Tak dapat dihindari bahwa ulama Muslim pun akan mempertanyakan apa itu Buraq? Apakah benar mahkluk tersebut eksis sebagai ciptaan Allah? Sirat Ibn Ishaq mencatat bahwa binatang ini telah ditunggangi oleh pelbagai nabi sebelum Muhammad. Lalu sejak kapan binatang tersebut telah diciptakan Allah dan, ditampilkan untuk ditunggangi oleh nabi-nabi manakah? Dan dapat dikonfirmasi dalam Kitabullah manakah? Bukankah binatang ajaib itu hanya muncul didongengkan (awas, bukan diwahyukan!) satu kali itulah diabad ke-7 bagi Muhammad?

Dipetik sebagian dari blackfiles.mywapblog.com/buroq.xhtml

Kalau dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan menemukan istilah “buraq” yang diartikan “Binatang kendaraan Nabi Muhammad Saw”, dia berbentuk kuda bersayap kiri kanan. Dalam pemakaian umum “buraq” itu berarti burung cendrawasih yang oleh kamus diartikan burung dari sorga (bird of paradise).

Sebenarnya “buraq” itu adalah istilah yang dipakai dalam AlQur’an dengan arti “kilat” termuat pada ayat 2/19, 2/20 dan 13/2 dengan istilah aslinya “Barqu”. Para sarjana telah melakukan penyelidikan dan berkesimpulan bahwa kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau 300 Kilometer perdetik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem paralax, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil dan dilintasi oleh sinar dalam waktu 8 menit.

Jarak sedemikian besar disebut 1 AU atau satu Astronomical Unit, dipakai sebagai ukuran terkecil dalam menentukan jarak antar benda angkasa. Dan kita sudah membahas bahwa Muntaha itu letaknya diluar sistem galaksi bimasakti kita, dimana jarak dari satu galaksi menuju ke galaksi lainnya saja sekitar 170.000 tahun cahaya. Sedangkan Muntaha itu sendiri merupakan bumi atau planet yang berada dalam galaksi terjauh dari semua galaksi yang ada di ruang angkasa.

Amatlah janggal jika kita mengatakan bahwa buraq tersebut dipahami sebagai binatang atau kuda bersayap yang dapat terbang ke angkasa bebas. Orang tentu dapat mengetahui bahwa sayap hanya dapat berfungsi dalam lingkungan atmosfir planet dimana udara ditunda ke belakang untuk gerak maju kemuka atau ditekan kebawah untuk melambung keatas.

Udara begitu hanya berada dalam troposfir yang tingginya 6 hingga 16 Km dari permukaan bumi, padahal buraq itu harus menempuh perjalanan menembusi luar angkasa yang hampa udara dimana sayap tak berguna malah menjadi beban. Dengan kecepatan kilat maka binatang kendaraan itu, begitu juga Nabi yang menaiki, akan terbakar dalam daerah atmosfir bumi, sebaliknya ketiadaan udara untuk bernafas dalam menempuh jarak yang sangat jauh sementara itu harus mengelakkan diri dari meteorities yang berlayangan di angkasa bebas.

Semua itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw bukanlah melakukan perjalanan MI’RAJ-Nya dengan menggunakan binatang ataupun hewan bersayap sebagaimana yang diyakini oleh orang selama ini…

Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap tinggal di bumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai hanya dalam beberapa saat saja. Untuk menerobos garis tengah jagat raya saja memerlukan waktu 10 milyar tahun cahaya melalui galaksi-galaksi yang oleh Garnow disebut sebagai fosil-fosil jagad raya dan selanjutnya menuju alam yang sulit digambarkan jauhnya oleh akal pikiran dan panca indera manusia dengan segala macam peralatannya, karena belum atau bahkan tidak diketahui oleh para Astronomi, galaksi yang lebih jauh dari 20 bilyun tahun cahaya. …

Dalam AlQur’an kita jumpai betapa hitungan waktu yang diperlukan oleh para malaikat dan ruh-ruh orang yang meninggal kembali kepada Tuhan:
Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepadaNya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Ukuran waktu dalam ayat diatas, ada para ahli yang menyebut bahwa angka 50 ribu tahun itu menunjukkan betapa lamanya waktu yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada Tuhan….

Kembali pada peristiwa Mi’raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran di bumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi (semalam) atau 1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10-5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 X 10 -23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 X 19-11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma.

Nah, Barkah yang disebut dalam Qur’an yang melingkupi diri Nabi Muhammad Saw adalah berupa penjagaan total yang melindungi beliau dari berbagai bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga selama dalam perjalanan di ruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi pernafasan Rasulullah Saw selama itu dan lain sebagainya. Jadi, sekarang kita bisa mendeskripsikan tentang kendaraan bernama Buraq ini sedemikian rupa, apakah dia berupa sebuah pesawat ruang angkasa yang memiliki kecepatan diatas kecepatan sinar dan kecepatan UFO?

Ataukah dia berupa kekuatan yang diberikan Allah kepada diri Rasulullah Saw sehingga Rasul dapat terbang di ruang angkasa dengan selamat dan sejahtera, bebas melayang seperti seorang Superman?

KOMENTAR KRITIS:

Nah, itulah para pakar Islam yang berkutat diseputar misteri tak terpahami dari peristiwa Mikraj. Karena tak terpahami lalu dianggap oleh umat Islam dengan gampang menempatkannya sebagai mukjizat terbesar dari Nabinya. Namun segera tampak bahwa ada banyak isu teologis dan science yang bisa melecehkan otoritas Islam dan  “kebenaran Quran” yang dianggap mutlak tanpa salah.

