MURTADIN


BuktidanSaksi.com – Dibawah ini adalah ringkasan kesaksian ex-Mualaf (Duri Daryo), yang akhirnya kembali bertobat mengakhiri hidup keislamannya yang menggalaukan hatinya, setelah bergumul “tanpa-solusi” tentang keotentikan dan integritas Nabinya dulu

Mari kita baca baca Quran & Hadits dengan mata-hati  terbuka, sebagaimana yang dituturkan oleh ex-Mualaf  Duri Daryo dengan peringkasan dari Admin:

  1. A.      KEPERGOK TAK BERKUASA MUJIZAT,
    TAPI MENIPUKANNYA SEOLAH ADA :

(QS.10:20). Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Tuhannya?” Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu”. (more…)

Kesaksian Pencarian Sang Kuasa

Sumber Kesaksian : Dr. Tedjo
CBNI – Saya adalah cucu GPH Tedjo Kusumo. Beliau adalah putra dari Hamengku Buwono VII, sultan Yokyakarta. Entah apa sebabnya, sejak kecil saya punya kekuatan supranatural. Ilmu saya terutama ialah ilmu getaran, saya mempunyai beragam ilmu getaran dan saya juga bisa melihat nasib orang. Orang tua saya mengetahui bahwa saya ini adalah anak aneh dalam keluarga saya. Saya suka berdoa dan berkata-kata sendiri, mereka tidak tahu jika saya sedang berbicara dengan jin yang menyertai hidup saya.

Saat saya kecil, saya ingin bermain dengan teman dan tentu butuh uang. Karena orang tua saya sangat ketat, tidak boleh jajan dan bermain, jadi saya suka mencuri-curi waktu untuk bermain. Karena saya juga butuh uang maka kemampuan saya pakai untuk mencari uang. Untuk urusan berkelahi, orang sebesar apapun akan saya hadapi. Begitu saya maju dan keluarkan ilmu getaran maka mereka semua akan jatuh, walau itu ada 20 orang sekalipun. Jadi jika saya datang, mereka semua sudah tahu ilmu saya, mereka akan takut dan lari. Orang menyebut saya dukun cilik. Jangan main-main dengan dukun cilik. (more…)

Saya (Omotoni Akintoye) lahir tanggal 18 November 1956 dari keluarga poligami yang tidak mengenal Kristus. Ibu sangat menderita saat mengandung dan melahirkan saya, karena saya adalah anak ke-10 dalam keluarga dan ke-9 kakak saya semuanya meninggal saat masih bayi atau pun dalam kandungan, sehingga ketika keluarga tahu bahwa ibu mengandung, mereka menolak dan menyingkirkannya. Akhirnya, ibu saya bersembunyi di sebuah kampung terpencil. Saya tidak lahir tepat pada saatnya, tapi pada usia kandungan ibu saya 18 bulan, sehingga ia sangat kesakitan saat saya lahir. Ibu dibawa ke rumah sakit yang sangat jauh dari kampung karena komplikasi. Orang tua saya tidak mau memberikan nama, karena takut saya akan meninggal jika diberi nama. Lagipula dalam adat saya, pemberian sebuah nama harus dilakukan dengan perayaan yang sangat mahal. Hal itu membuat saya dipanggil sekenanya pada masa kanak-kanak, sehingga pada saat remaja, saya memberi nama diri saya sendiri “Wahid”.

Saya sebenarnya anak yang cerdas di sekolah (Ahmadiyah Grammar School), namun saya juga sekaligus anak yang nakal, suka merokok, dan melakukan begitu banyak kenakalan remaja. Hal itu membuat saya menjadi anak yang paling banyak dihukum di sekolah, dan saya bangga akan hal itu. Sekolah segan mengeluarkan saya karena saya anak yang sangat cerdas, bahkan berhasil lulus SMA dengan nilai yang tinggi. (more…)

Muslim worshippers gather for an evening collective prayer and zikr outside a mosque in Banda AcehACEH – Dalam 10 tahun terakhir, sekitar 20 ribu warga Aceh pindah agama dari Islam ke non-muslim. Data mengejutkan ini disampaikan mantan Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar

Data sekitar 20 ribu warga Aceh telah pindah agama itu kini sudah berada di pemerintah.“Namun kita tidaklah harus salahkan mereka (karena berpindah agama), melainkan kesalahan pribadi dari diri kita masing-masing yang tidak lagi menjadikan agama sebagai bagian dari kehidupan kita,” sebut Muhammad Nazar.

Menurutnya, kebanyakan warga yang pihak agama tersebut adalah kaum muda dari berbagai suku dan kabupaten di Aceh, terutama di perbatasan. Modus kepindahan agama sejumlah warga Aceh itu didominasi melalui status perkawinan. (more…)

Sebuah kisah sejati yang sangat dahsyat dan menyentuh hati.
Bagaimana Nuremmah harus melindungi dan menjaga keluarganya dari teror dan ancaman pembunuhan, setelah ia memutuskan mengikut jalan Kristus. Apalagi ia bersuamikan Tionghoa dan keluarganya pemeluk agama yang kuat.

