diriku kepada Allah. Karena Ia sanggup untuk tetap tunduk kepada Allah, maka Saya percaya bahwa dengan pengurapanNya, Saya pasti sanggup melakukan hal yang sama. Saya tahu ini adalah kehendakNya atas hidup saya.

Terimakasih untuk masuk ke dalam hidup saya untuk membentuk dan merubah saya menjadi seorang yang benar-benar tunduk kepada Allah sebagaimana Bapa inginkan.

Terimakasih Yesus. Dalam namaMu yang agung saya berdoa. Amen!