Pertama, bilamana itu “mukjizat dahsyat” kebanggaan Islam, mengapa tidak ada ayat dan nama Mi’raj yang dimunculkan di dalam wahyu Allah sendiri (Quran)? Sementara peristiwa dan istilah Israa’ yang kalah penting itu justru ada diabadikan di Quran Sura 17?

Seperti diulaskan diatas, tak terhindarkan bahwa ulama Muslim pun akan mempertanyakan apa itu Buraq? Apakah benar mahkluk tersebut eksis sebagai ciptaan Allah? Sirat Ibn Ishaq mencatat bahwa binatang ini telah ditunggangi oleh pelbagai nabi sebelum Muhammad. Lalu sejak kapan binatang tersebut telah diciptakan Allah dan, ditampilkan untuk ditunggangi oleh nabi-nabi manakah? Dan dapat dikonfirmasi dalam Kitabullah manakah? Bukankah binatang ajaib itu hanya muncul didongengkan (awas, bukan diwahyukan!) satu kali itulah di abad ke-7 bagi Muhammad? Dimana Muhammad menambahi lagi bumbu-bumbu dongengnya dengan melibatkan malaikat Jibril yang memuja diri Nabi, yaitu sambil mengusap bulu leher Buraq tersebut ia menegor Buraq yang agak ragu-ragu itu:”Apakah engkau tidak malu dengan perlakuanmu ini, O Buraq? Demi Allah tidak ada yang lebih terhormat dihadapan Allah selain Muhammad yang telah menunggangimu”.

Ya, apakah mungkin binatang tersebut eksis, bisa hidup sekaligus di dunia dan di surga? Spesies Buraq itu apakah termasuk burung atau kuda terbang atau bagaimana?  Muhammad tidak terkesima dengan keajaiban Buraq. Ia tidak berkomunikasi dengan binatang-ajaib yang berjasa besar itu. Lihat apa yang dikatakannya,

“Al-buraq, seekor binatang putih, lebih kecil dari bagal dan lebih besar dari keledai dibawa kepadaku dan aku bersama Jibril”. (HS.Bukhari, Book #54, Hadith #429)

“Maka seekor binatang putih, lebih kecil dari bagal dan lebih besar dari keledai  dibawa kepada saya (mengenai ini Al-Jarud bertanya, “Apakah itu buraq, wahai Abu Hamza?” Dan saya (Anas) mengiakannya. Nabi berkata, “Langkah dari binatang ini begitu jauhnya sehingga setiap tapaknya mencapai titik sejauh mata binatang itu memandang. Saya dibawa diatasnya, dan Jibril bersama saya hingga kami mencapai tingkat langit terdekat”. (HS.Bukhari, Book #58, Hadith #227).

“Diriwayatkan atas otoritas Anas bin Malik bahwa Rasul Allah berkata: Saya diangkat al-buraq binatang putih dan panjang, lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari kuda, yang dapat menempatkan tapak tumitnya menurut pelbagai jarak yang berbeda. Saya naik keatasnya dan sampai kepada BaitNya (Baitul Maqdis di Jerusalem)”. (HS.Muslim,  Book #001, Hadith #309)

Semua dongengnya tanpa saksi dan bukti, yang melebihi cerita fiktif 1001 malam, namun tetap harus dipercayai sebagai mukjizat otentik dan terbesar dari Allah Ta’ala. Kami ada berbincang-bincang dengan teman Muslim yang ngotot menerima kisah ini sebagai “nikmat Allah” yang khusus menghadirkan Buraq bagi Muhammad demi untuk menerima message Allah yang terpenting bagi peribadatan Muslim. Yaitu hukum wajib menegakkan sholat 5-waktu setiap hari selama hidup…

Teman Muslim ini memang mengakui sulitnya kisah ini dipercayai, namun tetap mendalilkan bahwa bilamana kisah Mi’raj dan Buraq itu ditolak, maka shalat Islam harus kembali kepada aturan Quran zaman sebelumnya di Mekah, tanpa ditetapkan shalat 5-waktu seperti yang diatur-atur pada Hadist…

AWAS: Quran mengklaim sebagai Kitab yang jelas (5:15), mudah dimengerti (44;58, 54:22, 32; 54:40), diterangkan secara terperinci (6:114), buku yang tak ada keraguan padanya (2:1). Dan peristiwa mikraj ini telah dianggap sebagai mukjizat terbesar dari Muhammad. Lalu kenapa Mikraj, Buraq, dan keharusan shalat 5-waktu itu tersembunyi dari Quran yang utuh-sempurna (khususnya untuk hukum peribadatan)? Sehingga malah membatalkan seluruh klaim dirinya karena samasekali tidak rinci, tidak jelas, tidak dimengerti akal dan penuh dengan keraguan?  Faktanya Quran samasekali tidak berurusan dengan Mik’raj dan Buraq dan 5 shalat, melainkan hanya memerintahkan shalat pagi, petang/tengah dan malam (lihat QS. 24:58; 11.114; 20.130; 2:238), yang kini menjadi ajang pencocok-cocokkan dan plintiran kata-kata dari para ulama agar hukum Quran jangan tampak berselisih dengan aturan Hadist!?

Disinilah Muslim kembali terjebak dalam otoritas hukum Islam yang tidak terselesaikan: lebih mengikuti aturan Hadist ataukah otoritas perintah Quran?

Dipetik dari: Answering-Islam.org (Indonesian Section)

Advertisements