Tetapi wanita Madura kelahiran Madura 1 Desember 1965 ini tak pernah menyerah, baginya satu-satunya Juruselamat cuma Yesus. Seperti dituturkan jemaat GBIS Bunga Bakung Pamekasan ini kepada Tabloid GLORIA.

Saya lahir dari sebuah keluarga Madura yang taat menjalankan perintah agama. Doktrin yang saya terima dari bapak begitu jelas. Saya boleh menikah dengan siapa saja, apapun rasnya, asal yang bersangkutan seiman dengan saya. Maka ketika hati saya tertambat pada seorang pria Tionghoa yang berbeda agama dengan saya, tiba-tiba saja sebuah masalah besar menghadang di depan mata. Apalagi sebagai wanita yang masih sangat muda waktu itu, saya lebih menuruti kata hati dan perasaan. Ya, perasaan yang tengah tumbuh subur oleh cinta. Sebenarnya sebagai anak yang berbakti, saya tak hendak menentang kehendak orangtua. Tapi yang satu ini, dorongan hatiku agaknya lebih kuat dari berbagai larangan maupun resiko paling buruk yang mesti kuhadapi. Maka mesti ditentang disana-sini, kadang juga diancam, aku pantang mundur untuk memadu cinta dengannya. (more…)

Trauma Akibat Kematian Sahabat Nanung hanya bisa berdiri lemas dengan lutut gemetar dan mata terbelalak ketika melihat sahabatnya yang bernama Farid sudah tergeletak tak bernyawa – berlumuran darah di atas aspal dan isi kepalanya berceceran di tengah jalan. Farid ditabrak sebuah mobil berkecepatan tinggi ketika ia sedang menyeberang jalan bersama Nanung. Waktu itu mereka berdua baru saja pulang dari sekolah. Meskipun kejadian itu Nanung alami ketika ia masih duduk di bangku kelas 4 SD, namun trauma yang ditimbulkannya terus melekat hingga ia beranjak dewasa.

Berkali-kali kejadian tersebut menghantui pikiran Nanung. “Bagaimana jika aku mati nanti?” pikir Nanung. Semakin
dewasa pemikiran Nanung pun semakin berkembang dan ia berusaha untuk hidup dengan baik. Segala perilaku dan
moral yang ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari sangat baik dan ia sendiri tidak pernah terlibat dengan pergaulan bebas yang merugikan, seperti halnya mabuk-mabukan, berjudi atau main pelacur. Itu semua ia lakukan supaya nantinya bisa selamat setelah kematian. Nanung percaya bahwa setelah kematian ada kehidupan yang kekal yang harus ia jalani, yaitu di akhirat. Keluarga Nanung yang semuanya muslim dan tinggal di daerah Sukra Indramayu, juga hidup taat dengan nilai-nilai kebenaran yang mereka mengerti pada waktu itu.

Bekerja Di Jakarta
Sambil Belajar Ilmu Kebal Tahun 1990, Nanung pergi ke Jakarta dan bekerja sebagai petugas keamanan dan penjaga parkir di ITC Mangga Dua. Dari kecil Nanung takut sekali mati. Dipicu oleh banyaknya risiko yang harus ia hadapi selama bekerja di Jakarta , Nanung pun akhirnya menuruti nasihat ayahnya yang menyarankan untuk mempelajari ilmu kebal agar ia bisa memiliki keberanian dan tidak bisa mati. Pada mulanya, Nanung masih diantar oleh sang ayah pergi belajar ilmu kebal pada suatu perguruan bela diri di daerah Bekasi, yaitu Bulak Kapal. (more…)

CBN.com – Fatuma Shubisa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan sembilan orang anak dari suaminya. Dia tinggal di sebuah desa kecil di Alelu, di pedalaman Ethiopia. Dia melakukan kehidupan sederhananya sebagai sebuah hadiah dari Tuhan, karena Tuhan sudah membangkitkan dirinya dari kematian.

Fatuma berkata, “Selama dua bulan, saya menderita sakit yang sangat parah.”
Suatu hari ibu Fatuma datang untuk merawatnya. Tapi kemudian Fatuma meninggal.
“Ibu datang dan menyentuh wajah saya. Tubuh saya dingin. Kedua mata saya terbuka. Dia kemudian menutup mata dan meluruskan kedua tangan saya,” kata Fatuma. “Ibu saya menangis ketika mengetahui saya meninggal. Karena itu pula, orang-orang mulai berdatangan dan mereka semua menangis.”

Rasa sakit yang dirasakan Fatuma selama itu berakhir sudah. Fatuma tumbuh sebagai orang Muslim, tetapi kemudian menjadi pengikut Kristus. Dia berkata setelah meninggal, dia merasa dirinya terangkat ke surga.
“Saya sangat bahagia, dan saya terangkat dengan hati penuh sukacita luar yang luar biasa.”
Dalam perjalanan, Fatuma bertemu dengan seseorang yang dikenalnya. Dia adalah saudara suaminya, yang sudah meninggal dua tahun sebelumnya. (more…)

Next Page »